World Bank Documents & Reports - World Bank Group

Loading...
Public Disclosure Authorized

Public Disclosure Authorized

Public Disclosure Authorized

Public Disclosure Authorized

53077

2010 laporan pembangunan dunia world development report

Pembangunan dan Perubahan Iklim

THE WORLD BANK

Laporan Pembangunan Dunia 2010: Pembangunan dan Perubahan Iklim World Development Report 2010: Development and Climate Change Penerjemah: Chriswan Sungkono Editor Ahli: Dr. Ketut Wikantika (Direktur Center of Remote Sensing ITB, Bandung) Direktur Penerbitan dan Produksi: Edward Tanujaya Koordinator Penerbitan dan Produksi: Ariyanto Copy Editor: Tim Editor Penerbit Salemba Tata Letak: Dedy Juni Asmara Desain Sampul: Rock Creek Strategic Marketing Diterbitkan oleh/Published by Penerbit Salemba Empat Jl. Raya Lenteng Agung No. 101 Jagakarsa, Jakarta 12610 Telp. : (021) 781 8616 Faks. : (021) 781 8486 Website : http://www.penerbitsalemba.com E-mail : [email protected] ISBN : 978-979-061-108-5 World Development Report 2010: Development and Climate Change Copyright © 2009 by The International Bank for Reconstruction and Development/The World Bank 1818 H Street, NW, Washington, DC 20433, USA Laporan Pembangunan Dunia 2010: Pembangunan dan Perubahan Iklim Copyright © 2010 by The International Bank for Reconstruction and Development/The World Bank 1818 H Street, N.W., Washington, D.C. 20433, U.S.A. All rights reserved. No part of this book may be reproduced, in any form or by any means, electronic or mechanical or transmittal including photocopying, recording, or by any information storage retrieval system, without permission in writing from the publisher. This work was originally published by The World Bank in English as World Development Report 2010: Development and Climate Change in 2010. This Bahasa Indonesia translation was arranged by Penerbit Salemba Empat. Penerbit Salemba Empat is responsible for the accuracy of the translation. In case of any discrepancies, the original language shall govern. Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, baik secara elektronik maupun mekanik, termasuk memfotokopi, merekam atau dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari Penerbit. Buku ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh The World Bank (Bank Dunia) dengan judul: World Development Report 2010: Development and Climate Change pada tahun 2010. Edisi terjemahan dalam bahasa Indonesia diterbitkan oleh Penerbit Salemba Empat. Penerbit Salemba Empat bertanggung jawab terhadap keakuratan hasil terjemahan. Jika terjadi ketidaksesuaian, maka buku asli dalam bahasa Inggris yang dianggap benar. Laporan ini merupakan hasil kerja dari staf The World Bank. Temuan, interpretasi, dan kesimpulan yang ada di dalamnya merupakan tanggung jawab para penulis yang bersangkutan dan tidak berarti mencerminkan pandangan dari Direktur Eksekutif The World Bank atau pemerintahan yang mereka wakili. The World Bank tidak menjamin keakuratan data yang dimuat dalam Laporan ini. Batas-batas negara, warna, denominasi, dan informasi-informasi lain yang diperlihatkan dalam peta-peta di Laporan ini tidak menyatakan penilaian apa pun dari Bank Dunia mengenai status hukum dari wilayah tersebut maupun dukungan atau penerimaan atas batas-batas tersebut.

Daftar Isi

Kata Pengantar xiii Ucapan Terima Kasih xvii Daftar Singkatan dan Catatan Data xix Pesan Utama dari Laporan Pembangunan Dunia 2010

xxiii

Gambaran Umum: Perubahan Iklim untuk Pembangunan

1

Kasus untuk aksi 5 Dunia cerdas iklim dapat tercapai jika kita bertindak sekarang, bertindak bersama, dan bertindak berbeda 12 Membuatnya terjadi: Tekanan baru, instrumen baru, dan sumber daya baru 24

Bab 1 Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan 53 Perubahan iklim yang tidak dimitigasi tidaklah sesuai dengan pembangunan yang berkelanjutan 56 Mengevaluasi berbagai pertukarannya 67 Biaya penundaan upaya mitigasi global 77 Memanfaatkan waktu yang sekarang: Stimulus langsung dan transformasi jangka panjang 81

Fokus A: Ilmu perubahan iklim 100

BAGIAN 1 Bab 2 Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri 121 Manajemen adaptif—Hidup dengan perubahan 124 Mengelola risiko fisik—Menghindari yang dapat dihindari 126 Mengelola risiko finansial: Instrumen yang fleksibel bagi keberlanjutan 139 Mengelola risiko sosial: Memberdayakan masyarakat untuk melindungi diri mereka sendiri 145 Membangun komunitas yang berketahanan 146 Memandang ke depan menuju tahun 2050—Dunia yang mana? 153

Fokus B: Keragaman hayati dan layanan ekosistem dalam iklim yang berubah 173 iii

iv

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Bab 3 Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam 185 Menempatkan dasar untuk pengelolaan sumber daya alamiah 187 Memproduksi lebih dari air dan melindunginya lebih baik 190 Menghasilkan lebih pada pertanian seraya melindungi lingkungan 201 Menghasilkan lebih dan melindungi lebih baik pada perikanan dan akuakultur 215 Membuat perjanjian internasional yang fleksibel 218 Informasi yang dapat diandalkan merupakan dasar untuk pengelolaan sumber daya alami yang baik 223 Pemberian harga karbon, pangan, dan energi dapat menjadi batu loncatan 228

Bab 4 Menyokong Pembangunan tanpa Membahayakan Iklim

261

Menyeimbangkan beragam tujuan yang bersaing 263 Kemana arah yang perlu dituju oleh dunia: Transformasi untuk energi masa depan yang berkelanjutan 268 Merealisasikan penghematan dari efisiensi energi 285 Meningkatkan skala teknologi rendah karbon yang telah ada 295 Kebijakan energi terbarukan:Insentif Pendanaan dan Peraturan 296 Mempercepat inovasi dan teknologi canggih 299 Kebijakan-Kebijakan Haruslah Diintegrasikan 300

BAGIAN 2 Bab 5 Mengintegrasikan Pembangunan ke dalam Rezim Iklim Global 317 Membangun rezim iklim: Mengatasi ketegangan antara iklim dan pembangunan 318 Pilihan-pilihan untuk mengintegrasikan tindakan negara berkembang ke dalam arsitektur global 328 Bantuan untuk usaha mitigasi negara berkembang 335 Mempromosikan usaha-usaha internasional untuk mengintegrasikan adaptasi ke dalam pembangunan cerdas iklim 338

Fokus C: Perdagangan dan perubahan iklim

344

Bab 6 Mendapatkan Dana yang Diperlukan untuk Mitigasi dan Adaptasi 351 Jurang pendanaan yang lebar 353 Berbagai inefisiensi dalam instrumen-instrumen pendanaan iklim yang tersedia saat ini 358 Meningkatkan skala pendanaan perubahan iklim 365 Memastikan penggunaan dana yang transparan, efisien, dan setara 377 Mencocokkan kebutuhan pendanaan dengan sumber dana 381

Daftar Isi

Bab 7 Mempercepat Inovasi dan Difusi Teknologi

393

Peralatan, teknologi, dan institusi yang tepat dapat membuat dunia cerdas iklim berada dalam genggaman 395 Kolaborasi internasional dan pembagian biaya dapat memengaruhi usaha domestik untuk meningkatkan inovasi 401 Program, kebijakan, dan lembaga publik menggerakkan inovasi dan mempercepat difusinya 414

Bab 8 Kebiasaan yang akan Datang dan Inersia Institusi Mengekang perubahan perilaku individu 440 Mengembalikan peranan negara 452 Berpikir politis mengenai kebijakan iklim 459 Pembangunan cerdas iklim dimulai dari rumah 466

Catatan Bibliografis C-1 Glosarium G-1 Indikator-indikator Terpilih IT-1 Indikator Pembangunan Dunia Terpilih 2010 Indeks I-1

IP-1

439

v

vi

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Kotak 1 Seluruh negara berkembang rentan pada dampak perubahan iklim—untuk alasan berbeda 8 2 Pertumbuhan Ekonomi: Perlu, tetapi tidak mencukupi 10 3 Harga “Asuransi Cuaca” 11 4 Jaring pengamanan: Dari dukungan pendapatan hingga pengurangan kerentanan terhadap perubahan iklim 17 5 Pendekatan menjanjikan yang baik untuk petani dan lingkungan 24 6 Dibutuhkan kecerdikan: Adaptasi memerlukan peralatan baru dan pengetahuan baru 26 7 Kota-kota mengurangi jejak karbonnya 28 8 Aturan penggunaan lahan, pertanian, dan kehutanan dalam pengelolaan perubahan iklim 32 1.1 Memberdayakan wanita meningkatkan hasil adaptasi dan mitigasi 61 1.2 Dasar-dasar pemberian diskon pada keuntungan dan biaya dari mitigasi perubahan iklim 69 1.3 Umpan balik positif, titik balik, ambang batas, dan nonlinieritas dalam sistem-sistem alami dan sosioekonomi 70 1.4 Etika dan perubahan iklim 75 FA.1 Siklus karbon 102 FA.2 Kesehatan lautan: Terumbu karang dan asidifikasi lautan 109 2.1 Karakteristik manajemen adaptif 126 2.2 Perencanaan bagi kota yang lebih hijau dan aman—Kasus Curitiba 129 2.3 Beradaptasi terhadap perubahan iklim— Alexandria, Casablanca, dan Tunis 130 2.4 Membangun sinergi antara mitigasi dan adaptasi 132 2.5 Bersiap menghadapi gelombang panas 135 2.6 Menghadapi kemustahilan dan bergerak mendahului dampak-dampak: Mengelola risiko-risiko episode ekstrem sebelum mereka menjadi bencana 138 2.7 Data satelit dan informasi geologi sangatlah penting dalam pengelolaan risiko—dan murah 139

2.8 Menciptakan lapangan pekerjaan untuk mengurangi risiko banjir 140 2.9 Kerja sama publik dan swasta untuk berbagi risiko iklim—Asuransi peternakan mongolia 141 2.10 Caribbean Catastrophe Risk Insurance Facility: Asuransi terhadap gangguan layanan pascabencana 145 2.11 Program kerja di India di bawah Indian National Rural Employment Guarantee Act 151 2.12 Migrasi pada saat ini 152 FB.1 Apa yang dimaksud dengan keragaman hayati? Apa yang dimaksud dengan layanan ekosistem? 173 FB.2 Pembayaran untuk layanan ekosistem dan mitigasi 178 FB.3 Cuplikan dari Declaration of Indigenous Peoples on Climate Change 179 3.1. Pembuatan keputusan yang kokoh: Mengubah bagaimana pengelola air menjalankan bisnis 194 3.2. Bahaya dari penetapan pasar untuk hak air sebelum institusi tersedia 197 3.3 Pengelolaan sumber daya air dalam batas kesalahan: Tunisia 199 3.4 Kelapa sawit, pengurangan emisi, dan menghindari penggundulan hutan 204 3.5. Diversifikasi produk dan pasar: Alternatif ekonomi dan ekologi untuk para p etani di daerah tropis 209 3.6 Penanaman bioteknologi dapat membantu para petani beradaptasi terhadap perubahan iklim 214 3.7. Biochar (arang bio) dapat memerangkap karbon dan meningkatkan panen pada skala yang lebih luas 215 3.8 Para pengambil kebijakan di Maroko menghadapi penurunan mencolok dalam impor sereal 220 3.9 Proyek percontohan untuk pembiayaan karbon pertanian di Kenya 235 4.1 Krisis finansial menawarkan peluang untuk efisiensi dan energi bersih 263

Daftar Isi

4.2 Energi efisien dan bersih yang baik bagi pembangunan 265 4.3 450 bpj CO2e (pemanasan 2oC) dunia memerlukan perubahan fundamental dalam sistem energi global 275 4.4 Campuran energi regional untuk 450 bpj CO2e (untuk membatasi pemanasan hingga 2ºC) 277 4.5 Teknologi energi terbarukan memiliki potensi yang besar tetapi menghadapi berbagai batasan 280 4.6 Teknologi Maju 284 4.7 Peran kebijakan kota dalam mencapai keuntungan sampingan mitigasi dan pembangunan 286 4.8 Efisiensi energi menghadapi banyak batasan dan kegagalan pasar 288 4.9 Penguangan karbon saja tidaklah cukup 290 4.10 Program efisiensi energi dan energi terbarukan di California 293 4.11 Pengalaman World Bank Group dengan pendanaan efisiensi energi 294 4.12 Kesulitan dalam membandingkan biaya teknologi energi: Masalah asumsi 295 4.13 Denmark meneruskan pertumbuhannya seraya memotong emisi 296 4.14 Aturan umpan masuk, konsesi, kredit pajak, dan standar portofolio terbarukan—di Jerman, China, dan Amerika Serikat. 297 4.15 Pemusatan tenaga surya di Timur Tengah dan Afrika Utara 301 5.1 Rezim iklim saat ini 318 5.2 Beberapa proposal untuk pembagian beban 323 5.3 Pendekatan multijalur memberikan hasil yang baik pada efektivitas dan ekuitas 331 FC.1 Mengenakan pajak pada karbon virtual 346 6.1 Pembiayaan adaptasi terhadap perubahan iklim di negara-negara berkembang 356 6.2 Menilai keuntungan sampingan CDM 363 6.3 Pajak karbon versus pembatasan dan perdagangan 366 6.4 Komitmen Menteri Keuangan Indonesia terhadap permasalahan perubahan iklim 368 6.5 Menjaga karbon tanah pertanian 374

vii

6.6 Mengalokasikan pendanaan perkembangan konsesi 378 6.7 Kerentanan iklim versus kapasitas sosial 380 6.8 Kerentanan iklim terhadap kapasitas beradaptasi 381 7.1 Rekayasa kebumian untuk menghadapi perubahan iklim 396 7.2 Inovasi adalah suatu proses yang membingungkan dan hanya dapat dipromosikan dengan kebijakan-kebijakan yang mengacu pada berbagai bagian sistem yang kompleks 403 7.3 Pemantauan yang inovatif: Membuat sebuah layanan iklim global dan sebuah “sistem dari sejumlah sistem” 406 7.4 ITER: Suatu awal yang panjang bagi pembagian biaya penelitian dan pengembangan energi 408 7.5 Teknologi skala penangkapan dan penyimpanan karbon memerlukan sejumlah usaha internasional 409 7.6 Lemari Pendingin Super Efisien: Pelopor program komitmen pasar yang ditingkatkan? 410 7.7 Sebuah inovasi yang menjanjikan bagi adaptasi wilayah pantai 413 7.8 Universitas harus inovatif: Kasus Afrika 417 7.9 CGIAR: Sebuah model untuk perubahan iklim? 418 7.10 Rancangan kompor masak yang lebih baik dapat mengurangi jelaga sehingga menghasilkan manfaat penting bagi kesehatan manusia dan bagi mitigasi 426 8.1 Miskomunikasi tentang kebutuhan tindakan iklim 442 8.2 Kesalahpahaman mengenai dinamika perubahan iklim mendorong kepuasan diri 444 8.3 Bagaimana persepsi risiko dapat menurunkan kebijakan: Manajemen risiko banjir 445 8.4 Perjanjian masyarakat ujung ke ujung untuk mengurangi risiko longsor di Karibian 447 8.5 Mengomunikasikan perubahan iklim 448 8.6 Memasukkan pendidikan iklim ke dalam kurikulum sekolah 450

Laporan Pembangunan Dunia 2010

viii

8.7 China dan India menuju reformasi institusional untuk tindakan iklim 456 8.8 Program adaptasi aksi nasional (National adaptation programs of action) 457 8.9 Meningkatkan akuntabilitas pemerintah untuk perubahan iklim di Inggris 458 8.10 Federalisme hijau dan kebijakan perubahan iklim 460 8.11 Mengumpulkan dukungan untuk pembatasan dan perdagangan 463 8.12 Sektor Swasta sedang Mengubah Praktikpraktik, meskipun Tanpa Legislasi Nasional Sekalipun 467

Figur 1 Keluaran karbon yang tidak sebanding: Emisi per kapita pada negara berpendapatan rendah, menengah, dan tinggi, 2005 2 2 Langkah penyeimbangan ulang: Beralih dari SUV ke mobil penumpang berbahan bakar efisien di Amerika Serikat sendiri akan hampir menyamai emisi yang dihasilkan untuk memberikan energi listrik bagi 1,6 miliar jiwa lebih 4 3 Negara berpendapatan tinggi secara historis berkontribusi pada pembagian emisi yang tidak adil dan masih demikian 4 4 Diagram CO2 5 5 Jalan maju tampak seperti apa? Dua di antara banyak pilihan: Bisnis seperti biasa atau mitigasi agresif 13 6 Dampak iklim berjangka panjang: Kenaikan suhu dan kedudukan muka laut diasosiasikan dengan konsentrasi tinggi CO2 14 7 Emisi CO2e global dari sektor: Energi, tetapi juga pertanian dan kehutanan, merupakan sumber utama 18 8 Portofolio lengkap dari ukuran yang ada dan teknologi maju, bukan peluru perak, akan diperlukan untuk menjadikan dunia berada pada jalur 2°C 20 9 Tingginya permintaan yang diharapkan mengarah pada pengurangan biaya fotovoltaik

10

1.1

1.2

1.3 1.4 FA.1 FA.2 FA.3 FA.4 FA.5

FA.6 FA.7 2.1

2.2 2.3 2.4 3.1 3.2

surya dengan memungkinkannya diproduksi untuk skala besar 21 Jurangnya lebar: Perkiraan biaya tambahan iklim tahunan yang dibutuhkan untuk jalur 2ºC dibandingkan dengan sumber daya yang ada 31 Emisi individu di negara-negara berpendapatan tinggi jauh lebih tinggi daripada di negaranegara berkembang 55 Biofuel berbahan dasar jagung di AS meningkatkan emisi CO2 dan biaya-biaya kesehatan relatif terhadap bensin 66 Penilaian kerugian-kerugian beban mati dari partisipasi parsial dari kesepakatan iklim 80 Pengeluaran stimulus hijau global meningkat 83 Emisi global gas rumah kaca telah meningkat 103 Faktor-faktor utama yang memengaruhi iklim sejak masa Revolusi Industri 104 Suhu rata-rata global dan konsentrasi CO2 yang terus naik, 1880–2007 104 Pelelehan lapisan es Greenland 105 Bara terbakar semakin panas: Penilaian terhadap risiko-risiko dan kerusakan-kerusakan telah meningkat dari 2001 ke 2007 107 Dampak terproyeksi perubahan iklim dengan wilayah 108 Cara-cara untuk membatasi pemanasan pada 2ºC di atas tingkat praindustri 112 Jumlah penduduk yang terpengaruh oleh penyakit yang berkaitan dengan iklim meningkat 137 Kejadian banjir meningkat, bahkan di daerah rawan kering Afrika 139 Asuransi terbatas pada dunia berkembang 143 Mengembalikan gurun dengan pengetahuan, aksi petani, dan pembelajaran sosial 147 Perubahan iklim pada daerah aliran sungai yang khusus akan terasa pada siklus hidrologi 190 Air bersih di sungai-sungai merupakan sebagian kecil air yang tersedia pada planet ini—dan pertanian mendominasi penggunaan air 193

Daftar Isi

3.3 Daging sangat lebih intensif air dibandingkan dengan tanaman pangan 205 3.4 Produksi daging sapi intensif merupakan produsen kelas berat emisi gas rumah kaca 205 3.5 Produktivitas pertanian akan perlu untuk ditingkatkan behkan lebih cepat dikarenakan perubahan iklim 206 3.6 Ekosistem telah dikonversi secara luas untuk pertanian 208 3.7 Simulasi komputer dari penggunaan lahan terintegrasi di Colombia 210 3.8 Permintaan ikan yang berasal dari akuakultur akan meningkat, terutama di Asia dan Afrika 216 3.9 Teknik penginderaan jauh digunakan untuk kebun anggur di Worchester (West Cape, Afrika Selatan) untuk menaksir produktivitas air 224 3.10 Di Andhra Pradesh, India, petani menciptakan data hidrologi mereka sendiri, menggunakan peralatan dan perlengkapan yang sederhana, untuk mengatur pengambilan dari akuifer 227 3.11 Lanskap pertanian cerdas iklim yang ideal di masa depan akan memungkinkan petani untuk menggunakan teknologi dan teknik baru untuk memaksimalkan panen dan mengizinkan pengelola tanah untuk melindungi sistem alami, dengan habitat alami yang diintegrasikan menjadi tata ruang pertanian yang produktif 228 3.12 Tata ruang pertanian cerdas iklim yang ideal di masa depan menggunakan teknologi yang fleksibel sebagai menyangga melawan kejutan iklim pada infrastruktur alami, infrastruktur terbangun, dan mekanisme pasar 229 3.13 Harga sereal global diperkirakan meningkat sebesar 50 hingga 100 persen pada 2050 230 3.14 Pajak karbon yang diterapkan pada emisi dari pertanian dan perubahan tata guna lahan akan mendorong perlindungan terhadap sumber daya alami 233 4.1 Sejarah di balik penggandaan emisi: perbaikan dalam intensitas energi dan karbon tidak cukup

4.2

4.3

4.4

4.5

4.6

4.7

4.8

4.9

4.10

ix

untuk mengimbangi peningkatan permintaan energi yang disebabkan oleh peningkatan pendapatan 267 Campuran energi primer 1850–2006. Dari 1850 hingga 1950, konsumsi energi tumbuh sebesar 1,5 persen per tahun, terutama disebabkan oleh batu bara. Dari 1950–2006, tumbuh sebesar 2,7 persen per tahun, terutama disebabkan oleh minyak dan gas alam. 267 Selain konsumsi energi dan emisi per kapita yang rendah, negara-negara berkembang akan sangat mendominasi pertumbuhan di masa depan dalam konsumsi energi total dan emisi CO2 268 Gas rumah kaca berdasarkan sektor: dunia dan negara-negara berpendapatan tinggi, menengah, dan rendah 269 Kepemilikan mobil meningkat seiring dengan meningkatnya pendapatan, tetapi penetapan harga, transportasi publik, perencanaan perkotaan, dan kepadatan kota dapat memengaruhi penggunaan mobil 270 Kemana arah yang perlu dituju oleh dunia: Emisi CO2 per kapita yang berkaitan dengan energi 271 Hanya setengah dari model energi menyatakan mungkin untuk mencapai reduksi emisi untuk perlu selalu berada di dekat 450 bpj CO2e (2ºC) 271 Perkiraan biaya mitigasi global dan harga karbon untuk tingkat CO2e 450 dan 550 bpj (2ºC–3ºC) pada 2030 dari lima model 274 Aksi global merupakan hal yang penting untuk membatasi pemanasan pada 2ºC (450 bpj) atau 3ºC (550 bpj). Negara-negara maju saja tidak dapat membuat dunia menuju jalur 2ºC atau 3ºC, bahkan jika mereka dapat mengurangi emisinya menjadi nol pada 2050 279 Jurang emisi antara di mana dunia sekarang berada dan ke mana harus menuju sangatlah besar, tetapi sebuah portofolio teknologi bersih energi dapat membantu dunia tetap berada pada 450 bpj CO2e (2ºC) 282

x

Laporan Pembangunan Dunia 2010

4.11 Tujuannya adalah untuk menekan teknologi rendah karbon dari konsep yang belum terbukti menjadi penyebaran yang meluas dan menuju pengurangan emisi yang lebih besar 283 4.12 Pembangkit fotovoltaik surya menjadi semakin murah sepanjang waktu, terima kasih pada penelitian dan pengembangan dan permintaan yang diperkirakan semakin besar dari produksi berskala besar 300 FC.1 Rasio ekspor-impor produk padat energi di negara-negara berpendapatan tinggi dan negara-negara berpendapatan rendah dan menengah 347 6.1 Biaya mitigasi tahunan meningkat seiring semakin ketat dan pastinya sasaran suhu 354 6.2 Jurang yang dalam: Estimasi pendanaan iklim tahunan yang diperlukan untuk jalur 2ºC dibandingkan dengan sumber daya saat ini 360 7.1 Kapasitas angin kumulatif global yang diinstal telah melonjak pada dekade terakhir 394 7.2 Dana pemerintah untuk RD&D energi mendekati batas bawahnya, dan nuklir mendominasi 400 7.3 Batas pengeluaran tahunan untuk penelitan dan pengembangan energi dan perubahan iklim terhadap subsidi 401 7.4 Batas penemuan tidak merata untuk semua teknologi rendah karbon 401 7.5 Kebijakan memengaruhi setiap mata rantai dari rantai inovasi 404 7.6 “Lembah kematian” antara penelitian dan pasar 410 7.7 Pendaftaran di bidang teknik masih rendah di beberapa negara berkembang 416 7.8 E-bikes sekarang menjadi pilihan angkutan yang termurah dan terbersih di China 421 7.9 Negara-negara berpendapatan menengah menarik investasi dari lima produsen peralatan angin teratas, namun rezim HAKI yang lemah membatasi transfer teknologi dan kapasitas penelitian dan pengembangannya 422 8.1 Dari pengguna yang menghasilkan hampir sepertiga dari total emisi CO2 AS 440

8.2 Sedikit penyesuaian lokal untuk kepentingan secara global: Pergantian kendaraan dari SUV menjadi mobil berpenumpang yang efisien bahan bakar di Amerika Serikat saja hampir menurunkan emisi yang dihasilkan dari penyediaan energi untuk lebih dari 1 441 8.3 Keinginan individual untuk merespons perubahan iklim berbeda di semua Negara dan tidak selalu diwujudkan dalam aksi konkret 443 8.4 Perubahan iklim belum menjadi prioritas 445 8.5 Kekhawatiran mengeai perubahan iklim semakin menurun seiring meningkatnya kekayaan 446 8.6 Pemerintahan yang efektif sejalan dengan kinerja lingkungan yang baik 455 8.7 Demokrasi lebih baik dalam hal mengeluarkan kebijakan iklim daripada hasil dari kebijakan itu sendiri. 462

Tabel 1 Biaya tambahan mitigasi dan kebutuhan pembiayaan untuk jalur 2ºC: Apa yang akan diperlukan untuk negara-negara berkembang sampai 2030? 12 2 Dalam jangka panjang, apakah akan bernilai? Nilai terkini dari biaya mitigasi hingga 2100 12 FA.1 Elemen-elemen penting yang potensial dalam sistem iklim: Pemicu, skala waktu, dan dampak 111 FB.1 Penilaian tren saat ini dalam keadaan global terhadap layanan umum yang disediakan oleh ekosistem 174 4.1 Apa yang harus dilakukan untuk mencapai konsentrasi CO2e 450 bpj yang diperlukan untuk menjaga pemanasan sedekat mungkin dengan 2ºC—skenario ilustratif 272 4.2 Investasi perlu untuk membatasi pemanasan pada 2ºC (450 bpj CO2e) pada 2030 274 4.3 Keadaan negara yang berbedabeda memerlukan pendekatan yang disesuaikan 279 4.4 Instrumen kebijakan yang disesuaikan dengan kemajuan teknologi 283

Daftar Isi

4.5 Intervensi kebijakan untuk efisiensi energi, energi terbarukan, dan transportasi 292 6.1 Instrumen-instrumen pendanaan iklim yang ada 353 6.2 Pendanaan iklim tahunan terestimasi yang diperlukan di negara-negara berkembang 355 6.3 Potensi Pengantaran CDM regional dan pendapatan karbon yang potensial (pada 2012) 358 6.4 Dana iklim bilateral dan multilateral baru 359 6.5 Munculnya pajak dari pajak retribusi adaptasi pada Clean Development Mechanism (2020) 364 6.6 Sumber-sumber potensial untuk dana adaptasi 369 6.7 Inisiatif nasional dan multilateral untuk mengurangi deforestasi dan degradasi 373 7.1 Kesepakatan berorientasi teknologi internasional yang spesifik terhadap perubahan iklim 402 7.2 Prioritas kebijakan kunci nasional untuk inovasi 415 A1 Emisi terkait energi dan intensitas karbon IT-2 A2 Emisi berbasis lahan IT-3 A3 Total suplai energi primer IT-4 A4 Bencana alam IT-4 A5 Daratan, air, dan dampak terproyeksi perubahan iklim IT-7 A6 Kekayaan negara-negara IT-8 A7 Inovasi, penelitian, dan pengembangan IT-9

Peta 1 Perubahan iklim akan menekan lahan pertanian di sebagian besar negara-negara pada 2050, berdasarkan praktik pertanian dan pola tanam saat ini 7 1.1 Lebih dari satu miliar orang bergantung pada air dari gletser Himalaya yang terus menyusut 54 1.2 Negara-negara kaya juga dipengaruhi oleh iklim yang tidak normal: Gelombang panas tahun 2003 membunuh lebih dari 70.000 orang di Eropa 57 1.3 Perubahan iklim akan meningkatkan kemiskinan di sebagian besar Brazil, terutama di kawasan-kawasan termiskinnya 60

xi

1.4 Badai pada Januari 2008 di China memberi gangguan yang parah terhadap mobilitas, pilar pertumbuhan ekonomi China 64 1.5 Afrika mempunyai potensi tenaga air yang belum dimanfaatkan, dibandingkan dengan potensi yang lebih rendah tetapi tenaga air dieksploitasi berlebih seperti di Amerika Serikat 65 FA.1 Variasi regional dalam tren iklim global selama lebih dari 30 tahun terakhir 106 FA.2 Titik elemen potensial dalam sistem iklim: Distribusi global 111 2.1 Berada dalam risiko: Populasi dan kota-kota megapolitan yang berada di zona pantai yang rendah terancam oleh kenaikan permukaan laut dan badai 127 2.2 Tantangan yang kompleks: mengelola pertumbukan kota dan risiko banjir dalam sebuah iklim yang berubah di Asia Selatan dan Tenggara 131 2.3 Kota-kota di bagian utara perlu bersiap untuk menghadapi iklim Mediterania—sekarang 134 2.4 Perubahan iklim mengimbangi kembalinya demam berdarah di Amerika 136 2.5 Negara-negara kecil dan miskin rentan secara finansial terhadap episode cuaca ekstrem 144 2.6 Para migran Senegal yang bertempat di area rawan banjir di sekitar Dakar 154 FB.1 Sementara banyak perubahan ekosistem yang diproyeksikan berada di daerah boreal dan gurun yang bukan merupakan hotspot keragaman hayati, masih terdapat daerah substansial yang bertumpang tindih dan menjadi perhatian 175 FB.2 Daerah yang tidak terlindungi dari risiko tinggi deforestasi dan dengan cadangan karbon tinggi seharusnya menjadi daerah prioritas untuk keuntungan dari mekanisme REDD 180 3.1 Ketersediaan air diproyeksikan untuk berubah secara dramatis pada pertengahan abad ke-21 di banyak bagian dunia 191 3.2 Dunia akan mengalami baik kejadian kekeringan yang lebih lama maupun hujan yang lebih sering 192

xii

Laporan Pembangunan Dunia 2010

3.3 Perubahan iklim akan menekan hasil pertanian di sebagian besar negara-negara pada 2050 berdasarkan praktik pertanian dan varietas tanaman pangan saat ini 202 3.4 Pertanian intensif di dunia maju telah berkontribusi terhadap perkembangan zona mati 206

3.5 Perdagangan biji-bijian dunia bergantung pada ekspor di beberapa negara 221 3.6 egara-negara maju mempunyai lebih banyak titik koleksi data dan data deret waktu pemantauan air yang lebih lama 223 7.1 Perluasan pemetaan angin membuka peluang baru 395

Kata Pengantar Perubahan iklim merupakan salah satu tantangan kompleks di permulaan abad ini. Tidak ada satu negara pun yang kebal. Tidak ada suatu negara secara sendirian mampu menghadapi gabungan tantangan yang disebabkan oleh perubahan iklim, termasuk keputusan politik yang kontroversial, keberanian terhadap perubahan teknologi, dan jauh mencapai konsekuensi global. Ketika planet memanas, pola curah hujan bergeser dan episode ekstrem, seperti kekeringan, banjir, dan kebakaran hutan menjadi lebih sering terjadi. Jutaan penduduk di daerah pesisir yang padat dan di negara kepulauan akan kehilangan rumah mereka ketika permukaan laut semakin tinggi. Rakyat miskin di Afrika, Asia, dan di manapun menghadapi ancaman kegagalan panen yang tragis; produktivitas pertanian yang menurun; kelaparan yang meningkat, kekurangan gizi, dan penyakit. Sebagai institusi multilateral yang misinya adalah inklusif dan pembangunan berkelanjutan, World Bank Group mempunyai tanggung jawab untuk menjelaskan beberapa keterkaitan antardisiplin—perkembangan ekonomi, ilmu pengetahuan, energi, ekologi, teknologi, keuangan, dan rezim internasional serta tata kelola yang efektif. Dengan 186 anggota, World Bank Group setiap harinya menghadapi tantangan dalam membangun kerja sama di antara negara-negara yang sangat berbeda, sektor swasta, dan rakyat sipil untuk mendapatkan barang-barang kebutuhan umum. Laporan Pembangunan Dunia ke-32 berusaha untuk mengaplikasikan pengalaman, dikombinasikan dengan penelitian, untuk memajukan pengetahuan tentang Pembangunan dan Perubahan Iklim. Negara-negara berkembang akan menghadapi bagian terberat dari efek perubahan iklim, bahkan ketika mereka berjuang untuk mengatasi kemiskinan dan memajukan pertumbuhan ekonomi. Untuk negara-negara tersebut, ancaman perubahan iklim akan meningkatkan kerentanan, menurunkan pencapaian kerja keras, dan merusak prospek pembangunan secara serius. Bahkan akan menjadi lebih berat untuk mencapai Tujuan Pembangunan Millenium (Millennium Development Goals)—dan memastikan masa depan yang aman dan berkelanjutan setelah tahun 2015. Di saat yang sama, beberapa negara berkembang mengkhawatirkan keterbatasan mereka terhadap panggilan untuk mengembangkan energi atau peraturan baru yang mungkin akan melemahkan beberapa kebutuhan mereka—dari infrastruktur hingga kewirausahaan. Menahan tantangan perubahan iklim yang besar dan bersifat multidimensi memerlukan kecerdasan dan kerja sama yang luar biasa. Dunia yang “cerdas iklim” mungkin tercapai pada masa kita—walaupun Laporan ini membantah, untuk mencapai transformasi semacam itu mengharuskan kita untuk bertindak segera, bertindak bersama, dan bertindak secara berbeda.

xiii

xiv

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Kita harus bertindak sekarang, karena tindakan kita saat ini menentukan iklim di kemudian hari dan pilihan-pilihan yang membentuk masa depan kita. Saat ini, kita membatasi gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer selama berdekade-dekade bahkan berabad-abad. Kita membangun pembangkit tenaga listrik, penampungan, rumah, sistem transportasi, dan kota-kota yang tampaknya akan bertahan selama 50 tahun atau lebih. Teknologi yang inovatif dan varietas tanaman pangan yang dicontohkan saat ini dapat membentuk energi dan sumber makanan untuk memenuhi kebutuhan 3 miliar penduduk pada tahun 2050. Kita harus bertindak sekarang, karena perubahan iklim merupakan sebuah krisis umum. Perubahan iklim tidak dapat diselesaikan tanpa kerja sama dari negaranegara dalam skala global untuk memperbaiki efisiensi energi, perkembangan dan penyebaran teknologi bersih serta memperluas “penangkapan” alamiah dengan cara menumbuhkan tanaman hijau yang menyerap gas. Kita harus melindungi kehidupan umat manusia dan sumber daya ekologi. Kita harus bertindak bersama dengan cara yang berbeda dan adil. Negara maju telah memproduksi sebagian besar emisi di masa lalu dan mempunyai emisi per kapita yang tinggi. Negara-negara tersebut harus memimpin arah dengan mengurangi jejak karbonnya secara signifikan dan menstimulasi penelitian yang ramah lingkungan. Walaupun demikian, emisi dunia di masa depan akan dihasilkan di dunia berkembang. Negara-negara tersebut akan memerlukan dana yang cukup dan transfer teknologi sehingga mereka dapat mengikuti jalur rendah karbon—tanpa memperburuk prospek pembangunannya. Selain itu, negara-negara tersebut juga memerlukan bantuan untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim yang tak terhindarkan. Kita harus bertindak secara berbeda, karena kita tidak dapat merencanakan masa depan berdasarkan iklim di masa lalu. Kebutuhan iklim di kemudian hari mengharuskan kita membangun infrastruktur yang dapat bertahan pada kondisi baru dan mendukung jumlah penduduk yang lebih besar; menggunakan lahan yang lebih terbatas dan sumber daya air untuk memasok pangan yang layak serta biomassa untuk bahan bakar seraya melindungi ekosistem; dan mengonfigurasi ulang sistem energi dunia. Hal ini memerlukan pengukuran adaptasi yang didasarkan pada informasi baru tentang perubahan pola suhu, curah hujan, dan spesies. Perubahan besaran ini memerlukan tambahan dana yang substansial untuk adaptasi dan mitigasi, serta mengintensifkan penelitian secara strategis untuk meningkatkan munculnya pendekatan-pendekatan yang menjanjikan dan menyelidiki ide-ide baru. Kita memerlukan semangat baru. Hal ini merupakan hal yang penting agar negara-negara mencapai kesepakatan pada bulan Desember di Kopenhagen yang mengintegrasikan kebutuhan pembangunan dengan tindakan iklim. World Bank Group telah mengembangkan beberapa pendanaan awal untuk membantu negara-negara menghadapi perubahan iklim, seperti yang dituangkan dalam Strategic Framework for Development and Climate Change. Pendanaan tersebut termasuk dana dan fasilitas karbon kita, yang terus tumbuh seiring dengan peningkatan pendanaan untuk efisiensi energi dan energi terbarukan baru yang substansial. Kita sedang berusaha mengembangkan pengalaman praktis tentang cara negara-negara memperoleh keuntungan dan mendukung rezim perubahan iklim—berkisar dari mekanisme yang dapat dilakukan untuk menyediakan insentif guna menghindari deforestasi sampai model pertumbuhan karbon yang lebih

Daftar Isi

rendah dan inisiatif yang mengombinasikan adaptasi dan mitigasi. Dengan cara ini, kita dapat mendukung proses UNFCCC dan menemukan insentif serta disinsentif internasional yang baru. Masih banyak lagi yang diperlukan. Ke depan, Bank Group menata ulang energi dan strategi lingkungan kita untuk masa depan serta membantu negara-negara memperkuat praktik manajemen risikonya dan memperluas jaring keamanannya untuk menghadapi risiko yang tidak dapat dimitigasi sepenuhnya. Laporan Pembangunan Dunia 2010 menyerukan tindakan terhadap permasalahan iklim: Jika kita bertindak sekarang, bertindak bersama, dan bertindak secara berbeda, akan terdapat peluang untuk menata iklim masa depan kita menuju globalisasi yang inklusif dan berkelanjutan.

Robert B. Zoellick. Presiden The World Bank Group

xv

xvi

Ucapan Terima Kasih Laporan ini telah disiapkan oleh tim inti yang dipimpin oleh Rosina Bierbaum dan Marianne Fay serta beranggotakan Julia Bucknall, Samuel Fankhauser, Ricardo Fuentes-Nieva, Kirk Hamilton, Andreas Kopp, Andrea Liverani, Alexander Lotsch, Ian Noble, Jean-Louis Racine, Mark Rosegrant, Xiaodong Wang, Xueman Wang, dan Michael Ian Westphal. Kontribusi utama dari Arun Agrawal, Philippe Ambrosi, Elliot Diringer, Calestous Juma, Jean-Charles Hourcade, Kseniya Lvovsky, Muthukumara Mani, Alan Miller, dan Michael Toman. Nasihat yang sangat membantu dan data diberikan oleh Leon Clarke, Jens Dinkel, Jae Edmonds, Per-Anders Enkvist, Brigitte Knopf, and Volker Krey. Tim ini didampingi oleh Rachel Block, Doina Cebotari, Nicola Cenacchi, Sandy Chang, Nate Engle, Hilary Gopnik, dan Hrishikesh Patel. Kontribusi tambahan diberikan oleh Lidvard Gronnevet dan Jon Strand. Bruce Ross-Larson adalah ketua editor. World Bank’s Map Design Unit membuat peta dengan arahan Jeff Lecksell. Kantor penerbitan (yang menerbitkan laporan berbahasa Inggris—ed.) menyediakan editorial, rancangan, komposisi, dan layanan percetakan di bawah pengawasan Mary Fisk dan Andres Meneses; Stephen McGroarty bertindak sebagai editor akuisisi. Laporan Pembangunan Dunia 2010 juga disponsori oleh Development Economics (DEC) dan Sustainable Development Network (SDN). Pengerjaannya dilakukan di bawah arahan umum Justin Yifu Lin di DEC dan Katherine Sierra di SDN. Warren Evans dan Alan H. Gelb juga memberikan arahan yang penting. Panel of Advisers yang beranggotakan Neil Adger, Zhou Dadi, Rashid Hassan, Geoffrey Heal, John Holdren (sampai Desember 2008), Jean-Charles Hourcade, Saleemul Huq, Calestous Juma, Nebojša NakiĆenoviĆ, Carlos Nobre, John Schellnhuber, Robert Watson, dan John Weyant memberikan nasihat yang luas dan sangat baik di semua bagian Laporan ini. Presiden World Bank memberikan sambutan dan arahan. Beberapa orang di dalam dan di luar World Bank berkontribusi terhadap sambutan dan masukan. Development Data Group berkontribusi pada data lampiran dan bertanggung jawab untuk Indikator Terpilih Pembangunan Dunia (Selected World Development Indicators). Tim ini telah mendapatkan manfaat dari banyak konsultasi. Pertemuan dan lokakarya regional diselenggarakan secara lokal melalui konferensi video (menggunakan World Bank’s Global Development Learning Network) di: Argentina, Bangladesh, Belgia, Benin, Botswana, Burkina Faso, China, Kosta Rika, Côte d’Ivoire, Denmark, Republik Dominika, Etiopia, Finlandia, Prancis, Jerman, Ghana, India, Indonesia, Kenya, Kuwait, Meksiko, Mozambik, Belanda, Nikaragua, Norwegia, Peru, Filipina, Polandia, Senegal, Afrika Selatan, Swedia, Tanzania, Thailand, Togo, Tunisia, Uganda, Uni Emirat Arab, dan Inggris. Tim juga berterima kasih kepada orang-orang

xvii

xviii

Laporan Pembangunan Dunia 2010

yang berpartisipasi pada lokakarya dan konferensi video ini yang melibatkan akademisi, peneliti kebijakan, pejabat pemerintah, serta lembaga swadaya masyarakat, masyarakat sipil, dan sektor swasta. Akhirnya, tim ingin memberikan ucapan terima kasih atas dukungan yang besar dari Pemerintah Norwegia, Departemen Pembangunan Internasional (Department for International Development) Inggris, Pemerintah Denmark, Pemerintah Jerman melalui Deutsche Gesellschaft für technische Zusammenarbeit, Pemerintah Swedia melalui Pusat Keragaman Hayati (Biodiversity Centre)/Swedish International Biodiversity Programme (SwedBio), the Trust Fund for Environmentally & Socially Sustainable Development (TFESSD), pendanaan multidonor yang terprogram dan terpercaya, serta Knowledge for Change Program (KCP). Rebecca Sugui bertindak sebagai asisten eksekutif senior untuk tim—tahun ke17-nya bersama Laporan Pembangunan Dunia—Sonia Joseph dan Jason Victor sebagai asisten program serta Bertha Medina sebagai asisten tim. Evangeline Santo Domingo bertindak sebagai asisten manajemen sumber daya.

Daftar Singkatan dan Catatan Data

Daftar singkatan AAU ARPP BRIICS Bt CCS CDM CER CGIAR CIPAV CH4 CO2 CO2e CPIA CTF EE EIT ENSO ESCO ETF–IW EU FCPF FDI FIP GCCA GCS GDP GEO GEOSS GEEREF GEF GFDRR GHG GM Gt

assigned amount unit Annual Report on Portfolio Performance Brazil, the Russian Federation, India, Indonesia, China, and South Africa Bacillus thuringiensis carbon capture and storage (penangkapan dan penyimpanan karbon) Clean Development Mechanism certified emission reduction Consultative Group on International Agricultural Research Centro para Investigación en Sistemas Sostenibles de Producción Agropecuaria metana karbon dioksida karbon dioksida ekuivalen Country Policy and Institutional Assessment Clean Technology Fund energy efficiency (efisiensi energi) economies in transition El Niño–Southern Oscillation energy service company Environmental Transformation Fund–International Window European Union (Uni Eropa) Forest Carbon Partnership Facility foreign direct investment Forest Investment Program Global Climate Change Alliance global climate services enterprise gross domestic product (produk domestik bruto—PDB) Group on Earth Observation Global Earth Observation System of Systems Global Energy Efficiency and Renewable Energy Fund Global Environment Facility Global Facility for Disaster Reduction and Recovery greenhouse gas (gas rumah kaca) genetically modified gigaton xix

xx

Laporan Pembangunan Dunia 2010

GWP IAASTD IATAL IDA IEA IFC IFCI IIASA IMERS IPCC IPR kWh JI LDCF LECZ LPG MEA MRGRA MRV NAPA N2O NGO O3 O&M OECD PaCIS ppb PPCR ppm PPP R&D RD&D RDD&D REDD RGGI SCCF SDII SD-PAMs SO2 SUV toe TRIPS Tt UN UNFCCC

global warming potential International Assessment of Agricultural Science and Technology for Development international air travel adaptation levy International Development Association International Energy Agency International Finance Corporation International Forest Carbon Initiative International Institute for Applied Systems Analysis International Maritime Emission Reduction Scheme Intergovernmental Panel on Climate Change intellectual property rights (hak kekayaan intelektual—HAKI) kilowatt-hour (kilowatt-jam) Joint Implementation Least Developed Country Fund low-elevation coastal zones liquefied petroleum gas multilateral environmental agreement Midwestern Regional GHG Reduction Accord measurable, reportable, and verifiable National Adaptation Program of Action nitrogen oksida nongovernmental organization (organisasi nonpemerintah) ozon operation and maintenance Organisation for Economic Co-operation and Development Pacific Climate Information System parts per billion (bagian per miliar—bpm) Pilot Program for Climate Resistance parts per million (bagian per sejuta—bpj) purchasing power parity research and development (penelitian dan pengembangan) research, development, and deployment research, development, demonstration, and deployment reduced emissions from deforestation and forest degradation Regional Greenhouse Gas Initiative Strategic Climate Change Fund simple daily intensity index sustainable development policies and measures sulfur dioksida sports utility vehicle tons of oil equivalent Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights trillion tons (triliun ton) United Nations (Perserikatan Bangsa Bangsa—PBB) United Nations Framework Convention on Climate Change

Daftar Singkatan dan Catatan Data

UN-REDD WCI WGI WMO WTO

United Nations Collaborative Program on Reduced Emissions from Deforestation and forest Degradation Western Climate Initiative World Governance Indicator World Meteorological Organization World Trade Organization (Organisasi Perdagangan Dunia)

Data catatan Negara-negara yang tercantum dalam kelompok regional dan pendapatan pada Laporan ini terdapat dalam tabel Klasifikasi Ekonomi di bagian akhir Indikator Pembangunan Dunia Terpilih. Klasifikasi pendapatan didasarkan pada produk nasional bruto (PDB) per kapita; batas klasifikasi pendapatan untuk edisi ini akan ditemukan pada Pendahuluan Indikator Pembangunan Dunia Terpilih. Figur, peta, dan tabel (termasuk indikator terpilih) menunjukkan pengelompokan pendapatan didasarkan pada klasifikasi pendapatan Bank Dunia pada tahun 2009. Data yang ditunjukkan pada Indikator Pembangunan Dunia Terpilih didasarkan pada klasifikasi 2010. Rata-rata kelompok yang dilaporkan pada figur dan tabel adalah rata-rata tak berbobot pada negara dalam kelompok, kecuali yang ditunjukkan sebaliknya. Penggunaan kata negara-negara mengacu pada ekonomi yang tidak mengimplikasikan penilaian Bank Dunia tentang teritori resmi atau status lainnya. Istilah negara berkembang termasuk negara berpendapatan ekonomi rendah dan menengah sehingga termasuk pula transisi ekonomi dari perencanaan pusat, untuk mempermudah. Istilah negara industri atau negara maju dapat digunakan untuk mempermudah dalam hal menunjukkan negara berpendapatan ekonomi tinggi. Dollar yang digunakan di sini berupa mata uang dollar A. S. saat ini, kecuali dijelaskan secara spesifik. Miliar berarti 1.000 juta; triliun berarti 1.000 miliar.

xxi

xxii

Pesan Utama dari Laporan Pembangunan Dunia 2010 Pengentasan kemiskinan dan pembangunan yang berkelanjutan tetap menjadi inti prioritas global. Seperempat dari populasi di negara-negara berkembang masih berpenghasilan kurang dari $1,25 per hari. Satu miliar penduduk kekurangan air bersih untuk minum; 1,6 juta kekurangan listrik; dan 3 miliar tidak mempunyai sanitasi yang memadai. Seperempat dari jumlah anak-anak di seluruh negara berkembang mengalami kekurangan gizi. Kebutuhan-kebutuhan semacam ini harus menjadi prioritas bagi negara berkembang dan bantuan pembangunan—mengenali bahwa pembangunan akan menjadi lebih berat, bukan lebih mudah, dengan adanya perubahan iklim. Walaupun demikian, perubahan iklim harus ditangani secara mendesak. Perubahan iklim mengancam semua negara dan negara-negara berkembang adalah yang paling rentan. Perkiraannya adalah negara-negara berkembang akan menghadapi 75 sampai 80 persen biaya kerusakan yang disebabkan oleh perubahan iklim. Bahkan, pemanasan sebesar 2°C di atas tingkat suhu praindustri—kemungkinan minimum yang akan dialami dunia—dapat menyebabkan pengurangan permanen pada PDB sebesar 4 sampai 5 persen untuk Afrika dan Asia Selatan. Sebagian besar negaranegara berkembang kekurangan dana yang mencukupi dan kapasitas teknis untuk mengelola risiko iklim yang meningkat. Negara-negara tersebut juga bergantung secara langsung pada sumber daya alam yang sensitif iklim untuk mendapatkan penghasilan dan kesejahteraan. Bahkan, sebagian besar dari mereka yang berada di daerah tropis dan subtropis telah mengalami iklim yang sangat bervariasi. Pertumbuhan ekonomi sendiri tampak semakin cepat atau cukup seimbang untuk melawan ancaman perubahan iklim, khususnya jika pertumbuhan tetap meningkatkan karbon dan mempercepat pemanasan global. Jadi, kebijakan iklim tidak dapat dipandang sebagai pilihan antara pertumbuhan dan perubahan iklim. Sebenarnya, kebijakan cerdas iklim adalah kebijakan yang meningkatkan pembangunan, mengurangi kerentanan, dan mendanai transisi ke jalur rendah karbon. Dunia cerdas iklim berada dalam jangkauan kita jika kita bertindak sekarang, bertindak bersama, dan bertindak secara berbeda dari yang kita lakukan di masa lalu. •

Bertindak sekarang adalah hal yang penting atau pilihan-pilihan lainnya akan menghilang dan biaya akan meningkat seiring dengan komitmen dunia pada jalur padat karbon dan jalur pemanasan yang ireversibel. Perubahan iklim telah membahayakan usaha-usaha untuk memperbaiki standar kehidupan dan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Millenium. Berada sedekat mungkin dengan tingkat pemanasan 2°C di atas tingkat praindustri—hal terbaik yang bisa dilakukan—memerlukan revolusi energi besar-besaran dengan penyebaran xxiii

xxiv

Laporan Pembangunan Dunia 2010





efisiensi energi dan teknologi rendah karbon yang tersedia dengan segera, diiringi dengan banyaknya investasi pada teknologi generasi mendatang tanpa menghalangi pencapaian jalur rendah karbon. Tindakan segera juga diperlukan untuk menghadapi perubahan iklim serta meminimalkan biaya untuk penduduk, infrastruktur, dan ekosistem saat ini sama halnya seperti bersiap-siap terhadap perubahan yang lebih besar di toko. Bertindak bersama adalah kunci untuk menjaga agar biaya tetap rendah dan secara efektif menahan adaptasi dan mitigasi. Hal itu harus dimulai dengan cara negara-negara berpendapatan tinggi mengambil tindakan agresif untuk mengurangi emisinya sendiri. Tindakan itu akan membebaskan “ruang polusi” untuk negara-negara berkembang, tetapi yang lebih penting, hal itu akan menstimulasi inovasi dan permintaan teknologi baru sehingga keduanya akan meningkat dengan cepat. Hal itu juga akan membantu negara-negara berkembang untuk bergerak ke jalur karbon yang lebih rendah seraya mencapai akses ke layanan energi yang diperlukan untuk pembangunan, walaupun negaranegara berkembang perlu diberikan sumbangan dana. Namun, bertindak bersama juga penting untuk mengembangkan pembangunan di lingkungan yang semakin keras—meningkatkan risiko iklim akan melampaui kapasitas komunitas untuk beradaptasi. Dukungan nasional dan internasional sangat penting untuk melindungi yang paling rentan melalui program pendampingan sosial, untuk mengembangkan pengaturan pembagian risiko internasional dan mempromosikan pertukaran pengetahuan, teknologi, serta informasi. Bertindak secara berbeda diperlukan untuk memungkinkan masa depan yang berkelanjutan di dunia yang berubah. Dalam beberapa dekade ke depan, sistem energi dunia harus ditransformasikan sehingga emisi global turun sebesar 50 sampai 80 persen. Infrastruktur harus dibangun sebagai pertahanan terhadap episode ekstrem yang baru. Produktivitas pertanian dan efisiensi air harus diperbaiki dalam rangka memberikan pangan kepada 3 miliar lebih penduduk tanpa mengancam lebih lanjut ekosistem yang telah tertekan. Hanya pengelolan jangka panjang dan berskala besar yang terintegrasi serta perencanaan yang fleksibel yang dapat memuaskan peningkatan permintaan sumber daya alam untuk pangan, bioenergi, tenaga air, dan lahan serta hutan. Strategi ekonomi dan sosial yang tangguh akan menjadi milik mereka yang mempertimbangkan peningkatan ketidakpastian dan yang meningkatkan adaptasi terhadap iklim masa depan yang bervariasi—tidak hanya “secara optimal” berhadapan dengan iklim masa lalu. Kebijakan efektif akan meminta tanggung jawab yang besar bersamaan dengan evaluasi terhadap tindakan-tindakan gabungan pembangunan, adaptasi, dan mitigasi, semua yang digambarkan sebagai sumber daya yang terbatas (manusia, dana, dan alami).

Kesepakatan iklim global yang adil dan efektif sangat diperlukan. Kesepakatan semacam itu dapat mengenali berbagai kebutuhan dan batasan negaranegara berkembang serta membantu negara-negara tersebut dengan pendanaan dan teknologi untuk menghadapi tantangan pembangunan yang meningkat juga meyakinkan bahwa negara-negara tersebut tidak akan terjebak dalam pembagian

Pesan Utama dari Laporan Pembangunan Dunia 2010

global yang rendah secara permanen, dan membangun mekanisme yang terpisah antara tempat terjadinya mitigasi dengan siapa yang membayarnya. Sebagian besar pertumbuhan emisi akan muncul di negara-negara berkembang, yang saat ini jejak karbonnya rendah secara tidak seimbang dan ekonominya harus tumbuh dengan pesat untuk mengurangi kemiskinan. Negara-negara berpendapatan tinggi harus menyediakan pendanaan dan bantuan teknis untuk adaptasi dan pertumbuhan rendah karbon di negara-negara berkembang. Pendanaan untuk adaptasi dan mitigasi saat ini kurang dari 5 persen dari yang mungkin diperlukan pada tahun 2030, tetapi kekurangan tersebut dapat dipenuhi melalui mekanisme pendanaan inovatif. Kesuksesan bergantung pada perubahan sikap dan pergeseran opini publik. Individual, sebagai warga negara dan konsumen, akan menentukan masa depan planet. Walaupun jumlah penduduk yang mengetahui tentang perubahan iklim dan memercayai bahwa tindakan diperlukan telah meningkat, hanya sedikit yang menjadikannya prioritas dan banyak yang gagal untuk bertindak ketika mereka mempunyai kesempatan. Jadi, tantangan terbesar terletak pada perubahan sikap dan institusi, khususnya di negara-negara berpendapatan tinggi. Perubahan kebijakan publik—lokal, regional, nasional, dan internasional—sangat penting untuk membuat tindakan swasta dan sipil menjadi lebih mudah dan menarik.

xxv

xxvi

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Gambaran Umum Perubahan Iklim untuk Pembangunan

T

iga puluh tahun yang lalu, setengah dari penduduk di dunia berkembang hidup dalam kemiskinan yang luar biasa—hari ini, hanya seperempatnya.1 Sekarang, hanya sebagian kecil anak-anak yang menderita kekurangan gizi dan berisiko meninggal dunia pada usia dini. Dan akses pada infrastruktur modern lebih tersebar luas. Hal yang menentukan bagi kemajuan: pertumbuhan ekonomi yang cepat yang dipacu oleh inovasi teknologi dan reformasi institusional, terutama di negara-negara berpendapatan sedang di masa sekarang, di mana pendapatan per kapita telah naik dua kali lipat. Wa l aupun d emi k i an, kebutu han semakin meningkat, dengan jumlah penduduk yang kelaparan mencapai miliaran tahun ini, pertama kalinya dalam sejarah.2 Banyaknya penduduk miskin dan kelaparan, pertumbuhan dan pengentasan kemiskinan tetap menjadi prioritas bagi negara berkembang. Perubahan iklim menjadikan tantangan tersebut semakin kompleks. Pertama, dampak dari perubahan iklim telah dirasakan, dengan lebih banyaknya bencana, lebih banyak banjir, badai yang lebih mematikan, dan lebih banyak serangan gelombang panas—semuanya dirasakan oleh individu, perusahaan, dan pemerintah, menghabiskan sumber

daya yang seharusnya digunakan untuk pembangunan. Kedua, perubahan iklim yang terus berlanjut dengan kecepatan seperti sekarang, akan menimbulkan tantangan yang semakin memberatkan pembangunan. Pada akhir abad nanti, semua hal ini akan berakibat pada naiknya suhu sebesar 5°C atau lebih jika dibandingkan dengan zaman praindustri dan dunia yang jauh berbeda dari yang ada sekarang, dengan lebih banyak episode cuaca ekstrem, lebih banyak perubahan dan pergeseran ekosistem, lebih banyak spesies yang menuju kepunahan, dan seluruh negara kepulauan terancam mengalami tenggelam. Bahkan dengan kemampuan terbaik kita seperti menstabilkan suhu kurang dari 2°C di atas suhu masa praindustri, pemanasan tetap akan membutuhkan adaptasi substansial. Negara-negara berpendapatan tinggi dapat dan harus mengurangi keluaran karbonnya. Mereka tidak dapat terus memenuhi kandungan atmosfer secara tidak adil dan tidak terpelihara. Akan tetapi negara-negara berkembang— di mana emisi per kapitanya kurang dari sepertiga emisi per kapita negaranegara berpendapatan tinggi (Figur 1)—memerlukan ekspansi besar-besaran dalam energi, transportasi, sistem urban, dan produksi pertanian. Jika diusahakan



Laporan Pembangunan Dunia 2010



menggunakan teknologi tradisional dan padat karbon, sebagian besar usaha ekspansi ini akan menghasilkan lebih banyak gas rumah kaca dan, selanjutnya, perubahan iklim lainnya. Pertanyaannya sekarang adalah tidak hanya sekadar bagaimana membuat pertumbuhan lebih berketahanan terhadap perubahan iklim. Pertanyaannya adalah bagaimana mengejar pertumbuhan dan kemakmuran tanpa menyebabkan perubahan iklim yang “berbahaya.”3 Kebij a k an p e r ub a han i k l i m bukanlah pilihan yang sederhana antara dunia dengan pertumbuhan dan tingkat karbon yang tinggi dan dunia dengan pertumbuhan dan tingkat karbon rendah—sebuah pertanyaan sederhana apakah untuk mengembangkan atau melindungi planet ini. Banyak inefisiensi yang mendorong terjadinya intensitas karbon yang tinggi saat ini. 4 Sebagai contohnya, teknologi yang ada dan usaha terbaik dapat mengurangi konsumsi energi dalam industri dan sektor tenaga sebesar 20–30 persen, membantu mengurangi keluaran karbon tanpa Figur 1 Keluaran karbon yang tidak sebanding: Emisi per kapita pada negara berpendapatan rendah, menengah, dan tinggi, 2005 CO2e per kapita (ton) 16

Emisi dari perubahan tata guna lahan Emisi lain

14 12 10 8

Rata-rata negara berkembang Dengan perubahan tata guna lahan

6 4

Tanpa perubahan tata guna lahan

2 0

Negara berpendapatan tinggi

Negara berpendapatan menengah

Negara berpendapatan rendah

Sumber: World Bank 2008c; WRI 2008 digabungkan dengan emisi tata guna lahan dari Houghton 2009. Catatan: Efek emisi gas rumah kaca termasuk karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrogen oksida (N20), dan gas potensial tinggi pemanasan global (gas-gas F). Seluruhnya dalam bentuk CO2 sebanding (CO2e)—kuantitas CO2 yang menyebabkan sejumlah pemanasan. Pada emisi tahun 2005 dari perubahan pengunaan lahan di negara maju sangat mengkhawatirkan.

mengorbankan pertumbuhan.5 Banyak tindakan mitigasi—berarti perubahan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca—memiliki keuntungan lain yang signifikan dalam kesehatan masyarakat, ketersediaan energi, keberlanjutan lingkungan, dan penghematan finansial. Di Afrika, sebagai contohnya, peluangpeluang mitigasi dikaitkan dengan pengelolaan tanah dan hutan yang berkelanjutan, dengan penggunaan energi bersih (seperti panas bumi dan tenaga air), dan dengan pembuatan sistem transportasi urban yang berkelanjutan. Dengan demikian, agenda mitigasi di Afrika lebih sesuai dengan pembangunan yang berkelanjutan.6 Situasi ini serupa dengan situasi di Amerika Latin.7 Kesejahteraan dan kekayaan yang semakin besar tidak terlepas dari produksi gas rumah kaca lebih banyak, bahkan jika keduanya tidak saling terkait dahulunya. Pola tertentu dari konsumsi dan produksilah yang jadi penyebabnya. Bahkan tanpa memperhitungkan negara produsen minyak, emisi per kapita di negara berpenghasilan tinggi bervariasi pada faktor 4, dari 7 ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e)8 per kapita di Swiss hingga 27 di Australia dan Luksemburg.9 Kertegantungan terhadap bahan bakar fosil dapat mempersulit pertimbangan yang tak terhindarkan akan ketidakcukupan usaha mencari sumber alternatif. Jika subsidi global untuk produksi migas mencapai 150 miliar dollar per tahun, pengeluaran masyarakat untuk penelitian, pembangunan, dan penerapan (RD&D) energi berada pada kisaran 10 miliar dollar per dekadenya, terpisah dari laporan singkat akibat krisis minyak bumi (lihat Bab 7). Hal itu menampikan 4 persen dari keseluruhan RD&D publik. Pengeluaran pribadi untuk RD&D

Gambaran Umum

energi, sekitar $40 miliar hingga $60 miliar dollar per tahun, berjumlah hingga 0,5 persen dari pendapatan pribadi—pecahan dari industri inovatif seperti telekomunikasi (8 persen) dan farmasi (15 persen) diinvestasikan dalam RD&D.10 Suatu peralihan menuju dunia rendah karbon melalui inovasi teknologi dan reformasi institusi komplementer harus dimulai dengan cepat dan agresif oleh negara-negara berpendapatan tinggi untuk memperkecil keluaran karbon mereka yang tidak dapat diatasi lagi. Hal tersebut akan membebaskan sejumlah ruang di atmosfer kita (Figur 2). Hal yang lebih penting, sebuah komitmen yang dipercaya oleh negaranegara berpendapatan tinggi untuk mengurangi emisi mereka secara drastis akan merangsang kebutuhan RD&D terhadap teknologi dan proses baru energi, transportasi, industri, dan pertanian. Dan kebutuhan besar dan terprediksi untuk teknologi alternatif akan mengurangi biaya dan membantu mereka bersaing secara kompetitif dengan bahan bakar fosil. Hanya dengan teknologi baru dengan harga kompetitif yang dapat mengurangi perubahan iklim tanpa harus mengorbankan pertumbuhan. Terdapat peluang bagi negaranegara berkembang untuk beralih ke jalur rendah karbon tanpa berkompromi dengan pertumbuhan, tetapi peluang tersebut ber variasi pada masingmasing negara dan bergantung pada jangkauan bantuan finansial dan teknis dari negara-negara berpendapatan tinggi. Bantuan tersebut akan berarti adil (dan sesuai dengan United Nations Framework Convention on Climate Change 1992, atau UNFCCC): negaranegara berpendapatan tinggi, dengan seperenam populasi dunia, bertanggung jawab untuk sekurangnya dua pertiga

jumlah gas-gas rumah kaca di atmosfer (Figur 3). Hal tersebut akan lebih efisien: penghematan yang didapatkan dari membantu mendanai mitigasi yang lebih awal di negara-negara berkembang— contohnya, melalui pembangunan infrastruktur dan rumah selama beberapa dekade ke depan—akan begitu besar sehingga menghasilkan keuntungan ekonomi yang jelas bagi semuanya. 11 Akan tetapi perancangan, membiarkan implementasi terpisah, kesepakatan internasional yang melibatkan transfer sumber daya yang substansial, stabil, dan dapat diprediksi bukanlah hal yang mudah. Negara-negara berkembang, terutama yang termiskin dan yang paling terpapar, juga akan memerlukan bantuan dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim. Mereka telah sangat menderita karena episode cuaca ekstrem (lihat Bab 2). Dan bahkan penambahan pemanasan yang relatif ringan akan membutuhkan penyesuaian besar pada cara kebijakan pembangunan dirancang dan diterapkan, pada cara masyarakat hidup dan menjalani kehidupan, serta bahaya dan kesempatan yang mereka hadapi. Krisis finansial yang terjadi sekarang tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak mengutamakan masalah iklim. Secara rata-rata, sebuah krisis finansial berlangsung kurang dari dua tahun dan berakibat pada berkurangnya produk domestik bruto (PDB) sebesar 3 persen, yang kemudian diikuti dengan pertumbuhan lebih dari 20 persen dalam kurun waktu delapan tahun masa pemulihan dan kemakmuran. 12 Jadi, apa pun masalah yang ditimbulkannya, krisis finansial selalu datang dan pergi. Namun, tidak demikian dengan ancaman pertumbuhan yang disebabkan oleh perubahan iklim. Mengapa?



Laporan Pembangunan Dunia 2010



Figur 2 Langkah penyeimbangan ulang: Beralih dari SUV ke mobil penumpang berbahan bakar efisien di Amerika Serikat sendiri akan hampir menyamai emisi yang dihasilkan untuk memberikan energi listrik bagi 1,6 miliar jiwa lebih Emisi (juta ton karbon dioksida CO2) 350 300 350 250 300 200 250 150 200 100 150 50 100 500 0

Pengurangan emisi dengan pengalihan armada SUV A.S. ke mobil hemat bahan bakar standar EU

Kenaikan emisi untuk menyediakan listrik dasar bagi 1,6 miliar jiwa yang tidak . memiliki akses listrik

Sumber: Perhitungan tim WDR berdasarkan BTS 2008. . Catatan: Estimasi didasarkan atas 40 juta SUV (Sports Utility Vehicles) di Amerika Serikat yang berjalan sekitar 480 miliar mil (dengan asumsi 12.000 kendaraan) per tahun. Dengan efisiensi bahan bakar rata-rata 18 mil per galon, SUV mengonsumsi 27 miliar galon bensin per tahun dengan emisi sekitar 2.421 gram karbon per galon. Peralihan ke mobil berbahan bakar efisien dengan efisiensi bahan bakar untuk mobil berpenumpang baru yang terjual di Uni Eropa (rata-rata 45 mil per galon; lihat ICCT 2007) menghasilkan pengurangan sebanyak 142 juta ton CO2 (39 juta ton karbon) per tahun. Perkiraan konsumsi listrik pada keluarga miskin di negara berkembang diperkirakan sekitar 170 kilowatt per jam per orang per tahun dan listrik yang diasumsikan untuk melayani kebutuhan dunia rata-rata menghasilkan intensitas karbon 160 gram per kilowatt-jam, sebanding dengan 160 juta ton CO2 (44 juta ton karbon). Ukuran dari simbol kelistrikan pada peta global terkait dengan jumlah penduduk tanpa akses listrik.

Figur 3 Negara berpendapatan tinggi secara historis berkontribusi pada pembagian emisi yang tidak adil dan masih demikian Pembagian Emisi Global, Sejarah, dan 2005 2% Emisi CO2 kumulatif sejak 1850: Energi 34% 2% 64%

64%

3%

Emisi CO2 pada 2005: Energi 47%

3%

Emisi gas rumah 6%kaca pada 2005: Semua sektor, termasuk perubahan tata guna lahan 38% 6%

50%

34%

38% 47%

50%

56%

56%

Negara-negara berpendapatan rendah (1,2 miliar penduduk)

Negara-negara berpendapatan sedang (4,2 miliar penduduk)

Negara-negara berpendapatan tinggi (1 miliar penduduk)

Pemakaian berlebih relatif terhadap pembagian populasi

Sumber: DOE 2009; World Bank 2008c; WRI 2008 digabungkan dengan emisi perubahan tata guna lahan dari Houghton 2009. Catatan: Data meliputi lebih dari 200 negara untuk beberapa tahun terakhir. Data tidak tersedia untuk seluruh negara pada abad ke-19, tetapi sebagian besar penghasil emisi sudah tercakup. Emisi karbon dioksida (CO2) dari energi termasuk semua pembakaran bahan bakar fosil, pembakaran gas, dan produksi semen. Emisi gas rumah kaca termasuk CO2, metana (CH4), nitrogen oksida (N20), dan gas berpotensi tinggi pemanasan global (gas-gas F). Sektor termasuk pemrosesan energi dan industri, perubahan tata guna lahan (dari Houghton 2009), dan sampah. Penggunaan berlebihan atmosfer secara bersamaan relatif terhadap pembagian populasi didasarkan pada deviasi dari perbandingan emisi per kapita, pada 2005 negara berpenghasilan tinggi menyumbangkan 16 persen populasi global; sejak 1850, secara rata-rata, saat ini negara maju menyumbangkan 20 persen populasi global.

Oleh karena waktu tidaklah memihak kita. Efek dari karbon yang dilepaskan ke atmosfer akan dirasakan selama beberapa dekade, bahkan hingga satu milenium,13 membuatnya sangat sulit untuk dikembalikan ke tingkat yang “aman.” Inersia dalam sistem iklim ini benar-benar membatasi kemampuan kita untuk memperbaiki hari ini dengan mitigasi terakselerasi di masa yang akan datang.14 Penundaan juga meningkatkan biaya karena dampak semakin memburuk dan pilihan mitigasi murah menghilang sama halnya dengan ekonomi yang terkunci ke dalam infrastruktur dan gaya hidup berkarbon tinggi—lebih banyak inersia. Aksi secepatnya diperlukan untuk menjaga agar pemanasan sedekat mungkin pada 2°C. Jumlah pemanasan tersebut tidak diinginkan, tetapi hal tersebut adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan. Hal ini bukanlah kesepakatan d i d a l am pro s e s ekonom i y ang menunjukkan tingkat optimal ekonomi. Hal ini, bagaimanapun juga, konsesus yang berkembang di dalam lingkaran kebijaksanaan dan pengetahuan untuk menuju pemanasan 2°C yang menjadi sesuatu untuk dipertanggungjawabkan.15 L ap oran ini mendu kung situ asi tersebut. Dari perspektif pembangunan, pemanasan lebih dari 2°C tidak dapat diterima. Akan tetapi stabilisasi 2°C akan membutuhkan pergeseran besar dalam gaya hidup, revolusi energi besar-besaran, dan transformasi dalam bagaimana kita mengelola lahan dan hutan. Dan adaptasi substansial masih akan dibutuhkan. Mencontoh perubahan iklim akan membutuhkan segala inovasi dan kecerdikan yang dimiliki oleh ras manusia. Inersia, kesetaraan, dan kecerdikan adalah tiga tema yang muncul terus dalam

Gambaran Umum

Laporan ini. Inersia mendefinisikan karakteristik dari tantangan iklim— alasan kita butuh bertindak nyata sekarang. Kesetaraan adalah kunci untuk kesepakatan global yang efektif, menuju kepercayaan yang diperlukan dalam menyelesaikan tragedi secara bersamasama—alasan kita membutuhkan aksi bersama. Dan kecerdikan adalah satu-satunya jawaban yang mungkin bagi masalah yang kompleks secara politik dan ilmiah—kualitas yang memungkinkan kita untuk bertindak berbeda dibandingkan yang telah kita lakukan di masa lalu. Bertindak sekarang, bertindak bersama, bertindak secara berbeda—hal ini merupakan langka di mana kita dapat menempatkan dunia cerdas iklim dalam tujuan bersama. Akan tetapi sebelumnya, hal ini memerlukan kepercayaan bahwa ada sebuah situasi yang memerlukan aksi.

Kasus untuk aksi Suhu rata-rata Bumi telah memanas hampir sebesar 1ºC sejak awal dimulainya periode industri. Mengutip Fourth Assessment Report dari Intergovernmental Panel in Climate Change (IPCC— Panel Ahli Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim), dokumen kesepakatan yang dihasilkan oleh lebih dari 2.000 ilmuwan yang mewakili setiap negara di PBB: “Pemanasan dalam sistem iklim terjadi di mana-mana.”16 Konsentrasi atmosferik CO 2 global, gas rumah kaca yang paling penting, berkisar antara 200 hingga 300 bpj (bagian per sejuta) selama 800.000 tahun, namun meningkat drastis menjadi sekitar 387 bpj dalam 150 tahun terakhir (Figur 4), terutama karena pembakaran bahan bakar fosil, hingga yang pengaruhnya paling sedikit, perubahan tata guna lahan dan pertanian. Satu dekade setelah



Figur 4 Diagram CO2 Konsentrasi karbon dioksida (bpj) 1.000

Skenario emisi atas untuk 2100

800

600

Skenario emisi bawah untuk 2100 400

Diamati pada 2007

200

0 800.000

700.000

600.000

500.000

400.000

300.000

200.000

100.000

Jumlah beberapa tahun yang lalu Sumber: Lüthi dkk., 2008. Catatan: Analisis dari gelembung udara yang terperangkap pada inti es Antartika yang merekam 800.000 tahun yang lalu mengenai perubahan konsentrasi CO2 Bumi. Selama periode panjang ini, faktor alami yang disebabkan oleh konsentrasi CO2 konsentrasi tinggi berkisar antara 170 hingga 300 bagian per sejuta (bpj). Suhu terkait data menjelaskan variasi yang terjadi berperan utama dalam penentuan perubahan cuaca global. Sebagai hasil dari aktivitas manusia, konsentrasi CO2 saat ini mencapai sekitar 387 ppm atau sekitar 30% di atas tingkat tertinggi setidaknya 800.000 tahun terakhir. Tidak adanya alat pengukur yang kuat, emisi abad ini diproyeksikan dalam bentuk konsentrasi kasar CO2 yang dua atau tiga kali lipat dari level tertinggi pada 800.000 tahun terakhir, seperti yang digambarkan pada skenario emisi untuk tahun 2100.

Protokol Kyoto menetapkan batas emisi karbon internasional, gas-gas rumah kaca di atmosfer masih saja meningkat. Lebih buruk lagi, laju kenaikannya justru kemungkinan bertambah cepat.17 Efek dari perubahan iklim dapat dilihat dengan meningkatnya suhu ratarata udara dan laut, meluasnya pencairan es dan salju, dan peningkatan muka air laut. Frekuensi siang yang dingin, malam yang dingin, dan salju menjadi berkurang sedangkan gelombang panas menjadi lebih sering terjadi. Secara global, presipitasi meningkat bahkan Australia, Asia Tengah, Teluk Mediterania, Sahel, Amerika Serikat bagian barat, dan daerah lainnya lebih sering dan lebih intens mengalami kekeringan. Hujan deras dan banjir menjadi hal umum dan kerusakan dari—dan kemungkinan

0



Laporan Pembangunan Dunia 2010

intensitas—badai dan siklon tropis bertambah.

Perubahan iklim mengancam semua negara, tetapi khususnya negara-negara berkembang Pe m an as an l ebi h d ar i 5 º C d ar i perubahan iklim yang tak termitigasi dapat menyebabkan abad ini18 setara dengan perbedaan antara iklim saat ini dengan iklim terakhir pada zaman es, ketika lempeng es mencapai Eropa Tengah dan Amerika Serikat bagian utara. Perubahan tersebut terjadi selama beberapa milenium; perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia terjadi pada skala waktu satu abad menyebabkan peradaban dan ekosistem mempunyai sedikit waktu untuk beradaptasi dengan pesat. Pergeseran suhu yang drastis akan menyebabkan dislokasi pada dasardasar ekosistem terhadap peradaban dan ekonomi—seperti matinya hutan hujan Amazon, mencairnya gletser di pegunungan Andes dan Himalaya, dan pengasaman laut yang cepat akan menyebabkan kerusakan ekosistem laut dan kematian terumbu karang. Laju dan kekuatan perubahan ini dapat memusnahkan lebih dari 50 persen spesies. Ketinggian air laut dapat naik hingga satu meter dalam abad ini, 19 mengancam 60 juta jiwa dan aset senilai lebih dari $200 miliar hanya di negaranegara berkembang. 20 Produktivitas pertanian akan menurun di seluruh dunia—terutama di daerah tropis, bahkan dengan perubahan dalam praktik pertanian. Dan lebih dari 3 juta jiwa meninggal akibat kekurangan gizi setiap tahunnya.21 Bahkan pemanasan 2ºC di atas suhu preindustri akan menyababkan pola cuaca baru dengan konsekuensi global. Kenaikan variabilitas cuaca, episode ekstrem yang sering dan lebih intens

terjadi, dan paparan berlebih badai pasir akan menyebabkan meningkatnya risiko bencana dan dampak yang ireversibel. Sekitar 100 juta sampai 400 juta lebih penduduk akan menderita kelaparan.22 Dan 1 miliar sampai 2 miliar lebih penduduk tidak akan mempunyai cukup air untuk memenuhi kebutuhan mereka.23 Negara-negara berkembang lebih terekspos dan kurang berketahanan terhadap bencana iklim. Konsekuensikonsekuensi ini akan terjadi secara tidak merata pada negara-negara berkembang. Pemanasan sebesar 2ºC akan berakibat pada penurunan permanen sebesar 4–5 persen pada pendapatan tahunan per kapita di Afrika dan Asia Selatan,24 dibandingkan dengan kerugian minimal di negara-negara berpendapatan tinggi dan kerugian sebesar 1 persen pada rata-rata global.25 Kerugian ini akan berpengaruh pada pertanian, sektor perekonomian paling penting di Afrika dan Asia Selatan (Peta 1). Diperkirakan negara-negara berkembang akan mengalami kerugian terbesar—sekitar 75−80 persen. 26 Beberapa faktor menjelaskan ini (Kotak 1). Negara berkembang secara khusus bergantung pada layanan ekosistem dan modal alam untuk produksi pada sektor yang sensitif terhadap iklim. Sebagian besar populasinya hidup di daerah terbuka dan kondisi ekonomi yang berbahaya. Dan kapasitas keuangan dan institusional mereka untuk beradaptasi sangatlah terbatas. Para pembuat kebijakan di beberapa negara berkembang telah mengamati bahwa dana pertumbuhan mereka sedang dipindahkan untuk mengatasi keadaan-keadaan darurat yang berhubungan dengan cuaca.27 Negara berpendapatan tinggi juga akan terpengaruh bahkan oleh

Gambaran Umum



Peta 1 Perubahan iklim akan menekan lahan pertanian di sebagian besar negara-negara pada 2050, berdasarkan praktik pertanian dan pola tanam saat ini

KANADA DAN AMERIKA SERIKAT 1%

EROPA DAN ASIA TENGAH 7%

EROPA SELATAN 2% TIMUR TENGAH DAN AFRIKA UTARA 11% AFRIKA SUB-SAHARA 15%

ASIA SELATAN 18%

AMERIKA LATIN DAN KARIBIA 6%

ASIA TIMUR DAN PASIFIK 12%

AUSTRALIA DAN SELANDIA BARU 2,7%

Persentase perubahan panen antara saat ini dan 2050 -50

-20

0

20

50

100

Tidak ada data

Sumber: Müller dkk 2009, World Bank 2008c Catatan: Pewarnaan pada figur menunjukkan persentase terproyeksi perubahan panen pada 11 tanaman utama (gandum, padi, jagung, juwawut, kacang polong, bit gula, kentang, kacang kedelai, kacang tanah, bunga matahari, dan biji-bijian) dari 2046 hingga 2055, dibandingkan dengan 1996−2005. Perubahan nilai perubahan lahan merupakan rerata 3 skenario emisi dari 5 model iklim global, diasumsikan tidak ada penyubur CO2 (kemungkinan pemicu pertumbuhan dan penggunaan air secara efisien dari konsentrasi kadar CO2 tinggi). Nilai tersebut mengindikasikan pembagian PDB yang diperoleh dari pertanian untuk setiap wilayah. (Pembagian daerah Afrika Sub-Sahara adalah 23 persen jika tidak menyertakan Afrika Selatan). Area dampak negatif yang luas diproyeksikan di berbagai area yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pertanian.

pemanasan sedang. Memang benar, kerusakan per kapita sepertinya lebih tinggi di negara kaya sejak mereka bertanggung jawab terhadap 16 persen populasi dunia tetapi hanya akan menanggung sekitar 20−25 persen dari biaya dampak global. Akan tetapi kesejahteraan mereka yang begitu besar membuat mereka lebih mampu untuk menanggung dampaknya. Perubahan iklim akan menebarkan kerusakan di mana-mana—tetapi hal ini hanya akan menambah jurang antara negara-negara maju dan berkembang. Pertumbuhan sangat dibutuhkan untuk pemulihan yang lebih besar tetapi tidak akan pernah mencukupi. Pertumbuhan ekonomi dibutuhkan untuk mengurangi kemiskinan dan ini adalah jantung

dari peningkatan ketahanan terhadap perubahan iklim di negara-negara miskin. Akan tetapi pertumbuhan sendiri bukanlah jawaban bagi iklim yang berubah. Pertumbuhan sepertinya tidak cukup cepat untuk membantu negara-negara yang lebih miskin, dan hal ini meningkatkan kerentanan terhadap bencana iklim (Kotak 2). Pertumbuhan juga tidak memadai untuk memastikan perlindungan untuk negara yang termiskin dan paling rentan. Pertumbuhan tidak menjamin bahwa institusi-institusi penting akan berfungsi dengan baik. Dan jika pertumbuhan tersebut bersifat padat-karbon, maka hal itu akan menyebabkan pemanasan lebih lanjut. Namun, tidak ada alasan untuk berpikir bahwa jalur rendah karbon

Laporan Pembangunan Dunia 2010



KOTAK 1

Seluruh negara berkembang rentan pada dampak perubahan iklim—untuk alasan berbeda

Masalah yang umum di negara-negara berkembang—terbatasnya sumber daya manusia dan finansial, institusi yang lemah—merupakan penyebab utama dari kerentanan mereka. Namun, faktor-faktor lainnya, berkaitan dengan sejarah dan geografis mereka, juga merupakan faktor yang signifikan. Afrika Sub-Sahara menderita akibat kerentanan alamnya (dua pertiga daerahnya merupakan padang pasir atau lahan kering) dan ancaman mengalami kekeringan dan banjir, yang diperkirakan akan meningkat karena perubahan iklim. Ekonomi daerahnya sangat bergantung pada sumber daya alam. Biomassa menyumbang 80 persen pasokan energi utama domestiknya. Pertanian tadah hujan berkontribusi sebesar 23 persen pada PDB (tanpa menyertakan Afrika Selatan) dan merupakan mata pencaharian 70 persen populasinya. Infrastruktur yang lemah dan terbatas dapat membatasi upaya adaptasi, dengan simpanan air yang terbatas meskipun sumber dayanya melimpah. Malaria, yang menjadi pembunuh utama di daerah ini, semakin menyebar ke daerah-daerah tinggi yang sebelumnya aman. Di Asia Timur dan Pasifik, salah satu pendorong utama dari kerentanan daerah ini adalah jumlah penduduk yang besar di sepanjang garis pantai dan pulau-pulau dataran rendah—lebih dari 130 juta jiwa di China, dan sekitar 40 juta, atau lebih dari setengah populasi totalnya, di Vietnam. Pendorong kedua adalah ketergantungan yang terus berlanjut, terutama di antara negara-negara yang lebih miskin, pada pertanian untuk pendapatan dan lapangan kerja. Ditambah dengan permintaan air yang terus naik—sebagai akibat dari pertumbuhan populasi, urbanisasi, dan degradasi lingkungan yang disebabkan oleh industrialisasi yang pesat—variabilitas yang lebih besar dan ekstrem akan menyulitkan pengelolaan. Di delta Sungai Mekong, musim hujannya menyebabkan curah hujan yang lebih intens, sementara musim kemaraunya bertambah panjang dua bulan. Faktor pendorong ketiga adalah perekonomian

daerahnya sangat bergantung pada sumber daya laut—nilai dari terumbu karang yang dirawat dengan baik adalah $13 miliar di Asia Tenggara saja—yang sudah tertekanan oleh polusi industri, pengembangan daerah pantai, penangkapan ikan yang berlebihan, dan limpasan pestisida pertanian dan nutrisi. Kerentanan terhadap perubahan iklim di Eropa Timur dan Asia Tengah didorong oleh mismanajemen lingkungan yang diwariskan oleh Soviet dan keadaan infrastruktur daerah yang rusak. Misalnya: suhu yang naik dan curah hujan yang berkurang di Asia Tengah akan memperparah bencana lingkungan dari menghilangnya Laut Aral bagian Selatan (yang disebabkan oleh diversi air untuk penanaman kapas di iklim gurun) sementara pasir dan garam dari dasar laut yang kering yang tertiup ke arah gletser di Asia Tengah, mempercepat pencairan yang disebabkan oleh suhu yang lebih tinggi. Konstruksi infrastruktur yang parah, tidak terawatt, dan menua—warisan era Soviet dan tahun-tahun transisi—tidaklah cocok untuk mengatasi badai, gelombang panas, atau banjir. Ekosistem paling penting di Amerika Latin dan Karibia berada dalam ancaman. Pertama, gletser tropis Andes diperkirakan akan hilang, mengubah waktu dan intensitas ketersediaan air di beberapa negara, menyebabkan kekurangan air bagi kurang lebih 77 juta jiwa pada paling cepat tahun 2020 dan mengancam tenaga air, yang merupakan sumber dari setengah atau lebih pasokan listrik di sebagian besar negaranegara Amerika Selatan. Kedua, pemanasan dan pengasaman laut akan berakibat pada lebih seringnya kejadian pemutihan dan kemungkinan matinya terumbu karang di Karibia, yang menjadi tempat pemijahan dan tempat tinggal bagi sekitar 65 persen spesies ikan di teluk tersebut, yang menyediakan perlindungan alami dari gelombang badai, dan menjadi aset wisata yang penting. Ketiga, kerusakan pada lahan basah di Teluk Meksiko akan membuat daerah pantai tersebut lebih rentan terhadap badai yang lebih besar dan sering. Keempat, dampak yang paling

akan melambatkan laju pertumbuhan ekonomi: sebagian besar peraturan lingkungan diawali oleh ketakutan akan hilangnya lapangan kerja dan jatuhnya

menghancurkan pada daerah tersebut adalah musnahnya hutan hujan Amazon, mengubah daerah-daerah luas menjadi savana, dengan konsekuensi yang berat bagi iklim daerah tersebut—dan bahkan dunia. Air adalah sumber daya yang paling rentan di Timur Tengah dan Afrika Utara, daerah paling kering di dunia, di mana ketersediaan air per kapita diperkirakan berkurang setengahnya pada 2050, bahkan tanpa dampak perubahan iklim. Daerah tersebut mempunyai beberapa pilihan yang menarik untuk meningkatkan simpanan air, karena hampir 90 persen sumber daya air bersihnya disimpan dalam tempat penampungan air (reservoir). Meningkatnya kelangkaan air yang dikombinasikan dengan variabilitas yang lebih besar akan mengancam pertanian, yang bertanggung jawab pada 85 persen penggunaan air daerah tersebut. Kerentanan diperparah dengan konsentrasi padat penduduk dan aktivitas ekonomi di zona pantai rawan banjir dan oleh tekanan politik dan sosial yang dapat meningkatkan kelangkaan sumber daya. Asia Selatan menderita akibat kurangnya dan menurunnya basis sumber daya akibat geografi ditambah dengan tingginya kemiskinan dan kepadatan populasi. Sumber daya air tampaknya akan terpengaruh oleh perubahan iklim melalui efeknya pada monsun, yang menyumbang 70 persen curah hujan tahunan selama periode empat bulan, maupun terhadap melelehnya gletser di Himalaya. Naiknya permukaan laut merupakan masalah selanjutnya di daerah tersebut, yang garis pantainya panjang dan padat populasi, lahan pertanian terancam intrusi air laut, dan banyaknya pulau dataran rendah. Pada skenario perubahan iklim yang lebih parah, kenaikan permukaan laut berakibat terhadap ancaman hidup yang akan menenggelamkan sebagian besar Republik Maladewa dan membanjiri 18 persen daratan Bangladesh. Sumber: de la Torre, Fajnzylber, dan Nash 2008; World Bank 2007a; World Bank 2007c; World Bank 2008b; World Bank 2009b.

perindustrian, hanya sedikit saja yang benar-benar terjadi.28 Namun, jelas, ada harga yang harus dibayar untuk transisi ini, terutama dalam mengembangkan

Gambaran Umum

teknologi dan infrastruktur rendah karbon untuk energi, transportasi, perumahan, perencanan kota, dan pengembangan pedesaan. Dua argumen yang sering terdengar adalah biaya peralihan tidak dapat diterima mengingat kebutuhan mendesak untuk investasi lain di negara miskin, dan harus berhati-hati agar tidak mengorbankan kesejahteraan rakyat miskin hari ini untuk kepentingan generasi masa depan, yang kemungkinan lebih kaya. Ada kebenaran dalam kepedulian tersebut. Akan tetapi, intinya, alasan ekonomi yang kuat dapat dibuat untuk tindakan yang ambisius dalam perubahan iklim.

Ekonomi perubahan iklim: Mengurangi risiko iklim adalah berharga Perubahan iklim memiliki biaya, apa pun kebijaksanaan yang dipilih. Pengeluaran yang minim pada mitigasi akan berarti pengeluaran lebih untuk adaptasi dan menerima kerusakan yang lebih besar: biaya dari tindakan harus dibandingkan dengan biaya tanpa tindakan. Akan tetapi, seperti telah dijelaskan pada Bab 1, perbandingan menjadi rumit karena ketidakpastian pertimbangan mengenai teknologi yang akan tersedia di masa depan (termasuk ongkosnya), kemampuan masyarakat dan ekosistem untuk beradaptasi (pada harga berapa), tingkat kerusakan akibat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca, dan suhu yang mungkin merupakan ambang batas atau melebihi titik ujung di mana dampak bencana terjadi (lihat Fokus Ilmu Perubahan Iklim). Perbandingan juga rumit dengan permasalahan distribusi atas waktu (mitigasi yang terjadi oleh satu generasi yang menghasilkan keuntungan untuk banyak generasi berikutnya) dan ruang (beberapa area lebih rentan dibandingkan lainnya, sehingga lebih

menyerupai dukungan untuk usaha agresif mitigasi global). Dan kerumitan berlanjut dengan pertanyaan mengenai bagaimana menilai kehilangan nyawa, mata pencaharian, dan jasa non-pasar seperti keragaman hayati dan jasa ekosistem. Para ekonom mencoba keras untuk mengidentifikasi kebijaksanaan iklim menggunakan analisis keuntungan biaya. Akan tetapi seperti digambarkan pada Kotak 3, hasilnya sensitif untuk sebagian asumsi mengenai ketidakpastian yang akan datang, dan untuk pilihan normatif yang menimbulkan permasalahan distribusi dan pengukuran. (Para optimis teknologi, yang mengharapkan perubahan iklim relatif sederhana dan terjadi bertahap sepanjang waktu, yang dengan berat memangkas apa yang terjadi di masa depan, akan membutuhkan tindakan seperlunya sekarang. Dan sebaliknya untuk para pesimis teknologi). Para ekonom melanjutkan ketidaksetujuan terhadap jalur karbon optimal secara ekonomi atau sosial. Akan tetapi terdapat beberapa persetujuan-persetujuan. Dalam model yang utama, keuntungan stabilisasi melebihi biaya-biaya pada pemanasan 2,5°C (meskipun tidak demikian pada 2°C). 29 Dan semua menyimpulkan bahwa bisnis-seperti-biasanya (berarti segalanya terus berlangsung seperti sekarang) ini berarti bencana. Pendukung pengurangan emisi secara bertahap menyimpulkan bahwa target optimal—salah satu yang akan menghasilkan yang total biaya paling rendah (yaitu jumlah dampak dan biaya mitigasi)—dapat mencapai di atas 3°C.30 Akan tetapi mereka yang memperhatikan bahwa biaya terpenting untuk menjaga pemanasan sekitar 2°C akan menjadi yang terendah, kurang dari setengah persen PDB (lihat Kotak 3). Dengan



0

KOTAK 2

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Pertumbuhan Ekonomi: Perlu, tetapi tidak mencukupi

Negara-negara yang lebih kaya memiliki sumber daya yang lebih banyak untuk mengatasi dampak-dampak iklim, dan populasi yang lebih terpelajar dan lebih sehat berarti lebih tahan terhadap perubahan iklim. Namun, proses pertumbuhan dapat memperburuk kerentanan terhadap perubahan iklim, seperti pengambilan air yang berlebihan untuk pertanian, industri, dan konsumsi di provinsiprovinsi yang mudah terkena kekeringan di sekitar Beijing, dan juga seperti di Indonesia, Madagaskar, Thailand, dan daerah Pesisir Teluk A.S., di mana pohon-pohon bakau telah dibabat untuk membuka lahan peternakan udang dan pariwisata. Pertumbuhan tidaklah cukup cepat bagi negara-negara berpendapatan rendah untuk membiayai perlindungan yang terjangkau bagi negara-negara kaya. Bangladesh dan Belanda adalah contoh negara-negara yang paling terpapar dampak kenaikan permukaan laut. Bangladesh sudah melakukan banyak upaya untuk mengurangi

kerentanan populasinya, dengan sistem peringatan dini untuk bahaya badai yang sangat efektif, dan program peramalan dan respons banjir dengan memanfaatkan ahli-ahli lokal dan internasional.33 Namun, jangkauan adaptasi yang memungkinkan dibatasi oleh sumber daya—pendapatan per kapitanya hanyalah $450. Sementara itu, pemerintah Belanda sedang merencanakan investasi hingga sebesar $100 untuk masing-masing warga Belanda setiap tahunnya hingga seabad mendatang.34 Dan bahkan Belanda, yang memiliki pendapatan per kapita 100 kali lipat Bangladesh, telah memulai program relokasi selektif yang jauh dari area dataran rendah karena perlindungan yang terusmenerus di semua tempat merupakan hal yang tidak terjangkau.

Sumber: Barbier dan Sathirathai 2004; Deltacommissie 2008; FAO 2007; Goverment of Bangladesh 2008; Guan dan Hubacek 2008; Karim dan Mimura 2008; Shalizi 2006; dan Xia, dkk. 2007.

kata lain, total biaya-biaya dari pilihan 2°C tidak lebih banyak dibandingkan total biaya dari ekonomi optimum yang ambisius. Mengapa? Sebagian karena penghematan dari sebagian kecil mitigasi diimbangi dengan biaya tambahan dari beberapa dampak atau pengeluaran adaptasi yang lebih tinggi.31 Dan sebagian karena yang perbedaan riil antara tindakan terhadap iklim yang sederhana dan yang ambisius berkaitan dengan biaya yang terjadi di masa depan, dengan bertahap terpangkas secara drastis. Ke t i d a k p a s t i a n y a n g b e s a r t e nt a n g p ot e n s i k e r u g i a n y a n g berhubungan dengan perubahan iklim dan kemungkinan risiko malapetaka mungkin dijelaskan sebelumnya dan tindakan yang lebih agresif akan lebih disarankan ketimbang analisis biayamanfaat yang sederhana. Jumlah penting

ini bisa dimengerti sebagai premi asuransi untuk memelihara perubahan iklim pada apa yang disebut oleh pada ilmuwan sebagai zona aman.32 Pengeluaran yang kurang dari setengah persen dari PDB sebagai “asuransi iklim” akan menjadi awal yang baik dan dapat diterima secara sosial: dunia menghabiskan 3 persen PDB global pada asuransi saat ini.33 Akan tetapi di luar pertanyaan tent ang “asuransi i k lim” adalah pertanyaan tentang apa kekuatan yang mungkin menjadi hasil biaya mitigasi— dan kebutuhan keuangan perusahaan. Di masa pertengahan, taksiran biayabiaya mitigasi pada negara-negara berkembang berkisar antara $140 miliar dan $175 miliar per tahun hingga 2030. Hal ini menunjukkan biaya tambahan berhubungan dengan skenario bisnis secara umum (Tabel 1). Keperluan pembiayaan akan menjadi lebih tinggi, bagaimanapun, sebanyak penghematan yang diperoleh dar i menur un kan biaya op erasi digabungkan dengan energi dapat diperbarui dan efisiensi energi yang berupa lembur. McKinsey, sebagai contoh, memperkirakan bahwa ketika biaya tambahan pada 2030 akan menjadi $175 miliar, investasi mendatang yang diperlukan akan mencapai $563 miliar lebih dan di atas kebutuhan investasi bisnis-seperti-biasanya (business-asusual). McKinsey menghubungkan jumlah ini dengan perkiraan kasar penambahan 3 persen pada investasi global bisnis-seperti-biasanya, dan sepertinya masih berada di dalam kapasitas pasar keuangan global. 34 Bagaimanapun, pembiayaan secara historis menjadi suatu kendala di negaranegara berkembang, mengakibatkan kurangnya investasi pada infrastruktur seperti pada terjadinya bias pemilihan

Gambaran Umum

KOTAK 3



Harga “Asuransi Cuaca”

Hof, den Elzen, dan van Vuuren menelaah sensitivitas sasaran iklim optimal terhadap asumsi-asumsi mengenai horizon waktu, sensitivitas iklim (banyaknya pemanasan yang bersesuaian dengan berlipatgandanya konsentrasi gas rumah kaca dari tingkat praindustri), biaya mitigasi, seperti kerusakan, dan tingkat diskon. Untuk melakukan hal itu, mereka melakukan model penilaian terintegrasinya (FAIR), memvariasi pengaturan model di sepanjang rentang asumsu yang ditemukan dalam literatur, terutama yang terhubung dengan dua ekonom ternama: Nicholas Stern, yang mendukung aksi awal dan ambisius; dan William Nordhaus, yang mendukung pendekatan secara bertahap terhadap mitigasi iklim. Tidak mengejutkan, model mereka menghasilkan target optimal yang sangat berbeda bergantung pada asumsi mana yang digunakan. (Target optimal didefinisikan sebagai konsentrasi yang dapat mengakibatkan reduksi terendah pada nilai konsumsi global saat ini.) “Asumsi Stern” (yang menyertakan sensitivitas iklim yang relatif tinggi dan kerusakan iklim, dan horizon waktu yang lama dikombinasikan dengan tingkat diskon yang rendah dan biaya mitigasi) menghasilkan puncak konsentrasi optimum CO2e sebesar 540 bagian per sejuta (bpj). “Asumsi Nordhaus” (yang mengasumsikan sensitivitas iklim yang rendah dan kerusakan, dan horizon waktu yang lebih pendek, serta tingkat diskon yang lebih tinggi) menghasilkan nilai optimum sebesar 750 bpj. Pada kedua kasus, biaya adaptasi menyertakan secara implisit fungsi kerusakan iklim. Figur menunjukkan biaya terendah untuk stabilisasi konsentrasi atmosfer pada rentang 500 sampai 800 bpj untuk asumsi Stern dan Nordhaus (dilaporkan sebagai perbedaan antara model nilai

energi dengan biaya di muka yang lebih rendah, bahkan ketika pilihan tersebut akhirnya meningkatkan biaya keseluruhan. Pencarian mekanisme pembiayaan yang sesuai seharusnya menjadi prioritas. Bagaimana dengan jangka waktu yang lebih panjang? Biaya-biaya mitigasi

konsumsi saat ini dengan nilai konsumsi dunia saat ini yang akan dinikmati tanpa perubahan iklim). Bukti kunci pada figur tersebut adalah kedataran relatif kurva hilangnya konsumsi pada sebagian besar konsentrasi puncak CO2e. Akibatnya, berpindah dari konsentrasi puncak 750 bpj CO2e ke 550 bpj pada kehilangan kecil konsumsi (0,3 persen) dengan asumsi Nordhaus. Dengan demikian, hasil ini menyarankan bahwa biaya mitigasi pencegahan sampai 550 bpj adalah kecil. Dengan asumsi Stern, target 550 bpj yang menghasilkan keuntungan pada nilai konsumsi saat ini sekitar 0,5 persen relatif terhadap target 750 bpj. Motivasi yang kuat untuk memilih target konsentrasi puncak yang lebih rendah adalah

untuk mengurangi risiko hasil-hasil berbahaya yang diakibatkan pemanasan global. Dari perspektif ini, biaya untuk pindah dari target konsentrasi puncak CO2e yang tinggi ke sasaran yang lebih rendah dapat dianggap sebagai biaya asuransi iklim—besarnya kekayaan dunia yang akan dikorbankan untuk mengurangi risiko bencana. Analisis Hof, den Elzen, dan van Vuuren menyatakan bahwa biaya asuransi iklim adalah memungkinkan di bawah pengaruh banyak asumsi mengenai sistem iklim dan biaya mitigasi perubahan iklim.

Sumber: Hof, den Elzen, dan van Vuuren 2008.

Melihat pada pertukaran: Hilangnya konsumsi relatif terhadap dunia tanpa pemanasan untuk puncak-puncak konsentrasi CO2e yang berbeda Pengurangan dari nilai konsumsi masa kini (persen) 4 Asumsi Stern Asumsi Nordhaus Optimum untuk asumsi yang diberikan

3

2

1

0

500

550

600

650

700

750

Tingkat puncak konsentrasi CO2e (bpj) Sumber: Diadaptasi dari Hof, den Elzen, dan van Vuuren 2008, Figur 10. Catatan: Kurva tersebut menunjukkan persentase hilangnya nilai konsumsi masa kini relatif terhadap apa yang akan terjadi dengan iklim yang konstan, sebagai fungsi target puncak konsentrasi CO2e. “Asumsi Stern” dan “Asumsi Nordhaus” merujuk pada pilihan tentang nilai parameter kunci model yang dijelaskan pada teks. Tanda titik menunjukkan nilai optimum untuk setiap pengaturan, di mana optimum didefinisikan sebagai konsentrasi gas rumah kaca yang akan meminumalisasi kehilangan konsumsi global yang diakibatkan oleh penjumlahan biaya mitigasi dan dampak kerusakan.

akan meningkat dari waktu ke waktu sesuai dengan pertumbuhan populasi dan kebutuhan energi—demikian juga dengan pendapatan. Sebagai hasilnya, nilai biaya mitigasi global saat ini hingga 2100 adalah diharapkan untuk berada di bawah 1 persen dari PDB global, dengan taksiran yang berkisar antara 0,3

800

Laporan Pembangunan Dunia 2010



persen dan 0,7 persen (Tabel 2). Biaya mitigasi negara-negara berkembang akan menyajikan suatu pembagian yang lebih tinggi dari PDB milik mereka sendiri, bagaimanapun, berkisar antara 0,5 dan 1,2 persen. Ada jauh lebih sedikit taksiran investasi kebutuhan adaptasi, dan taksiran yang ada belum sebanding. Beberapa hanya menekankan pada dana perlindungan iklim dari proyek bantuan asing. Lainnya hanya menyertakan sektor-sektor tertentu. Sangat sedikit yang mencoba menekankan pada kebutuhan Tabel 1 Biaya tambahan mitigasi dan kebutuhan pembiayaan untuk jalur 2ºC: Apa yang akan diperlukan untuk negara-negara berkembang sampai 2030? $2005 konstan Model

Biaya mitigasi

IEA ETP

Kebutuhan pembiayaan 565

McKinsey

175

MESSAGE

563 264

MiniCAM

139

REMIND

384

Sumber: IEA ETP 2008: IEA 2008c; McKinsey: McKinsey & Company 2009 dan data tambahan yang disediakan oleh McKinsey (J. Dinkel) untuk 2030, menggunakan nilai tukar dollar ke euro, yaitu $1,25 ke €1; MESSAGE: IIASA 2009 dan data tambahan yang disediakan oleh V. Krey; MiniCAM: Edmonds dkk. 2008 dan data tambahan yang disediakan oleh J. Edmonds dan L. Clarke; REMIND: Knopf dkk.. akan terbit dan data tambahan yang disediakan oleh B. Knopf. Catatan: Baik biaya mitigasi dan kebutuhan pembiayaan terkait adalah tambahan relatif terhadap acuan bisnis-seperti-biasanya (business-as-usual baseline). Semua perkiraannya adalah untuk stabilisasi gas rumah kaca pada 450 bpj CO2e yang akan memberikan peluang sebesar 40−50 persen untuk bertahan pada pemanasan di bawah 2ºC pada 2100 (Schaeffer dkk. 2008, Hare dan Meinshausen 2006). IEA ETP adalah model yang dikembangkan oleh International Energy Agency, dan McKinsey adalah metodologi kepemilikan yang dikembangkan oleh McKinsey & Company; MESSAGE, MiniCAM, dan REMIND masing-masing adalah model pasangan-tinjauan (peer-reviewed model) dari International Institute for Applied System Analysis, the Pacific Northwest Laboratory, dan the Postdam Institute for Climate Impact Research. McKinsey menyertakan semua sector; model lainnya hanya menyertakan usaha mitigasi pada sektor energi. MiniCAM melaporkan $168 miliar untuk mitigasi pada 2035, pada dollar konstan, 2000; figur ini telah diinterpolasi untuk 2030 dan dikonversi dengan nilai dollar pada 2005.

Tabel 2 Dalam jangka panjang, apakah akan bernilai? Nilai terkini dari biaya mitigasi hingga 2100 Nilai biaya mitigasi saat ini sampai 2100 untuk 450 bpj CO2e (% PDB) Model

Dunia

Negara-negara berkembang

DICE

0,7

FAIR

0,6

MESSAGE

0,3

0,5

MiniCAM

0,7

1,2

PAGE

0,4

0,9

REMIND

0,4

Sumber: DICE: Nordhaus 2008 (diestimasi dari Tabel 5.3 dan Figur 5.3); FAIR: Hof, den Elzen, dan van Vuuren 2008; MESSAGE: IIASA 2009; MiniCAM: Edmonds dkk. 2008 dan komunikasi pribadi, PAGE: Hope 2009 dan komunikasi pribadi; REMIND: Knopf dkk, akan terbit. Catatan: DICE, FAIR, MESSAGE, MiniCAM, PAGE, dan REMIND adalah model pasangan-tinjauan (peer-reviewed model). Perkiraan adalah untuk stabilisasi gas rumah kaca pada 450 bpj CO2e, di mana akan menghasilkan 40−50 persen peluang untuk memastikan pemanasan di bawah 2ºC (Schaeffer dkk. 2008, Hare dan Meinshausen 2006). Hasil model FAIR melaporkan pengurangan biaya menggunakan pengaturan rendah (lihat Tabel 3 pada Hof, den Elzen, dan van Vuuren 2008).

negara secara keseluruhan (lihat Bab 6). Studi World Bank yang terbaru yang mencoba untuk mengatasi permasalahan ini menyarankan bahwa kebutuhan investasi dapat berkisar antara $75 miliar dan $100 miliar per tahun hanya di negara-negara berkembang.35

Dunia cerdas iklim dapat tercapai jika kita bertindak sekarang, bertindak bersama, dan bertindak secara berbeda Bahkan jika biaya tambahan untuk mengurangi risiko iklim tergolong kecil dan kebutuhan investasi jauh dari tercukupi, menstabilkan pemanasan pada kisaran 2ºC di atas suhu pada masa praindustri adalah hal yang sangat ambisius. Pada 2050, emisi sekurangnya menjadi 50 persen di bawah level pada tahun 1990 dan haruslah nol atau negatif pada 2100 (Figur 5). Untuk itu akan diperlukan usaha yang segera dan besar-besaran (Herculean effort): dalam 20 tahun mendatang emisi global harus menurun dibandingkan dengan jalur bisnis-seperti-biasanya, dengan jumlah yang emisi yang ekuivalen dengan total emisi dari negara-negara berpendapatan tinggi saat ini. Sebagai tambahan, bahkan pemanasan 2°C juga akan memerlukan adaptasi yang berbiaya—mengubah jenis risiko yang harus siap dihadapi oleh penduduk; di mana mereka tinggal; apa yang mereka makan; dan cara mereka merancang, mengembangkan, dan mengatur agroekologi dan sistem perkotaan.36 Maka tantangan mitigasi maupun adaptasi bersifat substansial. Akan tetapi hipotesis dari Laporan ini adalah bahwa tantangan-tantangan tersebut dapat dihadapi melalui kebijakan cerdas iklim yang memerlukan tindakan sekarang, tindakan bersama-sama (atau serentak),

Gambaran Umum

dan bertindak dengan cara yang berbeda. Bertindak sekarang, oleh karena inersia yang luar biasa di pada sistem iklim dan ekonomi-sosial. Bertindak bersamasama (global), untuk menjaga biaya-biaya agar tetap rendah dan melindungi yang paling rentan. Dan bertindak dengan cara yang berbeda, karena sebuah dunia cerdas iklim memerlukan transformasi pada energi kita, produksi makanan, dan sistem manajemen risiko.

Bertindak sekarang: inersia berarti tindakan sekarang akan menentukan pilihan masa depan Sistem iklim menunjukkan inersia yang substansial (Figur 6). Konsentrasi bergerak lebih lambat daripada reduksi emisi: CO2 tetap berada di atmosfer selama beberapa dekade bahkan berabad-abad, sehingga penurunan emisi membutuhkan waktu untuk memengaruhi konsentrasi. Suhu bergerak lebih lambat daripada konsentrasi: suhu akan terus naik selama beberapa abad setelah konsentrasinya stabil. Dan permukaan laut bergerak lebih lambat daripada penurunan suhu: ekspansi termal dari lautan akibat naiknya suhu akan bertahan selama seribu tahun atau lebih sementara kenaikan permukaan laut akibat melelehnya es dapat bertahan hingga beberapa milenium.37 Dengan demikian, dinamika sistem iklim membatasi seberapa besar mitigasi yang akan datang dapat disubstitusikan untuk upaya-upaya yang dilakukan sekarang. Contohnya, menstabilkan iklim sekitar 2oC (sekitar 450 bpj CO2e) akan memerlukan emisi global untuk mulai turun secepatnya pada kira-kira 1,5 persen tiap tahun. Keterlambatan lima tahun harus di atasi oleh penurunan emisi yang lebih cepat. Dan keterlambatan yang lebih lama lagi tidak akan dapat ditangani: keterlambatan sepuluh tahun



Figur 5 Jalan maju tampak seperti apa? Dua di antara banyak pilihan: Bisnis seperti biasa atau mitigasi agresif Total total emisi global tahunan yang terproyeksi (GtCO2e) 160 140

Bisnis seperti biasanya (~5ºC) Jalur 2ºC

120 100 80 60 40 20 0 –20 –40

2000

2010

2020

2030

2040

2050

2060

2070

2080

2090

2100

Tahun Sumber: Clarke dkk., akan terbit. Catatan: Jalur atas menunjukkan rentang estimasi beberapa model emisi (GTEM, IMAGE, MESSAGE. MiniCAM) berdasarkan skenario bisnis-seperti-biasa. Jalur bawah menunjukkan jalur emisi yang dapat mencapai konsentrasi CO2e sebesar 450 bpj (dengan peluang 50 persen untuk membatasi pemanasan di bawah 2ºC). Emisi gas rumah kaca termasuk CO2, CH4, dan N2O. Emisi negatif (yang diperlukan untuk jalur 2ºC) mengimplikasikan bahwa tingkat emisi tahunan lebih rendah dibandingkan dengan tingkat penyerapan dan penyimpanan karbon melalui prose salami (misalnya, pertumbuhan tanaman) dan proses rekayasa (misalnya, menumbuhkan biofuel dan membakarnya, sequesterisasi CO2 bawah tanah). GTEM, IMAGE, MESSAGE, dan MiniCAM adalah model penilaian terintegrasi dari Australian Beureau of Agricultural and Resource Economics, the Netherland Environmental Assessment Agency, International Institute of Applied System Analysis, dan Pacific Northwest National Laboratory.

dalam mitigasi akan membuat kita mustahil untuk mencegah pemanasan melebihi 2oC.38 Inersia juga terdapat pada lingkungan yang terbangun, membatasi fleksibilitas dalam mengurangi gas rumah kaca atau merancang respons-respons adaptasi. Investasi infrastruktur bersifat terlalu terkelompok, terkonsentrasi pada waktu alih-alih tersebar merata.39 Infrastruktur juga bertahan lama: 15−40 tahun untuk pabrik dan pembangkit listrik, 40−75 tahun untuk jalan, rel, dan jaringan distribusi listrik. Keputusan bentuk tata guna lahan dan kota—struktur dan kepadatan kota—berdampak lebih dari satu abad. Dan infrastruktur yang bertahan lama memicu investasi pada modal yang bersesuaian (mobil untuk kota berkepadatan rendah; panas dari gas dan kapasitas pembangkit listrik sebagai respons terhadap pipa-pipa gas), mengunci perekonomian ke dalam polapola gaya hidup dan konsumsi energi.

Laporan Pembangunan Dunia 2010



Figur 6 Dampak iklim berjangka panjang: Kenaikan suhu dan kedudukan muka laut diasosiasikan dengan konsentrasi tinggi CO2 Emisi CO2 tahunan

Waktu untuk mencapai kesetimbangan

Emisi CO2: 0 sampai 100 Konsentrasi CO2 Stabilisasi suhu: beberapa abad

Suhu Stabilisasi CO2: 100 sampai 300 tahun

Peningkatan kedudukan muka air laut disebabkan oleh pelelehan es: beberapa milenium

Peningkatan kedudukan muka air laut

Peningkatan kedudukan muka air laut disebabkan oleh ekspansi suhu: berabad-abad sampai milenium

Saat ini

100 tahun

1.000 tahun

Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia berdasarkan IPCC 2001. Catatan: Figur yang diolah; nilai pada masing-masing panel dimaksudkan untuk tujuan ilustrasi.

Inersia dalam modal fisik sama sekali tidak memengaruhi sistem iklim dan kurang lebih dapat memengaruhi biaya alih-alih kemungkinan tercapainya tujuan emisi tertentu—tetapi hal ini tetap substansial. Kesempatan untuk beralih dari modal berkarbon tinggi ke yang berkarbon rendah tidak terdistribusi merata tepat waktu.40 China diharapkan u ntu k me ng g and a k an c a d ang an bangunannya antara tahun 2000 hingga 2015. Dan pembangkit listrik bertenaga batu bara yang diajukan di seluruh dunia selama 25 tahun ke depan sangat

banyak sampai-sampai emisi CO2 selama hidupnya akan sama dengan semua aktivitas pembakaran batu bara sejak awal era industri.41 Hanya fasilitas yang dekat dengan situs penyimpanan saja yang dapat diperbaiki untuk penangkapan dan penyimpanan karbon (jika dan ketika teknologi tersebut telah tersedia secara komersial: lihat Bab 4 dan 7). Menutup pabrik-pabrik ini sebelum habis masa gunanya—jika perubahan dalam iklim memaksa tindakan tersebut—akan menghabiskan dana yang banyak sekali. Inersia juga merupakan faktor dalam penelitian dan pengembangan (R&D) serta penyebaran teknologi baru. Sumber energi baru secara historis membutuhkan waktu sekitar 50 tahun untuk mencapai setengah dari potensinya. 42 Investasi substansial dalam R&D di masa sekarang diperlukan untuk memastikan bahwa teknologi baru akan dapat diakses dan menembus pasar dengan cepat dalam waktu yang tidak lama lagi. Hal ini akan memerlukan tambahan $100 miliar sampai $700 miliar per tahun.43 Inovasi juga diperlukan dalam transportasi, bangunan, manajemen air, perancangan kota, dan banyak sektor lainnya yang dipengaruhi oleh perubahan iklim—jadi inovasi juga merupakan masalah penting bagi adaptasi. Inersia juga terdapat dalam perilaku individu dan organisasi. Selain kepedulian publik, perilaku tidak berubah banyak. Teknologi efisien energi yang tersedia yang efektif dan bersifat swadaya tidaklah didopsi. R&D dalam sumber daya yang dapat diperbarui tidak didanai dengan memadai. Para petani menghadapi masalah pengairan berlebih pada tanaman mereka, yang akhirnya memengaruhi penggunaan energi, karena energi merupakan masukan yang

Gambaran Umum

besar dalam persediaan dan penanganan air. Bangunan-bangunan terus berada di daerah yang rentan bahaya, dan infrastruktur terus dirancang untuk bertahan dengan iklim pada masa lalu.44 Mengubah perilaku serta tujuan dan standar organisasi adalah hal yang sulit dan biasanya lambat, tetapi pernah dilakukan sebelumnya (Bab 8).

Bertindakan bersama-sama: Untuk kesetaraan dan efisiensi Aksi kolektif diperlukan secara efektif untuk menangkal perubahan iklim dan mengurangi biaya-biaya mitigasi.45 Ini juga penting untuk memfasilitasi adaptasi, khususnya melalui manajemen risiko yang lebih baik dan jaring keselamatan untuk melindungi yang paling rentan. Untuk menjaga biaya tetap rendah dan terdistribusi merata. Keterjangkauan b e rg antu ng p a d a m it i g as i y ang dilakukan dengan efektif biaya. Ketika pengestimasian biaya mitigasi dijelaskan sebelumnya, pembuat model mengasumsikan bahwa pengurangan emisi gas rumah kaca terjadi kapanpun dan di manapun biayanya paling murah. Di manapun berarti mengupayakan efisiensi energi yang lebih tinggi dan mencari cara-cara berbiaya rendah lainnya untuk memitigasi di negara atau sektor manapun ketika muncul kesempatan. Kapanpun berarti ketepatan dalam investasi pada peralatan baru, infrastruktur, atau proyek pertanian dan kehutanan untuk meminimalkan biaya dan menjaga agar perekonomian tidak terkunci pada kondisi karbon tinggi yang nantinya akan menjadi sangat mahal untuk diubah. Melonggarkan peraturan kapanpun, di manapun— seperti yang akan perlu terjadi di dunia nyata, khususnya jika tidak ada harga

karbon global—akan meningkatkan biaya mitigasi secara dramatis. Implikasinya adalah terdapat keuntungan yang besar untuk upaya global—dalam hal ini, para analis telah bersepakat. Jika negara atau kelompok negara manapun tidak melakukan mitigasi, maka yang lainnya harus memilih pilihan biaya mitigasi yang lebih mahal untuk mencapai sasaran global yang ditentukan. Sebagai contoh, dengan satu perkiraan, absennya Amerika Serikat, yang bertanggung jawab terhadap 20 persen emisi dunia, dalam Protokol Kyoto meningkatkan biaya pencapaian sasaran awal sekitar 60 persen.46 Pemerat aan d an ef isiensi diperdebatkan untuk mengembangkan instrumen finansial yang memisahkan siapa yang mendanai mitigasi berdasarkan tempat kejadiannya. Jika tidak, potensi mitigasi yang substansial di negaranegara berkembang (pengurangan emisi sebanyak 65−70 persen, menambahkan sekitar 45−70 investasi mitigasi global pada 2030)47 tidak akan sepenuhnya b e r m a n f a at , s e c a r a s u b s t a n s i a l meningkatkan biaya pencapaian target yang telah ditentukan. Secara ekstrem, kekurangan pendanaan yang berakibat pada penundaan mitigasi di negaranegara berkembang hingga 2020 dapat lebih dari sekadar menggandakan biaya penstabilan di kisaran 2ºC.48 Dengan biaya mitigasi yang diperkirakan bertambah sebesar $4 triliun sampai 25 triliun49 selama abad mendatang, kerugian yang diimplikasikan oleh penundaan tersebut sangatlah besar hingga terdapat keuntungan ekonomi yang jelas bagi negara-negara berpendapatan tinggi yang berkomitmen untuk membatasi perubahan iklim yang berbahaya untuk mendanai tindakan awal di negaranegara berkembang.50 Lebih umumnya,





Laporan Pembangunan Dunia 2010

biaya total mitigasi dapat sangat dikurangi melalui mekanisme pendanaan karbon yang berkinerja baik, transfer dana, dan sinyal harga yang membantu perkiraan hasil yang diproduksi oleh asumsi kapanpun, di manapun. Untuk mengatur risiko dengan lebih baik dan melindungi yang termiskin. Pada banyak tempat sebelumnya, risikorisiko yang tidak biasa menjadi semakin tersebar luas. Misalnya banjir, sebelumnya jarang tetapi sekarang terus meningkat secara umum, di Afrika dan angin topan pertama yang pernah terekam di Atlantik Selatan, yang menghantam Brazil dalam 2004.51 Pengurangan risiko bencana—melalui sistem peringatan dini berbasis masyarakat, pemantauan iklim, infrastruktur lebih aman, dan memperkuat dan menetapkan kode etik bangunan dan wilayah, bersamaan dengan pengukuran lainnya—menjadi lebih penting di dalam perubahan iklim. Keuangan dan inovasi-inovasi kelembagaan dapat juga membatasi risiko kepada kesehatan dan mata pencarian. Hal ini perlukan tindakan domestik— tetapi tindakan domestik akan sangat ditingkatkan jika itu didukung oleh keuangan internasional dan berbagi praktik terbaik. Akan tetapi seperti yang dibahas pada Bab 2, memperkecil risiko secara aktif tidak akan pernah cukup karena akan selalu ada suatu risiko sampingan yang juga harus diatur melalui mekanisme kesiapan dan respons yang lebih baik. Implikasinya adalah bahwa pembangunan mungkin harus dilakukan dengan cara yang berbeda, dengan banyak penekanan yang lebih besar pada risiko iklim dan cuaca. Kerja sama internasional dapat membantu, misalnya, melalui usahausaha penyatuan untuk memperbaiki hasil informasi iklim dan ketersediaannya

secara lebih luas (lihat Bab 7) dan melalui berbagi praktik-praktik terbaik untuk mengatasi perubahan dan variabel iklim lebih banyak.52 Asuransi adalah instrumen lain untuk mengatur risiko sampingan, tetapi instrumen tersebut mempunyai keterbatasannya sendiri. Risiko iklim meningkat di sepanjang tren dan cenderung untuk memengaruhi seluruh kawasan atau kelompok penduduk yang besar secara serempak, membuatnya sulit untuk diasuransikan. Dan bahkan dengan asuransi, kerugian-kerugian yang berhubungan dengan kejadian bencana (seperti banjir yang menyebar luas atau kekeringan yang parah) tidak bisa secara penuh diserap oleh individu, masyarakat-masyarakat, dan sektor swasta. Di suatu iklim yang mudah berubah, pemerintah-pemerintah akan semakin menjadi insurers of last resort (tempat peminjaman terakhir) dan mempunyai tanggung jawab implisit untuk mendukung pemulihan dan rekonstruksi bencana. Hal ini mensyaratkan bahwa pemerintah melindungi likuiditas mereka sendiri saat krisis, terutama negara-negara yang lebih miskin dan lebih kecil yang secara finansial rentan terhadap dampak perubahan iklim: Angin topan Ivan menyebabkan kerusakan yang sebanding dengan 200 persen PDB Grenada.53 Memiliki dana segar yang tersedia untuk mengawali rehabilitasi dan proses pemulihan mengurangi efek susulan bencana pada pembangunan. Fasilitas-fasilitas multinegara dan asuransi ulang dapat membantu. Caribbean Catastrophe Risk Insurance Facility (Fasilitas Asuransi Risiko Bencana Karibian) menyebarkan risiko di antara 16 negara-negara Karibian, memanfaatkan asuransi ulang pasar untuk menyediakan likuiditas bagi

Gambaran Umum

pemerintah dengan cepat, mengikuti angin topan dan gempa bumi yang menghancurkan. 54 Fasilitas-fasilitas tersebut mungkin memerlukan bantuan dari masyarakat internasional. Secara umum, negara-negara berpendapatan tinggi mempunyai suatu peran penting dalam memastikan negara berkembang itu mempunyai waktu akses yang tepat pada sumber daya yang diperlukan ketika kejutan menghantam, baik dengan mendukung fasilitas-fasilitas tersebut atau melalui penetapan langsung pendanaan darurat. Akan tetapi pembiayaan asuransi dan keadaan darurat hanyalah satu bagian dari suatu kerangka manajemen risiko yang lebih luas. Kebijakan-kebijakan sosial akan menjadi lebih penting dalam membantu penduduk mengatasi ancaman pada mata pencaharian mereka dengan gigih. Kebijakan sosial mengurangi kerentanan sosial dan ekonomi terhadap perubahan iklim. Populasi yang sehat dan terdidik dengan baik dengan akses pada perlindungan sosial dapat mengatasi keterkejutan iklim dan perubahan iklim dengan baik. Kebijakan-kebijakan perlindungan sosial perlu diperkuat saat mereka ada, dikembangkan saat mereka sedang kekurangan, dan dirancang sehingga mereka dapat diperluas dengan cepat setelah terjadinya suatu kejutan.55 Pembuatan jaring pengamanan sosial di negara-negara yang belum mempunyai jaringan semacam itu adalah penting, dan Bangladesh menunjukkan bagaimana hal itu dapat dilaksanakan bahkan di dalam negara-negara yang sangat miskin (Kotak 4). Para agen pembangunan bisa membantu menyebarkan model jaringan keselamatan sosial yang berhasil dan menyesuaikannya dengan kebutuhan yang dibentuk oleh iklim yang berubah.

KOTAK 4



Jaring pengamanan: Dari dukungan pendapatan hingga pengurangan kerentanan terhadap perubahan iklim

Bangladesh memiliki sejarah yang panjang dalam bencana badai dan banjir, yang kemungkinan akan semakin sering. Pemerintahnya memiliki jaring pengaman yang dapat disesuaikan dengan cukup mudah untuk merespons efek-efek perubahan iklim. Contoh yang paling baik adalah program bantuan pangan untuk kelompok yang rentan (vulnerable-group feeding program), program pangan-untuk-kerja (food-for-work program), dan program penjaminan pekerjaan baru (the new employment guarantee program). Program bantuan pangan untuk kelompok yang rentan berjalan terus-menerus dan biasanya mencakup lebih dari 2 juta rumah tangga. Namun, program tersebut dirancang agar dapat ditingkatkan untuk merespons suatu krisis: setelah badai pada 2008, program tersebut diperluas hingga mencapai 10 juta rumah tangga. Pembidikan sasaran, yang dilakukan oleh pemerintah lokal tingkat terendah dan dipantau oleh tingkat administrasi terendah, dianggap telah cukup baik. Program pangan-untuk-kerja, yang normalnya berjalan selama musim paceklik, ditingkatkan selama masa-masa darurat. Program tersebut juga dijalankan dengan kolaborasi pemerintah lokal, tetapi manajemen programnya telah disubkontrakkan pada LSMLSM di sebagian besar negara tersebut. Pekerja yang datang ke tempat kerja ratarata diberi pekerjaan, tetapi biasanya tidak terdapat cukup pekerjaan untuk semua pekerja yang datang, sehingga pekerjaannya dibagi-bagi secara rotasi.

Program penjaminan pekerjaan baru disediakan bagi mereka yang tidak memiliki cara lain untuk mendapatkan pendapatan (termasuk akses ke jaringan pengaman yang lain) dengan masa kerja hingga 100 hari dengan honor yang disesuaikan dengan pendapatan pada musim paceklik. Elemen penjaminannya memastikan bahwa mereka yang membutuhkan bantuan akan mendapatkannya. Jika pekerjaan tidak dapat disediakan, pekerja diberi honor penuh selama 40 hari dan kemudian setengah honor selama 60 hari. Program-program Bangladesh dan program-program lainnya di India, Nepal, dan tempat-tempat lain memberikan banyak pelajaran. Respons yang segera memerlukan akses yang segera pada dana, aturan target untuk mengidentifikasi mereka yang membutuhkan—kaum miskin kronis atau mereka yang hanya sementara membutuhkannya—dan prosedur yang disetujui sebelum goncangan terjadi. Sebuah portofolio mengenai proyek “siap sekop” dapat dipraidentifikasi sebagai sesuatu yang secara khusus relevan terhadap meningkatnya ketahanan (simpanan air, sistem irigasi, reforestasi, dan perbankan, yang dapat merangkap sebagai jalan di daerah-daerah rendah). Namun, pengalaman dari India dan Bangladesh menyarankan perlunya panduan dari profesional (teknisi) dalam seleksi, perancangan, dan implementasi kerja publik—dan untuk peralatan dan pasokan. Sumber: Dikontribusi oleh Qaiser Khan.

Untuk memastikan makanan dan air yang memadai untuk semua negara. Tindakan internasional adalah penting untuk mengatur tantangan keamanan air dan makanan yang disebabkan oleh kombinasi perubahan iklim dan tekanan populasi—bahkan dengan produktivitas pertanian yang diperbaiki dan efisiensi penggunaan air. Seperlima sumber daya air tawar dunia yang terbarukan



Laporan Pembangunan Dunia 2010

dibagikan bersama di antara negaranegara. 56 Termasuk 261 alur sungai lintas batas, rumah untuk 40 persen penduduk dunia dan diatur oleh lebih dari 150 perjanjian internasional yang tidak selalu termasuk semua negara bersungai (riparian states).57 Jika negaranegara mengatur sumber daya ini lebih intensif, mereka akan menaikkan kerja sama pada badan air melalui perjanjian internasional yang baru atau merevisi salah satu yang sudah ada. Sistem dari alokasi air perlu untuk dikerjakan lagi disebabkan oleh peningkatan variabilitas, dan kerja sama dapat efektif hanya ketika negara-negara perbatasan dilibatkan dan bertanggung jawab untuk mengelola anak sungai. Dengan cara yang sama, peningkatan keadaan kering di negaranegara yang telah mengimpor sebagian besar makanan mereka, disertai dengan lebih seringnya kejadian episode ekstrem dan pertumbuhan pada pendapatan dan populasi, akan meningkatkan Figur 7 Emisi CO2e global dari sektor: Energi, tetapi juga pertanian dan kehutanan, merupakan sumber utama

Energi 26%

Sampah dan limbah cair 3%

Perubahan tata guna lahan dan kehutanan 17% Pertanian 14%

Transportasi 13% Permukiman dan bangunan komersial 8%

Industri 19%

Sumber: IPCC 2007a, Figur 2.1. Catatan: Pembagian antropogenik (disebabkan oleh manusia) emisi gas rumah kaca pada tahun 2004 dalam CO2e (lihat Figur 1 untuk definisi CO2e). Emisi diasosiasikan dengan penggunaan lahan dan perubahan tata guna lahan seperti penyubur tanaman, hewan ternak, perusakan hutan, dan pembakaran, bertanggung jawab terhadap sekitar 30 persen dari total emisi gas rumah kaca. Penyerapan karbon ke dalam hutan dan tanaman lainnya serta tanah merupakan peresapan karbon yang penting, sehingga perbaikan pengelolaan tata guna lahan sangat penting di dalam usaha untuk mengurangi gas rumah kaca di atmosfer

kebutuhan impor makanan. 58 Akan tetapi pasar makanan global sangat tipis—secara keseluruhan, sedikit negara yang mengekspor tanaman pangan. 59 Sehingga perubahan kecil baik pada penawaran atau permintaan dapat memiliki dampak besar pada harga. Dan negara-negara kecil dengan daya pasar yang kecil dapat mengalami kesulitan untuk mengamankan impor pangan. Untuk memastikan kecukupan air dan gizi untuk semuanya, dunia harus bersandar pada perbaikan sistem perdagangan yang kurang rawan terhadap pergeseran harga yang besar. Memudahkan akses untuk pasarpasar negara berkembang dengan mengurangi penghalang perdagangan, pengangkutan tahan cuaca (sebagai contoh, meningkatkan akses jalan sepanjang tahun), memperbaiki metodemetode pengadaan, dan menyediakan informasi yang lebih baik tentang indeksindeks iklim dan pasar dapat membuat perdagangan makanan lebih efisien dan mencegah pergeseran harga yang besar. Melonjaknya harga dapat juga dicegah melalui penanaman modal pada penyediaan yang strategis penimbunan biji-bijian dan bahan makanan dan pada instrumen perlindungan risiko.60

Bertindak secara berbeda: Untuk mengubah energi, produksi makanan, dan sistem pengambilan keputusan Meraih pengurangan emisi yang dibutuhkan akan memerlukan suatu transformasi pada sistem energi dan cara kita mengatur pertanian, penggunaan lahan, dan hutan (Figur 7). Transformasi ini juga harus menyertakan keperluan adaptasi untuk mengubah iklim. Apakah mereka melibatkan memutuskan tanaman pangan mana atau berapa banyak tenaga hidro untuk

Gambaran Umum

dikembangkan, keputusan harus kuat terhadap berbagai macam hasil iklim yang mungkin kita hadapi di masa mendatang alih-alih beradaptasi secara optimal terhadap iklim masa lalu. Untuk memicu revolusi energi sejati. Jika pembiayaan tersedia, dapatkah emisi sangat cukup terpotong atau dengan cepat tanpa mengorbankan pertumbuhan? Kebanyakan model-model menyatakan bahwa mereka sanggup, meski tidak satupun model yang menyatakan mudah (lihat Bab 4). Efisiensi tenaga yang lebih tinggi secara dramatis, permintaan yang semakin kuat untuk manajemen energi, dan penerapan penempatan skala besar sumber listrik penghasil CO2 skala rendah yang menghasilkan sekitar setengah dari pengurangan emisi yang diperlukan untuk menempatkan dunia pada lintasan menuju 2°C (Figur 8). Banyak keuntungan sampingan yang substansial tetapi dihambat oleh kelembagaan dan kendala-kendala keuangan yang sudah terbukti susah diberdayakan. Teknologi dan praktik-praktik yang dikenal dapat membeli waktu—jika hal tersebut dapat ditingkatkan. Agar hal itu terjadi, penetapan harga energi yang sesuai mutlak menjadi penting. Memotong subsidi dan meningkatkan pajak bahan bakar secara politis merupakan hal yang sulit, tetapi lonjakan dan kejatuhan harga minyak dan gas baru-baru ini membuat waktu berpeluang untuk melakukannya. Benar bahwa, negara-negara Eropa mengacu pada krisis minyak 1974 untuk memperkenalkan pajak bahan bakar yang tinggi. Sebagai hasilnya, permintaan bahan bakar adalah sekitar separuh dari apa yang akan terjadi jika harga minyak mendekati harga minyak di Amerika Serikat.61 Dengan cara yang sama, harga listrik di Eropa dua kali lipat harga listrik

di Amerika Serikat dan konsumsi listrik per kapita adalah setengahnya.62 Harga membantu menjelaskan mengapa emisi per kapita warga Eropa (10 ton CO2e) adalah kurang dari separuh warga Amerika Serikat (23 ton).63 Subsidi energi global di negara-negara berkembang diperkirakan sebesar $310 miliar pada 2007,64 manfaat yang tidak sebanding dengan penduduk yang berpendapatan lebih tinggi. Merasionalkan subsidi energi pada sasaran yang lemah dan mendorong energi berkelanjutan dan transportasi dapat mengurangi emisi CO2 global dan menyediakan sejumlah keuntungan lainnya. Akan tetapi penetapan harga hanyalah salah satu alat untuk memajukan agenda efisiensi energi, yang mengalami kegagalan pasar, biaya transaksi yang tinggi, dan kendala-kendala pembiayaan. Norma-norma, reformasi pengaturan, dan insentif keuangan juga diperlukan— dan bersifat hemat biaya. Standar efisiensi dan biaya program pelabelan sekitar 1,5 sen per kilowatt-jam, sangat sedikit dibandingkan dengan pilihan suplai energi apa pun, 65 sementara penyelenggaraan energi industri menargetkan untuk memacu inovasi dan meningkatkan daya saing.66 Dan karena utilitas merupakan saluran pengiriman efektif yang potensial untuk membuat rumah, bangunan komersial, dan industri yang lebih efisien energi, harus dibentuk sebuah insentif bagi utilitas agar menjadi hemat energi. Hal ini dapat dilakukan dengan menggantikan keuntungan bruto penjualan utilitasnya, dengan keuntungan yang alih-alih meningkat dengan kesuksesan konservasi energi. Pendekatan tersebut adalah kesuksesan di balik program konservasi energi yang luar biasa California; pengadopsiannya telah menjadi sebuah keharusan untuk negara-negara bagian di A.S. untuk



0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Figur 8 Portofolio lengkap dari ukuran yang ada dan teknologi maju, bukan peluru perak, akan diperlukan untuk menjadikan dunia berada pada jalur 2°C CO2e (gigaton) 70

60

Pengurangan permintaan

anya i bias epert s is Bisn

Sumber daya terbarukan (hidro, surya, angin, bioenergi)

50

Nuklir Jalur 2 °C

40

Bahan bakar fosil CCS

30

Penangkapan oleh hutan Gas dumah kaca lainnya (CH4, NO2, gas-gas F)

20

Peralihan bahan bakar fosil (batu bara ke gas) 10

0 2000

2010

2030

2020

Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia dengan data dari IIASA 2009.

2040 Tahun

2050

mendapatkan dana hibah efisiensi energi dari dana perangsang pada 2009. Untuk energi yang terbarukan, persetujuan pertukaran energi jangka panjang dalam pengaturan kerangka kerja yang memastikan akses merata dan terbuka untuk produsen listrik swasta akan menarik investor. Hal ini dapat dilakukan melalui pembelianpembelian wajib energi terbarukan pada harga tetap (yang yang dikenal dengan feed-in-tariff—tarif untuk pemasangan baru) seperti di Jerman dan Spanyol; atau melalui standar portofolio yang dapat diperbarui yang memerlukan jumlah minimum listrik yang berasal dari energi terbarukan, seperti yang diberlakukan di A.S.67 Pentingnya, permintaan yang lebih besar yang dapat diperkirakan tampaknya akan mengurangi biaya untuk energi terbarukan, dengan keuntungannya untuk semua negara.

2060

2070

2080

Faktanya, pengalaman menunjukkan bahwa permintaan yang diharapkan dapat mempunyai dampak yang bahkan lebih tinggi daripada inovasi dalam rangka menurunkan harga (Figur 9). Akan tet api tek nolog i yang baru akan sangat diperlukan: setiap model energi yang ditinjau untuk ini Laporan menyimpulkan bahwa yang mustahil untuk sampai pada jalur 2°C hanya dengan efisiensi energi dan penggabungan teknologi yang sudah ada. Teknologi yang baru atau sedang berkembang, seperti penangkapan dan penyimpanan karbon, biofuel generasi kedua, dan sel fotovoltaik surya (solar photovoltaics), juga penting. Beberapa keperluan teknologi baru tersedia pada tempatnya. Demonstrasi proyek penangkapan dan penyimpanan karbon yang sedang berjalan saat ini hanya menyimpan sekitar 4 juta ton CO2

Gambaran Umum

per tahun.68 Pembuktian sepenuhnya kelangsungan teknologi ini di beberapa kawasan dan pengaturan yang berbeda akan memerlukan sekitar 30 tanaman berukuran penuh dengan biaya total sebesar $1 miliar sampai $100 miliar.69 Kapasitas penyimpanan 1 miliar ton CO2 diperlukan sampai 2020 untuk bertahan pada tingkat pemanasan 2ºC. Investasi-investasi pada penelitian biofuel juga diperlukan. Memperluas produksi menggunakan generasi biofuel saat ini akan menggantikan sejumlah besar lahan hutan alami dan padang rumput serta berkompetisi dengan produksi makanan.70 Biofuel generasi kedua yang bergantung pada tanaman non-pangan mungkin akan mengurangi persaingan dengan pertanian dengan menggunakan lebih banyak lahan-lahan marginal. Akan tetapi hal tersebut masih dapat menyebabkan hilangnya padang rumput dan ekosistem padang rumput serta kompetisi untuk mendapatkan sumber daya air.71 Terob os an-terob os an da lam teknologi cerdas iklim akan secara substansial memerlukan pengeluaran l e bi h b any a k u ntu k p e nel it i an , pengembangan, demonstrasi, dan penyebaran. Seperti dijelaskan sebelumnya, pengeluaran global publik dan swasta pada RD&D energi masih sedikit, keduanya berkaitan dengan kebutuhan yang terestimasi dan dalam perbandingan dengan apa yang diinvestasikan oleh industri inovasi. Pengeluaran yang sedikit berarti kemajuan yang lambat, dengan energi terbarukan masih memperhitungkan hanya 0,4 persen dari semua hak cipta.72 Lebih lanjut, akses kebutuhan negara berkembang untuk teknologi ini, yang memerlukan dorongan kapasitas domestik untuk mengidentifikasi dan mengadaptasi teknologi baru sama seperti memperkuat



mekanisme internasional untuk alih teknologi (lihat Bab 7). Untuk mentransformasi manajemen lahan dan air serta mengatur persaingan permintaan. Pada tahun 2050 dunia akan diperkirakan memberi makan 3 miliar lebih penduduk dan berhadapan dengan perubahan permintaan makanan dari populasi yang lebih kaya (populasi yang lebih kaya makan lebih banyak daging, sebuah cara yang intensif untuk menjaga sumber protein). Hal ini harus dilakukan di iklim lebih buruk dengan lebih banyak badai, kekeringan, dan banjir, selain juga memadukan pertanian dalam agenda mitigasi—karena pertanian mengarah pada separuh penebangan hutan (deforestasi) setiap tahunnya dan berkontribusi langsung pada 14 persen dari emisi keseluruhan. Dan ekosistemekosistem, yang telah melemah karena polusi, tekanan populasi, dan penggunaan berlebihan, akan semakin terancam oleh perubahan iklim. Menghasilkan lebih dan melindungi lebih baik saat iklim menjadi lebih buruk seraya mengurangi emisi gas rumah kaca merupakan permintaan yang berat. Hal ini akan memerlukan pengelolaan persaingan permintaan untuk lahan dan air dari Figur 9 Tingginya permintaan yang diharapkan mengarah pada pengurangan biaya fotovoltaik surya dengan memungkinkannya diproduksi untuk skala besar Pengurangan biaya oleh faktor ($/watt) $25

$25,30

Efek permintaan yang diharapkan

$20 $15

43%

$10 $5 0

R&D 30% 22%

Harga pada 1979

Ukuran tanaman

Efisiensi

Lainnya

$3,68 5% Tidak dijelaskan

Harga pada 2001

Sumber: Diadaptasi dari Nemet 2006. Catatan: Grafik batang menunjukkan bagian pengurangan dari biaya tenaga fotovoltaik matahari, dari 1979 hingga 2001, memperhitungkan berbagai perbedaan faktor sebagai ukuran tumbuhan (di mana ditentukan oleh kebutuhan permintaan) dan perbaikan efisiensi (yang dikendalikan oleh invoasi dari R&D). Kategori “lainnya” termasuk reduksi pada harga kunci input silikon (12 persen) dan nilai sejumlah faktor yang lebih kecil (termasuk pengurangan kuantitas kebutuhan silikon untuk keluaran energi yang dihasilkan, dan tingkat yang lebih rendah dari produk yang dibuang yang disebabkan oleh kesalahan manufaktur).



Laporan Pembangunan Dunia 2010

pertanian, kehutanan dan ekosistemekosistem lain, perkotaan, dan energi. Maka pertanian harus menjadi lebih produktif, mendapatkan lebih banyak tanaman per benih dan per hektar— tetapi tanpa peningkatan pembiayaan lingkungan yang saat ini berkaitan dengan pertanian intensif. Dan masyarakat akan membutuhkan usaha yang jauh lebih besar dalam melindungi ekosistemekosistem. Untuk menghindari peralihan lebih banyak lahan menjadi lahan olahan dan menyebar menjadi lahan “terabaikan” dan hutan, produktivitas pertanian harus ditingkatkan, mungkin sebanyak 18 persen per tahun dibandingkan dengan 1 persen per tahun tanpa perubahan iklim.73 Kebanyakan dari peningkatan tersebut sebaiknya terjadi pada negaranegara berkembang karena pertanian di negara-negara maju telah mendekati hasil yang hampir maksimum. Untunglah, teknologi baru dan praktik-praktik sedang berkembang (Kotak 5). Beberapa perbaikan produktivitas dan ketahanan saat mereka memerangkap karbon dalam tanah dan mengurangi limpasan zat hara yang akan merusak ekosistem perairan. Akan tetapi diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami bagaimana cara meningkatkan perbaikan tersebut. Usaha-usaha yang ditingkatkan untuk mengonservasi spesies dan ekosistem-ekosistem akan p erlu disesuaikan dengan produksi makanan (apakah pertanian atau perikanan). Area yang dilindungi—sudah 12 persen dari lahan di bumi tetapi hanya sebagian kecil lautan dan sistem air tawar—tidak dapat hanya menjadi satu-satunya solusi untuk memelihara biodiversitas, karena rentang spesies sepertinya bergeser keluar batasan-batasan daerah-daerah tersebut. Sebagai ganti lanskap ekoagrikultural, di mana petani menciptakan mozaikmozaik dari lahan olahan dan habitat-

habitat alami, dapat memudahkan migrasi spesies. Selain menguntungkan biodiversitas, praktik ekoagrikultur juga meningkatkan ketahanan pertanian terhadap perubahan iklim bersamaan dengan produktivitas perkebunan dan pendapatan. Perkebunan di Amerika Tengah yang menggunakan praktikpraktik ini mengalami separuh atau lebih sedikit dari kerusakan lain yang ditimbulkan oleh Topan Mitch.75 Manajemen air yang lebih baik adalah hal yang penting bagi pertanian untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. Daerah-daerah aliran sungai akan kehilangan simpanan alami pada es dan salju dan pada pengisian ulang air bawah tanah yang berkurang, ketika suhu yang lebih panas meningkatkan penguapan. Air dapat digunakan dengan lebih efisien melalui kombinasi teknologi baru dan teknologi yang sudah ada, informasi yang lebih baik, dan penggunaan yang lebih bijak. Dan semua itu dapat dilakukan bahkan di negara-negara miskin dan oleh petani-petani kecil: di Andhra Pradesh, India, skema sederhana, di mana petani memantau hujan dan air bawah tanah mereka dan mempelajari teknik pertanian dan irigasi baru, telah memungkinkan satu juta petani untuk secara sukarela mengurangi konsumsi penggunaan air tanah sampai tingkat yang berkelanjutan.75 Usaha untuk meningkatkan sumber daya air termasuk dam, tetapi dam hanyalah salah satu dari solusi, dan dam-dam tersebut akan perlu dirancang dengan fleksibel untuk mengatasi curah hujan yang sering berubah. Pendekatan lain termasuk menggunakan air daur ulang dan desalinasi, yang, selain mahal, juga berharga untuk penggunaan bernilai tinggi di kawasan pantai, terutama jika didukung oleh energi terbarukan (lihat Bab 3).

Gambaran Umum

Akan tetapi mengubah praktikpraktik dan teknologi dapat menjadi sebuah tantangan, khususnya pada kemiskinan, pedesaan, dan keadaan terisolasi, di mana memperkenalkan cara baru melakukan sesuatu memerlukan kerja sama dengan sejumlah besar pelaku yang menghindari risiko yang terletak di luar jalur dan menghadapi berbagai kendala dan insentif yang b erb eda. Para p elaku p erluasan biasanya mempunyai sumber daya yang terbatas untuk mendukung petani dan beranggotakan teknisi dan agronomis daripada komunikator-komunikator yang terlatih. Mengambil keuntungan dari berkembangnya teknologi juga akan memerlukan membawa pendidikan teknik yang lebih tinggi ke masyarakat pedesaan. Unt u k me nt ran s fo r ma si p ro s e s pengambilan keputusan: Pengambilan kebijakan adaptif untuk mengatasi lingkungan yang lebih berisiko dan lebih kompleks. Desain dan perencanaan infrastruktur, penetapan harga asuransi, dan banyaknya keputusan pribadi—dari waktu penanaman dan pemanenan sampai penempatan pabrik-pabrik dan perancangan bangunan—telah lama didasarkan pada keseimbangan, gagasan di mana sistem alamiah berubahubah di dalam sebuah wadah yang tidak berubah variabilitasnya. Dengan perubahan iklim, keseimbangan tidak ada artinya. 76 Pembuat keputusan sekarang harus berpacu dengan iklim yang berubah yang disertai dengan ketidakpastian-ketidakpastian yang telah mereka hadapi. Lebih banyak keputusan-keputusan harus dibuat dalam konteks mengubah tren dan variabilitas yang lebih besar, tidak perlu menyabutkan kemungkinan kendalakendala karbon.

Pendekatan tersebut, yang sedang dikembangkan dan diterapkan oleh publik dan agen swasta, kota-kota, dan negara-negara di seluruh dunia dari Australia sampai Inggris, menunjukkan bahwa hal tersebut berpeluang untuk meningkatkan ketahanan bahkan tanpa adanya permodelan yang mahal dan berpengalaman tentang iklim masa depan.77 Tentu saja proyeksi-proyeksi yang lebih baik dan sedikit ketidakpastian akan membantu, tetapi pendekatan baru ini cenderung berfokus pada strategi yang “kuat” di sepanjang rentang hasil yang memungkinkan, tidak hanya untuk serangkaian harapan tertentu (Kotak 6).78 Strategi yang kuat dapat menjadi sesederhana seperti memilih varietas biji yang akan dijalankan dengan baik pada rentang iklim. Strategi yang kuat umumnya membangun fleksibilitas, diversivikasi, dan kelebihan kapasitas respons (lihat Bab 2). Mereka menyukai tindakan “tanpa penyesalan” yang menyediakan keuntungan (seperti efisiensi air dan energi) bahkan tanpa perubahan iklim. Mereka juga menyukai pilihan yang reversibel dan fleksibel untuk menjaga biaya keputusan-keputusan yang salah menjadi serendah mungkin (perencanaan kota yang terbatas untuk kawasan pantai dapat dengan mudah diperlonggar sementara didorong mundur atau meningkatkan perlindungan dapat menjadi sulit dan mahal). Strategi tersebut termasuk margin keamanan untuk meningkatkan ketahanan (membayar biaya marginal membangun jembatan yang lebih tinggi atau suatu daerah yang kebanjiran, atau memperluas jaringan keselamatan untuk kelompok yang berada di pinggiran). Dan mereka bersandar pada rencana jangka panjang yang didasarkan pada analisis skenario dan sebuah penilaian strategi di bawah





KOTAK 5

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Pendekatan menjanjikan yang baik untuk petani dan lingkungan

Praktik-praktik yang menjanjikan Praktik-praktik budidaya seperti pengondisian tanah tanpa bajak (yang melibatkan penyuntikan bibit langsung ke dalam tanah alih-alih menyebar bibit di tanah yang telah dibajak) dikombinasikan dengan manajemen residu dan penggunaan pupuk yang tepat akan membantu menjaga kelembapan tanah, meningkatkan inflitrasi air, meningkatkan penyimpanan karbon, meminimalisasi limpasan zat hara, dan meningkatkan hasil. Setelah digunakan pada sekitar 2 persen lahan tanam global, praktik-praktik tersebut terus meluas. Metode tanpa bajak telah diadopsi oleh sebagian besar negara-negara berpendapatan tinggi, tetapi berkembang dengan cepat di negaranegara seperti India. Pada 2005, pada sistem pertanian padi-gandum di dataran Indo-Gangga, petani mengadopsi metode tanpa-bajak pada 1,6 hektar lahan; pada 2008, 20–25 persen gandum di negara-negara bagian India (Haryana dan Punjab) telah diolah dengan menggunakan sedikit pembajakan. Dan di Brazil, sekitar 45 persen kebun sayur diolah dengan menggunakan metode ini.

Teknologi-teknologi yang menjanjikan. Keakuratan teknik pertanian untuk yang ditargetkan, aplikasi berjangka waktu optimal penggunaan pupuk yang minimum dan air dapat membantu intensifikasi, lahan pertanian high-input di negara-negara berpendapatan tinggi, Asia, Amerika Latin untuk mengurangi emisi dan limpasan zat hara, dan meningkatkan efisiensi penggunaan air. Teknologi-teknologi baru yang membatasi emisi gas nitrogen termasuk mengendalikan pelepasan nitrogen melalui penempatan pupuk supergranul jauh di dalam tanah atau penambahan inhibitor biologis pada pupuk. Teknologi penginderaan jauh untuk mengomunikasikan informasi yang tepat tentang kelembapan tanah dan keperluan irigasi yang dapat menghilangkan penggunaan air yang tidak perlu. Beberapa teknologi tetap terlalu mahal untuk sebagian besar petani negara-negara berkembang (dan dapat membutuhkan skema pembayaran untuk konservasi karbon tanah atau perubahan pada penetapan harga air). Namun, teknologi lain seperti inhibitor biologis tidak memerlukan tenaga ekstra dan memperbaiki produktivitas.

rentang luas kemungkinan masa depan.79 Desain partisipatif dan implementasi sangatlah penting, karena mengizinkan penggunaan pengetahuan lokal mengenai kerentanan yang nyata dan membantu perkembangan kepemilikan dari strategi keuntungannya. Pengambilan kebijakan untuk adaptasi juga perlu bersifat adaptif, dengan tinjauan ulang berkala yang didasarkan pada koleksi dan pemantauan informasi, sesuatu yang semaikin layak dengan biaya rendah berkat teknologi yang lebih baik. Sebagai contoh, suatu masalah kunci di dalam manajemen air adalah tidak adanya pengetahuan mengenai air bawah tanah, atau tentang siapa mengonsumsi apa. Teknologi penginderaan jauh yang baru memungkinkan untuk menduga konsumsi air tanah, mengidentifikasi

Belajar dari masa lalu. Pendekatan lain bangunan pada teknologi oleh penduduk pedalaman hutan hujan Amazon dapat memerangkap karbon dalam skala besar seraya memperbaiki produktivitas tanah. Pembakaran residu basah tanaman pangan atau manure (biomassa) pada suhu rendah pada keadaan hampir tanpa oksigen menghasilkan biochar, sejenis arang kayu yang solid dengan kandungan karbon yang tinggi. Biochar sangat stabil saat berada dalam tanah, mengunci karbon yang akan dilepaskan dengan pembakaran sederhana biomassa atau membiarkannya terurai. Dalam pengaturan industri, proses ini mengubah setengah kandungan karbon menjadi biofuel dan setengahnya lagi menjadi biochar. Analisis terbaru menyatakan biochar mungkin dapat menyimpan karbon selama berabad-abad, bahkan mungkin sampai millennium berikutnya, dan banyak penelitian masih dilakukan untuk membuktikan pernyataan tersebut. Sumber: de la Torre, Fajnzylber, dan Nash 2008; Derpsch dan Friedrich 2009; Erenstein 2009; Erenstein dan Laxmi 2008; Lehmann 2007; Wardle, Nilsson, dan Zackrisson 2008.

p e t an i - p e t an i y ang m e mpu ny ai produktivitas air yang rendah, dan menentukan kapan harus meningkatkan atau menurunkan pemakaian air untuk memaksimalkan produktivitas tanpa memengaruhi panen (lihat Bab 3).

Membuatnya terjadi: Tekanan baru, instrumen baru, dan sumber daya baru Halaman sebelumnya menguraikan banyak langkah yang diperlukan untuk mengatur tantangan perubahan iklim. Banyak bacaan seperti tarif standar buku teks ilmu pengetahuan dan pembangunan lingkungan: perbaiki manajemen sumber daya air, tingkatkan efisiensi energi, promosikan praktik-praktik pertanian yang berkelanjutan, hapus subsidi yang tidak perlu. Akan tetapi hal ini telah terbukti sukar dipahami di masa

Gambaran Umum

lalu, mengangkat pertanyaan apa yang mungkin dibutuhkan oleh perubahan dan kemungkinan perubahan perilaku. Jawabannya terletak pada kombinasi tekanan baru, instrumen baru, dan sumber daya baru. Tekanan-tekanan baru berasal dari tumbuhnya kesadaran akan perubahan iklim dan biaya-biaya saat ini dan yang akan datang. Akan tetapi kesadaran tidak selalu mengarah pada tindakan: agar berhasil, kebijakan pembangunan cerdas iklim harus mengatasi inersia di dalam perilaku individu dan organisasi. Persepsi domestik terhadap perubahan iklim juga akan menentukan kesuksesan sebuah kesepakatan global—adopsinya tetapi juga implementasinya. Dan selagi banyak jawaban atas iklim dan masalah pembangunan nasional atau bahkan lokal, kesepakatan global diperlukan untuk menghasilkan instrumen-instrumen baru dan sumber daya baru untuk sebuah tindakan (lihat Bab 5). Maka selagi tekanan-tekanan baru harus dimulai pada rumah dengan mengubah perilaku dan menggeser opini publik, tindakan harus dimungkinkan oleh efisiensi dan kesepakatan internasional yang efektif, salah satu hal yang menjadi faktor-faktor dalam realitas pembangunan.

Tekanan-tekanan baru: Kesuksesan bertumpu pada perubahan perilaku dan pergeseran opini publik Rezim internasional memengaruhi kebijakan-kebijakan nasional tetapi rezim internasional sendiri adalah hasil dari faktor-faktor domestik. Norma-norma politik, struktur-struktur tata kelola, dan kepentingan pribadi mendorong translasi hukum internasional menjadi kebijakan domestik, sementara membentuk rezim internasional. 80 Dan ketiadaan sebuah mekanisme penegakan global,

insentif-insentif untuk mempertemukan komitmen-komitmen global adalah domestik. Agar berhasil, kebijakan pembangunan cerdas iklim harus menjadi faktor dalam ketetapanketetapan lokal. Kebijakan-kebijakan mitigasi yang akan diikuti oleh sebuah negara bergantung pada faktor-faktor domestik seperti campuran energi, sumber energi yang ada dan potensial, dan preferensi untuk negara kebijakankebijakan berbasis pasar. Pengejaran tambahan manfaat lokal—seperti udara yang lebih bersih, transfer teknologi, dan keamanan energi—adalah penting untuk membangkitkan cukup dukungan. Kebijakan-kebijakan cerdas iklim juga harus menghadapi inersia di dalam perilaku individu dan organisasi. Menyisihkan ekonomi modern dari bahan bakar fosil dan meningkatkan kepedulian terhadap perubahan iklim akan memerlukan kemauan pergesaran sikap konsumen, para pemimpin bisnis, dan pembuat keputusan. Tantangan dalam mengubah panggilan perilakuperilaku yang telah berurat akar memerlukan suatu penekanan yang khusus pada kebijakan-kebijakan nonpasar dan intervensi. Di s elur u h duni a, prog ram menajemen risiko bencana difokuskan pada perubahan persepsi masyarakat tentang risiko. Kota London sudah menetapkan penargetan program komunikasi dan pendidikan sebagai pusat Rencana Aksi tentang “Pemanasan L o n d o n” ( “ L o n d o n Wa r m i n g ” Action Plan). Dan utilitas melintasi Amerika Serikat telah dimulai dengan menggunakan norma sosial masyarakat dan tekanan kelompok masyarakat untuk mendorong rendahnya kebutuhan energi: hanya menunjukkan pada rumah tangga bagaimana mereka memperhatikan





KOTAK 6

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Dibutuhkan kecerdikan: Adaptasi memerlukan peralatan baru dan pengetahuan baru

Terlepas dari upaya-upaya mitigasi, umat manusia akan perlu beradaptasi terhadap perubahan-perubahan substansial dalam hal iklim—di manapun dan di berbagai tempat. Modal alamiah Keragaman dalam aset-aset alam akan diperlukan untuk mengatasi perubahan iklim dan memastikan pertanian, hutan, dan perikanan yang produktif. Sebagai contoh, diperlukan varietas tanaman pangan yang tahan terhadap kekeringan, panas, dan meningkatnya CO2. Namun, proses yang dipimpin oleh sektor swasta dan petani dalam pemilihan tanaman lebih memilih homogenitas yang telah diadaptasikan terhadap kondisi di masa lalu atau masa kini, dan bukan varietas yang mampu memproduksi banyak dalam kondisi yang lebih panas, basah, atau kering. Program pemeliharaan yang dipercepat diperlukan untuk mengonservasi sumber-sumber daya genetis yang lebih luas dari berbagai tanaman dan jenis yang sudah ada dan para kerabat liarnya. Ekosistem yang secara relatif terjaga—seperti ladang hutan, bakau, dan lahan basah—dapat menghambat dampak-dampak perubahan iklim. Di bawah pengaruh iklim yang berubah, ekosistemekosistem ini terancam, dan pendekatanpendekatan manajemen akan perlu lebih proaktif dan adaptif. Koneksi antara daerah-daerah alami,

seperti koridor migrasi, mungkin diperlukan untuk memfasilitasi pergerakan spesies agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan iklim. Modal fisik Perubahan iklim kemungkinan besar akan memengaruhi infrastruktur lewat caracara yang tidak mudah terduga, yang sangat bervariasi bergantung pada kondisi geografisnya. Contohnya, jaringan jalan dan sumber energi di daerah rendah terancam oleh luapan sungai dan naiknya air laut baik itu di Teluk Tangier, New York City, atau Shanghai. Gelombang panas merapuhkan aspal dan dapat memerlukan penutupan jalan; memengaruhi kapasitas transmisi listrik dan memanaskan air yang diperlukan untuk mendinginkan suhu dan pabrik pembangkit tenaga nuklir sama seperti meningkatnya permintaan listrik. Ketidakpastian mungkin akan memengaruhi tidak hanya keputusan investasi, tetapi juga desain infrastruktur untuk membuatnya tahan terhadap iklim masa depan. Ketidakpastian yang serupa mengenai ketergantungan pasokan air mengharuskan strategi manajemen yang terintegrasi dan teknologi air yang ditingkatkan sebagai perlindungan dalam menghadapi perubahan iklim. Pengetahuan teknis dan kemampuan rekayasa yang lebih banyak akan

hubungan dengan yang lain, dan pemberian isyarat persetujuan yang lebih rendah dari konsumsi rata-rata cukup untuk mendorong menurunkan penggunaan energi (lihat Bab 8). Mengatasi tantangan iklim akan memerlukan perubahan-perubahan dalam cara pemerintah beroperasi. Kebijakan iklim menyinggung kekuasaan dari banyak para tokoh pemerintahan, juga pada yang tidak memilikinya. Untuk mitigasi dan adaptasi, banyak diperlukan tindakan yang membutuhkan prespektif jangka panjang akan berjalan lancar melampaui setiap administrasi terpilih manapun. Banyak negara-negara, termasuk Brazil, China, India, Meksiko,

diperlukan untuk merancang infrastruktur masa depan dalam pengaruh perubahan iklim. Kesehatan manusia Beberapa adaptasi sistem kesehatan terhadap perubahan iklim akan awalnya melibatkan pilihan praktis yang dibangun dengan pengetahuan yang ada. Akan tetapi yang lainnya akan memerlukan kemampuan baru. Kemajuan dalam genomik memungkinkan kita untuk merancang peralatan diagnostik baru yang dapat mendeteksi penyakit menular yang baru. Alat-alat ini, digabungkan dengan kemajuan dalam teknologi komunikasi, dapat mendeteksi tren baru dalam kesehatan dan menyediakan pekerja yang sehat dengan kesempatan dini untuk melakukan intervensi. Inovasi dalam cakupan teknologi telah mentransformasi dunia pengobatan. Contohnya, munculnya alat diagnostik genggam dan konsultasi melalui video memperluas prospek pengobatan jarak jauh, serta mempermudah komunitas yang terisolasi untuk terhubung dengan infrastruktur kesehatan global.

Sumber: Burke, Lobell, dan Guarino 2009; Ebi dan Burton 2008; Falloon dan Betts, akan terbit; Guthrie, Juma, dan Sillem 2008; Keim 2008; Koetse dan Rietveld 2009; National Academy of Engineering 2008; Snoussi dkk. 2009.

dan Inggris, telah membentuk agen untuk perubahan iklim, mengatur badan koordinasi tingkat tinggi, dan perbaikan penggunaan informasi ilmiah dalam pembuatan kebijakan (lihat Bab 8). Kota-kota, provinsi-provinsi, dan daerah-daerah menyediakan ruang administratif dan politik yang semakin dekat ke sumber emisi dan dampak dari perubahan iklim. Sebagai tambahan terhadap penerapan dan pelafalan kebijakan-kebijakan nasional dan regulasiregulasi, mereka melakukan pembuatan kebijakan, peraturan, dan fungsi perencanaan pada sektor-sektor kunci untuk mitigasi (transportasi, konstruksi, pelayanan publik, advokasi lokal) dan

Gambaran Umum

adaptasi (perlindungan sosial, pengurangan risiko bencana, manajemen sumber daya alami). Oleh karena mereka bersifat lebih dekat dengan warga, pemerintahan ini dapat menaikkan kesadaran publik dan memobilisasi pelaku pribadi.81 Dan pada perpotongan antara pemerintah dan publik, mereka menjadi ruang di mana tanggung-jawab pemerintah untuk menyesuaikan tanggapan secara penuh. Itulah sebabnya banyak pemerintahan setempat sudah mendahului pemerintahan nasional di dalam aksi iklim (Kotak 7).

Instrumen-instrumen baru dan sumber daya baru: Peranan sebuah kesepakatan global Aksi menyeluruh dan secepatnya tidak mungkin terjadi tanpa kerja sama global, yang memerlukan sebuah kesepakatan yang dirasakan sebagai kepatutan secara keseluruhan oleh semua pihak—negaranegara berpendapatan tinggi, yang membutuhkan usaha yang paling segera dan keras; negara-negara berpendapatan sedang, di mana kebutuhan mitigasi dan adaptasi substansial perlu dilaksanakan; dan negara-negara berpendapatan rendah, di mana prioritasnya adalah bantuan keuangan dan teknis untuk mengatasi kerentanaan kondisi saat ini, yang dibiarkan sendirian menghadapi perubahan iklim. Kesepakatan harus efektif untuk mencapai sasaran (capaian) iklim, menggabungkan pelajaran dari kesepakatan internasional lainnya dan dari kesuksesan-kesuksesan dan kegagalan-kegagalan masa lampau dengan transfer sumber daya internasional yang besar. Akhirnya, itu harus efisien, yang memerlukan pembiayaan dan instrumen keuangan yang mencukupi serta dapat memisahkan di mana mitigasi terjadi dari siapa yang mendanainya—untuk kemudian mendapatkan mitigasi dengan biaya yang sedikit.

Kesepakatan yang adil. Kerja sama global pada skala yang diperlukan untuk menghadapi perubahan iklim dapat terjadi hanya jika itu didasarkan pada kesepakatan global yang ditujukan pada kebutuhan dan kendala-kendala negara berkembang, hanya jika itu dapat memisahkan di mana mitigasi terjadi dari yang menanggung beban usaha ini, dan hanya jika itu menciptakan instrumen-instrumen pendanaan untuk mendorong dan memudahkan mitigasi, bahkan di negara-negara yang kaya batu bara dan miskin di dalam pendapatan atau yang sedikit berkontribusi atau tidak sama sekali secara historis terhadap perubahan iklim. Apakah negara-negara ini menangkap peluang untuk mengambil bagian pada jalur pembangunan yang lebih berkelanjutan akan sangat dipengaruhi oleh dukungan teknis dan keuangan yang dapat dikumpulkan dari negara-negara berpendapatan tinggi. Jika tidak, biaya-biaya pengalihan bisa menjadi penghalang. Bagaimanapun juga, kerja sama global akan memerlukan lebih dari sumbangan keuangan. Perilaku ekonomi dan psikologi sosial menunjukkan bahwa orang-orang cenderung menolak kesepakatan yang dirasa tidak adil untuk mereka, bahkan jika mereka bertahan untuk keuntungan. 82 Sehingga fakta bahwa itu ada keuntungan di mana setiap orang tertarik untuk bekerja sama tidaklah akan menjamin kesuksesan. Ada perhatian-perhatian riil di antara negara berkembang bahwa himbauan untuk mengintegrasikan iklim dan pembangunan bisa menggeser tanggung jawab untuk mitigasi menuju dunia yang berkembang. Mengabadikan prinsip keadilan pada kesepakatan global akan menarik banyak pengalihan perhatian dan menghasilkan kepercayaan (lihat Bab 5).





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Tujuan jangka panjang emisi per kapita terpusat pada suatu saluran yang dapat memastikan bahwa tidak ada negeri yang terkunci ke dalam pembagian tidak seimbang atmosfer bersama. India barubaru ini menyatakan bahwa itu tidak pernah akan melebihi rata-rata emisi per kapita negara-negara berpendapatan tinggi.83 Jadi aksi drastis negara-negara maju untuk mengurangi keluaran karbon milik mereka sendiri pada tingkatan yang sesuai adalah sangat penting. Ini akan menunjukkan kepemimpinan, dukungan inovasi, dan membuatnya mungkin untuk semua berpindah pada suatu jalur pertumbuhan rendah karbon. Perhatian utama lain dari negaranegara berkembang adalah akses teknologi. Inovasi yang terkait dengan teknologi terkait iklim masih terpusat pada negara-negara berpendapatan tinggi, meski negara berkembang meningkatkan peranan mereka (China adalah yang ketujuh dalam paten energi terbarukan secara keseluruhan,84 dan perusahaan India sekarang adalah pemimpin utama

KOTAK 7

di bidang kendaraan elektrik jalan raya85). Sebagai tambahan, negara berkembang— mungkin memerlukan bantuan untuk memproduksi menghasilkan teknologi baru atau menyesuaikannya dengan kondisi mereka. Hal ini khususnya bermasalah untuk adaptasi, di mana teknologi dapat bersifat lokasi-spesifik. Transfer internasional untuk teknologi bersih sejauh ini mencukupi. Mereka telah menjadi satu dari tiga terbaik proyek-proyek yang dibiayai melalui Clean Development Mechanism (CDM), saluran utama untuk investasiinvestasi pembiayaan pada teknologi rendah karbon di negara berkembang.86 Fasilitas Lingkungan Global (Global Environment Facility), yang memiliki sejarah mengalokasikan sekitar $160 juta per tahun untuk program mitigasi iklim,87 mendukung penilaian kebutuhan teknologi pada 130 negara. Sekitar $5 miliar baru-baru ini telah dijanjikan di bawah yang Pendanaan Teknologi Bersih (Clean Technology Fund) terbaru untuk membantu negara-negara berkembang

Kota-kota mengurangi jejak karbonnya

Gerakan menuju kota netral karbon menunjukkan bagaimana pemerintah lokal bertindak bahkan ketika tidak ada perjanjian internasional atau kebijakan nasional yang ketat. Di Amerika Serikat, yang tidak meratifikasi Protokol Kyoto, hampir seribu kota-kota setuju untuk memenuhi tujuan Protokol Kyoto di bawah kesepakatan Mayor’s Climate Protection. Di Rizhao, sebuah kota berpenduduk 3 juta jiwa di China Utara, pemerintah kotanya menggabungkan insentif dengan perangkat legislatif untuk mendorong pemanfaatan energi terbarukan pada skala besar dan efisien. Gedung-gedung pencakar langit dibangun menggunakan tenaga surya, dan 99 persen rumah tangga Rizhao menggunakan pemanas bertenaga surya. Hampir semua lampu lalu lintas, lampu jalan, dan penerangan taman ditenagai oleh sel fotovoltaik surya. Secara total, kota tersebut memiliki lebih dari 500.000

meter persegi panel pemanas air bertenaga surya, setara dengan sekitar pemanas air listrik dengan daya 0,5 megawatt. Hasil upaya tersebut adalah penggunaan energi yang turun hingga hampir sepertiganya, dan emisi CO2-nya berkurang hingga setengahnya. Contoh-contoh pergerakan menuju kota netral karbon mulai menjamur juga di luar China. Pada 2008, Sydney menjadi kota pertama di Australia yang menjadi netral karbon, melalui efisiensi energi, energi terbarukan, dan pengurangan karbon. Kopenhagen juga sedang berencana untuk memotong emisinya hingga nol pada 2025. Rencana tersebut akan melibatkan investasi pada energi angin dan mendorong mobil-mobil tenaga listrik dan air dengan memberikan fasilitas parkir dan isi ulang gratis. Dan lebih dari 700 kota dan pemerintah lokal di seluruh dunia berpartisipasi dalam “Cities for

Climate Protection Campaign—Kota-kota untuk Kampanye Perlindungan Iklim” untuk mengadopsi kebijakan dan mengimplementasikan aturanaturan yang tepat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca lokal (http://www.iclei.org). Bersama dengan asosiasi pemerintah lokal lainnya seperti C40 Climate Leadership Group (C40 Kelompok Pemimpin Iklim), dan World Mayors Council on Climate Change, mereka telah memulai suatu proses pemerintahan lokal untuk mengupayakan pemberdayaan dan keikutsertaan kota-kota dan pemerintah-pemerintah lokal yang baru di Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC).

Sumber: Bai 2006; World Bank 2009d; C40 Cities Climate Leadership Group, http://www.c40cities.org (diakses 1 Agustus 2009).

Gambaran Umum

dengan mendukung banyak investasi penuh risiko melibatkan teknologi bersih, tetapi ada perselisihan mengenai apa yang dimaksud dengan teknologi bersih. Menjadikan kesepakatan teknologi sebagai kesepakatan iklim global dapat meningkatkan inovasi teknologi dan memastikan akses negara berkembang. Kerja sama internasional menjadi penting karena menghasilkan dan membagi teknologi cerdas iklim. Dari segi produksi, kesepakatan pembagian pembiayaan diperlukan untuk teknologi skala besar dan berisiko tinggi seperti penangkapan karbon dan penyimpanan (lihat Bab 7). Kesepakatan internasional mengenai standar menciptakan pasarpasar untuk inovasi. Dan dukungan internasional untuk transfer teknologi dapat mengambil bentuk produksi bersama dan berbagi teknologi— atau dukungan keuangan untuk biaya tambahan pengadopsian teknologi pembersih baru (seperti telah dilakukan melalui Pembiayaan Multilateral untuk Pelaksanaan Protokol Montreal tentang Zat yang Menipiskan Lapisan Ozon (Multilateral Fund for the Implementation of the Montreal Protocol on Substances that Deplete the Ozone Layer). Kesepakatan global juga akan harus bisa diterima oleh negaranegara berpendapatan tinggi. Mereka mencemaskan permintaan keuangan yang dibebankan pada mereka dan ingin memastikan bahwa transfer bantuan memberikan hasil pada adaptasi dan mitigasi seperti yang diharapkan. Mereka juga peduli terhadap suatu pendekatan mengikat yang membiarkan negara berkembang untuk menunda aksi yang mungkin memengaruhi daya saing mereka sendiri dengan negara-negara berpenghasilan menengah utama.

Kesepakatan efektif: Pelajaran dari efektivitas bantuan dan persetujuan internasional. Satu kesepakatan iklim efektif akan mencapai sasaran-sasaran yang disepakti untuk mitigasi dan adaptasi. Desainnya dapat dibangun berdasarkan pelajaran-pelajaran dari efektivitas bantuan dan persetujuan internasional. Iklim keuangan bukanlah bantuan keuangan, tetapi bantuan pengalaman menawarkan pembelajaran penting. Secara khusus, telah menjadi hal yang jelas bahwa komitmen kurang dihormati kecuali jika mereka berkaitan dengan suatu kepentingan negara—debat antara persyaratan versus kepemilikan. Maka pembiayaan adaptasi dan mitigasi sebaiknya diorganisasi di sekitar proses yang mendorong perkembangan negara penerima dan agenda kepemilikan pembangunan rendah karbon. Pengalaman bantuan juga menunjukkan bahwa penggandaan sumber pembiayaan memaksakan biaya-biaya transaksi yang sangat besar di negara-negara penerima dan mengurangi efektivitas. Dan selagi sumber pembiayaan boleh jadi terpisahkan, pengeluaran sumber daya adaptasi dan mitigasi harus terintegrasi secara penuh dalam usahausaha pembangunan. Persetujuan internasional juga menunjukkan bahwa pendekatan terikat dapat menjadi suatu cara yang sesuai untuk membawa perbedaan besar pada masing-masing mitra menjadi sebuah kesepakatan tunggal. Melihat Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization—WTO): perlakuan berbeda dan khusus untuk negara berkembang merupakan gambaran dari sistem perdagangan multilateral untuk sebagian besar periode pascaperang. Usulan-usulan muncul di dalam negosiasi-negosiasi iklim di sekeliling kerangka multijalur yang dikemukakan



0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

dalam Rencana Aksi UNFCCC di Bali (UNFCCC’s Bali Action Plan).88 Usulanusulan tersebut akan membuat negara maju berkomitmen terhadap sasaransasaran hasil, di mana “hasil”-nya adalah emisi gas rumah kaca, dan negara-negara berkembang berkomitmen terhadap perubahan kebijakan dibanding targettarget emisi. Pendekatan ini diserukan untuk tiga pertimbangan. Pertama, dapat meningkatkan peluang mitigasi yang membawa keuntungan sampingan p embangunan. Kedua, hal itu sesuai untuk negara maju, di mana pertumbuhan populasi dan ekonomi cepat sedang mengendalikan perluasan yang cepat dari modal saham (dengan peluang untuk terkuncinya kebaikan atau keburukan di dalam) dan meningkatkan urgensi perpindahan energi, perkotaan, dan sistem transportasi menuju jalur rendah karbon. Kebijakan berbasis jalur dapat menawarkan suatu kerangka yang baik untuk negara-negara dengan suatu bagian yang tinggi emisi yang sulit diukur dari pengguna lahan, perubahaan tata guna lahan, dan kehutanan. Ketiga, pendekatan tersebut lebih sedikit memerlukan pemantauan bagan yang rumit—tantangan untuk banyak negara. Meskipun demikian, beberapa pemantauan dan evaluasi menyeluruh terhadap pendekatan ini adalah penting, jika tidak, hanya memahami keefektifannya saja.

Kesepakatan yang efisien: Peran keuangan iklim Keuangan iklim dapat mendamaikan keadilan dan efisiensi dengan memisahkan di mana aksi iklim berlangsung dari siapa yang membayarnya. Keuangan yang mencukupi mengalir ke negara berkembang—yang dikombinasikan dengan pembangunan kapasitas dan

akses pada teknologi—dapat mendukung pertumbuhan dan pembangunan rendah karbon. Jika keuangan mitigasi diarahkan kepada pembiayaan mitigasi terendah, efisiensi akan meningkat. Jika keuangan adaptasi diarahkan pada kebutuhan terbesar, penyebab penderitaan dan kerugian dapat dihindarkan. Keuangan iklim menawarkan keinginan untuk mendamaikan keadilan, efisiensi, dan keefektifan dalam menghadapi perubahan iklim. Akan tetapi tingkat keuangan iklim masih kurang banyak dibandingkan dengan kebutuhan-kebutuhan yang dapat diduga. Taksiran yang disajikan pada Tabel 1 menyarankan biaya-biaya mitigasi pada negara berkembang yang dapat mencapai $140−$175 miliar per tahun hingga 2030 dengan pembiayaan yang berkaitan dengan kebutuhan sebesar $265−$565 miliar. Aliran keuangan mitigasi rata-rata saat ini sekitar $8 miliar per tahun hingga 2012 dengan perbandingan kasar. Dan sekitar $30−$100 miliar yang diperlukan setiap tahunnya untuk adaptasi pada negaranegara berkembang mengecil hingga kurang dari $1 miliar per tahun, kini tersedia (Figur 10). Gabungan kekurangan keuangan iklim merupakan ketidakefektifan yang signifikan dalam hal bagaimana dana dihasilkan dan disebarkan. Kunci permasalahan termasuk pemecahan sumber daya keuangan; mahalnya penerapan mekanisme pasar seperti Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism—CDM); dan ketidakcukupan, penyimpangan instrumen-instrumen untuk mencapai keuangan adaptasi. Bab 6 mengidentifikasi hampir 20 dana bilateral dan multilateral yang berbeda untuk perubahan iklim yang tengah diusulkan atau dijalankan.

Gambaran Umum

Pemecahan ini memiliki biaya yang diidentifikasikan pada Deklarasi Paris tentang Keefektifan Bantuan (Paris Declaration on Aid Effectiveness): masing-masing dana mempunyai tata kelola sendiri, meningkatkan biaya transaksi untuk negara berkembang; dan keselarasan dengan tujuan pembangunan negara akan mengalami hambatan jika sumber keuangan terbatas. Ajaran lain dari Deklarasi Paris, termasuk kepemilikan, harmonisasi penyumbang, dan tanggung-jawab bersama, juga terhambat ketika pembiayaan terpecahpecah. Satu konsolidasi pembiayaan ke dalam suatu nilai terbatas adalah jelas terjamin. Melihat ke depan, penetapan harga karbon (apakah melalui suatu pajak atau melalui suatu skema pelindung dan perdagangan) merupakan cara yang optimal untuk memicu sumber daya keuangan-karbon dan mengarahkan sumber daya tersebut pada peluang yang efisien. Tidak lama lagi, bagaimanapun juga, CDM dan mekanisme lain yang berbasis kinerja untuk pengganti karbon mungkin masih akan menjadi kunci instrumen berbasis pasar untuk keuangan mitigasi pada negara berkembang dan kemudian menjadi penting dalam penambahan transfer langsung dari negara-negara berpendapatan tinggi. CDM di dalam banyak cara melebihi yang diharapkan, tumbuh dengan cepat, menstimulasi pembelajaran, meningkatkan kewaspadaan terhadap pilihan-pilihan mitigasi, dan membangun kapasitas. Akan tetapi hal itu juga memiliki banyak keterbatasan, termasuk pembangunan rendah keuntungan, tambahan-tambahan yang diragukan (karena CDM menghasilkan kreditkredit karbon untuk pengurangan emisi relatif dengan garis dasar, pilihan dari garis dasar dapat selalu dipertanyakan),

Figur 10 Jurangnya lebar: Perkiraan biaya tambahan iklim tahunan yang dibutuhkan untuk jalur 2ºC dibandingkan dengan sumber daya yang ada 2005$ konstan, miliar 200

Mitigasi: $139 miliar−$175 miliar

175

150

125

Adaptasi: $28 miliar−$100 miliar

100

75

50

25

0

Pendanaan untuk adaptasi dan mitigasi $9 miliar 2008–2012

2030

Sumber:Lihat Tabel 1 pada halaman 12 dan penjelasan pada Bab 6. Catatan: Biaya mitigasi dan adaptasi hanya untuk negara berkembang. Grafik batang menggambarkan rentang estimasi biaya tambahan usaha-usaha adaptasi dan mitigasi yang diasosiasikan dengan jalur 2ºC. Pembiayaan mitigasi membutuhkan penambahan biaya yang digambarkan di sini, lebih tinggi, terentang antara 265 miliar dollar dan 565 miliar dollar per tahunnya sampai 2030.

tata kelola yang lemah, pelaksanaan yang tidak efisien, lingkup yang terbatas (sektor-sektor kunci seperti transportasi tidak tercakup), dan perhatian terhadap kesinambungan pasar hingga 2012.90 Demi efektivitas aksi-aksi iklim ini, penting juga untuk memahami bahwa transaksi-transaksi CDM tidak mengurangi karbon emisi global di luar kesepakatan—hanya mengubah secara sederhana di mana hal itu terjadi (pada negara-degara berkembang daripada negara-negara maju) dan menurunkan biaya mitigasi (dengan demikian meningkatkan efisiensi). D ana Ad apt as i (Ad apt at i on Fund) berdasarkan Protokol Kyoto mempekerjakan suatu instrumen pembiayaan baru berupa pajak 2 persen atas pengurangan emisi bersertifikat



KOTAK 8

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Aturan penggunaan lahan, pertanian, dan kehutanan dalam pengelolaan perubahan iklim

Penggunaan lahan, pertanian, dan kehutanan mempunyai potensi mitigasi yang substansial tetapi terus diperdebatkan dalam berbagai negosiasi iklim. Dapatkah emisi dan penangkapan karbon diukur dengan akurasi yang memadai? Apa yang harus dilakukan mengenai fluktuasi alamiah dalam pertumbuhan dan kehilangan akibat kebakaran yang terkait dengan perubahan iklim? Haruskah negara-negara mendapatkan kredit atas tindakan-tindakan yang dilakukan beberapa dekade atau abad sebelum negosiasi iklim dilaksanakan? Akankah kredit dari aktivitas berbasis lahan membanjiri pasar karbon dan menurunkan harga karbon, mengurangi insentif untuk mitigasi selanjutnya? Kemajuan telah tercapai dalam sebagian besar masalah ini, dan Intergovernmental Panel on Climate Change telah mengembangkan panduan untuk mengukur gas-gas rumah kaca yang berhubungan dengan lahan. Deforestasi global rata-rata sebesar 7,3 juta hektar per tahun dari 2000 hingga 2005, mengontribusikan sekitar 5 gigaton CO2 setahunnya dalam emisi, atau diperlukan pengurangan emisi sekitar seperempatnya. Pengurangan 0,9 gigaton lagi berasal dari reforestasi dan manajemen hutan yang lebih baik di negara-negara berkembang. Akan tetapi

perbaikan menajemen hutan dan pengurangan deforestasi di negara-negara berkembang saat ini tidak menjadi bagian dari Mekanisme Pembangunan Bersih UNFCCC yang berskala internasional. Juga terdapat ketertarikan dalam menciptakan mekanisme pembayaran untuk

manajemen karbon tanah yang diperbaiki dan gas rumah kaca lainnya yang dihasilkan dari pertanian. Secara teknis, sekitar 6 gigaton CO2e pada emisi dapat dikurangi melalui pengurangan pembajakan tanah, manajemen lahan basah dan sawah yang lebih baik, dan manajemen ternak dan manure. Sekitar 1,5 gigaton pengurangan

Bukan hanya tentang energi: Pada harga karbon tinggi yang dikombinasikan dengan potensi mitigasi pertanian dan kehutanan lebih tinggi daripada sektor ekonomi individual lainnya Potensi pengurangan emisi (GtCO2e/tahun) 7

Non-OECD/EIT EIT OECD Total Dunia

6 5 4 3 2 1 0

<2 0 <5 0 <1 00 <2 0 <5 0 <1 00 <2 0 <5 0 <1 00 <2 0 <5 0 <1 00 <2 0 <5 0 <1 00 <2 0 <5 0 <1 00 <2 0 <5 0 <1 00



Suplai energi

Transportasi Bangunan

Industri

Pertanian

Kehutanan

Limbah

Harga karbon ($/tCO2e) Sumber: Barker dkk. 2007b, Figur TS.27 Catatan: EIT = Economic in transition (ekonomi dalam masa transisi). Kisaran potensi ekonomi global seperti yang dinilai pada masingmasing sektor ditunjukkan dengan garis-garis hitam vertikal.

(Bersambung)

(satuan dari potongan karbon yang dihasilkan oleh CDM). Hal ini dengan jelas menaikkan pembiayaan yang merupakan tambahan pada sumber daya lainnya, tetapi seperti yang ditegaskan dalam Bab 6, pendekatan ini mempunyai beberapa ciri-ciri yang tidak diinginkan. Instrumen mengenakan pajak pada sesuatu yang baik (pembiayaan mitigasi) daripada sesuatu yang tidak baik (emisi karbon) dan seperti pajak lainnya, ada pemborosan yang tidak terelakkan (kehilangan bobot mati). Analisis pasar CDM menyatakan bahwa mayoritas hilangnya keuntungan dari perdagangan adalah hasil dari pajak yang akan menurun pada negara berkembang

pemasok kredit karbon. 91 keuangan adaptasi juga akan membutuhkan mekanisme alokasi yang idealnya akan merangkul prinsip transparansi, efisiensi, dan keadilan—pendekatan efisien akan mengarahkan keuangan pada negara yang paling rentan dan yang mempunyai kapasitas untuk mengatur adaptasi, sementara keadilan akan membutuhkan beberapa bagian yang akan diserahkan pada negara yang paling miskin. Memperkuat dan memperluas rezim keuangan iklim akan membutuhkan reformasi instrumen yang sudah ada dan mengembangkan sumber daya baru keuangan iklim (lihat Bab 6). Reformasi CDM khususnya penting untuk melihat

Gambaran Umum

KOTAK 8



(Lanjutan)

emisi per tahun dapat dicapai dengan pertanian untuk harga karbon CO2e sebesar $20 per ton (figur). Mitigasi kehutanan dan pertanian akan mempunyai beberapa keuntungan sampingan. Pemeliharaan hutan masih membuka pilihan yang luas untuk diversitas dan mata pencaharian, melindungi keragaman hayati, dan sebagai penyangga melawan episode ekstrem seperti banjir dan tanah longsor. Pengurangan pembajakan dan manajemen pupuk yang lebih baik dapat memperbaiki produktivitas. Dan sumber daya yang dihasilkan dapat menjadi substansial—setidaknya untuk negara-negara dengan hutan yang luas: jika pasar karbon hutan mencapai potensi tertingginya, Indonesia dapat memperoleh $400 juta sampai $2 miliar per tahun. Seperti pada karbon tanah, bahkan di Afrika, di mana tutupan lahan relatif miskin karbon mendekati setengah benua, potensi penangkapan karbon tanah sebesar 100 juta sampai 400 juta ton CO2e per tahun. Dengan kisaran $10 per ton, jumlah tersebut setara dengan bantuan pembangunan resmi untuk Afrika saat ini. Terutama melalui upaya-upaya sekelompok negara-negara berkembang yang tergabung dalam Coalition of Rainforests, penggunaan lahan, perubahan tata guna lahan,

fungsinya memicu proyek keuangan karbon di negara berkembang. Serangkaian proposal bertujuan mengurangi biaya melalui persetujuan proyek perampingan, termasuk perbaikan fungsi peninjauan dan administrasi. Kunci rangkaian proposal kedua berfokus pada perizinan CDM untuk mendukung perubahan dalam kebijakan dan program-program daripada membatasi suatu proyek. “Sector no-lose targets” adalah salah satu contoh kinerja berbasis skema, di mana dapat menunjukkan pengurangan emisi karbon sektoral di bawah garis dasar yang disetujui dapat dikompensasikan melalui penjualan kredit karbon, dengan tanpa penalti jika pengurangan tidak tercapai.

dan akuntansi kehutanan telah dikenalkan kembali dalam agenda UNFCCC. Negara-negara tersebut mencari peluang untuk berkontribusi dalam mengurangi emisi berdasarkan pada tanggung jawab umum mereka yang telah didiferensiasi dan untuk mencapai keuangan karbon untuk mengatur sistem kehutanan mereka dengan lebih baik. Negosiasi atas apa yang telah terjadi dikenal dengan REDD (Reduced Emissions from Deforestation and Forest Degradation) masih berlanjut, tetapi mayoritas mengharapkan beberapa elemen REDD menjadi bagian dari kesepakatan di Kopenhagen. Inisiatif tentang karbon tanah tidak begitu berkembang. Sementara pemerangkapan karbon pada pertanian akan menjadi murah, mudah secara teknis, dan merespons dengan efisien perubahan iklim, mengembangkan pasar untuk hal itu tidak gampang. Proyek percontohan di Kenya (lihat Bab 3) dan kehilangan karbon tanah di Chicago Climate Exchange membuka peluang. Tiga langkah dapat membantu pergerakan pemerangkapan karbon tanah melangkah maju. Pertama, pemantauan karbon harus mengikuti pendekatan “berbasis aktivitas”, di mana pengurangan emisi diestimasikan berdasarkan pada aktivitas yang dilakukan petani daripada analisis tanah yang sangat mahal. Faktor pengurangan emisi yang spesifik

dan konservatif dapat diterapkan untuk zona agroekologi dan iklim yang berbeda-beda. Hal ini lebih mudah, lebih murah, dan lebih mudah diprediksi oleh petani, yang mengetahui apa yang harus dibayar ke depannya, dan kemungkinan penalti, merupakan aktivitas yang telah ada. Kedua, biaya transaksi dapat dikurangi dengan “agregator” yang mengombinasikan aktivitas petani-petani kecil, seperti pada proyek percontohan di Kenya. Dengan bekerja dengan banyak petani, agregator dapat membangun penyangga permanen dan rata-rata umum pemerangkapan yang reversal. Mengumpulkan portofolio proyek-proyek dengan perkiraan konservasi yang permanen dapat membuat pemerangkapan karbon tanah ekuivalen penuh dengan pengurangan CO2 di sektor lain. Ketiga, bentuan logostik, khususnya untuk petani-petani miskin yang membutuhkan bantuan untuk membiayai biaya di bayar di muka, harus memasukkan layanan perpanjangan yang diperkuat. Ketiga hal itu adalah kunci untuk menyebarluaskan praktik pemerangkapan dan peluang keuangan.

Sumber: Canadell dkk. 2007; Eliasch 2008; FAO 2005; Smith dkk. 2008; Smith dkk. 2009; Tschakert 2004; UNEP 1990; Voluntary Carbon Standard 2007; World Bank 2008c.

Perhutanan adalah area lain di mana keuangan iklim dapat mengurangi emisi (Kotak 8). Mekanisme tambahan untuk penetapan harga karbon hutan tampaknya akan muncul dari negosiasi iklim saat ini. Telah ada beberapa inisiatif, termasuk World Banks’s Forest Carbon Partnership Facility (Fasilitas Kerja Sama Karbon Hutan World Bank), mengeksplor bagaimana insentif keuangan dapat mengurangi deforestasi di negara-negara berkembang sehingga mengurangi emisi karbon. Tantangan besar termasuk mengembangkan strategi nasional dan kerangka kerja implementasi untuk mengurangi emisi karbon dari deforestasi dan degradasi; dan sistem



Laporan Pembangunan Dunia 2010

untuk memantau, melaporkan, dan memverifikasi. Usaha-usaha mengurangi emisi karbon tanah (melalui insentif untuk me ngub a h pra kt i k p emb aj a kan, misalnya) juga dapat menjadi sasaran insentif keuangan—dan juga penting untuk memastikan kawasan alami tidak dikonversi menjadi lahan produksi makanan dan biofuel. Akan tetapi metodenya kurang matang dibandingkan dengan karbon hutan, dan kebanyakan permasalahan pemantauan akan perlu dipecahkan (lihat Kotak 8). Program percontohan harus dikembangkan dengan cepat untuk mencapai pertanian yang lebih berketahanan dan berkelanjutan dan untuk membawa lebih banyak sumber daya dan inovasi pada sektor yang kekurangan selama dekade terakhir.92 Di antara negara-negara, peranan sektor publik akan menjadi penting dalam usaha membentuk insentif untuk aksi iklim (melalui subsidi, pajak, caps, atau regulasi), menyediakan informasi dan pendidikan, serta menghilangkan kegagalan pasar yang menghambat aksi. Akan tetapi banyak keuangan akan datang dari sektor swasta, khususnya untuk adaptasi. Untuk penyedia layanan infrastruktur swasta, fleksibilitas rezim pengaturan akan menjadi krusial dalam menyediakan insentif untuk investasi dan pelaksanaan percobaan iklim. Sementara akan menjadi mungkin untuk memengaruhi keuangan swasta untuk investasi adaptasi spesifik (seperti pertahanan banjir), pengalaman yang berkaitan dengan kerja sama swastapublik pada dalam infrastruktur di negara-negara berkembang menunjukkan bahwa lingkupnya sedikit. Memicu keuangan tambahan untuk adaptasi adalah prioritas kunci, dan skema inovasi seperti auctioning assigned

amount units (AAU, pembatasan yang mengikat yang dapat diterima sesuai UNFCCC), mengenakan pajak pada emisi transpor internasional, dan pajak karbon global mempunyai potensi untuk meningkatkan puluhan miliar dollar keuangan baru setiap tahun. Untuk mitigasi, jelas bahwa mempunyai harga yang efisien untuk karbon, baik melalui pajak atau pembatasan dan perdagangan (cap-and-trade), akan dapat ditransformasi. Apabila hal ini tercapai, sektor swasta akan dapat menyediakan kebutuhan keuangan sebagai faktor investor dan konsumen pada harga karbon. Akan tetapi pajak karbon nasional atau pasar karbon tidak perlu menyediakan aliran dana ke negara-negara berkembang. Jika solusi terhadap permasalahan iklim dianggap layak, CDM yang direformasi dan kinerja berbasis skema lainnya, alokasi dan penjualan AAU, dan transfer fiskal, semuanya akan menyediakan dana untuk negara-negara berkembang. Sementara Laporan ini dicetak, negara-negara bergabung dalam negosiasi kesepakatan iklim global di bawah naungan UNFCCC. Beberapa negaranegara ini juga berada dalam pergolakan menghadapi beberapa krisis keuangan pada dekade ini. Kesulitan fiskal dan kebutuhan segera dapat membuatnya semakin sulit untuk membuat badan legislatif menyetujui pemakaian sumber daya pada apa yang dianggap keliru sebagai ancaman jangka panjang. Wa l aupu n b e b e r ap a n e g ar a telah mengadopsi paket pemulihan fiskal menjadi ekonomi hijau selagi memulihkan pertumbuhan, untuk total global senilai lebih dari $400 miliar sampai bertahun-tahun mendatang dengan harapan menstimulasi ekonomi dan membuka lapangan kerja.93 Investasi pada efisiensi energi dapat melipattigakan

Gambaran Umum

dividen sempanan energi yang lebih besar, beberapa emisi, dan lebih banyak lapangan kerja. Negosiasi-negosiasi iklim saat ini, mencapai puncaknya di Kopenhagen pada bulan Desember 2009, telah membuat kemajuan yang lambat— inersia di dunia politik. Untuk semua pertimbangan yang digarisbawahi dalam Laporan ini—inersia dalam sistem iklim, inersia dalam infrastruktur, inersia dalam sistem sosioekonomi— kesepakatan iklim sangat diperlukan. Akan tetapi itu harus merupakan suatu kesepakatan yang cerdas, sesuatu yang menciptakan insentif untuk solusisolusi yang efisien, untuk aliran dari keuangan dan pembangunan teknologi yang baru. Dan itu harus menjadi sebuah kesepakatan yang layak, sesuatu yang mencakup kebutuhan dan cita-cita negara-negara berkembang. Hanya ini yang dapat menciptakan hak iklim untuk pembangunan.

Catatan 1. Kemiskinan ekstrem didefinisikan sebagai hidup dengan kurang dari atau sama dengan $1,25 per hari. Chen dan Ravallion 2008. 2. FAO 2009b. 3. Article 2 dari United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) menyerukan untuk

menstabilisasikan konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer pada tingkat yang dapat “mencegah interferensi antropogenik (disebabkan oleh manusia) yang berbahaya dengan sistem iklim.” http://unfccc.int/resource/docs/convkp/ conveng.pdf (diakses 1 Agustus 2009). 4. Didefinisikan sebagai karbon yang diemisikan per dolar PDB. 5. Pada skala global, hal ini akan mengurangi emisi CO 2 sebesar 4–6 gigaton per tahun dengan bauran energi yang sekarang di dalam sektor energi dan industri (IEA 2008e). Reduksi yang serupa juga dapat tercapai dalam sektor bangunan di negara-negara berpendapatan tinggi. Lihat, misalnya, Mills 2009. 6. World Bank 2009b. 7. de la Torre, Fajnzylber, dan Nash 2008. 8. Gas-gas rumah kaca masingmasing memiliki potensi penyimpanan panas yang berbeda. Konsentrasi karbon dioksida ekuivalen (CO 2 e) dapat digunakan untuk menjelaskan dampak pemanasan global secara komposit dari gas-gas ini, dinyatakan dalam jumlah CO2 yang akan memiliki potensi penyimpanan panas yang sama di sepanjang suatu periode waktu tertentu. 9. Perhitungan penulis, berdasarkan data dari Climate Analysis Indicators

Banyak orang mengambil tindakan untuk melindungi lingkungan kami. Aku rasa hanya dengan bekerja sama sebagai tim, kita akan sukses membuat perubahan. Bahkan anak-anak dapat bergabung bersama untuk membantu karena kami adalah generasi masa depan dan kami harus menjaga lingkungan alam kami. —Adrian Lau Tsun Yin, China, umur 8

Anoushka Bhari, Kenya, umur 8





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Tool (WRI 2008). Kisarannya akan jauh lebih besar jika negara-negara kepulauan kecil seperti Barbados (4,6 ton CO2e per kapita) dan negara-negara penghasil minyak bumi seperti Qatar (55 ton CO2e per kapita) atau Uni Emirat Arab (39 ton CO2e per kapita) diikutsertakan. 10. IEA 2008c. 11. Edmonds dkk. 2008; Hamilton 2009. Blanford, Richels, dan Rutherford (2008) juga menunjukkan penghematan yang substansial dari negara-negara yang mengumumkan, jauh di awal, tanggal mereka akan memulai mitigasi, karena hal itu memungkinkan mereka yang berinvestasi pada aset-aset jangka panjang untuk mempertimbangkan perubahan yang mungkin terjadi dalam rezim regulasi di masa mendatang dan harga karbon, sehingga meminimalkan jumlah aset yang akan hilang. 12. Krisis keuangan yang sangat tersinkronisasi di berbagai negara juga terkait dengan durasi yang serupa dan juga diikuti oleh pemulihan yang serupa, meskipun kerugiannya cenderung lebih besar (5 persen dari PDB secara rata-rata). IMF 2009, Tabel 3.1. Bahkan Depresi Besar di Amerika Serikat hanya berlangsung selama tiga setengah tahun, dari Agustus 1929 hingga Maret 1933. National Bureau of Economic Research Business Cycle Expansion and Contraction, http://www.nber.org/cycles. html (diakses 1 Agustus 2009). 13. Matthews dan Caldeira 2008. 14. Schaeffer dkk. 2008. 15. Sementara pertanyaan mengenai apa yang dimaksud dengan perubahan iklim yang berbahaya membutuhkan pertimbangan nilai, rangkuman dari penelitian terkini oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC—Panel Ahli Antarnegara tentang Perubahan Iklim) menunjukkan bahwa pemanasan sebesar lebih dari 2°C di atas tingkat

praindustri akan meningkatkan risiko secara tajam, sehingga “ada manfaat yang signifikan yang timbul dari pembatasan suhu agar tidak naik sebesar lebih dari 1,6°C–2,6°C.” Fisher dkk. 2007; IPCC 2007b; IPCC 2007c; Parry dkk. 2007. Publikasi ilmiah yang baru-baru ini mendukung lebih lanjut gagasan bahwa pemanasan haruslah dibatasi untuk tetap berada sedekat mungkin dengan 2°C di atas suhu praindustri. Fokus A Ilmu Perubahan Iklim; Mann 2009; Smith dkk. 2009. International Scientific Congress on Climate Change 2009 menyimpulkan bahwa “semakin banyak yang setuju bahwa pemanasan di atas 2°C akan sangat sulit diatasi oleh masyarakat dan ekosistem kontemporer.” http://climatecongress.ku.dk/ (diakses 1 Agustus 2009). Seruan-seruan lainnya untuk menjaga agar pemanasan tidak melebihi 2°C berasal dari European Commission 2007; SEG 2007; dan International Scientific Steering Committee 2005. Para pemimpin di negara-negara Australia, Brazil, Kanada, China, Uni Eropa, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Republik Korea, Meksiko, Federasi Rusia, Afrika Selatan, Inggris Raya, dan Amerika Serikat— yang bertemu di Major Economies Forum on Energy and Climate pada bulan Juli 2009—menyadari “pandangan ilmiah bahwa peningkatan suhu ratarata global di atas tingkat praindustri tidak boleh sampai melebihi 2°C.” http://usclimatenetwork.org/resourcedatabase/MEF_Declarationl-0.pdf (diakses 1 Agustus 2009). 16. IPCC 2007c. 17. Raupach dkk. 2007. 18. Lawrence dkk. 2008; Matthews dan Keith 2007; Parry dkk. 2008; Scheffer, Brovkin, dan Cox 2006; Torn dan Harte 2006; Walter dkk. 2006. 19. Horton dkk. 2008.

Gambaran Umum

20. Estimasi ini tidak memperhitungkan meningkatnya kerusakan dari serangan badai, dan menggunakan aktivitas ekonomi dan populasi yang sekarang. Jadi tanpa adanya adaptasi berskala besar, hal ini mungkin sekali merupakan perkiraan yang terlalu rendah. Dasgupta dkk. 2009. 21. Stern 2007. 22. Easterling dkk. 2007, Tabel 5.6, hal. 299. 23. Parry dkk. 2007, Tabel TS.3, hal. 66. 24. Nordhaus dan Boyer 2000. Stern (2007) juga mendapati bahwa kerugian-kerugian yang disebabkan oleh perubahan iklim akan lebih besar di India dan Asia Tenggara daripada di dunia secara rata-rata. 25. Nordhaus 2008; Stern 2007; Yohe dkk. 2007, Figur 20.3. 26. Model PAGE, yang digunakan untuk Stern Review of Climate Change, mengestimasikan bahwa 80 persen dari biaya kerusakan akan ditanggung oleh negara-negara berkembang; Hope (2009), dengan rincian data yang lebih lanjut yang disampaikan oleh penulis. Model RICE (Nordhaus dan Boyer 2000), yang dikembangkan untuk menyertakan adaptasi dalam de Bruin, Dellink, dan Agrawala (2009), menunjukkan bahwa sekitar tiga perempat dari biaya kerusakan akan ditanggung oleh negara-negara berkembang. Lihat juga Smith dkk. (2009); Tol (2008). Perhatikan bahwa ini mungkin merupakan suatu perkiraan yang terlalu rendah, karena tidak memperhitungkan nilai dari layanan ekosistem yang hilang. Lihat Bab 1 untuk pembahasan mengenai batasan dari kemampuan model-model untuk memperhitungkan biaya-biaya dari berbagai dampak. 27. Dicatat selama konsultasi dengan negara-negara Afrika Timur dan Amerika Latin.

28. Barbera dan McConnell 1990; Barrett 2003; Burtraw dkk. 2005; Jaffe dkk. 1995; Meyer 1995. 29. Hope 2009; Nordhaus 2008. 30. Nordhaus 2008. 31. Hanya sedikit model yang mengikutsertakan biaya-biaya adaptasi. Lihat de Bruin, Dellink, dan Agrawala (2009) untuk pembahasannya. 32. Nordhaus 2008, hal. 86, Figur 5.3. Nordhaus mendapati bahwa biaya tambahan untuk menstabilisasi pemanasan pada 2°C dan bukan pada sasaran optimalnya, 3,5°C, adalah 0,3 persen dari PDB tahunan. Biaya tambahannya lagi untuk 2,5°C alih-alih 3,5°C adalah kurang dari 0,1 persen dari PDB tahunan. 33. R at a-rat a untu k negara berkembang adalah 1,5 persen dari PDB; termasuk asuransi kesehatan dan tidak memperhitungkan asuransi jiwa. Swiss Re 2007. 34. McKinsey & Company 2009. 35. Dalam dolar 2005 konstan. World Bank 2009c. 36. Adger dkk. 2009. 37. IPCC 2001. 38. Mignone dkk. 2008. Hal ini berlaku tanpa adanya teknologi rekayasa bumi yang efektif dan berterima (lihat Bab 7). 39. Hal ini dapat muncul dari skala ekonomi dalam penyediaan teknologi (begitu pula kasusnya dengan program nuklir Prancis dan tampaknya merupakan suatu masalah bagi tenaga sur ya terkons ent rasi); d amp a kdampak jaringan (untuk suatu program konstruksi rel atau jalan tol); atau goncangan demografis atau ekonomis. Ini dan bagian selanjutnya dari paragraf tersebut didasarkan pada Shalizi dan Lecocq 2009. 40. Shalizi dan Lecocq 2009. 41. Folger 2006; Levin dkk. 2007.





Laporan Pembangunan Dunia 2010

42. Häfele dkk. 1981, sebagaimana dikutip di Ha-Duong, Grubb, dan Hourcade 1997. 43. Davis dan Owens 2003; IEA 2008b; Nemet dan Kammen 2007; SEG 2007; Stern 2007. 44. Repetto 2008. 45. Stern 2007, Bagian VI. 46. Didasarkan pada formula yang digunakan dalam Nordhaus 2008. 47. Ini adalah nilai-nilai yang dibulatkan berdasarkan hal-hal berikut. IPCC mengestimasikan bahwa pada harga-harga karbon hingga $50 per ton CO 2e, sekitar 65 persen reduksi emisi akan terjadi di negara-negara berkembang sampai tahun 2030 (Barker dkk. 2007a, Tabel 11.3). McKinsey & Company (2009) mengestimasikan nilainya pada 68 persen untuk skenario 450 bpj jika dilakukan menggunakan alokasi berbiaya minimal. Mengenai bagian berbiaya minimal dari investasi mitigasi global hingga 2030 yang terjadi di negara-negara berkembang, diperkirakan nilainya mencapai 44–67 persen untuk konsentrasi CO 2e sebanyak 450 bpj (lihat Tabel 4.2: 44 persen, MESSAGE; 56 persen, McKinsey; 67 persen, IEA ETP) meskipun suatu estimasi yang agak berbeda dikemukakan oleh REMIND (91 persen). Selama abad ini (menggunakan nilai sekarang untuk semua investasi hingga 2100), bagian yang diestimasikan dari negara-negara berkembang menjadi sedikit lebih tinggi, berkisar antara 66 persen (Edmonds dkk. 2008) dan 71 persen (Hope 2009). 48. Edmonds dkk. 2008. 49. Untuk skenario stabilisasi pada konsentrasi CO2e sebesar 425–450 bpj, atau 2°C, , IIASA (2009) mengestimasi biayanya pada $4 triliun; Knopf dkk. (akan terbit) pada $6 triliun; Edmonds dkk. (2008) pada $9 triliun; Nordhaus (2008) pada $11 triliun; dan Hope (2009)

pada $25 triliun. Ini adalah nilai-nilai di masa sekarang, dan perbedaannya yang besar di antara mereka sebagian besar didorong oleh penggunaan tingkat diskon yang berbeda. Semuanya mengikuti suatu skenario terbaik pertama di mana terjadi mitigasi di manapun dan kapanpun mitigasi tersebut paling efektif dari segi biaya. 50. Hamilton 2009. 51. The Nameless Hurricane, http://science.nasa.gov/headlines/y2004/ 02apr_hurricane.htm (diakses 12 Maret 2009). 52. Rogers 2009; Westermeyer 2009. 53. OECS 2004. 54. World Bank 2008a. 55. Kanbur 2009. 56. FAO 2009a. 57. Worldwatch Institute, “State of the World 2005 Trends and Facts: Water Conflict and Security Cooperation,” http://www.worldwatch.org/node/69 (diakses 1 Juli 2009); Wolf dkk. 1999. 58. Easterling dkk. 2007; Fisher dkk. 2007. 59. FAO 2008. 60. von Braun dkk. 2008; World Bank 2009a. 61. Sterner 2007. Harga bahan bakar rata-rata di zona Euro tahun 2007 adalah lebih dari dua kali lipat harga di AS ($1,54 per liter dibandingkan dengan 63 sen per liter). Variasi dalam emisi yang tidak didorong oleh pendapatan dapat ditangkap oleh residu dari regresi emisi per kapita terhadap pendapatan. Ketika residu-residu ini diregresikan terhadap harga-harga bensin, maka elastisitasnya diperkirakan bernilai –0,5, yang berarti bahwa menggandakan harga bahan bakar akan mengurangi emisi sekitar setengahnya, dengan menjaga pendapatan per kapita konstan. 62.

Gambaran Umum

Didasarkan pada harga listrik rata-rata untuk rumah tangga di 2006–07 dari U.S. Energy Information Agency, http:// www.eia.doe.gov/emeu/international/ elecprih.html (diakses 1 Agustus 2009). 63. Data emisi dari WRI (2008). 64. IEA 2008d; UNEP 2008. Suatu laporan pada tahun 2004 oleh European Environment Agency (EEA 2004) mengestimasikan subsidi di Eropa terhadap energi sebesar €30 miliar di tahun 2001, dua pertiganya untuk bahan bakar fosil, sisanya untuk nuklir dan sumber terbarukan. 65. http://www.eia.doe.gov/emeu/ international/elecprih.html (diakses Juli 2009). 66. Price dan Worrell 2006. 67. ESMAP 2006. 68. http://co2captureandstorage.info/ index.htm (diakses 1 Agustus 2009). 69. Calvin dkk., akan diterbitkan; IEA 2008a. 70. Gurgel, Reilly, dan Paltsev 2007; IEA 2006; Wise dkk. 2009. 71. NRC 2007; Tilman, Hill, dan Lehman 2006; WBGU 2009. 72. OECD 2008. 73. Lotze-Campen dkk. 2009; Wise dkk. 2009. Lihat bab 3 untuk pembahasannya. 74. Scherr dan McNeely 2008. 75. World Bank 2007b. 76. Milly dkk. 2008. 77. Fay, Block, dan Ebinger 2010; Ligeti, Penney, dan Wieditz 2007; Heinz Center 2007. 78. Lempert dan Schlesinger 2000. 79. Keller, Yohe, dan Schlesinger 2008. 80. Cass 2005; Davenport 2008; Dolsak 2001; Kunkel, Jacob, dan Busch 2006. 81. Alber dan Kern 2008. 82. Guth, Schmittberger, dan Schwarze 1982; Camerer dan Thaler 1995; Irwin 2009; Ruffle 1998.

8 3 . Tim e s of In di a , http : / / timesofindia.indiatimes.com/NEWS/ In d i a / Eve n - i n - 2 0 3 1 - In d i a s - p e rcapita-emission-will-be-1/7th-ofUS/articleshow/4717472.cms (diakses August 2009). 84. Dechezleprêtre dkk. 2008. 85. Maini 2005; Nagrath 2007. 86. Haites dkk. 2006. 8 7 . h t t p : / / w w w. g e f w e b . org/uplo ade dFi les/Public at ions/ ClimateChange-FS-June2009.pdf (diakses 6 Juli 2009). 88. http://unfccc.int/meetings/ cop_13/items/4049.php (diakses 1 Agustus 2009). 89. Pembangunan dan bantuan yang telah digerakkan oleh masyarakat menuju evaluasi dampak dan bantuan berbasis hasil, menunjukkan suatu tingkat frustrasi dengan programprogram berbasis input (di mana jumlah dana yang dikeluarkan dan jumlah sekolah yang dibangun dipantau, dibandingkan dengan jumlah anak yang lulus dari sekolah atau perbaikan dari kinerja mereka). Akan tetapi, terdapat suatu perbedaan dalam hal pendefinisian pendekatan “berbasis input” dalam kasus ini, karena “inputinputnya” adalah perubahan kebijakan alih-alih input finansial yang terdefinisi secara sempit—adopsi dan penegakan standar efisiensi bahan bakar, alihalih pengeluaran publik untuk suatu program efisiensi. Bagaimanapun juga, pemantauan dan evaluasi akan tetap penting untuk mengetahui apa yang benar-benar bekerja. 90. Olsen 2007; Sutter dan Parreno 2007; Olsen dan Fenhann 2008; Nussbaumer 2009; Michaelowa dan Pallav 2007; Schneider 2007. 91. Fankhauser, Martin, dan Prichard, akan diterbitkan. 92. World Bank 2007d.



0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

93. Paket stimulus di seluruh dunia diperkirakan akan menginjeksi sebesar $430 miliar ke dalam bidangbidang perubahan iklim yang utama selama beberapa tahun ke depan; $215 miliar akan digunakan untuk efisiensi energi, $38 miliar untuk sumber daya terbarukan rendah karbon; $20 miliar untuk penangkapan dan penyimpanan karbon, dan $92 miliar untuk jaringan listrik cerdas. Robins, Clover, dan Singh 2009. Lihat Bab 1 untuk pembahasan tentang penciptaan lapangan pekerjaan yang diperkirakan.

Referensi Adger, W. N., S. Dessai, M. Goulden, M. Hulme, I. Lorenzoni, D. R. Nelson, L. O. Naess, J. Wolf, dan A. Wreford. 2009. “Are There Social Limits to Adaptation to Climate Change?” Climatic Change 93 (3–4): 335–54. Agrawala, S., dan S. Fankhauser. 2008. Economic Aspects of Adaptation to Climate Change: Costs, Benefits and Policy Instruments. Paris: Organisation for Economic Cooperation and Development. Alber, G., dan K. Kern. 2008. “Governing Climate Change in Cities: Modes of Urban Climate Governance in Multi-Level Systems.” Paper presented at the OECD Conference on Competitive Cities and Climate Change, Milan, 9–10 Oktober. Bai, X. 2006. “Rizhao, China: SolarPowered City.” Dalam State of the World 2007: Our Urban Future, Worldwatch Institute (editor). New York: W.W. Norton & Company Inc. Barbera, A. J., dan V. D. McConnell. 1990. “The Impacts of Environmental Regulations on Industry Productivity: Direct

and Indirect Effects.” Journal of Environmental Economics and Management 18 (1): 50–65. Barbier, E. B., dan S. Sathirathai, ed. 2004. Shrimp Farming and Mangrove Loss in Thailand. Cheltenham, UK: Edward Elgar Publishing. Barker, T., I. Bashmakov, A. Alharthi, M. Amann, L. Cifuentes, J. Drexhage, M. Duan, O. Edenhofer, B. Flannery, M. Grubb, M. Hoogwijk, F. I. Ibitoye, C. J. Jepma, W. A. Pizer, dan K. Yamaji. 2007a. “Mitigation From a CrossSectoral Perspective.” Dalam Climate Change 2007: Mitigation. Contribution of Working Group III to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, B. Metz, O. R. Davidson, P. R. Bosch, R. Dave, dan L. A. Meyer (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. Barker, T., I. Bashmakov, L. Bernstein, J. E. Bogner, P. R. Bosch, R. Dave, O. R. Davidson, B. S. Fisher, S. Gupta, K. Halsnaes, B. Heij, S. Khan Ribeiro, S. Kobayashi, M. D. Levine, D. L. Martino, O. Masera, B. Metz, L. A. Meyer, G.-J. Nabuurs, A. Najam, N. Nakićenović, H.-H. Rogner, J. Roy, J. Sathaye, R. Schock, P. Shukla, R. E. H. Sims, P. Smith, D. A. Tirpak, D. Urge-Vorsatz, dan D. Zhou. 2007b. “Technical Summary.” Dalam Climate Change 2007: Mitigation. Contribution of Working Group III to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, ed. B. Metz, O. R. Davidson, P. R. Bosch, R. Dave, dan L. A. Meyer. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

Gambaran Umum

Barrett, S. 2003. Environment and Statecraft: The Strategy of Environmental Treaty-Making. Oxford: Oxford University Press. Blanford, G. J., R. G. Richels, dan T. F. Rutherford. 2008. “Revised Emissions Growth Projections for China: Why Post-Kyoto Climate Policy Must Look East.” Harvard Project on International Climate Agreements, Harvard Kennedy School Discussion Paper 08-06, Cambridge, MA. BTS (Bureau of Transportation Statistics). 2008. Key Transportation Indicators November 2008. Washington, DC: U.S. Department of Transportation. Burke, M., D. B. Lobell, dan L. Guarino. 2009. “Shifts in African Crop Climates by 2050 and the Implications for Crop Improvement and Genetic Resources Conservation.” Global Environmental Change 19 (3): 317–325. Burtraw, D., D. A. Evans, A. Krupnick, K. Palmer, dan R. Toth. 2005. “Economics of Pollution Trading for SO2 and NOx.” Discussion Paper 05-05, Resources for the Future, Washington, DC. Calvin, K., J. Edmonds, B. BondLamberty, L. Clarke, P. Kyle, S. Smith, A. Thomson, dan M. Wise. Akan terbit. “Limiting Climate Change to 450 ppm CO2 Equivalent in the 21st Century.” Energy Economics. Camerer, C., dan R. H. Thaler. 1995. “Anomalies: Ultimatums Dictators and Manners.” Journal of Economic Perspectives 9 (2): 109–220. Canadell, J. G., C. Le Quere, M. R. Raupach, C. B. Field, E. T. Buitenhuis, P. Ciais, T. J. Conway,

N. P. Gillett, R. A. Houghton, dan G. Marland. 2007. “Contributions to Accelerating Atmospheric CO2 Growth from Economic Activity, Carbon Intensity, and Efficiency of Natural Sinks.” Proceedings of the National Academy of Sciences 104 (47): 18866–70. Cass, L. 2005. “Measuring the Domestic Salience of International Environmental Norms: Climate Change Norms in German, British, and American Climate Policy Debates.” Paper presented at the International Studies Association, 15 Maret, Honolulu. Chen, S, dan M. Ravallion. 2008. “The Developing World Is Poorer than We Thought, But No Less Successful in the Fight against Poverty.” Policy Research Working Paper 4703, World Bank, Washington, DC. Clarke, L., J. Edmonds, V. Krey, R. Richels, S. Rose, dan M. Tavoni. Akan terbit. “International Climate Policy Architectures: Overview of the EMF 22 International Scenarios.” Energy Economics. Dasgupta, S., B. Laplante, C. Meisner, D. Wheeler, dan J. Yan. 2009. “The Impact of Sea Level Rise on Developing Countries: A Comparative Analysis.” Climatic Change 93 (3–4): 379–88. Davenport, D. 2008. “The International Dimension of Climate Policy.” Dalam Turning Down the Heat: The Politics of Climate Policy in Affluent Democracies, ed. H. Compston dan I. Bailey. Basingstoke, UK: Palgrave Macmillan. Davis, G., dan B. Owens. 2003. “Optimizing the Level of Renewable Electric R&D Expenditures Using Real Options





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Analysis.” Energy Policy 31 (15): 1589–1608. de Bruin, K., R. Dellink, dan S. Agrawala. 2009. “Economic Aspects of Adaptation to Climate Change: Integrated Assessment Modeling of Adaptation Costs and Benefits.” Environment Working Paper 6, Organisation for Economic Cooperation and Development, Paris. de la Torre, A., P. Fajnzylber, dan J. Nash. 2008. Low Carbon, High Growth: Latin American Responses to Climate Change. Washington, DC: World Bank. Dechezleprêtre, A., M. Glachant, I. Hascic, N. Johnstone, dan Y. Ménière. 2008. Invention and Transfer of Climate Change Mitigation Technologies on a Global Scale: A Study Drawing on Patent Data. Paris: CERNA. Deltacommissie. 2008. Working Together with Water: A Living Land Builds for Its Future. Netherlands: Deltacommissie. Derpsch, R., dan T. Friedrich. 2009. “Global Overview of Conservation Agriculture Adoption.” Dalam Lead Papers, 4th World Congress onConservation Agriculture, 4–7 Februari 2009, New Delhi, India. New Delhi: World Congress on Conservation Agriculture. DOE (U.S. Department of Energy). 2009. “Carbon Dioxide Information Analysis Center (CDIAC).” DOE, Oak Ridge, TN. Dolsak, N. 2001. “Mitigating Global Climate Change: Why Are Some Countries More Committed than Others?” Policy Studies Journal 29 (3): 414–36. Easterling, W., P. Aggarwal, P. Batima, K. Brander, L. Erda, M. Howden, A. Kirilenko, J. Morton, J.-F.

Soussana, J. Schmidhuber, dan F. Tubiello. 2007. “Food, Fibre and Forest Products.” Dalam Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. M. Parry, O. F. Canziani, J. P. Palutikof, P. J. van der Linden, dan C. E. Hanson (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. Ebi, K. L., dan I. Burton. 2008. “Identifying Practical Adaptation Options: An Approach to Address Climate Change-related Health Risks.” Environmental Science and Policy 11 (4): 359–69. Edmonds, J., L. Clarke, J. Lurz, dan M. Wise. 2008. “Stabilizing CO2 Concentrations with Incomplete International Cooperation.” Climate Policy 8 (4): 355–76. EEA (European Environment Agency). 2004. “Energy Subsidies in the European Union: A Brief Overview.” Technical Report 1/2004, EEA, Copenhagen. Eliasch, J. 2008. Climate Change: Financing Global Forests: The Eliasch Review. London: Earthscan. Erenstein, O. 2009. “Adoption and Impact of Conservation Agriculture Based Resource Conserving Technologies in South Asia.” In Lead Papers, 4th World Congress on Conservation Agriculture, 4–7 Februari 2009, New Delhi, India. New Delhi: World Congress on Conservation Agriculture. Erenstein, O., dan V. Laxmi. 2008. “Zero Tillage Impacts in India’s Rice-Wheat Systems: A Review.” Soil and Tillage Research 100 (1–2): 1–14.

Gambaran Umum

ESMAP (Energy Sector Management Assistance Program). 2006. Proceedings of the International Grid-Connected Renewable Energy Policy Forum. Washington, DC: World Bank. European Commission. 2007. “Limiting Global Climate Change to 2 Degrees Celsius—The Way Ahead for 2020 and Beyond: Impact Assessment Summary.” Commission Staff Working Document, Brussels. Falloon, P., dan R. Betts. Akan terbit. “Climate Impacts on European Agriculture and Water Management in the Context of Adaptation and Mitigation: The Importance of an Integrated Approach.” Science of the Total Environment. Fankhauser, S., N. Martin, dan S. Prichard. Akan terbit. “The Economics of the CDM Levy: Revenue Potential, Tax Incidence and Distortionary Effects.” Working paper, London School of Economics. FAO (Food and Agriculture Organization). 2005. “Global Forest Resources Assessment 2005: Progress towards Sustainable Forest Management.” Forestry Paper 147, Rome. ———. 2007. “The World’s Mangroves 1980–2005.” Forestry Paper 153, Rome. ———. 2008. Food Outlook: Global Market Analysis. Rome: FAO. ———. 2009a. “Aquastat.” Rome. ———. 2009b. “More People than Ever Are Victims of Hunger.” Press release, Rome. Fay, M., R. I. Block, dan J. Ebinger. 2010. Adapting to Climate Change in Europe and Central Asia. Washington, DC: World Bank.

Fisher, B. S., N. Nakic´enovic´, K. Alfsen, J. Corfee Morlot, F. de la Chesnaye, J.-C. Hourcade, K. Jiang, M. Kainuma, E. La Rovere, A. Matysek, A. Rana, K. Riahi, R. Richels, S. Rose, D. van Vuuren, dan R. Warren. 2007. “Issues Related to Mitigation in the LongTerm Context.” Dalam Climate Change 2007: Mitigation. Contribution of Working Group III to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, B. Metz, O. R. Davidson, P. R. Bosch, R. Dave, dan L. A. Meyer (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. Folger, T. 2006. “Can Coal Come Clean? How to Survive the Return of the World’s Dirtiest Fossil Fuel.” December. Discover Magazine. Government of Bangladesh. 2008. Cyclone Sidr in Bangladesh: Damage, Loss and Needs Assessment for Disaster Recovery and Reconstruction. Dhaka: Government of Bangladesh, World Bank, and European Commission. Guan, D., dan K. Hubacek. 2008. “A New and Integrated HydroEconomic Accounting and Analytical Framework for Water Resources: A Case Study for North China.” Journal of Environmental Management 88 (4): 1300–1313. Gurgel, A. C., J. M. Reilly, dan S. Paltsev. 2007. “Potential Land Use Implications of a Global Biofuels Industry.” Journal of Agricultural and Food Industrial Organization 5 (2): 1–34. Güth, W., R. Schmittberger, dan B. Schwarze. 1982. “An Experimental Analysis of Ultimatum Bargaining.” Journal of Economic Behavior and Organization 3 (4): 367–88.





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Guthrie, P., C. Juma, dan H. Sillem, eds. 2008. Engineering Change: Towards a Sustainable Future in the Developing World. London: Royal Academy of Engineering. Ha-Duong, M., M. Grubb, dan J.C. Hourcade. 1997. “Influence of Socioeconomic Inertia and Uncertainty on Optimal CO2Emission Abatement.” Nature 390: 270–73. Häfele, W., J. Anderer, A. McDonald, dan N. Nakićenović. 1981. Energy in a Finite World: Paths to a Sustainable Future. Cambridge, MA: Ballinger. Haites, E., D. Maosheng, dan S. Seres. 2006. “Technology Transfer by CDM Projects.” Climate Policy 6: 327–44. Hamilton, K. 2009. “Delayed Participation in a Global Climate Agreement.” Background note for the WDR 2010. Hare, B., dan M. Meinshausen. 2006. “How Much Warming Are We Committed to and How Much Can Be Avoided?” Climatic Change 75 (1–2): 111–49. Heinz Center. 2007. A Survey of Climate Change Adaptation Planning. Washington, DC: John Heinz III Center for Science, Economics and the Environment. Hof, A. F., M. G. J. den Elzen, dan D. P. van Vuuren. 2008. “Analyzing the Costs and Benefits of Climate Policy: Value Judgments and Scientific Uncertainties.” Global Environmental Change 18 (3): 412–24. Hope, C. 2009. “How Deep Should the Deep Cuts Be? Optimal CO2 Emissions over Time under Uncertainty.” Climate Policy 9 (1): 3–8.

Horton, R., C. Herweijer, C. Rosenzweig, J. Liu, V. Gornitz, dan A. C. Ruane. 2008. “Sea Level Rise Projections for Current Generation CGCMs Based on the SemiEmpirical Method.” Geophysical Research Letters 35: L02715– doi:10.1029/2007GL032486. Houghton, R. A. 2009. “Emissions of Carbon from Land Management.” Background note for the WDR 2010. ICCT (International Council on Clean Transportation). 2007. Passenger Vehicle Greenhouse Gas and Fuel Economy Standard: A Global Update. Washington, DC: ICCT. IEA (International Energy Agency). 2006. World Energy Outlook 2006. Paris: International Energy Agency. ———. 2008a. CO2 Capture and Storage—A Key Abatement Option. Paris: International Energy Agency. ———. 2008b. Energy Efficiency Policy Recommendations: In Support of the G8 Plan of Action. Paris: International Energy Agency. ———. 2008c. Energy Technology Perspective 2008: Scenarios and Strategies to 2050. Paris: International Energy Agency. ———. 2008d. World Energy Outlook 2008. Paris: International Energy Agency. ———. 2008e. Worldwide Trends in Energy Use and Efficiency: Key Insights from IEA Indicator Analysis. Paris: International Energy Agency. IIASA (International Institute for Applied Systems Analysis). 2009. “GGI Scenario Database.” Laxenburg, Austria. IMF (International Monetary Fund). 2009. World Economic Outlook: Crisis and Recovery. Washington, DC: IMF.

Gambaran Umum

International Scientific Steering Committee. 2005. Avoiding Dangerous Climate Change: International Symposium on the Stabilization of Greenhouse Gas Concentrations. Report of the International Scientific Steering Committee. Exeter, UK: Hadley Centre Met Office. IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). 2001. Climate Change 2001: Synthesis Report. Contribution of Working Groups I, II and III to the Third Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Geneva: IPCC. ———. 2007a. Climate Change 2007: Synthesis Report. Contribution of Working Groups I, II and II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Geneva: IPCC. ———. 2007a. Climate Change 2007: Synthesis Report. Contribution of Working Groups I, II and II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Geneva: IPCC. ———. 2007b. “Summary for Policymakers.” Dalam Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, M. L. Parry, O. F. Canziani, J. P. Palutikof, P. J. van der Linden, dan C. E. Hanson. Cambridge, UK: Cambridge University Press. ———. 2007c. “Summary for Policymakers.” Dalam Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmen-

tal Panel on Climate Change, S. Solomon, D. Qin, M. Manning, Z. Chen, M. Marquis, K. B. Averyt, M. Tignor, dan H. L. Miller (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. Irwin, T. 2009. “Implications for Climate Change Policy of Research on Cooperation in Social Dilemma.” Policy Research Working Paper 5006, World Bank, Washington, DC. Jaffe, A., S. R. Peterson, P. R. Portney, dan R. N. Stavins. 1995. “Environmental Regulation andthe Competitiveness of U.S. Manufacturing: What Does the Evidence Tell Us?” Journal of Economic Literature 33 (1): 132–63. Kanbur, R. 2009. “Macro Crises and Targeting Transfers to the Poor.” Cornell Food and Nutrition Policy Program, Working Paper 236, Ithaca, NY. Karim, M. F., dan N. Mimura. 2008. “Impacts of Climate Change and Sea-Level Rise on Cyclonic Storm Surge Floods in Bangladesh.” Global Environmental Change 18 (3): 490–500. Keim, M. E. 2008. “Building Human Resilience: The Role of Public Health Preparedness and Response as an Adaptation to Climate Change.” American Journal of Preventive Medicine 35 (5): 508–16. Keller, K., G. Yohe, dan M. Schlesinger. 2008. “Managing the Risks of Climate Thresholds: Uncertainties and Information Needs.” Climatic Change 91: 5–10. Knopf, B., O. Edenhofer, T. Barker, N. Bauer, L. Baumstark, B. Chateau, P. Criqui, A. Held, M. Isaac, M. Jakob, E. Jochem, A. Kitous, S. Kypreos, M. Leimbach, B. Magné,





Laporan Pembangunan Dunia 2010

S. Mima, W. Schade, S. Scrieciu, H. Turton, dan D. van Vuuren. Akan terbit. “The Economics of Low Stabilisation: Implications for Technological Change and Policy.” In Making Climate Change Work for Us, ed. M. Hulme dan H. Neufeldt. Cambridge, UK: Cambridge University Press. Koetse, M., dan P. Rietveld. 2009. “The Impact of Climate Change and Weather on Transport: An Overview of Empirical Findings.” Transportation Research Part D: Transport and Environment 14 (3): 205–21. Kunkel, N., K. Jacob, dan P.-O. Busch. 2006. “Climate Policies : (The Feasibility of) a Statistical Analysis of their Determinants.” Paper presented at the Human Dimensions of Global Environmental Change, Berlin. Lawrence, D. M., A. G. Slater, R. A. Tomas, M. M. Holland, dan C. Deser. 2008. “Accelerated Arctic Land Warming and Permafrost Degradation during Rapid Sea Ice Loss.” Geophysical Research Letters 35: L11506–doi:10.1029/ 2008GL033985. Lehmann, J. 2007. “A Handful of Carbon.” Nature 447: 143–44. Lempert, R. J., dan M. E. Schlesinger. 2000. “Robust Strategies for Abating Climate Change.” Climatic Change 45 (3–4): 387–401. Levin, K., B. Cashore, S. Bernstein, dan G. Auld. 2007. “Playing It Forward: Path Dependency, Progressive Incrementalism, and the ‘SuperWicked’ Problem of Global Climate Change.” Paper presented at the International Studies Association 48th Annual Convention, February 28, Chicago.

Ligeti, E., J. Penney, dan I. Wieditz. 2007. Cities Preparing for Climate Change: A Study of Six Urban Regions. Toronto: Clean Air Partnership. Lotze-Campen, H., A. Popp, J. P. Dietrich, dan M. Krause. 2009. “Competition for Land between Food, Bioenergy and Conservation.” Background note for the WDR 2010. Lüthi, D., M. Le Floch, B. Bereiter, T. Blunier, J.-M. Barnola, U. Siegenthaler, D. Raynaud, J. Jouzel, H. Fischer, K. Kawamura, dan T. F. Stocker. 2008. “High-Resolution Carbon Dioxide Concentration Record 650,000–800,000 Years before Present.” Nature 453 (7193): 379–82. Maini, C. 2005. “Development of a Globally Competitive Electric Vehicle in India.” Journal of the Indian Insitute of Science 85: 83–95. Mann, M. 2009. “Defining Dangerous Anthropogenic Interference.” Proceedings of the National Academy of Sciences 106 (11): 4065–66. Matthews, H. D., dan K. Caldeira. 2008. “Stabilizing Climate Requires Near-zero Emissions.” Geophysical Research Letters 35: L04705– doi:10.1029/2007GL032388. Matthews, H. D., dan D. W. Keith. 2007. “Carbon-cycle Feedbacks Increase the Likelihood of a Warmer Future.” Geophysical Research Letters 34: L09702– doi:10.1029/2006GL028685. McKinsey & Company. 2009. Pathways to a Low-carbon Economy. Version 2 of the Global Greenhouse Gas Abatement Cost Curve. McKinsey & Company. McNeely, J. A., dan S. J. Scherr. 2003. Ecoagriculture: Strategies to Feed

Gambaran Umum

the World and Save Biodiversity. Washington, DC: Island Press. Meyer, S. M. 1995. “The Economic Impact of Environmental Regulation.” Journal of Environmental Law and Practice 3 (2): 4–15. Michaelowa, A., dan P. Pallav. 2007. Additionality Determination of Indian CDM Projects: Can Indian CDM Project Developers Outwit the CDM Executive Board? Zurich: University of Zurich. Mignone, B. K., R. H. Socolow, J. L. Sarmiento, dan M. Oppenheimer. 2008. “Atmospheric Stabilization and the Timing of Carbon Mitigation.” Climatic Change 88 (3–4): 251–65. Mills, E. 2009. Building Commissioning: A Golden Opportunity for Reducing Energy Costs and Greenhouse Gas Emissions. Berkeley, CA: Lawrence Berkeley National Laboratory. Milly, P. C. D., J. Betancourt, M. Falkenmark, R. M. Hirsch, Z. W. Kundzewicz, D. P. Lettenmaier, dan R. J. Stouffer. 2008. “Stationarity Is Dead: Whither Water Management?” Science 319 (5863): 573–74. Müller, C., A. Bondeau, A. Popp, K. Waha, dan M. Fader. 2009. “Climate Change Impacts on Agricultural Yields.” Background note for the WDR 2010. Nagrath, S. 2007. “Gee Whiz, It’s a Reva! The Diminutive Indian Electric Car Is a Hit on the Streets of London.” Businessworld 27(2), 16 Oktober. National Academy of Engineering. 2008. Grand Challenges for Engineering. Washington, DC: National Academy of Sciences. Nemet, G. 2006. “Beyond the Learning Curve: Factors Influencing Cost

Reductions in Photovoltaics.” Energy Policy 34 (17): 3218–32. Nemet, G., dan D. M. Kammen. 2007. “U.S. Energy Research and Development: Declining Investment, Increasing Need, and the Feasibility of Expansion.” Energy Policy 35 (1): 746–55. Nordhaus, W. 2008. A Question of Balance: Weighing the Options on Global Warming Policies. New Haven, CT: Yale University Press. Nordhaus, W., dan J. Boyer. 2000. Warming the World: Economic Models of Climate Change. Cambridge, MA: MIT Press. NRC (National Research Council). 2007. Water Implications of Biofuels Production in the United States. Washington, DC: National Academies Press. Nussbaumer, P. 2009. “On the Contribution of Labeled Certified Emission Reductions to Sustainable Development: A Multi-criteria Evaluation of CDM Projects.” Energy Policy 37 (1): 91–101. OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). 2008. Compendium of Patent Statistics 2008. Paris: OECD. OECS (Organization of Eastern Caribbean States). 2004. Grenada: Macro-Socio-Economic Assessment of the Damages Caused by Hurricane Ivan. St. Lucia: OECS. Olsen, K. H. 2007. “The Clean Development Mechanism’s Contribution to Sustainable Development: A Review of the Literature.” Climatic Change 84 (1): 59–73. Olsen, K. H., dan J. Fenhann. 2008. “Sustainable Development Benefits of Clean Development Mechanism Projects. A New Methodology for





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Sustainability Assessment Based on Text Analysis of the Project Design Documents Submitted for Validation.” Energy Policy 36 (8): 2819–30. Parry, M., O. F. Canziani, J. P. Palutikof, dan coauthors. 2007. “Technical Summary.” Dalam Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, M. Parry, O. F. Canziani, J. P. Palutikof, P. J. van der Linden, dan C. E. Hanson (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. Parry, M., J. Palutikof, C. Hanson, dan J. Lowe. 2008. “Squaring Up to Reality.” Nature 2: 68–71. Price, L., dan E. Worrell. 2006. “Global Energy Use, CO2 Emissions, and the Potential for Reduction in the Cement Industry.” Paper presented at the International Energy Agency Workshop on Cement Energy Efficiency, Paris. Project Catalyst. 2009. Adaptation to Climate Change: Potential Costs and Choices for a Global Agreement. London: ClimateWorks and European Climate Foundation. Raupach, M. R., G. Marland, P. Ciais, C. Le Quéré, J. G. Canadell, G. Klepper, dan C. B. Field. 2007. “Global and Regional Drivers of Accelerating CO2 Emissions.” Proceedings of the National Academy of Sciences 104 (24): 10288–93. Repetto, R. 2008. “The Climate Crisis and the Adaptation Myth.” School of Forestry and Environmental Studies Working Paper 13, Yale University, New Haven, CT. Robins, N., R. Clover, dan C. Singh.

2009. A Climate for Recovery: The Colour of Stimulus Goes Green. London, UK: HSBC. Rogers, D. 2009. “Environmental Information Services and Development.” Background note for the WDR 2010. Ruffle, B. J. 1998. “More Is Better, But Fair Is Fair: Tipping in Dictator and Ultimatum Games.” Games and Economic Behavior 23 (2): 247–65. Schaeffer, M., T. Kram, M. Meinshausen, D. P. van Vuuren, dan W. L. Hare. 2008. “Near-Linear Cost Increase to Reduce Climate Change Risk.” Proceedings of the National Academy of Sciences 105 (52): 20621–26. Scheffer, M., V. Brovkin, dan P. Cox. 2006. “Positive Feedback between Global Warming and Atmospheric CO2 Concentration Inferred from Past Climate Change.” Geophysical Research Letters 33: L10702–doi:10.1029/ 2005GL025044. Scherr, S. J., dan J. A. McNeely. 2008. “Biodiversity Conservation and Agricultural Sustainability: Towards a New Paradigm of Ecoagriculture Landscapes.” Philosophical Transactions of the Royal Society 363: 477–94. Schneider, L. 2007. Is the CDM Fulfilling Its Environmental and Sustainable Development Objective? An Evaluation of the CDM and Options for Improvement. Berlin: Institute for Applied Ecology. SEG (Scientific Expert Group on Climate Change). 2007. Confronting Climate Change: Avoiding the Unmanageable and Managing the Unavoidable. Washington, DC: Sigma Xi and the United Nations Foundation.

Gambaran Umum

Shalizi, Z. 2006. “Addressing China’s Growing Water Shortages and Associated Social and Environmental Consequences.” Policy Research Working Paper 3895, World Bank, Washington, DC. Shalizi, Z., dan F. Lecocq. 2009. “Economics of Targeted Mitigation Programs in Sectors with LongLived Capital Stock.” Policy Research Working Paper 5063, World Bank, Washington, DC. Smith, P., D. Martino, Z. Cai, D. Gwary, H. H. Janzen, P. Kumar, B. McCarl, S. Ogle, F. O’Mara, C. Rice, R. J. Scholes, O. Sirotenko, M. Howden, T. McAllister, G. Pan, V. Romanenkov, U. Schneider, S. Towprayoon, M. Wattenbach, dan J. U. Smith. 2008. “Greenhouse Gas Mitigation in Agriculture.” Philosophical Transactions of the Royal Society 363 (1492): 789–813. Smith, J. B., S. H. Schneider, M. Oppenheimer, G. W. Yohe, W. Hare, M. D. Mastrandrea, A. Patwardhan, I. Burton, J. Corfee-Morlot, C. H. D. Magadza, H.-M. Füssel, A. B. Pittock, A. Rahman, A. Suarez, dan J.-P. van Ypersele. 2009. “Assessing Dangerous Climate Change Through an Update of the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC): Reasons for Concern”. Proceedings of the National Academy of Sciences 106 (11): 4133–37. Snoussi, M., T. Ouchani, A. Khouakhi, dan I. Niang-Diop. 2009. “Impacts of Sea-level Rise on the Moroccan Coastal Zone: Quantifying Coastal Erosion and Flooding in the Tangier Bay.” Geomorphology 107 (1–2): 32–40. Stern, N. 2007. The Economics of Climate Change: The Stern Review.

Cambridge, UK: Cambridge University Press. Sterner, T. 2007. “Fuel Taxes: An Important Instrument for Climate Policy.” Energy Policy 35: 3194–3202. Sutter, C., dan J. C. Parreno. 2007. “Does the Current Clean Development Mechanism (CDM) Deliver its Sustainable Development Claim? An Analysis of Officially Registered CDM Projects.” Climatic Change 84 (1): 75–90. Swiss Re. 2007. “World Insurance in 2006: Premiums Came Back to ‘Life’.” Zurich: Sigma 4/2007. Tilman, D., J. Hill, dan C. Lehman. 2006. “Carbon-Negative Biofuels from Low-Input High-Diversity Grassland Biomass.” Science 314: 1598–1600. Tol, R. S. J. 2008. “Why Worry about Climate Change? A Research Agenda.” Environmental Values 17 (4): 437–70. Torn, M. S., dan J. Harte. 2006. “Missing Feedbacks, Asymmetric Uncertainties, and the Underestimation of Future Warming.” Geophysical Research Letters 33 (10): L10703– doi:10.1029/2005GL025540. Tschakert, P. 2004. “The Costs of Soil Carbon Sequestration: An Economic Analysis for Small-Scale Farming Systems in Senegal.” Agricultural Systems 81 (3): 227–53. UNEP (United Nations Environment Programme). 1990. Global Assessment of Soil Degradation. New York: UNEP. ———. 2008. Reforming Energy Subsidies: Opportunities to Contribute to the Climate Change Agenda. Nairobi: UNEP Division of Technology, Industry and Economics.



0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change). 2008. Investment and Financial Flows to Address Climate Change: An Update. Bonn: UNFCCC. Voluntary Carbon Standard. 2007. “Guidance for Agriculture, Forestry and Other Land Use Projects.” VCS Association, Washington, DC. von Braun, J., A. Ahmed, K. AsensoOkyere, S. Fan, A. Gulati, J. Hoddinott, R. Pandya-Lorch, M. W. Rosegrant, M. Ruel, M. Torero, T. van Rheenen, dan K. von Grebmer. 2008. “High Food Prices: The What, Who, and How of Proposed Policy Actions.” Policy Brief, International Food Policy Research Institute, Washington, DC. Walter, K. M., S. A. Zimov, J. P. Chanton, D. Verbyla, dan F. S. Chapin III. 2006. “Methane Bubbling from Siberian Thaw Lakes as a Positive Feedback to Climate Warming.” Nature 443: 71–75. Wardle, D. A., M.-C. Nilsson, dan O. Zackrisson. 2008. “Fire-derived Charcoal Causes Loss of Forest Humus.” Science 320 (5876): 629. WBGU (German Advisory Council on Global Change). 2009. Future Bioenergy and Sustainable Land Use. London: Earthscan. Westermeyer, W. 2009. “Observing the Climate for Development.” Background note for the WDR 2010. Wise, M. A., K. V. Calvin, A. M. Thomson, L. E. Clarke, B. BondLamberty, R. D. Sands, S. J. Smith, A. C. Janetos, dan J. A. Edmonds. 2009. The Implications of Limiting CO2 Concentrations for Agriculture, Land Use, Land-use Change Emissions and Bioenergy. Richland, WA: Pacific Northwest National Laboratory (PNNL).

Wolf, A. T., J. A. Natharius, J. J. Danielson, B. S. Ward, dan J. K. Pender. 1999. “International Basins of the World.” International Journal of Water Resources Development 15 (4): 387–427. World Bank. 2007a. East Asia Environment Monitor 2007: Adapting to Climate Change. Washington, DC: World Bank. ———. 2007b. India Groundwater AAA Mid-term Review. Washington, DC: World Bank. ———. 2007c. Making the Most of Scarcity: Accountability for Better Water Management Results in the Middle East and North Africa. Washington, DC: World Bank. ———. 2007d. World Development Report 2008. Agriculture for Development. Washington, DC: World Bank. ———. 2008a. The Caribbean Catastrophe Risk Insurance Facility: Providing Immediate Funding after Natural Disasters. Washington, DC: World Bank. ———. 2008b. South Asia Climate Change Strategy. Washington, DC: World Bank. ———. 2008c. World Development Indicators 2008. Washington, DC: World Bank. ———. 2009a. Improving Food Security in Arab Countries. Washington, DC: World Bank. ———. 2009b. Making Development Climate Resilient: A World Bank Strategy for Sub-Saharan Africa. Washington, DC: World Bank. ———. 2009c. The Economics of Adaptation to Climate Change. Washington, DC: World Bank. ———. 2009d. “World Bank Urban Strategy.” World Bank, Washington, DC.

Gambaran Umum

WRI (World Resources Institute). 2008. “Climate Analysis Indicators Tool (CAIT).” Washington, DC. Xia, J., L. Zhang, C. Liu, dan J. Yu. 2007. “Towards Better Water Security in North China.” Water Resources Management 21 (1): 233–47. Yohe, G. W., R. D. Lasco, Q. K. Ahmad, N. Arnell, S. J. Cohen, C. Hope, A. C. Janetos, dan R. T. Perez. 2007. “Perspectives on Climate

Change and Sustainability.” In Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, ed. M. L. Parry, O. F. Canziani, J. P. Palutikof, P. J. van der Linden, dan C. E. Hanson. Cambridge, UK: Cambridge University Press.





Laporan Pembangunan Dunia 2010

BAB

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

P

ada sekitar tahun 2200 Sebelum Masehi, pergeseran dalam angin barat Mediterania dan penurunan monsun India menghasilkan curah hujan dan suhu yang lebih rendah selama 300 tahun yang melanda pertanian dari kawasan Laut Aegea sampai Sungai Indus. Perubahan iklim ini meruntuhkan bangunan piramida Kerajaan Mesir Lama dan Kerajaan Besar Sargon di Mesopotamia.1 Hanya setelah beberapa tahun dari penurunan curah hujan, kotakota di sepanjang daerah utara sampai ke Eufrat, penghasil pangan bagi bangsa Akkadia, ditinggalkan. Di kota Tell Leilan di sebelah utara Eufrat, pembangungan monumen yang baru setengah jadi dihentikan.2 Dengan ditinggalkannya kota tersebut, lapisan debu yang tebal menutupi reruntuhannya. Bahkan Mesopotamia selatan yang memiliki irigasi yang intensif, dengan Pesan Kunci Tujuan pembangunan terancam oleh perubahan iklim, dengan dampak terberat pada negara-negara miskin dan rakyat miskin. Perubahan iklim tidak bisa dikendalikan kecuali pertumbuhan baik di negara-negara kaya maupun miskin menjadi kurang intensif gas rumah kaca. Kita harus bertindak sekarang: keputusan pembangunan negara mengunci dunia ke dalam padat karbon yang khusus dan menentukan pemanasan selanjutnya. Bisnis-sepertibiasanya dapat menyebabkan kenaikan suhu sampai 5ºC lebih pada abad ini. Dan kita harus bertindak bersama: menunda mitigasi di negara-negara berkembang dapat menggandakan biaya mitigasi, dan hal itu akan terjadi kecuali pendanaan substansial dimobilisasi. Akan tetapi jika kita bertindak sekarang dan bertindak bersama-sama, biaya tambahan untuk menjaga pemanasan pada tingkat 2ºC adalah sedikit dan dapat dibenarkan bila dihadapkan pada bahaya perubahan iklim yang lebih besar.

1

birokrasi yang canggih dan distribusi ransum yang kompleks, tidak dapat bereaksi dengan cukup cepat untuk menghadapi kondisi yang baru. Tanpa pengiriman gandum tadah hujan dari utara, dan menghadapi saluran-saluran irigasi yang kering dan imigran dari kotakota utara yang hancur, kerajaan tersebut juga runtuh.3 Masyarakat selalu bergantung pada iklim tetapi baru sekarang berhadapan dengan fakta bahwa iklim bergantung pada tindakan mereka. Peningkatan curam pada gas rumah kaca sejak Revolusi Industri telah mentransformasi kaitan antara manusia dengan lingkungan. Dengan kata lain, tidak hanya iklim yang memengaruhi pembangunan tetapi pembangunan juga memengaruhi iklim. Apabila tidak dikelola dengan baik, perubahan iklim akan membalikkan kemajuan pembangunan dan membahayakan kesejahteraan generasi sekarang dan masa depan. Adalah hal yang pasti jika bumi akan memanas secara rata-rata, dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dampaknya akan dirasakan di mana-mana, tetapi kerusakan terbesar akan terjadi di negara-negara berkembang. Jutaan orang dari Bangladesh sampai Florida akan menderita karena naiknya permukaan





Laporan Pembangunan Dunia 2010 Peta 1.1 Lebih dari satu miliar orang bergantung pada air dari gletser Himalaya yang terus menyusut



SUNGAI KUNING 150 juta INDUS 200 juta GANGGA 400 juta

BRAHMAPUTRA 60 juta

YANGTZE 450 juta

DELTA GANGGA BRAHMAPUTRA 120 juta IRRAWADDY 35 juta

SALWEEN MEKONG 60 juta 20 juta

Kepadatan populasi (orang/km persegi) 0–100

101–250

251–500

501–1000

Sungai

1001–2000

>2000

Tidak ada data

Cekungan sungai

Gletser

Sumber: Center for International Earth Science Information Network, http://sedac.ciesin.columbia.edu/gpw/global.jsp (diakses 15 Mei 2009); Armstrong dkk. 2005; ESRI 2002; tim Laporan Pembangunan Dunia. Catatan: Gletser Himalaya dan Plato Tibet yang mengatur suplai air sepanjang tahun di sebagian besar anak sungai yang menyokong pertanian dan populasi pedesaan, secara umum, dengan hasil pencairan antara 3 sampai 45 persen mengaliri sungai Gangga dan Indus. Simpanan air daam bentuk es dan balok salju yang berkurang akan mengakibatkan aliran yang deras dan banjir selama musim hujan dan kekurangan air selama musim panas, bulanbulan kering di mana air sangat dibutuhkan untuk pertanian. Lokasi gletser yang ditunjukkan pada peta hanya mengikutkan gletser yang luasnya lebih dari 1,5 km persegi. Angka menunjukkan berapa banyak penduduk yang tinggal di masing-masing aliran sungai.

l aut, meng genang i p emu k imanpemukiman dan mencemari air tawar.4 Variabilitas hujan yang lebih besar dan kekeringan yang parah di daerah semikering Afrika akan menghambat upaya perbaikan pengamanan pangan dan mengatasi kekurangan gizi.5 Hilangnya gletser di Himalaya dan Andes yang semakin cepat—yang menjadi sumber sungai, menghasilkan tenaga air, dan menyediakan air bersih untuk miliaran orang di pertanian dan perkotaan—akan mengancam penghidupan pedesaan dan pasar-pasar pangan utama (Peta 1.1).6 Itu l a h me ng ap a d ip e rlu k an tindakan yang krusial dengan segera. Walaupun perdebatan mengenai biaya dan keuntungan dari mitigasi perubahan iklim berlanjut, tekanannya sangatlah kuat bagi kita untuk melakukan tindakan langsung untuk menghindari peningkatan suhu yang tidak dapat dikelola. Hal yang

tidak dapat diterima dari dampakdampak yang tidak dapat dibalikkan dan berpotensi menimbulkan bencana dan ketidakpastian mengenai bagaimana dan seberapa cepat hal-hal tersebut dapat terjadi menuntut tindakan-tindakan yang berani. Inersia yang kuat dalam sistem iklim, lingkungan terbangun, dan perilaku individu-individu dan institusiinstitusi mengharuskan tindakan ini bersifat mendesak dan segera. S e l a m a d u a a b a d t e r a k h i r, keuntungan langsung dari pembangunan padat-karbon dikonsentrasikan terutama pada negara-negara berpendapatan tinggi. Ketidaksetaraan dalam distribusi global akan emisi masa lampau maupun masa kini, dan dalam kerusakan saat ini dan masa depan, sangatlah tajam (Figur 1.1; lihat juga Figur FA.6 Fokus A dan Gambaran Umum). Akan tetapi jika negara-negara bersedia untuk

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan



Figur 1.1 Emisi individu di negara-negara berpendapatan tinggi jauh lebih tinggi daripada di negara-negara berkembang CO2 per kapita dalam ton 30

25

Australia Kanada Amerika Serikat Brazil Federasi Rusia Jerman Jepang

Negara berpendapatan tinggi Negara berpendapatan sedang Negara berpendapatan rendah Emisi dari perubahan tata guna lahan

Inggris

20

Ukraina Italia Indonesia Afrika Selatan Perancis Republik Islam Iran Meksiko Turki Thailand

15

10

Peru Myanmar

Ghana

Irak; Colombia Republik Demokratik Kongo Aljazair Nigeria Republik Arab Mesir Filipina China

Vietnam Pakistan Ethiopia Tanzania Bangladesh Sudan Chad; Kenya; Niger; Rwanda

Uganda

5 India 0 0,30

0,19

0,13

0,22

0,10

1,32

0,15

1,13

0,16

0,16

Populasi (dalam miliar) Sumber: Emisi gas rumah kaca pada 2005 dari WRI 2008, diaugmentasikan dengan perubahan emisi tata guna lahan dari Houghton 2009; populasi dari World Bank 2009c. Catatan: Lebar setiap kolom menggambarkan populasi dan tingginya adalah emisi per kapita, jadi luasnya menggambarkan dari emisi total. Emisi per kapita Qatar (55,5 ton karbon dioksida ekuivalen per kapita); UEA (38,8), dan Bahrain (25,4)—lebih tinggi dari sumbu y—tidak ditunjukkan. Di antara negara-negara besar, Brazil, Indonesia, Republik Demokratik Kongo, dan Nigeria mempunyai emisi energi relatif yang rendah tetapi mempunyai emisi signifikan dari perubahan tata guna lahan; oleh karenanya, pembagian dari perubahan tata guna lahan diindikasikan oleh arsiran.

mengambil tindakan, tersedia insentif ekonomi bagi suatu transaksi global. Jendela kesempatan untuk memilih kebijakan-kebijakan yang tepat untuk mengatasi per ubahan ik lim dan meningkatkan pembangunan mulai tertutup. Semakin jauh negara-negara mengikuti jalur emisi saat ini, semakin sulit untuk mengalihkan arah dan mengubah infrastruktur, ekonomi, d an gaya hidup. Negara-negara berpendapatan tinggi harus menghadapi dengan kepala tegak tugas memotong emisinya sendiri dengan membentuk kemb a li ling kungan-ling kungan terbangun dan perekonomian. Negaranegara tersebut juga perlu untuk memulai dan membiayai transisi ke pertumbuhan rendah karbon pada negara-negara berkembang. Penerapan yang lebih

baik dari praktik-praktik yang telah diketahui dan transformasi mendasar— dalam manajemen sumber daya alam, penyediaan energi, urbanisasi, jaring pengaman sosial, transfer finansial internasional, inovasi teknologi, dan tata kelola—baik internasional maupun nasional—diperlukan untuk mengatasi tantangannya. Meningkatkan kesempatan dan kesejahteraan materi masyarakat, tanpa merongrong keberlanjutan pembangunan, masih merupakan t ant angan ut ama b ag i s ejum la h besar negara di dunia, seiring suatu krisis finansial dan ekonomi sedang menyebabkan malapetaka di seluruh dunia. Menstabilkan pasar finansial dan melindungi ekonomi riil, pasar tenaga kerja, dan kelompok-kelompok



Laporan Pembangunan Dunia 2010

yang rentan adalah prioritas yang paling utama. Akan tetapi dunia harus mengeksploitasi momen kesempatan ini untuk melakukan kerja sama internasional dan intervensi domestik untuk mengatasi p ermasalahanpermasalahan pembangunan lainnya. Di antara masalah-masalah tersebut, dan yang menjadi prioritas utama, adalah perubahan iklim.

Perubahan iklim yang tidak dimitigasi tidaklah sesuai dengan pembangunan yang berkelanjutan Pembangunan yang berkelanjutan secara sosial, ekonomi, dan lingkungan merupakan suatu tantangan, bahkan tanpa adanya pemanasan global. Per tumbu han ekonomi memang diperlukan, tetapi pertumbuhan ekonomi saja tidaklah cukup jika pertumbuhan tersebut tidak mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesetaraan dalam hal kesempatan. Dan kegagalan dalam menjaga lingkungan pada akhirnya mengancam pencapaian ekonomi dan sosial. Hal-hal tersebut tidaklah baru. Hal-hal tersebut hanya menggemakan apa yang masih, setelah lebih dari 20 tahun, mungkin menjadi definisi pembangunan berkelanjutan yang paling banyak digunakan: “pembangunan yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan saat ini tanpa merusak kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka.”7 Sesuai definisi, maka, perubahan iklim yang tidak dimitigasi tidaklah sesuai dengan pembangunan yang berkelanjutan.

Perubahan iklim mengancam akan membalikkan keuntungankeuntungan pembangunan Sekitar 400 juta orang terlepas dari kemiskinan antara tahun 1990 dan

2005, sampai pada estimasi terakhir8— walaupun krisis finansial global melanda dan lonjakan harga pangan antara 2005 dan 2008 telah membalikkan beberapa pencapaian tersebut.9 Sejak 1990 tingkat kematian bayi menurun dari 106 per 1.000 kelahiran menjadi 83.10 Namun, hampir setengah dari populasi negaranegara berkembang (48 persen) masih berada dalam kemiskinan, dengan pendapatan kurang dari $2 per hari.11 Hampir seperempatnya—1,6 miliar— tidak memiliki akses ke listrik,12 dan satu dari enam kekurangan akses ke air bersih.13 Sekitar 10 juta anak balita masih meninggal setiap tahunnya karena penyakit-penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan diobati seperti infeksi pernapasan, campak, dan diare.14 Selama setengah abad terakhir, penggunaan sumber daya alam (di antaranya adalah bahan bakar fosil) telah mendukung perbaikan dalam hal kesejahteraan, tetapi saat disertai dengan degradasi sumber daya dan perubahan iklim, maka penggunaan tersebut tidak berkelanjutan. Dengan mengabaikan lingkungan alami dalam mengejar pertumbuhan, manusia telah membuat mereka sendiri rentan terhadap bencana alam (lihat Bab 2). Dan orang-orang yang paling miskin sering kali bergantung secara langsung pada sumber daya alam sebagai mata pencaharian mereka. Sekitar 70 persen orang-orang yang sangat miskin di dunia ini hidup di daerah pedesaan. Pada 2050, populasi global akan mencapai 9 miliar pada tahun 2050, pembatasan substansial dalam tren demografi, dengan 2,5 miliar lebih penduduk di negara-negara berkembang. Populasi yang lebih besar akan lebih membebani ekosistem dan sumber daya alam, memperketat kompetisi untuk lahan dan air, dan meningkatkan

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

permintaan akan energi. Peningkatan populasi terutama akan terjadi di kotakota, yang dapat membantu membatasi degradasi sumber daya alam dan konsumsi energi individual. Akan tetapi keduanya dapat meningkat, bersamaan dengan kerentanan umat manusia, jika urbanisasi tidak dikelola dengan baik. Perubahan iklim menimbulkan beban tambahan pada pembangunan.15 Dampak-dampaknya telah dapat dilihat, dan bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa masalahnya semakin memburuk dengan cepat, dengan jalur emisi gas rumah kaca (GRK) saat ini dan naiknya permukaan laut jauh lebih cepat dibandingkan proyeksi sebelumnya.16 Dan gangguannya terhadap sistem

sosioekonomi dan alam terjadi bahkan saat ini—yaitu, bahkan lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya (lihat Fokus A Ilmu perubahan Iklim). 17 Perubahan suhu dan rata-rata curah hujan dan lebih bervariasi, tidak dapat diprediksi, atau iklim ekstrem dapat mengubah hasil panen, pendapatan, kesehatan, dan keamanan fisik saat ini, dan pada akhirnya akan mengubah jalur dan tingkat dari pembangunan masa depan. Perubahan iklim akan memengaruhi banyak sektor dan lingkungan produktif, termasuk pertanian, kehutanan, energi, dan zona-zona pesisir pantai, di negara-negara maju dan berkembang. Perkembangan ekonomi akan lebih

Peta 1.2 Negara-negara kaya juga dipengaruhi oleh iklim yang tidak normal: Gelombang panas tahun 2003 membunuh lebih dari 70.000 orang di Eropa

Angka kematian Terpengaruh Tidak terpengaruh

UNITED KINGDOM 301

THE NETHERLANDS BELGIUM 1,175

965 GERMANY 9,355

LUXEMBOURG 166

SWITZERLAND 1,039

SLOVENIA 289

CROATIA 788

FRANCE 19,490 ITALY 20,089

PORTUGAL 2,696 SPAIN 15,090

Sumber: Robine dkk. 2008. Catatan: Kematian yang diakibatkan oleh gelombang panas merupakan kematian yang diestimasikan menjadi lebih tinggi dari yang akan terjadi tanpa adanya gelombang panas, didasarkan pada tren mortalitas dasar rata-rata.





Laporan Pembangunan Dunia 2010

terpengaruh oleh perubahan iklim, sebagian karena paparan mereka yang lebih besar terhadap goncangan iklim, dan sebagian lain karena kapasitas adaptif mereka yang rendah. Akan tetapi tidak ada negara yang kebal. Gelombang panas di musim panas tahun 2003 membunuh lebih dari 70.000 jiwa di lusinan negara di Eropa (Peta 1.2). Epidemik kumbang pinus di hutanhutan barat Kanada, sebagian merupakan konsekuensi dari musim dingin yang lebih hangat, menghancurkan industri kayu, mengancam mata pencaharian dan kesehatan komunitas-komunitas terpencil, dan memerlukan biaya dari pemerintah bernilai jutaan dolar untuk proses penyesuaian dan pencegahan.18 Upaya-upaya untuk beradaptasi pada ancaman-ancaman masa depan yang serupa, di negara-negara maju dan berkembang, akan memerlukan biaya manusia dan ekonomis bahkan jika upaya tersebut tidak dapat menghilangkan semua kerusakan langsung. Pemanasan dapat memberikan dampak besar, baik pada tingkat maupun pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), setidaknya di negara-negara miskin. Pengamatan terhadap variasi suhu dari tahun ke tahun (relatif terhadap rata-rata negaranya) menunjukkan bahwa tahun-tahun dengan panas yang tidak normal mengurangi baik laju tingkat pertumbuhan PDB saat itu maupun tahun berikutnya di negaranegara berkembang. 19 Tahun-tahun dengan panas tidak normal yang berturutan dapat diperkirakan mengarah pada adaptasi, mengurangi dampakdampak ekonomi terhadap pemanasan, walaupun negara-negara berkembang dengan tren pemanasan yang lebih nyata memiliki laju pertumbuhan yang lebih rendah.20 Bukti dari Afrika Sub-Sahara mengindikasikan variabilitas curah

hujan, yang diproyeksikan meningkat secara substansial, juga mengurangi PDB dan meningkatkan kemiskinan.21 Produktivitas pertanian adalah salah satu faktor penyebab kerentanan yang lebih besar bagi negara-negara berkembang (lihat Bab 3, Peta 3.3). Di Eropa Utara dan Amerika Utara, hasil panen dan pertumbuhan hutan mungkin meningkat jika tingkat pemanasan dan penyuburan karbon dioksida (CO2) rendah.22 Akan tetapi di China dan Jepang, hasil panen beras, yang merupakan kebutuhan pokok global, kemungkinan akan menurun, sementara di Asia Tengah dan Selatan hasil panen gandum, jagung, dan beras akan sulit mendapatkan hasil yang baik.23 Prospek untuk hasil panen dan ternak di dataran semi-kering tadah hujan di Afrika SubSahara juga suram, bahkan sebelum pemanasan rata-rata mencapai 2−2,5°C di atas tingkat praindustri.24 Perlambatan dalam peningkatan produktivitas beras di India pasca1980 (dari Revolusi Hijau—Green Revolution—tahun 1960) dapat dibilang disebabkan tidak hanya oleh jatuhnya harga beras dan infrastruktur irigasi yang memburuk, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, tetapi juga karena fenomena iklim yang merugikan dari polusi lokal dan pemanasan global.25 Dengan melakukan ekstrapolasi dari variasi tahun-ke-tahun yang lalu pada iklim dan hasil pertanian, hasil panen dari pertanian utama di India diproyeksikan menurun 4,5 sampai 9 persen dalam tiga dekade ke depan, bahkan jika adaptasi-adaptasi jangka pendek tetap dilakukan. 26 Implikasinya dari iklim seperti itu terhadap kemiskinan—dan PDB—bisa jadi sangat besar dengan mempertimbangkan pertumbuhan populasi yang diproyeksikan dan bukti bahwa satu persen dari pertumbuhan

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

PDB pertanian di negara berkembang meningkatkan konsumsi dari populasi sepertiga kaum termiskin sebanyak empat sampai enam persen.27 Dampak dari perubahan iklim terhadap kesehatan menambah daftar kerugian bagi manusia dan ekonomi, terutama di negara-negara berkembang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa perubahan iklim mengakibatkan kerugian sebesar 5,5 juta disability adjusted life years (DALY) pada tahun 2000—84 persen di antaranya berada di Afrika SubSahara dan Asia Timur dan Selatan.28 Seiring dengan kenaikan suhu, jumlah orang yang terkena malaria dan demam berdarah akan meningkat, dengan bebannya terutama ditanggung oleh negara-negara berkembang. 29 Tingkat terjadinya kekeringan, yang diproyeksikan meningkat di Sahel dan tempat-tempat lain, berkorelasi kuat dengan epidemi meningitis di masa lalu di Afrika Sub-Sahara.30 Hasil panen pertanian yang menurun di beberapa kawasan akan meningkatkan angka kekurangan gizi, mengurangi kekebalan terhadap penyakit. Beban dari wabah diare karena perubahan iklim saja diproyeksikan meningkat sampai 5 persen di tahun 2020 di negara-negara dengan pendapatan per kapita di bawah $6.000. Suhu yang lebih tinggi kemungkinan akan meningkatkan penyakit kardiovaskular, terutama di negara-negara tropis tetapi juga di daerah lintang yang lebih tinggi (dan berpendapatan lebih tinggi)—lebih daripada mengimbangi berkurangnya angka kematian akibat serangan dingin.31 Tren iklim, variabilitas, dan guncangan-guncangan yang buruk tidak membeda-bedakan masyarakat berdasarkan pendapatannya, tetapi

orang-orang dan komunitas yang berpendapatan lebih baik dapat lebih sukses dalam mengatasi kemundurankemundurannya (Peta 1.3). Ketika Badai Mitch menyapu seluruh Honduras tahun 1998, lebih banyak rumah tangga yang kaya terkena dampaknya dibandingkan yang miskin. Akan tetapi rumah tangga miskin secara proporsional kehilangan lebih banyak: di antara rumah tangga yang terkena dampaknya, mereka yang miskin kehilangan 15 sampai 20 persen aset mereka, sementara yang kaya kehilangan hanya 3 persen.32 Dampak jangka panjangnya juga lebih besar: semua rumah tangga menderita penurunan akumulasi aset, tetapi penurunan ini lebih dirasakan untuk rumah tangga yang lebih miskin.33 Dan dampaknya bervariasi menurut gender (Kotak 1.1): rumah tangga dengan kepala keluarga laki-laki, dengan akses yang lebih besar pada tempat tinggal dan pekerjaan yang baru, membutuhkan periode yang lebih singkat di penampungan pascabencana dibandingkan dengan rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan, yang berjuang untuk dapat bangkit kembali dan tetap tinggal di tempat penampungan lebih lama.34 Sebuah siklus kejatuhan ke dalam kemiskinan dapat muncul dari kombinasi perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan kegagalan-kegagalan pasar dan institusional. Siklusnya dapat diawali oleh kehancuran ekosistem pesisir pantai secara gradual, curah hujan yang lebih sulit diprediksi, atau musim badai yang lebih ekstrem.35 Sementara bencana alam berskala besar menyebabkan guncanganguncangan yang terlihat jelas, guncanganguncangan kecil tetapi berulang atau pergeseran yang halus pada distribusi curah hujan sepanjang tahun juga dapat menghasilkan perubahan kesejahteraan yang curam dan menetap.



Laporan Pembangunan Dunia 2010

0

Peta 1.3 Perubahan iklim akan meningkatkan kemiskinan di sebagian besar Brazil, terutama di kawasan-kawasan termiskinnya

Pendapatan median ($PPP)

Dampak perubahan iklim terhadap kemiskinan (persentase poin)

< 4000

4001–5000

5001–6000

6001–7000

-4–0

0–1

1–2

2–3

7001–8000

8001–10000

>10000

Tidak ada data

3–4

4–5

>5

Tidak ada data

Sumber: Center for International Earth Science Information Network, http://sedac.ciesin.columbia.edu/gpw/global.jsp (diakses 15 Mei 2009); Dell, Jones, dan Olken 2009; Assunçao dan Chein 2008. Catatan: Dampak perubahan iklim terhadap kemiskinan diestimasikan untuk pertengahan abad ke-21 didasarkan pada penurunan terproyeksi pada hasil panen sebesar 18 persen. Perubahan pada kemiskinan ditunjukkan dalam persentase poin; sebagai contoh, tingkat kemiskinan di timurlaut, diestimasikan sebesar 30 persen (didasarkan pada $1 per hari dengan data tahun 2000), dapat meningkat sebesar 4 persentase poin menjadi 34 persen. Perkiraan membolehkan migrasi internal, dengan hasil kemiskinan imigran dihitung dalam pengiriman kota madya.

Bukti empiris pada jebakan-jebakan kemiskinan—didefinisikan sebagai konsumsi yang secara permanen berada di bawah ambang batas tertentu—ada beragam.36 Akan tetapi ada bukti yang semakin kuat mengenai pemulihan aset fisik dan pertumbuhan modal manusia yang lebih lambat bagi orang-orang miskin setelah terjadi guncangan. Di Ethiopia, sebuah guncangan negatif pada curah hujan menekan konsumsi bahkan setelah empat sampai lima tahun.37 Di Brazil, kekeringan telah secara signifikan mengurangi upah di pedesaan untuk jangka pendek; dan di tahun-tahun berikutnya, upah dari pekerja yang terkena dampak tersebut baru dapat mencapai upah pada tingkat yang sama setelah lima tahun.38 Selain itu, akses yang terbatas pada kredit, asuransi, atau jaminan utang menghambat kesempatan bagi

rumah tangga miskin untuk membuat investasi yang produktif, atau menuntun mereka untuk memilih investasi dengan risiko kecil dan pengembalian kecil untuk berjaga-jaga dalam mengadapi guncangan-guncangan masa depan.39 Di pedesaan di seluruh India, petani-petani miskin telah melakukan mitigasi risiko iklim dengan melakukan investasi aset dan teknologi dengan sensitivitas yang rendah terhadap variasi curah hujan, tetapi juga pengembalian rata-rata yang rendah, sehingga mengunci pola-pola ketidaksetaraan.40 Guncangan-guncangan iklim juga dapat memengaruhi kesehatan dan pendidikan masyarakat secara permanen. Penelitian di Pantai Gading, yang mengaitkan pola curah hujan dan investasi dalam pendidikan anak, menunjukkan bahwa di kawasankawasan dengan variabilitas cuaca

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

KOTAK 1.1



Memberdayakan wanita meningkatkan hasil adaptasi dan mitigasi

Pengalaman wanita dan pria terhadap perubahan iklim berbeda-beda. Dampak perubahan iklim dan kebijakan-kebijakan tidak netral-gender karena perbedaan respons, kerentanan, dan kapasitas untuk mitigasi dan adaptasi. Pola berbasis gender terhadap kerentanan dibentuk oleh nilai dan hak aset, akses pada layanan keuangan, tingkat pendidikan, jaringan sosial, dan partisipasi dalam organisasi lokal. Dalam beberapa situasi, wanita lebih rentan terhadap guncanganguncangan iklim terhadap mata pencaharian dan keselamatan fisik—tetapi ada bukti bahwa dalam konteks di mana wanita dan pria mempunyai kesetaraan hak ekonomi dan sosial, bencana tidak mendiskriminasi. Keterlibatan dan partisipasi wanita dalam pembuatan keputusan dapat mengarah pada lingkungan yang lebih baik dan hasil mata pencaharian yang menguntungkan semuanya. Partisipasi wanita dalam manajemen bahaya menyelamatkan nyawa Kesejahteraan masyarakat sebelumnya, selama, dan sesudah episode ekstrem iklim dapat diperbaiki dengan melibatkan wanita dalam persiapan bencana dan rehabilitasi. Tidak seperti komunitas pada umumnya, yang menyaksikan banyak kematian, La Masica, Honduras, dilaporkan tidak mengalami korban jiwa selama dan setelah Topan Mitch pada tahun 1998. Pendidikan komunitas sensitif gender pada sistem peringatan dini dan manajemen bahaya yang disediakan oleh agen bencana enam bulan sebelum topan berkontribusi terhadap pencapaian ini. Walaupun baik pria dan wanita berpartisipasi dalam aktivitas manajemen bahaya, akhirnya, wanita mengambil alih tugas pemantauan berkala sistem peringatan dini. Kewaspadaan mereka yang meningkat dan manajemen kapasitas memungkinkan kota madya untuk segera melakukan evakuasi. Pelajaran tambahan dari masa pemulihan pascabencana

y ang l e bi h b e s ar d ib and i ng k an umumnya, tingkat pendaftaran sekolah menurun 20 persen baik untuk lakilaki maupun perempuan.41 Dan ketika diperparah dengan masalah-masalah lain, guncangan-guncangan lingkungan

mengindikasikan bahwa menempatkan wanita untuk bertanggung jawab terhadap sistem distribusi makanan menghasilkan sedikit tingkat korupsi dan distribusi makanan yang lebih terpercaya. Partisipasi wanita menaikkan keanekaragaman hayati dan memperbaiki manajemen air Antara tahun 2001 dan 2006, Zammour yang berlokasi di Tunisia mengalami peningkatan pada area vegetasi, pelestarian keragaman hayati, dan stabilisasi erosi tanah pada ekosistem pegunungan—hasil dari program antidesertifikasi yang mengundang wanita untuk berbagi pandangannya selama kosultasi, menggabungkan pengetahuan wanita-wanita lokal untuk manajemen air, dan yang telah dilakukan oleh wanita. Proyek tersebut menilai dan menerapkan metode mengawetkan dan mengumpulkan air hujan yang inovatif dan efektif, seperti menanam di bebatuan untuk mengurangi penguapan air untuk irigasi, dan menanam spesies pohon buah-buahan lokal untuk menstabilkan erosi lahan. Partisipasi wanita meningkatkan ketahanan pangan dan melindungi hutan Di Guatemala, Nikaragua, El Salvador, dan Honduras, wanita telah menanam 400.000 pohon kacang maya sejak 2001. Selain meningkatkan ketahanan pangan, wanita dan keluarganya dapat menguntungkan perubahan iklim keuangan, seperti mensponsori Equilibrium Fund mengejar peluang perdagangan karbon dengan Amerika Serikat dan Eropa. Di Zimbabwe, wanita memimpin lebih dari setengah dari 800.000 jumlah rumah tangga petani yang hidup di daerah pedesaan, di mana kelompok wanita mengelola sumber daya hutan dan proyek pengembangan penanaman pohon, pengembangan kebun bibit, serta kepemilikan dan pengelolaan lahan kayu.

Wanita menunjukkan sekurangnya setengah dari pekerja pertanian di dunia, dan wanita serta remaja yang masih bertanggung jawab secara dominan untuk pengumpulan air dan kayu bakar. Potensi mitigasi dan adaptasi, khususnya pada sektor pertanian dan kehutanan, tidak dapat disadari secara penuh tanpa memgikutsertakan pengalaman wanita dalam mengelola sumber daya alam, termasuk pengetahuan tradisional dan efisiensi penggunaan sumber daya. Partisipasi wanita mendukung kesehatan publik Di India, penduduk pedalaman mengetahui obatobat herbal dan semak belukar dan memakainya untuk keperluan terapi. Wanita pedalaman, seperti perawat alami, umumnya cukup berpengetahuan dan dapat mengidentifikasi hampir 300 spesies tanaman hutan yang bermanfaat. Secara global, baik di Amerika Tengah, Afrika Utara, atau Afrika Selatan, program adaptasi dan mitigasi sensitif-gender menunjukkan perkembangan yang dapat diukur: keterlibatan penuh wanita dalam pengambilan keputusan dapat dan akan menyelamatkan nyawa, melindungi sumber daya alam yang rapuh, mengurangi gas rumah kaca, dan membangun ketahanan untuk generasi sekarang dan masa depan. Mekanisme pendanaan untuk pencegahan bencana, adaptasi, dan mitigasi akan tetap tidak mencukupi kecuali dengan mengintegrasikan partisipasi wanita secara penuh—suara dan tangan—dalam perancangan, pengambilan keputusan, dan pengimplementasian. Sumber: Disumbangkan oleh Nilufar Ahmad, berdasarkan Parikh 2008; Lambrou dan Laub 2004; Neumayer dan Plumper 2007; Smyth 2005; Aguilar 2006; UNISDR 2007; UNDP 2009; dan Martin 1996.

dapat menghasilkan efek jangka panjang. Orang-orang yang terpapar kekeringan dan pertikaian sipil di Zimbabwe selama awal masa anak-anak (antara umur 12 dan 24 bulan) mengalami kehilangan tinggi badan 3,4 sentimeter,



Laporan Pembangunan Dunia 2010

1 tahun sekolah yang lebih sedikit, dan hampir enam bulan keterlambatan memulai sekolah. Dampaknya terhadap pendapatan seumur hidup diperkirakan sebesar 14 persen, perbedaan yang besar bagi seseorang yang hidup dekat dengan garis kemiskinan. 42

Menyeimbangkan pertumbuhan dan mengevaluasi pertukaran kebijakan dalam perubahan iklim Pertumbuhan: Mengubah jejak karbon dan kerentanan. Pada tahun 2050 nanti, sejumlah besar populasi di negara-negara berkembang saat ini akan memiliki gaya hidup kelas menengah. Akan tetapi planet ini tidak mampu menyokong 9 miliar orang dengan jejak karbon ratarata untuk warga negara kelas menengah dalam dunia yang sekarang. Emisi tahunan akan mendekati tiga kali lipat dari yang sekarang. Lebih lanjut lagi, tidak semua pembangunan meningkatkan ketahanan: pertumbuhan mungkin tidak terjadi cukup cepat dan dapat menciptakan kerentanan-kerentanan baru bahkan jika pertumbuhan tersebut mengurangi kerentanan lainnya. Dan kebijakan-kebijakan perubahan iklim yang tidak dirancang dengan baik dapat menjadi ancaman bagi pembangunan yang berkelanjutan. Namun, menghilangkan kesempatan bagi orang-orang miskin di dunia untuk meningkatkan tingkat pendapatan mereka semata-mata karena orang kaya telah mencapai puncaknya terlebih dahulu tidaklah dapat diterima baik secara etis maupun politis. Negara-negara berkembang saat ini menyumbang setengah dari emisi gas rumah kaca tahunan, tetapi memiliki hampir 85 persen dari populasi dunia; jejak karbon yang berkaitan dengan energi dari rata-rata warga negara di

negara-negara berpenghasilan rendah atau menengah masing-masing adalah sekitar 1,3 atau 4,5 metrik ton karbon dioksida ekuivalen (CO2), dibandingkan dengan 15,3 di negara-negara maju.43 Terlebih lagi, jumlah emisi masa lalu— dan dengan demikian adalah jumlah gasgas rumah kaca yang ada di atmosfer saat ini—merupakan tanggung jawab negaranegara maju. 44 Mengatasi ancaman perubahan iklim terhadap kesejahteraan umat manusia tidak hanya bergantung pada pembangunan yang cerdasiklim—meningkatkan pendapatan dan ketahanan seiring mengurangi emisi relatif terhadap peningkatan yang diproyeksikan. Diperlukan juga kemakmuran yang cerdas iklim di negara-negara maju—dengan ketahanan yang lebih tinggi dan reduksi mutlak dalam emisi. B u kt i m e nu nj u k k a n b a hw a kebijakan dapat membuat perubahan b esar terhadap bagaimana jejak karbon berubah seiring bertambahnya pendapatan. 45 Jejak karbon rata-rata penduduk di negara-negara kaya, ter masuk pro dus en minyak dan negara kepulauan kecil, yang berbeda bervariasi dengan faktor sebesar dua belas, begitu juga intensitas energi dari PDB,46 menandakan bahwa jejak karbon tidak selalu meningkat seiring dengan meningkatnya pendapatan. Dan negara-negara yang ekonominya sedang berkembang saat ini menggunakan energi per kapita yang jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat pada tingkat pendapatan yang sama, sehingga menunjukkan potensi untuk pertumbuhan yang lebih rendah karbon.47 Adaptasi dan mitigasi harus diintegrasikan ke dalam strategi pembangunan cerdas iklim yang meningkatkan ketahanan, mengurangi

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

ancaman akan p emanasan lebih lanjut, dan meningkatkan hasil-hasil pembangunan. L angkah-langkah adaptasi dan mitigasi dapat mempercepat pembangunan, dan kemakmuran dapat meningkatkan pendapatan dan membantu perkembangan institusiinstitusi dengan lebih baik. Populasi yang lebih sehat hidup dalam rumahrumah yang dibangun dengan lebih baik dengan akses pada pinjaman bank dan keamanan sosial yang lebih lengkap untuk menghadapi perubahan iklim dan konsekuensinya. Mempercepat kebijakan-kebijakan pembangunan yang kuat dan berdaya tahan dan yang mendorong proses adaptasi harus dilakukan hari ini juga karena perubahan iklim, yang telah dimulai, akan meningkat bahkan dalam waktu dekat. Persebaran kemakmuran ekonomi dan adaptasi untuk kondisi ekologi yang berubah selalu saling berkaitan dengan adaptasi sampai pada kondisi ekologi yang berubah. Namun, seiring pertumbuhan telah mengubah lingkungan, dan perubahan lingkungan telah berlangsung semakin cepat, mempertahankan pertumbuhan dan kemampuan adaptasi menuntut kapasitas yang lebih besar untuk memahami lingkungan kita, menghasilkan teknologi-teknologi dan praktik-praktik adaptif baru, dan menyebarkannya secara luas. Seperti yang telah dijelaskan oleh para pakar sejarah ekonomi, banyak potensi kreatif umat manusia telah diarahkan pada adaptasi ke dunia yang berubah.48 Akan tetapi adaptasi tidak dapat mengatasi semua dampak yang terkait dengan perubahan iklim, terutama karena perubahan-perubahan besar yang baru akan terungkap pada jangka panjang (lihat Bab 2).49 Negara-negara tidak dapat tumbuh dengan lancar secara cukup cepat untuk

menyesuaikan diri mereka terhadap perubahan iklim. Dan beberapa strategi pertumbuhan, entah yang dikendalikan oleh pemerintah atau oleh pasar, dapat juga menambah kerentanan—khususnya jika mereka mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Di dalam rencana pembangunan Soviet, budidaya kapas dengan irigasi membentang di Asia Tengah yang memiliki keterbatasan air dan hampir menyebabkan hilangnya Laut Aral, mengancam mata pencaharian para nelayan, penggembala, d a n p e t a n i . 50 D a n p e m b u k a a n l a h an hut an b a k au — p e ny ang g a alami pesisir pantai dari serangan badai—bagi terlaksananya pertanian udang intensif atau pembangunan perumahan meningkatkan kerentanan fisik permukiman-permukiman pesisir pantai, baik di Guinea maupun di Lousiana. Guncangan-guncangan iklim dapat memberikan ketegangan pada infrastruktur yang secara normal m e m a d a i a t a u m e ny i n g k a p k a n kelemahan-kelemahan institusional yang sebelumnya tak teruji, bahkan di negaranegara dengan pertumbuhan yang pesat dan pendapatan tinggi. Sebagai contoh, walaupun pertumbuhan ekonomi yang mengagumkan selama lebih dari dua dekade, dan sebagian karena mengiringi transisi pasar tenaga kerja, jutaan pekerja migran di China terdampar selama badai salju intens yang tak terduga pada Januari 2008 (Peta 1.4). Sistem kereta api luluh lantak saat para pekerja pulang ke rumah mereka untuk merayakan Tahun Baru China, menerlantarkan jutaan orang, sementara provinsi-provinsi di selatan dan pusat menderita kekurangan makanan dan pemadaman listrik. Badai Katrina menerjang Amerika Serikat yang tidak memiliki persiapan dan perlengkapan yang memadai,



Laporan Pembangunan Dunia 2010



Peta 1.4 Badai pada Januari 2008 di China memberi gangguan yang parah terhadap mobilitas, pilar pertumbuhan ekonomi China

Beijin g

D.P.R. OF KOREA

Tianji n Shijiazhuang Jinan

Lanzhou

Jinghu Line Xi’an

Longhai Line

Zhengzhou

Qingda o

Luoyang Nanjin g Hefei

Jingguang Line

Chengd u

Suzhou

Shanghai Hangzhou

Wuhan

Chongqin g

Nanchan g

Changsha

Jingjiu Line

Fuzhou

Guangzhou Shenzhen

VIETNAM LAO P.D.R.

Provinsi terdampak Minimal/tidak terdampak Terdampak sedang Terdampak parah

Tinggi Sedang Rendah

Alur perjalanan dari daerah pantai ke daerah pedesaan Jalur kereta api Jalur transportasi mayoritas penduduk

Sumber: ACASIAN 2004; Chan 2008; Huang dan Magnoli 2009; United States Department of Agriculture Foreign Agricultural Service, Commodity Intelligence Report, 1 Februari 2008, http://www.pecad.fas.usda.gov.high-lights/2008/02/MassiveSnowStorm. htm (diakses 14 Juli 2009); Menteri Komunikasi, Government of the People’s Republic of China, “The Guarantee Measures and Coutermeasures for Extreme Snow and Rainfall Weather,” 1 Februari 2008, http://www.china.org.cn/e-news/news080201-2.htm (diakses 14 Juli 2009). Catatan: Lebar panah menunjukkan estimasi ukuran daerah alur perjalanan selama liburan Tahun Baru China, didasarkan pada perputaran alur migrasi pekerya yang diestimasi. Total migrasi internal diestimasikan sekitar 130 juta dan 180 juta orang. Penilaian kerusakan akibat badai didasarkan pada curah hujan kumulatif pada bulan Januari dan Chinese news serta komunikasi pemerintah pada saat badai terjadi.

menunjukkan bahwa kemakmuran yang stabil selama beberapa dekade tidak senantiasa menghasilkan perencanaan yang baik (dan lebih jauh lagi, adaptasi yang baik). Pendapatan rata-rata yang lebih tinggi juga tidak menjamin adanya perlindungan bagi komunitas-komunitas yang paling miskin. Kebijakan-kebijakan mitigasi—untuk keadaan yang lebih baik ataupun lebih buruk. Kebijakan-kebijakan mitigasi dapat dieksploitasi untuk memberikan keuntungan-keuntungan ekonomi

sampingan selain reduksi emisi, dan dapat menciptakan kesempatankesempatan lokal dan regional. Biofuel dapat membuat Brazil menjadi negara penghasil energi yang besar di masa depan—produksi etanolnya telah berlipat ganda sejak pergantian abad ini.51 Suatu bagian besar dari tenaga air yang belum tereksploitasi terletak di negara-negara berkembang, termasuk Afrika SubSahara (Peta 1.5). Dan Afrika Utara dan Timur Tengah, yang menikmati sinar matahari sepanjang tahun, akan diuntungkan dari permintaan tenaga surya dari negara-negara Eropa (lihat Bab 4, Kotak 4.15).52 Walaupun demikian, keuntungan bersaing dalam produksi energi terbarukan di banyak negara masih belum dieksploitasi dengan optimal, dibuktikan dengan perkembangan produksi tenaga surya di Eropa Utara daripada di Afrika Utara. Akan tetapi kebijakan-kebijakan mitigasi dapat juga menyebabkan kesalahan dan mengurangi kesejahteraan jika efek-efek sampingnya tidak dipertimbangkan dalam perancangan dan pelaksanaan. Relatif terhadap produksi etanol selulosa yang lebih bersih dan bahkan bensin, produksi biofuel berbahan dasar jagung di Amerika Serikat membebankan biayabiaya kesehatan yang lebih mahal dari polusi lokal dan hanya menawarkan reduksi emisi CO 2 yang tidak dapat dipastikan (Figur 1.2).53 Lebih lanjut lagi, kebijakan-kebijakan biofuel di Amerika Serikat dan Eropa telah mengalihkan masukan dari pangan ke produksi bahan bakar dan berkontribusi terhadap peningkatan harga pangan global.54 Kenaikan harga pangan yang disebabkan oleh hal tersebut sering kali meningkatkan tingkat kemiskinan. 55 Dampak keseluruhan pada kemiskinan bergantung pada struktur ekonomi,

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan Peta 1.5 Afrika mempunyai potensi tenaga air yang belum dimanfaatkan, dibandingkan dengan potensi yang lebih rendah tetapi tenaga air dieksploitasi berlebih seperti di Amerika Serikat

N

i le B lu

er Nig

eN

ile W

e nu Be

e hit

Nile

Ubangi

ng o Co

4,50

25% produksi listrik dunia pada 2005

3,50

Lukaga

Luala ba

Gigawatt jam/tahun pada 2005 (juta)

4,00

Total produksi listrik Tenaga air yang berpotensi ekonomi

3,00

Chire

Produksi tenaga air saat ini

2,50

Zambezi

2,00 1,50 Orange

1,00 0,50 0,00

Amerika Serikat

Afrika Sub-Sahara

Tenaga air yang berpotensi ekonomi di Afrika Sub-Sahara < 2.000

2.001–5.000

5.001–10.000

10.001–50.000

Tidak terukur atau tidak bisa diaplikasikan

Sumber: International Journal on Hydropower and Dams, World Atlas, 2006 (http://hydropower-dams.com, diakses 9 Juli 2009); IEA Energy Balances of OECD countries 2008; dan IEA Energy Balances Non-OECD countries 2007 (http://www.oecd.org/document/10/0,3343,en_21571361_33915056_ 39154634_1_1_1_1,00.html, diakses 9 Juli 2009). Catatan: Amerika Serikat telah mengeksploitasi lebih dari 50 persen potensi tenaga airnya, dibandingkan dengan hanya 7–8 persen di negara-negara Afrika Sub-Sahara. Total produksi listrik di Amerika Serikat ditunjukkan dengan skala.

karena para produsen akan diuntungkan dari harga yang lebih tinggi dan para pembeli akan dirugikan. Namun, banyak pemerintah di negara-negara yang mengalami surplus pangan—termasuk Argentina, China, India, dan Ukraina— telah meresponsnya dengan pelarangan ekspor dan tindakan-tindakan proteksi lainnya, membatasi keuntungan para produsen domestik, mengurangi pasokan gandum, dan mempersempit cakupan bagi solusi pasar masa depan.56

Keterkaitan antara perdagangan dan kebijakan-kebijakan mitigasi tidaklah bersifat langsung. Telah diusulkan agar muatan karbon dari ekspor dihitung dalam jumlah karbon dari negara tujuan, sehingga negara-negara pengekspor tidak mendapat hukuman karena melakukan spesialisasi dalam barangbarang industri berat yang dikonsumsi oleh negara lain. Akan tetapi jika importir memberikan pajak perbatasan pada muatan karbon dari barang-barang





Laporan Pembangunan Dunia 2010 Figur 1.2 Biofuel berbahan dasar jagung di AS meningkatkan emisi CO2 dan biaya-biaya kesehatan relatif terhadap bensin Biaya nonpasar ($/liter)

0,40

Sumber panas untuk produksi etanol Batu bara Limbah jagung Gas alam

0,30 0,20 0,10 0,00

Bensin

Etanol jagung

Biaya emisi GRK dari produksi Biaya kesehatan dari dan pemakaian partikulat Biaya emisi GRK karena perubahan tata guna lahan Sumber: Hill dkk. 2009. Catatan: Biaya-biaya dinyatakan dalam dollar per liter bensin atau bensin ekuivalen. Biaya-biaya kesehatan adalah biaya yang diestimasikan karena bahan partikulat emisi, dari produksi dan pembakaran akhir tambahan per liter etanol. Emisi gas rumah kaca mengasumsikan harga karbon sebesar $120 per ton, didasarkan pada harga tangkapan dan penyimpanan karbon yang diestimasikan. Sebagaian (arsir diagonal pada figur) gas rumah kaca diasosiasikan dengan produksi etanol jagung yang berasal dari pembersihan, konversi, atau lahan olahan.

untuk menyeimbangkan harga karbon, negara-negara pengekspor akan tetap menanggung sebagian bebannya karena kehilangan daya saing (lihat Fokus C Perdagangan). Pajak hijau. Seperti yang digambarkan pada Bab 6, pajak karbon dapat menjadi alat yang efisien untuk mengendalikan emisi karbon—tetapi perubahan dalam sistem pajak terhadap biaya-biaya lingkungan perusahaan (pajak hijau) dapat menjadi sesuatu yang regresif, bergantung pada struktur ekonomi suatu negara, kualitas penargetan, dan distribusi pembagian beban. Di Inggris, suatu pajak karbon yang dibebankan secara merata pada semua rumah tangga akan sangat bersifat regresif, konsisten dengan temuan dari negaranegara OECD lainnya. 57 Alasannya adalah bahwa pengeluaran untuk energi merupakan bagian besar dari

pengeluaran total untuk rumah tangga miskin dibandingkan dengan yang kaya. Akan tetapi efek regresifnya dapat diimbangi baik melalui rancangan tarif berskala maupun program bersasaran berdasarkan mekanisme kebijakan sosial yang ada.58 Dan pajak hijau di negara-negara berkembang dapat juga progresif, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian barubaru ini di China. Kebanyakan rumah tangga miskin di China bermukim di daerah pedesaan dan mengonsumsi produk-produk dengan karbon intensif yang jauh lebih rendah dibandingkan yang dikonsumsi oleh rumah tangga di kota yang secara umum lebih baik. Bahkan jika pendapatan dari tagihan karbon didaur ulang ke dalam perekonomian berdasarkan angka per kapita yang sama, efek progresifnya tetap akan menjadi lebih besar.59 Mendapatkan dukungan politik untuk pajak hijau dan menjamin kebijakan tersebut tidak merugikan orang miskin tidaklah mudah. Daur ulang pendapatan akan sangat kritis bagi kawasan Amerika Latin dan Eropa Timur, di mana orang miskin dalam bagian yang cukup besar hidup di daerah perkotaan dan akan secara langsung menderita karena pajak hijau. Namun, daur ulang pendapatan seperti itu, sebagaimana halnya penentuan sasaran yang ditunjukkan oleh penelitian di Inggris tersebut, akan memerlukan komitmen yang kuat untuk pergeseran kebijakan tersebut, yang sulit untuk diterapkan di banyak negara berkembang di mana subsidi regresif untuk energi dan layanan-layanan infrastruktur lainnya dibentengi secara politik. Tanpa daur ulang pendapatan, dampak dari harga karbon atau pajak hijau—bahkan jika progresif—sangat mungkin akan merugikan kaum miskin karena rumah tangga miskin mengeluarkan sebanyak

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

25 persen dari pendapatan mereka untuk listrik, air, dan transportasi. Selain itu, kemungkinan besar akan menghadapi kesulitan secara politik, karena bahkan rumah tangga rata-rata mengeluarkan 10 persen dari penghasilannya untuk layanan-layanan tersebut.60 Pendapatan riil dari orangorang yang paling miskin juga akan berkurang dalam jangka pendek, seiring biaya di muka yang lebih tinggi dari pembangunan infrastruktur, operasi, dan layanan-layanan ramah lingkungan akan menyerang sisi pasokan dari perekonomian. 61 Pajak hijau juga dapat memberikan efek langsung pada rumah tangga (yang disebabkan oleh meningkatnya harga energi) dan efek yang tidak langsung (pada pengeluaran rumah tangga total sebagai hasil dari biaya produksi yang lebih tinggi dan oleh karena itu harga-harga barangbarang konsumsi juga lebih tinggi). Sebuah penelitian di Madagaskar menunjukkan bahwa dampak-dampak tidak langsung dapat merepresentasikan sekitar 40 persen dalam penurunan kesejahteraan, karena harga pangan, tekstil, dan transportasi yang lebih tinggi.62 Walaupun konsumsi langsung dari layanan-layanan infrastruktur lebih besar dilakukan oleh kelas menengah, kuintil paling bawah diproyeksikan menderita kerugian yang terbesar dalam hal pendapatan riil. Terdapat cakupan yang cukup di seluruh dunia untuk rancangan tarif dan subsidi energi yang lebih baik, yang meningkatkan pemulihan biaya dan manfaat sasaran yang lebih baik bagi penduduk miskin. 63 Perubahan iklim (dan pendapatan dari pajak hijau) akan mungkin membuat perluasan program pendukung pendapatan ini menjadi layak dilakukan dan dapat dilaksanakan untuk mengembangkan

program-program pendukung pendapatan di negara-negara yang saat ini menggantungkan diri pada harga energi dan air sebagai bagian dari kebijakan sosial mereka. Efisiensi energi yang lebih tinggi akan mengurangi biaya bagi semua orang, sementara teknologi yang lebih ramah lingkungan dapat lebih murah dibandingkan teknologi intensif karbon. Sebagai contoh, beralih ke kompor masak berbahan bakar kayu yang lebih baik di pedesaan Meksiko dapat mengurangi emisi sampai 160 juta ton CO2 selama 20 tahun ke depan, dengan kenaikan ekonomi bersihnya (dari biaya energi langsung yang lebih rendah dan kesehatan yang lebih baik) sebesar $8 sampai $24 untuk setiap ton emisi CO2 yang berhasil dihindari.64

Mengevaluasi berbagai pertukarannya Sementara tidak ada lagi debat yang cukup substantif mengenai kebutuhan akan tindakan untuk mitigasi perubahan iklim, kontroversi tetap ada mengenai berapa banyak dan seberapa cepat mitigasi harus dilakukan. Menjaga perubahan-perubahan dalam suhu rata-rata global agar tetap di bawah tingkat yang dianggap “berbahaya” (lihat Fokus A Ilmu Perubahan Iklim) akan memerlukan tindakan yang segera dan global—tindakan yang memakan banyak biaya untuk mengurangi emisi dari tingkat yang diproyeksikan, yaitu 50 sampai 80 persen pada 2050. Semakin banyak literatur yang menunjuk kan alasan yang lebih kuat untuk melakukan mitigasi yang segera dan signifikan, kita kita ikut memperhitungkan inersia dalam sistem iklimnya, yang berarti pemanasan dan dampak-dampaknya terakumulasi secara perlahan-lahan tetapi sampai batasan tertentu tidak dapat dibalikkan;





Laporan Pembangunan Dunia 2010

inersia dari lingkungan terbangun, yang menyebabkan biaya yang lebih tinggi untuk mengurangi emisi di masa depan jika modal tetap emisi yang lebih tinggi ternyata diterapkan; dan manfaatmanfaat yang mengurangi risiko jangka panjang dan ketidakpastian dari hasil bencana diasosiasikan dengan suhu yang lebih tinggi.65 Setiap respons terhadap perubahan iklim melibatkan beberapa pertimbangan pro dan kontra, kekuatan dan kelemahan, manfaat dan biaya. Pertanyaannya adalah bagaimana evaluasi ini harus dilaksanakan. Analisis biaya-manfaat adalah perangkat yang krusial untuk mengevaluasi kebijakan dalam konteks yang tidak dapat terhindarkan dari prioritas yang saling bersaing dan sumber daya yang langka. Akan tetapi, mendapatkan biaya dan manfaat juga dapat dengan mudah menghilangkan lingkungan nonpasar barang dan jasa dan menjadi tidak mungkin jika risiko masa depan (dan sikap menanggapi risiko) benar-benar tidak pasti. Perangkat keputusan tambahan, melengkapi analisis biaya-manfaat, diperlukan untuk menentukan tujuan keseluruhan dan risiko yang dapat diterima. Pendekatan multikriteria dapat menyediakan pandangan tentang perdagangan yang tidak semuanya tercantum dalam aturan-aturan moneter. Dalam menghadapi risiko penolakan dan ketidakpastian mengenai risiko iklim masa depan, pendekatan “tolerable windows” dapat mengidentifikasi jalur emisi yang dapat bertahan di antara batasan dan risiko yang dapat diterima dan mengevaluasi biaya untuk melakukannya.66 “Pengambilan keputusan yang kokoh dapat menyoroti kebijakan-kebijakan yang memberikan perlindungan efektif terhadap hasil-hasil masa depan yang tidak diinginkan.

Perdebatan biaya-manfaat: Mengapa hal itu bukan hanya mengenai tingkat diskon Perdebatan ekonomi mengenai analisis biaya-manfaat mengenai kebijakan perubahan iklim telah menjadi sangat ramai sejak publikasi Stern Review of the Economics of Climate Change pada tahun 2007. Laporan tersebut mengestimasi biaya potensial perubahan iklim yang tidak dimitigasi akan sangat tinggi—kerugian permanen per tahun diramalkan sekitar 5−20 persen dari PDB—dan mendukung untuk melakukan tindakan yang kuat dan bersifat segera. Rekomendasi Laporan ini bertentangan dengan banyak model lainnya yang menjadikan kasus ekonomi untuk mitigasi yang lebih bertahap dalam bentuk “climate policy ramp—jalan kebijakan iklim.”68 Perdebatan akademis mengenai tingkat diskon yang sesuai—yang sangat menentukan perbedaan antara hasil Stern dengan yang lainnya— kemungkinan besar tidak akan dapat terselesaikan (Kotak 1.2). 69 Stern menggunakan tingkat diskon yang sangat kecil. Dalam pendekatan ini, yang biasanya dijustifikasikan karena alasan-alasan etis, fakta bahwa generasi masa depan hampir dapat dipastikan lebih kaya adalah satu-satunya faktor yang membuat pemberian nilai akan kesejahteraan masa depan lebih rendah dibandingkan hari ini; dengan kata lain, kesejahteraan generasi masa depan sama nilainya dengan kesejahteraan generasi masa kini.70 Argumen-argumen yang bagus dapat dikemukakan untuk mendu kung t ing kat yang t ing g i ataupun yang rendah. Sayangnya, kesejahteraan ekonomi antargenerasi tidak dapat membantu menyelesaikan perdebatannya—karena hal tersebut justru menimbulkan lebih banyak

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

KOTAK 1.2



Dasar-dasar pemberian diskon pada keuntungan dan biaya dari mitigasi perubahan iklim

Evaluasi akan alokasi sumber daya yang melintasi waktu adalah hal pokok dalam ekonomi terapan dan manajemen proyek. Hal tersebut telah digunakan secara luas untuk menganalisis persoalan biaya dan manfaat mitigasi perubahan iklim. Akan tetapi, tetap terdapat pertentangan mengenai nilai dari parameter-parameternya. Tingkat diskon sosial menilai manfaat dan biaya moneter di masa depan dalam nilai mereka saat ini, atau nilainya terhadap pengambil keputusan hari ini. Berdasarkan definisi, oleh karena itu, perangkat utama dari analisis kesejahteraan antargenerasi— total nilai kini bersih (net present value) yang diperkirakan—tidak dapat menjawab masalah distribusi kesejahteraan terhadap waktu. Untuk menentukan nilai yang sesuai untuk elemenelemen dari tingkat diskon dalam konteks permasalahan jangka panjang seperti perubahan iklim, kita perlu melihat banyak pertimbangan ekonomi dan etika yang mendalam (lihat Kotak 1.4).

pertanyaan alih-alih memberikan jawaban.71 Namun, seruan untuk melakukan tindakan yang cepat dan signifikan dalam memitigasi emisi gas rumah kaca tidak semata-mata bergantung pada tingkat diskon yang rendah. Meskipun perannya dalam menentukan beban relatif dari keuntungan dan biaya sangatlah penting, faktor-faktor lain meningkatkan manfaat dari mitigasi (kerusakan yang dihindari) dalam cara-cara yang juga memperkuat alasan untuk mitigasi yang cepat dan signifikan, bahkan dengan tingkat diskon yang lebih tinggi.72 Dampak-dampak yang lebih luas. Kebanyakan model ekonomi mengenai dampak-dampak perubahan iklim tidak secara tetap memperhitungkan faktor kehilangan keragaman hayati dan layanan-layanan ekosistem yang terkait—sebuah kelengahan yang

Terdapat tiga faktor penting dalam menentukan tingkat diskonnya. Pertama adalah seberapa besar beban yang akan diberikan pada kesejahteraan yang dinikmati di masa depan, karena hal tersebut datang belakangan dan bukan lebih awal. Tingkat murni dari preferensi waktu ini dapat dianggap sebagai ukuran ketidaksabaran. Faktor kedua adalah tingkat pertumbuhan dalam konsumsi per kapita: jika pertumbuhannya sangat cepat, generasi masa depan akan jauh lebih sejahtera, sehingga mengurangi nilai yang diberikan untuk berbagai kerugian akibat kerusakan iklim dibandingkan dengan biaya-biaya untuk mitigasi yang ditanggung saat ini. Faktor ketiga adalah curamnya utilitas marginal dari konsumsi (suatu ukuran seberapa besar satu dolar tambahan dinikmati) yang menurun ketika pendapatan naik.a Tidak ada kesepakatan universal mengenai bagaimana cara memilih nilai numerik untuk masing-masing dari ketiga faktor tersebut yang menentukan tingkat diskon sosialnya.

Baik penilaian etis maupun informasi empiris yang mencoba mengevaluasi preferensi dari perilaku masa lalu telah digunakan, terkadang bahkan digabungkan. Oleh karena biaya-biaya kebijakan mitigasi ditanggung saat itu juga, dan kemungkinan keuntungan yang besar dari kebijakan-kebijakan tersebut (kerusakan yang berhasil dihindari) akan dinikmati jauh di masa depan, pemilihan parameter untuk tingkat diskon sosial sangatlah memengaruhi peraturanperaturan untuk kebijakan iklim.

Sumber: Stern 2006; Stern 2008; Dasgupta 2008; Roemer 2009; Sterner dan Persson 2008. a. Utilitas marginal dari konsumsi menurun ketika pendapatan naik dikarenakan dollar tambahan dari konsumsi menyediakan lebuh banyak utilitas untuk orang-orang miskin dibandingkan dengan orangorang yang telah mengonsumsi banyak. Kecuraman perubahan—dikenal dengan elastisitas utilitas marginal dari konsumsi dengan mempertimbangkan perubahan pada tingkat pendapatan—juga mengukur toleransi terhadap risiko dan kesetaraan.

penuh paradoks yang berarti sama dengan menganalisis pertukaran antara barang-barang konsumsi dan barangbarang lingkungan tanpa menyertakan barang-barang lingkungan dalam fungsi utilitas individual. 73 Walaupun nilai pasar yang diperkirakan dari hilangnya layanan-layanan lingkungan boleh jadi sulit dihitung dan mungkin bervariasi di berbagai kebudayaan dan sistem nilai, kerugian-kerugian seperti ini merupakan sebuah biaya. Kerugiannya meningkatkan harga relatif akan layananlayanan lingkungan seiring mereka menjadi lebih langka secara relatif dan mutlak. Menyertakan kerugian-kerugian lingkungan ke dalam model penilaian terintegrasi standar akan meningkatkan biaya keseluruhan dari perubahan iklim yang tidak dimitigasi secara signifikan.74 Padahal, dengan memperhitungkan kehilangan keragaman hayati ke dalam model standar menghasilkan seruan

0

KOTAK 1.3

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Umpan balik positif, titik balik, ambang batas, dan nonlinearitas dalam sistem-sistem alami dan sosioekonomi

Umpan balik positif dalam sistem iklim Umpan balik positif menguatkan efek gas rumah kaca. Salah satu umpan balik positif yang secara umum dipertimbangkan adalah perubahan dalam reflektivitas permukaan Bumi, atau albedo: permukaan yang sangat reflektif, seperti es dan salju, memantulkan sinar pemanasan dari matahari kembali ke atmosfer, tetapi karena naiknya suhu melelehkan es dan salju, lebih banyak panas yang diserap oleh permukaan bumi, yang mengarah pada pemanasan dan pelelehan yang lebih tinggi, seiring proses tersebut berulang dengan sendirinya. Titik-titik balik dalam sistem-sistem alami Bahkan perubahan yang mulus dan moderat dalam iklim dapat membawa suatu sistem alami ke titik yang jika telah terlewati akan menyebabkan perubahan-perubahan yang relatif mendadak, kemungkinan bertambah cepat, tidak dapat dibalikkan, dan akhirnya perubahan jadi sangat merusak. Sebagai contoh, hilangnya hutan daerah dapat disebabkan oleh kombinasi dari kekeringan, hama, dan suhu yang lebih tinggi yang bergabung melampaui batas fisiologis. Sebuah kemungkinan titik balik yang menjadi kekhawatiran global adalah pelelehan lapisan es yang menutupi sebagian besar Greenland. Pada tingkat pemanasan lebih lanjut, pencairan pada musim panas tidak akan beku kembali selama musim dingin, menaikkan tingkat pemanasan dengan dramatis dan menyebabkan naiknya permukaan laut setinggi 6 meter. Ambang batas dalam sistem-sistem sosioekonomi Biaya ekonomi dari dampak-dampak langsung juga dapat memberikan efek-efek ambang batas yang kuat—hasil dari fakta bahwa berbagai infrastruktur dan praktik produksi saat ini dirancang agar kokoh hanya untuk menghadapi

variasi kondisi cuaca yang relatif kecil. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan pada dampak akan ditunjukkan pertama kali oleh meningkatnya konsentrasi populasi dan aset daripada oleh iklim—selama kejadian cuaca tetap berada dalam batasan-batasan dari variabilitas yang telah diamati di masa lampau—tetapi dampak-dampak tersebut dapat meningkat tajam jika kondisi iklim secara konsisten melewati batasan-batasan tersebut di masa depan. Nonlinearitas dan efek-efek tidak langsung Respons ekonomi terhadap dampak-dampak ini pun sendirinya nonlinear, sebagian karena dampak-dampak perubahan iklim akan secara bersamaan meningkatkan kebutuhan untuk adaptasi dan potensi penurunan kapasitas adaptasi. Dampak-dampak langsungnya juga dapat memunculkan dampak-dampak tidak langsung (umpan balik makroekonomi, hambatan

bisnis, dan halangan rantai distribusi) yang tumbuh semakin besar seiring dengan semakin besar skala dampak-dampaknya. Efek ini dapat terlihat dalam beberapa bencana alam. Bukti baru-baru ini di Lousiana menunjukkan bahwa ekonomi memiliki kapasitas untuk menyerap hingga $50 juta kerugian langsung. Akan tetapi kerugian tidak langsung meningkat dengan cepat dengan bencana-bencana alam yang lebih menghancurkan (figur). Kerugian langsung akibat Badai Katrina mencapai $107 miliar, dengan kerugian tidak langsung menambahkan sekitar $42 milar; simulasi bencana dengan kerugian langsung sebesar $200 miliar dapat menyebabkan tambahan $200 miliar pada kerugian tidak langsung. Sumber: Schmidt 2006; Kriegler dkk. 2009; Hallegatte 2008; komunikasi pribadi dari Stéphane Hallegatte, Mei 2009.

Kerugian tidak langsung meningkat bahkan lebih curam seiring meningkatnya kerusakan langsung: Perkiraan dari Louisiana Kerugian tidak langsung ($ miliar) 400 350 300 250 200 150 100 50 0 –50

0

50

100

150

200

250

300

Kerugian langsung ($ miliar) Sumber: Data disediakan oleh Stéphane Hallegatte 2008.

yang keras untuk mitigasi yang lebih cepat, bahkan dengan tingkat diskon yang lebih tinggi. Dinamika yang dimodelkan dengan lebih akurat: Efek-efek ambang batas

dan inersia. Fungsi kerusakannya, yang menghubungkan perubahan dalam suhu dengan kerusakan-kerusakan yang diuangkan, biasanya dimodelkan dalam analisis biaya-manfaat sebagai fungsi yang meningkat yang mulus. Akan tetapi,

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

terdapat bukti ilmiah yang cukup banyak bahwa sistem alami dapat memberikan respons nonlinear terhadap perubahan iklim sebagai konsekuensi dari umpan balik positif, titik balik, dan ambang batas (Kotak 1.3). Umpan balik positif dapat timbul, sebagai contoh, jika pemanasan menyebabkan lapisan es abadi mencair, melepaskan metana (gas rumah kaca yang potensial) yang dikandungnya dalam jumlah besar, dan semakin mempercepat pemanasan. Ambang batas atau titik balik merupakan perubahan yang relatif cepat dan berskala besar dalam sistem alami (atau sosioekonomi) yang mengarah pada kerugian-kerugian serius dan tidak dapat dibalikkan. Umpan balik positif, titik balik, dan ambang batas berarti bahwa mungkin ada nilai yang sangat besar dalam berusaha untuk menjaga kecepatan dan besar perubahan iklim serendah mungkin.75 Inersia yang cukup besar dalam sistem iklim menambahkan kekhawatiran mengenai umpan balik positif, dampakdampak ambang batas, dan ireversibilitas dari dampak-dampak perubahan iklim. Para ilmuwan telah mendapati bahwa pemanasan yang disebabkan oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca sangatlah tidak dapat dibalikkan selama seribu tahun setelah emisinya berhenti.76 Penundaan mitigasi menghilangkan pilihan jalur pemanasan yang lebih rendah: sebagai contoh, penundaan lebih dari 10 tahun kemungkinan besar akan menghalangi stabilisasi di atmosfer pada nilai berapapun dengan pemanasan setidaknya 3°C. 77 Selain itu, sistem iklimnya akan terus berubah selama beberapa abad bahkan setelah konsentrasi gas rumah kaca stabil (lihat Gambaran Umum). Jadi hanya mitigasi yang segera yang dapat menjaga nilai pilihannya— yaitu menghindarkan kehilangan pilihan dalam hasil stabilisasi.

Inersia juga cukup besar dalam lingkungan terbangun—infrastruktur transportasi, energi, dan perumahan, dan bentuk perkotaan (cara sebuah kota dirancang). Untuk merespons inersia ini, beberapa berdebat untuk menunda investasi mitigasi untuk menghindari terjebak dalam biaya yang lebih tinggi, investasi rendah karbon yang tidak perlu, teknologi yang lebih baik dan lebih murah mengizinkan penyelesaian mitigasi yang cepat, dan lebih banyak yang diketahui mengenai risiko-risiko yang harus dihadapi oleh masyarakat. Namun, pada praktiknya tidaklah mungkin untuk menunda investasi utama dalam penyediaan infrastruktur dan energi tanpa membahayakan pembangunan ekonomi. Permintaan energi sangat mungkin menjadi tiga kali lipat di negara-negara berkembang antara tahun 2002 dan 2030. Selain itu, banyak pembangkit listrik di negaranegara berpendapatan tinggi, yang dibangun pada tahun 1950-an dan 1960-an, mulai mendekati akhir masa pakainya, menandakan bahwa banyak pembangkit baru yang harus dibangun selama 10−20 tahun ke depan bahkan permintaan yang konstan. Saat ini, pembangkit listrik bertenaga batu bara tetap menjadi pilihan termurah bagi banyak negara—selain menawarkan ketahanan energi bagi negara-negara yang memiliki cadangan batu bara yang mencukupi. Jika semua pembangkit listrik batu bara yang dijadwalkan akan dibangun dalam 25 tahun ke depan mulai beroperasi, emisi CO 2 seumur hidupnya akan sama dengan semua aktivitas pembakaran batu bara sejak dimulainya industrialisasi.78 Oleh karena itu, ketiadaan komitmen untuk reduksi emisi yang lebih kuat di sektor tenaga listrik hari ini akan memastikan jalur emisi yang relatif tinggi.





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Tidak dimungkinkan juga untuk memodifikasi investasi semacam itu pada skala besar dengan efisien dari segi biaya. Modifikasi tidak selalu memungkinkan, dan bisa jadi terlalu mahal. Tetap menggunakan contoh batu bara tadi, teknologi penangkap dan penyimpan karbon—sebuah teknologi yang sedang dikembangkan untuk menangkap CO2 yang diproduksi oleh pabrik berbahan bakar fosil dan menyimpannya di bawah tanah—memerlukan pabriknya harus terletak dalam jarak 50 sampai 100 mil dari tempat penyimpanan CO 2 atau biaya untuk mengangkut karbonnya menjadi terlalu mahal. 79 Untuk negara-negara yang memiliki banyak lokasi penyimpanan potensial, hal ini tidak menjadi masalah: sekitar 70 persen pembangkit listrik China cukup dekat dengan lokasi penyimpanan dan dapat sepatutnya dimodifikasi jika dan ketika teknologinya tersedia secara komersial. Akan tetapi, hal yang sama tidak berlaku di India, Afrika Selatan, atau banyak negara lainnya, di mana modifikasi akan menjadi tidak terjangkau kecuali pembangkit-pembangkit baru ditempatkan dekat dengan lokasi-lokasi penyimpanan yang sudah ada yang jumlahnya sedikit. Negara-negara b erkembang, dengan infrastruktur yang ada lebih sedikit dibandingkan negara-negara maju, memiliki keuntungan fleksibilitas dan dapat secara potensial melakukan lompatan ke teknologi yang lebih bersih. Negara-negara maju harus memberikan kepemimpinan dalam menghadirkan teknologi baru ke pasar dan berbagi pengetahuan dari pengalaman mereka dalam melakukan implementasi. Kemampuan untuk mengubah jalur emisi bergantung pada ketersediaan teknologi yang sesuai dan terjangkau, yang tidak akan tersedia di masa depan tanpa

investasi penelitian dan pengembangan (R&D), diseminasi, dan belajar-sambilmencoba yang dimulai hari ini. Ke s e mp at a n u nt u k b e r a l i h dari modal tinggi-karbon ke modal yang berumur panjang dan rendahkarbon tidak secara merata tersedia sepanjang waktu.80 Pilihan untuk beralih ke sistem yang lebih efisien secara energi dan ekonomi tidaklah realistis untuk dilaksanakan jika teknologi yang diperlukannya belum tersedia dan belum ada pada skala yang cukup untuk dapat terjangkau, dan jika orang-orang belum memiliki pengetahuan mengenai bagaimana cara menggunakannya (Bab 7). 81 Teknologi mitigasi penghambat yang efektif dan terjangkau tidak akan tersedia di masa depan tanpa riset aktif dan inisiatif demonstrasi yang menggerakkan teknologi-teknologi potensial sepanjang kurva biaya dan pembelajaran. Di bagian tersebut, negara-negara maju harus menjadi pemimpin dalam mengembangkan dan menghadirkan teknologi-teknologi baru ke pasar, dan berbagi pengetahuan dari pengalaman mereka melakukan implementasi. Memperhitungkan ketidakpastian. Penilaian ekonomi atas kebijakankebijakan perubahan iklim haruslah mempertimbangkan ketidakpastian mengenai ukuran dan waktu dari dampak-dampak yang berlawanan, dan mengenai kelayakannya, biayanya, dan profil waktunya untuk upaya-upaya mitigasi. Ketidakpastian yang krusial yang dilewatkan oleh kebanyakan model adalah kemungkinan terjadinya bencana besar yang terkait perubahan iklim (lihat Fokus A Ilmu Perubahan Iklim), sebuah topik yang kini menjadi pusat perdebatan yang sedang berlangsung.82 Distribusi kemungkinan yang menjadi dasar dari

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

risiko-risiko bencana besar seperti itu tidaklah diketahui, dan mungkin akan tetap seperti itu. Mitigasi yang lebih agresif hampir pasti akan mengurangi kemungkinan terjadinya hal tersebut, walaupun sangatlah sulit untuk menilai seberapa besarnya. Kemungkinan terjadinya bencana global, bahkan yang kemungkinannya sangat kecil, seharusnya mendorong kesanggupan masyarakat untuk membayar untuk mitigasi yang lebih cepat dan lebih agresif sampai pada tingkat yang dapat membantu mereka terhindar dari malapetaka.83 Bahkan tanpa mempertimbangkan risiko-risiko bencana besar tersebut, ketidakpastian yang substansial tetap ada di sekitar dampak-dampak ecologi dan ekonomi. Seberapa cepat dan besarnya pemanasan tidak diketahui. Bagaimana perubahan iklim sangat bervariasi dan ekstrem—bukan hanya perubahan pada rerata suhu—akan memengaruhi iklim alamiah dan kelangsungan hidup adalah tidak pasti. Pengetahuan terbatas mengenai kemampuan untuk beradaptasi, biaya adaptasinya, dan besarnya kerusakan-kerusakan residual yang tak terhindarkan. Terdapat juga ketidakpastian yang substansial mengenai kecepatan penemuan, diseminasi, dan adopsi teknologi-teknologi baru. Tanpa inersia dan ireversibilitas, ketidakpastian tidak akan menjadi terlalu berarti, ketidakpastian tidak akan berarti banyak, karena keputusan dapat dibalikkan dan penyesuaian dapat berjalan mulus dan bebas biaya. Namun, inersia yang ekstrem—dalam sistem iklim, dalam lingkungan terbangun, serta dalam tingkah laku individual dan institusi—menyebabkan semakin mahal bagi kita, jika tidak tak mungkin, untuk menyesuaikan diri pada arah mitigasi yang lebih ketat jika informasi baru

terungkap atau teknologi-teknologi baru ditemukan secara perlahan. Jadi, inersia sangat meningkatkan potensi negatif implikasi keputusan kebijakan iklim di bawah ketidakpastian. Dan ketidakpastian yang dikombinasikan dengan inersia dan ireversibilitas menguatkan pelaksanaan mitigasi yang segera. Ilmu ekonomi mengenai pengambilan keputusan di bawah ketidakpastian memberikan alasan bahwa ketidakpastian mengenai efek-efek perubahan iklim membutuhkan lebih banyak mitigasi alih-alih lebih sedikit.85 Ketidakpastian membuat argument kuat untuk mengadopsi pendekatan iteratif untuk memilih sasaran—dimulai dengan sikap agresif. Hal ini tidak berkurang dengan adanya kesempatan belajar (memperoleh informasi baru yang mengubah penilaian kita tentang ketidakpastian). Pilihan-pilihan normatif mengenai agregasi dan nilai-nilai. Kebijakankebijakan perubahan iklim membutuhkan pertukaran antara tindakan-tindakan jangka pendek dengan keuntungankeuntungan jangka panjang, antara pilihan-pilihan individual dan konsekuensi-konsekuensi global. Jadi, keputusan-keputusan kebijakan perubahan iklim dikendalikan secara fundamental oleh pilihan-pilihan etis. Memang, hal ini bicara mengenai kepedulian akan kesejahteraan orang lain. Secara langsung menyertakan keuntungan-keuntungan dari barangbarang lingkungan nonpasar—dan eksistensi mereka untuk generasi masa depan—dalam model-model ekonomi kesejahteraan adalah salah satu pendekatan untuk menangkap pertukaran tersebut.87 Pada praktiknya, kemampuan untuk menguantifikasi





Laporan Pembangunan Dunia 2010

pertukaran semacam itu masih terbatas, tetapi kerangka ini menyediakan sebuah titik tolak untuk penilaian lebih lanjut mengenai semakin besarnya nilai yang diberikan oleh masyarakat pada lingkungan seiring dengan meningkatnya p e n d ap at an , d ar i ke mu ng k i n an pertukaran antara konsumsi pribadi dan upaya-upaya yang menghabiskan biaya untuk menjaga kesejahteraan—dan eksistensi—generasi masa depan.88 Lebih lanjut lagi, cara sebuah model mengagregasikan dampak-dampak lintas individu atau negara secara signifikan memengaruhi nilai dari kerugian yang diperkirakan. 89 Menangkap dimensi kesetaraan sebagai tambahan atas kekhawatiran antargenerasi yang dinyatakan dalam tingkat diskon, bobot kesetaraan dapat diterapkan untuk mencerminkan fakta bahwa kehilangan satu dolar lebih berarti bagi orang miskin dibandingkan bagi orang kaya. Pendekatan semacam itu lebih baik dalam memahami kesejahteraan manusia (alih-alih sekadar pendapatan). Dan karena orang-orang miskin dan negara-negara miskin lebih rentan terhadap perubahan iklim, pendekatan ini secara substansial meningkatkan kerugian agregat yang diperkirakan karena perubahan iklim. Kebalikannya, menjumlahkan kerusakan-kerusakan global dalam dolar dan menyatakannya sebagai bagian dari PDB global—secara implisit membobotkan kerusakankerusakan menggunakan kontribusi bagi keluaran total—sama saja dengan memberikan bobot yang jauh lebih kecil bagi kerugian-kerugian yang diderita penduduk miskin. Sistem-sistem nilai juga memainkan peranan dalam keputusan kebijakan lingkungan. Baru-baru ini, perubahan iklim telah muncul sebagai isu hak asasi manusia (Kotak 1.4). Dan sebagian

besar masyarakat memiliki sistem etika atau agama yang menghargai alam dan mengidentifikasi tanggung jawab manusia sebagai pengelola bumi ini dan semua kekayaan alamnya— walaupun hasilnya sering kali tidak sesuai dengan prinsip yang ideal. Di paruh pertama tahun 1600-an, Jepang bergerak dengan cepat menuju bencana lingkungan melalui penebangan hutan besar-besaran. Akan tetapi di awal tahun 1700 mereka memliki sistem yang rumit untuk manajemen daerah hutan.90 Salah satu alasan keshogunan Tokugawa— penguasa saat itu—memutuskan untuk bertindak adalah kekhawatiran bagi generasi keluarga masa depan, hasil dari tradisi kebudayaan Konfusianisme91— dan hasrat untuk menjaga sistem politik turun-temurun. Saat ini, hampir 80 persen daerah Jepang tertutupi pepohonan.93

Kerangka alternatif untuk pengambilan keputusan Ketidakpastian, inersia, dan etika menunjukkan perlunya kewaspadaan dan oleh karena itu mitigasi yang lebih cepat dan agresif, tetapi perdebatan analitis ekonom dan pembuat kebijakan mengenai seberapa banyak mitigasi tersebut masih jauh dari selesai. Kesimpulan-kesimpulan dari analisis biaya-manfaat sangatlah sensitif terhadap asumsi awal seperti skenario garis dasarnya, fungsi-fungsi pengurangan dan kerusakannya, dan tingkat diskonnya, termasuk asumsi implisit yang tertanam dalam perumusan model93—yang dapat mengarah pada jalan buntu dalam pengambilan keputusan. Kerangka pengambilan keputusan yang lebih ekspansif yang memasukkan penilaian biaya dan manfaat dengan basis yang lebih luas, tunjangan untuk penghindaran risiko, dan implikasi-

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

KOTAK 1.4



Etika dan perubahan iklim

Kompleksitas perubahan iklim menyoroti beberapa pertanyaan etika. Isu-isu kejujuran dan keadilan merupakan hal yang penting dengan sangat tidak terkaitnya emisi gas-gas rumah kaca dan dampaknya secara temporal dan geografis. Maka, setidaknya ada tiga dimensi etika utama yang muncul dalam permasalahan perubahan iklim: mengevaluasi dampak-dampak, mempertimbangkan kesetaraan antargenerasi, dan mendistribusikan tanggung jawab dan biaya-biaya. Mengevaluasi dampak-dampak Beberapa disiplin ilmu, termasuk ekonomi, berpendapat bahwa kesejahteraan haruslah menjadi kriteria yang paling penting dalam evaluasi kebijakan. Akan tetapi, bahkan dalam sebuah kerangka “utilitarianisme yang didiskon,” terdapat banyak pertentangan, yang paling menonjol adalah mengenai berapa tingkat diskon yang harus digunakan dan bagaimana mengagregasikan kesejahteraan lintas individu di masa kini dan masa depan. Satu pendapat yang umum adalah bahwa tidak ada alasan etika yang aman untuk mendiskon dampak ekonomi dan dampak manusia hanya karena mereka telah diantisipasi akan terjadi 40—atau bahkan 400—tahun mendatang. Sebuah pendapat balasannya adalah bahwa tidaklah pantas bagi generasi sekarang untuk mengalokasikan sumber daya untuk melakukan mitigasi perubahan iklim di masa depan jika investasi lain dipandang dapat memberikan timbal balik yang lebih baik, jadi mengembalikan kita semua pada kesulitan dalam menimbang biaya dan manfaat dari pilihan-pilihan alternatif yang tidak pasti. Pembahasan baru-baru ini telah berfokus pada hak asasi manusia sebagai kriteria yang relevan untuk mengevaluasi dampak-dampaknya. Beberapa hak asasi manusia—terutama hakhak ekonomi dan sosial—akan terancam oleh dampak-dampak perubahan iklim dan kemungkinan beberapa respons kebijakan. Halhal tersebut termasuk hak untuk mendapatkan makanan, hak untuk mendapatkan air, dan

implikasi dari keputusan etis, dapat mendukung pengambilan keputusan secara lebih efektif di hadapan banyaknya jurang dan rintangan pengetahuan.

hak untuk mendapatkan tempat berlindung. Dampak-dampak iklim juga dapat memberikan efek-efek langsung maupun tidak langsung dalam menerapkan dan merealisasikan hak-hak sipil dan politis. Namun, menetapkan hubungan sebab-akibat dan atribut adalah suatu masalah yang serius, dan akan membatasi cakupan untuk menerapkan hukum hak asasi manusia pada perselisihan internasional atau domestik. Oleh karena penyebab perubahan iklim tersebar, hubungan langsung antara emisi di satu negara dan dampak-dampaknya di negara lain sulit untuk ditentukan dalam konteks perkara hukum. Hambatan yang lebih lanjut dalam mendefinisikan tanggung jawab dan kerugian dalam konteks hukum adalah penyebaran emisi dan dampak-dampaknya sepanjang waktu: dalam beberapa kasus, sumber dari kerusakannya telah terjadi selama beberapa generasi, dan kerusakannya akan dirasakan hari ini dan juga oleh beberapa generasi ke depan. Mempertimbangkan kesetaraan antargenerasi Kesetaraan antargenerasi adalah bagian integral dari evaluasi dampak. Bagaimana kesetaraan antargenerasi disertakan dalam sebuah model ekonomi yang mendasarinya akan memiliki implikasi yang signifikan. Seperti dicatat dalam Kotak 1.2, kriteria nilai saat ini mendiskon biaya dan manfaat masa depan, melemahkan distribusi kesejahteraan ekonomi sepanjang waktu terhadap waktu sekarang. Perumusanperumusan alternatif mencakup memaksimalkan utilitas generasi masa kini, memasukkan perhatian-perhatian atas kepentingan orang lain untuk generasi masa depan, dan ikut memperhitungkan ketidakpastian mengenai eksistensi generasi masa depan. Mendistribusikan tanggung jawab dan biaya-biaya Siapa yang menanggung beban untuk memecahkan permasalahan perubahan iklim mungkin merupakan isu yang paling

diperdebatkan. Satu respons etisnya adalah prinsip “penghasil polusi harus membayar”: tanggung jawab harus dialokasikan pada kontribusi setiap negara atau kelompok terhadap perubahan iklim. Versi khusus dari pandangan ini adalah bahwa emisi sejarah kumulatif harus ikut diperhitungkan ketika menentukan tanggung jawab. Sebuah argumen balasannya menyatakan bahwa “kelalaian yang dapat dimaafkan” memberikan kekebalan terhadap penghasil emisi di masa lalu, karena mereka tidak menyadari konsekuensi dari tindakan-tindakan mereka, tetapi argumen ini telah dikritik atas dasar bahwa efek-efek potensial negatif dari gas-gas rumah kaca terhadap iklim telah diketahui sejak lama. Dimensi yang lebih jauh dari tanggung jawab adalah mengenai bagaimana orang-orang telah diuntungkan dari emisi gas-gas rumah kaca di masa lalu (lihat Figur 3 Gambaran Umum). Sementara keuntungan-keuntungan tersebut telah jelas-jelas dinikmati oleh negaranegara maju yang telah memberikan kontribusi CO2 di atmosfer dalam jumlah yang besar sampai sekarang ini, negara-negara berkembang juga mendapatkan beberapa keuntungan dari kemakmuran yang dihasilkan. Salah satu respons adalah dengan mengabaikan masa lalu, dan mengalokasikan hak per kapita yang setara untuk semua emisi masa depan. Akan tetapi pandangan lain menyadari bahwa apa yang sesungguhnya paling penting bukanlah distribusi emisi, tetapi distribusi kesejahteraan ekonomi, termasuk kerusakan-kerusakan perubahan iklim dan biaya-biaya mitigasi. Ini menunjukkan bahwa dalam dunia dengan kekayaan yang tidak merata, tanggung jawab yang lebih besar untuk menanggung biayanya dibebankan pada yang lebih mampu—walaupun hal ini tidak menghalangi tindakan-tindakan mitigasi yang sedang diambil di negara-negara yang lebih miskin dengan pendanaan eksternal yang disediakan oleh negara-negara berpendapatan tinggi (lihat Bab 6). Sumber: Singer 2006; Roemer 2009; Caney 2009; World Bank 2009b.

Memasukkan beberapa isu penilaian yang disebutkan di atas (nilai-nilai pilihan, layanan-layanan ekosistem, risiko diskontinuitas) ke dalam analisis



Laporan Pembangunan Dunia 2010

biaya-manfaat yang lebih luas merupakan hal yang diinginkan (walaupun sulit). Walaupun demikian, juga lebih banyak lagi yang diperlukan untuk membuat konsekuensi-konsekuensi normatif dari pilihan-pilihan kebijakan setransparan mungkin untuk memberikan informasi kepada para pengambil keputusan yang ingin menetapkan sasaran-sasaran dan kebijakan-kebijakan lingkungan dan pembangunan yang konkret. Hal ini dapat membantu mereka memenangkan dukungan dari banyak sekali pemangku kepentingan yang akan menikmati manfaat nyata dan membayar biaya nyatanya. Salah satu alternatifnya adalah sebuah pendekatan “jendela yang masih dapat ditoleransi—tolerable window” atau “pagar pengaman—guardrail.” Sebuah jendela sasaran-sasaran mitigasi, atau sebuah rentang yang dibatasi oleh pagar pengaman, dipilih untuk membatasi perubahan suhu dan laju perubahan sampai sejauh apa yang dipertimbangkan—secara heuristik atau berdasarkan penilaian pakar—sebagai tingkat yang dapat diperbolehkan. 94 Jendelanya didefinisikan oleh batasanbatasan yang diperoleh dari beberapa sistem yang sensitif terhadap iklim. Salah satu batasan dapat ditentukan oleh upaya sistem perekonomian untuk menghindari suatu nilai PDB yang berkurang, yang terkait dengan perubahan suhu dan laju perubahan yang ditentukan. Batasan kedua dapat didefinisikan oleh penghindaran masyarakat terhadap pertikaian sosial dan dampak-dampak yang tidak merata. Batasan ketiga boleh jadi adalah perhatian mengenai ambang batas pemanasan, yang jika dilampaui akan membuat ekosistem-ekosistem tertentu hancur.95 Pendekatan pagar pengaman tidak memerlukan perkiraan nilai

uang dari kerusakan-kerusakannya, karena batasan-batasannya ditentukan oleh apa yang dinilai dapat diterima dalam masing-masing sistem (sebagai contoh, mungkin akan sulit untuk menerjemahkan ke dalam angka-angka PDB jumlah orang yang berpindah setelah kekeringan yang parah). Penggerak-penggerak dari nilai pagar pengaman untuk emisi meliputi analisis ilmiah mengenai potensi efek-efek ambang batas, begitu juga penilaianpenilaian yang tidak dinilaiuangkan mengenai risiko-risiko residual dan kerentanan yang akan tetap berada di dalam strategi mitigasi dan adaptasi yang berbeda. Biaya untuk tetap berada dalam pagar pengaman yang diajukan perlu dipertimbangkan dalam kaitannya dengan penilaian-penilaian heuristiknya yang mengelilingi tingkatan-tingkatan keamanan iklim yang disediakan oleh pagar-pagar pengaman yang berbeda. Dengan basis multikriteria seperti ini, para pengambil keputusan dapat membuat pembebanan yang lebih kaya informasi dan komprehensif, di mana tempat terbaik pagar pengaman harus ditetapkan (dan ini dapat ditinjau ulang secara periodik seiring dengan waktu). Pendekatan ini dapat dilengkapi oleh teknik-teknik pendukung keputusan, seperti “pengambilan kebutusan yang tangguh (kokoh),” untuk mengatasi ketidakpastian yang sulit dievaluasi.96 Dalam konteks kemungkinan yang tidak diketahui dan masa depan yang sangat tidak pasti, sebuah strategi yang tangguh akan menjawab pertanyaan, “Tindakantindakan apakah yang harus kita ambil, jika kita tidak dapat memprediksi masa depan, untuk mengurangi kemungkinan hasil-hasil yang tidak diinginkan pada tingkat yang masih dapat diterima?”97 Dalam konteks perubahan iklim, kebijakan menjadi sebuah persoalan

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

kemungkinan—apa strategi terbaiknya dengan berbagai kemungkinan hasil?— alih-alih menjadi persoalan optimisasi. Fondasi intelektual dari pendekatan ini bukanlah hal baru; mereka dapat dilacak sejak tahun 1950 pada hasil karya Savage mengenai “meminimalisasi penyesalan maksimum—minimizing the maximum regret.”98 Mencari strategi-strategi yang tangguh, alih-alih yang sekadar opt ima l, di l a ku kan mel a lui ap a yang pada hakikatnya merupakan perencanaan berbasis skenario yang interaktif. Skenario-skenario yang berbeda diciptakan, dan pilihan-pilihan kebijakan alternatif dibandingkan berdasarkan seberapa tangguhnya mereka—seb erapa sanggupnya kebijakan menghindari suatu hasil tertentu—melintasi berbagai skenario tersebut. Analisis semacam itu meliputi “tindakan-tindakan pembentukan” yang memengaruhi masa depan, “tindakan-tindakan perlindungan” yang mengurangi kerentanan masa depan, dan “signposts—papan arah” yang mengindikasikan kebutuhan akan penilaian ulang atau perubahan strategi. Analisis keputusan yang tangguh juga dapat dilakukan dengan beragam perangkat kuantitatif yang lebih formal, dalam sebuah pendekatan pemodelan yang bersifat eksploratif, menggunakan metode-metode matematis untuk mengarakterisasikan keputusankeputusan dan hasil-hasil dalam kondisi ketidakpastian yang mendalam. Dalam pengambilan keputusan yang tangguh, biaya dan manfaat dan berbagai pertukaran yang terkandung di dalam kebijakan-kebijakan iklim haruslah dinilai dalam semua skenario. Arahan kebijakannya bukanlah untuk mengupayakan suatu kebijakan yang “optimal”—memaksimalkan utilitas

dalam pemikiran tradisional—yang kinerjanya, secara rata-rata, lebih baik dibandingkan yang lainnya. Bahkan, kebijakan-kebijakan yang aman adalah kebijakan yang mampu bertahan di masa depan yang tidak dapat diprediksi secara cukup tangguh. Dalam kerangka ini, kebijakan-kebijakan jangka pendek dapat dipahami sebagai suatu pelindung dalam menghadapi biaya penyesuaian kebijakan—memberkan dukungan bagi upaya-upaya investasi dalam penelitian dan pengembangan serta infrastruktur di masa sekarang untuk menjaga terbukanya pilihan masa depan rendah-karbon.99

Biaya penundaan upaya mitigasi global Pemanasan global saat ini disebabkan oleh melimpahnya emisi dari negaran e g a r a k a y a . 100 N e g a r a - n e g a r a berkembang sudah sepantasnya khawatir mengenai konsekuensi-konsekuensi dari p enerapan batasan-batasan pada pertumbuhan mereka. Hal ini mendukung argumen, yang dinyatakan dalam prinsip UNFCCC, yaitu “tanggung jawab bersama tetapi dibedakan,” bahwa negara-negara berpendapatan tinggi harus memimpin pengurangan emisi, karena baik tanggung jawab historis maupun emisi per kapita mereka secara signifikan lebih tinggi saat ini. Sumber daya finansial dan teknologi negaranegara maju yang lebih besar lebih lanjut lagi mendukung gagasan supaya mereka mengambil bagian yang jauh lebih besar dalam biaya-biaya mitigasi, tidak peduli di manapun mitigasinya dilakukan. Namun, reduksi emisi oleh negaranegara kaya saja tidaklah memadai untuk membatasi pemanasan pada level yang dapat ditoleransi. Sementara emisi per kapita kumulatif masa lalu jumlahnya sedikit, terutama di negaranegara berpendapatan rendah maupun





Laporan Pembangunan Dunia 2010

menengah,101 total emisi CO2 tahunan yang berkaitan dengan energi di negaranegara berpendapatan menengah telah mulai mengejar emisi negara-negara kaya, dan bagian terbesar dari emisi yang berkaitan dengan perubahan tata guna lahan saat ini adalah dari negara-negara tropis.102 Lebih penting lagi, perubahan yang diproyeksikan dalam penggunaan bahan bakar fosil di negara-negara berpendapatan menengah menunjukkan bahwa emisi CO2 mereka akan terus meningkat melebihi emisi kumulatif negara-negara maju dalam beberapa dekade ke depan.103 Implikasinya, seperti dinyatakan dalam Framework Convention dan Bali Action Plan104, adalah bahwa semua bangsa memiliki peran dalam sebuah kesepakatan untuk mengurangi emisi global dan bahwa peranan ini haruslah seimbang dengan status kemajuan pembangunan mereka. Dalam pendekatan ini, negaranegara maju menjadi pemimpin dalam memenuhi sasaran reduksi yang signifikan, dan mereka membantu negara-negara berkembang dalam meletakkan fondasi-fondasi untuk jalur pertumbuhan yang lebih rendah-karbon dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan adaptasi warga negara mereka. UNFCCC juga mengajak negara-negara maju untuk mengompensasi negara-negara berkembang yang akan mendatangkan biaya mitigasi tambahan dan adaptasi. Salah satu tindakan penting mitigasi global adalah menetapkan mekanisme-mekanisme global yang memungkinkan untuk membedakan siapa yang melakukan mitigasi dan siapa yang membiayainya (topik pada Bab 6). Transfer finansial internasional yang dinegosiasikan dapat memungkinkan pendanaan langsung—oleh negaranegara berpendapatan tinggi—terhadap langkah-langkah mitigasi yang dijalani di

negara-negara berkembang. (Di negaranegara berkembang, mitigasi akan sering berkaitan dengan mengarahkan kembali jalur emisi masa depan ke tingkat yang lebih berkelanjutan, bukan mengurangi tingkat emisi absolut.) Membuka pendanaan berskala besar dari negara-negara berpendapatan tinggi sepertinya merupakan tantangan yang berat. Namun demikian, jika negara-negara berpendapatan tinggi berkomitmen untuk mencapai sasaran untuk emisi total global yang lebih rendah, ini merupakan salah satu kepentingan mereka untuk menyediakan pendanaan untuk menjamin mitigasi yang signifikan benar-benar berjalan di negara-negara berkembang. Estimasiestimasi untuk biaya mitigasi global biasanya mengasumsikan bahwa mitigasi akan terjadi di manapun atau kapanpun mitigasi tersebut paling murah untuk dilakukan. Banyak tindakan untuk pengurangan emisi yang berbiaya rendah relatif terhadap jalur yang diproyeksikan berada di negara-negara berkembang. Jadi, jalur mitigasi berbiaya terendah secara global selalu berarti bahwa sebagian besar mitigasi harus dilakukan di negara-negara berkembang—tidak peduli siapa yang membiayainya.105 Penundaan tindakan oleh negaranegara berkembang untuk secara signifikan menurunkan jalur emisi akan memunculkan biaya global yang lebih tinggi untuk sasaran mitigasi manapun yang nantinya dipilih. Penundaan tindakan-tindakan mitigasi di negaranegara berkembang sampai tahun 2050 dapat lebih dari melipatgandakan biaya total untuk memenuhi sasaran tertentu, berdasarkan salah satu estimasi. 106 Estimasi lainnya menyatakan bahwa sebuah kesepakatan internasional yang mencakup hanya lima penghasil emisi terbesar (mencakup dua pertiga dari

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

emisi total) akan membuat biaya menjadi tiga kali lipat untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan, dibandingkan dengan partisipasi penuh.107 Alasannya adalah bahwa menyusutkan kumpulan kesempatan-kesempatan mitigasi yang tersedia untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan akan mengharuskan kita untuk melakukan upaya-upaya negatif dan berbiaya rendah tetapi juga yang berbiaya tinggi. Walaupun negara-negara maju dan berkembang memiliki potensi yang sama untuk tindakan-tindakan yang berbiaya yang sangat negatif (manfaat bersih) dan tindakan-tindakan berbiaya tinggi, rentang tengah dari pilihan-pilihan mitigasi berbiaya rendah khususnya di negara-negara berkembang (dengan banyak pertanian dan hutan). Mengeksploitasi semua jalur-jalur yang tersedia akan menjadi sangat penting bagi pencapaian mitigasi yang substansial. Hal ini diilustrasikan oleh analisis McKinsey (Figur 1.3a), tetapi hasilnya tidaklah eksklusif untuk itu. Jika negara-negara berkembang tidak mengurangi jalur emisi mereka, biaya total untuk jalur mitigasi manapun yang dipilih akan lebih tinggi (biaya marginal pengurangan di negara maju sendiri—garis merah pada Figur 1.3b—selalu lebih tinggi jika pilihan-pilihan portofolio global—Figur 1.3b—dipertimbangkan). Penurunan dalam potensi mitigasi total dan peningkatan biaya mitigasi global yang berasal dari sebuah pendekatan yang melibatkan mitigasi di banyak negara berpendapatan tinggi tidak bergantung pada model tertentu manapun.108 Tidak juga bergantung pada perbedaan peluang dan biaya apa pun di antara negaranegara maju dan berkembang: jika negara maju menolak untuk mengurangi emisinya, biaya global yang serupa akan meningkat dan sejumlah potensi

pengurangan akan menghilang (Figur 1.3c). Peningkatan-peningkatan dalam biaya-biaya pengurangan global ini merepresentasikan rugi beban mati murni—biaya tambahan yang dibuangbuang karena sama sekali tidak membawa peningkatan kesejahteraan. Menghindari kerugian-kerugian semacam itu (bagianbagian yang diarsir antara kurva biaya marginal dalam Figur 1.3b dan 1.3c) menciptakan banyak insentif dan ruang untuk menegosiasikan lokasi dan pendanaan tindakan-tindakan mitigasi sementara membuat semua pesertanya diuntungkan. Akan jauh lebih murah bagi dunia sebagai satu kesatuan untuk mencapai tujuan mitigasi yang telah ditentukan dengan portofolio lengkap akan tindakan-tindakan yang terjadi di semua negara. Hal ini juga jauh lebih murah, sedemikian hingga jika jumlah negara yang berkomitmen untuk satu tujuan mitigasi global cukup banyak, semua akan mendapatkan hasil yang lebih baik jika negara-negara maju menanggung biaya pendanaan tindakantindakan yang dinaikkan skalanya di negara-negara berkembang saat ini. Negara-negara maju memiliki cara-cara dan insentif-insentif untuk mentransfer pendanaan yang cukup untuk negara-negara non-Annex I109 untuk membuat mereka setidaknya menjadi lebih setara dengan menerima transfer dan meningkatkan skala usaha mitigasi mereka dengan segera, dibandingkan dengan biaya yang mungkin akan ditanggung oleh negaranegara berkembang jika mereka menunda untuk berkomitmen selama satu dekade atau lebih sebelum membuat tahapan-tahapan sasaran dan kebijakan nasional mereka sendiri. Untuk sasaran mitigasi yang telah ditentukan, setiap dolar yang ditransfer ke ujung tersebut



Laporan Pembangunan Dunia 2010

0

Figur 1.3 Penilaian kerugian-kerugian beban mati dari partisipasi parsial dari kesepakatan iklim a. Kurva biaya marginal mitigasi gas rumah kaca global setelah tahun 2030 dengan kondisi bisnis-seperti-biasanya Biaya marginal mitigasi ($/tCO2e) 120 Tata guna lahan dan perubahan tata guna lahan, umumnya di negara-negara berkembang: deforestasi 100 Efisiensi pada bangunan: perumahan dan komersial; tutupan bangunan, panas & air yang dikurangi, manajemen padang rumput, restorasi 80 tanah, aforestasi, praktik agronomi yang diubah, praktik 60 peternakan, konversi pertanian intensif yang dikurangi 40 20 0 –20 Tenaga kecil hidro dan nuklir di negara–40 negara berkembang –60 Mesin yang lebih efisien; energy co–80 generation; daya listrik dari limbah; mesin –100 hibrida bertenaga bensin –120 Biaya negatif: Penghematan jangka –140 panjang yang melebihi biaya inisiasi –160 0 10 20

Teknologi yang dikembangkan: penangkapan dan penyimpanan karbon

Energi terbarukan: angin pantai dan darat, energi fotovoltaik matahari, tenaga matahari yang dikonsentrasi Biaya marginal, semua negara Langkah mitigasi di sebuah negara berkembang Langkah mitigasi di sebuah negara berpendapatan tinggi

30

40

Potensi mitigasi (GtCO2e/tahun) b. Kerugian-kerugian beban mati hanya dimitigasi di negara-negara maju: kurva biaya marginal partisipasi terbatas Biaya marginal mitigasi ($/tCO2e)

120 100 80 60 40 20 0 –20 –40 –60 –80 –100 –120 –140 –160

Gt dari mitigasi yang hilang pada $120/tCO2e

Biaya tambahan untuk mencapai mitigasi 10 Gt

Biaya marginal, semua negara Langkah mitigasi di sebuah negara berkembang Langkah mitigasi di sebuah negara berpendapatan tinggi

0

10

20

30

40

Potensi mitigasi (GtCO2e/tahun) c. Kerugian-kerugian beban mati hanya dimitigasi di negara-negara berkembang: kurva biaya marginal partisipasi terbatas Biaya marginal mitigasi ($/tCO2e)

120 100 80 60 40 20 0 –20 –40 –60 –80 –100 –120 –140 –160

Gt dari mitigasi yang hilang pada $120/tCO2e Biaya tambahan untuk mencapai mitigasi 25 Gt

Biaya marginal, semua negara Langkah mitigasi di sebuah negara berkembang Langkah mitigasi di sebuah negara berpendapatan tinggi

0

10

20

30

40

Potensi mitigasi (GtCO2e/tahun) Sumber: McKinsey & Company dengan data lanjutan yang lebih rinci disediakan untuk tim Laporan Pembangunan Dunia 2010. Catatan: Batang-batang pada (a) menunjukkan langkah-langkah mitigasi yang bervariasi, dengan lebarnya mengindikasikan jumlah pengurangan emisi masing-masing langkah yang akan dicapai dan tingginya mengindikasikan biaya, emisi per ton yang dihindari, dari langkah-langkah tersebut. Jika kita mengikuti tanda batang-batang tersebut, terbentuk kurva biaya mitigasi marginal. Bagian (b) dan (c) menunjukkan kurva biaya mitigasi marginal jika mitigasi hanya dilakukan di negara-negara berpendapatan tinggi (b) atau hanya di negara-negara berkembang (c), seperti yang dihasilkan oleh kerugian-kerugian beban mati yang diasosiasikan dengan scenario-skenario tersebut. Kerugian-kerugian beban mati seperti itu dapat dihindari atau diminimalisasi melalui mekanisme finansial yang mengizinkan pemisahan antara siapa yang membayar dan siapa yang melakukan mitigasi, dan memastikan pengadopsian langkah-langkah mitigasi yang berbiaya paling efektif.

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

dapat menghasilkan rata-rata tiga dolar dalam peningkatan kesejahteraan dengan cara menghilangkan rugi-rugi beban mati—keuntungan-keuntungan yang dapat dibagi berdasarkan syaratsyarat yang telah dinegosiasikan. Dengan kata lain, partisipasi negaranegara berkembang dalam mencapai sasaran global sangatlah berarti. Pembagian kerugian beban mati yang telah dipulihkan secara besar-besaran dapat membentuk insentif yang kuat untuk partisipasi universal dalam kesepakatan yang adil. Hal ini bukanlah permainan tanpa hasil yang positif.110 Mereka mengatakan, sangatlah penting untuk tidak meremehkan kesulitan-kesulitan dalam mencapai kesepakatan mengenai sasaran emisi global. Alasannya adalah bahwa kesepakatan seperti itu mengalami suatu jenis “tragedi barang umum” internasional: semua negara dapat diuntungkan dari partisipasi global, tet api ins ent if uni l atera l untu k berpartisipasi masih lemah bagi kebanyakan negara. Hal ini terjadi bukan hanya karena semua negara ingin mendapat tumpangan gratis, menikmati keuntungan-keuntungan tanpa menanggung biayanya.111 Kebanyakan negara cukup kecil sedemikian hingga jika salah satunya memutuskan untuk membelot dari kesepakatan global, maka kesepakatannya tidak akan langsung hancur. Akan tetapi, ketika diterapkan pada semua negara, pemikiran ini mempersulit kemungkinan tercapainya sebuah kesepakatan sejak awalnya.112 Faktanya, analisis-analisis simulasi yang menjelajahi beragam struktur koalisi dan transfer sumber daya internasional untuk mendorong para peserta yang ragu-ragu untuk tetap berada dalam koalisi menunjukkan adanya kesulitan dalam mendapatkan

kesepakatan yang stabil (yang konsisten dengan kepentingan masing-masing) untuk menjalankan pemotongan emisi global yang mendalam dan berbiaya tinggi. Koalisi-koalisi yang stabil dan efektif mungkin dibentuk untuk pemotongan emisi global yang lebih ringan dan berbiaya lebih rendah; tet api p emotongan-p emotongan seperti itu tidaklah cukup untuk mengatasi ancaman-ancaman terhadap keberlangsungan perubahan iklim yang lebih besar.113

Memanfaatkan waktu yang sekarang: Stimulus langsung dan transformasi jangka panjang Pada tahun 2008 perekonomian global mengalami guncangan yang dramatis, dipicu oleh gangguan dalam pasar perumahan dan finansial di Amerika Serikat dan pada akhirnya merembet ke banyak negara. Dunia belum pernah mengalami gejolak finansial dan ekonomi seperti itu sejak Masa Depresi Besar. Pasar kredit membeku, para investor kabur ke tempat aman, nilai berbagai mata uang menjadi berubah banyak, dan pasar saham jatuh dengan tajam. Pada puncak volatilitas finansial ini, pasar saham di Amerika Serikat kehilangan senilai $1,3 triliun dalam satu sesi.114 Konsekuensi-konsekuensi yang terus berlangsung bagi indikatorindikator ekonomi dan pembangunan di seluruh dunia sangatlah besar—dan terus bermunculan. Perekonomian global diproyeksikan akan mengalami kontraksi di tahun 2009. Pengangguran meningkat di seluruh dunia. Amerika Serikat saja telah kehilangan hampir 5 juta pekerjaan sejak resesinya dimulai pada Desember 2007 dan pada Maret 2009.115 Beberapa estimasi menyatakan bahwa 32 juta pekerjaan hilang di





Laporan Pembangunan Dunia 2010

negara-negara berkembang.116 Antara 53 dan 90 juta orang tidak akan dapat lolos dari kemiskinan karena kejatuhan ekonomi yang terjadi selama 2009.117 Bantuan pembangunan resmi—yang dari awalnya sudah jauh di bawah sasaran yang telah menjadi komitmen d a r i b e b e r a p a n e g a r a d o n o r— kemungkinan besar menurun seiring dengan memburuknya pendanaan publik di negara-negara maju dan bergesernya perhatian ke arah prioritasprioritas domestik. Beberapa kawasan menjadi lebih rentan terhadap tantangan-tantangan masa depan sebagai konsekuensinya: perekonomian di Sub-Sahara tumbuh dengan cepat di tahun-tahun pertama abad ke-21, tetapi runtuhnya hargaharga komoditas dan aktivitas ekonomi global akan menguji tren ini. Negaranegara dan komunitas-komunitas di seluruh dunia yang bergantung pada remitansi dari warga negara yang bekerja di negara-negara maju terkena dampak yang sangat parah karena kejatuhan transfer finansial.118 Di Meksiko remitan jatuh sebesar $920 juta dalam enam bulan hingga Maret 2009—penurunan sebesar 14 persen.119 Krisis finansial memberikan beban tambahan untuk usaha-usaha pembangunan dan pengalihan perhatian dari urgensi perubahan iklim. Kerentanan individu, komunitas, dan negara terhadap ancaman iklim akan meningkat, seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi, menghilangnya pendapatan, dan menyusutnya bantuan. Sementara pelambatan ekonomi akan diimbangi oleh perlambatan sementara dalam emisi, manusia akan tetap rentan terhadap pemanasan yang terus berjalan di jalurnya; dan tanpa usaha-usaha dengan kerja sama untuk memisahkan emisi dari pertumbuhan, emisi akan

kembali dipercepat seiring dengan pulihnya perekonomian. Pemerintah-pemerintah di banyak negara maju dan berkembang merespons krisis ini dengan mengembangkan pembelanjaan publik. Pengeluaran sekitar $2,4−2,8 triliun telah diajukan di beberapa rencana stimulus nasional dan regional.120 Pemerintah berharap bahwa peningkatan pengeluaran ini akan melindungi atau menciptakan lapangan kerja dengan meningkatkan permintaan efektif—salah satu prioritas utama untuk menahan tren yang menurun. Bank Dunia telah mengajukan bahwa 0,7 persen dari paket-paket stimulus negara-negara berpendapatan tinggi disalurkan ke dalam “dana kerentanan” untuk meminimalkan biaya sosial dari krisis ekonomi di negara-negara berkembang.121

Dukungan bagi stimulus hijau Walaupun terjadi kekacauan ekonomi, dorongan untuk melakukan tindakan segera dalam melawan perubahan iklim dengan sebaik-baiknya tetap tidak berubah. Hal tersebut malah menjadi lebih menekan dengan adanya peningkatan dalam hal kemiskinan dan kerentanan di seluruh dunia. Jadi perdebatan publik baru-baru ini telah berfokus pada kemungkinan menggunakan paket-paket fiskal untuk mendorong ekonomi yang lebih hijau, memerangi perubahan iklim sambil memulihkan pertumbuhan. Bagaimana caranya agar kemerosotan ekonomi dan juga perubahan iklim dapat diatasi dengan stimulus fiskal? Memecahkan permasalahan perubahan iklim memerlukan intervensi pemerintah, tidak bisa tidak karena hal tersebut diciptakan oleh suatu eksternalitas negatif berskala besar. Dan bencana yang terjadi sekali seumur hidup

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

dalam pasar finansial dan ekonomi riil menyerukan dilakukannya pengeluaran publik. Investasi dalam kebijakan iklim boleh jadi merupakan cara yang efisien untuk mengatasi krisis ekonomi dalam jangka pendek. Teknologi-teknologi rendah-karbon sangat mungkin akan menghasilkan peningkatan dalam lapangan kerja, karena teknologi tersebut lebih padat karya dibandingkan sektorsektor tinggi-karbon. 122 Beberapa perkiraan menyebutkan bahwa $1 miliar dalam pengeluaran pemerintah pada proyek hijau di Amerika Serikat dapat menciptakan 30.000 lapangan kerja dalam satu tahun, 7.000 lebih banyak dibandingkan infrastruktur tradisional.123 Perkiraan lain menyebutkan bahwa pengeluaran sebesar $100 miliar akan menghasilkan hampir 2 juta lapangan kerja—sekitar setengahnya secara langsung.124 Akan tetapi, sama dengan stimulus jangka pendek manapun, peningkatan jumlah lapangan kerja ini tidak dapat dijaga terus berlanjut di semua sektor.125

Pengeluaran hijau di seluruh dunia Di beberapa negara, pemerintahnya telah memasukkan bagian investasi “hijau” ke dalam proposal-proposal stimulus mereka—termasuk teknologi-teknologi



rendah-karbon, efisiensi energi, penelitian dan pengembangan, dan manajemen air dan limbah (Figur 1.4). Republik Korea akan mendedikasikan 80,5 persen dari rencana fiskalnya untuk proyek-proyek hijau. Sejumlah $100 miliar sampai $130 miliar dari paket stimulus AS telah dialokasikan untuk investasi yang berkaitan dengan perubahan iklim. Secara keseluruhan, sejumlah $436 miliar akan dikeluarkan untuk investasi hijau sebagai bagian stimulus fiskal di seluruh dunia, dengan setengahnya diperkirakan akan terpakai selama 2009.126 Efisiensi dari investasi-investasi tersebut akan bergantung pada seberapa tepat waktunya investasi tersebut dapat diimplementasikan; seberapa tepat sasarannya mereka dalam menciptakan lapangan kerja dan menggunakan sumber daya yang penggunaannya jauh dari maksimal, dan seberapa banyak mereka dapat menggeser perekonomian menjadi tahan lama, infrastruktur rendah-karbon, emisi yang lebih sedikit, dan ketahanan yang lebih tinggi. 127 Investasi dalam efisiensi energi di bangunan-bangunan publik, sebagai contoh, sangatlah menarik karena mereka biasanya “siap jalan”, sangat intensif tenaga kerja, dan menghasilkan penghematan jangka panjang dalam sektor publik.128 Kebajikan yang serupa

Figur 1.4 Pengeluaran stimulus hijau global meningkat Ukuran bagian hijau dari paket stimulus total ($, miliar) Ukuran paket stimulus total ($, miliar)

2,5 26,7

2,1 30,4

2,6 31,8

7,1 33,7

30,7 38,1

Australia

Inggris

Kanada

Perancis

Republik Korea

Sumber: Robins, Clover, dan Singh 2009.

12,4 485,9 1,3 103,5

13,8 104,8

Italia

Jerman

Jepang

221,3 586,1

China

94,1 787,0

Amerika Serikat



Laporan Pembangunan Dunia 2010

dapat ditemukan dalam bantuan untuk mendanai tindakan-tindakan efisiensi energi lain yang mengurangi biaya sosial energi di gedung-gedung swasta, begitu juga fasilitas-fasilitas air dan sanitasi dan dalam aliran lalu lintas yang lebih baik. Di setiap negara portofolio proyekproyek dan investasi-investasi sangat bervariasi, berdasarkan kondisi spesifik dari ekonomi dan kebutuhan akan penciptaan lapangan kerja. Kebanyakan paket stimulus di Amerika Latin, sebagai contoh, akan dibelanjakan pada pekerjaan-pekerjaan publik— termasuk jalan raya—dengan potensi mitigasi yang terbatas.129 Di Republik Korea, di mana 960.000 lapangan kerja diharapkan akan diciptakan dalam 4 tahun ke depan, investasi besarbesaran—$13,3 miliar dari $36 miliar— akan dialokasikan pada tiga proyek: restorasi sungai, pengembangan transit massal dan rel kereta, serta konservasi energi di pedesaan dan sekolah-sekolah, program-program yang diproyeksikan untuk menciptakan 500.000 lapangan kerja.130 China akan mengabdikan $85 miliar untuk transportasi kereta sebagai alternatif rendah-karbon terhadap transportasi jalan dan udara yang juga dapat membantu meringankan kemacetan transportasi. $70 miliar lainnya akan dialokasikan untuk jaringan listrik baru yang meningkatkan efisiensi dan ketersediaan listrik.131 Di Amerika Serikat dua proyek yang tidak terlalu mahal—$6,7 miliar untuk merenovasi bangunan-bangunan federal, dan $6,2 miliar lagi untuk perumahan yang tahan terhadap cuaca—akan menciptakan sekitar 325.000 lapangan kerja dalam satu tahun.132 Di kebanyakan negara berkembang, proyek-proyek dalam paket-paket stimulus tidak memiliki komponen reduksi emisi yang kuat, tetapi mereka

dapat meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim dan menciptakan lapangan ker ja. S ebagai contoh, memperbaiki jaringan air dan sanitasi di Kolombia menciptakan 100.000 lapangan kerja langsung per miliar dolar yang diinvestasikan, sekaligus mengurangi risiko penyakit-penyakit yang ditularkan lewat air.133 Baik negara berkembang maupun negara maju harus mempertimbangkan tindakan-tindakan adaptasi seperti restorasi anak sungai dan daerah basah, yang khususnya bisa menjadi intensif tenaga kerja dan karenanya akan mengurangi kerentanan fisik dan finansial bagi beberapa kelompok. Tantangannya adalah untuk menjamin bahwa tindakan-tindakan adaptasinya berkelanjutan setelah program pengeluarannya berakhir. Angka-angka pendahuluan ini akan sangat mungkin berubah saat krisisnya terus berlanjut. Tidak ada jaminan bahwa elemen-elemen hijau dari stimulus fiskal akan sukses baik dalam menghasilkan lapangan kerja maupun mengubah bauran karbon dalam perekonomian. Dan bahkan dalam skenario terbaik sekalipun, intervensi fiskalnya tidak akan cukup untuk mengeliminasi risiko dari penguncian karbon tinggi dan kerentanan iklim. Akan tetapi kesempatan untuk mulai menjalankan investasi hijau dan meletakkan fondasi untuk ekonomi rendah-karbon adalah sesuatu yang nyata dan harus diraih.

Transformasi fundamental dalam jangka menengah dan panjang Menggabungkan komponen-komponen investasi berdaya tahan tinggi dan rendah karbon yang kuat dalam ekspansi fiskal untuk memerangi krisis keuangan tidak akan memadai untuk menghadapi masalah-masalah jangka panjang yang

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

ditimbulkan oleh perubahan iklim. Dibutuhkan banyak transformasi fundamental dalam perlindungan sosial, dalam pembiayaan karbon, dalam pengembangan dan penelitian, dalam pasar-pasar energi, dan dalam pengelolaan tanah dan air. Pada jangka menengah dan panjang, tantangannya adalah mendapatkan jalur-jalur baru untuk meraih sasaran kembar, yaitu menjaga pembangunan tetap berkelanjutan dan juga membatasi perubahan iklim. Mencapai suatu kesepakatan global yang merata dan adil antara negara-negara yang mengeluarkan gas-gas rumah kaca paling banyak akan mencegah terjadinya skenario yang terburuk. Akan tetapi hal itu membutuhkan transformasi gaya hidup di negara-negara kaya (dan orang kaya di mana saja) yang padat karbon dan juga jalur pertumbuhan negara-negara berkembang yang juga padat karbon. Hal ini dengan demikian membutuhkan perubahan sosioekonomi yang saling melengkapi. Modifikasi dalam norma-norma sosial yang menghargai gaya hidup rendah karbon dapat terbukti sebagai suatu elemen yang kuat bagi kesuksesan (lihat Bab 8). Akan tetapi perubahan dalam perilaku harus diikuti dengan reformasi institusional dan pembiayaan tambahan dan inovasi teknologi untuk menghindari peningkatan yang terlalu membahayakan dan tidak dapat dibalikkan dalam suhu. Dalam kasus manapun dan dalam skenario manapun, kebijakan publik yang kuat dapat membantu perekonomian menyerap guncangan-guncangan dari dampakdampak iklim yang tidak terelakkan, meminimalkan kerugian-kerugian sosialnya, dan melindungi kesejahteraan dari mereka yang kemungkinannya paling besar untuk dirugikan.

Respons terhadap perubahan iklim dapat menimbulkan momentum untuk meningkatkan proses pembangunan dan mendorong reformasi yang meningkatkan kesejahteraan yang memang sudah waktunya terjadi. Sebagai contoh, upaya gabungan untuk meningkatkan efisiensi energi dan mendorong pembangunan dapat memperoleh suatu pernyataan kebijakan—dan juga fisik—dalam bentuk kota-kota yang lebih hijau dan lebih berdaya tahan. Memperbaiki perancangan kota untuk mendorong efisiensi energi— misalnya melalui transportasi umum yang lebih banyak dan biaya untuk kemacetan— dapat meningkatkan keamanan fisik dan kualitas hidup. Sebagian besar bergantung pada seberapa dapat diperkuatnya atau digantikannya kebijakan dan mekanisme institusional yang sudah ada tetapi masih belum memadai, berkat adanya ruang politik untuk berubah yang sekarang lebih besar, karena adanya ancaman pemanasan global, dan juga berkat meningkatnya bantuan keuangan dan teknis. Setiap orang memiliki peranan yang besar dalam perdebatan publik dan implementasi solusi-solusi. Survei-survei opini menunjukkan bahwa orang-orang di seluruh dunia merasa prihatin dengan perubahan iklim, bahkan di tengah kekacauan finansial yang sedang terjadi sekarang134 (meskipun bukti-buktinya mengenai tren yang baru-baru ini di Amerika Serikat masih campur aduk).135 Banyak pemerintahan juga menyadari, setidaknya dalam diskursus, dahsyatnya bahaya ini. Dan komunitas internasional pun telah menyadari masalah ini, sebagaimana dicontohkan oleh penerima hadiah Nobel Perdamaian 2007 untuk penilaian ilmiah dan komunikasi pada publik tentang perubahan iklim. Tantangan bagi para pengambil keputusan adalah memastikan bahwa kesadaran ini menciptakan momentum





Laporan Pembangunan Dunia 2010

untuk dilakukannya reformasi institusi dan perilaku dan melayani kebutuhan mereka yang paling rentan. 136 Krisis keuangan pada tahun 1990-an memicu penataan ulang jaring pengaman sosial di Amerika Latin, melahirkan ProgresaOportunidades di Meksiko dan Bolsa Escola—Bolsa Familia di Brazil, salah satu inovasi terbaik dalam kebijakan sosial selama beberapa dekade.137 Krisis yang sedang berlangsung sekarang telah mengikis keyakinan pada pasar-pasar yang tidak teregulasi. Konsekuensinya, regulasi yang lebih baik, intervensi yang lebih banyak, dan akuntabilitas pemerintah yang lebih besar menjadi diharapkan. Untuk dapat menghadapi perubahan iklim, dibutuhkan lebih banyak lagi regulasi yang cerdas-iklim untuk merangsang pendekatan-pendekatan inovatif terhadap mitigasi dan adaptasi. Kebijakankebijakan seperti itu menciptakan suatu pintu gerbang bagi skala dan cakupan intervensi pemerintah yang dibutuhkan untuk memperbaiki perubahan iklim— kegagalan pasar yang terbesar dalam sejarah umat manusia.

Catatan 1. Weiss dan Bradley 2001. 2. Ristvet dan Weiss 2000. 3. Weiss 2000. 4. Harrington dan Walton 2008; IWM dan CEGIS 2007.

“Jagalah bumi kalian, Peliharalah makhluk-makhluknya. Jangan tinggalkan anak-anak kalian, Di planet yang mati.” —Lakshmi Shree, India, umur 12

5. Schmidhuber dan Tubiello 2007. 6. Bates dkk. 2008. 7. WCED 1987. 8. Chen dan Ravaillon 2008. 9. World Bank 2009a. 10. PBB 2008. 11. Chen dan Ravaillon 2008. 12. IEA 2007. 13. PBB 2008. 14. PBB 2008. 15. UNDP2008. 16. IARU 2009. 17. Smith dkk. 2009. 18. Patriquin dkk. 2005; Patriquin, Wellstead, dan White 2007; Pacific Institute for Climate Solutions 2008. 19. Perhatikan bahwa hubungan ini tetap berlaku bahkan ketika dikendalikan terhadap fakta bahwa negara-negara miskin cenderung lebih panas secara rata-rata. Dell, Jones, dan Olken 2008. 20. Dell, Jones, dan Olken 2008. 21. Brown dkk. 2009. 22. IPCC 2007b. 23. Cruz dkk. 2007. 24. Easterling dkk. 2007. 25. Auffhammer, Ramanathan, dan Vincent 2006. 26. Guiteras 2007. 27. Ligon dan Sadoulet 2007. 28. Campbell-Lendrum, Corvalan, dan Pruss-Ustun 2003. 29. Di antara banyak kawasan dan negara yang terkena dampaknya adalah

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

Kolombia (Vergara 2009), kawasan Kaukasus (Rabie dkk. 2008), Ethiopia (Confalonieri dkk. 2007), dan pulaupulau di Pasifik Selatan (Potter 2008). 30. Molesworth dkk. 2003. 31. Confalonieri dkk. 2007. 32. Confalonieri dkk. 2007; Morris dkk. 2002. 33. Carter dkk. 2007. 34. Bank Dunia 2001. 35. Azariadis dan Stachurski 2005. 36. Lokshin dan Ravallion 2000; Jalan dan Ravallion 2004; Dercon 2004. 37. Dercon 2004. 38. Mueller dan Osgood 2007. 39. Azariadis dan Stachurski 2005. 40. Rosenzweig dan Binswanger 1993. 41. Jensen 2000. 42. Alderman, Hoddinott, dan Kinsey 2006. 43. Angka-angka ini mencakup semua gas-gas rumah kaca tetapi tidak termasuk emisi dari alih fungsi lahan. Jika estimasi-estimasi untuk emisi alih fungsi lahan diikutsertakan, maka bagian dari negara-negara berkembang dalam emisi global mendekati 60 persen. 44. WRI 2008. 45. Chomitz dan Meisner 2008. 46. Perhitungan para penulis berdasarkan data dari CAIT (WRI 2008). Emisi gas-gas rumah kaca (tidak termasuk alih fungsi lahan per kapita berkisar antara 4,5 sampai 55,5 metrik ton CO 2e (7 hingga 27, jika negaranegara kepulauan kecil dan produsenprodusen minyak dikecualikan) di antara negara-negara berpendapatan tinggi. Emisi per output sebesar $1.000 pada nilai tukar pasar berkisar antara 0,15 hingga 1,72 metrik ton di negara-negara berpendapatan tinggi; mengukur output pada paritas daya beli, kisarannya adalah 0,20 hingga 1,04 metrik ton. 47. Marcotullio dan Schulz 2007.

48. Rosenberg 1971. 49. IPCC 2007a. 50. Lipovsky 1995. 51. “Annual Brazilian Ethanol Exports” dan “Brazilian Ethanol Production,” http://english.unica.com. br/dadosCotacao/estatistica/ (diakses Desember 2008). 52. Ummel dan Wheeler 2008. 53. Hill dkk. 2009. 54. Mitchell 2008. 55. Ivanic dan Martin 2008. 56. Ng dan Aksoy 2008; Bank Dunia 2008. 57. Cramton dan Kerr 1999. 58. Ekins dan Dresner 2004. 59. Brenner, Riddle, dan Boyce 2007. 60. Benitez dkk. 2008. 61. Estache 2009. 62. Andriamihaja dan Vecchi 2007. 63. Komives dkk. 2005. 64. Johnson dkk. 2008. 65. Pindyck 2007; Weitzman 2009a; Hallegatte, Dumas, dan Hourcade 2009. 66. Yohe 1999; Toth dan Mwandosya 2001. 67. Lempert dan Schlesinger 2000. 68. Nordhaus 2008a. Untuk pembahasan mengenai model-model dan hasil-hasilnya, lihat, misalnya, Heal 2008; Fisher dkk. 2007; Tol 2005; serta Hourcade dan Ambrosi 2007. 69. Estimasi sebesar 5 persen ini sebagian besar didorong oleh tingkat diskon, tetapi margin antara 5 persen dan 20 persen didasarkan pada inklusi dari dampak-dampak non-pasar (kesehatan d an l i ng ku ng an ) , ke mu ng k i nan sensitivitas iklim yang lebih tinggi terhadap gas-gas rumah kaca, dan penggunaan pembobotan ekuitas. Stern 2007; Dasgupta 2007; Dasgupta 2008.





Laporan Pembangunan Dunia 2010

70. Untuk pembahasan, lihat Dasgupta 2007; Dasgupta 2008; dan Kotak 1.4. 71. Dasgupta 2008. 72. Heal 2008; Sterner dan Persson 2008. 73. Guesnerie 2004; Heal 2005; Hourcade dan Ambrosi 2007. 74. Sterner dan Persson 2008. 7 5 . Ho u r c a d e d k k . ( 2 0 0 1 ) menjelajahi sensitivitas dari tujuh model penilaian terintegrasi yang berbeda terhadap bentuk dari fungsi kerusakan dan mendapati bahwa jalur-jalur konsentrasi optimal dapat menunjukkan perbedaan yang signifikan dari trentren emisi yang sekarang jika terjadi kerusakan yang signifikan dengan pemanasan sebesar 3°C atau 500 bpj konsentrasi CO2. Secara lebih umum, mereka mengomentari bahwa tindakan dini dapat dibenarkan jika diberikan peluang yang tidak nol pada kerusakankerusakan yang meningkat dengan cepat seiring dengan pemanasan, sehingga kerusakan-kerusakan tumbuh lebih cepat daripada tingkat ketika diskon memangkas bobotnya. 76. Solomon dkk. 2009. 77. Mignone dkk. 2008. 78. Folger 2006; Auld dkk. 2007. 79. Teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon dijelaskan pada Bab 4, Kotak 4.6. 80. Shalizi dan Lecocq 2009. 81. Untuk pembahasan umum, lihat Arthur 1994; untuk penerapan yang lebih spesifik dari imbal balik yang meningkat dan perlunya berinvestasi dalam inovasi di bidang efisiensi energi, lihat Mulder 2005. 82. Weitzman 2007; Weitzman 2009a; Weitzman 2009b; Nordhaus 2009. 83. Gjerde, Grepper ud, dan Kverndokk 1999; Kousky dkk. 2009.

84. Ha l legatte, D umas, dan Hourcade 2009. 85. Lihat Pindyck (2007) dan Quiggin (2008) untuk ulasan-ulasan terkini. 86. O’Neill dkk. 2006. 87. Dalam model mereka, Sterner dan Persson (2008) menyertakan barangbarang lingkungan dalam fungsi utilitas mereka. 88. Portney dan Weyant 1999. 89. Fisher dkk. 2007; Hourcade dan Ambrosi 2007; Tol 2005. 90. Diamond 2005. 91. Komives dkk. 2007; Diamond 2005. 92. Diamond 2005. 93. Hof, den Elzen, dan van Vuuren 2008. 94. Bruckner dkk. 1999. 95. Yohe 1999. 96. Toth dan Mwandosya 2001. 97. Lempert dan Schlesinger 2000. 98. Savage 1951; Savage 1954. 99. Klaus, Yohe, dan Schlesinger 2008. 100. IPCC 2007a. 101. Lihat bagian gambaran umum, Figur 3 untuk emisi kumulatif relatif terhadap bagian populasi. 102. Menurut IEA (2008), negaranegara non-OECD (Organisation for Economic C o-operation and Development) mencapai tingkat emisi terkait energi per tahun yang sama dengan negara-negara OECD di tahun 2004 (kira-kira 13 gigaton CO2 per tahun). Basis data indikator emisi CAIT dari World Resource Institute menunjukkan kesimpulan yang sama menggunakan definisi Bank Dunia untuk negara maju dan negara berkembang; WRI 2008. 103. Wheeler dan Ummel 2007. 104. Bab 5, kotak 5.1, menjelaskan Bali Action Plan secara terinci.

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

105. Untuk 2030, ini diestimasikan pada 65–70 persen dari reduksi emisi, atau 45–70 persen dari biaya investasi. Sepanjang abad tersebut (menggunakan NPV untuk 2100) estimasi bagian investasi yang harus dilakukan di negaranegara berkembang adalah 65–70 persen. Lihat bagian Gambaran Umum, Catatan 47 untuk sumber-sumbernya. 106. Edmonds dkk. 2008. 107. Nordhaus 2008b. 108. Lihat, misalnya, Edmonds dkk. 2008. 109. Lihat Catatan 108 di atas dan Bab 5, Kotak 5.1. 110. Hamilton 2009. 111. Barrett 2006; Barrett 2007. 112. Barrett dan Stavins 2003. 113. Carraro, Eykmans, dan Finus 2009; komunikasi pribadi dengan Carlo Carraro, 2009. 114. Brinsley dan Christie 2009. 115. Bureau of Labor Statistics 2009. 116. ILO 2009. 117. Bank Dunia 2009a. 118. Ratha, Mohapatra, dan Xu 2008. 119. Banco de México, http:// www.banxico.org.mx/SieInternet/ consultarDirectorioInternetAction. do?accion=consultarCuadro&idCuad ro=CE99&locale=es (diakses 15 Mei 2009). 120. Robins, Clover, dan Singh 2009. 121. Robert B. Zoellick, “A Stimulus Package for the World,” New York Times, 22 Januari 2009. 122. Fankhauser, Sehlleier, dan Stern 2008. 123. Houser, Mohan, dan Heilmayr 2009. 124. Pollin dkk. 2008. 125. Fankhauser, Sehlleier, dan Stern 2008.

126. Robins, Clover, dan Singh 2009. 127. Bowen dkk. 2009. 128. Bowen dkk. 2009; Houser, Mohan, dan Heilmayr 2009. 129. Schwartz, Andres, dan Dragoiu 2009. 130. Barbier 2009. 131. Barbier 2009. 132. Perhitungan para penulis berdasarkan Houser, Mohan, dan Heilmayr 2009. 133. Schwartz, Andres, dan Dragoiu 2009. 134. Accenture 2009. 135. Pew Research Center for People and the Press 2009. 136. Ravallion 2008. 137. Program-program ini memelopori penggunaan transfertransfer berbasis insentif pada rumah tangga miskin sebagai suplemen pendapatan sementara secara langsung mendorong perilaku-perilaku yang m e m e r ang i ke m i s k i n an . S ang at b er tent angan dengan du kungan pendapatan yang tradisional, programprogram ini memberikan uang tunai pada rumah tangga miskin dengan syarat mereka i kut s er t a da lam program-program nutrisi dan kesehatan (imunisasi, perawatan prakelahiran) atau dengan mengacu pada tingkat kehadiran anak mereka di sekolah. Fiszbein dan Schady 2009.

Referensi ACASIAN (Australian Consortium for the Asian Spatial Information and Analysis Network). 2004. “China Rail Transport Network database.” Griffith University, Brisbane. Accenture. 2009. Shifting the Balance from Intention to Action: Low Carbon, High Opportunity, High Performance. New York: Accenture.



0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Adams, H. D., M. GuardiolaClaramonte, G. A. Barron-Gafford, J. C. Villegas, D. D. Breshears, C. B. Zou, P. A. Troch, dan T. E. Huxman. 2009. “Temperature Sensitivity of Drought-Induced Tree Mortality Portends Increased Regional Die-Off under GlobalChange-Type Drought.” Proceedings of the National Academy of Sciences 106 (17): 7063–66. Aguilar, L. 2006. “Climate Change and Disaster Mitigation: Gender Makes a Difference.” International Union for Conservation of Nature, Gland, Switzerland. Alderman, H., J. Hoddinott, dan B. Kinsey. 2006. “Long-Term Consequences of Early Childhood Malnutrition.” Oxford Economic Papers 58 (3): 450–74. Andriamihaja, N., dan G. Vecchi. 2007. “An Evaluation of the Welfare Impact of Higher Energy Prices in Madagascar.” Working Paper Series 106, World Bank, Africa Region, Washington, DC. Armstrong, R., B. Raup, S. J. S. Khalsa, R. Barry, J. Kargel, C. Helm, dan H. Kieffer. 2005. “GLIMS Glacier Database.” National Snow and Ice Data Center, Boulder, CO. Arthur, W. B. 1994. Increasing Returns and Path-Dependence in the Economy. Ann Arbor, MI: University of Michigan Press. Assunçao, J. J., dan F. Chein. 2008. “Climate Change, Agricultural Productivity and Poverty.” Background Paper for de la Torre and others, 2008, Low Carbon, High Growth: Latin America Responses to Climate Change. Washington, DC: World Bank. Auffhammer, M., V. Ramanathan, dan J. R. Vincent. 2006. “Integrated

Model Shows that Atmospheric Brown Clouds and Greenhouse Gases Have Reduced Rice Harvests in India.” Proceedings of the National Academy of Sciences 103 (52): 19668–72. Auld, G, S. Bernstein, B. Cashore, dan K. Levin. 2007. “Playing It Forward: Path Dependency, Progressive Incrementalism, and the ‘Super Wicked’ Problem of Global Climate Change.” Paper presented at the International Studies Association annual convention, 28 Februari, Chicago. Azariadis, C., dan J. Stachurski. 2005. “Poverty Traps.” Dalam Handbook of Economic Growth, vol. 1, P. Aghion dan S. Durlauf (para editor). Amsterdam: Elsevier. Barbier, E. B. 2009. A Global Green New Deal. Nairobi: United Nations Environment Programme. Barrett, S. 2006. “The Problem of Averting Global Catastrophe.” Chicago Journal of International Law 6 (2): 1–26. ———. 2007. Why Cooperate? The Incentive to Supply Global Public Goods. Oxford, UK: Oxford University Press. Barrett, S., dan R. Stavins. 2003. “Increasing Participation and Compliance in International Climate Change Agreements.” International Environmental Agreements: Politics, Law and Economics 3 (4): 349–76. Bates, B., Z. W. Kundzewicz, S. Wu, dan J. Palutikof. 2008. “Climate Change and Water.” Technical Paper, Intergovernmental Panel on Climate Change, Geneva. Benitez, D., R. Fuentes Nieva, T. Serebrisky, dan Q. Wodon. 2008. “Assessing the Impact of Climate

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

Change Policies in Infrastructure Service Delivery: A Note on Affordability and Access.” Background note for the WDR 2010. Bowen, A., S. Fankhauser, N. Stern, dan D. Zenghelis. 2009. An Outline of the Case for a “Green” Stimulus. London: Grantham Research Institute on Climate Change and the Environment and the Centre for Climate Change Economics and Policy. Brenner, M. D., M. Riddle, dan J. K. Boyce. 2007. “A Chinese Sky Trust? Distributional Impacts of Carbon Charges and Revenue Recycling in China.” Energy Policy 35 (3): 1771–84. Brinsley, J., dan R. Christie. 2009. “Paulson to Work Quickly with Congress to Revive Plan (Update 1).” Bloomberg, September 29. Brown, C., R. Meeks, Y. Ghile, dan K. Hunu. 2009. “An Empirical Analysis of the Effects of Climate Variables on National Level Economic Growth.” Background paper for the WDR 2010. Bruckner, T., G. Petschel-Held, F. L. Toth, H.-M. Füssel, C. Helm, M. Leimbach, dan H.-J. Schellnhuber. 1999. “Climate Change Decision Support and the Tolerable Windows Approach.” Environmental Modeling and Assessment 4: 217–34. Bureau of Labor Statistics. 2009. “Employment Situation Summary.” Washington, DC. Campbell-Lendrum, D. H., C. F. Corvalan, dan A. Pruss-Ustun. 2003. “How Much Disease Could Climate Change Cause?” Dalam Climate Change and Human Health: Risks and Responses, A. J. McMichael, D. H. Campbell-

Lendrum, C. F. Corvalan, K. L. Ebi, A. Githeko, J. D. Scheraga, dan A. Woodward (para editor). Geneva: World Health Organization. Caney, S. 2009. “Ethics and Climate Change.” Background paper for the WDR 2010. Carraro, C., J. Eykmans, dan M. Finus. 2009. “Optimal Transfers and Participation Decisions in International Environmental Agreements.” Review of International Organizations 1 (4): 379–96. Carter, M. R., P. D. Little, T. Mogues, dan W. Negatu. 2007. “Poverty Traps and Natural Disasters in Ethiopia and Honduras.” World Development 35 (5): 835–56. Chan, K. W. 2008. “Internal Labor Migration in China: Trends, Geographical Distribution and Policies.” Paper presented at the Proceedings of United Nations Expert Group Meeting on Population Distribution, Urbanization, Internal Migration and Development, New York. Chen, S., dan M. Ravaillon. 2008. “The Developing World Is Poorer than We Thought, But No Less Successful in the Fight against Poverty.” Policy Research Working Paper 4703, World Bank, Washington, DC. Chomitz, K., dan C. Meisner. 2008. “A Simple Benchmark for CO2 Intensity of Economies.” Washington, DC: Background Note for the World Bank Internal Evaluation Group on Climate Change and the World Bank Group. Confalonieri, U., B. Menne, R. Akhtar, K. L. Ebi, M. Hauengue, R. S. Kovats, B. Revich, dan A. Woodward. 2007. “Human





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Health.” Dalam Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, M. L. Parry, O. F. Canziani, J. P. Palutikof, P. J. van der Linden, dan C. E. Hanson (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. Cramton, P., dan S. Kerr. 1999. “The Distributional Effect of Carbon Regulation: Why Auctioned Carbon Permits Are Attractive and Feasible.” Dalam The Market and the Environment, T. Sterner. Northampton (editor), UK: Edward Elgar Publishing. Cruz, R. V., H. Harasawa, M. Lal, S. Wu, Y. Anokhin, B. Punsalmaa, Y. Honda, M. Jafari, C. Li, dan N. Huu Ninh. 2007. “Asia.” Dalam Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, M. L. Parry, O. F. Canziani, J. P. Palutikof, P. J. van der Linden, dan C. E. Hanson (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. Dasgupta, P. 2007. “Comments on the Stern Review’s Economics of Climate Change.” National Institute Economic Review 199: 4–7. ———. 2008. “Discounting Climate Change.” Journal of Risk and Uncertainty 37 (2): 141–69. Dell, M., B. F. Jones, dan B. A. Olken. 2008. “Climate Change and Economic Growth: Evidence from the Last Half Century.” Working Paper 14132, National Bureau of Economic Research, Cambridge, MA.

———. 2009. “Temperature and Income: Reconciling New CrossSectional and Panel Estimates.” American Economic Review 99 (2): 198–204. Dercon, S. 2004. “Growth and Shocks: Evidence from Rural Ethiopia.” Journal of Development Economics 74 (2): 309–29. Diamond, J. 2005. Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed. New York: Viking. Easterling, W., P. Aggarwal, P. Batima, K. Brander, L. Erda, M. Howden, A. Kirilenko, J. Morton, J.-F. Soussana, J. Schmidhuber, dan F. Tubiello. 2007. “Food, Fibre and Forest Products.” Dalam Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, M. Parry, O. F. Canziani, J. P. Palutikof, P. J. van der Linden, dan C. E. Hanson (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. Edmonds, J., L. Clarke, J. Lurz, dan M. Wise. 2008. “Stabilizing CO2 Concentrations with Incomplete International Cooperation.” Climate Policy 8 (4): 355–76. Ekins, P., dan S. Dresner. 2004. Green Taxes and Charges: Reducing their Impact on Low-income Households. York, UK: Joseph Rowntree Foundation. ESRI (Environmental Systems Research Institute). 2002. “ESRI Data and Maps.” Redlands, CA. Estache, A. 2009. “How Should the Nexus between Economic and Environmental Regulation Work for Infrastructure Services?” Background note for the WDR 2010.

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

Fankhauser, S., F. Sehlleier, dan N. Stern. 2008. “Climate Change, Innovation and Jobs.” Climate Policy 8: 421–29. Fisher, B. S., N. Nakićenovic´, K. Alfsen, J. Corfee Morlot, F. de la Chesnaye, J.-C. Hourcade, K. Jiang, M. Kainuma, E. La Rovere, A. Matysek, A. Rana, K. Riahi, R. Richels, S. Rose, D. van Vuuren, dan R. Warren. 2007. “Issues Related to Mitigation in the LongTerm Context.” Dalam Climate Change 2007: Mitigation. Contribution of Working Group III to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, B. Metz, O. R. Davidson, P. R. Bosch, R. Dave, dan L. A. Meyer (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. Fiszbein, A., dan N. Schady. 2009. Conditional Cash Transfers: Reducing Present and Future Poverty. Washington, DC: World Bank. Folger, T. 2006. “Can Coal Come Clean? How to Survive the Return of the World’s Dirtiest Fossil Fuel.” December. Discover Magazine. Gjerde, J., S. Grepperud, dan S. Kverndokk. 1999. “Optimal Climate Policy under the Possibility of a Catastrophe.” Resource and Energy Economics 21 (3–4): 289–317. Guesnerie, R. 2004. “Calcul Economique et Développement Durable.” La Revue Economique 55 (3): 363–82. Guiteras, R. 2007. “The Impact of Climate Change on Indian Agriculture.” Department of Economics Working Paper, Massachusetts Institute of Technology, Cambridge, MA.

Hallegatte, S. 2008. “An Adaptive Regional Input-Output Model and its Application to the Assessment of the Economic Cost of Katrina.” Risk Analysis 28 (3): 779–99. Hallegatte, S., P. Dumas, dan J.-C. Hourcade. 2009. “A Note on the Economic Cost of Climate Change and the Rationale to Limit it to 2°K.” Background paper for the WDR 2010. Hamilton, K. 2009. “Delayed Participation in a Global Climate Agreement.” Background note for the WDR 2010. Harrington, J., dan T. L. Walton. 2008. “Climate Change in Coastal Areas in Florida: Sea Level Rise Estimation and Economic Analysis to Year 2080.” Florida State University, Tallahassee, FL. Heal, G. 2005. “Intertemporal Welfare Economics and the Environment.” Dalam Handbook of Environmental Economics, Vol. 3, K.-G. Maler dan J. R. Vincent (para editor). Amsterdam: Elsevier. ———. 2008. “Climate Economics: A Meta-Review and Some Suggestions.” Working Paper 13927, National Bureau of Economic Research, Cambridge, MA. Hill, J., S. Polasky, E. Nelson, D. Tilman, H. Huo, L. Ludwig, J. Neumann, H. Zheng, dan D. Bonta. 2009. “Climate Change and Health Costs of Air Emissions from Biofuels and Gasoline.” Proceedings of the National Academy of Sciences 106 (6): 2077–82. Hof, A. F., M. G. J. den Elzen, dan D. P. van Vuuren. 2008. “Analyzing the Costs and Benefits of Climate Policy: Value Judgments and Scientific Uncertainties.” Global Environmental Change 18 (3): 412–24.





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Houghton, R. A. 2009. “Emissions of Carbon from Land Management.” Background note for the WDR 2010. Hourcade, J.-C., dan P. Ambrosi. 2007. “Quelques Leçons d’un Essai à Risque, l’evaluation des Dommages Climatiques par Sir Nicholas Stern.” Revue d’economie politique 117 (4): 33–46. Hourcade, J.-C., M. Ha-Duong, A. Grübler, dan R. S. J. Tol. 2001. “INASUD Project Findings on Integrated Assessment of Climate Policies.” Integrated Assessment 2 (1): 31–35. Houser, T., S. Mohan, dan R. Heilmayr. 2009. “A Green Global Recovery? Assessing U.S. Economic Stimulus and the Prospects for International Coordination.” Policy Brief PB0903, World Resources Institute, Washington, DC. Huang, Y., dan A. Magnoli, eds. 2009. Reshaping Economic Geography in East Asia. Washington, DC: World Bank. IARU (International Alliance of Research Universities). 2009. “Climate Change: Global Risks, Challenges and Decisions.” IOPConference Series: Earth and Environmental Science. Copenhagen. IEA (International Energy Agency). 2007. World Energy Outlook 2007. Paris: IEA. ———. 2008. World Energy Outlook 2008. Paris: IEA. ILO (International Labour Organization). 2009. Global Employment Trends: January 2009. Geneva: ILO. IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). 2007a. Climate Change 2007: Synthesis Report.

Contribution of Working Groups I, II, and II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Geneva: IPCC. ———. 2007b. “Summary for Policymakers.” Dalam Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, M. L. Parry, O. F. Canziani, J. P. Palutikof, P. J. van der Linden, dan C. E. Hanson (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. Ivanic, M., dan W. Martin. 2008. “Implications of Higher Global Food Prices for Poverty in LowIncome Countries.” Policy Research Working Paper 4594, World Bank, Washington, DC. IWM (Institute of Water Modelling) and CEGIS (Center for Environmental and Geographical Information Services). 2007. Investigating theImpact of Relative Sea-Level Rise on Coastal Communities and Their Livelihoods in Bangladesh. Dhaka: IWM, CEGIS. Jalan, J., dan M. Ravallion. 2004. “Household Income Dynamics in Rural China.” Dalam Insurance against Poverty, S. Dercon (editor). Oxford, UK: Oxford University Press. Jensen, R. 2000. “Agricultural Volatility and Investments in Children.” American Economic Review 90 (2): 399–404. Johnson, T., F. Liu, C. Alatorre, dan Z. Romo. 2008. “Mexico Low-Carbon Study—México: Estudio Para la Disminución de Emisiones de

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

Carbono (MEDEC).” World Bank, Washington, DC. Klaus, K., G. Yohe, dan M. Schlesinger. 2008. “Managing the Risks of Climate Thresholds: Uncertainties and Information Needs.” Climatic Change 91: 5–10. Komives, K., V. Foster, J. Halpern, Q. Wodon, dan R. Abdullah. 2005. Water, Electricity, and the Poor: Who Benefits from Utility Subsidies? Washington, DC: World Bank. Komives, K., V. Foster, H. Halpern, Q. Wodon, dan R. Krznaric. 2007. Food Coupons and Bald Mountains: What the History of Resource Scarcity Can Teach Us about Tackling Climate Change. New York: United Nations Development Programme. Kousky, C., O. Rostapshova, M. A. Toman, dan R. Zeckhauser. 2009. “Responding to Threats of Climate Change Catastrophes.” Background paper for the Economics of Natural Disasters, Global Facility for Disaser Reduction and Recovery, World Bank, Washington, DC. Kriegler, E., J. W. Hall, H. Held, R. Dawson, dan H. J. Schellnhuber. 2009. “Imprecise Probability Assessment of Tipping Points in the Climate System.” Proceedings of the National Academy of Sciences 106 (13): 5041–46. Lambrou, Y., dan R. Laub. 2004. Gender Perspectives on the Conventions on Biodiversity, Climate Change and Desertification. Rome: Food and Agriculture Organization. Lempert, R. J., dan M. E. Schlesinger. 2000. “Robust Strategies for Abating Climate Change.” Climatic Change 45 (3–4): 387–401.

Ligon, E., dan E. Sadoulet. 2007. “Estimating the Effects of Aggregate Agricultural Growth on the Distribution of Expenditures.” Background paper for the WDR 2008. Lipovsky, I. 1995. “The Central Asian Cotton Epic.” Central Asian Survey 14 (4): 29–542. Lokshin, M., dan M. Ravallion. 2000. “Short-lived Shocks with Long-lived Impacts? Household Income Dynamics in a Transition Economy.” Policy Research Working Paper 2459, World Bank, Washington, DC. Marcotullio, P. J., dan N. B. Schulz. 2007. “Comparison of Energy Transitions in the United States and Developing and Industrializing Economies.” World Development 35 (10): 1650–83. Martin, A. 1996. “Forestry: Gender Makes the Difference.” International Union for Conservation of Nature, Gland, Switzerland. McKinsey & Company. 2009. Pathways to a Low-carbon Economy: Version 2 of the Global Greenhouse Gas Abatement Cost Curve. McKinsey & Company. Mignone, B. K., R. H. Socolow, J. L. Sarmiento, dan M. Oppenheimer. 2008. “Atmospheric Stabilization and the Timing of Carbon Mitigation.” Climatic Change 88 (3 -4): 251–65. Mitchell, D. 2008. “A Note on Rising Food Prices.” Policy Research Working Paper 4682, World Bank, Washington, DC. Molesworth, A. M., L. E. Cuevas, S. J. Connor, A. P. Morse, dan M. C. Thomson. 2003. “Environmental





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Changes and Meningitis Epidemics in Africa.” Emerging Infectious Diseases 9 (10): 1287–93. Morris, S., O. Neidecker-Gonzales, C. Carletto, M. Munguia, J. M. Medina, dan Q. Wodon. 2002. “Hurricane Mitch and Livelihoods of the Rural Poor in Honduras.” World Development 30 (1): 39–60. Mueller, V., dan D. Osgood. 2007. “Long-term Impacts of Droughts on Labor Markets in Developing Countries: Evidence from Brazil.” Earth Institute at Columbia University, New York. Mulder, P. 2005. The Economics of Technology Diffusion and Energy Efficiency. Cheltenham, UK: Edward Elgar. Neumayer, E., dan T. Plumper. 2007. “The Gendered Nature of Natural Disasters: The Impact of Catastrophic Events on the Gender Gap in Life Expectancy, 1981–2002.” Annals of the Association of American Geographers 97 (3): 551–66. Ng, F., dan M. A. Aksoy. 2008. “Who Are the Net Food Importing Countries?” Policy Research Working Paper 4457, World Bank, Washington, DC. Nordhaus, W. 2008a. A Question of Balance: Weighing the Options on Global Warming Policies. New Haven, CT: Yale University Press. ———. 2008b. “The Role of Universal Participation in Policies to Slow Global Warming.” Paper presented at the Third Atlantic Workshop on Energy and Environmental Economics, A Toxa, Spain. ———. 2009. “An Analysis of the Dismal Theorem.” Cowles Foundation Discussion Paper 1686, New Haven, CT.

O’Neill, B. C., P. Crutzen, A. Grübler, M. Ha-Duong, K. Keller, C. Kolstad, J. Koomey, A. Lange, M. Obersteiner, M. Oppenheimer, W. Pepper, W. Sanderson, M. Schlesinger, N. Treich, A. Ulph, M. Webster, dan C. Wilson. 2006. “Learning and Climate Change.” Climate Policy 6: 585–89. Pacific Institute for Climate Solutions. 2008. “Climate Change and Health in British Columbia.” University of Victoria, Victoria. Parikh, J. 2008. Gender and Climate Change: Key Issues. New Delhi: Integrated Research and Action for Development. Patriquin, M., A. M. Wellstead, dan W. A. White. 2007. “Beetles, Trees, and People: Regional Economic Impact Sensitivity and Policy Considerations Related to the Mountain Pine Beetle Infestation in British Columbia, Canada.” Forest Policy and Economics 9 (8): 938–46. Pindyck, R. 2007. “Uncertainty in Environmental Economics.” Review of Environmental Economics and Policy 1 (1): 45–65. Pollin, R., H. Garrett-Peltier, J. Heintz, dan H. Scharber. 2008. Green Recovery: A Program to Create Good Jobs and Start Building a Low Carbon Economy. Washington, DC: Center for American Progress. Portney, P. R., dan J. P. Weyant. 1999. Discounting and Intergenerational Equity. Washington, DC: Resources for the Future. Potter, S. 2008. The Sting of Climate Change: Malaria and Dengue Fever in Maritime Southeast Asia and the Pacific Islands. Sydney: Lowy Institute for International Policy.

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

Quiggin, J. 2008. “Uncertainty and Climate Policy.” Economic Analysis and Policy 38 (2): 203–10. Rabie, T., S. el Tahir, T. Alireza, G. Sanchez Martinez, K. Ferl, dan N. Cenacchi. 2008. “The Health Dimension of Climate Change.” Background Paper for Adapting to Climate Change in Europe and Central Asia, ed. M. Fay, R. I. Block, dan J. Ebinger, 2010, World Bank, Washington, DC. Ratha, D., S. Mohapatra, dan Z. Xu. 2008. Outlook for Remittance Flows 2008–2010. Washington, DC: World Bank. Ravallion, M. 2008. “Bailing Out the World’s Poorest.” Policy Research Working Paper 4763, World Bank, Washington, DC. Ristvet, L., dan H. Weiss. 2000. “Imperial Responses to Environmental Dynamics at Late Third Millennium Tell Leilan.” Orient-Express 2000 (4): 94–99. Robine, J.-M., S. L. K. Cheung, S. Le Roy, H. Van Oyen, C. Griffiths, J.-P. Michel, dan F. R. Herrmann. 2008. “Death Toll Exceeded 70,000 in Europe during Summer of 2003.” Comptes Rendus Biologies 331 (2): 171–78. Robins, N., R. Clover, dan C. Singh. 2009. A Climate for Recovery: The Colour of Stimulus Goes Green. London: HSBC. Roemer, J. 2009. “The Ethics of Distribution in a Warming Planet.” Cowles Foundation Discussion Paper 1693, New Haven, CT. Rosenberg, N. 1971. “Technology and the Environment: An Economic Exploration.” Technology and Culture 12 (4): 543–61. Rosenzweig, M. R., dan H. P. Binswanger. 1993. “Wealth,

Weather Risk and the Composition and Profitability of Agricultural Investments.” Economic Journal 103 (416): 56–78. Savage, L. J. 1951. “The Theory of Statistical Decision.” Journal of the American Statistical Association 46 (253): 55–67. ———. 1954. The Foundations of Statistics. New York: John Wiley & Sons. Schmidhuber, J., dan F. N. Tubiello. 2007. “Global Food Security under Climate Change.” Proceedings of the National Academy of Sciences 104 (50): 19703–08. Schmidt, G. 2006. “Runaway Tipping Points of No Return.” Real Climate, 5 Juli 5 2009. Schwartz, J., L. Andres, dan G. Dragoiu. 2009. “Crisis in LAC: Infrastructure Investment, Employment and the Expectations of Stimulus.” World Bank, LCSSD Economics Unit, Washington, DC. Shalizi, Z., dan F. Lecocq. 2009. “Economics of Targeted Mitigation Programs in Sectors with LongLived Capital Stock.” Policy Research Working Paper 5063, World Bank, Washington, DC. Singer, P. 2006. “Ethics and Climate Change: Commentary.” Environmental Values 15: 415–22. Smith, J. B., S. H. Schneider, M. Oppenheimer, G. W. Yohe, W. Hare, M. D. Mastrandrea, A. Patwardhan, I. Burton, J. CorfeeMorlot, C. H. D. Magadza, H.-M. Füssel, A. B. Pittock, A. Rahman, A. Suarez, dan J.-P. van Ypersele. 2009. “Assessing Dangerous Climate Change through an Update of the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) ‘reasons for concern.’” Proceedings of the





Laporan Pembangunan Dunia 2010

National Academy of Sciences 106 (11): 4133–37. Smyth, I. 2005. “More than Silence: The Gender Dimensions of Tsunami Fatalities and Their Consequences.” Paper presented at the WHO Conference on Health Aspects of the Tsunami Disaster in Asia, Phuket, Thailand. Solomon, S., G.-K. Plattner, R. Knutti, dan P. Friedlingstein. 2009. “Irreversible Climate Change due to Carbon Dioxide Emissions.” Proceedings of the National Academy of Sciences 106 (6): 1704–09. Stern, N. 2007. The Economics of Climate Change: The Stern Review. Cambridge, UK: Cambridge University Press. ———. 2008. Key Elements of a Global Deal on Climate Change. London: London School of Economics and Political Science. Sterner, T., dan U. M. Persson. 2008. “An Even Sterner Review: Introducing Relative Prices into the Discounting Debate.” Review of Environmental Economics and Policy 2 (1): 61–76. Tol, R. S. J. 2005. “The Marginal Damage Cost of Carbon Dioxide Emissions: An Assessment of the Uncertainties.” Energy Policy 33: 2064–74. Toth, F., dan M. Mwandosya. 2001. “Decision-making Frameworks.” Dalam Climate Change 2001: Mitigation. Contribution of Working Group III to the Third Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, B. Metz, O. Davidson, R. Swart, dan J. Pan (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. Ummel, K., dan D. Wheeler. 2008. “Desert Power: The Economics

of Solar Thermal Electricity for Europe, North Africa, and the Middle East.” Working Paper 156, Center for Global Development, Washington, DC. UNDP(United Nations Development Programme). 2008. Human Development Report 2007/2008. Fighting Climate Change: Human Solidarity in a Divided World. New York: UNDP. ———. 2009. Resource Guide on Gender and Climate Change. New York: UNDP. UNISDR (United Nations International Strategy for Disaster Risk Reduction). 2007. Gender Perspective: Working Together for Disaster Risk Reduction. Good Practices and Lessons Learned. Geneva: UNISDR. United Nations. 2008. The Millennium Development Goals Report 2008. New York: UN. Vergara, W. 2009. “Assessing the Potential Consequences of Climate Destabilization in Latin America.” Sustainable Development Working Paper 32, World Bank, Latin America and Caribbean Region, Washington, DC. WCED (World Commission on Environment and Development). 1987. Our Common Future. Oxford, UK: WCED. Weiss, H. 2000. “Beyond the Younger Dryas: Collapse as Adaptation to Abrupt Climate Change in Ancient West Asia and the Eastern Mediterranean.” Dalam Environmental Disaster and the Archaeology of Human Response, G. Bawden dan R. M. Reycraft (para editor). Albuquerque: Maxwell Museum of Anthropology.

Memahami Kaitan antara Perubahan Iklim dan Pembangunan

Weiss, H., dan R. S. Bradley. 2001. “What Drives Societal Collapse?” Science 291: 609–10. Weitzman, M. 2007. “A Review of the Stern Review on the Economics of Climate Change.” Journal of Economic Literature 45 (3): 703–24. ———. 2009a. “On Modeling and Interpreting the Economics of Catastrophic Climate Change.” Review of Economics and Statistics 91 (1): 1–19. ———. 2009b. “Reactions to the Nordhaus Critique.” Harvard University. Cambridge, MA. Wheeler, D., dan K. Ummel. 2007. “Another Inconvenient Truth: A Carbon-Intensive South Faces Environmental Disaster, No Matter What the North Does.” Working Paper 134, Center for Global Development, Washington, DC. World Bank. 2001. “Hurricane Mitch: The Gender Effects of Coping and Crises.” Notes of the Development Economics Vice Presidency and

Poverty Reduction and Economic Management Network 56, Washington, DC. ———. 2008. “Double Jeopardy: Responding to High Food and Fuel Prices.” Working Paper 44951, Washington, DC. ———. 2009a. Global Monitoring Report 2009: A Development Emergency. Washington, DC: World Bank. ———. 2009b. “World Bank Statement to the Tenth Session of the United Nations Human Rights Council.” Geneva. ———. 2009c. World Development Indicators 2009. Washington, DC: World Bank. WRI (World Resources Institute). 2008. “The Climate Analysis Indicators Tool (CAIT).” Washington, DC. Yohe, G. W. 1999. “The Tolerable Windows Approach: Lessons and Limitations.” Climatic Change 41 (3–4): 283–95.



fokus A

Ilmu Perubahan Iklim

Iklim sedang berubah—hal itu tidak dapat dipungkiri lagi. Terdapat konsensus ilmiah bahwa dunia kita sedang menjadi tempat yang lebih hangat dan penyebab utamanya adalah aktivitas umat manusia. Dalam kata-kata dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), dalam laporan penilaian konsensus keempatnya: “Pemanasan sistem iklim sudah mutlak.”1 Hampir sekitar 1 juta tahun sebelum Revolusi Industri, konsentrasi karbon dioksida (CO2) berada dalam kisaran 170 sampai 280 bagian per sejuta (bpj). Sekarang, konsentrasinya berada jauh di atas kisaran tersebut—386 bpj—lebih tinggi daripada titik tertinggi selama setidaknya 800.000 tahun terakhir, dan laju peningkatannya juga mungkin semakin cepat.2 Dalam skenario emisi tinggi, konsentrasi tersebut pada akhir abad ke-21 dapat melebihi konsentrasi yang pernah dialami oleh Bumi selama puluhan juta tahun sebelumnya.

Artikel 2 dari United Nations Framework Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim), menentukan sasaran untuk mencapai suatu “stabilisasi emisi gas-gas rumah kaca pada suatu tingkat yang akan mencegah interferensi antropogenik berbahaya dengan sistem iklim.”3 Sampai sejauh mana “berbahaya” tersebut didefinisikan dalam konvensi, hal itu dijelaskan dengan menjaga emisi pada tingkatan yang “memungkinkan ekosistem untuk beradaptasi secara almiah terhadap perubahan iklim, untuk memastikan bahwa produksi pangan tidak terancam, dan untuk memungkinkan pembangunan ekonomi melaju dengan cara yang berkesinambungan.” Tidak jelas apakah sasaran ini dapat sepenuhnya dicapai karena pemanasan yang telah diamati saat ini telah dikaitkan dengan peningkatan dalam kejadian kekeringan, banjir, gelombang panas, kebakaran hutan, dan curah hujan yang intens yang sekarang telah mengancam umat manusia dan sistem-sistem alam. 00

Terdapat bukti kuat bahwa kapasitas dari masyarakat dan ekosistem untuk beradaptasi beberapa kali telah diuji melampaui pemanasan 2°C. Jika dunia mampu membatasi peningkatan suhu yang diakibatkan oleh manusia ini dapat ditoleransi pada sekitar 2°C di atas tingkat di masa praindustri, maka mungkin kita dapat membatasi mencairnya bongkahan es di Greenland dan Antartika Barat secara luar biasa dan juga membatasi kenaikan permukaan laut yang disebabkannya; membatasi peningkatan kejadian banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan di banyak kawasan; membatasi meningkatnya angka kematian dan penyakit akibat penyakit menular, diare, dan panas ekstrem; mencegah kepunahan sekitar seperempat dari seluruh spesies yang dikenal; dan mencegah penurunan yang signifikan dalam produksi pangan global.5 Akan tetapi bahkan menstabilkan suhu global pada 2°C di atas tingkat praindustri akan tetap mengubah dunia ini secara signifikan. Bumi telah mengalami pemanasan sebesar 0,8°C dari tingkat

praindustri, daerah-daerah pada garis lintang yang tinggi sudah mengalami gangguan dalam lingkungan dan budaya, dan dampak lanjutannya tampaknya takkan terelakkan seiring dengan meningkatnya pemanasan. Dengan pemanasan 2°C, akan terjadi peristiwa cuaca ekstrem dengan lebih keras dan lebih sering, termasuk gelombang panas; kebutuhan air akan meningkat di berbagai kawasan di dunia; produksi pangan akan jatuh di berbagai kawasan tropis; dan banyak ekosistem akan menjadi rusak, termasuk kehilangan besarbesaran dalam terumbu karang akibat pemanasan dan pengasaman lautan (ocean acidification). Ke c u a l i du n i a b e r t i n d a k dengan cepat untuk mengubah jalur-jalur emisinya, berbagai model memproyeksikan bahwa pada tahun 2100 nanti, suhu rata-rata global akan meningkat sekitar 2,5–7°C di atas tingkat pra-industri,6 bergantung pada jumlah dan laju peningkatan energi, pembatasan pada energi dari sumber bahan bakar fosil, dan laju perkembangan teknologi energi bebas karbon (lihat Bab 4).

Ilmu Perubahan Iklim

Sementara suhu ini tampaknya merupakan suatu peningkatan yang kecil dibandingkan dengan variasi musiman, batas akhir terendah dari kisaran ini sebanding dengan pergerakan dari kota Oslo menuju Madrid. Batas teratasnya sebanding dengan pemanasan yang terjadi sejak puncak dari zaman es terakhir, yang menyebabkan melelehnya es setebal dua kilometer yang menutupi Eropa bagian utara dan Amerika Utara. 7 Selama beberapa dekade ke depan, suhu rata-rata global diproyeksikan meningkat 0,2–0,3°C per dekade8, suatu laju perubahan yang mempersulit kemampuan berbagai spesies dan ekosistem untuk beradaptasi (lihat Fokus B pada Keragaman Hayati). Mendefinisikan “campur tangan bahaya antropogenik” adalah suatu keputusan politik, bukan penentuan secara ilmiah. Satu dekade setelah P ro t o k o l Ky o t o, s e i r i n g k i t a memasuki periode di mana emisiemisi diperhitungkan secara ketat oleh negara-negara maju, dunia sedang menegosiasikan arahan tindakan untuk dekade-dekade mendatang yang akan menentukan apakah anak-anak kita akan mewarisi planet yang telah destabilisasi pada tingkat pemanasan 2oC atau berada pada jalan yang bersuhu lebih tinggi. Istilah “berbahaya” melibatkan beberapa komponen—total besarnya perubahan, laju perubahan, risiko perubahan yang mendadak atau tak diharapkan, dan sangat mungkin melewati suatu batasan yang sangat berbahaya baginya dan tidak dapat dibalikkan. Apa yang dianggap sebagai perubahan iklim yang sudah berbahaya dapat diharapkan

bergantung pada dampakdampaknya pada sistem alam dan umat manusia, dan pada kapasitasnya untuk beradaptasi. Fokus ini melihat pada bagaimana cara kerja sistem iklim, pada perubahan yang teramati hingga saat ini, bagaimana keadaan dunia dengan pemanasan dunia 2°C versus 5°C atau pemanasan dunia, risiko-risiko apabila dunia melampaui batasan yang tidak dapat dibalikkan lagi, dan tantangan yang ada dalam membatasi pemanasan hingga 2°C.

Bagaimana Sistem Iklim Bekerja I k l i m B u m i d i t e nt u k a n o l e h energi yang masuk yang berasal dari Matahari, keluaran energi yang diradiasikan oleh Bumi, dan pertukaran energi antara atmosfer, daratan, lautan, permukaan es, dan makhluk hidup. Komposisi atmosfer khususnya penting karena beberapa gas dan aerosol (partikel yang sangat kecil) memengaruhi aliran radiasi matahari yang datang dan radiasi inframerah yang dipancarkan. Uap air, CO2, metana (CH4), ozon (O3), dan nitrogen oksida (N2O) adalah gas-gas rumah kaca yang memang ada secara alamiah. Gas-gas ini menghangatkan permukaan Bumi dengan cara mencegah kaburnya energi panas (inframerah) ke luar angkasa. Efek pemanasan yang diciptakan oleh gas-gas pada tingkat yang alamiahnya adalah “efek gas rumah kaca alamiah.” Efek ini menghangatkan dunia sekitar 33°C dibandingkan jika tidak ada gas-gas tersebut, menjaga sebagian besar air di dunia berada dalam wujud cair, dan memungkinkan terjadinya

0

kehidupan dari daerah khatulistiwa hingga ke daerah kutub. Gas-gas yang dihasilkan dari aktivitas manusia telah memperkuat efek gas r umah kaca alamiah ini dengan begitu dahsyatnya. Konsentrasi rata-rata CO2 di atmosfer secara global telah meningkat dengan signifikan sejak awal dari revolusi industri, dan khususnya dalam 50 tahun terakhir. Lebih dari 20 abad, konsentrasi CO 2 meningkat dari sekitar 280 bpj hingga mendekati 387 bpj—hampir 40 persen—sebagian besar karena pembakaran bahan bakar fosil berbasis karbon dan, yang lebih sedikit pengaruhnya, deforestasi dan perubahan dalam pemanfaatan lahan (kotak FA.1). Pembakaran batu bara, minyak, dan gas alam sekarang menyumbang sekitar 80 persen dari total CO2 yang diemisikan per tahunnya, sementara perubahan dalam tata guna lahan dan deforestasi menyumbang 20 persen sisanya. Di tahun 1950, kontribusi dari bahan bakar fosil dan pemanfaatan lahan dapat dikatakan h ampi r s am a ; s e j a k s a at itu , penggunaan energi telah meningkat 18 kali lipat. Konsentrasi dari gasgas lainnya yang menyimpan panas, termasuk metana dan nitrogen oksida juga telah meningkat dengan signifikan, sebagai akibat dari pembakaran bahan bakar fosil, aktivitas peternakan dan industri, serta perubahan pemanfaatan lahan (lihat Figur FA.1).9 B eberapa polutan yang diciptakan oleh manusia memanaskan Bumi, sementara sebagian lainnya mendinginkannya (Figur FA.2). Sebagian masa hidupnya panjang, sebagian lagi pendek. Dengan

0

KOTAK FA.1

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Siklus karbon

Jumlah karbon dioksida (CO2) di atmosfer dikendalikan oleh siklus-siklus biogeokimiawi yang mendistribusikan karbon di antara lautan, daratan, makhluk hidup, dan atmosfer. Saat ini atmosfer mengandung sekitar 824 gigaton (Gt) karbon. Emisi karbon yang disebabkan oleh manusia tahun 2007 mencapai 9 Gt karbon dari sejutar 7,7 Gt (atau 28,5 Gt CO2) di mana berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dan sisanya dari perubahan dalam tutupan lahan (1 gigaton sama dengan 1 miliar metrik ton). Untuk mengonversi emisi karbon dan fluks ke kandungan CO2, kalikan kandungan karbon dengan 3,67. Konsentrasi atmosferik dari karbon dioksida sedang meningkat pada laju sekitar 2 bpj per tahun, yang ekuivalen dengan peningkatan dalam pemuatan karbon ke dalam atmosfer sebesar 4 gigaton karbon per tahun (artinya, sekitar setengah dari emisi CO2 dari bahan bakar fosil mengarah pada peningkatan jangka panjang dari konsentrasi atmosferik). Sisa dari emisi CO2 yang diambil dari “carbon sink”—ekosistem lautan dan daratan. Lautan mengambil sekitar 2 Gt karbon per tahunnya (perbedaan antara 90,6 dan 92,2 ditandai pada gambar, termasuk fluks daratan kecil ke lautan). Jaring penangkap karbon di lautan dan sistem daratan (respirasi tanpa fotosintesis) dan estimasi emisi dari perubahan lahan dan pembakaran bahan bakar fosil akan menghasilkan konsentrasi atmosfer yang lebih tinggi dari yang pernah terekam. Tampaknya ekosistem daratan saat ini sedang kewalahan. “Residual sink (penanaman sisa buangan)” yang disebut dengan A.27, diasumsikan sebagian

menyimpan radiasi inframerah, karbon dioksida, nitrogen oksida, dan halokarbon10 menghangatkan Bumi, dan karena peningkatan konsentrasi gas-gas ini akan bertahan hingga beberapa abad ke depan, efek penghangatannya menyebabkan perubahan iklim jangka panjang. Sebaliknya, efek penghangatan dari emisi metana akan bertahan hanya selama beberapa dekade saja, dan pengaruh iklim dari aerosol—yang

ATMOSFER (824)

Respirasi

119,6

Produksi primer bruto

120,2

VEGETASI DAN TANAH (2.300)

Penyerapan tanah dan emisi perubahan tata guna lahan

2,7

1,5

Fluks lautan ke atmosfer

92,2

Pembakaran bahan bakar fosil dan proses industri

90,6

LAUTAN (38.000)

7,7

Karbon (Gt) Fluks alami Fluks antropogenik SINK (karbon yang disimpan)

Sumber: Diadaptasi dari IPCC 2007b

besar berasal dari karbon yang disimpan dalam hutan-hutan dunia (jaring bertambah dalam tutupan hutan akibat penghijauan kembali atau penanaman kembali sebagai akibat dari pengundulan hutan) dan bertambah penangkapan karbon karena pertumbuhan hutan dunia sebagai respons atas tingginya konsentrasi CO2 (diketahui sebagai efek penyuburan CO2). Ekosistem daratan menyimpan sekitar 2.300 Gt karbon—500 gigaton dalam biomassa di atas permukaan tanah, dan sekitar tiga kali lipatnya di dalam tanah. Pengurangan pengundulan hutan dibutuhkan sebagai komponen penting untuk mengurangi pertumbuhan emisi. Sementara segala usaha harus dilakukan untuk menambah lahan penyimpanan karbon, terdapat tantangan

sebagai akibat adanya perubahan iklim dan peningkatan frekuensi kebakaran hutan, serangan wabah, kekeringan, dan serangan panas. Jika emisi bahan bakar fosil dilanjutkan dalam jalur bisnis-seperti-biasanya (businessas-usual), penangkapan karbon oleh hutan dan ekosistem darat lainnya akan menjadi lebih lambat bahkan mundur, dengan ekosistem yang akan menjadi sumber jaring emisi di akhir abad, berdasarkan pada beberapa model. Dan lautan yang lebih hangat akan menyerap CO2 lebih lambat sehingga sebagian besar emisi bahan bakar fosil akan tetap berada di atmosfer.

dapat menyimpan panas seperti jelaga (karbon hitam), atau mengurangi panas seperti sulfat-sulfat reflektif11— bertahan hanya selama beberapa hari hingga minggu. 19 Jadi, meskipun penurunan tajam dari emisi CO 2 dari pembakaran batu bara dalam beberapa dekade ke depan akan mengurangi pemanasan global jangka panjang, berkurangnya efek pendinginan akibat emisi sulfur yang terkait yang sebagian besar

dihasilkan dari pembakaran batu bara akan menghasilkan pemanasan lagi sekitar 0,5°C. Suhu hari ini sudah mencapai 0,8°C di atas tingkat praindustri (Figur FA.3). Jika bukan karena pengaruh pendinginan dari partikelpartikel reflektif (aerosol sulfat) dan dekade-dekade yang dibutuhkan oleh suhu lautan untuk mencapai keseimbangan dengan meningkatnya penyimpanan radiasi inframerah,

Sumber: Fischlin dkk. 2007; IPCC 2000; IPCC 2001; Canadell dkk. 2007; Houghton 2003; Prentice dkk. 2001; Sabine dkk. 2004.

Ilmu Perubahan Iklim

0

Figur FA.1 Emisi global gas rumah kaca telah meningkat a. Peningkatan sepanjang waktu Gt CO2e/tahun 5

b. Komposisi emisi global pada

N2O lainnya N2O pertanian

0 10

CH4 lainnya CH4 limbah CH4 pertanian CH4 energi

5 0

N2O 7,9%

Gas-gas F 1,1%

CH4 14,3%

10 CO2 pembusukan dan gambut CO2 deforestasi

5 0 30 25 20

CO2 lainnya CO2 penggunaan bahan bakar fosil

15

CO2 (deforestation, pembusukan biomassa) 17,3%

10

CO2 (lainnya) 2,8%

CO2 (penggunaan bahan bakar fosil) 56,6%

5 0

1970

1980

1990

2000 2004

50 40 30

Total gas rumah kaca

20 10 0

1970

1980

1990

2000 2004

Sumber: Diolah dari Barker dkk. 2007. Catatan: Figur tersebut menunjukkan sumber daya dan tingkat pertumbuhan beberapa gas rumah kaca jangka menengah dan jangka panjang. Bahan bakar fosil dan perubahan tata guna lahan yang tidak dimasukkan dalam figur adalah karbon hitam (jelaga), tropospheric ozone, dan halocarbon. Perbandingan emisi ekuivalen gas-gas berbeda didasarkan pada penggunaan 100-year Global Warming Potential; lihat catatan 9 untuk penjelasannya.

maka suhu rata-rata global akibat aktivitas manusia yang ada akan mencapai 1°C lebih hangat daripada yang kita alami sekarang. Oleh karena itu, meningkatnya konsentrasi gasgas rumah kaca di masa sekarang saja sudah hampir memanaskan dunia sebesar 2 oC, dan jika lebih dari itu maka dunia akan mengalami konsekuensi-konsekuensi yang sangat mengganggu, bahkan “berbahaya”.13

Perubahan yang teramati hingga saat ini dan implikasinya terhadap pemahaman kita yang berubah mengenai ilmu pengetahuannya Dampak-dampak perubahan dalam iklim sejak pertengahan abad ke-19 khususnya tampak sekarang ini dalam pengamatan tingginya suhu rata-rata udara dan lautan; pelelehan salju dan es secara besar-besaran di seluruh

dunia, khususnya di daerah Arktik dan Greenland (Figur FA.4), dan naiknya permukaan laut dunia. Hari-hari yang dingin, malam-malam yang dingin, dan pembentukan es sekarang lebih jarang terjadi, sementara frekuensi dan intensitas dari gelombang panas telah meningkat. Baik banjir maupun kekeringan terjadi lebih sering dewasa ini.14 Daerah-daerah bagian dalam dari semua benua telah cenderung mengering, meskipun curah hujan

Laporan Pembangunan Dunia 2010

0

Figur FA.2 Faktor-faktor utama yang memengaruhi iklim sejak masa Revolusi Industri Aktivitas manusia

Pengaruh pendinginan

Pengaruh pemanasan Karbon dioksida (CO2)

Gas rumah kaca yang bertahan lama

Nitrogen oksida Halokarbon Metana Ozon

Troposferis

Stratosferis (–0,05)

Penguapan air ke lapisan stratosfer

Partikel-partikel yang dipantulkan

Pemantulan permukaan

Penggunaan lahan

Jelaga (karbon hitam) atau salju

Efek langsung Efek pantulan awan

Total bersih aktivitas manusia Total pengaruh alamiah (keluaran matahari) –2

–1

–2

–1

0

1

2

0

1

2

watt/meter persegi

Sumber: Diadaptasi dari Karl, Melillo, dan Peterson 2009. Catatan: Figur di atas menunjukkan jumlah pengaruh pemanasan (warna oranye) atau pengaruh pendinginan (warna biru), yaitu faktor-faktor berbeda yang terjadi pada iklim Bumi sejak dimulainya era perindustrian (sekitar 1750 tahun yang lalu). Hasilnya ditunjukkan dalam watt per meter persegi. Bagian atas kotak menyertakan semua faktor umum yang disebabkan oleh manusia, sementara kotak yang satunya menyertakan Matahari, satu-satunya faktor alami yang mempunyai efek jangka panjang terhadap iklim. Efek pendinginan individu gunung berapi juga alamiah tetapi relative berjangka pendek (2 sampai 3 tahun), sehingga pengaruhnya tidak disertakan dalam figur ini. Bagian bawah kotak menunjukkan bahwa total bersih efek (pengaruh pemanasan dikurangi pengaruh pendinginan) aktivitas manusia adalah penyebab pemanasan yang kuat. Garis tipis pada masing-masing batang adalah estimasi rentang ketidakpastian.

Figur FA.3 Suhu rata-rata global dan konsentrasi CO2 yang terus naik, 1880–2007 14,5 global (°C) Suhu

400

Konsentrasi CO2 (bpj) 380 400

14,5 14,3

Di atas suhu rata-rata Di bawah suhu rata-rata Konsentrasi CO2

14,3 14,1

360 380 340 360

14,1 13,9

320 340

13,9 13,7 13,7 13,5 13,5

300 320 1880

1900

1920

1940

1960

1980

2000

1880

1900

1920

1940

1960

1980

2000

300

Tahun Sumber: Diadaptasi dari Karl, Melillo, dan Peterson 2009. Catatan: Batang oranye menunjukkan suhu di atas rata-rata tahun 1901–2000, batang biru menunjukkan di bawah rata-rata. Garis hijau menunjukkan peningkatan konsentrasi CO2. Sementara terdapat tren pemanasan global jangka panjang yang pasti, setiap tahun tidak menunjukkan peningkatan suhu relatif terhadap tahun sebelumnya, dan beberapa tahun menunjukkan perubahan yang lebih dibandingkan tahun-tahun lainnya. Fluktuasi suhu dari tahun ke tahun disebabkan oleh proses alami, seperti efek El Niño, La niña, dan ledakan gunung api.

total meningkat. Secara global, curah hujan telah meningkat, karena siklus air planet ini telah dipercepat oleh suhu

yang lebih tinggi, bahkan sementara daerah Sahel dan Mediterania telah mengalami kekeringan yang lebih

intens dan lebih sering. Hujan besar dan banjir telah menjadi lebih sering, dan terdapat bukti bahwa intensitas badai dan angin topan tropis telah meningkat.15 Dampak-dampak ini tidak terdistribusi secara merata di seluruh dunia (Peta FA.1). Seperti yang diperkirakan, perubahan suhu terasa paling dashyat di daerah-daerah kutub sementara sebagian kawasan Arktik meningkat 0,5°C dalam waktu 30 tahun terakhir.16 Pada lintang yang rendah—yang lebih dekat dengan ekuator—bagian yang lebih besar dari energi inframerah yang terperangkap dalam atmosfer berubah menjadi penguapan, sehingga membatasi pemanasan, tetapi membuat jumlah uap air bertambah dan menjadi hujan yang jauh lebih intens akibat badai konvektif dan angin topan tropis. Ketahanan berbagai ekosistem mungkin akan terlampaui dalam dekade-dekade mendatang oleh gabungan antara efek-efek perubahan iklim dan tekanan-tekanan lainnya, termasuk degradasi habitat, spesies penyerbu, serta polusi udara dan air. Perubahan-perubahan besar diproyeksikan dalam ekosistem seiring daerah geografis ideal untuk spesies tumbuhan dan hewan menjadi tergeser oleh karena perubahan iklim. Produktivitas pertanian, kehutanan, dan perikanan akan dipengaruhi, begitu pula layanan-layanan ekologis lainnya.17 Sebanyak 20.000 set data telah menunjukkan bahwa sejumlah besar spesies berpindah, dengan rata-rata perubahannya sekitar 6 kilometer per dekade, ke arah kutubkutub, atau enam meter per dekade ke daerah pegunungan yang lebih tinggi, sebagai akibat dari naiknya suhu.18 Perubahan-perubahan yang cepat

Ilmu Perubahan Iklim

ini menyebabkan ketidaksinkronan dalam banyak hubungan predatormangsa yang sudah lama ada, karena sebagian spesies mungkin tiba di suatu tempat lebih awal atau terlalu terlambat untuk mendapatkan sumber makanannya. Lebih dari 20 tahun terakhir, pemahaman kita mengenai ilmu pengetahuan dari perubahan iklim telah sangat meningkat. Tahun 1955, sebagai contoh, IPCC menyimpulkan: “Keseimbangan bukti-bukti menunjukkan pengaruh manusia yang jelas pada iklim global.” IPCC 2001 menyimpulkan: “Terdapat bukti baru dan lebih kuat bahwa sebagian besar pemanasan yang diamati selama 50 tahun terakhir disebabkan oleh aktivitas-aktivitas manusia”.20 Enam tahun kemudian, tahun 2007, IPCC menyimpulkan: “Pemanasan sistem global tidak diragukan lagi. Sebagian besar peningkatan yang diamati dalam suhu global ratarata sejak pertengahan abad ke-20 sangat mungkin disebabkan oleh peningkatan yang diamati dalam konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia (antropogenik).”21 Di t a hun 2001 d an 2007 komunitas ilmiah merangkum pemahaman terbaik mengenai dampak-dampak dalam lima kategori: ekosistem yang terancam/spesies yang unik, episode ekstrem, luasnya pengaruh dari dampak, total dampak ekonomi, diskontinuitas skala besar. Pada diagram “bara yang membara,” tingkat kemerahannya menunjukkan derajat perhatian kita mengenai dampak yang sedang diamati (lihat Figur FA.5). Membandingkan kolom B di sebelah kiri dan kanan dari tampilan panel menunjukkan bagaimana perubahan di dalam

Figur FA.4

Pelelehan lapisan es Greenland 1992

2002

2007

70°N

70°N

70°N

60°N

60°N

60°N

50°W

0

40°W

50°W

40°W

Lapisan es permanen yang meleleh pada musim panas

50°W

Tutupan es musiman

40°W

Lapisan es permanen

Permulaan pelelehan musiman (× 1000 km2) 100 80 60 40 20 0 –20 –40 –60 –80 –100 1970

1975

1980

1985

1990

1995

2000

2005

Tahun Sumber: Panel atas: Diadaptasi dari ACIA 2005 dan Cooperative Institute for Environmental Sciences (CIRES), http://cires.colorado. edu/steffen/greenland/melt2005/ (diakses Juli 2009). Panel bawah: Diolah dari Mote 2007. Catatan: Area berwarna oranye pada peta Greenland menunjukkan perluasan pelelehan es, yang telah meningkat secara drastis di tahun terakhir. Sepuluh persen lebih es telah hilang pada 2007 dibandingkan dengan 2005. Grafik batang menunjukkan selain variasi penutupan es tahunan, kehilangan yang signifikan terjadi pada lebih dari satu dekade.

informasi tersedia paling baik dari 2001 hingga 2007 menggerakkan daerah berwarna merahnya lebih dekat ke garis nol derajat untuk episode-episode ekstrem—ini berarti pada suhu global saat ini, episodeepisode ekstrem telah meningkat frekuensinya. Perbandingan kedua kolom E menunjukkan ancaman dari kejadian-kejadian diskontinu, seperti perubahan sistem distribusi panas conveyor-belt lautan atau kekacauan luar biasa di Arktik yang menyebabkan pelepasan gas metana

secara besar-besaran, akan menjadi jauh lebih besar jika dunia ini menjadi lebih panas 2°C dari tingkatan hari ini. Sejak finalisasi dari laporan penilaian IPCC keempat tahun 2007, informasi baru telah memperdalam l ag i p ema haman i lmi a h k it a. Observasi yang lebih mutakhir mengenai perubahan-perubahan terbaru dalam iklim, atribusi yang lebih baik pada perubahan iklim yang diamati pada faktor-faktor kaus al alamiah maupun yang

0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Peta FA.1 Variasi regional dalam tren iklim global selama lebih dari 30 tahun terakhir a. Suhu

Perubahan suhu (°C) <–1

–1– –0,6

–0,6– –0,2

–0,2–0,2

0,2–0,6

0,6–1

1 –1,4

>1,4

Tidak ada data

Sumber: Goddard Institute for Space Studies, http://data.giss.nasa.gov/cgi-bin/gistemp/do_nmap.py?year_last=07&sat=4&sst=1&type=anoms&mean_gen=07&year1=1990&year2=2008&base1=1951&ba se2=1980&radius=1200&pol=reg (diakses Juli 2009). Catatan: Warna kuning, oranye, dan merah menandakan kenaikan rata-rata suhu (°C) dari 1980 sampai saat ini dibandingkan dengan tiga dekade sebelumnya. Pemanasan menjadi yang terpanas pada lintang yang lebih tinggi, terutama di Hemisfer bagian Utara.

b. Curah hujan

Perubahan curah hujan (milimeter per hari) <–1

–1– –0,5

–0,5– –0,3

–0,3– –0,1

–0,1–0,1

0,1–0,3

0,3–0,5

0,5–1

>1

Tidak ada data

Sumber: Goddard Institute for Space Studies, http://data.giss.nasa.gov/cgi-bin/precipcru/do_PRCmap.py?type=1&mean_gen=0112&year1=1980&year2=2000&base1=1951&base2=1980 (diakses Mei 2009). Catatan: Warna oranye menandakan penurunan curah hujan dalam milimeter per hari; biru menandakan peningkatan dari tahun 1980 sampai saat ini dibandingkan dengan tiga dekade sebelumnya. Kejadian kekeringan adalah yang terburuk pada interior benua, sedangkan curah hujan menjadi lebih sering di beberapa area pesisir pantai. Perubahan distribusi geografis curah hujan mempunyai implikasi serius terhadap pertanian.

Ilmu Perubahan Iklim

0

Figur FA.5 Bara terbakar semakin panas: Penilaian terhadap risiko-risiko dan kerusakan-kerusakan telah meningkat dari 2001 ke 2007

Risiko terhadap sebagian besar

Peningkatan besar

Negatif untuk beberapa wilayah

Penilaian 2007

5

Negatif bersih dalam semua metrik

Lebih tinggi 4

Risiko terhadap sebagian besar

Peningkatan besar

Negatif untuk beberapa wilayah

5

Negatif bersih dalam semua metrik

Lebih tinggi 4

Masa depan 3

3

Risiko terhadap beberapa

Peningkatan

Negatif untuk beberapa wilayah; positif untuk lainnya

Dampak positif atau negatif pasar; sebagian besar terhadap penduduk yang terdampak negatif

2

1

Sangat rendah

0

Risiko terhadap beberapa

Peningkatan

Negatif untuk beberapa wilayah; positif untuk lainnya

Dampak positif atau negatif pasar; sebagian besar terhadap penduduk yang terdampak negatif

2

1

Sangat rendah

Kenaikan pada rerata suhu global di atas perkiraan 1990 (°C)

Penilaian 2001

0

Masa lalu A

B

Risiko Risiko kejadian terhadap cuaca ekstrem sistem yang unik dan terancam

C

D

E

Distribusi dampak

Jumlah dampak

Risiko diskontinuitas skala besar

–0,6

A

C

D

E

Distribusi dampak

Jumlah dampak

Risiko diskontinuitas skala besar

B

Risiko Risiko kejadian terhadap cuaca ekstrem sistem yang unik dan terancam

–0,6

Sumber: Diolah dari Smith dkk. 2009. Catatan: Figur menunjukkan risiko dari perubahan iklim, seperti yang dijabarkan pada 2001 (kiri) dibandingkan dengan data terkini (kanan). Konsekuensi-konsekuensi perubahan iklim ditunjukkan dengan bentuk batang dan peningkatan dalam rerata suhu global (°C) di atas level saat ini (0 derajat sampai 5 derajat). Setiap kolom terhubung dengan macam dampak yang spesifik. Sebagai contoh, “sistem yang unik dan terancam,” seperti padang rumput alpen atau ekosistem arktik, adalah yang paling rentan (diilustrasikan oleh pewarnaan pada kolom A) dan hanya perubahan kecil dalam suhu mungkin mengakibatkan kehilangan yang besar. Warna pada skema menunjukkan tingkat kenaikan secara progresif dari kuning menuju merah. Antara 1900 dan 200, rata-rata suhu global meningkat ~0,6°C (dan mendekati 0,2°C pada dekade ini menyebabkan) dan telah menyebabkan beberapa dampak. Sejak 2001, penilaian risiko kerusakan telah ditingkatkan bahkan untuk suhu dengan tambahan 1°C di atas tingkat saat ini, atau sekitar 2°C di atas total tingkat praindustri.

disebabkan manusia, peningkatan pemahaman mengenai umpan balik siklus karbon, dan proyeksi-proyeksi baru dari perubahan-perubahan di masa mendatang dalam peristiwaperistiwa cuaca ekstrem dan potensi terjadinya perubahan yang sangat merusak.22 Banyak risiko sekarang dinilai lebih besar daripada yang disangka sebelumnya, khususnya risiko meningkatnya permukaan laut secara besar-besaran dalam abad sekarang, dan juga risiko dari peningkatan dalam peristiwaperistiwa cuaca yang ekstrem.

Perubahan-perubahan di masa depan jika suhu meningkat melebihi °C Dampak-dampak fisik dari perubahan iklim masa depan terhadap manusia dan lingkungan akan meliputi tekanan yang meningkat pada ekosistem dan bahkan kehancuran ekosistem itu sendiri, hilangnya keragaman hayati, waktu musim tanam yang berubahubah, erosi pantai dan salinisasi akuifer, pelelehan es abadi, asidifikasi lautan 23 dan bergesernya daerah berkembangnya berbagai wabah dan penyakit. Dampak-dampaknya ditunjukkan untuk berbagai suhu dan

kawasan di dunia dalam Figur FA.6. Efek fisik dari perubahan iklim di masa depan akan memberikan dampak yang ber variasi pada masyarakat dan lingkungan pada penambahan suhu yang berbeda dan lokasi yang berbeda pula (lihat Figur FA.6). Jika suhu mencapai 2°C di atas tingkat praindustri, ketersediaan air akan menjadi berkurang untuk tambahan masyarakat sebanyak 0,4–1,7 miliar jiwa di daerah lintang menengah dan daerah lintang yang rendah tetapi beriklim semi-kering. Sekitar seperempat spesies tanaman dan hewan seperti akan mengalami

Laporan Pembangunan Dunia 2010

0

Figur FA.6 Dampak terproyeksi perubahan iklim dengan wilayah Perubahan rerata suhu global tahunan relatif terhadap era praindustri (°C)

0,8

1,8

2,8

3,8

10 hingga 15%

4,8

5,8

25 hingga 40%

Spesies di Sub-Sahara berada dalam risiko kepunahan

Daerah semi-kering/kering meningkat sebesar 5 sampai 8%

AFRIKA 75 hingga 250 juta

Pertambahan penduduk dengan permintaan air yang bertambah

350 hingga 600 juta

Penurunan lahan padi di Potensi panen tanaman China sebesar 5 sampai pangan 12% Lebih dari 2 juta Lebih dari 7 juta

Penurunan lahan gandum dan jagung di India sebesar 2 sampai 5% ASIA 0,1 hingga 1,2 juta

Pertambahan penduduk terancam risiko mengalami banjir pesisir setiap tahun

Pertambahan penduduk dengan permintaan air yang bertambah

0,2 hingga 1,0 juta

Pemutihan Great Barrier Reef tahunan AUSTRALIA/ SELANDIA BARU

3.000 sampai 5.000 lebih kematian diakibatkan oleh cuaca panas setiap tahunnya Aliran Sungai Murray-Darling

–10%

–50%

Penurunan simpanan air di bagian selatan dan timur Australia dan sebagian wilayah timur Selandia Baru

EROPA

+5 hingga +15% di Utara

+10 hingga +20%

0 hingga –25% di Selatan

–5 hingga –35%

Ketersediaan air

+2 hingga +10% di Utara

+10 hingga +25%

+10 hingga +30%

+3 hingga +4% di Selatan

–10 hingga –20%

–15 hingga +30%

Potensi kepunahan sekitar 25% spesies pohon savana di Brazil Tengah AMERIKA LATIN

Lebih banyak gletser tropis yang hilang 10 hingga 80 juta

Potensi panen gandum Potensi kepunahan sekitar 45% spesies pohon di Amazon

Lebih banyak gletser di daerah yang lebih tinggi yang hilang Pertambahan penduduk dengan permintaan air yang bertambah

80 hingga 180 juta Peningkatan potensi panen tanaman pangan sebesar 5 sampai 20%

AMERIKA UTARA

Peningkatan sebesar 70 sampai 120% area hutan yang terbakar

Pemanasan ruang yang menurun dan pendinginan ruang yang meningkat Peningkatan 3 sampai 8 kali pada kejadian gelombang panas di beberapa kota

Peningkatan sekitar 70% pada bahaya ozon harian Peningkatan kedalaman musiman pelelehan es abadi di Arktik

WILAYAH KUTUB

10 hingga 10%

15 hingga 25%

10 sampai 50% tundra Arktik berubah menjadi hutan 15 sampai 20% gurun kutub berubah menjadi tundra

30 hingga 50%

Pengurangan es abadi Arktik sebesar 20 sampai 35%

Penurunan rata-rata tahunan laut es Arktik

Meningkatkan genangan di daerah pesisir sampai pada kerusakan infrastruktur akibat kenaikan permukaan air laut PULAU KECIL

Spesies asing yang brekoloni di daerah lintang yang sedang dan tinggi Kehilangan pertanian sebesar lebih dari 5% PDB di pulau dataran tinggi, dan lebih dari 20% di dataran rendah

0

1

2

3

4

5

Perubahan rerata suhu global tahunan relatif terhadap era praindustri (°C) Sumber: Diadaptasi dari Parry dkk. 2007.

peningkatan risiko menuju kepunahan (lihat Fokus B).24 Komunitas akan lebih menderita karena tekanan panas, dan daerah pesisir akan lebih sering mengalami banjir. 25

Bagaimana jika suhu meningkat hingga 5oC di atas tingkat praindustri? Akan ada 3 miliar orang baru yang akan mengalami kesulitan air, terumbu karang hampir semuanya

akan mati, sekitar 50 persen spesies di seluruh dunia akan mengalami kepunahan, produktivitas tanaman di zona iklim subtropis dan tropis akan jatuh, sekitar 30 persen lahan

Ilmu Perubahan Iklim

KOTAK FA.2

0

Kesehatan lautan: Terumbu karang dan asidifikasi lautan

Lautan akan menjadi semakin asam dalam beberapa dekade dan abad mendatang sebagai konsekuensi kimiawi langsung dari meningkatnya konsentrasi CO2 di atmosfer. Penyerapan sekitar sepertiga dari emisi CO2 akibat aktivitas manusia selama 200 tahun terakhir telah mengurangi pH permukaan air laut sebesar 0,1 unit (pH, ukuran derajat keasaman atau kebasaan, diukur pada skala logaritma dan berkurangnya 0,1 pH berarti kenaikan 30 persen dalam keasaman lautan). Turunnya pH yang diproyeksikan dari permukaan lautan selama 100 tahun ke depan bervariasi dari 0,3 sampai 0,5 unit, yang berarti lautan akan menjadi jauh lebih asam daripada kondisinya selama puluhan juta tahun.a Salah satu implikasi terpenting dari perubahan keasaman lautan adalah masalah yang akan menyerang berbagai binatang dan organisme fotosintetik lautan, seperti koral, bivalvia, dan beberapa spesies plankton yang membuat cangkangnya dari kalsium karbonat (CaCO3). Proses “kalsifikasi” ini akan berkurang seiring air laut menjadi semakin asam (kurang basa). Beberapa bentuk kehidupan yang paling melimpah yang akan terpengaruh adalah plankton yang menjadi dasar dari rantai makanan dan juga sumber makanan utama bagi ikan dan mamalia laut. Dari bukti-bukti yang ada,

basah pesisir akan terbanjiri, dan dunia akan menyaksikan peningkatan permukaan laut setinggi beberapa meter, dan akan muncul beban yang cukup besar pada sistem-sistem kesehatan akibat meningkatnya malnutrisi, penyakit diare, jantung dan pernapasan.26 Ekosistem-ekosistem daratan diperkirakan akan bergeser dari menjadi “tempat simpanan” karbon menjadi sumber karbon; entah sebagai karbon dioksida atau sebagai metana, akan mempercepat pemanasan global lebih lanjut lagi.27 Banyak negara pulau kecil dan dataran pesisir akan terbanjiri oleh serangan badai dan kenaikan permukaan air laut seiring banyak permukaan es yang besar akan meleleh, dan cara-

terdapat ketidakpastian yang besar mengenai apakah spesies, komunitas, dan ekosistem laut akan mampu menyesuaikan diri atau berevolusi sebagai respons terhadap perubahan dalam kondisi kimiawi lautan. Pada tahapan ini, penelitian mengenai dampak-dampak tingginya konsentrasi CO2 di lautan masih sangat dini. Untuk terumbu karang, konsekuensi buruknya sudah mulai terlihat. Terumbu karang termasuk ekosistem laut yang paling rentan terhadap perubahan iklim dan komposisi atmosfer dan terancam oleh kombinasi dampak manusia dan oerubahan iklim global. Kehialangan terumbu karang akan secara langsung memengaruhi jutaan manusia. Terumbu karang, baik yang ada di daerah tropis maupun di perairan dalam dan dingin, adalah pusat-pusat keragaman hayati global. Mereka menghasilkan barang dan layanan senilai sekitar $375 miliar per tahun bagi hampir 500 juta orang. Sekitar 30 juta masyarakat termiskin di dunia bergantung pada ekosistem terumbu karang untuk mendapatkan makanan. Terumbu karang telah sangat mendapatkan tekanan dari segi kesanggupan termalnya oleh naiknya suhu belakangan ini. Semakin tingginya suhu permukaan laut akan semakin memberikan tekanan pada terumbu

karang dan menyebabkan pemutihan karang (rusaknya atau matinya alga simbiotik), yang akan menghasilkan kematian terumbu karang berskala besar. Suatu “titik kritis” ekologis akan terlampaui dalam berbagai bidang jika suhu lautan akan meningkat lebih dari 2oC di atas tingkat praindustri, khususnya karena asidifikasi lautan meningkatkan konsentrasi karbon, menghambat akresi terumbu karang. Jika terumbu karang mati, makroalga akan menguasai terumbu karang yang mati tersebut dan menghambat pertumbuhan kembali dari terumbu karang itu. Pengelolaan yang buruk dapat membuat dinamika ini semakin dahsyat, karena penangkapan ikan karang herbivora yang berlebihan akan membuat makroalga semakin melimpah, serta sedimen dan limpasan nutrisi dari tanah akibat deforestasi dan praktik-praktik pertanian yang buruk akan mendorong pertumbuhan makroalga dan memperparah kerusakan terumbu karang.

cara tradisional untuk bertahan hidup dari penduduk di Arktik akan hilang karena es di laut akan juga menghilang. Bukti yang paling baru menunjukkan bahwa hilangnya permukaan es di laut, pelelehan permukaan es di Greenland dan Antartika, laju kenaikan permukaan laut, serta pelelehan es abadi dan gletser pegunungan, semuanya lebih cepat daripada yang diperkirakan ketika laporan IPCC 2007 telah lengkap. Analisis-analisis baru menunjukkan bahwa kekeringan di Afrika Barat29 dan pengeringan dari hutan hujan tropis Amazon30 akan lebih mungkin terjadi daripada yang sebelumnya diperkirakan.31

Me sk ipu n ke t i d a kp ast i an ilmiah sering digunakan sebagai alasan untuk menunggu lebih banyak bukti lagi sebelum bertindak untuk mengendalikan perubahan iklim, kejutan-kejutan yang baru ini seluruhnya menunjukkan fakta bahwa ketidakpastian dapat memotong cara lainnya juga dan hasil-hasilnya nanti akan menjadi lebih buruk daripada yang diperkirakan. Sebagaimana dibahas dalam bagian Gambaran Umum dan Bab 1, keberadaan dari ketidakpastian membutuhkan suatu pendekatan yang sifatnya mencegah terhadap perubahan iklim, karena adanya potensi dampak-dampak yang tidak dapat dibalikkan dan juga inersia dari sistem iklim, dalam perputaran

Sumber: Barange dan Perry 2008; Doney 2006; Fabry dkk. 2008; Wilkinson 2008. a. Deklarasi Monako, http://ioc3.unesco.org/oanet/ Symposium2008/MonacoDeclaration.pdf (diakses Mei 2009).

0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

infrastruktur dan teknologi, dan juga dalam sistem-sistem sosial ekonomi.

Melintasi batas-batas? Dampak-dampak ini tidak sepenuhnya mencakup kemungkinan dan ketidakpastian dalam episodeepisode ekstrem atau batasanbatasan dari peristiwa yang sangat merusak dan tidak dapat dibalikkan. Meskipun p er ubahan ik lim sering kali dicirikan sebagai suatu peningkatan bertahap dalam suhu rata-rata global, penggambaran ini sebenarnya tidaklah memadai dan justru mengelabui, setidaknya dalam dua cara. Pertama, catatan historis dan paleoklimatik menunjukkan bahwa perubahan yang diproyeksikan dalam iklim akan mungkin terjadi dalam bentuk loncatan dan pergeseran, alihalih secara bertahap. Sebagaimana telah disebutkan, Permukaan es Greenland dan Antartika Barat khususnya mendapatkan risiko dari pemanasan global dan tampaknya terdapat mekanisme yang dapat menyebabkan perubahan yang besar dan cepat dalam jumlah es yang disimpan di sana.32 Hal ini penting karena jika es di sana hilang total, maka permukaan air laut pada akhirnya akan naik setinggi 12 meter. Beberapa analisis menyebutkan bahwa proses ini akan berlangsung secara perlahan dalam dunia yang semakin memanas, dalam waktu beberapa ribu tahun atau bahkan lebih. Namun, penelitian terakhir menunjukkan bahwa, karena es tersebut kebanyakan berada di bawah permukaan laut dan dikelilingi oleh air yang lebih hangat, maka pelelehannya akan terjadi jauh lebih cepat, mungkin dalam satu atau dua abad mendatang.33 Pelelehan yang

akan berlangsung jauh lebih cepat dari salah satu atau dua permukaan es ini, dengan perubahan yang terkait dalam sirkulasi lautan, hanyalah satu dari beberapa kemungkinan “titik yang tidak dapat berbalik” dalam sistem iklim dari dunia yang memanas, di mana perubahan terjadi melewati titik tak dapat berbalik lagi-salah satu di mana sistem akan bergeser ke dislokasi sosial maupun lingkungan yang lebih meningkat secara langsung.34 Kedua, tidak seorang pun hidup di dalam suhu rata-rata global. Dampak perubahan iklim akan berbeda nyata antara wilayah yang satu dengan yang lainnya dan seringnya berinteraksi dengan tekanan-tekanan lingkungan yang lain. Sebagai contoh, penguapan dan curah hujan meningkat dan akan terus meningkat di seluruh dunia, tetapi, karena sirkulasi atmosfer mengalami pergeseran, perubahannya akan berbeda-beda secara regional, sedemikian hingga beberapa tempat akan mengalami lebih banyak hujan dan beberapa lainnya lebih jarang. Di antara konsekuensi tambahan yang mungkin adalah pergeseran dalam jalur badai, lebih banyak angin topan tropis yang kuat dan peristiwa hujan yang ekstrem, garis salju yang lebih tinggi yang menyebabkan kurangnya pembentukan salju di musim semi, menghilangnya gletser-gletser di daerah pegunungan,35 berkurangnya tutupan salju dan permukaan es di musim dingin, penguapan yang lebih cepat dari kelembapan tanah yang menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan yang jauh lebih sering dan intens, tutupan es abadi yan berkurang, dan serangan polusi udara yang kian sering. Pergeseran

dalam waktu dan pola-pola dari osilasi monsun dan atmosferkelautan di dunia (seperti El Niño/ Southern Oscillation dan North Atlantic Oscillation) juga menjadi mungkin. Peta FA.2 dan Tabel FA.1 menunjukkan beberapa titik kritis yang mungkin terjadi, lokasi terjadinya, dan pada suhu berapa hal tersebut akan terjadi beserta dengan dampak-dampaknya.

Dapatkah kita mengupayakan pemanasan hingga oC saja, dan menghindari pemanasan sebesar oC atau lebih? Banyak penelitian menyimpulkan bahwa dengan membuat konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer stabil pada 450 bpj CO2 atau ekuivalennya hanya akan menghasilkan peluang s e b e s a r 4 0 – 5 0 p e r s e n u nt u k membatasi peningkatan suhu ratarata global hingga 2ºC di atas tingkat praindustri.36 Ada banyak jalur emisi yang dapat membawa kita ke sana, tetapi semua mengharuskan emisinya memuncak di dekade mendatang dan kemudian menurun di seluruh dunia menjadi setengah dari yang sekarang pada tahun 2050, dengan reduksi emisi yang lebih banyak lagi setelahnya. Akan tetapi, untuk keyakinan yang lebih besar bahwa suatu nilai suhu tertentu tidak akan terlampaui, maka reduksi emisinya harus lebih besar lagi untuk meningkatkan peluangnya. Sebagaimana ditunjukkan pada Figur FA.7c, “dugaan terbaik” kita yaitu jalur 2 derajat tidak dapat mengabaikan kemungkinan kita mencapai 4ºC. Jalan berpikir yang lebih rumit adalah dalam kerangka anggaran emisi. Menjaga pemanasan akibat CO2

Ilmu Perubahan Iklim



Peta FA.2 Titik elemen potensial dalam sistem iklim: Distribusi global Pelelehan Lapisan Es Greenland

Kematian Hutan Boreal

Perubahan pada Amplitudo dan Frekuensi ENSO

Hilangnya es Laut Arktik Perubahan Klimatis-Induksi Lubang Ozon

Pelelehan Es Abadi dan Kematian hilangnya Tundra Hutan Boreal

Penghijauan Gurun Sahara Pergeseran Monsun Afrika Barat

Kematian Hutan Hujan Amazon

Ketidakstabilan Monsun India

Ketidakstabilan Lapisan Es Antartika Barat

Sumber: Diadaptasi dari Lenton dkk. 2008. Catatan: Beberapa gambaran skala regional sistem mempunyai titik kritis, berarti bahwa gangguan iklim walaupun kecil pada titik kritis dapat memicu pergeseran yang mendadak atau tak terbalikkan pada sistem. Hal ini dapat terpicu pada abad ini bergantung pada laju dan besaran perubahan iklim.

Tabel FA.1 Elemen-elemen penting yang potensial dalam sistem iklim: Pemicu, skala waktu, dan dampak

Elemen penting

Tingkat pemanasan yang dapat memicu

Transisi skala waktu

Dampak penting

+0,5–2 C

~10 tahun (cepat)

Pelelehan lapisan es Greenland

+1–2oC

>300 tahun (lambat)

Peningkatan permukaan air laut 2–7 meter

Pelelehan lapisan es Antartika Barat

+3–5oC

>300 tahun (lambat)

Peningkatan permukaan air laut 5 meter

Kegagalan sirkulasi termohalin Atlantik

+3–5oC

~100 tahun (bertahap)

Kegigihan Elnino-Southern Oscillation (ENSO)

+3–6 C

~100 tahun (bertahap)

N/A

~1 tahun (cepat)

Hilangnya es laut musim panas Arktik

Monsun musim panas di India

o

o

Pemanasan yang menguat, perubahan ekosistem

Pendinginan regional di Eropa Kekeringan di Asia Tenggara dan lainnya Kekeringan

Sahel/Sahara dan Monsun Afrika Barat

+3–5oC

~10 tahun

Pengeringan dan kematian hutan hujan Amazon

+3–4 C

~50 tahun (bertahap)

Pergeseran hutan boreal ke arah utara

+3–5oC

~50 tahun

Pemanasan air bagian bawah Antartika

Belum jelas

~100 tahun (bertahap)

Sirkulasi laut yang berubah, simpanan karbon yang berkurang

Pelelehan tundra

Sedang berlangsung

~100 tahun (bertahap)

Pemanasan yang menguat, pertukaran bioma

Pelelehan es abadi

Sedang berlangsung

<100 tahun (bertahap)

Pemanasan yang diperkuat dari pelepasan metana dan karbon dioksida

Belum jelas

1.000 sampai 10.000 tahun

Pelepasan hidrat metan lautan

o

Kapasitas pembawa yang meningkat Kehilangan keragaman hayati, curah hujan yang berkurang Pertukaran bioma

Pemanasan yang diperkuat dari pelepasan metana

Sumber: Diadaptasi dari Lenton dkk. 2008. Catatan: Pendapat-pendapat ahli tentang kemungkinan melewati titik kritis dalam sebuah bagian sistem-sistem ini—pelelehan lapisan es Antartika Barat, pelelehan lapisan es Greenland, pengeringan Amazon, dan sirkulasi laut (Kriegler dkk. 2009)—diperkirakan sekitar 16 persen kemungkinan dari kejadian ini untuk pemanasan 2-4ºC. Kemungkinan tersebut akan meningkat lebih dari 50 persen untuk perubahan rerata suhu global di atas 4ºC relatif pada tingkat di tahun 2000. Pada beberapa kasus, jumlah ini dipertimbangkan lebih tinggi daripada kemungkinan yang dialokasikan untuk kejadian-kejadian yang merusak dalam penilaian kerusakan iklim saat ini; contohnya, Stern (2007) memperkirakan 5-20 persen kehilangan lapisan es dengan kemungkinan sebesar 10 persen untuk pemanasan 5ºC.

saja pada batas 2ºC akan memerlukan membatasi emisi kumulatif CO 2 sebesar 1 triliun ton (Tt) karbon (3,7 Tt CO2).37 Dunia telah mengemisikan

setengah dari jumlah itu selama dua setengah abad terakhir ini. Untuk abad ke-21, jalur “bisnis-sepertibiasanya” akan melepaskan setengah

triliun ton sisanya dalam waktu 40 tahun, membutuhkan beberapa generasi mendatang untuk hidup di dunia bebas karbon.

Laporan Pembangunan Dunia 2010



Figur FA.7 Cara-cara untuk membatasi pemanasan pada 2ºC di atas tingkat praindustri a. Profil ideal emisi CO2

b. Emisi kumulatif karbon

Karbon/tahun (miliar ton)

Pemanasan yang diinduksi oleh CO2 (ºC)

Karbon (trilun ton) 1.2

14

4

1.0

12 10

0.8

8

0.6

6

3

1

0.2

2 2000

2050

2100

2150

0.0

1950

Tahun Puncak tingkat reduksi –3% per tahun

Kemungkinan

2

Total 2008

0.4

4 0 1950

c. Respons suhu

2000

2050

2100

2150

0

1950

2000

Tahun –4% per tahun

–8% per tahun

2050

2100

2150

Tahun Suhu relatif yang diamati pada 1900–1920

Sumber: Allen dkk. 2009a. Catatan: Tiga jalur ideal emisi CO2 (FA.7a), masing-masing konsisten dengan emisi kumulatif total (b) dari 1 triliun ton karbon. Masing-masing jalur mencapai jangkauan yang sama dalam peningkatan suhu yang diproyeksikan (c) relatif terhadap ketidakpastian respons sistem iklim (arsir abu-abu dan garis merah), digambarkan bahwa kumulatif total tidak terpengaruh. Kurva biru, hijau, dan merah di FA.7a semuanya konsisten dengan anggaran 1 triliun ton, tetapi puncak emisi yang lebih tinggi dan lebih akhir, semakin cepat emisi harus menurun untuk bertahan pada anggaran emisi kumulatif yang sama. Titik-titik pada FA.7c mengindikasikan suhu relatif yang diamati pada 1900 – 1920. Sementara 2ºC merupakan hasil yang diyakini, suhu meningkat sebesar 4º di atas tingkat praindustri tidak dapat dikelola.

Konsep anggaran kumulatif memberikan kerangka berpikir mengenai sasaran untuk jangka pendek dan panjang. Sebagai contoh, semakin tinggi emisi pada tahun 2020, maka emisi di tahun 2050 harus semakin rendah agar dapat menjaga anggaran yang sama. Jika emisi karbon diizinkan untuk meningkat sebanyak 20–40 persen lagi sebelum reduksi dilakukan, maka laju penurunannya haruslah berada antara 4 persen (jalur oranye dalam gambar FA.7a) dan 8 persen (jalur biru) setiap tahunnya agar dapat berada dalam anggaran karbonnya. Sebagai perbandingan, di Kyoto, negara-negara kaya sepakat untuk mengurangi emisi sebesar 5,2 persen secara rata-rata dari tingkat pada tahun 1990 selama periode 2008–12 tahun, sementara seluruh dunia perlu mengurangi emisi sebesar 4–8 persen setiap tahunnya tanpa kecuali, agar pemanasan global dapat dijaga hingga mencapai 2ºC saja. Pemanas an a k ib at gasgas rumah kaca lainnya, seperti metana, karbon hitam, dan nitrogen

oksida—yang sekarang menyumbang sekitar 25 persen dari pemanasan total—berarti mungkin diperlukan batasan CO 2 yang lebih rendah untuk mencegah pemanasan sebesar 2oC dari aktivitas-aktivitas manusia. Gas-gas ini dapat setara dengan 125 miliar dari 500 miliar ton sisa CO2 dalam anggaran emisi kita, yang berarti bahwa karbon dioksida yang boleh diemisikan sesungguhnya hanyalah total 375 miliar ton. 38 Upaya-upaya jangka pendek yang mengurangi emisi gas-gas yang sangat berpengaruh tetapi berusia pendek pada sampai 2020, seperti metana dan karbon hitam atau ozon troposfer, akan menghambat laju pemanasan. Bahkan, mengurangi karbon hitam sebesar 50 persen atau ozon sebesar 70 persen, 39 dan menghentikan deforestasi masing-masing adalah tindakan yang ekuivalen dengan emisi-emisi dari satu dekade emisi bahan bakar fosil dan akan membantu membatasi pemanasan global seiring dengan reduksi dalam emisi CO 2. Untuk benar-benar mengurangi

risiko pemanasan yang berlebihan, kita mungkin perlu juga beralih ke emisi negatif. Untuk mencapai hal ini—yakni tidak menghasilkan emisi netto dan juga mengambil CO2 dari atmosfer—mungkin membutuhkan teknologi bahan bakar biomassa generasi kedua untuk memasok kebutuhan energi, dilanjutkan dengan penguraian karbon (lihat Bab 4).

Catatan 1. I P C C 2 0 0 7 b . Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dibentuk tahun 1988 sebagai upaya bersama dari World Meteorological Organization dan UN Environment Programme untuk merangkum keadaan pengetahuan ilmiah mengenai perubahan iklim dalam serangkaian penilaianpenilaian besar secara periodik. Penilaian yang pertama diselesaikan tahun 1990, yang kedua tahun 1995, yang ketiga tahun 2001, dan yang keempat tahun 2007. 2. Raupach dkk. 2007.

Ilmu Perubahan Iklim

3. http://unfccc.int/essential_ background/convention/ background/items/1353.php (diakses 30 Agustus 2009). 4. Smith dkk. 2009. 5. Parry dkk. 2007. 6. Peningkatan suhu di daerah kutub kira-kira akan bernilai dua kali lipat dari rata-rata global. 7. Schneider von Deimling dkk. 2006. 8. Peningkatan yang teramati telah mencapai rata-rata sekitar 0,2°C per dekade sejak 1990, yang memberikan keyakinan pada kami mengenai proyeksi-proyeksi di masa mendatang. Lihat IPCC 2007a, tabel 3.1, yang memberikan kisaran sebesar 0,1–0,6°C per dekade pada semua skenario yang ada. 9. Menurut estimasi terkini dari World Meteorological Organization, nilai konsentrasi CO2 rata-rata tahun 2008 adalah 387 bpj. Konsentrasi metana dan nitrogen oksida juga telah meningkat, mencapai rekor sebesar 1,789 dan 321 bpm (bagian per miliar). Konsentrasi ekuivalen karbon dioksida (CO2e) adalah suatu besaran yang menjelaskan, untuk suatu campuran dan jumlah dari gas-gas rumah kaca, jumlah CO2 yang akan memberikan dampak potensial yang sama terhadap pemanasan global yang diukur sepanjang suatu periode yang ditentukan. Sebagai contoh, untuk massa gas yang sama, Global Warming Potential (GWP) untuk metana selama periode 100 tahun adalah 25, dan untuk nitrogen oksida adalah 298. Ini berarti emisi metana dan nitrogen oksida masingmasing sebanyak 1 metrik ton akan menyebabkan efek pemanasan yang sama dengan emisi karbon dioksida sebanyak 25 dan 298 metrik ton.

Untungnya, massa dari emisi gas-gas ini tidaklah sebesar CO2, sehingga efek pemanasan efektifnya lebih sedikit. Akan tetapi perhatikan bahwa sepanjang periode yang berbeda-beda, GWP ini nilainya dapat berubah-ubah; misalnya, GWP jangka pendek (2 tahun) untuk metana adalah 75, yang menandakan bahwa untuk periode waktu yang singkat, emisi metana sangatlah penting, dan mengendalikan emisi metana akan sangat membantu dalam menghambat perubahan iklim. 10. Senyawa-senyawa halokarbon adalah zat-zat kimia yang mengandung atom-atom karbon yang berikatan dengan atom-atom halogen (fluorin, klorin, bromin, dan iodin). Senyawa-senyawa ini cenderung sangat sukar terurai dan non-reaktif. Hingga pada saat senyawa-senyawa ini dilarang demi menjaga lapisan ozon, banyak senyawa seperti itu yang digunakan sebagai refrigeran dan untuk bahan insulasi. Oleh karena senyawa-senyawa ini juga berkontribusi terhadap pemanasan global, pelarangannya di bawah Montreal Protocol dan amandemenamandemen selanjutnya telah membantu membatasi pemanasan global (bahkan lebih daripada Protokol Kyoto). Meskipun senyawa-senyawa penggantinya yang berkontribusi lebih sedikit terhadap pemanasan global dan perusakan lapisan ozon, penggunaannya secara berlebihan akan dapat menimbulkan efek pemanasan yang cukup signifikan seiring dengan waktu, sehingga emisi dari senyawa-senyawa semacam ini harus dikurangi sepanjang dekadedekade mendatang. 11. Penguraian partikel-partikel sulfat secara alamiah dari atmosfer



selama beberapa minggu setelah partikel-partikel tersebut dibentuk adalah kontributor utama terhadap asidifikasi hujan (hujan asam), yang mengurangi kesuburan tanah, merusak tumbuhan dan gedung, dan mengganggu kesehatan manusia. 12. Forster dkk. 2007. 13. Adger dkk. 2008; SEG 2007. 14. Millennium Ecosystem Assessment 2005. Perubahanp er ubahan yang tampaknya kontradiktif ini memungkinkan karena, seiring suhu meningkat, baik penguapan maupun kapasitas atmosfer untuk menyimpan uap air meningkat. Dengan meningkatnya jumlah uap air di atmosfer, hujan konvektif menjadi lebih deras, dan lebih sering menimbulkan banjir. Pada saat yang bersamaan, suhu tinggi akan mempercepat penguapan dari tanah, sehingga mempercepat pengikisan kelembapan air dan mempercepat munculnya kekeringan. Akibatnya, suatu daerah akan dapat mengalami banjir yang lebih parah dan juga kekeringan yang lebih dahsyat pada saat yang tidak bersamaan. 15. Webster dkk. 2005. 16. Melelehnya salju dan es di tempat-tempat dengan lintang yang besar mengarah pada “amplifikasi kutub” dari peningkatan suhu dengan cara menggantikan permukaan reflektif dengan tanah yang gelap atau perairan terbuka, keduanya menyerap panas dan menciptakan umpan balik positif yang mempercepat pemanasan atau pelelehan. 17. Allison dkk. 2005. 18. Parry dkk. 2007. 19. IPCC 1995. 20. IPCC 2001.



Laporan Pembangunan Dunia 2010

21. IPC C 2007a. “Sangat mungkin” digunakan oleh IPCC untuk menunjukkan kepastian lebih besar dari 90 persen. 22. Füssel 2008; Ramanathan dan Feng 2008. 23. Brewer dan Peltzer 2009; McNeil dan Matear 2008; Silverman dkk. 2009. 24. Parry dkk. 2007. 25. Parry dkk. 2007, Tabel TS3. 26. Battisti dan Naylor 2009; Lobell dan Field 2007. 27. Global Forest Expert Panel on Adaptation of Forests to Climate Change 2009. 28. US National Snow and Ice Data Center, http://nsidc.org (diakses Agustus 2009); Füssel 2008; Rahmstorf 2007. 29. Shanahan dkk. 2009. 30. Phillips dkk. 2009. 31. Allan dan Soden 2008. 32. Rignot dan Kanagaratnam 2006; Steffensen dkk. 2008. 33. Füssel 2008. 34. Lenton dkk. 2008. 35. UNEP-WGMS 2008. 36. Lihat juga pembahasan pada bagian Gambaran Umum dan di Bab 4. 37. Allen dkk. 2009b. 38. Meinshausen dkk. 2009. 39. Wallack dan Ramanathan 2009.

Referensi ACIA. 2005. Arctic Climate Impact Assessment. New York: Cambridge University Press. Adger, W. N., S. Dessai, M. Goulden, M. Hulme, I. Lorenzoni, D. R. Nelson, L. O. Naess, J. Wolf, dan A. Wreford. 2008. “Are There Social Limits to Adaptation to Climate Change?” Climatic Change 93 (3–4): 335–54.

Allan, R. P., dan B. J. Soden. 2008. “Atmospheric Warming and the Amplification of Precipitation Extremes.” Science 321 (5895): 1481–84. Allen, M., D. Frame, K. Frieler, W. Hare, C. Huntingford, C. Jones, R. Knutti, J. Lowe, M. Meinshausen, dan S. Raper. 2009a. “The Exit Strategy.” Nature Reports Climate Change 3: 56–58. Allen, M., D. J. Frame, C. Huntingford, C. D. Jones, J. A. Lowe, M. Meinshausen, dan N. Meinshausen. 2009b. “Warming Caused by Cumulative Carbon Emissions towards the Trillionth Tonne.” Nature 458: 1163–66. Allison, E. H., W. N. Adger, M. Badjeck, K. Brown, D. Conway, N. K. Dulvy, A. S. Halls, A. Perry, dan J. D. Reynolds. 2005. Effects of Climate Change on the Sustainability of Capture and Enhancement Fisheries Important to the Poor: Analysis of the Vulnerability and Adaptability of Fisherfolk Living in Poverty. London: UK. Department for International Development (DfID). Barange, M., dan R. I. Perry. 2008. “Physical and Ecological Impacts of Climate Change Relevant to Marine and Inland Capture Fisheries and Aquaculture.” Paper presented at FAO conference on Climate Change and Fisheries and Aquaculture. Rome. Barker, T., I. Bashmakov, L. Bernstein, J. E. Bogner, P. R. Bosch, R. Dave, O. R. Davidson, B. S. Fisher, S. Gupta, K. Halsnaes, B. Heij, S. Khan

Ribeiro, S. Kobayashi, M. D. Levine, D. L. Martino, O. Masera, B. Metz, L. A. Meyer, G.-J. Nabuurs, A. Najam, N. Nakićenović, H.-H. Rogner, J. Roy, J. Sathaye, R. Schock, P. Shukla, R. E. H. Sims, P. Smith, D. A. Tirpak, D. Urge-Vorsatz, dan D. Zhou. 2007. “Technical Summary.” Dalam Climate Change 2007: Mitigation. Contribution of Working Group III to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, B. Metz, O. R. Davidson, P. R. Bosch, R. Dave, dan L. A. Meyer, (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. Battisti, D. S., dan R. L. Naylor. 2009. “Historical Warnings of Future Food Insecurity with Unprecedented Seasonal Heat.” Science 323 (5911): 240–44. Brewer, P. G., dan E. T. Peltzer. 2009. “Oceans: Limits to Marine Life.” Science 324 (5925): 347–48. Canadell, J. G., C. Le Quere, M. R. Raupach, C. B. Field, E. T. Buitenhuis, P. Ciais, T. J. Conway, N. P. Gillett, R. A. Houghton, dan G. Marland. 2007. “Contributions to Accelerating Atmospheric CO2 Growth from Economic Activity, Carbon Intensity, and Efficiency of Natural Sinks.” Proceedings of the National Academy of Sciences 104 (47): 18866–70. Doney, S. C. 2006. “The Dangers of Ocean Acidification.” Scientific American 294 (3): 58–65. Fabry, V. J., B. A. Seibel, R. A. Feely, dan J. C. Orr. 2008. “Impacts of Ocean Acidification on Marine Fauna and Ecosystem

Ilmu Perubahan Iklim

Processes.” ICES Journal of Marine Sciences 65 (3): 414–32. Fischlin, A., G. F. Midgley, J. T. Price, R. Leemans, B. Gopal, C. Turley, M. D. A. Rounsevell, O. P. Dube, J. Tarazona, dan A. A. Velichko. 2007. “Ecosystems, Their Properties, Goods and Services.” In Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, M. Parry, O. F. Canziani, J. P. Palutikof, P. J. van der Linden, dan C. E. Hanson (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. Forster, P., V. Ramaswamy, P. Artaxo, T. Bernsten, R. Betts, D. W. Fahey, J. Haywood, J. Lean, D. C. Lowe, G. Myhre, J. Nganga, R. Prinn, G. Raga, M. Schulz, dan R. Van Dorland. 2007. “Changes in Atmospheric Constituents and in Radiative Forcing.” Dalam Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, S. Solomon, D. Qin, M. Manning, Z. Chen, M. Marquis, K. B. Averyt, M. Tignor, dan H. L. Miller (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. Füssel, H. M. 2008. “The Risks of Climate Change: A Synthesis of New Scientific Knowledge Since the Finalization of the IPCC Fourth Assessment Report.” Background note for the WDR 2010.

Global Forest Expert Panel on Adaptation of Forests to Climate Change. 2009. Adaptation of Forests and People to Climate Change: A Global Assessment Report. Vienna: International Union of Forest Research Organizations. Houghton, R. A. 2003. “The Contemporary Carbon Cycle.” In Treatise on Geochemistry, vol 8, Biogeochemistry, W. H. Schlesinger (editor). New York: Elsevier. IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). 1995. Climate Change 1995: Synthesis Report. Contribution of Working Groups I, II, and III to the Second Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Geneva: IPCC. ———. 2000. IPCC Special Report: Methodological and Technological Issues in Technology Transfer—Summary for Policymakers. Cambridge, UK: Cambridge University Press. ———. 2001. Climate Change 2001: Synthesis Report. Contribution of Working Groups I, II and III to the Third Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Cambridge, UK: Cambridge University Press. ———. 2007a. Climate Change 2007: Synthesis Report. Contribution of Working Groups I, II and II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Geneva: IPCC. ———. 2007b. “Summary for Policymakers.” Dalam Climate



Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, S. Solomom, D. Qin, M. Manning, Z. Chen, M. Marquis, K. B. Averyt, M. Tignor, dan H. L. Miller (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. Karl, T. R., J. M. Melillo, dan T. C. Peterson. 2009. Global Climate Change Impacts in the United States. Washington, DC: U.S. Climate Change Science Program and the Subcommittee on Global Change Research. Kriegler, E., J. W. Hall, H. Held, R. Dawson, dan H. J. Schellnhuber. 2009. “Imprecise Probability Assessment of Tipping Points in the Climate System.” Proceedings of the National Academy of Sciences 106 (13): 5041–46. Lenton, T. M., H. Held, E. Kriegler, J. W. Hall, W. Lucht, S. Rahmstorf, dan H. J. Schellnhuber. 2008. “Tipping Elements in the Earth’s Climate System.” Proceedings of the National Academy of Sciences 105 (6): 1786–93. Lobell, D. B., dan C. B. Field. 2007. “Global Scale Climate-Crop Yield Relationships and the Impacts of Recent Warming.” Environmental Research Letters 2: 1–7. McNeil, B. I., dan R. J. Matear. 2008. “Southern Ocean Acidification: A Tipping Point at 450-ppm Atmospheric CO2.” Proceedings of the National Academy of Sciences 105 (48): 18860–64.



Laporan Pembangunan Dunia 2010

Meinshausen, M., N. Meinshausen, W. Hare, S. C. B. Raper, K. Frieler, R. Knutti, D. J. Frame, dan M. R. Allen. 2009. “Greenhouse-Gas Emission Targets for Limiting Global Warming to 2°C.” Nature 458 (7242): 1158–62. Millennium Ecosystem Assessment. 2005. Ecosystems and Human Well-Being: Synthesis Report. Washington, DC: World Resources Institute. Mote, T. L. 2007. “Greenland Surface Melt Trends 1973–2007: Evidence of a Large Increase in 2007.” Geophysical Research Letters 34 (22): L22507– doi:10.1029/2007GL031976. Parry, M., O. F. Canziani, J. P. Palutikof, dan Co-authors. 2007. “Technical Summary.” Dalam Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, M. Parry, O. F. Canziani, J. P. Palutikof, P. J. van der Linden, dan C. E. Hanson (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. Phillips, O. L., L. E. O. C. Aragao, S. L. Lewis, J. B. Fisher, J. Lloyd, G. Lopez-Gonzalez, Y. Malhi, A. Monteagudo, J. Peacock, C. A. Quesada, G. van der Heijden, S. Almeida, I. Amaral, L. Arroyo, G. Aymard, T. R. Baker, O. Banki, L. Blanc, D. Bonal, P. Brando, J. Chave, A. C. A. de Oliveira, N. D. Cardozo, C. I. Czimczik, T. R. Feldpausch, M. A. Freitas, E. Gloor, N. Higuchi, E. Jimenez, G. Lloyd, P. Meir,

C. Mendoza, A. Morel, D. A. Neill, D. Nepstad, S. Patino, M. C. Penuela, A. Prieto, F. Ramirez, M. Schwarz, J. Silva, M. Silveira, A. S. Thomas, H. Steege, J. Stropp, R. Vasquez, P. Zelazowski, E. A. Davila, S. Andelman, A. Andrade, K. J. Chao, T. Erwin, A. Di Fiore, H. Euridice, H. Keeling, T. J. Killeen, W. F. Laurance, A. P. Cruz, N. C. A. Pitman, P. N. Vargas, H. Ramirez-Angulo, A. Rudas, R. Salamao, N. Silva, J. Terborgh, dan A. TorresLezama. 2009. “Drought Sensitivity of the Amazon Rainforest.” Science 323 (5919): 1344–47. Prentice, I. C., G. D. Farquhar, M. J. R. Fasham, M. L. Goulden, M. Heimann, V. J. Jaramillo, H. S. Kheshgi, C. Le Quere, R. J. Scholes, dan D. W. R. Wallace. 2001. “The Carbon Cycle and Atmospheric Carbon Dioxide.” Dalam Climate Change 2001: The Scientific Basis. Contribution of Working Group I to the Third Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, J. T. Houghton, Y. Ding, D. J. Griggs, M. Noguer, P. J. van der Linden, X. Dai, K. Maskell, dan C. A. Johnson (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. Rahmstorf, S. 2007. “A SemiEmpirical Approach to Projecting Future Sea-level Rise.” Science 315: 368–70. Ramanathan, V., dan Y. Feng. 2008. “On Avoiding Dangerous Anthropogenic Interference with the Climate System: Formidable Challenges Ahead.”

Proceedings of the National Academy of Sciences 105 (38): 14245–50. Raupach, M. R., G. Marland, P. Ciais, C. Le Quere, J. G. Canadell, G. Klepper, dan C. B. Field. 2007. “Global and Regional Drivers of Accelerating CO2 Emissions.” Proceedings of the National Academy of Sciences 104 (24): 10288–93. Rignot, E., dan P. Kanagaratnam. 2006. “Changes in the Velocity Structure of the Greenland Ice Sheet.” Science 311 (5763): 986–90. Sabine, C. L., M. Heiman, P. Artaxo, D. C. E. Bakker, C.-T. A. Chen, C. B. Field, N. Gruber, C. Le Quere, R. G. Prinn, J. E. Richey, P. Romero-Lankao, J. A. Sathaye, dan R. Valentini. 2004. “Current Status and Past Trends of the Carbon Cycle.” Dalam The Global Carbon Cycle: Integrating Humans, Climate, and the Natural World, C. B. Field dan M. R. Raupach (para editor). Washington, DC: Island Press. Schneider von Deimling, T., H. Held, A. Ganopolski, dan S. Rahmstorf. 2006. “How Cold Was the Last Glacial Maximum?” Geophysical Research Letters 33: L14709, doi:10.1029/ 2006GL026484. SEG (Scientific Expert Group on Climate Change). 2007. Confronting Climate Change: Avoiding the Unmanageable and Managing the Unavoidable. Washington, DC: Sigma Xi and the United Nations Foundation. Shanahan, T. M., J. T. Overpeck, K. J. Anchukaitis, J. W. Beck, J. E. Cole, D. L. Dettman, J. A. Peck,

Ilmu Perubahan Iklim

C. A. Scholz, dan J. W. King. 2009. “Atlantic Forcing of Persistent Drought in West Africa.” Science 324 (5925): 377–80. Silverman, J., B. Lazar, L. Cao, K. Caldiera, dan J. Erez. 2009. “Coral Reefs May Start Dissolving When Atmospheric CO2 Doubles.” Geophysical Research Letters 36 (5): L05606– doi:10.1029/2008GL036282. Smith, J. B., S. H. Schneider, M. Oppenheimer, G. W. Yohe, W. Hare, M. D. Mastrandrea, A. Patwardhan, I. Burton, J. Corfee-Morlot, C. H. D. Magadza, H.-M. Füssel, A. B. Pittock, A. Rahman, A. Suarez, dan J.-P. van Ypersele. 2009. “Assessing Dangerous Climate Change through an Update of the Intergovernmental Panel on Climate Change

(IPCC) ‘Reasons for concern’.” Proceedings of the National Academy of Sciences 106 (11): 4133–37. Steffensen, J. P., K. K. Andersen, M. Bigler, H. B. Clausen, D. Dahl-Jensen, H. Fischer, K. Goto-Azuma, M. Hansson, S. J. Johnsen, J. Jouzel, V. MassonDelmotte, T. Popp, S. O. Rasmussen, R. Rothlisberger, U. Ruth, B. Stauffer, M. L. SiggaardAndersen, A. E. Sveinbjornsdottir, A. Svensson, dan J. W. C. White. 2008. “High-Resolution Greenland Ice Core Data Show Abrupt Climate Change Happens in Few Years.” Science 321 (5889): 680–84. Stern, N. 2007. The Economics of Climate Change: The Stern Review. Cambridge, UK: Cambridge University Press.



UNEP-WGMS (United Nations Environment Programme– World Glacier Monitoring Service). 2008. Global Glacier Changes: Facts and Figures. Chatelaine, Switzerland: DEWA/ GRID-Europe. Wallack, J. S., dan V. Ramanathan. 2009. “The Other Climate Changers.” Foreign Affairs 5 (88): 105–13. Webster, P. J., G. J. Holland, J. A. Curry, dan H. R. Chang. 2005. “Changes in Tropical Cyclone Number, Duration, and Intensity in a Warming Environment.” Science 309 (5742): 1844–46. Wilkinson, C., ed. 2008. Status of Coral Reefs of the World 2008. Townsville: Australian Institute of Marine Science.



1

BAGIAN



BAB

2

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

S

ejumlah keluarga di Bangladesh sedang memutuskan apakah harus membangun kembali rumah dan mata pencaharian mereka setelah terjadinya bencana banjir yang lain lagi—dulunya terjadi sesekali, tetapi saat ini setiap beberapa tahun sekali—atau mengambil risiko untuk hidup di Dhaka, ibu kotanya yang padat penduduk. Dan di dalam hutan-hutan berpohon tinggi di Australia selatan, sejumlah keluarga memutuskan apakah akan membangun rumah mereka kembali setelah terjadinya bencana kebakaran yang paling hebat sepanjang sejarah—dengan menyadari bahwa mereka masih berada dalam cengkeraman masa kekeringan yang terpanjang dan terbesar dalam sejarah. Dengan kerugian yang tidak terelakkan yang diakibatkan oleh kejadian iklim yang ekstrem, secara eksplisit atau

Pesan Kunci Perubahan iklim yang lebih lanjut merupakan hal yang tidak terhindarkan. Perubahan tersebut akan menekan penduduk baik secara fisik maupun ekonomi, khususnya di negara-negara miskin. Adaptasi memerlukan pengambilan keputusan yang kokoh—yang merencanakan sepanjang horizon waktu dan mempertimbangkan skenario-skenario iklim dan sosioekonomi dalam rentang yang luas. Negara-negara dapat mengurangi risiko fisik dan finansial yang digabungkan dengan cuaca yang bervariasi dan ekstrem. Mereka juga dapat melindungi yang paling rentan. Beberapa praktik yang didirikan akan harus dikembangkan—seperti asuransi dan perlindungan sosial—dan lainnya harus dilakukan dengan cara yang berbeda—seperti perencanaan infrastruktur dan perkotaan. Aksiaksi adaptasi ini akan mempunyai manfaat walaupun tanpa adanya perubahan iklim. Menjanjikan inisiatif adalah penting, tetapi menerapkannya pada skala yang perlu akan membutuhkan uang, usaha, kecerdikan, dan informasi.

implisit masyarakat telah memilih risiko yang akan mereka tanggung dan strategi-strategi penanggulangannya untuk menghadapi kerugian-kerugian itu. Beberapa kerugian sangatlah besar dan proses penanggulangannya sangatlah sederhana sehingga pembangunan menjadi terhambat. Dan seiring iklim berubah, semakin banyak lagi masyarakat yang berisiko terperosok ke dalam apa yang disebut dengan “defisit adaptasi.” Mengurangi kerentanan dan meningkatkan ketangguhan terhadap iklim secara tradisional telah menjadi tanggung jawab rumah tangga dan komunitas 1 melalui pilihan-pilihan mereka akan mata pencaharian, alokasi aset, dan preferensi lokasi. Pengalaman menunjukkan bahwa pengambilan keputusan, keanekaragaman, dan pembelajaran sosial dalam skala lokal adalah faktor-faktor kunci dalam komunitas yang fleksibel dan tangguh2 dan bahwa komunitas yang rentan dapat menjadi badan-badan inovasi dan adaptasi yang efektif 3. Namun, perubahan iklim membawa ancaman yang akan membuat usaha-usaha lokal kewalahan, sehingga dibutuhkan lebih banyak struktur pendukung secara nasional dan global. Kerentanan penduduk tidaklah statis, dan dampak dari perubahan iklim akan memperparah banyak 



Laporan Pembangunan Dunia 2010

bentuk dari kerentanan umat manusia. Kota-kota yang padat penduduk b erkemb ang menjadi zona-zona yang berbahaya. Sistem-sistem alami ditransformasikan melalui pertanian modern. Pembangunan infrastruktur— bendungan dan jalan raya—menciptakan sejumlah kesempatan baru tetapi dapat pula menciptakan sejumlah risiko baru bagi penduduk. Perubahan iklim, yang ikut berdampak pada proses-proses ini, menyebabkan tekanan tambahan bagi sistem alam, manusia, dan sosial. Mata pencaharian penduduk haruslah berfungsi pada kondisi yang hampir pasti akan berubah tetapi tidak dapat diprediksi secara pasti. Apapun jalan utama mitigasi yang diikuti, suhu dan perubahan iklim lainnya selama beberapa dekade akan sangat serupa. Saat ini keadaan suhu adalah sekitar 1ºC di atas suhu pada era praindustri, dan seluruh skenario mitigasi yang realistis menunjukkan bahwa kita dapat juga memperkirakan bahwa suhu dunia akan naik lagi sebesar 1ºC pada pertengahan abad ini. Walaupun demikian, kondisi dunia pada tahun 2050 dan setelahnya akan menjadi sangat berbeda dari kondisi saat ini—bagaimana perbedaannya bergantung pada mitigasi yang dilakukan. Pertimbangkan dua kemungkinan bagi anak dan cucu dari generasi saat ini. Kemungkinan pertama, dunia dapat membatasi peningkatan suhu sebesar 2 sampai 2,5ºC di atas tingkat praindustri. Dalam kemungkinan kedua, berbagai emisinya lebih besar, dan pada akhirnya suhu dunia menjadi sekitar 5ºC atau lebih di atas tingkat praindustri.4 Bahkan pada lintasan suhu yang lebih rendah, banyak ekosistem akan semakin tertekan, pola hama dan penyakit akan terus berubah, dan pertanian akan memerlukan modifikasi yang signifikan

dalam hal praktik atau relokasi. Pada lintasan suhu yang lebih tinggi, sebagian besar tren negatifnya bahkan akan menjadi lebih buruk, dan beberapa tren positif, seperti peningkatan dalam produktivitas pertanian pada bagian wilayah yang lebih dingin, akan berbalik. Dunia pertanian akan mengalami perubahan yang transformatif dalam hal praktik dan lokasi. Intensitas badai akan meningkat. Dan kedudukan permukaan laut akan mengalami kenaikan sekitar satu meter. 5 Banjir, kekeringan, dan suhu ekstrem akan lebih menjadi hal biasa. 6 Dekade yang lalu merupakan masa dengan cuaca terpanas sepanjang sejarah, namun pada tahun 2070, bahkan tahun-tahun yang paling dingin sekalipun mungkin akan lebih panas dibandingkan pada saat ini, sehingga akan menjadi ketegangan sosial. Pada lintasan yang lebih tinggi, pemanasan dapat memicu timbulnya umpan balik dalam sistem-sistem Bumi yang selanjutnya akan mempersulit pembatasan peningkatan suhu, terlepas dari dilakukannya mitigasi atau tidak. Kondisi ini dapat menghancurkan banyak ekosistem dengan cepat, sebagaimana yang diprediksikan oleh sebagian orang untuk Amazon dan lahan rawa-rawa di belahan utara (lihat Fokus A). Penduduk dalam dunia pada lintasan yang lebih tinggi tersebut akan menyaksikan kerugian dan biaya yang semakin hari semakin parah melalui masyarakat dan ekonominya—sehingga diperlukan adaptasi dengan skala yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia. Ketegangan international mengenai sumber daya dapat diperkirakan meningkat, dan migrasi keluar dari area-area yang paling banyak terkena imbasnya akan turut meningkat.7 Pada lintasan yang lebih rendah, proses adaptasi akan menjadi menantang

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

dan juga mahal, dan pembangunan sebagaimana adanya sekarang tidaklah akan mencukupi. Perluasan dan percepatan implementasi kebijakan yang telah terbukti berhasil adalah sangat membutuhkan adaptasi yang memanfaatkan kreativitas masyarakat, institusi, dan pasar. Pada lintasan yang lebih tinggi, pertanyaannya adalah apakah kita akan mendekati, atau bahkan telah melampaui, batasan-batasan di mana kita dapat beradaptasi.8 Beberapa pihak dengan yakin berpendapat bahwa etika, budaya, pengetahuan, dan sikap terhadap risiko lebih membatasi proses adaptasi daripada batasan-batasan fisik, biologis, atau ekonomis.9 Usaha adaptasi akan dibutuhkan oleh generasi mendatang dalam rangka menentukan seberapa efektifnya perubahan iklim dapat dimitigasi. Dampak-dampak lingkungan yang meningkat menunjukkan batasan-batasan fisik yang lebih kuat pada pembangunan di masa mendatang. Kebijakan yang cerdas iklim haruslah dapat mengatasi tantangan-tantangan dari lingkungan yang lebih berisiko dan kompleks. Praktik pembangunan haruslah lebih adaptif terhadap patokan yang bergeser, dan didasarkan pada strategi-strategi yang tahan terhadap pengetahuan yang tidak sempurna. 10 Strategi pertanian yang dipilih haruslah yang dapat bertahan pada kondisi cuaca yang mudah berubah, dengan berusaha menjaga konsistensi dalam hasil jangka panjang alih-alih menjaga tingkat produksi maksimum. Para perencana kota-kota pantai haruslah mengantisipasi perkembangan demografis dan risiko-risiko baru yang timbul dari meningkatnya permukaan laut atau banjir. Dan pekerja bidang kesehatan masyarakat haruslah siap menghadapi perubahan iklim secara tiba-tiba terkait dengan pola wabah penyakit.11 Informasi bersifat

krusial dalam mendukung perencanaan dan strategi yang berbasis risiko—hal ini merupakan dasar dari kebijakan yang baik dan manajemen risiko yang lebih baik. Pe nge l ol a an e ko s i s te m d an berbagai layanannya akan menjadi lebih penting dan sulit. Lanskap yang terkelola dengan baik dapat mengatur air banjir. Tanaman bakau pesisir pantai dapat menjadi penyangga terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh badai. Namun, pengelolaan sumber daya alam akan menghadapi iklim yang berubah-ubah dengan cepat, dengan episode ekstrem yang lebih banyak dan dengan ekosistem yang semakin terancam oleh berbagai tekanan yang bukan dari iklim (tata guna lahan dan perubahan demografis).12 Pengelolaan risiko fisik semacam ini merupakan bagian integral dari pembangunan yang cerdas iklim—sebuah langkah esensial untuk menghindari pengaruh-pengaruh yang dapat dielakkan yang berdampak kepada penduduk. B ag i m an apu n , t i d a k s e mu a p engar uh f isik dapat dihindari, khususnya yang berhubungan dengan episode ekstrem dan bencana besar yang probabilitasnya sulit diperkirakan dalam perubahan iklim. Mengurangi risiko dari episode paling ekstrem adalah tidak mungkin, dan jika kita mencoba untuk melakukannya maka akan diperlukan biaya yang sangat besar akibat ketidakpastian dari lokasi dan waktu timbulnya pengaruh tersebut. Penting bagi rumah tangga dan pemerintah untuk siap secara finansial dalam mengatasi dampak-dampak iklim. Ini memerlukan mekanisme penyebaran risiko yang fleksibel. Seperti yang dibahas pada Bab 1, penduduk miskin mempunyai kapasitas terkecil untuk mengelola risiko secara fisik dan finansial, dan untuk membuat





Laporan Pembangunan Dunia 2010

keputusan adaptasi dalam jangka yang lebih panjang. Kehidupan mereka lebih banyak dipengaruhi oleh iklim, apakah mereka bertani untuk menyambung hidup atau penghuni liar yang tidak punya tempat tinggal pada dataran banjir di pinggir kota. Kelompok sosial lain yang berbagi banyak kerentanan dari ketidakmampuan mereka akan keterbatasan hak kepemilikan, aset yang produktif, dan suara.13 Kebijakan sosial, sebuah pelengkap yang penting bagi pengelolaan risiko fisik dan finansial, menyediakan sejumlah perangkat untuk mengelola risiko yang memengaruhi komunitas yang paling rentan dan memberdayakan komunitas-komunitas yang rentan untuk menjadi badan dalam pengelolaan perubahan iklim. B ab ini memfokuskan pada pengukuran yang akan membantu penduduk dalam menangani variabel iklim dan perubahan iklim yang akan terjadi untuk beberapa dekade berikutnya. Hal ini pertama kali menggambarkan kerangka kerja kebijakan yang didasarkan pada strategi yang kuat untuk ketidakpastian iklim dan praktik pengelolaan yang beradaptasi dalam menghadapi kondisi yang dinamis. Hal ini yang diperhatikan dalam pengelolaan risiko fisik, risiko finansial dan risiko sosial.

Manajemen adaptif—Hidup dengan perubahan Perubahan iklim menambahkan suatu sumber dari hal-hal tidak dikenal lainnya bagi pengambil keputusan untuk dikelola. Pengambil keputusan dunia nyata membuat keputusan dalam kondisi ketidakpastian setiap hari, bahkan tanpa adanya perubahan iklim sekalipun. Perusahaan manufaktur melakukan investasi pada fasilitas produksi fleksibel yang menguntungkan pada semua volume produksi untuk mengimbangi

permintaan yang tidak dapat diprediksi. Komandan militer sangat membutuhkan superioritas dalam jumlah sangat besar. Investor finansial melindungi diri mereka terhadap fluktuasi pasar dengan diversifikasi. Semua bentuk investasi ini mungkin menghasilkan hasil yang tidak optimal untuk serangkaian ekspektasi tertentu di masa depan, namun hasilnya kokoh di tengah ketidakpastian.14 Serangkaian gabungan beberapa ketidakpastian—mengenai demografi, teknologi, pasar, dan iklim—membutuhkan kebijakan dan keputusan investasi yang didasarkan pada pengetahuan yang tidak sempurna dan tidak lengkap. Pengambil keputusan lokal dan nasional bahkan menghadapi ketidakpastian yang lebih besar karena proyeksi cenderung kehilangan presisinya pada skala yang lebih kecil—sebuah masalah yang muncul pada proses penurunan skala dari model proses yang tidak beraturan dan menyeluruh. Jika parameter keputusan tidak dapat diamati dan diukur,15 strategi yang kokoh (lihat Bab 1)—yang secara langsung ditujukan kepada realitas dunia dengan sejumlah pergeseran garis acuan dan gangguangangguan yang sporadis 16 adalah kerangka yang tepat dalam konteks probabilitas yang tidak diketahui. Menerima ketidakpastian sebagai suatu hal yang selalu ada pada suatu sistem yang kompleks dan kekokohan sebagai sebuah kriteria keputusan berimplikasi pada pengubahan strategi pengambilan keputusan bagi investasi dan perencanaan jangka panjang. Proses ini mengharuskan kita untuk mempertimbangkan kembali pendekatan-pendekatan tradisional yang mengasumsikan suatu dunia yang deterministik, di mana masa depan dapat diramalkan. Pertama, prioritas seharusnya diberikan untuk pilihan tanpa penyesalan:

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

pilihan investasi dan kebijakan yang dapat memberikan manfaat bahkan tanpa perubahan iklim. Pilihan semacam ini ada dalam hampir setiap bidang: dalam pengelolaan air dan tanah (lihat Bab 3), dalam sanitasi untuk mengurangi penyakit yang disebabkan oleh air (mengontrol kebocoran saluran air), dalam pengurangan risiko bencana (menghindari zona yang berisiko tinggi), dalam proteksi sosial (menyediakan bantuan bagi kaum miskin). Namun, pilihan semacam ini kerap kali tidak dapat diimplementasikan, sebagian karena kurangnya informasi dan biaya transaksinya, tetapi juga karena kegagalan kognitif dan politik (lihat Bab 8).17 Kedua, pembelian “batas keselamatan” dalam investasi baru dapat meningkatkan ketangguhan iklim, kerap kali berbiaya yang rendah. Sebagai contoh, biaya marginal untuk membuat sebuah bendungan yang lebih besar atau memasukkan kelompok tambahan ke dalam sebuah skema proteksi sosial dapat bernilai kecil.18 Batas keselamatan tidak hanya bertanggung jawab dalam dampak-dampak yang dimungkinkan dari perubahan iklim (lebih banyak kejadian yang lebih parah) tetapi juga bagi ketidakpastian dalam pembangunan sosioekonomi (perubahan dalam permintaan). Ketiga, pilihan yang berkebalikan dan fleksibel haruslah diutamakan, dengan menerima bahwa keputusan dapat saja salah dan oleh karena itu kita harus menjaga biaya untuk membalikkannya sekecil mungkin. Adanya banjir yang tidak dapat diprediksi yang menyebabkan perencanaan kota yang ketat dapat dibalikkan dengan mudah dan lebih murah daripada pilihan untuk menyerah atau perlindungan di masa depan. Asuransi menyediakan cara-cara yang fleksibel untuk mengelola risiko dan

memproteksi investasi yang penting ketika arah dan besaran perubahan tidak pasti.19 Petani yang beralih ke varietasvar iet as yang t a han keker ingan (alih-alih berinvestasi pada irigasi) dapat menggunakan asuransi untuk memproteksi investasi benih baru mu s i m an ny a d ar i s u atu mu s i m kekeringan yang luar biasa hebat. Bagi daerah yang mudah terkena badai, kombinasi serangkaian sistem peringatan dini, rencana evakuasi, dan asuransi properti (yang mungkin mahal) asuransi properti dapat menyediakan fleksibilitas yang lebih besar untuk menyelamatkan kehidupan dan menggantikan rumah daripada memproteksi daerah pantai secara keseluruhan dengan infrastruktur atau mengosongkan daerah tersebut ketika tidak dibutuhkan.20 Keempat, melembagakan perencanaan jangka panjang memerlukan analisis skenario yang berorientasi ke depan dan suatu penilaian strategi untuk sejumlah besar kemungkinan di masa depan. Proses ini akan menghasilkan penilaian ulang investasi secara periodik (dan, jika perlu, revisi). Dan proses ini memperbaiki banyak kebijakan dan praktik dengan cara terus-menerus belajar dari hasil yang didapatkan. Perluasan cakupan spasial dalam perencanaan sebanding kritis untuk disiapkan untuk perubahan yang dipicu oleh jarak yang jauh, seperti pencairan gletser yang mengubah suplai air untuk kawasan permukiman yang ratusan kilometer jauhnya, kekeringan yang semakin meluas akan memengaruhi pasaran pangan biji-bijian regional atau mempercepat migrasi pinggiran kota yang disebabkan oleh degradasi lingkungan. Akan tetapi membutuhkan perubahan struktural yang mungkin saja sulit karena adanya inersia dalam





Laporan Pembangunan Dunia 2010

dalam praktik-praktik pengelolaan yang berlaku sekarang.21 Mengimplementasikan strategistrategi semacam ini melalui manajemen adaptif memerlukan pengembangan informasi secara terus-menerus, perencanaan dan desain yang fleksibel dan kokoh, implementasi yang partisipatif, serta pengawasan dan evaluasi umpan balik. Proses ini menyusun ulang keputusan dan manajemen dengan skala konteks dan proses ekologi dan sosial, seperti batas air dan daerah ramah lingkungan, dan proses ini dikendalikan oleh sistem manajemen lokal atau masyarakat. 22 Proses ini menekankan pengelolaan dibekali informasi pengetahuan lokal dan ilmiah memperoleh, sebanyak percobaan kebijakan yang membangun pemahaman, menentukan pembelajaran sebagai suatu sasaran, dan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk bertahan dalam situasi ketidakpastian (Kotak 2.1) 23 Melibatkan pihak-pihak berkepentingan dalam perencanaan akan meningkatkan kepemilikan dan kemungkinan bahwa tindakan-tindakan akan dapat terus terpelihara.24 Boston dan London sama-sama mempunyai

KOTAK 2.1

Karakteristik manajemen adaptif

Manajemen adaptif adalah pendekatan untuk memandu intervensi dalam menghadapi ketidakpastian. Ide terpenting adalah tindakan pengelolaan dibekali informasi dengan pembelajaran eksplisit dari percobaan kebijakan dan penggunaan informasi ilmiah dan pengetahuan teknologi baru untuk meningkatkan pemahaman, menginformasikan keputusan masa depan, memantau hasil-hasil intervensi, dan mengembangkan praktikpraktik baru. Kerangka kerja ini menetapkan mekanisme untuk mengevaluasi skenario alternatif serta pengukuran struktural dan nonstruktural, memahami dan menantang asumsi-asumsi, dan mempertimbangkan ketidakpastian secara eksplisit. Manajemen

adaptif memiliki horizon jangka panjang untuk perencanaan dan pembangunan kapasitas, dan penyesuaian dengan proses ekologi dalam skala spasial yang penting. Hal ini menciptakan kerangka kerja yang memungkinkan untuk kerja sama antara tingkat administrasi, sektor-sektor, dan departemen terkait; partisipasi pihak yang berkepentingan (termasuk pusat penelitian dan organisasi non-pemerintah) di dalam pemecahan permasalahan dan pengambilan keputusan; dan menyesuaikan perundangundangan untuk mendukung aksi lokal dan merespons informasi baru. Sumber: Diadaptasi dari Raadgever dkk 2008; Olsson, Folke, dan Berkes 2004.

strategi perubahan iklim. Di Boston, prosesnya didorong oleh riset, dengan peran serta pihak-pihak berkepentingan yang tidak konsisten. Penelitian yang telah diselesaikan, dipandang terlalu teknis, hanya memiliki pengaruh kecil. London menggunakan pendekatan dari bawah ke atas, melibatkan banyak pihak berkepentingan. Dan setelah London Warning Report dikeluarkan, Climate Change Partnership dibentuk dari organisasi pihak-pihak yang berkepentingan dan melanjutkan perencanaan adaptasinya.25 Model pengambilan keputusan yang berbasis risiko mendahulukan kekokohan dan perencanaan jangka panjang, dan mengutamakan lokal, struktur pemerintahan nasional yang penting untuk adaptasi perubahan iklim.26 Meningkatnya tekanan pada sumber-sumber daya yang langka (tanah, air), dan mengombinasikannya dengan transformasi sosio-demografis yang utama (pertumbuhan populasi, urbanisasi, globalisasi), dan iklim yang bergeser, menyebabkan sempitnya peluang untuk membiarkan sejumlah risiko tidak terkelola. Sebuah badai yang menghantam kota pantai modern yang berkembang pesat berpotensi menyebabkan kerusakan yang lebih banyak daripada yang terjadi di masa lalu, ketika penduduk daerah pantai lebih sedikit dan kurang terbangun. Dalam berhadapan dengan munculnya ketidakpastian dari perubahan iklim, strategi-strategi kokoh dan manajemen adaptif menyajikan kerangka kerja yang sesuai untuk pengelolaan risiko fisik, finansial, dan sosial yang lebih baik.

Mengelola risiko fisik— Menghindari yang dapat dihindari Sistem-sistem alamiah, jika dikelola

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

dengan baik, dapat mengurangi kerentanan manusia terhadap risiko ik lim dan memb erikan bantuan tambahan yang bersifat membangun, mengurangi kemiskinan, melestarikan keragaman hayati, dan menangkap karbon. Adaptasi berbasis ekosistem— memelihara atau memperbaiki ekosistem alamiah untuk mengurangi kerentanan umat manusia—merupakan pendekatan yang efektif dalam hal biaya dan banyak manfaatnya untuk mengurangi risiko iklim dan salah satunya menawarkan keuntungan berganda (lihat Fokus B). Sebagai contoh, daerah tangkapan air di hutan menyangga aliran air dari curah hujan yang menengah lebih baik daripada daerah tangkapan air di tempat yang bukan hutan, namun curah hujan yang lebih besar dengan cepat dapat memenuhi sponsnya, dan sebagian besar



air mengalir dengan cepat di atas tanah.27 Dataran basah bervegetasi padat di bagian hilir mungkin membutuhkan aliran air penyangga lebih jauh jika sistem drainase alam membawa aliran itu. Namun, tanah basah yang diubah menjadi lahan pertanian atau infrastruktur dan sistem drainase yang disederhanakan pasti gagal, dan menyebabkan banjir. Respons yang menyeluruh terhadap pengelolaan banjir adalah melindungi hutan, mengelola tanah basah dan saluran sungai, dan menempatkan infrastruktur dengan tepat. Dengan cara yang sama, hutan bakau di daerah pantai melindungi dari gelombang badai, sebagian dengan cara menyerap aliran airnya dan sebagian lagi dengan menjaga agar pemukiman manusia berada di belakang hutan bakau yang berada jauh dari laut.

Peta 2.1 Berada dalam risiko: Populasi dan kota-kota megapolitan yang berada di zona pantai yang rendah terancam oleh kenaikan permukaan laut dan badai

Populasi di zona pantai yang rendah (low elevation coastal zones—LECZ) (%)

<2

2–5

5–10

10–20

20–50

>50

Negara-negara terkunci/Tidak ada data

Kota-kota megapolitan Di luar LECZ Di dalam LECZ

Sumber: United Nations 2008a. Catatan: Kota-kota megapolitan pada 2007 termasuk Beijing, Bombay, Buenos Aires, Kairo, Calcutta, Dhaka, Istanbul, Karachi, Los Angeles, Manila, Mexico City, Moskow, New Delhi, New York, Osaka, Rio de Janeiro, São Paulo, Seoul, Shanghai, dan Tokyo. Kota-kota megapolitan didefinisikan sebagai daerah perkotaan yang berpenduduk lebih dari 10 juta.



Laporan Pembangunan Dunia 2010

Membangun kota yang cerdas iklim Setengah dari umat manusia di bumi saat ini hidup di perkotaan. Bagian ini akan meningkat menjadi 70 persen pada tahun 2050.28 Dari pertumbuhan populasi kota (5 juta penduduk baru setiap bulannya), 95 persen akan berada di negaranegara berkembang, dengan kota-kota kecil berkembang paling cepat.29 Area perkotaan mengonsentrasikan lebih banyak penduduk dan aset ekonomis, seringnya pada area rawan bahaya karena telah berkembangnya kota yang terletak di sepanjang pantai atau kota yang terletak pada pertemuan sejumlah sungai. Kenyataannya, daerah pantai yang rendah yang berisiko terhadap naiknya permukaan air dan gelombang pantai merupakan tempat tinggal bagi sekitar 600 juta penduduk dunia dan 15 dari 20 kota besar di dunia (Peta 2.1).30 Perubahan iklim hanyalah salah satu dari banyak faktor yang menentukan kerentanan daerah perkotaan. Bagi banyak kota pantai, migrasi menjadikan populasi semakin tidak terlindungi terhadap naiknya permukaan air laut, gelombang badai, dan banjir,31 seperti di Shanghai, di mana jumlah bersih migrasi penduduk masuk per tahunnya empat kali lipat daripada tingkat pertumbuhan alamiahnya.32 Dan ada banyak kota di muara-muara sungai tenggelam karena ekstraksi air tanah dan penurunan deposit endapan yang diakibatkan oleh daerah tangkapan air. Sementara turunnya permukaan tanah telah menjadi permasalahan pada banyak kota pantai pada waktu tertentu (New Orleans, Shanghai), sekarang hal itu menjadi ancaman bagi Jakarta, Manila, dan Hanoi.33 Pembangunan kota yang lebih jauh ke daerah pedalaman meningkatkan permintaan air di bagian

hulu, termasuk sungai Nil, tidak lagi akan mencapai muaranya. Urbanisasi, yang dilakukan dengan baik, meningkatkan ketahanan terhadap risiko yang terkait dengan iklim. Kepadatan populasi yang lebih besar memperkecil biaya per kapita untuk menyediakan pipa pengolahan air, sistem pembuangan air, pengumpulan limbah, dan sebagian besar infrastruktur dan fasilitas publik lainnya. Pengumuman perencanaan kota yang membatasi pembangunan di daerah rawan banjir dan memberikan akses penting bagi berbagai layanan. Pembangunan infrastruktur (tanggul atau embung) dapat memberikan perlindungan fisik bagi banyak hal, namun memerlukan batas keselamatan tambahan seiring p e r ub a han i k l i m me n i ng k at k an risikonya. Dan sistem komunikasi yang baik, transportasi, dan sistem peringatan dini membantu mengevakuasi penduduk secara cepat, seperti kasus di Kuba ketika hampir 800.000 penduduk dievakuasi secara teratur dalam 48 jam ketika topan mendekat.34 Semua cara ini dapat meningkatkan ketahanan penduduk kota terhadap goncangan jangka pendek dan menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim dalam jangka panjang.35 Kota-kota bersifat dinamis dan merupakan wilayah yang sangat adaptif, yang menawarkan sejumlah besar solusi kreatif bagi tantangan lingkungan. Saat ini sejumlah negara berpaling pada strategi pembangunan kota baru yang bertujuan memeratakan kesejahteraan daerah. Republik Korea Selatan telah memulai sebuah program ambisius untuk membangun “Kota-kota Inovasi” sebagai sebuah cara untuk mendesentralisasikan aktivitas perekonomian negaranya.36 Usaha-usaha ini berfokus pada inovasi teknologi dan menawarkan kesempatan baru untuk merancang ulang kota-

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

KOTAK 2.2



Perencanaan bagi kota yang lebih hijau dan aman—Kasus Curitiba

Meskipun pertumbuhan populasinya meningkat tujuh kali lipat antara tahun 1950 dan 1990, Curitiba, Brazil, telah membuktikan dirinya sebagai kota yang bersih dan efisien, berkat tata kelola pemerintahan dan kerja sama sosialnya yang baik. Landasan keberhasilan Curitiba terletak pada Plano Director-nya yang inovatif, yang diadopsi pada tahun 1968 dan diimplementasikan oleh Instituto de Pesquisa Planejamento Urbano de Curitiba (IPPUC). Alih-alih menggunakan solusi berteknologi tinggi untuk infrastruktur kota, seperti kereta bawah tanah untuk transportasi publik yang besar dan pabrik pemisahan sampah mekanik yang mahal untuk mengelola limbah, IPPUC mempunyai

kota masa depan untuk menghadapi tantangan-tantangan perubahan iklim. Usaha-usaha untuk memengaruhi pola keruangan dari wilayahwilayah perkotaan melalui intervensi kebijakan publik, bagaimanapun juga, menunjukkan hasil. Republik Mesir Arab berupaya membangun kota-kota satelit untuk mengurangi kepadatan Kairo tidak pernah memperkecil proyeksi populasinya dan tidak terlalu berpengaruh dalam menghentikan pertumbuhan populasi di Kairo, sebagian karena kurangnya kebijakan untuk mengenalkan integrasi regional.37 Kebijakan yang sukses memfasilitasi konsentrasi dan migrasi selama tahap awal proses urbanisasi dan hubungan antarkota pada tahap-tahap berikutnya. Investasi publik dalam infrastruktur sangatlah efektif ketika investasi tersebut meningkatkan keadilan sosial (melalui akses yang lebih besar terhadap layanan) dan mengintegrasikan ruang kota (melalui sistem transportasi).38 Urbanisasi jarang berlangsung harmonis, menghasilkan polusi dan kantong-kantong kemiskinan dan dislokasi sosial yang merusak. Saat ini,

teknologi yang tepat dan efektif baik dari segi biaya maupun penerapannya. Penggunaan lahan dan mobilitas direncanakan dalam sebuah gaya yang terintegrasi, dan tata letak sistem radial (atau aksial) dirancang untuk mengalihkan lalu lintasnya dari bagian yang ramai (tiga perempat penduduk kota menggunakan sistem bis yang efisiensinya tinggi). Pusat industri dibangun dekat dengan pusat kota untuk meminimalisasi arus pulang pergi para pekerja. Sejumlah wilayah pemeliharaan alam ditempatkan di sekeliling daerah industri untuk menahan banjir. Hal lain dari keberhasilan kota adalah pengelolaan limbahnya dan 90 persen dari

penduduknya mendaur ulang dua pertiga dari sampah mereka. Pada wilayah yang berpenghasilan rendah, di mana usaha pembersihan sulit dilakukan dengan sistem pengelolaan limbah yang konvensional, program “Pembelian Sampah” menukarkan sampah dengan tiket bis, makanan tambahan, dan buku tulis sekolah. Replikasinya sedang dijalankan, seperti di Juarez, Meksiko, di mana Municipal Planning Institute sedang mengembangkan hunian baru dan mengubah daerah banjir yang sebelumnya tidak berpenghuni menjadi sebuah taman kota. Sumber: Roman 2008.

wilayah perkotaan di negara berkembang menjadi tempat tinggal untuk sekitar 746 juta penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan (seperempat dari penduduk miskin di dunia),39 dan penduduk miskin menderita lebih dari sekadar pendapatan dan konsumsi yang rendah. Kepadatan yang sangat tinggi, kondisi yang tidak aman, perkampungan ilegal di daerah longsor, sanitasi yang buruk, tempat tinggal yang tidak aman, nutrisi yang tidak memadai, dan kesehatan yang buruk, yang menjadi ciriciri dari kerentanan 810 juta penduduk pada perkampungan miskin di kota.40 Sejumlah kerentanan ini memerlukan perbaikan yang menyeluruh dalam perencanaan dan pengembangan kota. Badan-badan pemerintah, khususnya lokal, dapat menentukan kapasitas yang adaptif bagi rumah tangga dan perusahaan (Kotak 2.2). Namun, tindakan dari komunitas berbasis masyarakat dan organisasi non-pemerintah (LSM) juga penting, khususnya pada tempat di mana mereka membangun rumah dan menyediakan layanan, seperti yang dilakukan oleh organisasi penduduk di perkampungan

0

KOTAK 2.3

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Beradaptasi terhadap perubahan iklim—Alexandria, Casablanca, dan Tunis

Alexandria, Casablanca, dan Tunis, masingmasing berpenduduk 3 juta sampai 5 juta orang, sedang memperkirakan meluasnya dampakdampak dari proyeksi perubahan iklim dan sedang merencanakan skenario adaptasi untuk tahun 2030 melalui suatu penelitian regional yang sedang berjalan. Respons awal kota-kota tersebut terhadap meningkatnya kerentanan kota memperlihatkan adanya jalan yang tidak mulus menuju proses adaptasi. Di Alexandria, konstruksi “corniche” terbarunya, jalan raya enak jalur yang dibangun di tepi pantai, memperparah erosi pantai dan membuat profil dasar laut menjadi semakin curam, menyebabkan serangan badai menerjang lebih jauh ke daratan. Pertahanan laut dibangun tanpa penelitian kerekayasaan yang memadai dan tanpa koordinasi antara institusi-institusi yang berwenang. Sebuah danau dekat kota, sebuah wadah alam untuk saluran air, mengalami polusi akut dan tekanan dari real estat yang ingin mereklamasinya untuk tujuan konstruksi. Casablanca merespons terhadap bencana banjir yang menghancurkan kota tersebut

beberapa tahun yang lalu dengan berupaya memperbaiki pengelolaan aliran air ke bagian hulu dan memperluas kanal saluran air utamanya. Kebocoran air dalam jaringan distribusi telah teratasi oleh adanya perbaikan, melalui proses penghematan air yang sama dengan konsumsi air dari sekitar 800.000 penduduk. Namun, pengelolaan wilayah pantai masih harus diperhatikan, dengan terbatasnya perangkat untuk mengendalikan konstruksi dan mengawasi ekstraksi pasir dari pantai secara ketat. Tunis juga sedang memusatkan perhatiannya pada risiko banjir di daerah perkotaan dengan memperbaiki kanal saluran air dan mengendalikan konstruksi nonformal di sekeliling beberapa waduk air alam. Dinding laut sedang dibangun untuk melindungi lingkungan pantai yang paling terancam, dan rencana induk baru mengarahkan agar pembangunan daerah perkotaan dilaksanakan sejauh mungkin dari laut. Namun, dataran pusat kota, yang telah berada di bawah permukaan laut, saat ini semakin menurun, dan fasilitas pelabuhan dan logistiknya, seperti juga pembangkit listrik

kumuh.41 Perencanaan dan peraturan yang baik dapat mengidentifikasi daerah berisiko tinggi pada wilayah kota dan membantu kelompok berpenghasilan rendah untuk menemukan tempat tinggal yang aman dan kokoh, seperti yang terjadi di Ilo, Peru di mana otoritas lokalnya dengan tepat mengakomodasi p e r tu mbu han p opu l as i ny a y ang meningkat sebesar lima kali sejak tahun 1960.42 Namun, investasi yang kuat dalam infrastruktur mungkin juga diperlukan untuk memproteksi daerah kota dengan dinding laut dan tanggul, seperti yang dilakukan di kota-kota pantai di Afrika Utara (Kotak 2.3). Sebuah risiko utama bagi daerah perkotaan adalah banjir—sering kali diakibatkan oleh bangunan, infrastruktur, dan daerah beraspal yang menghambat proses infiltrasi, yang diperparah oleh

dan pengolahan airnya, berada dalam kondisi terancam. Sejumlah proyek utama pembangunan ulang daerah perkotaan, jika dilaksanakan, juga meningkatkan risiko kerentanan kota terhadap peningkatan permukaan laut. Beradaptasi terhadap perubahan iklim di Alexandria, Casablanca, dan Tunis terutama harus dilakukan dengan memperbaiki perencanaan kota, mengidentifikasi skenario penggunaan tanah dan perluasannya yang akan meminimalisasi kerentanan, memusatkan perhatian pada kerentanan aset-aset infrastruktur yang penting, seperti pelabuhan, jalan raya, jembatan, tempat pengolahan air, dan memperbaiki kapasitas institusi yang bertanggung jawab untuk mengoordinasikan respons dan mengelola hal-hal yang mendesak. Selain itu, pembangunan perkotaan yang tahan terhadap iklim dan efisiensi energi dalam sistem bangunan dan perkotaan dapat memperbaiki proses adaptasi kota terhadap perubahan iklim seraya mengurangi emisi gas-gas rumah kaca. Sumber: Bigio 2008.

sistem saluran air yang terlalu penuh. Pada kota-kota yang terkelola dengan baik, banjir jarang merupakan suatu masalah karena saluran di atas permukaan tanah dibangun ke dalam struktur kota untuk menampung air banjir yang berasal dari kejadian ekstrem yang melebihi kapasitas infrastruktur pelindung (lihat Kotak 2.3). Ketidakcukupan pengelolaan limbah padat dan kurangnya perawatan, sebaliknya, pengelolaan limbah padat dan pemeliharaan saluran yang tidak memadai dapat menyumbat saluran air dengan cepat dan menyebabkan banjir lokal bahkan saat curah hujan rendah, seperti yang terjadi di Georgetown, Guyana, yang menyebabkan 29 kali banjir lokal di antara tahun 1990 dan 1996.43 Kota-kota juga perlu melihat ke luar perbatasan mereka untuk

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri Peta 2.2 Tantangan yang kompleks: mengelola pertumbukan kota dan risiko banjir dalam sebuah iklim yang berubah di Asia Selatan dan Tenggara Brahmaputra

Ganges

Banjir sebelumnya

Kepadatan populasi (orang/km persegi)

2005

0–100

1001–2000

2004

101–250

>2000

2003

251–500

Tidak ada data

2002

501–1000

Sungai

on g M ek

Sumber: Analisis tim Laporan Pembangunan Dunia. Data banjir: Dartmouth Flood Observatory 2009. Data populasi: CIESIN 2005. Catatan: Kehidupan dengan banjir telah berurat akar dalam aktivitas ekonomi penduduk di Asia Selatan dan Tenggara. Dataran banjir dari beberapa aliran sungai (Gangga, atas; Mekong, bawah) dihuni oleh banyak orang dan mempunyai lahan pertanian dan pusat pertumbuhan kota untuk risiko banjir musiman. Perubahan iklim tampaknya akan mendatangkan banjir yang lebih sering, sebagian disebabkan oleh pelelehan gletser di tangkapan atas wilayah Himalaya dan sebagian lagi oleh hujan monsoon yang lebih intens dan sering, yang akan mengubah pola banjir di wilayah tersebut. Pada saat yang sama, pusat kota melanggar daerah pertanian yang berfungsi sebagai zona retensi alamiah untuk air banjir, menyebabkan kompleksitas baru dalam pengelolaan banjir dan ekspansi kota di masa depan.

mempersiapkan diri terhadap perubahan iklim. Banyak kota di daerah Andean sedang merekayasa ulang pasokan airnya untuk memecahkan masalah berkurangnya gletser dan pada akhirnya, mungkin, menghilangnya gletser. Pelelehan berarti bahwa pasokan air selama musin kering tidak lagi dapat diandalkan, dan penampungan air akan perlu berkompensasi terhadap hilangnya simpanan air dan fungsi regulasi gletser.44

Pada delta di Asia Tenggara, cepatnya penyebaran daerah suburban dari kotakota seperti Bangkok dan Ho Chi Minh City telah menghabiskan lahan padi, mengurangi kapasitas tampungan air dan menambah risiko banjir. 45 Risiko dapat menjadi lebih buruk ketika area simpanan arus hulu mencapai kapasitasnya dan membutuhkan air pengganti. Aliran air sungai-sungai yang mencapai puncaknya di lembah-lembah





Laporan Pembangunan Dunia 2010

sungai Asia Tenggara dan Asia Selatan diperkirakan akan meningkat seiring dengan perubahan iklim, memerlukan lebih banyak usaha besar di bagian hulu untuk melindungi pusat kota di bagian hilir (Peta 2.2).46 Pemerintah kota dapat semakin mengurangi risiko dan meningkatkan perencanaan berbasis risikonya. Membuat sebuah basis data informasi risiko, yang dilakukan bersama dengan penduduk, dunia usaha, dan pemerintah, merupakan langkah pertama untuk menetapkan prioritas bagi intervensi dan mengidentifikasi tempat-tempat yang penting. Dan membuat suatu otorisasi kota melalui arahan dari eksekutif dan perundang-undangan dari legislatif/ dewan dapat memfasilitasi penyebaran otorisasinya, seperti pada daerah yang rawan badai dan banjir di Makati, Filipina, di mana Disaster Coordination Council-nya merencanakan pengelolaan risiko bencana dari kota tersebut.47 Sejumlah tindakan pemerintah kota yang mendorong pembangunan lokal dan ketahanan terhadap episode ekstrem dan bencana tumpang tindih dengan tindakan adaptasi, di antaranya pemasokan dan sanitasi air, saluran air,

KOTAK 2.4

perawatan kesehatan yang berfokus pada pencegahan, dan kesiapan terhadap bencana (Kotak 2.4). Sejumlah intervensi mungkin berada dalam kepentingan jangka pendek pembuat keputusan pada daerah perkotaan (lihat Bab 8).48 Jelas lebih mudah untuk memandang inisiatif-inisiatif yang berorientasi pada adaptasi sebagai suatu kepentingan kota yang mendesak, sehingga memecahkan kebuntuan ekonomi dan politik tindakan yang berhubungan dengan iklim.49 Membangun kota-kota yang cerdas iklim akan sangat membutuhkan pemanfaatan teknologi baru. Bagaimanapun juga, sebagian besar keahlian teknis pada sebagian besar negara berkembang terkonsentrasi di pemerintah pusat, yang membuat otoritas lokal hanya mendapatkan akses ke sekelompok kecil tenaga ahli yang tersisa.50 Universitas di daerah perkotaan dapat memainkan peranan penting dalam upaya-upaya kota untuk mengadopsi dan mengimplementasikan praktikpraktik yang cerdas secara iklim melalui perubahan dalam kurikulum dan metode pengajaran yang memungkinkan para mahasiswa untuk menghabiskan waktu yang lebih banyak untuk memecahkan

Membangun sinergi antara mitigasi dan adaptasi

Pengaturan ruang dari kota-kota, atau bentuk perkotaan mereka, menentukan penggunaan dan efisiensi energi. Konsentrasi populasi dan konsumsi cenderung meningkat cepat pada tahap awal dari urbanisasi dan pembangunan. Daerah perkotaan yang lebih padat populasinya mempunyai efisiensi energi yang lebih besar dan jarak tempuh yang lebih pendek (lihat Bab 4, Kotak 4.7). Akan tetapi, meningkatkan kepadatan penduduk, aktivitas perekonomian, dan massa cenderung akan memperkuat efek iklim pada kota. Sebagai contoh, ruang hijau dapat mengurangi efek panas-pulau pada kota, tetapi dapat juga menjadi korban

untuk pengembangan bangunan. Dengan cara yang sama, kepadatan yang meningkat dikombinasikan dengan pengaspalan daerah serapan air mengurangi kemampuan saluran air kota untuk memitigasi bencana banjir. Desain kota cerdas iklim dapat mendorong sinergi antara mitigasi dan adaptasi. Meningkatkan sumber energi yang dapat didaur ulang cenderung membantu desentralisasi pasokan energi. Ruang hijau memberikan keteduhan dan kesejukan, mengurangi kebutuhan gedung akan alat pendingin (AC) atau mendinginkan kota pada saat terjadi gelombang panas. Dan penghijauan atap dapat menghemat energi, mengurangi jumlah air

dari badai, dan memberikan kesejukan. Sinergi antara adaptasi dan mitigasi kerap kali berkaitan dengan ketinggian gedung, tata letak, lanskap, bahan, peneduhan, ventilasi, dan alat pendingin (AC). Sejumlah desain cerdas iklim, yang mengombinasikan prinsip lingkungan, kepekaan sosial, dan efisiensi energi, sedang dirancang di China, seperti di Dongtan, dekat Shanghai, namun rencana tersebut sampai sekarang masih berupa cetak biru belaka. Sumber: Girardet 2008; Laukkonen dkk. 2009 Yip 2008; McEvoy, Lindley, dan Handley 2006; Wang dan Yaping 2004; World Bank 2008g; Yip 2008.

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

masalah perkotaan di dalam praktik dunia nyata memecahkan permasalahan lokal.

Menjaga agar penduduk tetap sehat Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan iklim, yaitu kekurangan gizi, diare, dan penyakit yang menular melalui perantara (khususnya malaria) telah memunculkan suatu masalah kesehatan yang sangat besar pada sejumlah wilayah, khususnya Afrika dan Asia Selatan. Perubahan iklim akan memperbesar efek masalah tersebut terhadap proses pembangunan dan akan sangat berpengaruh bagi kaum miskin (lihat Bab 1).51 Perkiraan tambahan dari angka kematian sebesar 150.000 jiwa per tahun yang disebabkan perubahan iklim pada dekade belakangan ini mungkin hanyalah bagian puncak dari gunung es.52 Efek tidak langsung dari perubahan iklim yang dimediasi oleh air dan sanitasi, ekosistem, dan habitat manusia dapat jauh lebih besar. Anak-anak sangatlah rentan terhadap kekurangan gizi dan penyakit menular (sebagian besar diare), yang merupakan bagian dari suatu lingkaran setan yang menyebabkan ketidakmampuan kognitif dan belajar yang secara permanen memengaruhi produktivitas di masa mendatang. Di Ghana dan Pakistan, besarnya biaya yang berkaitan dengan kekurangan gizi dan diare diperkirakan sebesar 9 persen dari produk domestik bruto (PDB) setelah memperhitungkan kerugian pada produktivitas jangka panjang pada tahun-tahun belakangan. Angka ini hanya akan bertambah seiring kondisi iklim berubah, jika proses adaptasi terhadap kondisi ini berjalan lambat.53 Berbagai gelombang panas yang terjadi baru-baru ini, seperti yang terjadi pada tahun 2003 yang membunuh sekitar

70.000 orang di Eropa, menunjukkan bahwa negara-negara Eropa tidak siap untuk melindungi penduduknya dari suhu yang ekstrem. 54 Frekuensi dan intensitas gelombang panas mungkin meningkat (Peta 2.3),55 dengan adanya pemanasan pulau pada perkotaan menyebabkan suhu meningkat sampai 3,5−4,5ºC di atas suhu di daerah pedesaan.56 Untuk kesiapan yang lebih baik, beberapa negara dan daerah metropolitan saat ini memiliki sistem peringatan kesehatan terkait pemanasan (Kotak 2.5). Penyakit-penyakit yang dibawa oleh vektor, yang semakin menyebar secara geografis dan bermunculan kembali di Eropa Timur dan Asia Tengah. 57 Malaria telah merusak perekonomian di daerah tropis,58 membunuh hampir 1 juta penduduk setiap tahunnya (sebagian besar anak-anak), dan perubahan iklim diproyeksikan akan membawa penyakit bagi 90 juta penduduk lainnya (meningkat 14 persen) pada tahun 2030, hanya di Afrika saja.59 Demam berdarah juga mungkin meluas secara geografis (Peta 2.4) dan perubahan iklim dimungkinkan akan membahayakan penduduk sebesar dua kali lipat, dari 30 persen menjadi 60 persen secara global (atau 5−6 miliar jiwa) pada tahun 2070.60 Untuk mendeteksi dan mengawasi penyakit yang mudah menjadi epidemik, sistem kesehatan nasional memerlukan sistem pengawasan dan peringatan dini yang lebih baik.61 Saat ini, pengawasan di berbagai belahan dunia gagal untuk mengantisipasi tekanan penyakit baru, seperti di Afrika, saat malaria sampai kepada penduduk kota akibat perluasan perkampungan di daerah kota ke wilayah transmisi malaria. 62 Satelit penginderaan jarak jauh dan biosensor dapat memperbaiki akurasi dan presisi sistem pengawasan dan





Laporan Pembangunan Dunia 2010 Peta 2.3 Kota-kota di bagian utara perlu bersiap untuk menghadapi iklim Mediterania—sekarang

Oslo

Helsinki

St. Petersburg

Stockholm

Berlin

London

Sandomierz Paris

Ternopol

Rome Vila Real

Soria

Barcelona

Istanbul

Teruel Badajoz Karaman Chlef Ouezzane

Nicosia

Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia, diolah dari Kopf, Ha-Duong, dan Hallegatte 2008. Catatan: Dengan suhu global yang semakin meningkat, zona iklim akan bergeser ke utara, dan pada pertengahan abad ke-21, banyak kota-kota di Eropa bagian tengah dan utara akan “merasakan” Mediterania. Hal ini bukan berita baik dan mempunyai banyak implikasi: utilitas air akan perlu disesuaikan dengan rencana pengelolaan, dan pelayanan kesehatan akan perlu dipersiapkan untuk episode panas yang lebih ekstrem (mirip dengan gelombang panas Eropa pada 2003). Sementara pemanasan beberapa derajat tampak akan muncul pada musim dingin di Oslo (skenario ditunjukkan pada peta berkoresponden secara perkiraan dengan suhu global sebesar 1,2ºC relatif terhadap suhu saat ini), kebutuhan untuk berubah dalam perencanaan, manajemen kesehatan publik, dan infrasturktur perkotaan merupakan hal yang substansial. Bangunan yang didesain dan dirancang untuk musim dingin yang kejam akan perlu untuk berfungsi pada keadaan iklim yang lebih kering dan lebih panas, dan bangunan bersejarah akan mengalami kerusakan yang tidak dapat diperbaiki. Bahkan tantangan yang lebih berat adalah pada konstruksi bangunan baru saat ini karena desainnya harus fleksibel terhadap penyesuaian secara bertahap pada kondisi yang berbeda secara drastis selama dekade-dekade yang akan datang.

mencegah berjangkitnya penyakit melalui deteksi dini terhadap faktor perubahan iklim.63 Saat ini model-model peramalan iklim musiman yang canggih dapat memprediksi waktu puncak dari transmisi malaria dan memberikan informasi kepada otoritas setempat di Afrika untuk menjalankan suatu sistem peringatan dini dan waktu tunggu yang lebih lama untuk memberikan respons yang lebih efektif.64 Sebagian besar upaya untuk mencegah penyakit-penyakit ini bukanlah hal baru, namun perubahan iklim membuat perbaikan implementasi dari berbagai pendekatan kesehatan publik yang tertata dengan baik menjadi lebih penting.65 Memutus jalur penyebaran penyakit memerlukan pengelolaan air

yang lebih baik (saluran air perkotaan), sanitasi dan kesehatan yang lebih baik (sistem pembuangan, fasilitas sanitasi, kebiasaan mencuci tangan yang lebih baik), dan pengendalian vektor yang lebih baik untuk membatasi atau melenyapkan serangga yang menyebarkan penyakit menular .66 Inter vensi semacam ini memerlukan tindakan intersektoral dan pembelanjaan umum yang terkoordinasi. Untuk penyakit yang disebarkan oleh air, intervensinya berasal dari badan kesehatan, pekerjaan umum, dan sarana publik. 67 Bersama-sama mengelola air, sanitasi, kebersihan, dan keamanan makanan—digabung dengan pengelolaan kesehatan dan bencana— dapat memberikan hasil yang besar.

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

KOTAK 2.5



Bersiap menghadapi gelombang panas

Setelah terjadinya gelombang panas pada tahun 2003, Menteri Kesehatan Spanyol dan CatSalut (layanan kesehatan wilayah Catalan) menjalankan sebuah rencana tindakan antarkementrian dan antardewan yang lengkap untuk mengurangi efek-efek gelombang panas terhadap kesehatan di masa depan.a Rencana tersebut menggabungkan respons-respons dan komunikasi kesehatan (pada semua tahapan perawatan kesehatan) yang dipicu oleh suatu sistem peringatan kesehatan yang terkait dengan pemanasan. Tiga tahap tindakannya adalah: • Tahap 0 dimulai pada tanggal 1 Juni dan berfokus pada keadaan siap sedia. • Tahap 1 dimulai sepanjang bulan Juli dan Agustus dan berfokus pada penilaian meteorologi (termasuk pencatatan suhu dan kelembapan harian), pengawasan penyakit, penilaian tindakan preventif, dan proteksi terhadap populasi yang berisiko.

Begitu pula halnya dengan melibatkan sektor swasta, jika hal ini meningkatkan kinerja sektor. Privatisasi layanan air di Argentina pada tahun 1990-an secara dramatis mengurangi angka kematian anak-anak yang berkaitan dengan penyakit yang disebarkan oleh air.68 Pemantauan dan pengelolaan damp ak-dampa k kes ehat an dar i perubahan iklim akan memerlukan lebih banyak penggunaan perangkatperangkat diagnostik baru. Kemajuan dalam genomika dan teknologi informasi mempercepat perancangan dari sejumlah besar peralatan diagnostik yang dapat membantu memantau penyebaran penyakit dan kemunculan penyakit baru. Peralatan komunikasi baru akan lebih memudahkan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyebarkan informasi kesehatan secara tepat waktu.69 Namun, memiliki peralatan semacam ini tidak akan memadai tanpa adanya program lanjutan untuk melatih pekerja

• Tahap 2 diaktifkan hanya jika suhu naik di atas ambang batas (35ºC pada wilayah pantai dan 40ºC pada wilayah daratan), pada batas perawatan kesehatan dan sosial, maupun pada saat dimulainya respons layanan darurat. Rencana tindakan dan respons sistem kesehatannya bergantung pada penggunaan pusat perawatan kesehatan primer (termasuk jasa layanan sosial) pada setiap wilayah. Pusat perawatan tersebut mengidentifikasi dan melokalisasi populasi yang rentan untuk meningkatkan jangkauan kepada populasi tersebut dan menyebarkan informasi kesehatan kepada publik selama musim panas. Mereka juga mengumpulkan data kesehatan untuk mengawasi dan mengevaluasi akibatakibat gelombang panas terhadap kesehatan dan efektivitas dari intervensinya. Tindakan serupa juga dilakukan di tempattempat lain. Wales memiliki sebuah kerangka

kerja untuk bersiap sedia untuk menghadapi dan merespons gelombang panas. Wales mempunyai kerangka kerja untuk kesiapan dan respons terhadap gelombang panas. Kerangka tersebut membuat panduan untuk mencegah dan mengobati penyakit yang berhubungan dengan pemanasan, menjalankan sistem peringatan dini pada bulan-bulan di musim panas, dan mempunyai mekanisme komunikasi dengan kantor meteorologi.b Di kota metropolitan Shanghai, sistem peringatan kesehatan yang berkaitan dengan pemanasan merupakan bagian dari rencana pengelolaan beragam bahaya di kota tersebut.c Sumber: a. CatSalut 2008. b. Welsh Assembly Government 2008. c. Shanghai Multi-Hazard Early Warning System Demonstration Project, http://smb.gov.cn/ SBQXWebInEnglish/TemplateA/Default/index.aspx (diakses 13 Maret 2009).

bidang perawatan kesehatan. Dengan cara serupa, reformasi institusional yang utama harus diperkenalkan untuk mengintegrasikan perawatan kesehatan ke dalam berbagai aktivitas lainnya. Sekolah, sebagai contoh, merupakan pusat utama bagi penyediaan perawatan kesehatan dasar dan juga sumber informasi dan pendidikan medis.

Bersiap untuk kejadian ekstrem Bencana alam semakin hari semakin memakan korban secara ekonomis, dan mengelola bencana dengan lebih baik sangatlah penting untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Meskipun angka kematian yang disebabkan oleh bencana alam yang berkaitan dengan cuaca menurun,70 kerugian ekonomi yang disebabkan oleh badai, banjir, dan kekeringan, semuanya meningkat (dari sekitar $20 miliar per tahun pada awal tahun 1980-an menjadi $70 miliar pada awal tahun 2000-an di negara yang



Laporan Pembangunan Dunia 2010 Peta 2.4 Perubahan iklim mengimbangi kembalinya demam berdarah di Amerika

UNITED STATES

HAITI JAMAICA

DOMINICAN REPUBLIC

THE BAHAMAS

MEXICO

COLOMBIA

R.B. DE VENEZUELA

CUBA BELIZE HONDURAS

GUATEMALA EL SALVADOR NICARAGUA COSTA RICA PANAMA

R.B. DE VENEZUELA

GUYANA SURINAME

COLOMBIA

ECUADOR PERU BRAZIL BOLIVIA CHILE

Perubahan tingkat kejadian demam berdarah di Amerika (% perubahan antara 1995−1997 dan 2005−2007)

PARAGUAY

ARGENTINA URUGUAY

Kejadian yang naik sangat tinggi (> 100%) Meningkat dari 0 kasus menjadi tingkat positif Kejadian yang naik (10% sampai 100%) Kejadian yang menurun (−100% sampai −10%)

Sumber: PAHO 2009. Catatan: Penyakit infeksi dan yang disebabkan oleh vektor telah meluas hingga ke daerah geografis yang baru di seluruh dunia. Di Amerika, kejadian demam berdarah telah meningkat karena meningkatnya kepadatan populasi dan menyebarnya jalur perjalanan dan perdagangan. Perubahan kelembapan dan suhu yang disebabkan oleh perubahan iklim memperkuat penyakit yang diakibatkan vektor (nyamuk) menjadi lebih berkembang di daerah yang sebelumnya tidak cocok untuk perkembangan penyakit tersebut; lihat Knowlton, Solomon, dan Rotkin-Ellman 2009.

berpenghasilan tinggi, dan dari $10 miliar per tahun menjadi $15 miliar di negara berpenghasilan rendah dan menengah).71 Namun, kenaikan ini jelas didasari oleh keterpaparan yang lebih tinggi dari nilai ekonomi per area alih-alih dari perubahan iklim.72 Jumlah penduduk yang terpengaruh terus-menerus meningkat, dengan bagian yang terbesar di negara berpenghasilan menengah ke bawah yang dicirikan oleh pertumbuhan kota yang cepat (Figur 2.1).73 Sekitar 90 persen kerugian ekonomi di negara berkembang ditanggung oleh rumah tangga, dunia usaha, dan pemerintah,

dan sisanya ditalangi oleh asuransi atau dana bantuan. Kecuali dampak-dampak bencana dikurangi secara sistematis, hasil-hasil pembangunan di masa lampau akan terancam. Jadi fokusnya sekarang berpindah dari kejadian bencana pada risiko bencana, dan lebih banyak ke arah usaha pencegahan diabndingkan tindakan penyembuhan. Sejalan dengan Hyogo Framework of Action—Kerangka Aksi Hyogo untuk pengurangan risiko bencana (kerangka kebijakan yang didefinisikan oleh PBB pada tahun 2005), pemulihan dan rekonstruksi

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

tengah dirancang sedemikian rupa untuk mengurangi risiko bencana di masa depan, menjembatani agenda kemanusiaan dan pembangunan. 74 Sektor swasta sangatlah penting dalam kerangka ini, sebab mereka menyediakan solusi-solusi finansial (asuransi, penilaian risiko) dan teknis (komunikasi, konstruksi, dan perlengkapan jasa layanan).75 Per ubahan iklim sangat m e n i n g k at k a n k e b ut u h a n a k a n pengelolaan yang efektif dari kejadian cuaca ekstrem dan pengelolaan risiko bencana yang meningkatkan kesiapan dan mencegah kerugian (Kotak 2.6).76 Pada sejumlah tempat, risiko yang sebelumnya tidak lazim menyebar lebih luas, seperti yang terjadi di Afrika, di mana banjir meningkat dengan cepat (Figur 2.2), dan di Brazil, yang mengalami topan pertamanya di tahun 2004.77 Pengumpulan informasi mengenai di mana pengaruh cuaca yang ekstrem mungkin terjadi dan konsekuensinya yang mungkin timbul, dibutuhkan data sosioekonomi (peta-peta yang menunjukkan kepadatan populasi atau nilai lahan) dan juga informasi fisik (catatan curah hujan atau episode ekstrem). 78 Akan tetapi, dalam suatu iklim yang berubah, kejadian di masa lalu tidaklah lagi merupakan suatu prolog (kejadian langka yang sesekali terjadi mungkin akan lebih sering terjadi) dan ketidakpastian iklim di masa depan merupakan suatu elemen yang penting dalam penilaian risiko dan evaluasi keputusan perencanaan. Hal yang sama pentingnya adalah pemantauan dan pembaruan data sosioekonomi secara periodik (untuk menggambarkan perubahan dalam pemanfaatan lahan dan demografi). Teknologi satelit dan informasi geografis memberikan cara-



Figur 2.1 Jumlah penduduk yang terpengaruh oleh penyakit yang berkaitan dengan iklim meningkat Jumlah perduduk yang meninggal per periode lima tahunan (juta) 1,00 0,75 0,50 0,25 0

1971–75

1976–80

1981–85

1986–90

1991–95

1996–2000

2001–05

1996–2000

2001–05

1996–2000

2001–05

Jumlah perduduk yang terpengaruh per periode lima tahunan (miliar) 2,00 1,50 1,00 0,50 0

1971–75

1976–80

1981–85

1986–90

1991–95

Jumlah penduduk yang terpengaruh sebagai perbandingan dari populasi (%) 8 7 6 5 4 3 2 1 0

1971–75

1976–80

1981–85

1986–90

Negara berpendapatan rendah Negara berpendapatan menengah ke bawah

1991–95

Negara berpendapatan menengah ke atas Negara berpendapatan tinggi

Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia; CRED 2009. Catatan: Selama lebih dari 40 tahun, jumlah kematian berkurang tetapi jumlah penduduk yang terpengaruh berlipat setiap dekade. (Penduduk yang terpengaruh adalah penduduk yang memerlukan bantuan selama periode masa darurat dan juga termasuk penduduk yang direlokasi atau dievakuasi.) Di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, hampir 8 persen populasi terpengaruh setiap tahunnya. Kenaikan ini tidak hanya disebabkan oleh perubahan iklim; kebanyakan disebabkan oleh kenaikan populasi, infrastruktur yang terekspos secara berlebihan dan laporan kerusakan yang diperbaiki. Walau bagaimanapun juga, dampak pada penduduk merupakan hal yang nyata dan menunjukkan betapa pentingnya untuk mulai berfokus pada kekurangan adaptasi saat ini selagi bersiap menghadapi tekanan iklim di masa depan.

cara yang canggih untuk menghasilkan informasi fisik dan sosioekonomi secara cepat dan efektif dari segi biaya (Kotak 2.7; lihat juga Bab 3 dan Bab 7). Banyak negara maju menyediakan peta risiko banjir yang terinci sebagai suatu layanan umum bagi para pemilik rumah, dunia usaha, dan otoritas lokal.79 Di China, pemerintahnya telah mengembangkan peta semacam ini sejak tahun 1976, dan mengeluarkan peta risiko banjir yang menunjukkan zona-zona berisiko tinggi pada lembahlembah sungai yang paling padat. Dengan sejumlah perangkat dari usaha ini, saat



Laporan Pembangunan Dunia 2010

ini para penduduk dapat memperoleh informasi mengenai kapan, bagaimana, dan ke mana mereka harus melakukan evakuasi. Peta ini juga dapat digunakan

KOTAK 2.6

bagi perencanaan tata guna lahan dan desain gedung. 80 Dalam komunitas lokal, seperti di Bogota, jasa layanan semacam ini mendukung tindakan lokal,

Menghadapi kemustahilan dan bergerak mendahului dampak-dampak: Mengelola risikorisiko episode ekstrem sebelum mereka menjadi bencana

Episode ekstrem iklim yang berulang—badai, banjir, kekeringan, kebakaran—menjadi ciri dari banyak tempat di dunia dan merupakan bagian dari sistem iklim. Perubahan iklim kemungkinan besar mengubah pola-pola episode ekstrem, namun dampak-dampak negatifnya dapat dikurangi melalui pengelolaan risiko yang sistematis. Langkah-langkah dasarnya adalah penilaian risiko, pengurangan risiko, dan mitigasi risiko.a Penilaian risiko, sebuah prasyarat awal bagi pengelolaan risiko, merupakan dasar bagi pengambilan keputusan yang jelas. Langkah ini berfokus pada tindakan dan sumber daya. Mengidentifikasi risiko-risiko yang melekat merupakan langkah pertama dan pada umumnya tidak memerlukan teknik yang rumit. Petani padi di Asia dengan mudah akan menunjuk lahan sawah mereka yang paling rentan terkena banjir. Manajer penyimpanan air mengenali kesulitan dalam pengelolaan permintaan listrik dan pasokan air yang bersaing ketika tingkat air rendah. Dan masyarakat dapat mengidentifikasi kelompok sosial dan orang-orang yang cenderung terpengaruh pertama kali ketika timbul kejadian cuaca yang tidak diharapkan. Pengukuran risiko merupakan langkah selanjutnya dan terdapat beragam pendekatan, bergantung pada ruang lingkup penilaian risikonya. Berbagai komunitas menggunakan teknik partisipatif sederhana yang didasarkan pada indikator yang mudah diamati (seperti harga pasar untuk hasil panen bahan pokok selama musim kering) untuk memicu tindakan pada tingkat rumah tangga dan komunitas, atau menggunakan pemetaan berbasis komunitas untuk menentukan daerah rawan banjir. Penilaian risiko pada tingkat sektor (pertanian atau tenaga air), atau untuk suatu negara, pada umumnya memerlukan analisis data yang lebih sistematis dan kuantitatif (pemetaan luasan pertanian atau hidrologi regional). Pemahaman risiko memerlukan investasi dalam kapasitas ilmiah, teknik, dan institusi untuk

mengamati, mencatat, meneliti, menganalisis, meramalkan, memodelkan, dan memetakan bahaya dan kerentanan alam. Sistem informasi geografis dapat mengintegrasikan sumbersumber informasi ini dan memberikan suatu perangkat yang andal bagi para pengambil keputusan untuk memahami risiko—baik pada badan-badan nasional maupun pada tingkat lokal. Sejumlah negara berpenghasilan rendah dan menengah saat ini sedang menjalankan penilaian risiko dan secara sistematis memperkuat kapasitas mereka untuk mengelola bencana dengan lebih baik.b Pengurangan risiko memerlukan penempatan risiko secara lebih umum di dalam seluruh kerangka strategi pembangunan, yang lebih penting daripada sebelumnya seiring kepadatan penduduk dan infrastruktur meningkat. Sejak akhir tahun 1990-an, semakin diakui perlunya menangani risiko-risiko yang berasal dari bahaya alam dalam kerangka pembangunan strategis jangka menengah, dalam struktur legislasi dan institusional, dalam strategi dan kebijakan sektoral, dalam proses pembuatan anggaran, dalam proyek-proyek tersendiri, serta dalam pemantauan dan evaluasi. Pengarusutamaan memerlukan analisis tentang potensi kejadian bahaya terhadap kebijakankebijakan, program-program, dan royek-proyek, demikian sebaliknya. Inisiatif pembangunan tidaklah pasti akan mengurangi kerentanan terhadap bahaya alam, dan tanpa disadari mereka dapat menciptakan kerentanan baru atau memperparah kerentanan yang sudah ada. Solusi-solusi untuk secara bersama mempertahankan pembangunan, mengurangi kemiskinan, dan memperkuat ketahanan terhadap bahaya, oleh karena itu, haruslah diupayakan secara eksplisit. Pengurangan risiko bencana harus meningkatkan ketahanan dan membantu masyarakat untuk beradaptasi terhadap risiko yang baru dan yang meningkat. Namun, bahkan hal ini tidak dapat dipastikan. Sebagai contoh, investasi dalam

pengendalian banjir struktural yang dirancang menurut sejumlah probabilitas masa kini mungkin akan menambah kerugian di masa depan dengan cara mendorong pembangunan di area rawan banjir saat ini, namun membiarkan area tersebut lebih rentan terhadap kerusakan yang besar di masa depan. Jadi, prediksi perubahan iklim harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan di masa kini dan perencanaan untuk jangka waktu yang lebih panjang. Mitigasi risiko meliputi tindakan-tindakan untuk meminimalisasi dampak-dampak selama berlangsungnya suatu kejadian dan juga setelahnya. Sistem peringatan dan pengawasan dini memanfaatkan sistem teknologi informasi dan komunikasi untuk memberikan peringatan terhadap kejadian ekstrem jauh sebelum kejadian tersebut terjadi. Supaya informasi tersebut dapat menyelamatkan banyak jiwa, badanbadan pengelolaan bencana membutuhkan mekanisme yang cocok untuk menerima dan mengomunikasikan informasi kepada komunitaskomunitas lokal jauh sebelum waktunya tiba. Hal ini memerlukan pelatihan kesiapan yang sistematis, pembangunan kapasitas dan peningkatan kesadaran, serta koordinasi di antara satuan-satuan nasional, wilayah, dan lokal. Pengambilan tindakan secara cepat dan terarah setelah terjadinya bencana juga sama pentingnya, termasuk perlindungan sosial bagi komunitas yang paling rentan dan suatu strategi untuk pemulihan dan rekonstruksi.

Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia, Ranger, Muir-Wood, dan Priya 2009; PBB 2007; PBB 2009; NRC 2006; Benson dan Twigg 2007. a. Istilah mitigasi di sini mengacu pada penghindaran kerugian akibat episode ekstrem iklim, misalnya, dengan mengevakuasi penduduk dari daerah banjir, melalui usaha-usaha antisipasi jangka pendek terhadap ancaman yang segera. b. Global Facility for Disaster Reduction and Recovery (Fasilitas Global untuk Pengurangan Bencana dan Pemulihan), www.gfdrr.org (diakses 15 Mei 2009); Prevention, www.preventionconsortium.org (diakses 15 Mei 2009).

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

di mana informasi berbasis risiko serupa untuk zona rawan gempa buminya memperkuat ketahanan masyarakat.81 R i s i k o t i d a k p e r n a h d ap at dihilangkan, dan berada dalam kondisi siap untuk mengatasi episode ekstrem merupakan hal yang sangat penting untuk melindungi penduduk. Sistem peringatan dan rencana respons (katakanlah, untuk respons evakuasi dan darurat) menyelamatkan nyawa dan mencegah kerugian yang dapat dielakkan. Melibatkan masyarakat dalam kesiapan dan komunikasi darurat melindungi mata pencaharian mereka. Sebagai contoh, masyarakat Mozambique di sepanjang sungai Buzi menggunakan radio untuk memperingatkan komunitas di bagian hilir akan bahaya banjir. 82 Bahkan dalam masyarakat yang sangat terisolasi, tindakan lokal dapat mengurangi risiko, menciptakan lapangan pekerjaan, dan mengatasi kemiskinan (Kotak 2.8). Pada tingkat nasional, berada dalam kondisi siap secara finansial untuk memberikan bantuan segera setelah terjadinya bencana merupakan hal yang penting untuk mencegah kerugian jangka panjang bagi masyarakat.

KOTAK 2.7



Mengelola risiko finansial: Instrumen yang fleksibel bagi keberlanjutan Kebijakan publik menciptakan suatu kerangka kerja yang menentukan peranan-peranan dan tanggung jawab yang jelas dari sektor publik, sektor swasta, rumah tangga, dan individu. Inti dari kerangka kerja tersebut adalah sebuah spektrum manajemen risiko dengan tanggung jawab yang berlapis. Suatu kekeringan kecil yang menyebabkan kerugian yang kecil dalam produksi dapat dikelola oleh rumah tangga melalui pembagian risiko Figur 2.2 Kejadian banjir meningkat, bahkan di daerah rawan kering Afrika Kejadian per periode lima tahun 700 600 500

Afrika Dunia

400 300 200 100 0

1971–75

1976–80

1981–85

1986–90

1991–95

1996–2000

2001–05

Sumber: Analisis tim Laporan Pembangunan Dunia dari CRED 2009. Catatan: Kejadian banjir meningkat di mana-mana tetapi khususnya di Afrika, dengan wilayah baru yang terpapar banjir dan kurangnya waktu untuk pemulihan di antara kejadian banjir. Pelaporan kejadian mungkin telah diperbaikin sejak 1970-an, tetapi hal ini bukanlah hal utama yang menyebabkan peningkatan jumlah banjir yang dilaporkan, karena frekuensi kejadian bencana lainnya di Afrika, seperti kekeringan dan gempa bumi, tidak menunjukkan peningkatan yang serupa.

Data satelit dan informasi geologi sangatlah penting dalam pengelolaan risiko—dan murah

Data satelit dan teknologi informasi geografis kerap kali tersedia cuma-cuma atau pada biaya yang wajar, dan peranti lunak dan perangkat untuk menggunakan teknologi semacam ini dapat dioperasikan pada komputer biasa. Satelit memantau kelembapan dan tumbuh-tumbuhan dan menyediakan informasi yang tidak ternilai bagi layanan perluasan pertanian. Satelit menelusuri badai tropis dan memberikan peringatan dini bagi komunitas daerah pantai. Dengan memetakan dampakdampak banjir, satelit menunjang operasi pemulihan dan rekonstruksi. Satelit memetakan hutan dan kuantitas total dari organisme yang ada dan membekali penduduk asli hutan

dengan informasi. Sensor beresolusi tinggi mengidentifikasi invasi kota ke dalam zona yang berbahaya. Peralatan untuk menempatkan posisi secara geografis yang digunakan dalam penelitian dapat mengungkapkan informasi baru mengenai bagaimana rumah tangga berinteraksi dengan lingkungan alam. Sistem informasi geografis menyederhanakan manajemen data, memastikan informasi tersedia ketika dibutuhkan, dan menyediakan perangkat yang cepat dan efektif dari segi biaya untuk membuat dasar pengetahuan bagi pengambilan kebijakan yang jelas dan memahami pola risiko pada lokasilokasi di mana data dan pengetahuan semacam ini masih terbatas.

Untuk memanfaatkan jasa layanan dan teknologi semacam ini secara luas dan efektif di negara berkembang karena tidak dibutuhkan investasi besar—investasi dalam pendidikan yang lebih tinggi, membangun kapasitas institusional, pusat-pusat penelitian regional yang berfokus pada misi, dan mendorong upaya-upaya swasta, seluruhnya merupakan elemen yang paling utama.

Sumber: ESA 2002; NRC 2007a; NRC 2007b.

0

KOTAK 2.8

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Menciptakan lapangan pekerjaan untuk mengurangi risiko banjir

Hujan deras merupakan hal biasa di Liberia, sekalipun demikian, sistem aliran airnya tidak dipelihara selama beberapa dekade karena terbengkalai oleh perang saudara. Akibatnya, banjir telah menimbulkan bencana yang berulang-ulang baik pada tatanan pedesaan maupun perkotaan. Pembersihan saluran bukanlah merupakan prioritas bagi pejabat pemerintah atau penduduk, karena tidak ada seorangpun yang memiliki sumber dayanya. Namun, setelah Mercy Corps, sebuah LSM internasional, menyediakan kemungkinan pilihan untuk mendapatkan

uang dari bekerja, para pejabat pemerintah mulai merangkulnya. Pada bulan September 2006 sebuah proyek satu tahun diluncurkan di lima wilayah untuk membersihkan dan merehabilitasi sistem saluran air. Proyek ini secara signifikan meningkatkan aliran air hujan dan mengurangi banjir dan risiko kesehatan yang berkaitan. Proyek tersebut juga merehabilitasi sumur dan memperbaiki akses pasar dengan membersihkan jalan raya dan membangun jembatan kecil. Sumber: Mercy Corps 2008.

secara informal dan masyarakat berbasis pembagian risiko sekurangnya beberapa kekeringan kecil yang terjadi dalam periode pendek (lihat Bab 1). Suatu kekeringan yang lebih hebat, misalnya yang terjadi setiap 10 tahun, dapat dikelola melalui instrumen pemindahan risiko dalam sektor swasta. Namun, untuk kejadian yang paling hebat dan luas, pemerintah harus bertindak sebagai penjamin terakhir. Pemerintah harus mengembangkan suatu kerangka kerja yang memungkinkan masyarakat untuk membantu mereka sendiri dan sektor swasta untuk memainkan suatu peran aktif dan layak secara komersial, sambil membuat sejumlah ketentuan untuk menutupi kewajiban-kewajiban yang timbul dari kejadian bencana yang luar biasa.

Menyediakan lapisan-lapisan perlindungan Penggunaan dan dukungan mekanisme asuransi telah mendapatkan sejumlah perhatian dalam konteks adaptasi. 83 Asuransi dapat memberikan proteksi terhadap kerugian yang berkaitan dengan kejadian iklim ekstrem dan mengelola biaya yang tidak dapat ditalangi oleh bantuan internasional, oleh pemerintah,

atau oleh para warga. 84 Beberapa pendekatan yang telah dikembangkan dan diujicobakan, seperti produk mikroasuransi dan beberapa turunannya yang berbasis iklim pada pasar swasta. Mempertimbangkan asuransi indeks iklim untuk sejumlah kecil pengelola pertanian di India yang memberikan kompensasi kepada ratusan hingga ribuan petani di beberapa kasus musim kering yang parah—dan asuransi umum Karibia yang dengan cepat memberikan likuiditas kepada pemerintah setelah terjadinya bencana.85 Namun, asuransi bukanlah sebuah peluru perak—ini hanyalah satu elemen dalam suatu kerangka manajemen risiko yang lebih luas yang mendorong pengurangan risiko (menghindari kerugian yang dapat dielakkan) dan yang memberikan imbalan bagi praktikpraktik manajemen risiko yang kokoh (seperti pemilik rumah yang menerima pengurangan premi jika mereka memasang alarm kebakaran). Jika iklim cenderung bergerak ke arah yang dapat diprediksi (ke kondisi cuaca yang lebih panas atau kering, sebagai contoh), maka asuransi tidak dapat dijalankan. Asuransi cocok ketika dampak-dampaknya acak dan terjadi sesekali, membantu rumah tangga, dunia usaha, dan pemerintah untuk menyebarkan risiko selama suatu kurun waktu (dengan membayar premi tetap alih-alih menalangi semua biaya sekaligus) dan secara geografis (dengan membagi risiko dengan pihak lain). Jadi, asuransi tidak menghapus risiko, melainkan mengurangi variansi kerugian yang berkaitan dengan kejadian cuaca jangka pendek. Asuransi terhadap badai, banjir, kekeringan, baik yang diberikan kepada pemerintah maupun individu, merupakan hal yang sulit dikelola. Risiko iklim cenderung memengaruhi

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

keseluruhan wilayah atau sekelompok besar masyarakat secara simultan, seperti ribuan peternak di Mongolia yang menyaksikan peternakan mereka musnah ketika satu musim panas yang kering diikuti oleh satu musim salju yang sangat dingin di tahun 2002 (Kotak 2.9). Kedua kejadian yang saling bergantung ini merupakan ciri-ciri dari sejumlah risiko iklim dan membuat asuransi menjadi sangat sulit untuk disediakan, karena klaimnya cenderung untuk mengelompok dan memerlukan modal cadangan dan usaha administratif yang besar.86 Ini merupakan salah satu alasan mengapa risiko iklim utama tidak ditalangi secara menyeluruh oleh asuransi, khususnya di dunia berkembang. Tentu saja, institusi keuangan mikro kerap kali membatasi bagian pinjaman pertanian dalam portofolio mereka, karena takut jika pengaruh cuaca yang

KOTAK 2.9



meluas menyebabkan klien mereka gagal membayar pinjamannya.87 Penyediaan jas a layanan finansial sejak lama telah menjadi suatu tantangan yang bertahan lama dalam pembangunan, karena sejumlah alasan yang tidak berkaitan dengan perubahan iklim. Akses ke produkproduk asuransi pada umumnya jauh lebih lemah di negara berkembang (Figur 2.3), yang digambarkan oleh penetrasi jasa layanan finansial yang secara umum lebih rendah di daerah pedesaan. Philippines Crop Insurance Corporation menjangkau sekitar 2 persen dari kaum petani, dengan jangkauan yang lebih besar di zona yang lebih produktif dan makmur.88 Penyediaan jasa layanan finansial bagi populasi di pedesaan adalah hal yang menantang dan berisiko, karena sejumlah rumah tangga di pedesaan bukanlah bagian

Kerja sama publik dan swasta untuk berbagi risiko iklim—Asuransi peternakan mongolia

Sebuah konsep penting dari pengelolaan risiko iklim adalah pembagian risiko oleh masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha. Pada para peternak di Mongolia, pemerintah nasional dan perusahaan asuransi mengembangkan sebuah skema untuk mengelola risiko finansial yang timbul dari masamasa yang sangat dingin pada episode-episode musim salju-musim semi (dzud) yang secara periodik menghasilkan kematian ternak yang meluas. Episode-episode ini memusnahkan 17 persen peternakan di tahun 2002 (di beberapa wilayah sampai 100 persen), dengan kerugian sebesar $200 juta (16 persen dari PDB). Pada skema ini para peternak mengemban tanggung jawab atas kerugian yang lebih kecil yang tidak memengaruhi jalannya usaha atau rumah tangga mereka, dan mereka biasanya menggunakan kesepakatan dengan anggota masyarakat untuk menyangga kerugian yang lebih kecil. Kerugian yang lebih besar (sekitar 10−30 persen) ditutupi oleh asuransi peternakan komersial yang disediakan oleh perusahaan asuransi Mongolia. Suatu program asuransi sosial

yang disediakan oleh pemerintah menanggung kerugian yang berkaitan dengan kematian ternak akibat bencana besar yang akan membuat para peternak dan perusahaan asuransi sama-sama kewalahan. Pendekatan bertingkat atau berlapis ini menentukan suatu kerangka yang jelas bagi asuransi diri yang dilakukan oleh para peternak, asuransi komersial, dan asuransi sosial. Sebuah inovasi yang penting adalah penggunaan asuransi indeks, alih-alih asuransi peternakan individu, yang terbukti tidak efektif karena verifikasi kerugian individu cenderung dipenuhi dengan bahaya moral dan kerap kali biayanya sangat tinggi sehingga tidak mungkin diteruskan. Dengan asuransi jenis baru ini, para peternak diberikan kompensasi berdasarkan angka kematian ternak rata-rata pada distriknya, dan tidak lagi diperlukan penilaian kerugian masing-masing. Hal ini memberikan insentif pada perusahaan asuransi Mongolia untuk menawarkan asuransi komersial kepada para peternak, yang sebelumnya segan untuk mereka lakukan.

Skema ini memberikan keuntungan bagi semua pihak. Para peternak dapat membeli asuransi untuk menanggulangi kerugian yang tidak dapat dihindari. Perusahaan asuransi dapat memperluas usahanya ke daerah-daerah pedesaan, dengan demikian memperkuat infrastruktur layanan finansial di daerah pedesaan. Pemerintah, dengan menyediakan asuransi sosial yang terstruktur dengan baik, dapat mengelola risiko fiskalnya secara lebih baik. Meskipun sebuah kejadian bencana besar membuat pemerintah menjadi terpapar pada risiko potensial yang signifikan, pemerintah telah dipaksa secara politis untuk menyerap risiko yang bahkan lebih besar lagi di masa lalu. Oleh karena pemerintah menanggulangi akibatakibat dari bencana yang besar, maka asuransi komersial, yang terbatas pada tingkat kematian yang menengah, dapat ditawarkan pada biaya yang rendah.

Sumber: Mahul dan Skees 2007; Mearns 2004.



Laporan Pembangunan Dunia 2010

dari perekonomian yang menghasilkan uang dan bermata pencaharian yang sensitif terhadap cuaca. Pada tatanan kota, penduduk lebih terkonsentrasi, namun menjangkau kaum miskin dalam perekonomian informal tetap saja sulit. Perubahan iklim dapat semakin mengikis kemampuan dari risiko yang terkait iklim untuk diasuransikan. Perubahan iklim yang tidak terkendali dapat menyebabkan sejumlah risiko iklim tidak lagi dapat diasuransikan atau terlalu mahal. Kemampuan untuk diasuransikan memerlukan kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengukur (atau paling sedikit mengestimasi secara parsial) kemungkinan suatu kejadian dan kerugian yang berkaitan, untuk menentukan premi, dan untuk memvar i asi kan r isi ko di ant ara individu-individu atau satuan-satuan kolektif.89 Jika dapat memenuhi ketiga syarat ini, maka sebuah risiko dapat diasuransikan, namun tidak otomatis menguntungkan, karena biaya transaksi untuk mengoperasikan sebuah program asuransi dapat cukup tinggi, seperti yang dicerminkan dalam rasio premiterhadap-klaim yang rendah pada sejumlah program asuransi pertanian.90 Ketidakpastian yang muncul dari perubahan iklim mengacaukan proses penaksiran asuransi yang mendasari pasar asuransi.91 Dan memvariasikan risiko akan menjadi lebih sulit karena perubahan iklim akan menyebabkan efek-efek yang lebih sinkron, meluas, dan sistemik secara global dan regional, efekefek yang sulit untuk diseimbangkan di wilayah atau segmen pasar lainnya. B erkurangnya kemampuan untuk diasuransikan menunjukkan sebuah ketergantungan yang kuat pada pemerintah sebagai penjamin terakhir, sebuah peran yang telah dilakukan secara implisit oleh sejumlah pemerintahan.

Namun, rekam jejak dari pemerintah tidaklah luar biasa, baik di dunia berkembang maupun dunia maju. Sebagai contoh, Badai Katrina di tahun 2005 telah membuat program asuransi banjir di AS bangkrut 10 kali lipat dengan jumlah klaim dalam satu tahun yang lebih besar dari yang pernah terjadi dalam sejarahnya selama 37 tahun. Dan sejumlah kecil program asuransi yang disponsori pemerintah secara finansial dapat berkelanjutan tanpa subsidi besar.92 Pada saat yang bersamaan, jika besaran kerugian diasosiasikan dengan kejadian bencana alam saat ini dengan indikasi kemampuan kerugian di masa depan untuk diasuransikan sebagai akibat dari perubahan iklim, hal ini akan menyakinkan aturan eksplisit secara lebih untuk sektor publik dalam menyerap kerusakan jauh melampaui kapasitas sektor swasta.93 Asuransi bukanlah obat yang mujarab untuk beradaptasi terhadap risiko iklim dan hanyalah satu strategi untuk mengatasi beberapa dampak dari perubahan iklim. Asuransi pada umumnya tidak cocok untuk dampak iklim yang sifatnya jangka panjang dan berdampak ireversibel, seperti kenaikan permukaan laut dan perubahan menjadi padang gurun, fenomena yang akan membawa kerugian besar bagi perusahaan asuransi dan karenanya menjadi tidak dapat diasuransikan. Asuransi juga harus dipertimbangkan dalam strategi manajemen risiko dan adaptasi secara keseluruhan, yang termasuk peraturan pemanfaatan lahan dan kode etik bangunan yang kuat, untuk menghindari perilaku kontraproduktif— atau salah adaptasi (terus-menerus tinggal di daerah pantai yang rawan badai)—karena adanya keamanan dalam suatu kontrak asuransi.94

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri



Figur 2.3 Asuransi terbatas pada dunia berkembang Volume premi asuransi non-kehidupan di 2006 (volume total = $1,5 triliun)

Asia 13%

Amerika latin dan Karibia 3%

Premi/PDB (%) Afrika 1%

Amerika Utara 46%

Eropa 35%

Penetrasi asuransi non-kehidupan pada 2006

5,0 4,5 4,0 3,5 3,0 2,5 2,0 1,5 1,0 0,5 0,0

Oseania 1%

Sumber: Swiss Re 2007. Catatan: Asuransi merupakan pasar utama negara-negara maju seperti yang ditunjukkan berdasarkan pembagian premi regional (kiri), dan penetrasi (premi sebagai persen PDB) dari asuransi non-kehidupan (kanan). Asuransi non-kehidupan meliputi asuransi properti, kecelakaan, dan penyakit (biasa disebut asuransi umum), asuransi kesehatan, dan asuransi produk yang tidak termasuk dalam asuransi kehidupan.

Mempertahankan likuiditas pemerintah Perencanaan finansial mempersiapkan banyak pemerintahan di dunia untuk menghadapi dampak-dampak bencana iklim yang besar dan mempertahankan layanan pemerintah yang mendasar sesaat setelah terjadinya suatu bencana.95 Ke s e p a k at a n p e m b i a y a a n y a n g telah disusun sebelumnya—seperti dana cadangan bencana, lini kredit kontingensi, dan obligasi bencana— memungkinkan pemerintah untuk merespons dengan cepat, memperbesar skala program perlindungan sosial, dan menghindari kerugian jangka panjang yang membebani rumah tangga dan masyarakat, ketika penduduk tidak memiliki tempat tinggal, kehilangan pekerjaan, dan mengalami kesulitan dalam mendapatkan hal-hal yang mendasar.96 Memiliki dana segera yang dapat digunakan untuk memulai proses rehabilitasi dan pemulihan mengurangi efek-efek bencana yang lainnya terhadap pembangunan. Sejumlah negara kecil secara finansial lebih rentan terhadap kejadian bencana besar karena besarnya kerugian yang berkaitan dengan bencana relatif terhadap ukuran perekonomiannya

(Peta 2.5); di Grenada pada tahun 2004, sebagai contoh, angin dari Badai Ivan menyebabkan kerugian yang besarnya ekuivalen dengan lebih dari 200 persen PDB negara tersebut. 97 Oleh karena bantuan dari luar tidak selalu tersedia seketika dan untuk memperlancar pendanaan darurat dan meminimalisasi gangguan layanan, 16 negara Karibia memiliki skema manajemen risiko finansial yang terstruktur dengan baik. Dioperasikan sejak tahun 2007, skema ini menyediakan likuiditas yang cepat bagi pemerintah-pemerintah pasca terjadinya badai dan gempa bumi yang destruktif, menggunakan akses yang inovatif ke pasar asuransi ulang internasional yang dapat mendiversifikasi dan menyeimbangkan risiko secara global (Kotak 2.10). Bahkan negara-negara miskin dapat mengelola risiko-risiko iklim secara lebih efektif dengan memanfaatkan informasi, pasar, perencanaan yang baik, dan bantuan teknis dengan cara-cara yang cerdas. Dengan membangun kemitraan dengan perusahaan asuransi, pemerintah, dan institusi finansial internasional, negara-negara miskin dapat mengatasi keengganan sektor swasta untuk menyuntikkan modal dan keahlian ke



Laporan Pembangunan Dunia 2010

Peta 2.5 Negara-negara kecil dan miskin rentan secara finansial terhadap episode cuaca ekstrem

Kerentanan finansial

Tinggi Sedang Rendah

11–50

Periode kejadian kritis yang berulang > 250 (tahun) Tidak diketahui 51–250

Sumber: Mechler dkk. 2009. Catatan: Peta menunjukkan derajat di mana negara-negara yang rentan secara finansial terhadap banjir dan badai. Sebagai contoh, di negara-negara yang diarsir warna merah, beberapa kejadian cuaca yang akan memengaruhi kemampuan finansial sektor publik untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak dan melanjutkan pembangunan yang direncanakan diperkirakan sekitar sekali setiap 11 sampai 50 tahun (probabilitas tahunan sebesar 2–10 persen). Kerentanan finansial yang tinggi pada ekonomi kecil menggarisbawahi keperluan prencanaan kontingensi keuangan untuk meningkatkan ketahanan pemerintah melawan bencana yang akan datang. Hanya 74 negara-negara yang sangat rawan bencana yang mengalami kerugian langsung sebesar kurang lebih 1 persen PDB karena banjir, badai, dan kekeringan selama periode 30 tahun terakhir yang dimasukkan dalam analisis.

dalam pasar yang berpenghasilan rendah ini. Di tahun 2008, Malawi mempelopori suatu kontrak manajemen risiko yang berbasis cuaca untuk melindunginya dari kekeringan yang akan menyebabkan kekurangan dalam produksi jagung nasional (yang seringnya disertai dengan perubahan besar dalam harga barang kebutuhan dan kesulitan pangan). Sebagai ganti dari sebuah premi, sebuah perusahaan reasuransi internasional berkomitmen untuk membayar suatu jumlah yang telah disepakati sebelumnya kepada pemerintah Malawi jika terjadi kondisi kekeringan hebat yang telah didefinisikan sebelumnya, sebagaimana diukur dan dilaporkan oleh layanan

cuaca Malawi. The World Bank Treasury bertindak sebagai perantara yang dapat dipercaya pada pasar, meningkatkan kepercayaan dalam transaksi pada kedua belah pihak. Oleh karena pembayaran dan parameter-parameter kekeringan telah ditetapkan sebelumnya, maka pembayaran dari sebuah produk finansial semacam ini dapat dilakukan dengan cepat, dan pemerintah dapat membeli jagung secara langsung dari pasar komoditas regional untuk mengamankan kondisi pangan negaranya secepat mungkin sebelum musim kering dapat memengaruhi masyarakat yang paling rentan, mengurangi biaya respons secara signifikan, dan mengurangi

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

ketergantungan untuk memohon kepada dunia internasional untuk memperoleh bantuan.98 Supaya inisiatif ini menjadi terjangkau dan berkesinambungan, pengurangan risiko bencana haruslah ditingkatkan secara sistematis untuk meminima lis asi ketergantungan p e m e r i nt a h t e r h a d ap s e j u m l a h kesepakatan finansial untuk lebih banyak lagi kerugian yang sifatnya rutin. Pembiayaan yang memiliki ketergantungan memerlukan biaya kesempatan, dan harus menutupi kebutuhan finansial pemerintah yang paling mendesak serta kerugian yang paling ekstrem saja. Berbagai layanan perluasan lahan pertanian, penegakan kode etik bangunan, dan perencanaan perkotaan strategis merupakan beberapa contoh di mana tindakan pemerintah dapat mengurangi konsekuensi yang dapat dihindari dan kemungkinan hasil yang paling ekstrem. Hal-hal yang sama pentingnya adalah sistem peringatan dini untuk memberikan peringatan dan mencegah hilangnya nyawa manusia dan kerusakan ekonomis. Sistem semacam ini, yang didukung oleh pemerintah, dapat membawa efek dramatis, seperti yang terjadi di Bangladesh, di mana angka kematian penduduk akibat banjir dan badai telah dapat dikurangi, dan begitu pula kebutuhan pemerintah untuk membiayai kerugiannya.99

Mengelola risiko sosial: Memberdayakan masyarakat untuk melindungi diri mereka sendiri Pengaruh perubahan iklim bagi setiap orang tidaklah sama.100 Bagi rumah tangga yang miskin, ketegangan iklim sedikit saja dapat mengakibatkan kehilangan yang tak terbalikkan dalam hal modal manusia dan fisik. 101 Pengaruhnya

KOTAK 2.10



Caribbean Catastrophe Risk Insurance Facility: Asuransi terhadap gangguan layanan pascabencana

Di antara banyaknya tantangan yang dihadapi pemerintahan negara-negara pulau yang kecil akibat bencana alam, salah satunya adalah memperoleh akses seketika untuk mendapatkan uang tunai untuk mengimplementasikan upaya pemulihan yang mendesak dan menjaga terselenggaranya layanan dasar pemerintahan. Tantangan ini sangat penting bagi negara-negara Karibia, yang ketahanan ekonominya dibatasi oleh kerentanan yang terus meningkat dan utang yang besar. Caribbean Catastrophie Risk Insurance Facility yang baru menyediakan suatu instrumen asuransi yang serupa dengan asuransi gangguan bisnis pada pemerintahanpemerintahan dalam Komunitas Karibia. Instrumen ini menyediakan likuiditas jangka pendek jika negara-negara tersebut menderita kerugian bencana besar yang diakibatkan oleh badai atau gempa bumi. Terdapat sejumlah instrumen untuk membiayai upaya pemulihan jangka panjang, namun fasilitas ini mengisi suatu kekosongan

dalam pembiayaan kebutuhan jangka pendek melalui asuransi parametriks. Fasilitas ini mengeluarkan dana berdasarkan timbulnya suatu kejadian dengan intensitas yang telah didefinisikan sebelumnya, tanpa harus menunggu penaksiran kerugian di tempat dan konfirmasi formal. Asuransi parametriks yang secara umum lebih murah ini menyelesaikan klaim dengan cepat, karena pengukuran indeks parametriks hampir selalu dilakukan seketika. Fasilitas ini memungkinkan negara-negara yang berperan serta untuk mengumpulkan risiko masing-masing ke dalam satu portofolio yang terdiversifikasi lebih baik, dan memfasilitasi akses ke pasar reasuransi. Asuransi parametriks harus menjadi bagian dari strategi finansial yang komprehensif, menggunakan serangkaian instrumen untuk dapat mengatasi berbagai jenis kejadian dan probabilitasnya. Sumber: Ghesquiere, Jamin, dan Mahul 2006; World Bank 2008e.

terhadap anak-anak dapat bersifat jangka panjang dan memengaruhi pendapatan seumur hidup melalui pendidikan (berhenti bersekolah setelah mengalami kejutan), kesehatan (efek gabungan dari sanitasi yang buruk dan penyakit yang disebarkan oleh air atau vektor), dan gangguan pertumbuhan.102 Kaum wanita di negara berkembang sangat mengalami efek-efek dari iklim karena banyak tanggung jawab rumah tangga (seperti mengumpulkan dan menjual hasil tanaman liar) dipengaruhi oleh ketidakteraturan iklim.103 Rumah tangga dan komunitas beradaptasi melalui pilihan mata pencaharian, alokasi aset, preferensi lokasi, dan sering bergantung pada pengetahuan tradisional untuk menginformasikan keputusan. 104 Penduduk akan lebih bersedia dan mampu untuk berubah jika mereka memiliki sistem pendukung



Laporan Pembangunan Dunia 2010

sosial yang mengombinasikan kegiatan saling berbagi dalam komunitas, asuransi sosial yang tersedia secara umum (seperti pensiun), keuangan dan asuransi yang dipasok oleh swasta, dan jaring pengaman yang disediakan untuk umum.

Membangun komunitas yang berketahanan Membangun pengetahuan lokal dan tradisional mengenai pengelolaan risiko iklim adalah penting karena dua alasan.105 Pertama, berbagai komunitas, terutama penduduk asli, telah memiliki pengetahuan yang relevan dengan konteks, berikut juga strategi untuk menghadapi risiko-risiko iklim. Upayaupaya untuk mengawinkan pembangunan dan adaptasi iklim bagi komunitas yang rentan akan menjadi lebih baik jika melihat cara-cara bagaimana penduduk biasanya merespons risiko-risiko lingkungan, seperti yang terjadi di Afrika di mana komunitas-komunitas telah beradaptasi terhadap periode kekeringan yang berkepanjangan. 106 Namun, strategi penanggulangan dan adaptasi tradisional tersebut dapat membuat komunitas siap hanya untuk beberapa risiko yang dapat dirasakan saja, bukan terhadap berbagai risiko yang tidak pasti dan mungkin berbeda yang dibawa oleh perubahan iklim.107 Dalam pengertian ini, komunitas mungkin dapat beradaptasi dengan baik terhadap iklim mereka, tetapi tidak dapat beradaptasi terhadap perubahan iklim.108 Kedua, sifat lokal dari adaptasi mengandung makna bahwa kebijakan-kebijakan umum dengan hanya satu cara untuk semua kasus tidaklah akan cocok untuk melayani kebutuhan daerah perkotaan dan pedesaan yang berbeda.109 Pembangunan blok ketahanan masyarakat—kapasitas untuk memelihara

fungsi-fungsi kritis, pengelolaan mandiri dan belajar saat terpapar perubahan— harus dilakukan di seluruh dunia. 110 Di daerah pantai di Vietnam serangan badai dan permukaan laut yang naik telah memberikan ketegangan pada mekanisme penanggulangannya. Setelah dihentikannya sejumlah layanan negara pada akhir tahun 1990-an, pengambilan keputusan kolektif secara lokal serta jaringan kredit dan pertukaran telah menggantikan modal sosial dan pembelajaran bagi perencanaan dan infrastruktur oleh pemerintah. (Dalam tahun-tahun terakhir, bagaimanapun juga, pemerintah Vietnam telah menyadari perlunya menunjang ketahanan masyarakat dan pengembangan infrastruktur dan saat ini sedang mengupayakan suatu agenda yang luas untuk pengelolaan risiko bencana).111 Di bagian barat Arktik, orang-orang Inuit, yang mengalami penyusutan es laut dan pergeseran distribusi hewan liar, menyesuaikan waktu aktivitas bertahan hidup mereka, dan memburu lebih banyak spesies. Mereka meningkatkan ketahanan dari komunitas-komunitas mereka dengan cara saling berbagi makanan, menukarkan lebih banyak makanan dengan makanan yang lain, dan mengembangkan institusi dan kesepakatan regional yang baru. 112 Dengan cara yang sama, komunitaskomunitas penduduk asli di negaranegara berkembang telah beradaptasi terhadap perubahan iklim untuk meringankan dampak-dampak yang merugikan dan menarik keuntungan dari kesempatan baru—sebagai contoh melalui panen yang memanfaatkan air hujan, diversifikasi hasil panen dan mata pencaharian, dan perubahan dalam migrasi musiman-untuk mengatasi dampak berikutnya dan mengambil tantangan dalam peluang terbaru.113

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri



Figur 2.4 Mengembalikan gurun dengan pengetahuan, aksi petani, dan pembelajaran sosial

NIGER

Algeria

Mali

Libya

N i g e r Chad

Burkina Faso

Nigeria

Perubahan dalam kehijauan vegetasi, 1982–2006 ) 11–25 > 25 (tidak ada tren yang signifikan) Sumber: WRI dkk. 2008; Botoni dan Reij 2009; Herrmann, Anyamba, dan Tucker 2005. Catatan: Petani Niger telah mengembalikan gurun yang terganggu; lanskap yang digunduli pada 1980 sekarang telah ditanami dengan pohon, semak, dan tanaman pertanian. Perubahan ini, yang berlebihan sehingga pengaruhnya dapat dilihat melalui satelit, telah memengaruhi 5 juta hektar lahan (kira-kira seukuran Kosta Rika), yang berjumlah hampir setengah dari lahan olahan di Niger. Peluan ekonomi baru yang diciptakan dari penghijauan kembali telah menguntungkan jutaan orang melalui peningkatan keamanan pangan dan ketahanan terhadap kekeringan. Kunci suksesnya adalah teknik berbiaya rendah yang disebut dengan regenerasi alamiah yang dikelola petani, yang diadaptasi dari teknik lama manajemen lahan kayu yang telah berusia berabad-abad. Setelah beberapa keberhasilah awal dengan mengenalkan kembali teknik ini pada 1980, petani melihat keuntungannya dan menyebarkannya ke seluruh dunia. Efek pembelajaran sosial ditingkatkan dengan studi wisata petani donor yang mendukung dan pertukaran petani-ke-petani. Peraturan pemerintah pusat sangat penting dalam pembentukan kembali kedudukan lahan dan kebijakan-kebijakan hutan.

S ecara umum, masyarakat sekarang memiliki tiga hal yang lebih baik: pengetahuan waktu, tempat, dan kejadian spesifik bahaya iklim lokal dan bagaimana bahaya semacam ini memengaruhi aset dan aktivitas produktif mereka. Masyarakat juga memiliki kapasitas lokal yang lebih besar untuk mengelola hubungan sosial dan ekologis yang akan dipengaruhi oleh perubahan iklim. Dan mereka secara khas menimbulkan biaya yang lebih rendah alih-alih para pelaku eksternal dalam mengimplementasikan proyek-proyek pembangunan dan lingkungan (Figur 2.4). Suatu tinjauan yang dilakukan baru-baru ini terhadap lebih dari 11.000 pelaku industri perikanan mendapati bahwa berkurangnya cadangan ikan dapat secara dramatis dikurangi dengan cara bergerak menjauhi batasan panen secara keseluruhan dan memperkenalkan kuota tangkapan yang dapat ditransfer secara individu dengan usaha penegakan hukum secara lokal. 114 Partisipasi aktif dari komunitas lokal dan pihak-pihak utama

yang berkepentingan dalam manajemen bersama dalam industri perikanan adalah suatu kunci keberhasilan.115 Di luar manfaat meningkatkan ketahanan, manajemen sumber daya yang terdesentralisasi juga dapat bermanfaat sinergis bagi mitigasi dan adaptasi. Sebagai contoh, pengelolaan hutan bersama di wilayah tropis telah menghasilkan manfaat mata pencaharian (adaptasi) dan tambahan dalam penyimpanan karbon (mitigasi) ketika komunitas lolkal memiliki hutannya, mempunyai otonomi pengambilan keputusan yang lebih besar, dan kemampuan untuk mengelola hutan yang lebih luas.116 Pada banyak negara berkembang, tata kelola hutan yang terdesentralisasi didasarkan pada prinsip penggunaan sumber daya bersama telah memberikan hak-hak penduduk asli atas pengelolaan hutan, menggunakan pengetahuan spesifik mereka tentang waktu dan tempat untuk menciptakan aturan penting dan institusi, dan bekerja bersama badan pemerintahan untuk menerapkan aturan yang telah mereka susun. 117



Laporan Pembangunan Dunia 2010

Memajukan hak tanah penduduk lokal dan memastikan pengelolaan dalam manajemen telah menghasilkan manajemen yang berkelanjutan dan berbiaya efektif pada hutan dan keragaman hayati sumber daya, seperti yang terjadi di Meksiko dan Brazil.118 Adaptasi berbasis komunitas yang efektif dibentuk di atas pembelajaran s osi a l, su atu pros es p er tu karan pengetahuan mengenai pengalaman yang ada, dan penerapannya dengan informasi ilmiah yang teknis. 119 Ketika penduduk bermigrasi di antara daerah perkotaan dan pedesaan untuk mendapatkan pekerjaan musiman atau segera setelah terjadinya bencana alam, pergerakan mereka didapati mengikuti aliran pergerakan sebelumnya yang dilakukan oleh sebagian saudara dan teman mereka. 120 Ketika para penduduk mengadopsi teknologi baru atau mengubah pola-pola penanaman, keputusan mereka bergantung pada aliran informasi dalam jaringan-jaringan sosial. 121 Ketika penduduk memilih daerah-daerah yang berbeda untuk memperkuat memperkokoh keahlian dan pendidikan mereka, keputusan mereka bergantung pada keputusan rekan-rekan mereka.122 Komunitas dan pembelajaran sosial berbasis pengalaman telah menjadi suatu cara yang utama untuk menanggulangi risiko iklim di masa lalu, tetapi hal tersebut tidak cukup untuk menghadapi perubahan iklim. Konsekuensinya, strategi-strategi adaptasi iklim berbasis komunitas yang efektif haruslah menyeimbangkan aset masyarakat (kapasitas lokal dan pengetahuan yang lebih besar, cadangan modal sosial yang potensial, biaya yang lebih rendah) terhadap defisit (pengetahuan ilmiah yang terbatas, jangkauan terbatas untuk bertindak).

Meskipun banyak aktivitas adaptasi berbasis masyarakat didukung oleh sejumlah besar LSM dan perantara lainnya, semuanya itu hanyalah menjangkau sebagian kecil dari mereka yang berada dalam risiko. Sebuah tantangan yang mendesak adalah untuk mencontoh keberhasilan mereka secara jauh lebih luas. Usaha peningkatan skala telah kerap kali dibatasi oleh hubungan yang buruk, dan kadang-kadang ketegangan, antara badan pelaksana di lapangan dan institusi pemerintah. Masalahmasalah otoritas, tanggung jawab, dan pendanaan seringnya menghalangi terciptanya kerja sama. Peningkatan skala pembangunan yang dikendalikan oleh masyarakat menunjukkan bahwa kaum pendukungnya dan pemerintah harus memikirkan proses yang ada di luar proyeknya, dan memikirkan transformasi atau transisi untuk menghindari kegagalan proyek apabila dana terhenti. Kapasitas, yang sangat penting bagi keberhasilan, meliputi motivasi dan komitmen, yang pada g i lirannya memerlu kan ins ent if yang tepat pada semua tingkatan. 123 Pendanaan Adaptasi yang baru dapat sangat meningkatkan dukungan untuk meningkatkan skala karena hal itu diharapkan dapat mengelola sumber daya pada kisaran senilai $0,5 miliar sampai $1,2 miliar di tahun 2012 dan secara langsung mendukung pemerintahan pada semua tingkatan, LSM, dan badan perantara lainnya.124

Menyediakan jaring pengaman bagi komunitas yang paling rentan Perubahan iklim sangat mungkin memperparah kerentanan dan menyebabkan lebih banyak penduduk yang terpapar pada ancaman iklim dengan frekuensi lebih tinggi dan

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

periode lebih panjang. Oleh karena itu, kebijakan-kebijakan sosial haruslah dapat menolong kelompok-kelompok yang mata pencahariannya mungkin terkikis secara perlahan oleh perubahan iklim. Episode ekstrem juga dapat secara langsung memengaruhi rumah tangga sehingga dibutuhkan jaring pengaman (bantuan sosial) untuk mencegah komunitas yang paling rentan mengalami kejatuhan secara ekonomi. Episode ketegangan iklim yang berlarutlarut (seperti yang lazim terjadi saat kekeringan) dapat berkontribusi pada kenaikan dan volatilitas harga barang komoditas, yang sangat memengaruhi penduduk yang miskin dan rentan, seperti yang terjadi pada krisis pangan di tahun 2008.125 Harga makanan yang tinggi meningkatkan kemiskinan, memperburuk gizi, mengurangi manfaat layanan kesehatan dan pendidikan, dan menghabiskan aset produktif penduduk miskin.126 Di beberapa bagian dari dunia berkembang, kekurangan pangan dan fluktuasi harga makanan yang terkait telah merepresentasikan suatu sumber risiko yang sistemik yang diperkirakan akan meningkat seiring dengan perubahan iklim.127 Kejutan-kejutan iklim memiliki dua ciri penting. Pertama, terdapat k e t i d a kp a s t i a n m e n g e n a i s i ap a sebenarnya yang akan terkena dampaknya dan di mana. Populasi yang terpengaruh sering kali tidak teridentifikasi sampai sebuah krisis sudah berlangsung lama, yang membuatnya sulit untuk direspons secara cepat dan efektif. Kedua, waktu terjadinya kejutan mungkin tidak diketahui jauh sebelumnya. Kedua aspek tersebut memiliki implikasi bagi pembuatan konsep dan perancangan kebijakan sosial sebagai respons terhadap ancaman iklim di masa mendatang. Perlindungan sosial yang lebih baik harus

dibayangkan sebagai sebuah sistem, alih-alih intervensi yang terisolasi dan tepat waktu, dan harus dijalankan pada waktu yang tepat. Jaring pengaman harus memiliki pembiayaan yang fleksibel dan memiliki sasaran kelompok, sehingga mereka dapat ditingkatkan untuk menyediakan respons yang efektif bagi kejutan-kejutan episodik.128 Untuk mengatasi kerentanan kronis, sejumlah besar instrumen jaring pengaman memberikan uang tunai atau transfer barang atau jasa bagi rumah tangga miskin. 129 Digunakan secara efektif, jaring tersebut berdampak seketika dalam mengurangi ketidaksetaraan dan merupakan pendekatan pertama dan terbaik untuk mengatasi implikasi kemiskinan terhadap naiknya harga komoditas; jaring tersebut menyebabkan rumah tangga dapat berinvestasi dalam mata pencahariannya di masa depan dan mengelola risiko dengan mengurangi terjadinya strategi penganggulangan negatif (seperti penjualan hewan ternak selama kekeringan). Jaring pengaman menyebabkan rumah tangga dapat berinvestasi dalam modal manusia (pendidikan, pelatihan, gizi) yang meningkatkan ketahanan untuk jangka panjang. Sebagai respons terhadap kejutan, jaring pengaman dapat memiliki suatu fungsi asuransi jika jaring tersebut dirancang untuk dapat diskalakan dan fleksibel. Jaring seperti ini biasanya dibagi menjadi beberapa fase, dengan prioritasnya beralih dari penyediaan makanan dengan cepat, sanitasi, dan pembersihan menjadi pemulihan dan pembangunan kembali dan mungkin juga pencegahan dan mitigasi bencana. Untuk memberikan penjaminan, suatu jaring pengaman membutuhkan anggaran yang kontrasiklis dan dapat diskalakan, aturan-aturan dalam menentukan



0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

s as ar an untu k meng ident if i kas i penduduk dengan kebutuhan yang sifatnya sementara, implementasi yang fleksibel yang memberikan respons cepat setelah terjadinya kejutan, dan prosedur dan tanggung jawab organisasi dasar yang disepakati dengan baik sebelum terjadinya bencana.130 Peringatan dini yang menyediakan ramalan musiman dan buletin dapat memobilisasi jaring pengaman sebelum waktunya dan mempersiapkan logistik dan pengantaran makanan.131 Jaring pengaman, di mana mereka berada, akan perlu diperkuat, dan dikembangkan di tempat-tempat yang belum memilikinya. Sejumlah negara berpenghasilan rendah tidak dapat memberikan transfer permanen kepada penduduk miskinnya, namun jaring pengaman yang dapat diskalakan untuk memberikan suatu bentuk dasar dari penjaminan nonkontributif dapat merepresentasikan suatu perlindungan sosial inti yang mencegah terjadinya kematian dan pengurangan aset secara berlebihan, bahkan di negara miskin di mana jaring pengaman sebelumnya tidak lazim digunakan.138 Sebagai contoh, Jaring Pengaman Produktif (Productive Safety Net) di Ethiopia mengombinasikan bantuan sosial permanen (sebuah program biaya kerja berjangka lebih panjang yang membidik 6 juta rumah tangga yang kekurangan pangan) dan jaring pengaman yang dapat diskalakan, yang dapat diperluas dengan cepat untuk melayani jutaan rumah tangga yang miskin sementara selama masa kekeringan yang besar. Suatu inovasi yang penting adalah penggunaan indeks berdasarkan pengaruh cuaca yang teramati dalam menyediakan bantuan yang lebih dapat diskalakan dan tepat sasaran dengan segera pada daerah-daerah yang

kekurangan pangan dan mekanisme berbasis asuransi untuk mengakses pembiayaan berkelanjutan.133 Program biaya kerja dapat menjadi bagian dari sebuah respons jaring pengaman.134 Program ini merupakan program pekerjaan umum padat karya, yang memberikan penghasilan bagi suatu populasi yang menjadi sasaran sementara membangun atau memelihara infrastruktur publik. Program ini berfokus pada aset dan aktivitas yang tingkat pengembaliannya tinggi yang dapat meningkatkan ketahanan masyarakat, seperti penyimpanan air, sistem irigasi, dan tanggul. Untuk dapat efektif secara menyeluruh, program ini membutuhkan tujuan yang jelas, proyek yang sesuai dan tersusun dengan baik, pembiayaan yang dapat diprediksi, pengarahan yang profesional dalam pemilihan dan implementasi, dan pemantauan dan evaluasi yang kredibel (Kotak 2.11). Jaring pengaman dapat juga memfasilitasi reformasi kebijakan energi. Kenaikan harga bahan bakar m e ny e b a b k a n e f i s i e n s i e n e r g i , pendapatan ekonomi, dan penghematan fiskal, tetapi juga membawa risiko politis dan sosial yang signifikan. Jaring pengaman dapat melindungi kaum miskin dari harga energi yang tinggi dan membantu menghapuskan subsidi energi yang besar, berat, regresif, dan merusak iklim (lihat Bab 1).135 Subsidi energi, sebuah respons yang umum terhadap naiknya harga bahan bakar, sering kali tidak efisien dan tidak tepat sasaran, namun menghilangkan subsidi energi juga biasanya menghadirkan persoalan. B eberapa negara berpenghasilan menengah (Brazil, China, Kolombia, India, Indonesia, Malaysia, Turki) baru-baru ini telah menggunakan jaring pengaman untuk memfasilitasi penghapusan subsidi bahan bakar

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

KOTAK 2.11



Program kerja di India di bawah Indian National Rural Employment Guarantee Act

India telah lama mengembangkan sebuah program penjaminan kerja yang dibuat berdasarkan sebuah skema yang sebelumnya sangat berhasil di negara bagian Maharashtra. Program ini, melalui swaseleksi, memberikan hak untuk mendapatkan hingga 100 hari kerja dengan upah minimum yang sesuai undang-undang untuk setiap rumah tangga yang mau bersukarela. Rumah tangga tersebut tidak perlu menunjukkan kebutuhannya, dan upahnya akan dibayar bahkan jika pekerjaannya tidak ada. Program ini membuka paling sedikit sepertiga pekerjaan yang ada bagi kaum perempuan, menyediakan pengasuhan anak-anak di tempat kerja, asuransi medis untuk kecelakaan kerja; dan pekerjaannya juga harus tersedia tepat

fosil. 136 Transfer pembayaran yang meng i kut i p eng hapus an subsidi harus ditentukan sasarannya dengan cermat untuk menjamin bahwa kaum miskin mendapatkan kompensasi yang layak—reformasi di Indonesia memperlihatkan bahwa, bahkan dengan ketidaktepatan sasaran yang substansial, empat desil populasi yang terbawah masih mendapatkan keuntungan selama periode transfer.137

Memfasilitasi migrasi sebagai respons terhadap perubahan iklim Migrasi kerap kali menjadi sebuah respons yang efektif bagi perubahan iklim—dan, sungguh disayangkan, merupakan satu-satunya respons dalam beberapa kasus. Estimasi jumlah penduduk yang berisiko terhadap migrasi, pengungsian, dan relokasi di tahun 2050 berubah-ubah dari hampir 200 juta sampai 1 miliar. 138 (Namun, estimasi ini didasarkan pada penaksiran yang luas akan penduduk yang terpapar pada risiko yang meningkat, alihalih pada analisis mengenai apakah

waktu dan berada dalam jarak lima kilometer dari setiap rumah penduduk, jika memungkinkan. Pelaksanaannya dilakukan secara transparan dengan adanya daftar pekerjaan, panggilan pekerja, dan kontraktor yang terbuka pada publik dan juga di situs Web programnya, sehingga publik dapat mengawasi terhadap korupsi dan inefisiensi. Sejak aturan ini disahkan pada tahun 2005, 45 juta rumah tangga telah memberikan kontribusi sebesar 2 miliar hari kerja dan melakukan 3 juta pekerjaan.a Dengan pengarahan yang sesuai, program ini dapat menunjang pembangunan yang cerdas secara iklim. Program ini berjalan sesuai skala dan dapat mengarahkan tenaga kerja yang signifikan kepada pekerjaan adaptif yang sesuai,

termasuk perlindungan air, perlindungan daerah tangkapan air, dan perkebunan. Program ini menyediakan dana bagi peralatan dan hal lain yang diperlukan untuk menyelesaikan aktivitas dan pendukung teknis untuk merancang dan mengimplementasikan proyek. Program ini, dengan demikian, dapat menjadi sebuah bagian inti dari pembangunan desa melalui penciptaan dan pemeliharaan aset produktif yang tahan terhadap iklim.b Sumber: a. National Rural Employment Guarantee Act—2005, http://nrega.nic.in/ (diakses Mei 2009). b. CSE India, http://www.cseindia.org/programme/nrml/ update_january08.htm (diakses 15 Mei 2009); CSE 2007.

k e t e r p ap a r a n a k a n m e n d o r o n g p endudu k untu k b er mig rasi. 139 ) Adaptasi, seperti perlindungan daerah pesisir, akan menyeimbangkan kerugian akibat dampak iklim dan mengurangi migrasi.140 Pergerakan saat ini merupakan suatu petunjuk kasar bagi geografi pergerakan di masa mendatang (Kotak 2.12). Migrasi yang terkait dengan perubahan iklim mungkin sebelumnya didominasi oleh migrasi dari area pedesaan di negara berkembang ke kawasan perkotaan kecil dan besar. Hal yang penting bagi kebijakan untuk memfasilitasi migrasi adalah pertimbangan bahwa sebagian besar kaum migran dunia berpindah di dalam negara mereka sendiri, bahwa lebih kecil dari 10 persen dari kaum migran dunia merupakan pengungsi, dan bahwa terdapat ketumpangtindihan yang signifikan antara jalur migrasi dari mereka yang bermigrasi karena alasan ekonomi dan juga mereka yang bermigrasi karena terpaksa. Terdapat sedikit bukti bahwa migrasi yang disebabkan oleh perubahan iklim memicu atau memperparah konflik,

Laporan Pembangunan Dunia 2010



KOTAK 2.12

Migrasi pada saat ini

Estimasi migrasi yang disebabkan perubahan iklim sangatlah tidak pasti dan ambigu. Dalam jangka pendek, ketegangan iklim mungkin memengaruhi pola migrasi yang ada (peta kiri) alih-alih menyebabkan aliran penduduk yang benar-benar baru. Mayoritas migran dunia berpindah di dalam negara mereka. Sebagai contoh, jumlah migran internal di China saja (sekitar 130 juta) setara dengan jumlah migran internasional di seluruh dunia (diperkirakan menjadi 175 juta di tahun 2000). Sebagian besar migran internal bermigrasi karena faktor ekonomi, berpindah dari area pedesaan ke area perkotaan. Terdapat juga migrasi yang signifikan, meskipun estimasinya buruk, dari pedesaan ke pedesaan, yang cenderung memperlancar permintaan dan pasokan dalam pasar tenaga kerja pedesaan, dan yang berperan sebagai sebuah langkah dalam jalur migrasi migran pedesaan. Migrasi internasional merupakan sebuah fenomena umum di dunia maju. Sebanyak 61 persen migran internasional berada di negara-negara maju. Pertumbuhan pendatang baru adalah lebih besar di negara-negara maju daripada di negara-negara berkembang, dan sekitar setengah dari seluruh migran internasional

adalah kaum perempuan. Setengah jumlah migran internasional di seluruh dunia berasal dari 20 negara. Kurang dari 10 persen dari migran internasional di dunia adalah orang-orang yang terpaksa melintasi perbatasan internasional karena takut terhadap penganiayaan (pengungsi). Walaupun demikian, banyak pengungsi, yang termasuk ke dalam definisi migran internal (peta kanan), diestimasikan sebanyak 26 juta orang secara global. Rute dan perantara yang digunakan oleh para migran melarikan diri dari konflik, perselisihan etnis, dan pelanggaran hak asasi manusia meningkat sama seperti yang mengungsi dengan alasan ekonomi. Statistik internasional yang tersedia tidak mengizinkan atribusi spesifik terhadap pengungsian internal karena degradasi lingkungan atau bencana alam, tetapi kebanyakan keterpaksaan migrasi yang terkait dengan perubahan iklim masih bersifat internal dan regional. Aliran migrasi tidaklah acak, namun terpola, dengan aliran migran terkonsentrasi pada tempat di mana migran yang sudah ada menunjukkan bahwa kehidupan yang layak dapat dirintis di sana, dan dapat membantu migran selanjutnya untuk mengatasi rintangan terhadap

Migrasi buruh internasional 18,6 25,9 7,2 13,5

11,8 8,7

3,5 15,2

0,7 0,5 5,1 11,3

8,4 10,0

2,7 0,6

Pembagian migrasi internasional berdasarkan region (%) Jumlah total migran pada 2000 = 175 juta (100%)

Masuk

Sumber: Tuñón 2006; World Bank 2008f; United Nations 2005; United Nations 2006; Migration DRC 2007; de Haas 2008; Lucas 2006; Sorensen, van hear, dan Engberg-Pedersen 2003; Amin 1995; Lucas 2006; Lucas 2005; Massey dan Espana 1987; de Haan 2002; Kolmannskog 2008.

Perpindahan penduduk secara internal (juta) 19,1 12,5

23,0 2,0

perpindahan. Pola ini sangat dijelaskan oleh rintangan terhadap perpindahan, dan persyaratan untuk mengatasinya. Terdapat beberapa rintangan finansial, yaitu biaya transportasi, penginapan saat kedatangan, dan biaya hidup selama mengembangkan aliran pendapatan yang baru. Pengamatan menunjukkan bahwa terdapat suatu ‘punuk migrasi’, yaitu di mana tingkat migrasi dari suatu komunitas meningkat seiring dengan meningkatnya penghasilan melebihi suatu tingkatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar, dan kemudian migrasi bersih berkurang lagi seiring dengan menyempitnya jurang pemisah antara penghasilan di tempat asal dan di tempat tujuan utama. Punuk migrasi menjelaskan mengapa kaum termiskin dari yang miskin tidak bermigrasi atau bermigrasi ke tempat yang sangat dekat.

Keluar

Perpindahan penduduk (juta) 0–0,1

0,1–0,2

0,2–0,5

0,5–1

>1

Tidak ada data

Sumber: Parsons dkk. 2007; IDMC 2008.

namun hal ini dapat berubah. Penduduk yang bermigrasi akibat perubahan lingkungan mungkin menjadi kurang berdaya, dengan kapasitas yang kurang untuk melawan konflik.141 Saat migrasi bertepatan dengan timbulnya konflik,

hubungannya mungkin bukan lagi hubungan sebab-akibat. 142 Dengan cara yang sama, mata rantai antara kelangkaan sumber daya (konflik air)143 atau degradasi telah jarang diperkuat (kemiskinan dan institusi yang terganggu

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

fungsinya merupakan penjelasan yang lebih tepat).144 Namun, ketidakpastian mengenai rantai sebab-akibat tidak menunjukkan bahwa migrasi selanjutnya yang disebabkan oleh iklim dapat meningkatkan potensi terjadinya konflik ketika bertepatan dengan tekanan pada sumber daya, kekurangan pangan, kejadian bencana besar, dan kurangnya tata kelola dalam wilayah yang menerima arus migrasi.145 Gambaran negatif dari migrasi dapat membantu mengembangkan kebijakan-kebijakan yang mencoba mengurangi dan mengendalikan jumlah kejadiannya, ketika hal ini mungkin menjadi pilihan satu-satunya bagi penduduk yang terkena dampak bahaya iklim, dan melakukan sedikit upaya untuk mengatasi kebutuhan dari penduduk yang bermigrasi. Tentu saja, kebijakan untuk membatasi migrasi jarang berhasil, dan kerap kali merupakan kebijakan yang salah, serta meningkatkan biaya bagi migran dan bagi komunitas di daerah asal dan daerah tujuan.146 Untuk memfasilitasi migrasi sebagai respons terhadap pengaruh iklim, adalah lebih baik untuk merumuskan migrasi dan kebijakan pembangunan yang terintegrasi yang mengarah pada kebutuhan migran yang bersifat sukarela, dan mendukung kemampuan wirausaha dan keahlian teknisnya. Untuk memperluas kemungkinan, kebijakan-kebijakan haruslah dapat mencegah menetapnya kaum migran di daerah-daerah yang sangat terpapar bahaya iklim yang terus-menerus (Peta 2.6). Di antara tahun 1995 dan 2005, 3 juta penduduk dipindahkan akibat pertikaian sipil di Kolombia, sebagian besar ke pusat kota kecil atau kota yang tidak terlalu besar. Sejumlah penduduk telah berpindah ke daerah marginal pada perkotaan yang rentan terhadap

banjir, dan tanah longsor atau dekat tempat pembuangan sampah, sementara kurangnya pendidikan dan keahlian kerja mereka menyebabkan mereka hanya memperoleh 40 persen dari upah minimum. 147 Untuk mengantisipasi migrasi dan perpindahan lokasi yang tidak dilakukan dengan sukarela, rencana yang berorientasi ke depan haruslah mengidentifikasi lokasi alternatif, menerapkan formula kompensasi yang mendorong migran untuk pindah tempat dan mengembangkan sumber penghidupan yang baru, dan membangun infrastruktur publik dan sosial untuk kehidupan masyarakat. Sekali lagi, kebijakan semacam ini sangatlah berbeda dengan upaya-upaya yang telah ada untuk mengatasi kebutuhan kaum migran yang terpaksa dan pengungsi— bagaimanapun mereka dipindahkan secara internal atau menyeberangi perbatasan internasional. Beberapa pelajaran yang barubaru ini muncul. Pertama adalah untuk melibatkan komunitas yang akan dipindahkan dalam merencanakan perpindahan dan rekonstruksi—dan untuk mengandalkan kontraktor dan badan luar sampai seminimal mungkin. Penduduk yang dipindahkan harus menerima kompensasi sesuai dengan standar dan harga di wilayah penerimaan, dan mereka harus terlibat dalam perancangan dan konstruksi infrastruktur di lokasi baru. Di manapun memungkinkan, struktur pengambilan keputusan dalam komunitas yang dipindahkan harus dihormati sampai semaksimal mungkin.

Memandang ke depan menuju tahun 00—Dunia yang mana? Sebuah tema yang berulang pada Laporan ini adalah bahwa inersia dalam



Laporan Pembangunan Dunia 2010



Peta 2.6 Para migran Senegal yang bertempat di area rawan banjir di sekitar Dakar

Guediawaye

Guediawaye

Pikine Guediawaye

Pikine Guediawaye Dakar

Dakar

Pikine

Pikine Dakar

Dakar Dakar, SENEGAL

Dakar, SENEGAL

Perubahan populasi antara 1999 dan 2008 (jumlah penduduk/piksel) <0

0–50

51–100

101–250

251–500

>500

Risiko banjir Rendah

Sedang

Tinggi

Risiko banjir sangat tinggi

Sumber: Geoville Group 2009. Catatan: Pertumbuhan ekonomi yang lambat di sektor pertanian membuat Dakar menjadi tempat tujuan para eksodus dari seluruh negara. Empat puluh persen penduduk Dakar yang baru antara 1988 dan 2008 telah berpindah ke zona yang berpotensi banjir, dua kali lipat komunitas pedesaan (23 persen) dan perkotaan (19 persen) Dakar. Oleh karena ekspansi perkotaan terhambat secara geografis, influx para migran <0 0–50 51–100tinggi 101–250 251–500 dan>500 menyebabkan konsentrasi di zona perkotaan pinggiran (pada Peta, 16 piksel mewakili satu kilometer persegi).

sistem-sistem sosial, iklim, dan biologis, memberikan dukungan pada gagasan bahwa kita harus segera bertindak. Sejumlah anak yang hidup saat ini akan duduk sebagai pemimpin-pemimpin di tahun 2050. Dengan menuju ke arah dunia yang lebih hangat sebesar 2oC, mereka akan menghadapi tantangan dalam mengelola perubahan yang dramatis. Namun, mengelola perubahanperubahan tersebut hanyalah akan

“Aku bersedia untuk menghubungi para pemimpin dunia kita untuk membantu mereka memulai kepedulian pendidikan dan upaya permerintah lokal untuk membekali anak-anak melindungi dan memperbaiki lingkungan. Institusi Sosial dan Politik harus merespons dan mengadaptasi strategi untuk melindungi kesehatan publik, khususnya anak-anak. Sebagai siswa kelas 5, aku rasa hal tersebut mungkin dilakukan untuk memastikan kelangsungan hidup Bumi Pertiwi kita.” —Dave Laurence A. Juntilla, Filipina, umur 11

menjadi salah satu tantangan dari sekian banyak yang mereka hadapi. Dengan menuju ke arah dunia yang lebih hangat sebesar 5oC, harapannya akan jauh lebih suram. Akan menjadi jelas bahwa usaha mitigasi yang dilakukan selama lebih dari setengah abad tidaklah cukup. Perubahan iklim bukanlah sekadar sebuah tantangan—perubahan iklim akan menjadi tantangan yang dominan.

Raisa Kabir, Bangladesh, umur 10

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

Catatan 1. WRI dkk. 2008; Heltberg, Siegel, dan Jorgensen 2009. 2. Tompkins dan Adger 2004. 3. Enfors dan Gordon 2008. 4. Paling pertama kira-kira adalah skenario B1 SRES di mana dunia berada pada jalur stabilisasi gas-gas rumah kaca pada 450–550 bpj CO2e dan pada akhirnya suatu suhu sebesar 2,5°C di atas tingkat pra-industri, dan yang kedua di mana emisi-emisi jauh lebih tinggi daripada yang diperkirakan dalam skenario A1B SRES, yang akan menghasilkan stabilisasi pada sekitar 1.000 bpj dan pada akhirnya suatu suhu sebesar 5°C di atas tingkat pra-industri; lihat Solomon dkk. 2007. 5. Horton dkk. 2008; Parry dkk. 2007; Rahmstorf dkk. 2007. 6. Allan dan Soden 2008. 7. WBGU 2008. 8. Adger dkk. 2008. 9. Repetto 2008. 10. Lempert dan Schlesinger 2000. 11. Keim 2008. 12. Millennium Ecosystem Assessment 2005. 13. Ribot, akan terbit. 14. Lempert dan Schlesinger 2000; Lempert 2007. 15. Lewis 2007. 16. Lempert dan Schlesinger 2000; Lempert dan Collins 2007. 17. Bazerman 2006. 18. Groves dan Lempert 2007. 19. Ward dkk. 2008. 20. Hallegatte 2009. 21. Pahl-Wostl 2007; Brunner dkk. 2005; Tompkins dan Adger 2004; Folke dkk. 2002. 22. Cumming, Cumming, dan Redman 2006. 23. Olsson, Folke, dan Berkes 2004; Folke dkk. 2005; Dietz, Ostrom, dan Stern 2003.

24. Dietz dan Stern 2008. 25. Ligeti, Penney, dan Wieditz 2007. 26. Pahl-Wostl 2007. 27. FAO dan CIFOR 2005. 28. PBB 2008b. 29. PBB 2008a. 30. B alk, McGranahan, dan Anderson 2008. Zona pesisir yang rendah didefinisikan sebagai lahan pesisir dengan ketinggian di bawah 10 meter; lihat Socioeconomic Data and Application Center, http://sedac.ciesin. columbia.edu/gpw/lecz.jsp (diakses 8 Januari 2009). 31. McGranahan, B alk, dan Anderson 2007. 32. Laju migrasi netto di Shanghai adalah 4–8 persen, dibandingkan dengan kira-kira minus 2 persen yang disebabkan oleh pertumbuhan alamiah antara 1995 dan 2006; lihat PBB 2008a. 33. Nicholls dkk. 2008. 34. Simms dan Reid 2006. 35. World Bank 2008a. 36. Seo 2009. 37. World Bank 2008g. 38. World Bank 2008g. 39. Menggunakan garis kemiskinan $2,15 per hari; lihat Ravallion, Chen, dan Sangraula 2007. 40. PBB 2008a. 41. Satterthwaite 2008. 42. Díaz Palacios dan Miranda 2005. 43. Pelling 1997. 44. World Bank 2008c. 45. Hara, Takeuchi, dan Okubo 2005. 46. Bates dkk. 2008. 47. World Bank 2008a. 48. Satterthwaite dkk. 2007. 49. McEvoy, Lindley, dan Handley 2006. 50. Laryea-Adjei 2000. 51. Confalonieri dkk. 2007.





Laporan Pembangunan Dunia 2010

52. Hanya menyertakan kematian yang penyebabnya spesifik dan utama, serta mengecualikan dampak-dampak tidak langsung dan morbiditas; lihat McMichael dkk. 2004; Global Humanitarian Forum 2009. 53. World Bank 2008b. 54. Robine dkk. 2008. 55. Solomon dkk. 2007; Luber dan McGeehin 2008. 56. Corburn 2009. 57. Fay, Block, dan Ebinger 2010. 58. Gallup dan Sachs 2001. 59. Hay dkk. 2006; estimasi ini hanya menjelaskan ekspansi vektor penyakit; pertumbuhan populasi akan memperparah dampak ini dan meningkatkan jumlah populasi yang berisiko sebanyak 390 juta jiwa (atau 60 persen) relatif terhadap populasi garis acuan 2005. 60. Ha les d k k. 2002; t anp a perubahan iklim, hanya 35 persen dari populasi global yang diproyeksikan akan ada tahun 2085 yang akan menanggung risikonya. 61. WHO 2008; de la Torre, Fajnzylber, dan Nash 2008. 62. Keiser dkk. 2004. 63. Rogers dkk. 2002. 64. World Climate Programme 2007. 65. WHO 2005; Frumkin dan McMichael 2008. 66. Sanitasi dan higiene yang lebih baik sangatlah baik bagi kesehatan, sebagaimana dibuktikan oleh dampak dari peningkatan sanitasi terhadap kesehatan anak-anak di kawasan perkotaan di Salvador, Brazil, suatu kota dengan 2,4 juta jiwa. Program ini mengurangi prevalensi penyakit diare sebanyak 22 persen di seluruh kota tersebut tahun 2003–04 dan sebesar 43 persen di daerah-daerah yang masyarakatnya berisiko tinggi.

Perbaikan-perbaikan ini sebagian besar disebabkan oleh infrastruktur yang baru (Barreto dkk. 2007). 67. AMWA 2007. 6 8 . G a l i a n i , G e r t l e r, d a n Schargrodsky 2005. 69. Richmond 2008. 70. Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa data yang ada mengenai kerugian akibat bencana tidak memperhatikan peristiwa-peristiwa kecil yang mungkin dapat menjelaskan sekitar seperempat dari jumlah kematian yang penyebabnya adalah bahaya alam, dan bahwa para pengambil keputusan di berbagai kota memiliki kesadaran yang relatif rendah terhadap risiko-risiko yang ditimbulkan oleh perubahan iklim terhadap populasi dan infrastruktur kota mereka; lihat Awuor, Orindi, dan Adwera 2008; Bull-Kamanga dkk. 2003; Roberts 2008. 71. Hoeppe dan Gurenko 2006. 72. PBB 2009. 73. PBB 2008a. 74. International Strategy for Disaster Reduction, http://www.unisdr. org/eng/hfa/hfa.htm (diakses 12 Maret 2009). 75. World Economic Forum 2008. 76. Milly dkk. 2002. 77. The Nameless Hurricane, http:// science.nasa.gov/headlines/ y2004/02apr_hurricane.htm (diakses 12 Maret 2009). 78. Ranger, Muir-Wood, dan Priya 2009. 79. Salah satu contohnya adalah layanan informasi yang disediakan oleh Scottish Environment Protection Agency, www.sepa.org.uk/flooding (diakses 12 Maret 2009). 80. Lin 2008. 81. Ghesquiere, Jamin, dan Mahul 2006. 82. Ferguson 2005.

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

83. Linnerooth-Bayer dan Mechler 2006. 84. Mills 2007. 85. Manuamorn 2007; Giné, Townsend, dan Vickery 2008; World Bank 2008e. 86. Hochrainer dkk. 2008. 87. Christen dan Pearce 2005. 88. Llanto, Geron, dan Almario 2007. 89. Kunreuther dan Michel-Kerjan 2007; Tol 1998. 90. World Bank 2005. 91. Mills 2005; Dlugolecki 2008; ABI 2004. 92. Skees 2001. 93. Ini menimbulkan beberapa isu penting: kode dan regulasi penggunaan lahan dibutuhkan dan harus ditegakkan. Asuransi akan diwajibkan oleh hukum di daerah-daerah berisiko tinggi. Ada juga masalah-masalah mengenai pemerataan: apa yang harus dilakukan pada masyarakat yang telah tinggal di daerah-daerah berisiko tinggi selama ini tetapi tidak mampu membayar premi yang didasarkan pada risiko yang sesungguhnya? 94. Kunreuther dan Michel-Kerjan 2007. 95. Cummins dan Mahul 2009. 96. Lihat Cardenas dkk. 2007 untuk contoh mengenai penggunaan instrumen-instrumen pasar untuk pengelolaan risiko finansial berdaulat penuh untuk bencana alam di Meksiko. 97. Mechler dkk. 2009. 98. World Bank to Offer Indexbased Weather Derivative Contracts, http://go.worldbank.org/9GXG8E4GP1 (diakses 15 Mei 2009). 99. Pemerintah Bangladesh 2008. 100. Bankoff, Frerks, dan Hilhorst 2004. 101. Dercon 2004. 102. Alderman, Hoddinott, dan Kinsey 2006; Bartlett 2008; UNICEF 2008; del Ninno dan Lundberg 2005.

103. Francis dan AmuyunzuNyamongo 2008; Nelson dkk. 2002. 104. Ensor dan Berger 2009; Goulden dkk. 2009; Gaillard 2007. 105. Adger dkk. 2005; Orlove, Chiang, dan Cane 2000; Srinivasan 2004; Wilbanks dan Kates 1999. 106. Stringer dkk., akan diterbitkan; Twomlow dkk. 2008. 107. Nelson, Adger, dan Brown 2007. 108. Walker dkk. 2006. 109. Gaiha, Imai, dan Kaushik 2001; Martin dan Prichard 2009. 110. Gibbs 2009. 111. Adger 2003. 112. Berkes dan Jolly 2002. 113. Macchi 2008; Tebtebba Foundation 2008. 114. Costello, Gaines, dan Lynham 2008. 115. Pomeroy dan Pido 1995. 116. Chhatre dan Agrawal, akan diterbitkan. 117. Ostrom 1990; Berkes 2007; Agrawal dan Ostrom 2001; Larson dan Soto 2008. 118. Sobrevila 2008; White dan Martin 2002. 119. Bandura 1977; Levitt dan March 1988; Ellison dan Fudenberg 1993; Ellison dan Fudenberg 1995. 120. Granovetter 1978; Kanaiaupuni 2000; Portes dan Sensenbrenner 1993. 121. Buskens dan Yamaguchi 1999; Rogers 1995. 122. Foskett dan Helmsley-Brown 2001. 123. Gillespie 2004. 124. World Bank 2009. 125. Ivanic dan Martin 2008. 126. Grosh dkk. 2008. 127. Lobell dkk. 2008. 128. Kanbur 2009; Ravallion 2008. 129. Grosh dkk. 2008. 130. Grosh dkk. 2008; Alderman dan Haque 2006.





Laporan Pembangunan Dunia 2010

131. Famine Early Warning Systems Network, www.fews.net (diakses 15 Mei 2009). 132. Alderman dan Haque 2006; Vakis 2006. 133. Hess, Wiseman, dan Robertson 2006. 134. del Ninno, Subbarao, dan Milazzo 2009. 135. IEG 2008; Komives dkk. 2005. 136. World Bank 2008d. 137. World Bank 2006. 138. Myers 2002; Christian Aid 2007. 139. Barnett dan Webber 2009. 140. Black 2001; Anthoff dkk. 2006. 141. Gleditsch, Nordås, dan Salehyan 2007. 142. Reuveny 2007. 143. Barnaby 2009. 144. Theisen 2008; Nordås dan Gleditsch 2007. 145. WBGU 2008; Campbell dkk. 2007. 146. de Haas 2008. 147. Bartlett dkk. 2009.

Referensi ABI (Association of British Insurers). 2004. A Changing Climate for Insurance: A Summary Report for Chief Executives and Policymakers. London: ABI. Adger, W. N. 2003. “Social Capital, Collective Action, and Adaptation to Climate Change.” Economic Geography 79 (4): 387–404. Adger, W. N., S. Dessai, M. Goulden, M. Hulme, I. Lorenzoni, D. R. Nelson, L. O. Naess, J. Wolf, dan A. Wreford. 2008. “Are There Social Limits to Adaptation to Climate Change?” Climatic Change 93 (3–4): 335–54.

Adger, W. N., T. P. Hughes, C. Folke, S. R. Carpenter, dan J. Rockstrom. 2005. “Social-ecological Resilience to Coastal Disasters.” Science 309 (5737): 1036–39. Agrawal, A., dan E. Ostrom. 2001. “Collective Action, Property Rights, and Decentralization in Resource Use in India and Nepal.” Politics and Society 29 (4): 485–514. Alderman, H., dan T. Haque. 2006. “Countercyclical Safety Nets for the Poor and Vulnerable.” Food Policy 31 (4): 372–83. Alderman, H., J. Hoddinott, dan B. Kinsey. 2006. “Long Term Consequences of Early Childhood Malnutrition.” Oxford Economic Papers 58 (3): 450–74. Allan, R. P., dan B. J. Soden. 2008. “Atmospheric Warming and the Amplification of Extreme Precipitation Events.” Science 321: 1481–84. Amin, S. 1995. “Migrations in Contemporary Africa: A Retrospective View.” Dalam The Migration Experience in Africa, ed. J. Baker dan T. A. Aina. Uppsala: Nordic Africa Institute. AMWA (Association of Metropolitan Water Agencies). 2007. Implications of Climate Change for Urban Water Utilities. Washington, DC: AMWA. Anthoff, D., R. J. Nicholls, R. S. J. Tol, dan A. T. Vafeidis. 2006. “Global and Regional Exposure to Large Rises in Sea-level: A SensitivityAnalysis.” Research Working Paper 96, Tyndall Center for Climate Change, Norwich, UK. Awuor, C. B., V. A. Orindi, dan A. Adwera. 2008. “Climate Change and Coastal Cities: The Case of Mombasa, Kenya.” Environment and Urbanization 20 (1): 231–42.

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

Balk, D., G. McGranahan, dan B. Anderson. 2008. “Urbanization and Ecosystems: Current Patterns and Future Implications.” Dalam The New Global Frontier: Urbanization, Poverty and Environment in the 21st Century, G. Martine, G. McGranahan, M. Montgomery, dan R. Fernandez-Castilla (para editor). London: Earthscan. Bandura, A. 1977. Social Learning Theory. New York: General Learning Press. Bankoff, G., G. Frerks, dan D. Hilhorst. 2004. Mapping Vulnerability: Disasters, Development and People. London: Earthscan. Barnaby, W. 2009. “Do Nations Go to War over Water?” Nature 458: 282–83. Barnett, J., dan M. Webber. 2009. Accommodating Migration to Promote Adaptation to Climate Change. Stockholm: Commission on Climate Change and Development. Barreto, M. L., B. Genser, A. Strina, A. M. Assis, R. F. Rego, C. A. Teles, M. S. Prado, S. M. Matos, D. N. Santos, L. A. dos Santos, dan S. Cairncross. 2007. “Effect of City-wide Sanitation Programme on Reduction in Rate of Childhood Diarrhoea in Northeast Brazil: Assessment by Two Cohort Studies.” Lancet 370: 1622–28. Bartlett, S. 2008. “Climate Change and Urban Children: Impacts and Implications for Adaptation in Low and Middle Income Countries.” Environment and Urbanization 20 (2): 501–19. Bartlett, S., D. Dodman, J. Haroy, D. Satterthwaite, dan C. Tacoli. 2009. “Social Aspects of Climate Change in Low and Middle Income Nations.” Paper presented

at the Cities and Climate Change: Responding to an Urgent Agenda. World Bank Fifth Urban Research Symposium, Marseille, June 28–30. Bates, B., Z. W. Kundzewicz, S. Wu, dan J. Palutikof. 2008. “Climate Change and Water.” Technical paper, Intergovernmental Panel on Climate Change, Geneva. Bazerman, M. H. 2006. “Climate Change as a Predictable Surprise.” Climatic Change 77: 179–93. Benson, C., dan J. Twigg. 2007. Tools for Mainstreaming Disaster Risk Reduction: Guidance Notes for Development Organizations. Geneva: ProVention Consortium. Berkes, F. 2007. “Understanding Uncertainty and Reducing Vulnerability: Lessons from Resilience Thinking.” Natural Hazards 41 (2): 283–95. Berkes, F., dan D. Jolly. 2002. “Adapting to Climate Change: Social Ecological Resilience in a Canadian Western Arctic Community.” Ecology and Society 5 (2): 18. Bigio, A. G. 2008. “Concept Note: Adapting to Climate Change in the Coastal Cities of North Africa.” World Bank, Middle East and Northern Africa Region, Washington, DC. Black, R. 2001. “Environmental Refugees: Myth or Reality?” New Issues in Refugee Research Working Paper 34, United Nations High Commissioner for Refugees, Geneva. Botoni, E., dan C. Reij. 2009. “La Transformation Silencieuse de l’Environnement et des Systèmes de Production au Sahel : Impacts des Investissements Publics et Privés dans la Gestion des Ressources Naturelles.” Technical report, Free



0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

University Amsterdam and Comité Permanent Inter-États de Lutte contre la Sécheresse dans le Sahel (CILSS), Ouagadougou, Burkina Faso. Brunner, R. D., T. A. Steelman, L. Coe-Juell, C. M. Cromley, C. M. Edwards, dan D. W. Tucker. 2005. Adaptive Governance: Integrating Science, Policy, and Decisions Making. New York: Columbia University Press. Bull-Kamanga, L., K. Diagne, A. Lavell, F. Lerise, H. MacGregor, A. Maskrey, M. Meshack, M. Pelling, H. Reid, D. Satterthwaite, J. Songsore, K. Westgate, dan A. Yitambe. 2003. “Urban Development and the Accumulation of Disaster Risk and Other Life-Threatening Risks in Africa.” Environment and Urbanization 15 (1): 193–204. Buskens, V., dan K. Yamaguchi. 1999. “A New Model for Information Diffusion in Heterogeneous Social Networks.” Socio-logical Methodology 29 (1): 281–325. Campbell, K. M., J. Gulledge, J. R. McNeill, J. Podesta, P. Ogden, L. Fuerth, R. J. Woolsey, A. T. J. Lennon, J. Smith, R. Weitz, dan D. Mix. 2007. The Age of Consequences: The Foreign Policy and National Security Implications of Global Climate Change. Washington, DC: Center for a New American Security and the Center for Strategic and International Studies. Cardenas, V., S. Hochrainer, R. Mechler, G. Pflug, dan J. Linnerooth-Bayer. 2007. “Sovereign Financial Disaster Risk Management: The Case of Mexico.” Environmental Hazards 7 (1): 40–53.

CatSalut. 2008. Action Plan to Prevent the Effects of a Heat Wave on Health. Barcelona: Generalitat de Catalunya Departament de Salut. Chhatre, A., dan A. Agrawal. Akan terbit. “Carbon Storage and Livelihoods Generation through Improved Governance of Forest Commons.” Science. Christen, R. P., dan D. Pearce. 2005. Managing Risks and Designing Products for Agricultural Microfinance: Feature of an Emerging Model. Washington, DC: CGAP; Rome: IFAD. Christian Aid. 2007. Human Tide: The Real Migration Crisis. London: Christian Aid. CIESIN (Center for International Earth Science Information Network). 2005. “Gridded Population of the World (GPWv3).” CIESIN, Columbia University, and Centro Internacional de Agricultura Tropical, Palisades, NY. Confalonieri, U., B. Menne, R. Akhtar, K. L. Ebi, M. Hauengue, R. S. Kovats, B. Revich, dan A. Woodward. 2007. “Human Health.” Dalam Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, ed. M. L. Parry, O. F. Canziani, J. P. Palutikof, P. J. van der Linden, dan C. E. Hanson. Cambridge, UK: Cambridge University Press. Corburn, J. 2009. “Cities, Climate Change and Urban Heat Island Mitigation: Localising Global Environmental Science.” Urban Studies 46 (2): 413–27. Costello, C., S. D. Gaines, dan J. Lynham. 2008. “Can Catch Shares

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

Prevent Fisheries Collapse?” Science 321 (5896): 1678–81. CRED (Centre for Research on the Epidemiology of Disasters). 2009. “EM-DAT: The International Emergency Disasters Database.” CRED, Université Catholique de Louvain, Ecole de Santé Publique, Louvain. CSE (Center for Science and Environment). 2007. “An Ecological Act: A Backgrounder to the National Rural Employment Guarantee Act (NREGA),” CSE, New Delhi. Cumming, G. S., D. H. M. Cumming, dan C. L. Redman. 2006. “Scale Mismatches in Social-Ecological Systems: Causes, Consequences, and Solutions.” Ecology and Society 11 (1): 14. Cummins, J. D., dan O. Mahul. 2009. Catastrophe Risk Financing in Developing Countries. Principles for Public Intervention. Washington, DC: World Bank. Dartmouth Flood Observatory. 2009. “Global Active Archive of Large Flood Events.” Dartmouth College, Hanover, NH. Available at www. dartmouth.edu/~floods. Accessed January 19, 2009. de Haan, A. 2002. “Migration and Livelihoods in Historical Perspectives: A Case Study of Bihar, India.” Journal of Development Studies 38 (5): 115–42. de Haas, H. 2008. “The Complex Role of Migration in Shifting Rural Livelihoods: A Moroccan Case Study.” Dalam Global Migration and Development, ed. T. van Naerssen, E. Spaan, dan A. Zoomers. London: Routledge. de la Torre, A., P. Fajnzylber, dan J. Nash. 2008. Low Carbon, High Growth: Latin American Responses

to Climate Change. Washington, DC: World Bank. del Ninno, C., dan M. Lundberg. 2005. “Treading Water: The Long-term Impact of the 1998 Flood on Nutrition in Bangladesh.” Economics and Human Biology 3 (1): 67–96. del Ninno, C., K. Subbarao, dan A. Milazzo. 2009. “How to Make Public Works Work: A Review of the Experiences.” Discussion Paper 0905, Social Protection and Labor, World Bank, Washington, DC. Dercon, S. 2004. Insurance against Poverty. Oxford, UK: Oxford University Press. Díaz Palacios, J., and L. Miranda. 2005. “Concertación (Reaching Agreement) and Planning for Sustainable Development in Ilo, Peru.” Dalam Reducing Poverty and Sustaining the Environment: The Politics of Local Engagement, ed. S. Bass, H. Reid, D. Satterthwaite, dan P. Steele. London: Earthscan. Dietz, T., E. Ostrom, dan P. C. Stern. 2003. “The Struggle to Govern the Commons.” Science 302 (5652): 1907–12. Dietz, T., dan P. C. Stern, eds. 2008. Public Participation in Environmental Assessment and Decision Making. Washington, DC: National Academies Press. Dlugolecki, A. 2008. “Climate Change and the Insurance Sector.” Geneva Papers on Risk and Insurance— Issues and Practice 33 (1): 71–90. Ellison, G., dan D. Fudenberg. 1993. “Rules of Thumb for Social Learning.” Journal of Political Economy 101 (4): 612–43. ———. 1995. “Word-of-Mouth Communication and Social Learning.” Quarterly Journal of Economics 110 (1): 93–125.





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Enfors, E. I., dan L. J. Gordon. 2008. “Dealing with Drought: The Challenge of Using Water System Technologies to Break Dryland Poverty Traps.” Global Environmental Change 18 (4): 607–16. Ensor, J., dan R. Berger. 2009. “Community-Based Adaptation and Culture in Theory and Practice.” Dalam Adapting to Climate Change: Thresholds, Values, Governance, ed. N. Adger, I. Lorenzoni, dan K. L. O’Brien. Cambridge, UK: Cambridge University Press. ESA (European Space Agency). 2002. Sustainable Development: The Space Contribution: From Rio to Johannesburg—Progress Over the Last 10 Years. Paris: ESA for the Committee on Earth Observation Satellites. Fankhauser, S., N. Martin, dan S. Prichard. Akan terbit. “The Economics of the CDM Levy: Revenue Potential, Tax Incidence, and Distortionary Effects.” Working Paper, London School of Economics. FAO (Food and Agriculture Organization) dan CIFOR (Center for International Forestry Research). 2005. “Forests and Floods: Drowning In Fiction or Thriving On Facts?” FAO Regional Office for Asia and the Pacific Publication 2005/03, Bangkok. Fay, M., R. I. Block, dan J. Ebinger, eds. 2010. Adapting to Climate Change in Europe and Central Asia. Washington, DC: World Bank. Ferguson, N. 2005. Mozambique: Disaster Risk Management Along the Rio Búzi. Case Study on the Background, Concept, and Implementation of Disaster Risk Management in the Context

of the GTZ-Programme for Rural Development (PRODER). Duren: German Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit, Governance and Democracy Division. Folke, C., S. Carpenter, T. Elmqvist, L. Gunderson, C. S. Holling, B. Walker, J. Bengtsson, F. Berkes, J. Colding, K. Danell, M. Falkenmark, L. Gordon, R. Kasperson, N. Kautsky, A. Kinzig, S. Levin, K.-G. Mäler, F. Moberg, L. Ohlsson, P. Olsson, E. Ostrom, W. Reid, J. Rockström, H. Savenije, dan U. Svedin. 2002. Resilience and Sustainable Development: Building Adaptive Capacity in a World of Transformations. Stockholm: Environmental Advisory Council to the Swedish Government. Folke, C., T. Hahn, P. Olsson, dan J. Norberg. 2005. “Adaptive Governance of Social-ecological Systems.” Annual Review of Environment and Resources 30: 441–73. Foskett, N., dan J. Hemsley-Brown. 2001. Choosing Futures: Young People’s Decision-Making in Education, Training and Career Markets. London: RoutledgeFalmer. Francis, P., dan M. AmuyunzuNyamongo. 2008. “Bitter Harvest: The Social Costs of State Failure in Rural Kenya.” Dalam Assets, Livelihoods, and Social Policy, ed. C. Moser dan A. A. Dani. Washington, DC: World Bank. Frumkin, H., dan A. J. McMichael. 2008. “Climate Change and Public Health: Thinking, Communicating, Acting.” American Journal of Preventive Medicine 35 (5): 403–10. Gaiha, R., K. Imai, dan P. D. Kaushik. 2001. “On the Targeting and Cost

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

Effectiveness of Anti-Poverty Programmes in Rural India.” Development and Change 32 (2): 309–42. Gaillard, J.-C. 2007. “Resilience of Traditional Societies in Facing Natural Hazards.” Disaster Prevention and Management 16 (4): 522–44. Galiani, S., P. Gertler, dan E. Schargrodsky. 2005. “Water for Life: The Impact of the Privatization of Water Services on Child Mortality.” Journal of Political Economy 113 (1): 83–120. Gallup, J. L., dan J. D. Sachs. 2001. “The Economic Burden of Malaria.” American Journal of Tropical Medicine and Hygiene 64 (1–2): 85–96. Geoville Group. 2009. “Spatial Analysis of Natural Hazard and Climate Change Risks in PeriUrban Expansion Areas of Dakar, Senegal.” Paper presented at the World Bank Urban Week 2009. Washington, DC. Ghesquiere, F., L. Jamin, dan O. Mahul. 2006. “Earthquake Vulnerability Reduction Program in Colombia: A Probabilistic Cost-Benefit Analysis.” Policy Research Working Paper 3939, World Bank, Washington, DC. Gibbs, M. T. 2009. “Resilience: What Is It and What Does It Mean for Marine Policymakers?” Marine Policy 33 (2): 322–31. Gillespie, S. 2004. “Scaling Up Community-Driven Development: A Synthesis of Experience.” FCND Discussion Paper 181, Food Consumption and Nutrition Division, International Food Policy Research Institute, Washington, DC. Giné, X., R. Townsend, dan J. Vickery. 2008. “Patterns of Rainfall

Insurance Participation in Rural India.” World Bank Economic Review 22 (3): 539–66. Girardet, H. 2008. Cities People Planet: Urban Development and Climate Change. 2nd ed. Chichester, UK: John Wiley & Sons. Gleditsch, N., R. Nordås, dan I. Salehyan. 2007. “Climate Change and Conflict: The Migration Link.” Coping with Crisis Working Paper Series, International Peace Academy, New York (May). Global Humanitarian Forum. 2009. The Anatomy of A Silent Crisis. Geneva: Global Humanitarian Forum. Goulden, M., L. O. Naess, K. Vincent, dan W. N. Adger. 2009. “Accessing Diversification, Networks and Traditional Resource Management as Adaptations to Climate Extremes.” Dalam Adapting to Climate Change: Thresholds, Values, Governance, ed. N. Adger, I. Lorenzoni, dan K. O’Brien. Cambridge, UK: Cambridge University Press. Government of Bangladesh. 2008. Cyclone Sidr in Bangladesh: Damage, Loss and Needs Assessment for Disaster Recovery and Reconstruction. Dhaka: Government of Bangladesh, World Bank, and the European Commission. Granovetter, M. 1978. “Threshold Models of Collective Behavior.” American Journal of Sociology 83 (6): 1420–43. Grosh, M. E., C. del Ninno, E. Tesliuc, dan A. Ouerghi. 2008. For Protection and Promotion: The Design and Implementation of Effective Safety Nets. Washington, DC: World Bank. Groves, D. G., dan R. J. Lempert. 2007. “A New Analytic Method for





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Finding Policy-Relevant Scenarios.” Global Environmental Change 17 (1): 73–85. Hales, S., N. de Wet, J. Maindonald, dan A. Woodward. 2002. “Potential Effect of Population and Climate Changes on Global Distribution of Dengue Fever: An Emperical Model.” Lancet 360: 830–34. Hallegatte, S. 2009. “Strategies to Adapt to an Uncertain Climate Change.” Global Environmental Change 19 (2): 240–47. Hara, Y., K. Takeuchi, dan S. Okubo. 2005. “Urbanization Linked with Past Agricultural Landuse Patterns in the Urban Fringe of a Deltaic Asian Mega-City: A Case Study in Bangkok.” Landscape and Urban Planning 73 (1): 16–28. Hay, S. I., A. J. Tatem, C. A. Guerra, dan R. W. Snow. 2006. Population at Malaria Risk in Africa: 2005, 2015, and 2030. London: Centre for Geographic Medicine, KEMRI/ Welcome Trust Collaborative Programme, University of Oxford. Heltberg, R., P. B. Siegel, dan S. L. Jorgensen. 2009. “Addressing Human Vulnerability to Climate Change: Toward a ‘No-Regrets’Approach.” Global Environmental Change 19 (1): 89–99. Herrmann, S. M., A. Anyamba, dan C. J. Tucker. 2005. “Recent Trends in Vegetation Dynamics in the African Sahel and Their Relationship to Climate.” Global Environmental Change 15 (4): 394–404. Hess, U., W. Wiseman, dan T. Robertson. 2006. Ethiopia: Integrated Risk Financing to Protect Livelihoods and Foster Development. Rome: World Food Programme. Hochrainer, S., R. Mechler, G. Pflug, dan A. Lotsch. 2008. “Investigating

the Impact of Climate Change on the Robustness of Index-Based Microinsurance in Malawi.” Policy Research Working Paper 4631, World Bank, Washington, DC. Hoeppe, P., dan E. N. Gurenko. 2006. “Scientific and Economic Rationales for Innovative Climate Insurance Solutions.” Climate Policy 6: 607–20. Horton, R., C. Herweijer, C. Rosenzweig, J. Liu, V. Gornitz, dan A. C. Ruane. 2008. “Sea Level Rise Projections for Current Generation CGCMs Based on the SemiEmpirical Method.” Geophysical Research Letters 35:L02715. DOI:10.1029/2007GL032486. IDMC (Internal Displacement Monitoring Centre). 2008. Internal Displacement: Global Overview of Trends and Developments in 2008. Geneva: IDMC. IEG (Independent Evaluation Group). 2008. Climate Change and the World Bank Group-Phase I: An Evaluation of World Bank Win-Win Energy Policy Reforms. Washington, DC: IEG Knowledge Programs and Evaluation Capacity Development. Ivanic, M., dan W. Martin. 2008. “Implications of Higher Global Food Prices for Poverty in LowIncome Countries.” Policy Research Working Paper 4594, World Bank, Washington, DC. Kanaiaupuni, S. M. 2000. “Reframing the Migration Question: An Analysis of Men, Women, and Gender in Mexico.” Social Forces 78 (4): 1311–47. Kanbur, R. 2009. “Macro Crises and Targeting Transfers to the Poor.” Cornell University, Ithaca, NY. Keim, M. E. 2008. “Building Human Resilience: The Role of Public

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

Health Preparedness and Response as an Adaptation to Climate Change.” American Journal of Preventive Medicine 35 (5): 508–16. Keiser, J., J. Utzinger, M. C. Castro, T. A. Smith, M. Tanner, dan B. H. Singer. 2004. “Urbanization in SubSaharan Africa and Implications for Malaria Control.” American Journal of Tropical Medicine and Hygiene 71 (S2): 118–27. Knowlton, K., G. Solomon, dan M. Rotkin-Ellman. 2009. “Fever Pitch: Mosquito-Borne Dengue Fever Threat Spreading in The Americas.” Issue Paper, Natural Resources Defense Council, New York (July). Kolmannskog, V. O. 2008. Future Floods of Refugees: A Comment on Climate Change, Conflict and Forced Migration. Oslo: Norwegian Refugee Council. Komives, K., V. Foster, J. Halpern, Q. Wodon, dan R. Abdullah. 2005. Water, Electricity, and the Poor: Who Benefits from Utility Subsidies? Washington, DC: World Bank. Kopf, S., M. Ha-Duong, dan S. Hallegatte. 2008. “Using Maps of City Analogues to Display and Interpret Climate Change Scenarios and Their Uncertainty.” Natural Hazards and Earth System Science 8 (4): 905–18. Kunreuther, H., dan E. Michel-Kerjan. 2007. “Climate Change, Insurability of Large-Scale Disasters and the Emerging Liability Challenge.” Working Paper 12821, National Bureau of Economic Research, Cambridge, MA. Larson, A., dan F. Soto. 2008. “Decentralization of Natural Resource Governance Regimes.” Annual Review of Environment and Resources 33: 213–39.

Laryea-Adjei, G. 2000. “Building Capacity for Urban Management in Ghana: Some Critical Considerations.” Habitat International 24 (4): 391–402. Laukkonen, J., P. K. Blanco, J. Lenhart, M. Keiner, B. Cavric, dan C. Kinuthia-Njenga. 2009. “Combining Climate Change Adaptation and Mitigation Measures at the Local Level.” Habitat International 33 (3): 287–92. Lempert, R. J. 2007. “Creating Constituencies for Long-term Radical Change.” Wagner Research Brief 2, New York University, New York. Lempert, R. J., dan M. T. Collins. 2007. “Managing the Risk of Uncertain Threshold Responses: Comparison of Robust, Optimum, and Precautionary Approaches.” Risk Analysis 27 (4): 1009–26. Lempert, R. J., dan M. E. Schlesinger. 2000. “Robust Strategies for Abating Climate Change.” Climatic Change 45 (3–4): 387–401. Levitt, B., dan J. G. March. 1988. “Organizational Learning.” Annual Review of Sociology 14: 319–38. Lewis, M. 2007. “In Nature’s Casino.” New York Times Magazine, August 26, 2007. Ligeti, E., J. Penney, dan I. Wieditz. 2007. Cities Preparing for Climate Change: A Study of Six Urban Regions. Toronto: The Clean Air Partnership. Lin, H. 2008. Proposal Report on Flood Hazard Mapping Project in Taihu Basin. China: Taihu Basin Authority of Ministry of Water Resources. Linnerooth-Bayer, J., dan R. Mechler. 2006. “Insurance for Assisting





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Adaptation to Climate Change in Developing Countries: A Proposed Strategy.” Climate Policy 6: 621–36. Llanto, G. M., M. P. Geron, dan J. Almario. 2007. “Developing Principles for the Regulation of Microinsurance (Philippine Case Study).” Discussion Paper 2007-26, Philippine Institute for Development Studies, Makati City. Lobell, D. B., M. Burke, C. Tebaldi, M. D. Mastrandrea, W. P. Falcon, dan R. L. Naylor. 2008. “Prioritizing Climate Change Adaptation Needs for Food Security in 2030.” Science 319 (5863): 607–10. Luber, G., dan M. McGeehin. 2008. “Climate Change and Extreme Heat Events.” American Journal of Preventive Medicine 35 (5): 429–35. Lucas, R. E. B. 2005. International Migration and Economic Development: Lessons from Low-Income Countries: Executive Summary. Stockholm: Almkvist & Wiksell International, Expert Group on Development Issues. ———. 2006. “Migration and Economic Development in Africa: A Review of Evidence.” Journal of African Economies 15 (2): 337–95. Macchi, M. 2008. Indigenous and Traditional People and Climate Change: Vulnerability and Adaptation. Gland, Switzerland: International Union for Conservation of Nature. Mahul, O., dan J. Skees. 2007. “Managing Agricultural Risk at the Country Level: The Case of Index-based Livestock Insurance in Mongolia.” Policy Research Working Paper 4325, World Bank, Washington, DC. Manuamorn, O. P. 2007. “Scaling Up Microinsurance: The Case of

Weather Insurance for Smallholders in India.” Agriculture and Rural Development Discussion Paper 36, World Bank, Washington, DC. Massey, D., dan F. Espana. 1987. “The Social Process of Internationl Migration.” Science 237 (4816): 733–38. McEvoy, D., S. Lindley, dan J. Handley. 2006. “Adaptation and Mitigation in Urban Areas: Synergies and Conflicts.” Proceedings of the Institution of Civil Engineers 159 (4): 185–91. McGranahan, G., D. Balk, dan B. Anderson. 2007. “The Rising Tide: Assessing the Risks of Climate Change and Human Settlements in Low Elevation Coastal Zones.” Environment and Urbanization 19 (1): 17–37. McMichael, A., D. CampbellLendrum, S. Kovats, S. Edwards, P. Wilkinson, T. Wilson, R. Nicholls, S. Hales, F. Tanser, D. Le Sueur, M. Schlesinger, dan N. Andronova. 2004. “Global Climate Change.” Dalam Comparative Quantification of Health Risks: Global and Regional Burden of Disease Attributable to Selected Major Risk Factors, vol. 2, ed. M. Ezzati, A. D. Lopez, A. Rodgers, dan C. J. L. Murray. Geneva: World Health Organization. Mearns, R. 2004. “Sustaining Livelihoods on Mongolia’s Pastoral Commons: Insights from a Participatory Poverty Assessment.” Development and Change 35 (1): 107–39. Mechler, R., S. Hochrainer, G. Pflug, K. Williges, dan A. Lotsch. 2009. “Assessing Financial Vulnerability to Climate-Related Natural Hazards.” Background paper for the WDR 2010.

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

Mercy Corps. 2008. “Reducing Flood Risk through a Job Creation Scheme.” Dalam Linking Disaster Risk Reduction and Poverty Reduction: Good Practices and Lessons Learned: 2008, ed. Global Network of NGOs for Disaster Risk Reduction. Geneva: United Nations Development Programme and International Strategy for Disaster Reduction (ISDR). Migration DRC. 2007. “Global Migrant Origin Database.” Development Research Centre on Migration, Globalisation and Poverty, University of Sussex, Brighton. Millennium Ecosystem Assessment. 2005. Ecosystems and Human WellBeing: Synthesis. Washington, DC: World Resources Institute. Mills, E. 2005. “Insurance in a Climate of Change.” Science 309 (5737): 1040–44. ———. 2007. “Synergism between Climate Change Mitigation and Adaptation: Insurance Perspective.” Mitigation and Adaptation Strategies for Global Change 12: 809–42. Milly, P. C. D., R. T. Wetherald, K. A. Dunne, dan T. L. Delworth. 2002. “Increasing Risk ofGreat Floods in a Changing Climate.” Nature 415 (6871): 514–17. Myers, N. 2002. “Environmental Refugees: A Growing Phenomenon of the 21st Century.” Philosophical Transactions of the Royal Society B 357 (1420): 609–13. NRC (National Research Council of the National Academies). 2006. Facing Hazards and Disasters. Understanding Human Dimension. Washington, DC: National Academies Press. ———. 2007a. Contributions of Land Remote Sensing for Decisions

about Food Security and Human Health. Washington, DC: National Academies Press. ———. 2007b. Earth Science and Application from Space: National Imperatives for the Next Decade and Beyond. Washington, DC: National Academies Press. Nelson, D. R., W. N. Adger, dan K. Brown. 2007. “Adaptation to Environmental Change: Contributions of a Resilience Framework.” Annual Review of Environment and Resources 32: 395–419. Nelson, V., K. Meadows, T. Cannon, J. Morton, dan A. Martin. 2002. “Uncertain Prediction, Invisible Impacts, and the Need to Mainstream Gender in Climate Change Adaptations.” Gender and Development 10 (2): 51–59. Nicholls, R. J., P. P. Wong, V. Burkett, C. D. Woodroffe, dan J. Hay. 2008. “Climate Change and Coastal Vulnerability Assessment: Scenarios for Integrated Assessment.” Sustainability Science 3 (1): 89–102. Nordås, R., dan N. Gleditsch. 2007. “Climate Change and Conflict.” Political Geography 26 (6): 627–38. Olsson, P., C. Folke, dan F. Berkes. 2004. “Adaptive Comanagement for Building Resilience in SocialEcological Systems.” Environmental Management 34 (1): 75–90. Orlove, B. S., J. H. Chiang, dan M. A. Cane. 2000. “Forecasting Andean Rainfall and Crop Yield from the Influence of El Niño on Pleiades Visibility.” Nature 403 (6765): 68–71. Ostrom, E. 1990. Governing the Commons: The Evolution of Institutions for Collective Action. New York: Cambridge University Press.





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Pahl-Wostl, C. 2007. “Transitions toward Adaptive Management of Water Facing Climate and Global Change.” Water Resources Management 21: 49–62. PAHO (Pan American Health Organization). 2009. “Dengue.” Washington, DC, http://new.paho. org/hq/index.php?option=com_co ntent&task=view&id=264&Itemid= 363 (accessed July 2009). Parry, M., O. F. Canziani, J. P. Palutikof, dan others. 2007. “Technical Summary.” Dalam Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, ed. M. Parry, O. F. Canziani, J. P. Palutikof, P. J. van der Linden, dan C. E. Hanson. Cambridge, UK: Cambridge University Press. Parsons, C. R., R. Skeldon, T. L. Walmsley, dan L. A. Winters. 2007. “Quantifying International Migration: A Database of Bilateral Migrant Stocks.” Policy Research Working Paper 4165, World Bank, Washington, DC. Pelling, M. 1997. “What Determines Vulnerability to Floods: A Case Study in Georgetown, Guyana.” Environment and Urbanization 9 (1): 203–26. Pomeroy, R. S., dan M. D. Pido. 1995. “Initiatives towards Fisheries Comanagement in the Philippines: The Case of San Miguel Bay.” Marine Policy 19 (3): 213–26. Portes, A., dan J. Sensenbrenner. 1993. “Embeddedness and Immigration: Notes on the Social Determinants of Economic Actions.” American Journal of Sociology 98 (6): 13–20. Raadgever, G. T., E. Mostert, N. Kranz, E. Interwies, dan J. G. Timmerman.

2008. “Assessing Management Regimes in Transboundary River Basins: Do They Support Adaptive Management.” Ecology and Society 13 (1): 14. Rahmstorf, S., A. Cazenave, J. A. Church, J. E. Hansen, R. F. Keeling, D. E. Parker, dan R. C. J. Somerville. 2007. “Recent Climate Observations Compared to Projections.” Science 316 (5825): 709. Ranger, N., R. Muir-Wood, dan S. Priya. 2009. “Assessing Extreme Climate Hazards and Options for Risk Mitigation and Adaptation in the Developing World.” Background paper for the WDR 2010. Ravallion, M. 2008. “Bailing Out the World’s Poorest.” Policy Research Working Paper 4763, World Bank, Washington, DC. Ravallion, M., S. Chen, dan P. Sangraula. 2007. “New Evidence on the Urbanization of Poverty.” Policy Research Working Paper 4199, World Bank, Washington, DC. Repetto, R. 2008. “The Climate Crisis and the Adaptation Myth.” Yale School of Forestry and Environmental Studies Working Paper 13, Yale University, New Haven, CT. Reuveny, R. 2007. “Climate Change Induced Migration and Violent Conflict.” Political Geography 26 (6): 656–73. Ribot, J. C. Akan terbit. “Vulnerability Does Not Just Fall from the Sky: Toward Multi-Scale Pro-Poor Climate Policy.” Dalam The Social Dimensions of Climate Change: Equity and Vulnerability in a Warming World, ed. R. Mearns dan A. Norton. Washington, DC: World Bank.

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

Richmond, T. 2008. “The Current Status and Future Potential of Personalized Diagnostics: Streamlining a Customized Process.” Biotechnology Annual Review 14: 411–22. Roberts, D. 2008. “Thinking Globally, Acting Locally: Institutionalizing Climate Change at the Local Government Level in Durban, South Africa.” Environment and Urbanization 20 (2): 521–37. Robine, J.-M., S. L. K. Cheung, S. Le Roy, H. VanOyen, C. Griffiths, J.-P. Michel, dan F. R. Herrmann. 2008. “Death Toll Exceeded 70,000 in Europe during the Summer of 2003.” Comptes Rendus Biologies 331 (2): 171–78. Rogers, D., S. E. Randolph, R. W. Snow, dan S. I. Hay. 2002. “Satellite Imagery in the Study and Forecast of Malaria.” Nature 415 (6872): 710–15. Rogers, E. 1995. Diffusion of Innovations. New York: Free Press. Roman, A. 2008. “Curitiba, Brazil.” Dalam Encyclopedia of Earth— Environmental Information Coalition. Washington, DC: National Council for Science and the Environment. Satterthwaite, D. 2008. “The Social and Political Basis for Citizen Action on Urban Poverty Reduction.” Environment and Urbanization 20 (2): 307–18. Satterthwaite, D., S. Huq, M. Pelling, A. Reid, dan R. Lankao. 2007. Adapting to Climate Change in Urban Areas: The Possibilities and Constraints in Low and Middle Income Countries. London: International Institutte for Environment and Development. Seo, J.-K. 2009. “Balanced National Development Strategies: The

Construction of Innovation Cities in Korea.” Land Use Policy 26 (3): 649–61. Simms, A., dan H. Reid. 2006. Up in Smoke? Latin America and the Caribbean: The Threat from Climate Chnage to the Environment and Human Development. London: Working Group on Climate Change and Development, International Institute for Environment and Development, New Economics Foundation. Skees, J. R. 2001. “The Bad Harvest: Crop Insurance Reform Has Become a Good Idea Gone Awry.” Regulation 24 (1): 16–21. Sobrevila, C. 2008. The Role of Indigenous People in Biodiversity Conservation: The Natural but Often Forgotten Partners. Washington, DC: World Bank. Solomon, S., D. Qin, M. Manning, R. B. Alley, T. Berntsen, N. L. Bindoff, Z. Chen, A. Chidthaisong, J. M. Gregory, G. C. Hegerl, M. Heimann, B. Hewitson, B. J. Hoskins, F. Joos, J. Jouzel, V. Kattsov, U. Lohmann, T. Matsuno, M. Molina, N. Nicholls, J. Overpeck, G. Raga, V. Ramaswamy, J. Ren, M. Rusticucci, R. Somerville, T. F. Stocker, P. Whetton, R. A. Wood, dan D. Wratt. 2007. “Technical Summary.” Dalam Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, ed. S. Solomon, D. Qin, M. Manning, Z. Chen, M. Marquis, K. B. Averyt, M. Tignor, dan H. L. Miller. Cambridge, UK: Cambridge University Press. Sorensen, N., N. van Hear, dan P. Engberg-Pedersen. 2003.



0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

“Migration, Development and Conflict: State-of-the-Art Overview.” Dalam The Migration-Development Nexus, ed. N. van Hear dan N. Sorensen. New York and Geneva: United Nations and International Organization for Migration. Srinivasan, A. 2004. “Local Knowledge for Facilitating Adaptation to Climate Change in Asia and the Pacific: Policy Implications.” Working Paper 2004-002, Institute for Global Environmental Strategies, Kanagawa, Japan. Stringer, L. C., J. C. Dyer, M. S. Reed, A. J. Dougill, C. Twyman, dan D. Mkwambisi. Akan terbit. “Adaptations to Climate Change, Drought and Desertification: Local Insights to Enhance Policy in Southern Africa.” Environmental Science and Policy. Swiss Re. 2007. “World Insurance in 2006: Premiums Came Back to Life.” Zurich: Sigma (April). Tebtebba Foundation. 2008. Guide on Climate Change and Indigenous Peoples. Baguio City, the Philippines: Tebtebba Foundation. Theisen, O. M. 2008. “Blood and Soil? Resource Scarcity and Internal Armed Conflict Revisited.” Journal of Peace Research 45 (6): 801–18. Tol, R. S. J. 1998. “Climate Change and Insurance: A Critical Appraisal.” Energy Policy 26 (3): 257–62. Tompkins, E. L., dan W. N. Adger. 2004. “Does Adaptive Management of Natural Resources Enhance Resilience to Climate Change?” Ecology and Society 9 (2): 10. Tuñón, M. 2006. Internal Labour Migration in China. Beijing: International Labour Organisation. Twomlow, S., F. T. Mugabe, M. Mwale, R. Delve, D. Nanja, P. Carberry,

dan M. Howden. 2008. “Building Adaptive Capacity to Cope with Increasing Vulnerability Due to Climatic Change in Africa: A New Approach.” Physics and Chemistry of the Earth 33 (8–13): 780–87. UNICEF (United Nations Children’s Fund). 2008. Climate Change and Children: A Human Security Challenge. Florence: UNICEF. United Nations. 2005. Trends in Total Migrant Stock: The 2005 Revision. New York: United Nations Population Division, Department of Economic and Social Affairs. ———. 2006. The State of the World’s Refugees: Human Displacement in the New Millennium. Oxford, UK: United Nations High Commissioner for Refugees. ———. 2007. Drought Risk Reduction Framework and Practices: Contribution to the Implementation of the Hyogo Framework for Action. Geneva: United Nations International Strategy for Disaster Reduction. ———. 2008a. State of the World’s Cities 2008/9. Harmonious Cities. London: Earthscan. ———. 2008b. World Urbanization Prospects: The 2007 Revision. New York: United Nations Population Division, Department of Economic and Social Affairs. ———. 2009. 2009 Global Assessment Report on Disaster Risk Reduction: Risk and Poverty in a Changing Climate. Geneva: United Nations International Strategy for Disaster Reduction. Vakis, R. 2006. “Complementing Natural Disasters Management: The Role of Social Protection.” Social Protection Discussion Paper 0543, World Bank, Washington, DC.

Mengurangi Kerentanan Umat Manusia: Membantu Masyarakat Menolong Diri Sendiri

Walker, B., L. H. Gunderson, A. Kinzig, C. Folke, S. Carpenter, dan L. Schultz. 2006. “A Handful of Heuristics and Some Propositions for Understanding Resilience in Social-Ecological Systems.” Ecology and Society 11 (1):13. Wang, R., dan Y. E. Yaping. 2004. “Eco-city Development in China.” Ambio: A Journal of the Human Environment 33 (6): 341–42. Ward, R. E. T, C. Herweijer, N. Patmore, dan R. Muir-Wood. 2008. “The Role of Insurersin Promoting Adaptation to the Impacts of Climate Change.” Geneva Papers on Risk and Insurance Issues and Practice 33 (1): 133–39. WBGU (German Advisory Council on Global Change). 2008. Climate Change as a Security Risk. London: Earthscan. Welsh Assembly Government. 2008. Heatwave Plan for Wales: A Framework for Preparedness and Response. Cardiff, UK: Welsh Assembly Government Department for Public Health and Health Professions. White, A., dan A. Martin. 2002. Who Owns the World’s Forests? Forest Tenure and Public Forests in Transition. Washington, DC: Forest Trends and Center for International Environmental Law. WHO (World Health Organization). 2005. Health and Climate Change: The Now and How. A Policy Action Guide. Geneva: WHO. ———. 2008. Protecting Health from Climate Change: World Health Day 2008. Geneva: WHO. Wilbanks, T. J., dan R. W. Kates. 1999. “Global Change in Local Places: How Scale Matters.” Climatic Change 43 (3): 601–28.

World Bank. 2005. Managing Agricultural Production Risk: Innovations in Developing Countries. Washington, DC: World Bank. ———. 2006. Making the New Indonesia Work for the Poor. Washington, DC: World Bank. ———. 2008a. Climate Resilient Cities: A Primer on Reducing Vulnerabilities to Climate Chnage Impacts and Strengthening Disaster Risk Management in East Asian Cities. Washington, DC: World Bank. ———. 2008b. Environmental Health and Child Survival: Epidemiology, Economics, Experiences. Washington, DC: World Bank. ———. 2008c. Project Appraisal Document: Regional Adaptation to the Impact of Rapid Glacier Retreat in the Tropical Andes. Washington, DC: World Bank. ———. 2008d. Reforming Energy Price Subsidies and Reinforcing Social Protection: Some Design Issues. Washington, DC: World Bank. ———. 2008e. The Caribbean Catastrophe Risk Insurance Facility: Providing Immediate Funding after Natural Disasters. Washington, DC: World Bank. ———. 2008f. World Development Indicators 2008. Washington, DC: World Bank. ———. 2008g. World Development Report 2009. Reshaping Economic Geography. Washington, DC: World Bank. ———. 2009. Development and Climate Change: A Strategic Framework for the World Bank Group: Technical Report. Washington, DC: World Bank. World Climate Programme. 2007. Climate Services Crucial for





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Early Warning of Malaria Epidemics. Geneva: World Climate Programme. World Economic Forum. 2008. Building Resilience to Natural Disasters: A Framework for Private Sector Engagement. Geneva: World Economic Forum, World Bank, and United Nations International Strategy for Disaster Reduction. WRI (World Resources Institute), United Nations Development

Programme, United Nations Environment Programme, and World Bank. 2008. World Resources 2008: Roots of Resilience: Growing the Wealth of the Poor. Washington, DC: WRI. Yip, S. C. T. 2008. “Planning for Eco-Cities in China: Visions, Approaches and Challenges.” Paper presented at the 44th ISOCARPCongress. The Netherlands.

fokus B

Keragaman Hayati dan Layanan Ekosistem dalam Iklim yang Berubah

Bumi kita menyokong suatu jaringan kompleks yang melibatkan 3 juta hingga 10 juta spesies tumbuhan dan hewan1 dan bahkan mikroorganisme yang jumlahnya jauh lebih banyak lagi. Dan untuk pertama kalinya suatu spesies, manusia, berada dalam posisi untuk melestarikan atau menghancurkan fungsi dari jaringan tersebut.2 Hanya sedikit saja spesies yang memberikan gizi yang paling mendasar—20 persen asupan kalori manusia berasal dari nasi,3 20 persen dari gandum;4 beberapa spesies ternak, unggas, dan babi memasok 70 persen protein hewani kita. Hanya 20 persen asupan protein hewani dari ikan dan kerang-keranganlah kita mendapati adanya keberagaman dalam spesies yang kita santap.5 Manusia diperkirakan memanfaatkan sepertiga dari energi Matahari yang diubah menjadi tumbuhan.6

Akan tetapi, kesejahteraan manusia bergantung pada banyak s e k a l i sp e s i e s y ang i nte r a k s i kompleksnya dalam banyak ekosistem yang berfungsi dengan baik telah memurnikan air, menyerbukkan tanaman, menguraikan limbah, menjaga kesuburan tanah, menjaga aliran air dan melindungi dari situasi cuaca ekstrem, serta memenuhi

KOTAK FB.1

Apa yang dimaksud dengan keragaman hayati? Apa yang dimaksud dengan layanan ekosistem?

Keragaman hayati adalah segala jenis kehidupan, termasuk gen, populasi, spesies, dan ekosistem. Keragaman hayati menyokong layanan-layanan yang diberikan oleh ekosistem, dan memiliki nilai untuk penggunaan di masa sekarang, kemungkinan penggunaan di masa depan (nilai-nilai pilihan), dan nilai intrinsik. Jumlah spesies sering kali digunakan sebagai indikator dari keberagaman suatu daerah, meskipun hal itu hanya menangkap secara kasar keberagaman genetik dan kompleksitas dari interaksi-interaksi ekosistem. Terdapat 5 juta sampai 30 juta spesies yang unik di Bumi, kebanyakan adalah mikroorganisme dan hanya sekitar 1,75 juta yang telah didefinisikan secara formal. Dua pertiga dari keberagaman ini ditemukan di daerah tropis; sebuah lahan seluas 25 hektar di Ekuador didapati 

kebutuhan sosial dan budayanya, dan masih banyak lagi (Kotak FB.1). Millennium Ecosystem Assessment menyimpulkan bahwa dari 24 layanan ekosistem yang ditelaah, 15 sedang mengalami degradasi atau digunakan secara tidak berkesinambungan (Tabel FB.1). Pendorong utama dari degradasi adalah konversi tata guna lahan, biasanya untuk pertanian atau

memiliki lebih banyak spesies pohon dibandingkan di seluruh AS dan Kanada, bersamaan dengan lebih dari setengah jumlah spesies mamalia dan burung di kedua negara tersebut. Layanan-layanan ekosistem adalah berbagai proses atau fungsi dari ekosistem yang bernilai terhadap seseorang atau masyarakat. Millennium Ecosystem Assessment menjelaskan lima kategori utama dari layanan ekosistem: menyediakan, misalnya produksi pangan dan air; mengendalikan, misalnya iklim dan wabah penyakit; menyokong, misalnya siklus nutrien dan penyerbukan tumbuhan; kebudayaan, misalnya manfaat spiritual dan rekreasional; serta memelihara; misalnya pemeliharaan keberagaman. Sumber: Millenium Assessment 2005; Kraft, Valencia, dan Ackerly 2008; Gitay dkk. 2002.

akuakultur, nutrien yang berlebih, dan perubahan iklim. Banyak konsekuensi dari degradasi terfokus pada kawasan-kawasan tertentu, dan pengaruhnya paling banyak dirasakan oleh rakyat miskin karena mereka bergantung secara langsung pada layanan ekosistem.7

Ancaman terhadap keragaman hayati dan layanan ekosistem Dalam kurang lebih dua abad terakhir, kemanusiaan telah menjadi penggerak dari salah satu peristiwa kepunahan besar di Bumi. Mengambil sebagian besar aliran energi yang mengalir melalui jaring-jaring makanan dan mengubah bentuk tutupan lahan untuk mendukung kehidupan spesies yang paling bernilai telah meningkatkan laju kepunahan spesies dari 100 hingga 1.000 kali lipat sebelum manusia mendominasi Bumi.8 Selama beberapa dekade terakhir, manusia telah menyadari dampak-dampak mereka pada keragaman hayati dan ancaman-ancaman dari dampakdampak tersebut. Sebagian besar negara telah memiliki program perlindungan keragaman hayati



Laporan Pembangunan Dunia 2010

Tabel FB. Penilaian tren saat ini dalam keadaan global terhadap layanan umum yang disediakan oleh ekosistem Layanan Jenis layanan Makanan

Subkategori

Status

Pertanian Ternak Tangkapan ikan Akuakultur Makanan liar Kayu

↑ ↑ ↓ ↑ ↓ +/–

Kapas, rami, sutera

+/–

Bahan bakar kayu Sumber daya genetik

↓ ↓

Biokimia, obat-obatan alami, farmasi Air bersih

↓ ↓

Serat

Layanan regular Regulasi kualitas udara Regulasi iklim

Regulasi air Regulasi erosi Pemurnian air dan pengolahan limbah Regulasi penyakit Regulasi hama Penyerbukan Regulasi bencana alam Layanan kebudayaan Nilai spiritual dan keagamaan Nilai estetik Rekreasi dan ekoturisme

Global

↓ ↑

Regional dan lokal



Catatan Peningkatan produksi secara substansial Peningkatan produksi secara substansial Penurunan produksi karena penangkapan yang berlebihan Peningkatan produksi secara substansial Penurunan produksi Kehilangan hutan di beberapa wilayah, pertumbuhan hutan di wilayah lainnya Penurunan produksi untuk beberapa jenis serat, pertumbuhan untuk jenis serat lainnya Penurunan produksi Kehilangan karena kepunahan dan kehilangan sumber daya genetik tanaman pertanian Kehilangan karena kepunahan, pemakaian berlebih Penggunaan yang tidak berkelanjutan untuk minum, industri, dan irigasi; jumlah energi hidro tidak berubah, tetapi dam meningkatkan kemampuan untuk menggunakan energi tersebut

+/– ↓ ↓ +/– ↓ ↓ ↓

Penurunan kemampuan atmosfer untuk membersihkan sendiri Secara global, ekosistem merupakan jarring penangkap karbon sejak abad pertengahan Dominasi dampak negatif (contohnya, perubahan pada tutupan lahan dapat memengaruhi suhu lokal dan curah hujan) Bervariasi bergantung pada perubahan ekosistem dan lokasi Degradasi tanah yang meningkat Penurunan kualitas air Bervariasi bergantung pada perubahan ekosistem Pengendalian alamiah menurun karena penggunaan pestisida Penurunan global pada kelimpahan penyerbuk Kehilangan penyangga alamiah (lahan basah, bakau)

↓ ↓ +/–

Penurunan cepat pada rumpun dan spesies yang dikeramatkan Penurunan pada kuantitas dan kualitas lahan alamiah Banyak area yang dapat diakses tetapi beberapa terdegradasi

Sumber: Millenium Ecosystem Assessment 2005.

yang efektivitasnya beragam, dan telah terdapat beberapa perjanjian dan kesepakatan internasional yang mengoordinasikan upaya-upaya untuk menghambat dan menghentikan hilangnya keragaman hayati. Perubahan iklim menambahkan suatu ancaman tambahan. Keragaman hayati Bumi telah menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan iklim di masa lampau—bahkan perubahan yang cepat sekalipun—melalui gabungan migrasi spesies, kepunahan, dan peluang untuk spesies baru. Akan tetapi, laju perubahan yang akan berlanjut hingga di abad mendatang,

bagaimanapun upaya mitigasi manusia, akan jauh melampaui laju yang terdahulu seperti kepunahan besar akibat tumbukan meteor yang besar. sebagai contoh, laju migrasi spesies pohon selama berlangsungnya zaman es yang paling terakhir, sekitar 10 ribu tahun yang lalu, diperkirakan sebesar 0,3 hingga 0,5 kilometer per tahun. Ini hanyalah sepersepuluh dari laju perubahan di zona-zona iklim yang akan terjadi di abad mendatang.9 Sebagian spesies akan bermigrasi cukup cepat untuk berkembang di lokasi baru, tetapi kebanyakan tidak akan mampu menyesuaikan

diri, khususnya di tengah bentang alam yang terfragmentasi sekarang ini, dan lebih banyak lagi yang tidak akan mampu bertahan dari penyesuaian yang dramatis dari komposisi ekosistem, yang akan menyertai perubahan iklim (Peta FB.1). Perkiraan terbaik untuk hilangnya spesies menunjukkan bahwa sekitar 10 persen spesies akan punah untuk setiap kenaikan suhu sebesar 1°C,10 sementara lebih banyak lagi yang akan berisiko mendekati kepunahan.11 Upaya-upaya untuk memitigasi perubahan iklim melalui aktivitas

Keragaman Hayati dan Layanan Ekosistem dalam Iklim yang Berubah

berbasis tanah dapat mendukung pemeliharaan keragaman hayati dan layanan ekosistem atau lebih mengancam kedua hal ini. Simpanan karbon di bentang alam dapat ditingkatkan melalui reforestasi dan revegetasi dan melalui praktikpraktik pertanian seperti pembajakan lahan. Berbagai aktivitas ini dapat menciptakan bentang alam yang beragam dan kompleks yang dapat menyokong keragaman hayati. Akan tetapi, tindakan-tindakan mitigasi yang perencanaannya buruk, seperti membabat hutan atau lahan kayu untuk menghasilkan biofuel, akan menjadi kontraproduktif untuk kedua sasaran tadi. Dam-dam besar dapat

memberikan manfaat yang beragam melalui irigasi dan produksi energi, tetapi juga mengancam keragaman hayati melalui pembanjiran langsung dan pengubahan aliran sungai ke hilir secara dramatis sekaligus ekosistem-ekosistem yang bergantung padanya.

Apa yang dapat diperbuat? Perubahan dalam prioritas, serta pengelolaan yang aktif dan adaptif diperlukan untuk menjaga keragaman hayati dalam suatu iklim yang berubah. Di beberapa tempat, pengelolaan aktif akan berarti memperbaiki perlindungan terhadap pengaruh



manusia, sementara di tempat lain konservasi mungkin memerlukan intervensi pada spesies dan proses ekosistem yang lebih kuat daripada yang digunakan dewasa ini. Dalam semua kasus, harus ada pertimbangan aktif mengenai nilai-nilai keragaman hayati—di tengah perubahan iklim dan dalam konteks persaingan dalam penggunaan lahan dan laut. Dibutuhkan proses berkelanjutan untuk mengantisipasi bagaimana lahan dan laut akan merespons suatu iklim yang berubah sementara juga berinteraksi dengan pengubahpengubah lingkungan yang lainnya. Sebagian spesies akan mati, sebagian akan bertahan, dan sebagian lainnya

Peta FB. Sementara banyak perubahan ekosistem yang diproyeksikan berada di daerah boreal dan gurun yang bukan merupakan hotspot keragaman hayati, masih terdapat daerah substansial yang bertumpang tindih dan menjadi perhatian

Pergeseran ekosistem yang diproyeksikan Hotspot keragaman hayati Tumpang tindih yang signifikan antara hotspot keragaman hayati dengan daerah pergeseran ekosistem

Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia didasarkan pada Myers dkk. (2000) dan Fischlin dkk. (2007). Catatan: Peta menunjukkan ketumpangtindihan antara hotspot keragaman hayati—daerah dengan konsentrasi spesies endemik yang besar yang diakibatkan oleh hilangnya habitat yang luar biasa (Conservation International dan Myers dkk. 2000)—dan perubahan terhadap ekosistem tanah yang diproyeksikan pada 2100 relatif terhadap tahun 2000, seperti yang ditunjukkan oleh Panel on Climate Change dalam Fischlin dkk. (2007), Figur 4.3 (a), hal. 238. Perubahan harus dilakukan sebagai indikasi satu-satunya terhadap jangkauan kemungkinan perubahan ekosistem dan menyertakan keuntungan atau kerugian tutupan hutan, padang rumput, lahan semak dan kayu, tutupan herba, dan ameliorasi gurun.



Laporan Pembangunan Dunia 2010

a kan b er mig rasi, memb entu k suatu kombinasi spesies yang baru. Kemampuan untuk mengantisipasi perubahan lahan dan laut tidak akan pernah sempurna, jadi tindakan pengelolaan apapun haruslah berada dalam kerangka kerja yang fleksibel sekaligus adaptif. Hilangnya sebagian spesies tidaklah terhindarkan, dan beberapa sp esies mung kin p erlu untuk dilindungi dalam kebun-kebun botani dan zoologi atau dalam bank benih. Sangatlah penting bagi kita untuk mampu mengidentifikasi spesies kunci dalam penyampaian l ay a n a n e k o s i s t e m d a n , j i k a dibutuhkan, mengelolanya secara aktif. Pengelolaan atau manajemen yang proaktif atas lahan dan laut dalam kondisi iklim yang berubah adalah suatu proses yang relatif baru dan masih tidak terdefinisi dengan baik. Terdapat sedikit kapasitas untuk mengidentifikasi respons manajemen yang realistis, jadi kita perlu untuk berbagi pembelajaran, praktik-praktik terbaik, dan pembangunan kapasitas secara signifikan.

Daerah konservasi Perubahan atau perluasan apapun terhadap daerah-daerah prioritas konservasi (daerah konservasi) perlu menangkap altitude, latitude, kelembapan, dan gradien-gradien lahan. Proposal untuk meluaskan atau memodifikasi daerah konservasi dapat mengakibatkan pertentangan antara prioritas untuk alokasi dan untuk sumber daya dalam pengelolaan keragaman hayati (seperti uang untuk akuisisi lahan versus uang untuk memanipulasi habitat secara aktif). Terdapat beberapa perangkat yang berguna untuk memilih alokasi lahan

yang optimal untuk mencapai sasaransasaran konservasi tertentu yang akan menyeimbangkan kebutuhankebutuhan yang saling bersaing.12 A kan tet api d aera h yang terlindung bukanlah solusi terhadap perubahan iklim. Jaringan daerah perlindungan yang sekarang telah meningkat pesat selama satu dekade belakangan dan mencakup sekitar 12 persen dari total daratan di Bumi,13 tetapi masih kurang cukup untuk melindungi keragaman hayati. Dengan adanya berbagai tekanan demografis dan penggunaan lahan yang bersaing, daerah-daerah yang dilindungi tidak akan bertumbuh secara signifikan. Hal ini berarti bahwa lahan yang mengelilingi dan menghubungkan daerah-daerah yang bernilai konservasi dan berprioritas tinggi (matriks lingkungan), serta orang-orang yang mengelola atau bergantung pada lahan-lahan ini akan menjadi semakin penting di tengah iklim dunia yang berubah. Strategi konservasi keragaman hayati yang lebih fleksibel dan yang memperhitungkan kepentingankepentingan dari berbagai kelompok sosial dalam strategi tersebut akan semakin dibutuhkan. Sejauh ini, aktor penting dalam penciptaan area terlindungi adalah LSM dan pemerintah pusat. Untuk meyakinkan kebutuhan f leksibilitas dalam menjaga keragaman hayati, kita perlu mengajak para pengelola, pemelihara, dan pemilik daerah-daerah dan perairan matriks ini dalam kerja sama pengelolaan. Insentif dan kompensasi mungkin diperlukan untuk aktor-aktor ini untuk menjaga kualitas matriks yang menyediakan tempat perlindungan dan koridor bagi spesies. Beberapa pilihannya

mencakup pemberian pembayaran untuk layanan lingkungan (payments for environmental services—PES), “perbankan habitat,”14 dan eksplorasi lebih lanjut dari “pendekatan berbasishak terhadap akses ke sumber daya,” seperti digunakan di berbagai daerah perikanan.

Perencanaan keragaman hayati dan pengelolaannya Sebuah rencana untuk mengelola secara aktif viabilitas ekosistem seiring perubahan iklim harus dikembangkan untuk semua lahan dan perairan konservasi dan daerah-daerah habitat yang signifikan. Elemen-elemennya mencakup: • Rencana-rencana manajemen yang cerdas iklim untuk mengatasi hal-hal utama yang mengganggu, seperti kebakaran, wabah, dan limpahan nutrien. • Prosedur-prosedur dan pemicupemicu keputusan untuk mengubah prioritas pengelolaan. Sebagai contohnya, jika suatu daerah konservasi mengalami dua kali kebakaran dalam waktu singkat, sedemikian hingga pembentukan kembali habitat dan nilai-nilai yang lama tidak mungkin dilakukan, maka harus diimplement asikan s ebuah program untuk secara aktif mengelola proses transisinya ke struktur ekosistem alternatif. • Integrasi ke dalam rencana tentang berbagai hak, kepentingan, dan kontribusi dari masyarakat pribumi dan yang lainnya yang secara langsung bergantung pada lahan atau laut. Perencanaan yang proaktif semacam itu jarang terjadi, bahkan

Keragaman Hayati dan Layanan Ekosistem dalam Iklim yang Berubah

di negara-negara maju sekalipun.15 Kanada mempunyai pendekatan pengelolaan yang lebih proaktif terhadap perubahan iklim di tengah cepatnya pemanasan di daerahdaerah utaranya. 16 Negara-negara lainnya sedang menyusun garis besar dari prinsip-prinsip inti dari manajemen proaktif: meramalkan perubahan, mengelola keragaman hayati regional, termasuk daerahdaerah konservasi dan bentang alam yang melingkupinya, dan menentukan prioritas untuk mendukung pengambilan keputusan di tengah perubahan yang tak terelakkan. 17 Namun, di sebagian besar bagian dunia, manajemen keragaman hayati yang paling dasar sekalipun masih tidak memadai. Di tahun 1999, International Union for Conservation of Nature (IUCN) memastikan bahwa kurang dari seperempat daerah terlindungi di 10 negara berkembang terkelola dengan memadai, dan bahwa lebih dari 10 persen daerah terlindunginya telah mengalami degradasi yang sangat parah.18

Konservasi berbasis komunitas Pro g r am kons e r v as i b e r b as is k o mu n i t a s d ap at d i t e r ap k a n pada skala yang jauh lebih besar. Program-program ini berupaya meningkatkan hak-hak pengguna lokal dan pemeliharaan mereka terhadap sumber daya alam, dengan memberikan izin kepada mereka yang berada paling dekat ke sumber daya alam, yang telah berbagi biaya konservasi (seperti serangan hewan liar terhadap tanaman), untuk berbagi manfaatnya pula. Akan tetapi program-program ini bukanlah obat penyembuh; dibutuhkan lebih banyak

upaya untuk merancang programprogram yang efektif. Partisipasi komunitas adalah sine qua non (kondisi penting) dari konservasi keragaman hayati yang berhasil di negara-negara berkembang, tetapi kisah sukses jangka panjang (seperti memanen telur penyu laut di Kosta Rika dan Brazil) sangatlah jarang.19 Terdapat elemen-elemen yang jelas yang berkontribusi pada keberhasilan program-program yang telah sukses secara regional, seperti program berfokus hewan liar di Afrika bagian selatan. Elemen-elemen tersebut mencakup pemerintahan yang stabil, nilai sumber daya yang tinggi (hewan liar yang unik dan menarik), perekonomian yang kokoh yang mendukung penggunaan sumber daya berorientasi ekspor (termasuk pariwisata dan perburuan safari), kepadatan penduduk yang rendah, tata kelola lokal yang baik, dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang menawarkan jaring pengaman sosial untuk menyokong masyarakat di masa-masa sulit. Bahkan dengan segala kondisi tersebut terpenuhi, manfaatnya di beberapa negara, biasanya tidak dapat dirasakan oleh kaum miskinnya.20

Mengelola ekosistem laut Pengelolaan lahan yang efektif juga bermanfaat untuk ekosistem laut. Sedimentasi dan eutrofikasi yang disebabkan oleh limpasan dari daratan mengurangi ketangguhan berbagai ekosistem laut, seperti terumbu karang.21 Nilai ekonomis dari terumbu karang terkadang lebih besar daripada nilai dari pertanian pada lahan yang memengaruhi terumbu karang tersebut.22



Unt u k d u n i a p e r i k a n a n , perangkat-perangkat utama untuk m e n g e l o l a k e r a g a m a n h ay at i adalah manajemen p er ikanan berbasis ekosistem, 23 manajemen zona pantai yang terintegrasi dan mencakup daerah-daerah yang dilindungi di laut,24 dan kerja sama internasional yang mengikat di dalam kerangka kerja Hukum Laut (Law of the Sea).25 Perikanan dianggap sedang berada dalam suatu krisis, dan mismanajemen perikanan dianggap sebagai penyebabnya. Akan tetapi kebutuhan mendasar untu k p engelolaan p er i kanan telah diketahui.26 Perubahan iklim menghadirkan suatu kesempatan untuk memperkuat dorongan untuk mengimplementasikan reformasi, khususnya dengan mengurangi jumlah kapasitas kapal penangkap ikan dan mengurangi tekanan penangkapan ikan ke tingkat yang dapat dijaga secara berkesinambungan.27 Suatu strategi penangkapan ikan jangka panjang dan berkelanjutan haruslah diimplementasikan—salah satu yang menelaah eksploitasi cadangan sesuai hubungannya dengan titik-titik referensi yang mempertimbangkan ketidakpastian dan perubahan i k lim d a l am p erhitungannya. Tantangan utamanya adalah untuk menerjemahkan sasaran-sasaran kebijakan tingkat tinggi menjadi tindakan-tindakan operasional untuk perikanan yang berkelanjutan.29

Pembayaran untuk layanan ekosistem Pembayaran untuk layanan ekosistem selama beberapa waktu telah dianggap sebagai suatu cara yang efisien dan adil untuk meraih berbagai hasil yang terkait dengan konservasi



KOTAK FB.2

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Pembayaran untuk layanan ekosistem dan mitigasi

Dua program pembayaran yang berhasil adalah proyek Moldova Soil Conservation dan program konservasi burung dan perlindungan daerah aliran sungai di Los Negros Valley di Bolivia, keduanya dibiayai oleh World Bank BioCarbon Fund. Di Moldova, 20.000 hektar lahan pertanian yang telah terdegradasi dan mengalami erosi, yang dimiliki oleh pemerintah dan juga masyarakat, direforestasi, sehingga mengurangi erosi dan menghasilkan produk-produk hutan bagi komunitaskomunitas lokal. Proyek tersebut

dan penyediaan layanan ekosistem. Contoh-contohnya adalah membayar pengelola lahan di daerah hulu sungai untuk mengelola daerah hulu agar menciptakan atau melindungi layanan ekosistem (lingkungan) seperti aliran air yang berkualitas, berbagi keuntungan dari daerah perburuan hewan dengan para pemilik lahan yang propertinya rusak oleh hewan buruan, dan yang paling baru, membayar para pemilik lahan untuk meningkatkan atau menjaga cadangan karbon di tanah mereka. Kotak FB.2 memberikan contohcontoh penyediaan berbagai layanan dari konservasi dan penangkapan karbon. Pengalaman dengan skema pembiayaan oleh pengguna semacam ini menunjukkan bahwa skemaskema tersebut cenderung disesuaikan untuk kebutuhan lokal dengan lebih baik, dipantau dengan lebih baik, juga ditegakkan dengan lebih baik, jika pembayaran hanya dilakukan jika ada layanan yang diberikan, daripada program-program yang dibiayai oleh pemerintah.30 Suatu kesempatan besar untuk p emb ayaran t amb a han untu k pengelolaan lahan yang meningkat

diharapkan dapat menyimpan 2,5 juta ton karbon dioksida ekuivalen hingga 2017. Di Bolivia, para petani yang tinggal di pinggiran Taman Nasional Amboró dibayar untuk melindungi suatu daerah aliran sungai yang mengandung habitat hutan halimun (hutan di daerah tinggi) yang merupakan tempat hidup bagi 11 spesies burung migran, yang menguntungkan bagi keragaman hayati lokal sekaligus juga pasokan air di musim kemarau.

Sumber: World Bank Carbon Finance Unit.

dapat mengalir dari skema Reduced Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD) yang sedang dipertimbangkan oleh United Nation Framework Convention on Climate Change. REDD berupaya mengurangi emisi dengan membayar negara-negara untuk mengurangi deforestasi dan degradasi. Pembayaran ini dapat dijadikan bagian dari suatu mekanisme pasar dalam suatu proses Clean Development Mechanism yang ditingkatkan, atau bisa juga berupa pembayaran non-pasar dari suatu mekanisme keuangan baru yang tidak berinterferensi dengan mekanismemek an i s me ke p atu han e m is i. Tantangan bagi REDD adalah pada pengimplementasian mekanisme tersebut, yang akan dijelaskan lebih lanjut pada Bab 6. REDD dapat membuat kontribusi signifikan pada konservasi dan mitigasi perubahan iklim jika REDD melindungi area luas yang mempunyai cadangan karbon tinggi secara biologi dan berada pada risiko tinggi deforestasi. Teknik untuk mengidentifikasi area-area tersebut telah tersedia dan dapat digunakan untuk memandu alokasi sumber daya keuangan (Peta FB.2).

Untuk menghadapi dampak p er ubahan s ecara efektif dan berkompetisi dalam penggunaan ekosistem dalam iklim yang berubah, pemerintah perlu memperkenalkan kebijakan, upaya, dan insentif yang kuat dan tepat secara lokal untuk mengubah perilaku-perilaku yang telah lama ada, yang sebagian telah dianggap ilegal. Tindakan-tindakan ini akan bertentangan dengan sebagian preferensi komunitas, jadi keseimbangan antara regulasi dan insentif yang tepat sangatlah penting. REDD menyimpan manfaat potensial bagi para penghuni hutan dan komunitas lokal, tetapi sejumlah kondisi perlu dipenuhi terlebih dahulu sebelum manfaatnya dapat dirasakan. Sebagai contoh, penduduk pedalaman kemungkinannya kecil untuk memperoleh manfaat dari REDD jika identitas dan hak-hak mereka tidak diakui, dan jika mereka tidak memiliki hak yang kuat terhadap lahan, daerah, dan sumber daya mereka (Kotak FB.3). Pengalaman dari inisiatif pengelolaan sumber daya alam berbasis komunitas telah menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat lokal, termasuk penduduk pedalaman, dalam pemantauan sumber daya alam secara partisipatif dapat memberikan informasi yang akurat, efektif dari segi biaya, dan informasi yang terkumpul secara lokal mengenai biomassa hutan dan tren-tren sumber daya alam.

Adaptasi berbasis ekosistem Upaya adaptasi yang “keras” seperti benteng pantai, daerah pematang sungai, dan dam untuk mengendalikan aliran sungai, seluruhnya mengancam keragaman hayati.32 Sasaran-sasaran

Keragaman Hayati dan Layanan Ekosistem dalam Iklim yang Berubah

KOTAK FB.3

Cuplikan dari Declaration of Indigenous Peoples on Climate Change

“Semua inisiatif di bawah Reducing Emissions from Deforestation and Degradation (REDD) haruslah mendapatkan pengakuan dan implementasi dari hak-hak Penduduk Pedalaman, yang meliputi keamanan penggunaan lahan, pengakuan kepemilikan lahan menurut cara-cara yang tradisional, penggunaan dan hukum-hukum adat dan berbagai manfaat hutan terhadap iklim, ekosistem, dan masyarakat, sebelum melakukan tindakan apa pun.” (Artikel 5) “Kami memohon pendanaan yang memadai dan langsung di negaranegara maju dan berkembang dan juga untuk pembentukan suatu dana untuk memungkinkan partisipasi Penduduk Pedalaman secara penuh dan efektif dalam berbagai proses iklim, yang termasuk adaptasi, mitigasi, pemantauan, dan transfer teknologi yang sesuai, dalam rangka menumbuhkan pemberdayaan, pembangunan kapasitas, dan pendidikan kita. Kami sangat memohon pada

adaptasi kerap kali dapat dicapai melalui pengelolaan ekosistem yang lebih baik alih-alih melalui intervensi fisis maupun kerekayasaan, seperti penggunaan ekosistem pantai untuk menjadi zona penyokong terhadap serangan badai alih-alih dinding pantai. Bagian-bagian lainnya mencakup pengelolaan bantaran banjir dan daerah tadahan untuk menyesuaikan aliran ke hilir serta pengenalan agroekosistem berketahanan iklim dan pastoralisme lahan kering untuk menyokong berbagai mata pencaharian yang tegar. Adaptasi berbasis ekosistem berupaya untuk meningkatkan ketahanan dan mengurangi kerentanan dari ekosistem dan masyarakat di tengah perubahan

badan-badan PBB yang relevan untuk memfasilitasi dan mendanai partisipasi, pendidikan, dan pembangunan kapasitas dari kaum muda dan kaum perempuan Pedalaman untuk memastikan keterlibatan mereka dalam semua proses internasional dan nasional yang terkait dengan perubahan iklim. (Artikel 7) “Kami menawarkan diri untuk berbagi Pengetahuan Tradisional, inovasi, dan praktik-praktik kami yang relevan terhadap perubahan iklim dengan seluruh umat manusia, asalkan hak-hak dasar kami sebagai penjaga lintas generasi dari pengetahuan ini diakui dan dihormati sepenuhnya. Kami menekankan kembali betapa pentingnya kita semua melakukan tindakan yang kolektif.” (Paragraf Penutup). Deklarasi ini diisukan selama Indigenous Peoples Global Summit on Climate Change yang diadakan di Anchorage pada 24 April 2009.

iklim, melalui konservasi, restorasi, dan manajemen ekosistem. Ketika diintegrasikan dalam suatu strategi adaptasi yang menyeluruh, ini dapat menghasilkan suatu kontribusi yang efektif dari segi biaya terhadap adaptasi dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat. S e l a i n b e r b a g a i m a n f a at langsung bagi adaptasi, adaptasi berbasis ekosistem dapat juga memberikan manfaat tak langsung lainnya bagi masyarakat, keragaman hayati, dan mitigasi. Sebagai contoh, restorasi sistem b a kau untu k memberikan perlindungan garis pantai dari serangan badai dapat juga meningkatkan kesempatan untuk perikanan dan pemerangkapan karbon. Pilihan-pilihan untuk adaptasi berbasis ekosistem sering kali



lebih mudah diakses oleh masyarakat miskin pedesaan, kaum perempuan, dan kelompok yang rentan lainnya, dib anding kan pi li han-pi li han yang berdasarkan infrastruktur dan rekayasa. Konsisten dengan pendekatan-pendekatan berbasis komunitas terhadap adaptasi, adaptasi berbasis ekosistem dibangun secara efektif berdasarkan pengetahuan lokal dan kebutuhan. Adaptasi berbasis ekosistem mungkin perlu memberikan prioritas pada layanan ekosistem tertentu dengan mengorbankan layanan lainnya. Sebagai contoh, menggunakan lahan basah untuk perlindungan daerah pantai akan membutuhkan penekanan pada akumulasi dan stabilisasi endapan, dan mungkin mengorbankan kehidupan hewan liar dan juga kesempatan untuk rekreasi. Stabilisasi lereng dengan semak yang cukup padat merupakan adapatasi berbasis ekosistem yang efektif untuk meningkatkan curah hunaj dalam perubahan iklim. Walaupun demikian, periode kering sering diasosiasikan dengan variabel pola hujan yang meningkat dalam perubahan iklim, lereng akan terekspos bahaya kebakaran yang akan menghancurkan sesemakan dan menyebabkan pembalikan sasaran adaptasi. Jadi, adaptasi berbasis ekosistem haruslah ditelaah dulu efektivitas biayanya dan juga risikonya.

Catatan 1. McGinley 2007. 2. Vitousek dkk. 1999. 3. Fitzgerald, McCouch, dan Hall 2009. 4. Brown 2002. 5. WHO dan FAO 2009.

0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Peta FB. Daerah yang tidak terlindungi dari risiko tinggi deforestasi dan dengan cadangan karbon tinggi seharusnya menjadi daerah prioritas untuk keuntungan dari mekanisme REDD

Kalimantan Timur, INDONESIA

Batas provinsi Batas internasional

Kelas ancaman deforestasi/Kategori karbon Ancaman rendah /Karbon sedang

Ancaman sedang/Karbon sedang

Ancaman tinggi/Karbon sedang

Ancaman rendah /Karbon tinggi

Ancaman sedang/Karbon tinggi

Ancaman tinggi/Karbon tinggi

Daerah terlindungi

Non-hutan pada 2003

Tidak ada data

Sumber: Brown dkk. 1993; Harris dkk. 2009. Catatan: Studi terbaru untuk wilayah Kalimantan Timur di Indonesia menggunakan GEOMOD dan basis data cadangan karbon di hutan tropis Indonesia utnuk mengidentifikasi area terbaik untuk aktivitas REDD. Peta menunjukkan daerah dengan ancaman deforestasi yang tinggi yang juga mempunyai cadangan karbon yang tinggi. Hamparan area terlindung yang sudah ada atau dipromosikan mengizinkan pembuat keputusan untuk mengarahkan sumber daya keuangannya dan memfokuskan usaha-usaha perlindungan untuk mendapatkan keuntungan maksimal melalui mekanisme REDD (daerah merah gelap—ancaman tinggi/karbon tinggi—tidak termasuk di antara batas-batas yang sudah menjadi daerah terlindung).

6. Haberl 1997. 7. Millennium Ecosystem Assessment 2005. 8. Lawton dan May 1995. 9. England dkk. (2004) mengestimasikan laju kemunduran glasial rata-rata sebesar 0,1 kilometer

per tahun sekitar 8.000 tahun yang lalu selama zaman es yang terakhir, yang pada akhirnya menempatkan suatu batasan pada bagaimana spesies-spesies dapat bermigrasi ke arah kutub.

10. Convention on Biological Diversity 2009; Fischlin dkk. 2007. 11. Foden dkk. 2008. 12. Bode dkk. 2008; Joseph, Maloney, dan Possingham 2008; McCarthy dan Possingham 2007. 13. UNEP-WCMC 2008. 14. Ini adalah suatu bentuk dari perdagangan lahan dengan nilai konservasi yang tinggi. Sebagian pemilik lahan tersebut akan memilih untuk menempatkannya dalam bank habitat. Jika muncul kebutuhan untuk merusak lahan yang serupa di tempat lain, misalnya untuk pembangunan jalan raya, maka para pendukung proyeknya harus membeli hak atas lahan dengan nilai konservasi yang ekivalen dari bank tersebut. 15. Heller dan Zavaleta 2009. 16. Welch 2005. 17. Hannah dkk. 2002; Hannah, Midgley, dan Miller 2002. 18. Dudley dan Stolton 1999. 19. Campbell, Haalboom, dan Trow 2007. 20. Bandyopadhyay dan Tembo 2009. 2 1 . Sm it h , Gi l mou r, d an Heyward 2008. 22. Gordon 2007. 23. FAO 2003; FAO 2005; Stiansen dkk. 2005. 24. Halpern 2003; HarmelinVivien dkk. 2008. 25. Lodge dkk. 2007. 26. Cunningham dan Bostock 2005. 27. OECD 2008; World Bank 2008. 28. Beddington, Agnew, dan Clark 2007. 29. FAO 2003; FAO 2005; ICES 2008a; ICES 2008b. 30. Wunder, Engel, dan Pagiola 2008.

Keragaman Hayati dan Layanan Ekosistem dalam Iklim yang Berubah

31. Brown dkk. 1993; Harris dkk. 2009. 32. Bagian ini didasarkan pada bahan yang sedang disiapkan oleh Ad Hoc Technical Expert Group on Biodiversity and Climate Change 2009 untuk Convention on Biological Diversity dan UN Framework Convention on Climate Change.

Referensi Bandyopadhyay, S., dan G. Tembo. 2009. “Household Welfare and Natural Resource Management around National Parks in Zambia.” Policy Research Working Paper Series 4932, World Bank, Washington, DC. Beddington, J. R., D. J. Agnew, dan C. W. Clark. 2007. “Current Problems in the Management of Marine Fisheries.” Science 316 (5832): 1713–16. Bode, M., K. A. Wilson, T. M. Brooks, W. R. Turner, R. A. Mittermeier, M. F. McBride, E. C. Underwood, dan H. P. Possingham. 2008. “CostEffective Global Conservation Spending Is Robust to Taxonomic Group.” Proceedings of the National Academy of Sciences 105 (17): 6498–501. Brown, S., L. R. Iverson, A. Prasad, dan L. Dawning. 1993. “Geographical Distribution of Carbon in Biomass and Soils of Tropical Asian Forests.” Geocarto International 4: 45–59. Brown, T. A. 2002. Genomes. Oxford: John Wiley & Sons. Campbell, L. M., B. J. Haalboom, dan J. Trow. 2007. “Sustainability of Community-Based Conservation: Sea Turtle Egg Harvesting in Ostional

(Costa Rica) Ten Years Later.” Environmental Conservation 34 (2): 122–31. Convention on Biological Diversity. 2009. Draft Findings of the Ad Hoc Technical Expert Group on Biodiversity and Climate Change. Montreal: Convention on Biological Diversity. Cunningham, S., dan T. Bostock. 2005. Successful Fisheries Management. Issues, Case Studies and Perspectives. Delft, The Netherlands: Eburon Academic Publishers. Dudley, N., dan S. Stolton. 1999. “Conversion of Paper Parks to Effective Management: Developing a Target.” Paper presented at the Joint Workshop of the IUCN/WWF Forest Innovations Project and the World Commission on Protected Areas in association with the WWF-World Bank Alliance dan the Forests for Life Campaign. 14 Juni. Turrialba, Costa Rica. England, J. H., N. Atkinson, A. S. Dyke, D. J. A. Evans, dan M. Zreda. 2004. “Late Wisconsinan Buildup and Wastage of the Innuitian Ice Sheet across Southern Ellesmere Island, Nunavut.” Canadian Journal of Earth Sciences 41 (1): 39–61. FAO (Food and Agriculture Organization). 2003. “The Ecosystem Approach to Fisheries: Issues, Terminology, Principles, Institutional Foundations, Implementation and Outlook.” Fisheries Technical Paper 443, FAO, Rome. ———. 2005. Putting Into Practice the Ecosystem Approach to Fisheries. Rome: FAO.



Fischlin, A., G. F. Midgley, J. T. Price, R. Leemans, B. Gopal, C. Turley, M. D. A. Rounsevell, O. P. Dube, J. Tarazona, dan A. A. Velichko. 2007. “Ecosystems, Their Properties, Goods and Services.” Dalam Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, ed. M. Parry, O. F. Canziani, J. P. Palutikof, P. J. van der Linden, dan C. E. Hanson. Cambridge, UK: Cambridge University Press. Fitzgerald, M. A., S. R. McCouch, dan R. D. Hall. 2009. “Not Just a Grain of Rice: The Quest for Quality.” Trends in Plant Science 14 (3): 133–39. Foden, W., G. Mace, J.-C. Vie, A. Angulo, S. Butchart, L. DeVantier, H. Dublin, A. Gutsche, S. Stuart, dan E. Turak. 2008. “Species Susceptibility to Climate Change Impacts.” Dalam The 2008 Review of the IUCN Red List of Threatened Species, J.-C. Vie, C. HiltonTaylor, dan S. N. Stuart (para editor). Gland, Switzerland: International Union for Conservation of Nature. Gitay, H., A. Suarez, R. T. Watson, dan D. J. Dokken, eds. 2002. Climate Change and Biodiversity. Technical Paper of the Intergovernmental Panel on Climate Change, IPCC Secretariat, Geneva. Gordon, I. J. 2007. “Linking Land to Ocean: Feedbacks in the Management of SocioEcological Systems in the Great



Laporan Pembangunan Dunia 2010

Barrier Reef Catchments.” Hydrobiologia 591 (1): 25–33. Haberl, H. 1997. “Human Appropriation of Net Primary Production as an Environmental Indicator: Implications for Sustainable Development.” Ambio 26 (3): 143–46. Halpern, B. S. 2003. “The Impact of Marine Reserves: Do Reserves Work and Does Reserve Size Matter?” Ecological Applications 13 (1): S117–37. Hannah, L., T. Lovejoy, G. Midgley, W. Bond, M. Bush, J. Lovett, D. Scott, dan F. I. Woodward. 2002. “Conservation of Biodiversity in a Changing Climate.” Conservation Biology 16 (1): 264–68. Hannah, L., G. Midgley, dan D. Miller. 2002. “Climate ChangeIntegrated Conservation Strategies.” Global Ecology and Biogeography 11 (6): 485–95. Harmelin-Vivien, M., L. Le Direach, J. Bayle-Sempere, E. Charbonnel, J. A. GarciaCharton, D. Ody, A. Perez-Ruzafa, O. Renones, P. Sanchez-Jerez, dan C. Valle. 2008. “Gradients of Abundance and Biomass across Reserve Boundaries in Six Mediterranean Marine Protected Areas: Evidence of Fish Spillover?” Biological Conservation 141 (7): 1829–39. Harris, N. L., S. Petrova, F. Stolle, dan S. Brown. 2009. “Identifying Optimal Areas for REDD Intervention: East Kalimantan, Indonesia, as a Case Study.” Environmental Research Letters 3:035006, doi:10.1088/17489326/3/3/035006.

Heller, N. E., dan E. S. Zavaleta. 2009. “Biodiversity Management in the Face of Climate Change: A Review of 22 Years of Recommendations.” Biological Conservation 142 (1): 14–32. ICES (International Council for the Exploration of the Sea). 2008a. ICES Advice Book 9: Widely Distributed and Migratory Stocks. Copenhagen: ICES Advisory Committee. ———. 2008b. ICES Insight Issue No. 45. Copenhagen: ICES. Joseph, L. N., R. F. Maloney, dan H. P. Possingham. 2008. “Optimal Allocation of Resources among Threatened Species: A Project Prioritization Protocol.” Conservation Biology 23 (2): 328–38. Kraft, N. J. B., R. Valencia, dan D. D. Ackerly. 2008. “Functional Traits and Niche-Based Tree Community Assembly in an Amazonian Forest.” Science 322 (5901): 580–82. Lawton, J. H., dan R. M. May. 1995. Extinction Rates. Oxford, UK: Oxford University Press. Lodge, M. W., D. Anderson, T. Lobach, G. Munro, K. Sainsbury, dan A. Willock. 2007. Recommended Best Practices for Regional Fisheries Management Organizations. London: Chatham House for the Royal Institute of International Affairs. McCarthy, M. A., dan H. P. Possingham. 2007. “Active Adaptive Management for Conservation.” Conservation Biology 21 (4): 956–63. McGinley, M. 2007. Species Richness. Washington, DC: Encyclopedia of Earth—Environmental Information Coalition, National

Council for Science and Environment. Millennium Ecosystem Assessment. 2005. Ecosystems and Human Well-Being: Synthesis Report. Washington, DC: World Resources Institute. Myers, N., R. A. Mittermeier, C. G. Mittermeier, G. A. B. da Fonseca, dan J. Kent. 2000. “Biodiversity Hotspots for Conservation Priorities.” Nature 403: 853–58. OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). 2008. Recommendation of the Council on the Design and Implementation of Decommissioning Schemes in the Fishing Sector. Paris: OECD. Smith, L. D., J. P. Gilmour, dan A. J. Heyward. 2008. “Resilience of Coral Communities on an Isolated System of Reefs following Catastrophic MassBleaching.” Coral Reefs 27 (1): 197–205. Stiansen, J. E., B. Bogstad, P. Budgell, P. Dalpadado, H. Gjosaeter, K. Hiis Hauge, R. Ingvaldsen, H. Loeng, M. Mauritzen, S. Mehl, G. Ottersen, M. Skogen, dan E. K. Stenevik. 2005. Status Report on the Barents Sea Ecosystem 2004– 2005. Bergen, Norway: Institute of Marine Research (IMR). UNEP-WCMC ((United Nations Environment Program–World Conservation Monitoring Center). 2008. State of the World’s Protected Areas 2007: An Annual Review of Global Conservation Progress. Cambridge, UK: UNEP-WCMC.

Keragaman Hayati dan Layanan Ekosistem dalam Iklim yang Berubah

Vitousek, P. M., H. A. Mooney, J. Lubchenco, dan J. M. Melillo. 1999. “Human Domination of Earth’s Ecosystems.” Science 277 (5325): 494–99. Welch, D. 2005. “What Should Protected Area Managers Do in the Face of Climate Change?” The George Wright Forum 22 (1): 75–93.

WHO dan FAO (World Health Organization dan Food and Agriculture Organization). 2009. “Global and Regional Food Consumption Patterns and Trends.” Dalam Diet, Nutrition and the Prevention of Chronic Diseases. Geneva and Rome: WHO and FAO. World Bank. 2008. The Sunken Billions: The Economic



Justification for Fisheries Reform. Washington, DC: World Bank and FAO. Wunder, S., S. Engel, dan S. Pagiola. 2008. “Taking Stock: A Comparative Analysis of Payments for Environmental Services Programs in Developed and Developing Countries.” Ecological Economics 65 (4): 834–52.



Laporan Pembangunan Dunia 2010

BAB

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

P

erubahan iklim telah memengaruhi alam dan sistem pengelolaannya—hutan, lahan basah, batu karang, pertanian dan perikanan—tempat masyarakat b ergantung untu k mend ap at kan pangan, bahan bakar, serat, dan banyak layanan lainnya. Ini akan menekan lahan pertanian di banyak area, membuatnya lebih sukar untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan pangan dunia. Hal ini menjadikan dunia berhadapan dengan persaingan ketat untuk tanah, air, keragaman hayati, ikan, dan sumber daya alam lainnya. Pada saat yang sama, masyarakat akan berada di bawah tekanan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 30 persen yang

Pesan Kunci Perubahan iklim akan mempersulit produksi pangan untuk populasi dunia yang tumbuh, dan akan mengubah waktu, ketersediaan, dan kualitas sumber daya air. Untuk menghindari pelanggaran pada ekosistem yang sudah tertekan, masyarakat harus menggandakan tingkat pertumbuhan produktivitas pertanian yang sudah ada sembari meminimalisasi kerusakan lingkungan yang menyertai. Hal ini memerlukan usaha keras untuk menyebarkan praktik-praktik yang telah diketahui tetapi diabaikan, mengidentifikasi varietas tanaman pangan yang dapat bertahan terhadap kejutan iklim, meragamkan mata pencaharian di pedesaan, memperbaiki manajemen hutan, dan berinvestasi pada sistem informasi. Negara-negara harus bekerja sama untuk mengelola sumber daya air dan perikanan yang digunakan bersama, serta memperbaiki perdagangan bahan pangan. Mendapatkan kebijakan-kebijakan dasar yang tepat, tetapi teknologi-teknologi dan praktik-praktik baru juga berkembang. Insentif keuangan akan sangat membantu. Beberapa negara mengatur ulang subsidi pertanian mereka untuk mendukung aksi lingkungan, dan kredit masa depan untuk karbon yang disimpan dalam pohon dan tanah yang dapat memberikan keuntungan pada pengurangan emisi dan tujuan konservasi.

3

berasal dari pertanian, penggundulan hutan, perubahan tata guna lahan, dan degradasi hutan. Untuk memenuhi permintaan yang terus berkompetisi dan mengurangi kerent anan terhadap p er ub a han iklim, masyarakat akan perlu lebih menyeimbangkan produksi dari sumber daya alamnya dengan melindungi sumber daya alam tersebut. Hal ini berarti pengelolaan air, tanah, hutan, perikanan, dan keragaman hayati secara lebih efisien untuk memperoleh layanan dan produk yang dibutuhkan oleh masyarakat tanpa merusak sumber daya lebih jauh melalui penggunaan berlebihan, polusi, dan pelanggaran. Air harus digunakan secara lebih efisien. Untuk melakukan itu, para manajer perlu berpikir dalam skala luas melebar serta menemukan caracara yang efisien dan fleksibel untuk mengalokasikan air di antara permintaan kuantitas dan kualitas yang berkompetisi untuk kebutuhan manusia (seperti energi, pertanian, perikanan, dan konsumsi perkotaan) dan untuk ekosistem yang sehat (seperti hutan, lahan basah, dan lautan). Negara-negara juga memerlukan lebih dari sekadar lahan pertanian mereka. Kecepatan penambahan lahan untuk komoditas pertanian utama telah





Laporan Pembangunan Dunia 2010

mengalami penurunan sejak tahun 1960. Negara-negara akan membutuhkan pembalikan kecenderungan ini jika dunia dihadapkan pada kebutuhan pangan dalam menghadapi perubahan iklim. Model bervariasi, tetapi semua m e nu nj u k k a n k e b ut u h a n p a s a r meningkat dalam produktivitasnya. 1 Artinya, penambahan produktivitas tidak dapat membayar tanah, air atau keragaman hayati sebagaimana halnya pada masa lalu. Beberapa negara akan perlu untuk mempercepat riset, memperluas layanan tambahan, dan memperbaiki infrastruktur pasar untuk melemparkan hasil panen di pasar. Akan tetapi, mereka juga perlu memberi insentif kepada para petani untuk mengurangi emisi karbon dari tanah dan deforestasi. Dan mereka juga harus membantu para petani membentengi diri terhadap ketidakpastian iklim dengan mendiversifikasi perolehan sumber daya dan sifat genetik tanaman pangan, mengintegrasikan keragaman hayati ke dalam lanskap pertanian. Menerapkan pelaksanaan cerdasiklim akan bergantung pada pengelolaan keragaman hayati yang lebih baik— mengintegrasikan lingkungan alami ke dalam lanskap kota, melindungi lahan basah, dan memelihara pelayanan penyimpanan air melalui tempat penampung. Negara-negara menggunakan teknik-teknik yang memperbaiki produktivitas tanah dan air secara luas. Akan tetapi inovasi ini akan membawa hasil jika keputusan didasarkan pada analisis intersektoral yang solid dan hanya jika pengguna memiliki insentif yang tepat—berasal dari kondisi kebijakan, institusi, dan pasar. Banyak sumber daya alam melewati batas. Ketika perubahan iklim membuat sumber daya sulit sekali untuk dikelola, dan pertumbuhan populasi menambah

permintaan, negara-negara akan membutuhkan kerja sama lebih intensif untuk mengelola perikanan, kehutanan, dan air internasional. Semua negara akan berubah lebih sering menjadi pasar pertanian internasional dan akan menguntungkan untuk sejumlah nilai perhitungan—dari manajemen persediaan menjadi teknik perolehan yang lebih kompetitif untuk menyesuaikan dan mengelompokkan logistik—yang akan membuat perdagangan pangan lebih dapat dipercaya dan efisien. Per ub a han i k lim juga a kan menempatkan kemewahan informasi mengenai sumber daya alam. Informasi— tradisional dan baru, internasional dan lokal—akan memiliki pembayaran tinggi di bawah berbagai macam variasi dan iklim yang lebih tidak pasti, di mana pemegang keputusan tertinggi dan pengambilan keputusan akan menjadi lebih rumit. Informasi mendukung pengelolaan sumber daya, produksi makanan, dan perdagangan yang lebih baik. Jika masyarakat menghasilkan informasi yang dapat mereka percaya tentang sumber daya mereka dan memberikannya pada orang-orang yang dapat menggunakannya, dari otoritas daerah aliran sungai internasional sampai petani pada lahannya, orangorang ini dapat membuat pilihan yang lebih didasarkan pada informasi. Beberapa solusi ini, konsultasi panjang di dalam literatur sumber daya alam, sangat lambat dalam memperoleh hasil. Akan tetapi tiga faktor baru, seluruhnya berhubungan dengan perubahan iklim, dapat memberikan insentif baru. Pertama, harga pangan diperkirakan akan meningkat sebagai akibat adanya kejutan iklim dan pertumbuhan permintaan. Kenaikan harga pangan mendorong inovasi untuk meningkatkan produktivitas. Kedua, ada kemungkinan untuk memperluas

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

pasar karbon untuk membayar para petani agar menyimpan karbon dalam tanah. Langkah ini akan menciptakan insentif untuk mengonservasi hutan dan mengadopsi teknik pertanian yang lebih berkelanjutan. Teknik-teknik ini belum terbukti pada skala yang diperlukan, tetapi berpotensi besar, dan manfaat tambahannya untuk produktivitas pertanian dan pengurangan kemiskinan merupakan hal yang substansial. Pada harga karbon yang sesuai, pengurangan emisi global dari pertanian dapat setara dengan pengurangan emisi dari sektor energi (lihat Gambaran Umum, Kotak 8).2 Ketiga, negara-negara dapat mengubah cara mereka mendukung pertanian. Negaranegara kaya menyediakan $258 miliar per tahun untuk mendukung pertanian,3 lebih dari setengahnya bergantung hanya pada jumlah tanaman pangan yang diproduksi atau input yang digunakan. Walaupun sulit secara politik, negara-negara akan memulai untuk mengubah peraturan subsidi-subsidi tersebut untuk mendorong implementasi praktik-praktik cerdas iklim pada skala besar. Bab ini pertama kali mendiskusikan apa yang dapat dilakukan untuk mendukung usaha-usaha nasional, yang berfokus pada kerja sama internasional dan local. Kemudian berfokus pada bagaimana insentif dapat berubah untuk mengimbangi penerapan praktikpraktik yang menguntungkan dan membantu masyarakat menyeimbangkan kebutuhan meningkatkan produksi dengan perlindungan yang lebih baik terhadap sumbar daya alami.

Menempatkan dasar untuk pengelolaan sumber daya alamiah Literatur tambahan merekomendasikan penguatan kebijakan dan kondisi institusi yang memengaruhi bagaimana

masyarakat mengelola ekosistem pertanian, akuakultur, dan kesehatan. Beberapa pengukuran dapat menambah produktivitas di semua sektor, saat melindungi kesehatan ekologi jangka panjang. Tidak ada satu pun pendekatan yang berdiri sendiri. Seluruhnya membutuhkan dukungan dari lainnya untuk bekerja secara efektif, dan perubahan suatu apa pun dapat menahan keseluruhan sistem. Beberapa tema yang berulang untuk semua sektor, iklim dan grup pendapatan. • Alat pengambilan keputusan inovatif mengizinkan pengunanya untuk menentukan dampak dari tindakan berbeda pada sumber daya alami. • Penelitian dan pengembangan (R&D) yang menghasilkan teknologi baru dan mengadaptasinya pada kondisi lokal dapat memperbaiki pengelolaan sumber daya, seperti jasa konsultasi (advisory services) yang membantu pengguna mempelajari mengenai pilihan yang tersedia untuk mereka. • Hak milik pribadi memberikan insentif pada penguna untuk melindungi dan menginvestasikannya pada sumber daya mereka. • Penghargaan sumber daya dalam cara yang mencerminkan nilai penuhnya memberikan insentif untuk menggunakannya secara efisien. • Regulasi pasar yang baik sangatlah penting untuk pertanian dan fungsi sumber daya alam; infrastruktur juga sangat penting sehingga produsen dapat mengakses pasar secara langsung. • Institusi yang kuat sangat penting untuk pengaturan dan penegakan hukum. • Informasi, pada semua tingkat, mengizinkan pengguna dan





Laporan Pembangunan Dunia 2010

pengelola untuk membuat pilihan dengan lebih baik. Dasar-dasar ini diterapkan untuk air, pertanian, dan perikanan, seperti yang didiskusikan pada bab ini. Untuk memahami bagaimana kendali memengaruhi insentif komunitas tertentu, seperti petani di dataran aliran sungai Oum Er Rbia di Maroko. Insinyur telah mendesain sistem irigrasi terasering yang mungkin diterapkan akan memperbolehkan para petani untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dari air yang mereka gunakan (dengan meningkatkan panen atau mengganti dengan tanaman bernilai tinggi). Para ekonom telah mengetahui hal itu akan menguntungkan. Para ahli hidrologi telah menghitung seberapa banyak air yang dapat mereka alokasikan dengan aman untuk para petani ini tanpa mengganggu kebutuhan lingkungan. Para ahli sosiologi telah berbicara kepada para petani dan menemukan bahwa 80 persen petani ingin berinvestasi pada teknologi ini. Ahli pemasaran telah berbicara kepada pelaksana pertanian yang ingin membeli tanaman baru. Dan pemerintah berkeinginan membayar pembagian yang lebih besar. Akan tetapi walaupun dengan cara demikian, membuatnya bergerak adalah hal yang sangat sulit. Sangatlah tidak berharga berinvestasi pada hal baru, pipa yang ditingkatkan antara waduk dan lahan, kecuali mayoritas petani akan melakukan irigasi terasering pada lahan mereka. Para petani juga tidak akan meletakkan simpanan pada sistem terasering sampai mereka yakin bahwa pipa-pipa baru akan sungguh-sungguh dipasang dan air akan benar-benar mengalir. Mereka juga membutuhkan informasi bagaimana cara

untuk menggunakan sistem baru. Badan irigasi, didirikan untuk menyediakan layanan konsultasi bagi para petani, bergerak menuju pengontrakan layanan konsultasi menyeluruh untuk badan hukum swasta. Hal ini akan dibutuhkan untuk menemukan, mengontrak, dan mengawasi badan-badan hukum tersebut—tugas yang memerlukan berbagai macam keahlian. Dan para petani akan perlu untuk mempercayai penasihat baru ini. Pilihan para petani terhadap tanaman pangan ditentukan dalam bagian berdasarkan dukungan harga pemerintah untuk gula dan gandum, yang akan mengurangi insentif untuk beralih pada tanaman pangan lain seperti buah-buahan dan sayuran yang bernilai tinggi. Jika perjanjian jual beli internasional membuatnya menjadi lebih mudah untuk menyakinkan pasar yang dipercaya untuk hasil panen baru, para petani mungkin akan membuat pergantian. Akan tetapi tanpa jalan yang bagus, transportasi berpendingin, dan fasilitas pemaketan modern, buahbuahan dan sayuran akan busuk sebelum mencapai tujuannya. Jika pelayanan konsultasi baru berjalan dengan baik, para petani akan belajar bagaimana mereka dapat memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dengan beralih untuk menanam sayuran dan buah-buahan untuk ekspor. Layanan tambahan juga akan membantu mereka untuk mengorganisasi dan berinteraksi dengan pembeli Eropa. Infrastruktur baru (stasiun penimbangan yang andal, fasilitas penyimpan berpendingin) akan membuatnya lebih mudah untuk mengasumsikan risiko dari penggantian tanaman. Jika para petani mendapat informasi yang dapat dipercaya tentang dampak dari aksi mereka pada air bawah

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

tanah, mereka mungkin memutuskan dalam kelompok untuk menggunakan air dengan lebih bertanggung jawab. Jika badan daerah aliran sungai memiliki alat perencanaan baru, badan tersebut dapat mengalokasikan air secara lebih efektif melintasi perbedaan prioritas pengguna. Di dalam inisiatif baru jangka panjang yang menetapkan harga baru karbon tanah atau mengubah alokasi air memungkinkan tersedianya insentif bagi para petani untuk menanam tanaman pangan menggunakan teknik pengelolaan tanah yang berbeda. Setiap tahap dalam proses adalah mungkin, dan dalam pelaksanaan jangka panjang akan menguntungkan setiap pemain. Tantangan datang dalam mengoordinasikan segala usaha melintasi berbagai institusi dan ketahanan untuk melihat semuanya pada jangka waktu yang lama. Sumber daya alam tidak dapat dikelola secara terpisah, khususnya dengan perubahan iklim. Cara baru dibutuhkan untuk menempatkan air, pertanian, hutan dan perikanan ke dalam konteks yang lebih luas dengan jaring keluaran yang terkait. Dalam komunitas yang sama, para petani telah memulai mengontrol penggunaan pupuk mereka untuk melindungi ekosistem perairan, dan para pengelola perikanan m e mp e r t i m b a n g k a n b a g a i m a n a mengatur pembatasan penangkapan untuk satu spesies akan memengaruhi lainnya. Alat pengelolaan ini akan muncul dengan berbagai variasi nama: pengelolaan berbasis ekosistem, pengelolaan kesuburan tanah yang terintegrasi, manajemen adaptif, adalah beberapa nama di antaranya. Akan tetapi, semuanya membagi kunci utama: mereka mengoordinasikan jangkauan variabel yang lebih luas (lanskap yang

lebih luas, kerangka waktu yang lebih lama, dan pembelajaran berdasarkan pengalaman) dibandingkan dengan melakukan pendekatan tradisional. Dan mereka menekankan pada kebutuhan informasi yang dapat dipercaya tentang sumber daya yang dikelola untuk menyakinkan bahwa rekomendasinya akurat, lokasi spesifik, dan dapat beradaptasi terhadap perubahan kondisi. Dengan meningkatkan ketahanan, perubahan iklim akan membuat respons ekosistem menjadi kurang dapat terprediksi; pengelolaan sumber daya akan perlu berhadapan dengan ketidakpastian rencana yang kuat yang mempertimbangkan potensi keluaran dari sederet tindakan yang didasarkan pada berbagai macam kondisi. Pengelolaan adaptif (seperti yang dijabarkan pada Bab 2) akan perlu untuk diterapkan di semua level pengelolaan sumber daya. Petani perseorangan dapat mengawasi tanah mereka dalam menyesuaikan pemakaian pupuk pada tanah lokal, air, iklim, dan kondisi tanaman pangan tanpa merusak ekosistem. Komunitas pedesaan dapat menyesuaikan pilihan tanaman mereka dengan jumlah air yang dapat mereka ambil secara aman dari air bawah tanah tahun demi tahun, dan kembali untuk menggunakan lapisan air bawah tanah hanya sebagai jaminan melawan kekeringan. Dan pembuat kebijakan dapat menggunakan alat pengambil keputusan yang tangguh untuk membuat perjanjian internasional yang lebih berketahanan dalam hal berbagi sumber daya. Bab ini menawarkan kekhususan dalam pengaplikasian alat baru dan teknologi untuk mengelola air, pertanian, dan perikatan serta menyokong pendekatan sistem yang meluas untuk menghadapi perubahan



0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Figur 3.1 Perubahan iklim pada daerah aliran sungai yang khusus akan terasa pada siklus hidrologi Hujan yang lebih lebat meningkatkan erosi, pengendapan lumpur, dan tanah longsor. Hidrologi hutan berubah, mengakibatkan Suhu yang meningkat memengaruhi hilangnya keragaman hutan. kerugian akibat penguapan, meningkatkan permintaan air untuk Suhu yang lebih tinggi meningkatkan tanaman pangan. penguapan dari badan air dan dari Permintaan tenaga air yang tanah. meningkat. Memengaruhi waktu ketersediaan air di Produksi biofuel yang lebih daerah hilir. banyak meningkatkan permintaan air untuk pertanian.

Keekstreman yang lebih tinggi pada ketersediaan air (aliran air yang rendah dan banjir yang lebih sering) memengaruhi penyediaan air pendingin untuk stasion pembangkit tenaga. Kota-kota di tepi pantai rentan terhadap banjir, badai, dan peningkatan permukaan air laut. Peningkatan pada permukaan yang diaspal mempercepat limpasan dan mengurangi kemampuan pengisian akuifer. Menumbuhkan permintaan akan sumber daya.

AQUIFER Peningkatan suhu menyebabkan lebih banyak kehilangan karena evaporasi, meningkatkan permintaan air untuk pertanian. Perubahan musim tanam. Kekeringan yang lebih sering.

Hujan yang lebat dan jarang terjadi mengurangi Kompetisi dalam konsentrasi kemampuan pengisian polusi air meningkat. akuifer.

Akuifer pantai rentan terhadap intrusi air laut.

Meningkatkan persaingan air menyebabkan pengeringan lahan basah. Perubahan suhu, ketersediaan air, dan konsentrasi polusi memengaruhi ekosistem perairan.

Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia dalam World Bank, akan terbit d; Bates dkk. 2008.

iklim pada tiga sektor tersebut.

Memproduksi lebih dari air dan melindunginya lebih baik Perubahan iklim akan membuatnya menjadi lebih sulit untuk mengelola air di dunia Penduduk akan merasakan banyak efek dari perubahan iklim melalui air. Keseluruhan siklus air akan terpengaruh (Figur 3.1). Pada saat dunia secara keseluruhan akan menjadi lebih basah sebagai akibat percepatan pemasanan pada siklus hidrologi, pertambahan penguapan akan menyebabkan kondisi kekeringan menjadi lebih lazim terjadi

(Peta 3.1). Kebanyakan tempat akan mengalami curah hujan yang lebih sering dan bervariasi, sering disertai periode kering yang lebih panjang di antaranya (Peta 3.2). 4 Efeknya pada aktivitas manusia dan sistem alam akan menjadi lebih meluas. Area yang sekarang bergantung pada gletser dan pelelehan salju akan memiliki air segar lebih pada awalnya, tetapi suplai akan terus menurun seiring waktu.5 Pergeseran mungkin akan menjadi lebih cepat dan tidak terprediksi sehingga pertanian tradisional dan praktik pengelolaan air menjadi tidak berguna. Hal ini telah menjadi masalah bagi komunitas

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam



Peta 3.1 Ketersediaan air diproyeksikan untuk berubah secara dramatis pada pertengahan abad ke-21 di banyak bagian dunia

Perubahan pada rata-rata limpasan tahunan (persen)

< –30

–30 – –15

–15 – –5

5 –15

15 – 30

> 30

Tidak ada data 2/3 model menyetujui

–5 – 5

Sumber: Milly dkk. 2008; Milly, Dunne, dan Vecchia 2005. Catatan: Warna menunjukkan persentase perubahan pada rata-rata limpasan tahunan (didasarkan pada nilai tengah 12 model iklim global menggunakan scenario IPCC SRES A1B) dari 2041–2060 dibandingkan dengan 1900–1970. Warna putih menunjukkan daerah di mana kurang dari dua pertiga model menyetujui bahwa limpasan mungkin akan meningkat atau menurun. Limpasan setara dengan curah hujan dikurangi penguapan, tetapi nilai yang ditunjukkan di sini adalah rata-rata tahunan, yang dapat menutupi variabilitas musiman curah hujan seperti pada peningkatan baik banjir maupun kekeringan.

pedalaman di Cordillera Blanca di Peru, di mana petani-petani menghadapi semacam perubahan yang cepat sehingga praktik tradisional mereka mengalami kegagalan. Pemerintah dan ilmuwan mulai bekerja sama dengan mereka untuk mencoba menemukan solusi baru.6 Penambahan pengetahuan tentang air di dunia akan memperbaiki pengelolaan. Untuk mengelola sumur mata air, menjadi hal yang penting untuk mengetahui seberapa banyak air yang tersedia di segala cekungan dan digunakan untuk apa. Hal ini mungkin terdengar lugas, tetapi sebenarnya tidak. Pernyataan Laporan Pengembangan Air Dunia PBB: “Sedikit negara mengetahui seberapa banyak air yang digunakan dan untuk tujuan apa, kuantitas dan kualitas

air yang tersedia dan dapat diambil tanpat menimbulkan konsekuensi lingkungan yang serius, dan seberapa banyak dapat diinvestasikan pada infrastruktur air. 7 Perhitungan air amatlah rumit. Definisi dan metode sangat beragam, dan kebingungan adalah hal yang biasa. Misalnya, Institut Pasifik menempatkan sumber daya air terbarukan tahunan negara Republik Arab di Mesir di tahun 2007 pada 86,8 kubik kilometer, di mana laporan Earthtrends melaporkan 58 kubik kilometer. Kedua laporan tersebut menyebutkan sumber informasi yang sama. Kebingungan yang muncul dari perbedaan interpretasi terhadap istilah use—penggunaan (gambar atas mencakup penggunaan ulang air di dalam Mesir, sedangkan gambar bawah tidak mencakupnya).8 Planet ini mengandung jumlah air



Laporan Pembangunan Dunia 2010

Peta 3.2 Dunia akan mengalami baik kejadian kekeringan yang lebih lama maupun hujan yang lebih sering a. Musim kering yang lebih lama

Perubahan hari-hari kering yang berurutan (jumlah hari) < –20

–20 – –10

–10 – –5

–5 –0

0–5

5 –10

10 –20

> 20

2/3 model menyetujui

b. Hujan yang lebih sering

Perubahan intensitas hujan (persen perubahan dalam indeks harian sederhana, simple daily intensity index—SDII) < –15

–15– –10

–10 – –5

–5 –0

0–5

5–10

10 –15

> 15

2/3 model menyetujui

Sumber: The World Climate Research Program CMIP3 Multi-model Database (http://www-pcmdi.llnl.gov/ipcc/about_ipcc.php). Analisis oleh World Bank. Catatan: Peta menunjukkan perubahan nilai tengah (berdasarkan 8 model iklim menggunakan SRES A1B) pada nilai tahunan di 2030–2049, dibandingkan dengan 1980–1999. Hari “kering” didefinisikan sebagai hari dengan curah hujan kurang dari 1 milimeter sementara hari “hujan” mempunyai curah hujan lebih dari 1 milimeter. Intensitas curah hujan (SDII, atau simple daily intensity index) adalah total curah hujan yang diproyeksikan dibagi dengan jumlah hari-hari “hujan.” Area putih menunjukkan area dengan ketidaksetujuan model yang tinggi (kurang dari 2/3 model menyetujui tanda-tanda perubahan).

yang tetap, dengan bentuk dan lokasi yang beranekaragam sepanjang ruang dan waktu.9 Manusia memiliki sedikit

kontrol atas sebagian besar jumlah itu—air asin di lautan, air tawar di gletser, air di atmosfer. Banyak investasi

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam



Figur 3.2 Air bersih di sungai-sungai merupakan sebagian kecil air yang tersedia pada planet ini—dan pertanian mendominasi penggunaan air Sumber daya air bersih di dunia Pelelehan salju abadi 0,8% Air tanah 30,1%

Lautan 97,5%

Vegetasi 1%

Atmosfer 9,5%

Permukaan dan atmosfer 0,4%

Air bersih 2,5%

Lahan basah 8,5%

Kelembapan tanah 12,2% Sungai 1,6%

Danau air tawar 67,4% Pemisahan air berdasarkan sektor (sungai, danau, dan air tanah) Pembangkit tenaga 10–11%

Penggunaan konsumtif air yang dipisahkan berdasarkan sektor Keperluan industri dan domestik 7%

Domestik dan industri lain 19–20%

Sungai, danau, dan air tanah

Penguapan dari penampungan air 3–4% Pertanian 67–68%

Pertanian 93%

Sumber: Shiklomanov 1999; Shiklomanov dan Rodda 2003, Vassolo dan Döll 2005. Catatan: Ketika manusia memanfaatkan air, mereka memengaruhi kuantitas, waktu, atau kualitas air yang tersedia untuk pengguna lainnya. Air untuk keperluan manusia khususnya melibatkan pengambilan air dari danau, sungai, atau air bawah tanah dan juga mengonsumsinya sehingga masuk kembali ke atmosfer sebagai bagian dari siklus hidrologi atau mengembalikannya ke cekungan hidrologi. Ketika irigasi tanaman pangan memerlukan air, termasuk dalam penggunaan konsumtif—menjadi tidak tersedia di manapun di sekitar cekungan tersebut. Kebalikannya, pelepasan air dari dam untuk menggerakkan turbin hidroelektrik merupakan keperluan nonkonsumtif karena air tersedia untuk pengguna di daerah hilir tetapi tidak mendesak pada waktu yang tepat. Pengambilan oleh kota untuk suplai ibu kota umumnya nonkonsumtif, tetapi jika pengembalian air dilakukan tanpa perlakuan, kualitas air di daerah hilir akan terpengaruh.

dikonsentrasikan pada air di sungai dan danau, tetapi kelembapan tanah dan air bawah tanah bersamaan bertanggung jawab pada 98 persen ketersediaan air bersih dunia (Figur 3.2).10 Banyak penduduk khawatir mengenai seberapa banyak air minum yang tersedia, tidak menyadari bahwa pertanian mendominasi penggunaan air manusia. Setiap hari, satu orang meminum 2−4 liter air tetapi memakan makanan yang membutuhkan 2.000−5.000 liter air untuk memproduksinya.11 Rata-rata ini menutupi variasi yang dipertimbangkan. Di beberapa cekungan, industri dan perkotaan mendominasi penggunaan, dan lebih banyak cekungan akan

mengalami situasi yang sama jika dihadapkan dengan pertumbuhan kota.12 Perubahan iklim akan mengurangi simpanan air alami dari salju dan gletser, yang akan memengaruhi simpanan akuifer dan memerlukan pengelolaan air untuk merancang dan mengoperasikan penampungan air dengan cara berbeda. Pengelola air harus mengelola siklus air secara keseluruhan. Mereka tidak lagi dapat mengusahakan untuk berkonsentrasi pada bagian kecil air di sungai dan danau dan meninggalkan air tanah serta kelembapan tanah untuk dikelola oleh pemilik tanah. Banyak cekungan akan



Laporan Pembangunan Dunia 2010

mengalami permintaan yang meningkat, ketersediaan yang berkurang, dan variabilitas yang meningkat, semuanya pada saat yang sama. Pengelola air di tempat itu akan lebih tidak memiliki ruang untuk bermanuver jika keputusan mereka tidak tangguh terhadap keluaran yang bervariasi. Alat-alat tersedia untuk membantu masyarakat menangani perubahan ini. Alat-alat itu mencakup perubahan kebijakan untuk protokol pengambilan keputusan, dari teknik koleksi data ke desain infrastruktur baru. Efek perubahan iklim pada pola hidrologi berarti bahwa masa lampau tidak lagi dapat digunakan sebagai panduan untuk kondisi hidrologi masa depan. Jadi, seperti pengelola sumber daya alam lainnya, ahli teknik air akan mengembangkan alat baru yang mempertimbangkan dampak yang mencakup sejumlah skala dan kerangka waktu untuk membantu mengevaluasi

KOTAK 3.1.

perdagangan dan membuat pilihan tangguh untuk ketidakpastian masa depan (Kotak 3.1).13

Perubahan iklim akan membuat penerapan dan penegakan kebijakan-kebijakan air yang baik menjadi lebih penting Pengalokasian air secara efisien dan pembatasan konsumsi air sampai tingkat aman akan menjadi semakin penting dengan perubahan iklim. Ketika air menjadi langka, individu pengguna dapat mengambil lebih banyak, membuat air menjadi tidak tersedia untuk lainnya atau merusak ekosistem dan pelayanan yang mereka sediakan. Ketika konsumsi di cekungan melampui kandungan ketersediaan air, pengguna harus lebih sedikit menggunakan, dan air harus lebih dibagi berdasarkan suatu proses atau prinsip. Pembuat kebijakan memiliki dua pilihan: mereka dapat memilih untuk mengatur dan menetapkan jumlah

Pembuatan keputusan yang kokoh: Mengubah bagaimana pengelola air menjalankan bisnis

Pembuatan keputusan tradisional yang berada di bawah ketidakpastian menggunakan distribusi peluang untuk merangking pilihan yang berbeda untuk tindakan, berdasarkan cakupan risiko di masa lalu. Namun, pendekatan ini tidak mencukupi ketika para pengambil keputusan tidak mengetahui atau tidak menyetujui bagaimana tindakan berkaitan dengan konsekuensi, bagaimana berbedanya sebuah kejadian, atau bagaimana hasil yang berbeda dievaluasi. Seperti yang ditunjukkan pada Bab 2, pengambilan keputusan yang kokoh merupakan sebuah alternatif. Strategi yang tangguh adalah yang mempunyai kinerja lebih baik dibandingkan dengan alternatif pada semua rentang luas kondisi masa depan yang memungkinkan. Dtrategi-srategi tersebut diturunkan dari model simulasi komputer yang tidak memprediksi masa depan tetapi menciptakan kumpulan yang lebih besar dari masa depan yang memungkinkan untuk mengidentifikasi calon strategi tangguh dan

penilaian kinerjanya secara sistematik. Proses tidak memilih solusi optimal; hanya; menemukan strategi yang meminimalkan kerentanan terhadap jangkauan risiko yang mungkin. Inland Empire Utilities Agency Kalifornia Selatan telah menggunakan teknik ini untuk merespons efek perubahan iklim dalam pengelolaan air perkotaan jangka panjang. Pertama, badan tersebut menurunkan kemungkinan proyeksi iklim regional dengan mengombinasikan hasil dari 21 model iklim. Dipasangkan dengan model simulasi pengelolaan air, ratusan skenario mengeksplorasi asumsi tentang perubahan iklim masa depan, kuatitas dan ketersediaan air bawah tanah, pembangunan perkotaan, biaya-biaya program, dan biaya impor air. Kemudian badan tersebut menghitung nilai sekarang biaya-biaya dari cara-cara yang berbeda untuk memasok air dengan 200 skenario. Mereka menolak strategi apa pun di atas $3,75 miliar selama 35 tahun. Analislis skenario penemuan menyimpulkan

bahwa biayanya tidak dapat diterima jika ada tiga hal yang terjadi bersamaan: penurunan curah hujan yang besar, perubahan besar pada harga air impor, dan pengurangan tapisan alami ke dalam cekungan air bawah tanah. Tujuan dalam pemrosesan adalah mengurangi kerawanan badan jika tiga hal tersebut yang terjadi dalam waktu yang bersamaan. Badan mengidentifikasikan pengelolaan baru yang merespons termasuk peningkatan efisiensi penggunaan air, penangkapan lebih banyak air badai untuk pengisian ulang air tanah, daur ulang air, dan mengimpor lebih banyak air selama masa musim penghujan sehingga pada musim kering lebih banyak air bawah tanah yang dapat diambil. Badan menemukan bahwa jika semua tindakan tersebut dapat ditangani, maka biaya yang diperlukan tidak akan pernah lebih dari kisaran $3,75 miliar. Sumber: Groves dkk. 2008; Groves dan Lempert 2007; Groves, Yates, dan Tebaldi 2008.

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

tetap untuk pengguna spesifik, atau mereka dapat menggunakan harga untuk mendorong pengguna untuk memotong kembali dan bahkan memperdagangkan di antara mereka sendiri. Cara lainnya adalah perancangan dan penetapan kebijakan yang baik membutuhkan informasi akurat dan institusi yang kuat. Alokasi kuantitatif merupakan hal yang paling umum, dan sulit untuk melakukannya dengan baik. Afrika Selatan mempunyai salah satu skema yang paling canggih, walaupun masih dalam taraf pelaksanaan. Perjanjian Nasional Air pada tahun 1998 (1998 National Water Act) menyatakan secara spesifik bahwa air merupakan aset umum dan tidak dapat diprivatisasikan kepemilikannya. 14 Semua pengguna harus terdaftar dan melisensikan penggunaannya dan membayarnya, termasuk sungai atau air tanah yang diambil menggunakan biaya sendiri. Aktivitas pengurangan aliran sungai merupakan kategori penggunaan air, yang berarti bahwa pemilik perkebunan hutan harus mendaftar untuk perizinan seperti halnya para pembuat irigasi atau utilitas air perkotaan. Hanya peerkebunan hutan yang telah sangat dikategorikan sebagai aktivitas pengurangan aliran sungai, tetapi pertanian tadah hujan atau teknik pemanenan air dapat mengikutinya. Memperhitungkan hutan sebagai pengguna air membuat penggunaan lahan bersaing secara jujur dengan pengguna air lainnya. Satu-satunya hak jaminan untuk air adalah untuk cadangan ekologi dan memastikan bahwa setiap orang memiliki setidaknya 25 liter per hari untuk kebutuhan dasar manusia.15 Air hampir seluruh dihargai di bawah nilainya, memberikan pengguna sedikit insentif untuk menggunakannya

secara efisien. 16 Literaturnya tidak dikenal secara virtual dalam penyebutan instrumen ekonomi untuk mengurangi permintaan.17 pengenaan biaya untuk layanan air (irigasi, air minum, pengumpulan dan pengolahan limbah cair) dapat mengembalikan biaya penyediaan layanan dan perawatan infrastruktur.18 Aturan pemberian harga untuk memengaruhi permintaan bervariasi untuk berbagai macam tipe penggunaan air. Untuk air umum, pemberian harga cenderung menjadi efektif mengurangi p e r m i n t a a n , k h u s u s ny a k e t i k a dikombinasikan dengan pengguna yang berada di luar jangkauan. Ketika harga tinggi, banyak fasilitas umum dan pengguna memperbaiki kebocoran dan menggunakan hanya apa yang mereka butuhkan saja. 19 Akan tetapi karena perhitungan rerata konsumsi perkotaan sekitar 20 persen dari penyerapan air, efek dari keseluruhan penggunaan dibatasi (Figur 3.2). Dan karena penggunaan untuk kepentingan umum pada dasarnya bersifat nonkonsumtif, dampak dari pengurangan penggunaan di kota-kota mempunyai sedikit efek untuk meningkatkan ketersediaan air di manapun di sekitar cekungan air. Untu k i r i g a s i , p e n g g u n a a n konsumtif, pemberian harga menjadi lebih rumit. Pertama, jumlah air sebenarnya yang dikonsumsi menjadi lebih sulit terukur. Kedua, pengalaman menunjukkan bahwa petani tidak mengurangi konsumsi hingga harga beberapa kali dari biaya penyediaan layanan. Namun demikian, banyak negara menyatakan bahwa hal tersebut tidak dapat diterima secara politik untuk mengenakan biaya lebih dari yang diperlukan untuk menutup biaya operasional. Ketiga, peningkatan yang terlalu tajam pada harga air permukaan





Laporan Pembangunan Dunia 2010

akan mendorong petani manapun yang dapat mengebor sampai akuifer untuk mengganti air tanah, menggeser tetapi tidak menghilangkan masalah penggunaan berlebih. Pada banyak negara atau pemilik lain air mengenakan biaya pada utilitas kota atau badan-badan pengairan untuk air yang diambil dari sungai atau akuifer. Hal ini dikenal sebagai bulk water. Untuk alasan politis dan teknis, beberapa negara mengenakan cukup biaya untuk bulk water untuk memengaruhi cara sumber daya dialokasikan di antara pernggunaan yang bersaing.21 Sesungguhnya, tidak ada satu negara pun mengalokasikan air permukaan dengan suatu harga,22 walaupun Australia melakukan langkah seperti system tersebut.23 Walau jauh dari gerak maju langsung, kuota tetap dalam kombinasi kuantitas dari air permukaan dan air tanah yang dialokasikan untuk irigasi, atau, lebih baik, sejumlah air yang sebenarnya dikonsumsi (evapotranspirasi), terlihat lebih realistis secara politis dan administrasi daripada memberikan harga untuk pembatasan penggunaan yang berlebihan.24 Hak perdagangan air dapat memperbaiki pengelolaan air dalam jangka panjang tetapi bukan pilihan yang realistis untuk jangka pendek di sebagian besar negara berkembang. Hak perdagangan memiliki potensi besar untuk membuat alokasi air menjadi lebih efisien dan untuk mengompensasi masyakat yang melupakan penggunaan air mereka.25 Skema hak perdagangan air formal telah ada di Australia, Chili, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat bagian barat. Di Australia, evaluasi mengindikasikan bahwa hak perdagangan telah menolong para petani bertahan terhadap kekeringan dan menstimulasi inovasi serta investasi

tanpa campur tangan pemerintah. Namun, detail dari rancangan secara hebat memengaruhi kesuksesan dari kerja sama, dan pendirian institusi yang dibutuhkan adalah proses yang panjang. Ini memerlukan berdekadedekade untuk membangun kapasitas di Australia, negara dengan sejarah panjang tata kelola pemerintahan yang baik, di mana pembelinya dididik dan dibiasakan untuk mematuhi peraturan, dan di mana aturan pengalokasian tersedia secara meluas dan ditetapkan sebelum sistem hak diciptakan.26 Negara-negara yang mengizinkan perdagangan air ketika mereka tidak memiliki kemampuan secara lembaga untuk menetapkan kuota yang disepakati oleh setiap pengguna cender ung untuk mening kat kan pengambilan secara berlebihan secara perkiraan (Kotak 3.2). Perubahan iklim, yang membuat masa depan sumber daya air menjadi kurang terprediksi, merumitkan tugas yang telah menjadi tantangan dari penetapan hak perdagangan air.27 Bahkan di dalam iklim yang stabil, lembaga yang telah berpengalaman menyatakan kesulitannya untuk menentukan dalam kemajuan seberapa banyak air yang aman untuk dialokasikan pada berbagai pengguna, dan bagaimana banyak yang seharusnya diatur berdampingan untuk tujuan lingkungan. 28 Dengan tidak memperhitungkan penggunaan pasti (seperti perkebunan hutan dan vegetasi alami) dengan benar atau untuk perubahan dalam perilaku pengguna, skema di Australia dan Chili menentukan hak untuk air lebih banyak daripada yang sebenarnya tersedia. Negaranegara tersebut harus mengalami proses yang sulit untuk menentukan kembali atau mengurangi alokasi.29 Pengaturan pasar yang baik untuk menetapkan kuantitas air merupakan tujuan jangka

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

KOTAK 3.2.



Bahaya dari penetapan pasar untuk hak air sebelum institusi tersedia

Tinjauan ulang berdasarkan pengalaman Australia menghasilkan bahwa “dengan keuntungan dari pemahaman situasi dan pengalaman yang berkembang, menjadi jelas bahwa…hal ini penting untuk mengikuti beberapa rancangan persoalan. Perdagangan air akan sukses tanpa mendua jika dan hanya jika alokasi dan rezim pengelolaan dirancang untuk perdagangan dan digabungkan dengan pengaturan tata kelola permerintahan mencegah terjadinya alokasi berlebihan. Perlawanan terhadap pembangunan pasar tanpa memperhatikan detail rancangan telah dijelaskan.” Perharian rancangan menyertakan perhitungan (penilaian yang sesuai dari permukaan dan bawah tanah yang berhubungan, perencanaan pergeseran iklim menjadi kondisi yang lebih kering, dan perluasan konsumsi dengan perkebunan hutan karena subsidi publik), dan permasalahan institusi (perancangan

panjang, tetapi sebagian besar negara berkembang perlu untuk mengambil sejumlah langkah penting sementara sebelum menerapkan suatu sistem.30 Perubahan iklim akan membutuhkan penginvestasian pada teknologi baru dan perbaikan aplikasi dari teknologi yang sudah ada Penyimpanan air dapat membantu meningkatkan variabilitas. Penyimpanan di sungai, danau, tanah, dan akuifer menjadi aspek kunci strategi apa pun untuk mengelola variabilitas— baik untuk kekeringan (penyimpanan air untuk dipakai pada musim kering) dan banjir (menjaga kapasitas penyimpanan tersedia untuk aliran berlebih). Oleh karena perubahan iklim akan mengurangi penyimpanan alami dalam bentuk es dan salju dan juga akuifer (dengan mengurangi pengambilan ulang), banyak negara akan membutuhkan tambahan penyimpanan buatan. Pe r e n c a n a a i r a k a n p e r l u

peraturan dan badan terpisah untuk menentukan penetapan, mengelola alokasi, dan mengendalikan penggunaan air; mengembangkan pendaftaran yang akurat di awal proses; memperbolehkan air yang tidak digunakan dijual tahun demi tahun, membangun industri makelar swasta; dan menyakinkan aliran informasi secara teratur untuk seluruh bagian). Beberapa negara telah melakukan pengaturan perdagangan air informal jangka panjang. Salah satunya yang masih bekerja didasarkan pada praktik umum. Para petani di Bitit, Maroko, sebagai contoh, telah berdagang air selama puluhan tahun, berdasarkan aturan penetapan oleh praktik umum. Sistem beroperasi dari daftar rinci yang tersedia untuk seluruh komunitas di mana diidentifikasikan untuk setiap pengelola dan jumlah spesifik air untuk masingmasing juga ditentukan, ditunjukkan dalam jam aliran.

Skema yang memperbolehkan perdagangan dalam ketiadaan hak air yang ditetapkan dan dejalankan dapat memperburuk eksploitasi berlebihan. Para petani di dekat kota Ta’iz, Republik Yaman, menjual air tanah mereka kepada tanker yang menyuplai kotakota. Sebelum pasar ini dibentuk, para petani mengambil air dari akuifer sejumlah yang dibutuhkan oleh tanaman mereka. Dengan meningkatkan harga per unit air, penjualan meningkatkan keuntungan menggunakan air tanah. Dan karena pengambilan air dari sumur oleh para belum terkontrol, tidak ada batasan jumlah air yang boleh diambil. Hasilnya, pasar yang tidak dikendalikan mempercepat habisnya akuifer.

Sumber: CEDARE 2006; World Bank 2007b, Young dan McColl, akan terbit.

mempertimbangkan pilihan penyimpanan di seluruh lanskap. Air yang disimpan dalam tanah dapat digunakan secara lebih efektif dengan mengelola tutupan lahan, terutama dengan memperbaiki produktivitas pertanian tadah hujan. Pengelolaan air tanah telah menantang, akan menjadi lebih penting karena air permukaan menjadi kurang dapat diandalkan. Air tanah merupakan sebuah bantalan untuk menghadapi persediaan umum yang tidak dapat diandalkan dan curah hujan. Sebagai contoh, air tanah memasok 60 persen pertanian teririgrasi dan 85 persen air minum perkotaan di India seperti setengah air minum yang diterima keluarga di Delhi. Jika dikelola dengan baik, air bawah tanah dapat terus berfungsi sebagai penyangga alami. Akan tetapi hal ini jauh dari pengelolaan yang baik. Di wilayah kering di seluruh dunia, akuifer telah dieksploitasi berlebihan. Lebih dari seperempat hasil panen pertanian tahunan di India telah diperkirakan berada dalam risiko disebabkan penipisan air



Laporan Pembangunan Dunia 2010

tanah.31 Pe r b a i k a n p e n g e l o l a a n a i r tanah membutuhkan tindakan untuk menambah baik pengisian ulang suplai (pengisian ulang buatan, pengisian ulang alami yang dipercepat, penghalang di antara akuifer untuk memperlambat aliran bawah tanah) dan permintaan. Dan air tanah tidak dapat dikelola sendiri—harus diintegrasikan dengan peraturan air permukaan. 32 Teknik penambahan suplai tidak dapat secara langsung. Sebagai contoh, pengisian ulang buatan dibatasi penggunaannya ketika air dan lokasi penyimpanan akuifer yang sesuai tidak berada pada tempat yang sama dengan akuifer yang melebihi tekanan; 43 persen dari alokasi pendanaan untuk program pengisian ulang buatan sebesar 6 miliar dollar di India tampaknya dihabiskan untuk pengisian ulang akuifer yang tidak tereksploitasi berlebihan. Waduk akan menjadi bagian penting dari sejarah perubahan iklim dan air. Dan waduk-waduk tersebut akan perlu untuk didesain dengan fleksibilitas buatan untuk menghadapi potensi perubahan curah hujan dan limpasan pada cekungan. Banyak dari lokasi terbaik untuk waduk telah dieksploitasi, namun demikian potensi untuk waduk baru telah ada, khususnya di Afrika. Jika dikelola dengan baik, waduk menyediakan tenaga hidro dan perlindungan menghadapi kekeringan dan banjir. Analisis menyeluruh dari dampak ekonomi waduk amat jarang, tetapi studi empat kasus mengindikasikan efek positif langsung terhadap ekonomi dan banyak efek tidak langsung, dengan rakyat miskin mempunyai keuntungan yang kadang tidak proposional.34 Waduk tertinggi Aswan di Mesir, misalnya, telah menghasilkan keuntungan bersih pada perekonomian tahunan yang

sebanding dengan 2 persen pendapatan domestik bruto (PDB).35 Bendungan ini menghasilkan 8 miliar kilowatt jam energi, cukup untuk memberikan listrik ke seluruh kota dan desa di negara itu. Bendungan ini juga mengizinkan perluasan pertanian dan pelayaran setahun penuh (menstimulasi investasi di semenanjung Nil) dan menyelamatkan panen dan infrastruktur negara dari kekeringan dan banjir. Akan tetapi waduk juga memiliki dampak negatif yang telah diketahui dengan baik,36 dan perdagangan perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Perubahan iklim mengutamakan pengidentifikasian desain yang kuat: di mana negara berhadapan dengan ketidakpastian baik tentang kemungkinan curah hujan yang meningkat atau menurun, akan menjadi lebih efektif biaya jika membangun struktur yang dirancang dengan spesifik untuk diubah di masa depan. Seperti sistem hidrolik yang semakin kompleks, negara-negara membutuhkan hidrologi yang solid, analisis operasional, ekonomi, dan finansial serta semakin banyak lembaga yang berwenang (Kotak 3.3). Teknologi nonkonvensional dapat menambah ketersediaan air di beberapa daerah langka air. Ketersedian air dapat ditingkatkan dengan mendesalinitas air laut atau air payau dan menggunakan ulang air limbah. Desalinitas, di mana diperhitungkan kurang dari 0,5 persen dari penggunaan keseluruhan air di tahun 2004,37 ditetapkan penggunaannya secara lebih luas. Pengembangan teknik, termasuk penyaring energi efisien, menyebabkan harga desalinisasi menurun, dan skema percobaan memulai pembangkit tenaga desalinitas dengan energi terbarukan.38 Bergantung pada skala pembangkit dan teknologi, air desalinitas dapat diproduksi

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

KOTAK 3.3



Pengelolaan sumber daya air dalam batas kesalahan: Tunisia

Tunisia adalah contoh yang bagus dari permintaan pengelola air di negara yang mendekati batas sumber dayanya. Dengan hanya 400 kubik meter sumber daya terbarukan per kapita, yang sangat bervariasi dan terdistribusi tidak merata sepanjang waktu dan ruang, Tunisia memiliki tantangan besar dalam pengelolaan airnya. Namun, kontras dengan tetangganya Maghreb, yang telah menahan kekeringan yang berturut-turut tanpa merasio air kepada petani atau menyimpannya untuk memasok kota dari kapal. Waduk dibangun dengan maksud untuk

dan dikirimkan ke prasarana untuk sekurangnya $0.50 per meter kubik. Ini menjadi lebih mahal daripada sumber konvensional ketika sumber air bersih tersedia.39 Oleh karena itu, air desalinitas biasanya sangat bermanfaat hanya untuk penggunaan bernilai tertinggi, seperti persediaan air perkotaan atau resor turis.40 Ini juga cenderung untuk dibatasi pada area pantai, karena distribusi daratan dari air desalinitas menambah pembiayaan.41 Menghasilkan tambahan makanan tanpa tambahan air tidaklah mudah, tetapi beberapa pendekatan baru akan membantu. Mengelola air untuk memenuhi kebutuhan masa depan akan melibatkan pembuatan penggunaan air menjadi lebih efisien, sebagian pada pertanian, dengan perhitungan sekitar 70 persen dari air bersih yang diambil dari sungai dan air bawah tanah (Figur 3.2).42 Hal ini tampak memperjelas penambahan produktivitas air di pertanian yang membutuhkan air, yang menyediakan kehidupan untuk sebagian besar kemiskinan di dunia, menghasilkan setengah dari nilai bersih hasil panen dunia, dan dihitung untuk 80 persen penggunaan air hasil penanaman

menghubungkan dan mengalirkan air di antara area yang berbeda di Negara tersebut. Sebagai skema yang paling menjanjikan yang telah dibangun, pemerintahan membangun infrastruktur tambahan untuk area pinggiran. Sungai yang mengalir ke laut telah terbendung walaupun kebutuhan air pada cekungan ini tidak banyak. Air simpanan dapat dipompa melintasi pegunungan menuju cekungan sungai utama negara. Air baru meningkatkan pasokan suplai dan menipiskan salinitas pada daerah yang permintaan airnya paling tinggi. Sebagai

tambahan, Tunisia mengelola dan menggunakan ulang sepertiga limbah cair perkotaan untuk pertanian dan lahan basah, dan mengganti akuifer secara buatan. Pengelola air Tunisa sekarang berhadapan dengan serangkaian keputusan yang rumit: mereka harus mengoptimalkan kuantitas air, biaya waktu, kualitas, dan energi, menunjukkan kepentingan kapasitas manusia dalam mengelola sumber daya secara intensif.

Sumber: Louati 2009.

di dunia.43 Pilihan, dijelaskan di bab berikutnya, termasuk kompos, persiapan lahan konservasi, dan teknik serupa sehingga sedikit air yang berkurang karena evaporasi dan lebih tersedia untuk tanaman. Dari berbagai macam intervensi untuk menambah produksi tadah hujan, beberapa (pemupukan, persiapan lahan tanam konservasi) mengubah beberapa air yang tadinya tidak produktif berevaporasi. Hal lainnya (pemanenan air, pompa air bawah tanah) mengubah beberapa air yang tersedia untuk pengguna di bagian hilir. Ketika air mencukupi, dampaknya pada pengguna lainnya tidak terasa, tetapi ketika air menjadi langka, akibatnya akan menjadi lebih penting. Sekali lagi, perhitungan komprehensif untuk air dan perencanaan terintegrasi dengan daratan dan air setempat, punggungan air, dan skala regional dapat menyebabkan intervensi produktivitas, dengan menyakinkan bahwa perdagangan telah dievaluasi. Pertanian irigrasi diharapkan dapat menghasilkan pembagian pangan dunia lebih besar di masa depan, dan lebih tangguh terhadap perubahan iklim termasuk di daerah yang paling kekurangan air.44 Produktivitas panen per hektar akan perlu untuk ditingkatkan

00

Laporan Pembangunan Dunia 2010

karena terdapat sedikit persoalan untuk menambah total area teririgrasi. Sebenarnya, daratan yang diharapkan akan bertambah sekitar 9 persen antara 2000 dan 2050.45 Dan produktivitas air (dalam hal ini, keluaran pertanian per unit air irigrasi) akan perlu diperbaiki, memberikan peningkatan kebutuhan air kota-kota, industri-industri, dan pembangkit listrik tenaga air. Teknologi baru akan memiliki potensi untuk menambah produktivitas air ketika dikombinasikan dengan kebijakan dan institusi yang kuat.46 Mendapatkan lebih “panen per suplai” melibatkan kombinasi komplek dari perubahan institusi dan investasi. Negara-negara dari Armenia hingga Zambia berinvestasi pada infrastruktur baru yang mengirimkan efisiensi air dari penampungan ke ladang, mengurangi kerugian evaporasi. Bagaimanapun juga, seperti contoh petani Maroko telah menjelaskan indikasi awal, para petani memiliki suara di dalam pengambilan keputusan, dan mereka dapat memperoleh nasihat yang mereka butuhkan tentang bagaimana membuat infrastruktur paling baru atau pengembangan teknologi. Infrastruktur baru akan membantu pengelolaan air hanya jika dikombinasikan dengan pembatasan jumlah secara tegas untuk setiap konsumsi individu, meliputi baik air di permukaan maupun air tanah. Lain halnya, penambahan keuntungan irigrasi akan mendorong para petani untuk memperluas area penanaman mereka atau menggandakan atau melipattigakan penanaman di ladang mereka, mengambil air lebih banyak dari sumur-sumur mereka. Hal ini bagus untuk petani individu, pastinya, tetapi tidak untuk pengguna air lainnya pada daerah cekungan.47 Pengelolaan penanaman yang baik dapat meningkatkan produktivitas

air dengan mengembangkan varietas tahan dingin sehingga tanaman tersebut dapat berkembang di musim dingin, ketika sedikit air diperlukan.48 Ketika tanaman mati sebelum dipanen, air yang dikonsumsi akan menjadi sia-sia. Oleh karena itu, adopsi yang lebih luas varietas tahan kering dan panas akan meningkatkan air seperti produktivitas pertanian. Aplikasi tepat waktu untuk irigrasi pengairan dapat juga menolong. Jika petani-petani tidak tahu secara tepat seberapa banyak air yang dibutuhkan, mereka terkadang berlebihan mengairi karena air yang berlebihan kurang merusak dibandingkan dengan kekurangan air. Dengan mengawasi masukan air dan pertumbuhan melalui pertumbuhan musiman, para petani dapat mengirimkan secara tepat jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman dan irigrasi hanya jika sangat diperlukan. Sistem penginderaan jauh mulai memperbolehkan para petani melihat kebutuhan air untuk tanaman-tanaman dengan akurasi tinggi bahkan sebelum tanaman menunjukkan gejala stres.51 Akan tetapi karena kebutuhan teknologi, ketepatan pertanian dari tipe ini terbatas pada sejumlah kecil petani di dunia.52 Bahkan sebelum teknologi ini menjadi tersedia secara luas, hal ini memungkinkan untuk menerapkan sistem otomatisasi sederhana dalam m e n o l on g k au m p e t a n i m i s k i n menambah ketepatan dari penerapan irigrasi pengairan. Petani-petani Maroko yang mengubah irigrasi tetes berdasarkan skema pemerintah yang didiskusikan di awal akan memperoleh keuntungan dari teknologi sederhana yang menggunakan rumusan irigrasi standar yang diadaptasi untuk kondisi pertumbuhan lokal. Ketergantungan pada cuaca di area sekitarnya, sistem akan

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

mengirimkan pesan ke telepon selular para petani, menyampaikan kepada mereka berapa jam lamanya mereka seharusnya mengairi pada hari itu. Tindakan yang didasarkan atas informasi ini akan menghindarkan para petani dari pengairan secara berlebihan.53

Menghasilkan lebih pada pertanian seraya melindungi lingkungan Perubahan iklim akan mendorong masyarakat untuk mempercepat pertumbuhan produktivitas pertanian Perubahan iklim akan menekan lahan pertanian. Perubahan iklim menambah beberapa konflik tekanan terhadap produksi pertanian. Ini akan berakibat secara langsung pada pertanian melalui suhu yang tinggi, kebutuhan air tanaman yang lebih besar, dan variasi hujan secara berlebih, dan episode iklim ekstrem seperti banjir dan kekeringan. Hal ini akan menambah produksi di beberapa negara-negara tetapi menurunkan produksi di sebagian besar negara-negara berkembang, mengurangi produksi rerata global (Peta 3.3). Pada lintang menengah hingga t i ng g i, p e n i ng k at an su hu l ok a l sekitar 1–3ºC, yang digabungkan dengan penyuburan menggunakan k a r b on 5 4 d a n p e r u b a h a n c u r a h hujan, mungkin memiliki sedikit keuntungan yang memengaruhi hasil panen.55 Kazakhstan, Federasi Rusia, dan Ukraina, semuanya diposisikan secara geografis untuk memperoleh keuntungan dari penambahan suhu, tetapi mereka mungkin tidak akan dapat mengapitalisasi secara penuh pada peluang-peluang tersebut. Sejak pecahnya Uni Soviet, secara bersamaan mereka menghilangkan 23 juta hektar lahan yang baik untuk ditanami dari

produksi, hampir 90 persen yang pernah digunakan untuk produksi biji-bijian.56 Walaupun produksi biji-bijian dunia mengalami peningkatan sekitar 1,5 persen per tahun sejak 1991, panen di Kazakhstan dan Ukraina telah jatuh, dan panen di Rusia meningkat hanya sedikit. Jika negara-negara ini mendapatkan tantangan dari pemanasan suhu untuk menambah produksi pertanian, mereka akan perlu untuk membangun institusi yang lebih kuat dan infrastuktur yang lebih baik.57 Walaupun jika hal ini dilakukan, episode iklim ekstrem akan menghapus kondisi rata-rata yang telah diperbaiki: ketika kemungkinan peningkatan episode iklim ekstrem dimasukkan dalam pertimbangan untuk Rusia, tahuntahun dengan kejatuhan produksi pangan diperkirakan akan mencapai tiga kali lipat pada tahun 2070.58 Pada sebagian besar negaranegara berkembang, perubahan iklim diperkirakan akan memiliki pengaruh terbalik pada pertanian saat ini. Pada daerah lintang rendah, bahkan perubahan suhu tingkat sedang sebesar 1–2º C akan mengurangi produksi sebagian besar tanaman sereal. 59 Salah satu kajian dari studi bertingkat memperkirakan bahwa produksi pertanian dunia pada tahun 2080 akan mengalami penurunan hingga 3 persen berdasarkan skenario penyuburan menggunakan karbon atau 16 persen tanpa hal itu.60 Untuk dunia berkembang, penurunan ini diperkirakan menjadi lebih besar, penurunan sebesar 9 persen dengan penyuburan menggunakan karbon atau 21 persen tanpa hal itu. Analisis 12 kawasan rentan pangan menggunakan model produksi dan keluaran dari model iklim global mengindikasikan bahwa tanpa adaptasi, wilayah Asia dan Afrika akan menderita terutama karena penurunan produksi

0

0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Peta 3.3 Perubahan iklim akan menekan hasil pertanian di sebagian besar negara-negara pada 2050 berdasarkan praktik pertanian dan varietas tanaman pangan saat ini

Persentase perubahan panen antara saat ini dan 2050 –50

–20

0

20

Tidak ada data 50

100

Sumber: Müller dkk. 2009. Catatan: Figur menunjukkan persetase perubahan panen pada 11 tanaman pangan utama (gandum, padi, jagung, biji-bijian, kacang polong, bit gula, kentang, kedelai, kacang tanah, kuaci, dan lobak) dari 2046 hingga 2055, dibandingkan dengan tahun 1996–2005. Nilainya merupakan rerata dari tiga skenario emisi yang menguraikan lima model iklim global, mengasumsikan tidak adanya penyuburan menggunakan CO2 (lihat catatan 54). Menghasilkan banyak dampak negatif yang diproyeksikan di bebebrapa wilayah yang sangat bergantung pada pertanian.

yang parah pada tahun 2030. Kerugian ini akan termasuk beberapa produksi kritis untuk kawasan aman pangan, termasuk gandum di Asia Selatan, beras di Asia Tenggara, dan jagung di Afrika Selatan.61 Proyeksi ini tampaknya meremehkan dampak: model yang memproyeksikan efek perubahan iklim pada pertanian khususnya terlihat pada perubahan rata-rata dan tidak menyertakan efek dari episode ekstrem, variabilitas, dan hama pertanian, yang kesemuanya tampak akan meningkat. Perubahan iklim juga akan membuat beberapa lahan kurang cocok untuk pertanian, umumnya terdapat di Afrika. 62 Satu studi memperkirakan bahwa daratan pada tahun 2080 akan mengalami iklim dan tanah yang terbatas di Afrika SubSahara akan bertambah sebesar 26 juta hingga 61 juta hektar.63 Di mana 9–20 persen kawasan lahan yang cocok untuk

ditanami.64 Usaha untuk memitigasi perubahan iklim akan memberikan tekanan lebih pada lahan. Sebagai tambahan untuk mengurangi produksi, perubahan iklim akan memberikan tekanan kepada para petani dan pengelola lahan lainnya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Tahun 2004 sekitar 14 persen dari emisi gas rumah kaca berasal dari praktik pertanian. Hal ini termasuk nitrogen oksida dari pemupukan; metana dari peternakan, produksi padi dan penyimpanan manure (kotoran hewan); dan karbon dioksida (CO2) dari pembakaran biomassa, tetapi tidak memasukkan emisi CO2 dari praktik pengelolaan tanah, pembakaran savana, dan penggundulan hutan. 65 Kawasan berkembang menghasilkan bagian terbesar dari emisi gas rumah kaca, dengan Asia, Afrika dan Amerika Latin

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

diperhitungkan untuk total 80 persen. Kehutanan, pemanfaatan lahan, dan p er ubahan tata guna lahan diperhitungkan untuk 17 persen dari emisi gas rumah kaca setiap tahun, sepertiga bagiannya datang dari penggundulan hutan tropis.66 Sisanya sebagian besar dari pengeringan dan pembakaran lahan gambut. Jumlah karbon yang disimpan di lahan gambut dunia diperkirakan sama seperti yang tersimpan pada hutan hujan tropis Amazon. Keduanya sebanding dengan emisi bahan bakar fosil global selama 9 tahun. Pada kawasan Asia di bagian khatulistiwa (Indonesia, Malaysia, Papua Nugini), emisi dari api yang diasosiasikan dengan pengeringan kayu dan penggundulan hutan dibandingkan dengan yang diperoleh dari bahan bakar fosil di negara-negara tersebut.67 Emisi terkait dengan produksi ternak yang diperhitungkan meliputi beberapa kategori emisi (pertanian, kehutanan, limbah) dan secara keseluruhan semuanya diperkirakan menyumbangkan hingga 18 persen dari total global, sebagian besar melalui emisi metana dari binatang, limbah kotoran hewan, dan pembersihan lahan rumput.68 Penanaman untuk biofuel untuk memitigasi perubahan iklim akan menciptakan lebih banyak persaingan terhadap lahan. Perkiraan terkini mengindikasikan bahwa mendedikasikan kepada energi tanaman yang akan mengambil tempat sekitar 1 persen dari lahan tanam global, tetapi pengesahan bahan bakar bio di negara-negara maju dan berkembang mendukung perluasan produksi. Produksi etanol global bertambah dari 18 miliar liter per tahun pada 2000 menjadi 46 miliar pada 2007, sementara produksi biodiesel meningkat sekitar 8 kali hingga 8 miliar liter. Lahan yang dialokasikan pada

biofuel diperkirakan akan meningkat empat kali lipat pada tahun 2030, dengan sebagian besar pertumbuhan di Amerika Utara (memperhitungkan 10 persen lahan tanam pada tahun 2030) dan Eropa (15 persen).69 Proyeksi mengindikasikan bahwa sekitar 0,4 persen dari lahan tanam di Afrika dan sekitar 3 persen di Asia dan Amerika Latin akan didedikasikan untuk produksi biofuel pada tahun 2130.70 Berdasarkan pada beberapa skenario untuk memitigasi perubahan iklim, proyeksi setelah 2030 menunjukkan bahwa lahan yang dialokasikan untuk produksi biofuel pada 2100 akan mencapai lebih dari 2 miliar hektar—gambaran besar yang diberikan bahwa tutupan lahan tanaman pangan saat ini “hanya” 1,6 miliar hektar. Skenario-skenario ini memproyeksikan bahwa sebagian besar untuk produksi biofuel dalam skala besar akan berasal dari perubahan hutan alami dan lahan rerumputan.71 Jika permintaan meningkat secara cepat, biofuel akan menjadi faktor signifikan dalam pasar pertanian, menambah harga komoditi. Hampir seluruh permintaan untuk tanaman biofuel saat ini dipacu oleh target pemerintah dan subsidi dan oleh harga minyak yang tinggi. Tanpa dukungan buatan, kemampuan bersaing biofuel masih akan rendah, dengan perkecualian etanol tebu Brazil. Tidak juga menjadi jelas bagaimana biofuel mengurangi emisi gas rumah kaca karena penggunaan bahan bakar fosil selama proses produksi dan emisi dari pembebasan lahan. Selain potensi bahwa biofuel mampu mengurangi emisi gas rumah kaca, penghematan jaring karbon aktual dari generasi biofuel saat ini masih diperdebatkan, ketika proses produksi dan gabungan perubahan tata guna lahan dimasukkan dalam perhitungan.

0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

0

KOTAK 3.4

Kelapa sawit, pengurangan emisi, dan menghindari penggundulan hutan

Penanaman kelapa sawit menunjukkan banyaknya permasalahan tata guna lahan saat ini. Kelapa sawit adalah tanaman yang membutuhkan lahan sangat tinggi dengan peruntukan sebagai biofuel dan pangan, dan pembibitannya menciptakan peluang bagi para pemilik lahan kecil. Akan tetapi hal ini melanggar hutan tropis dan beragam keuntungannya, termasuk mitigasi gas rumah kaca. Perkebunan kelapa sawit menjadi tiga kali lipat sejak tahun 1961 mencakup 13 juta hektar lahan, dengan perluasan paling besar di Indonesia dan Malaysia dan lebih dari setengahnya pada lahan hutan yang digunduli. Pernyataan terbaru untuk konsensi kelapa sawit baru berada di Amazon di Brazil, Papua Nugini, dan Madagaskar meningkatkan kepedulian terhadap kecenderungan terhadap tren yang tampaknya masih akan berlanjut.

Para pemilik lahan sempit saat ini mengelola sekitar 35 hingga 40 persen dari lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia, menyajikan diversifikasi menguntungkan bagi kehidupan. Bagaimanapun, biji kelapa sawit yang dipanen harus dikirim ke penggilingan untuk pemrosesan lebih lanjut dalam jangka waktu 24 jam sejak pemanenan, sehingga memegang kecenderungan untuk berkelompok di sekitar penggilingan. Proporsi tertinggi dari area sekitar penggilingan telah dikonversi untuk kelapa sawit, baik sebagai jalur perkebunan komersial atau perkebunan kecil yang berkelompok. Nilai mitigasi keanekaragaman hayati yang diperoleh dari kelapa sawit juga masih dipertanyakan. Analisis rinci tentang siklus hidup menunjukkan bahwa pengurangan jaringan pada emisi karbon bergantung pada pengadaan

Pengurangan emisi dari biodiesel yang diturunkan dari minyak kelapa sawit menyebar luas berdasarkan pada penggunaan lahan sebelumnya untuk situs penanaman kelapa sawit Pengurangan emisi per ton biofuel (tCO2) 5,0 2,5 0,0 –2,5 –5,0 –7,5 –10,0 –12,5

Padang rumput/lahan tanam

Perkebunan karet

Hutan

Hutan lahan gambut

Penggunaan lahan sebelumnya

Sumber: Henson 2008.

Sebagai tambahan, permintaan lahan untuk biofuel telah bersaing konservasi keragaman. Sebagai hasilnya, hal ini penting untuk menetapkan garis panduan untuk perluasan biofuel sehingga tujuan lingkungan lainnya tidak terhenti (Kotak 3.4). Perhitungan siklus hidup secara komprehensif untuk biofuel—yang menyertakan kontribusi mereka terhadap pengurangan emisi

tutupan lahan saat ini sebelum penanaman kelapa sawit (figur). Pengurangan emisi secara signifikan dari perkebunan yang maju pada lahan rumput dan tanam sebelumnya, bagaimanapun jaring emisi akan meningkat pesat jika hutan gambut dibersihkan untuk memproduksi kelapa sawit. Perluasan pasar karbon untuk menyertakan REDD (Reduced Emission from Deforestation and Forest Degradation) merupakan alat penting untuk menyeimbangkan nilai hubungan dari produksi kelapa sawit dan penggundulan hutan dalam satu tempat, dan perlindungan hutan di tempat yang lainnya. Keseimbangan ini menjadi penting untuk menyakinkan perlindungan keragaman hayati dan pengurangan emisi. Penelitian terkini menunjukkan perubahan lahan menjadi produksi kelapa sawit mungkin akan 6 hingga 10 kali lebih menguntungkan dibandingkan mengelola lahan dan menerima pembayaran melalui REDD, seharusnya mekanisme ini dibatasi pada pasar sukarela. Jika kredit REDD memberikan harga yang sama sebagai karbon kredit yang diperdagangkan pada pasar bersangkutan, keuntungan dari konservasi lahan akan meningkat secara dramatis, mungkin bahkan melebihi keuntungan dari kelapa sawit, membuat konversi pertanian menjadi kurang menarik. Oleh karena itu, jika dilakukan dengan tepat, REDD dapat menjadi secara nyata mengurangi penggundulan hutan dan kemudian berkontribusi terhadap usaha mitigasi global. Sumber: Butler, Koh, dan Ghazoul, akan terbit; Henson 2008; Koh, Levang, dan Ghazoul, akan terbit; Koh dan Wilcove 2009; Venter dkk. 2009.

sama baiknya dengan penggunaan pupuk dan air—mungkin melambatkan kecepatan konversi. Generasi kedua biofuel sekarang sedang dikembangkan, seperti alga, jatropha, sorgum manis dan willow, dapat mengurangi persaingan dengan lahan pertanian untuk tanaman pangan dengan menggunakan lahan yang terabaikan atau lahan marginal, walaupun beberapa

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

0

Figur 3.3 Daging sangat lebih intensif air dibandingkan dengan tanaman pangan (liter air per kilogram produk)

15.500 4.800

Daging sapi

Daging babi

3.900

Daging ayam

3.300

2.800

Padi

Sorgum

1.800

1.300

1.000 900

900

Kedelai Gandum Susu Jagung Kentang

Sumber: Waterfootprint (http://www.waterfootprint.org), diakses 15 Mei 2009; Gleick 2009. Catatan: Figur menunjukkan air yang diperlukan untuk memproduksi satu kilogram produk (atau satu liter untuk susu). Penggunaan air untuk produksi 15.500 daging sapi hanya mencirikan sistem produksi intensif.

4.800

3.900

pembangunannya dapat menyebabkan hilangnya ekosistem lahan rumput dan lahan penggembalaan. Penanaman indukan dengan sistem perakaran yang lebih dalam, seperti pergantian rerumputan, dapat memerangi erosi tanah dan nutrisi, memerlukan beberapa input nutrisi, dan pemisahan tingkat karbon yang lebih tinggi dibandingkan dengan persediaan biofuel saat ini. 72 Namun, kebutuhan air mereka mungkin menghambat keberlanjutan produksinya di lahan yang kering. Diperlukan lebih banyak penelitian untuk memperbaiki produktivitas dan potensi pengurangan emisi dari generasi biofuel mendatang. Pertumbuhan populasi, lebih banyak perasa karnivora, dan perubahan iklim akan memerlukan peningkatan yang besar dalam produktivitas pertanian. Sejumlah lahan diperlukan untuk memberikan pangan pada dunia pada tahun 2050 akan bergantung secara signifikan pada seberapa banyak penduduk memakan makanan. Daging adalah sumber intensif bagi manusia dalam mengonsumsi protein, karena memerlukan lahan untuk penggembalaan dan penanaman biji-bijian. Implikasi sumber daya bervariasi dengan tipe

3.300

2.800

1.800

1.300

1.000 900 900 daging dan bagaimana hal tersebut dihasilkan. Memproduksi 1 kg daging dapat membutuhkan sekitar 15.000 liter air jika diproduksi dalam industri pangan di Amerika Serikat (Figur 3.3).73,74 Akan tetapi, produksi daging sapi secara ekstensif di Afrika hanya membutuhkan 146–300 liter per kilogram bergantung pada cuaca. 75 Produksi daging sapi per kilogram juga intensif gas rumah kaca, bahkan dibandingkan dengan produksi daging lainnya, menghasilkan 16 kilogram CO2 ekuivalen (CO2e) untuk setiap kilogram produksi daging (Figur 3.4).76 1,2 0,24 Selain implikasi sumber daya, 4,0 0,80 permintaan daging diperkirakan akan 22,7

4,60

Figur 3.4 Produksi6,40 daging sapi intensif merupakan produsen kelas berat emisi gas rumah kaca 31,6 Jenis makanan 16,00 Emisi (1 kg) (kg CO2e) Kentang

0,24

Gandum

0,80

Daging ayam

4,60

Daging babi

6,40

Daging sapi

16,00

Jarak tempuh yang setara

79,1

1,2 4,0 22,7 31,6 79,1

Sumber: William, Audsley,dan Sandars 2006. Catatan: Figur menunjukkan emisi CO2 ekuivalen dalam kilogram yang dihasilkan dari produksi (di negara industri) 1 kilogram produk spesifik. Jarak tempuh yang setara menyampaikan jumlah kilometer yang ditempuh oleh seseorang dengan mobil berbahan bakar bensin dengan rata-rata 11,5 kilometer per liter untuk menghasilkan jumlah emisi CO2e yang ditunjukkan. Contohnya, produksi 1 kilogram daging sapi dan menyetir sejauh 79,1 kilometer keduanya menghasilkan 16 kilogram emisi.

0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Figur 3.5 Produktivitas pertanian akan perlu untuk ditingkatkan behkan lebih cepat dikarenakan perubahan iklim Indeks produktivitas pertanian (2005 = 100) 300 250 200

Diperlukan tanpa perubahan iklim Diperlukan dengan perubahan iklim Observasi di masa lalu

150 100 300 50 250 0 2001960

1980

2000

2020

2040

2060

Tahun

150

Sumber: Lotze-Campen dkk. 2009. Catatan: Figur menunjukkan indeks pertumbuhan tahunan yang diperlukan berdasarkan dua skenario. Pada indeks ini, 100 100 mengindikasikan produktivitas pada 2005. Proyeksinya mencakup semua tanaman pangan yang utama. Garis hijau menunjukkan skenario tanpa perubahan iklim dari populasi global yang meningkat hingga 9 miliar pada 2055; total konsumsi kalori per kapita 50 dan pembagian makanan dari kalori hewan meningkat sesuai proporsi untuk menaikkan pendapatan per kapita dari pertumbuhan ekonomi; liberalisasi perdagangan lebih jauh (menggandakan pembagian perdagangan pertanian dalam produksi total selama 50 tahun 0 lahan pertanian terus tumbuh pada tingkat historisnya sebesar 0,8 persen per tahun; dan tidak ada dampak perubahan ke depan); 1960 1980 2000 2020 2040 2060 iklim. Garis oranye menunjukkan skenario dampak perubahan iklim dan renspons sosial yang terasosiasi (IPCC SRES A2): tidak ada pemupukan CO2, dan perdagangan pertanian berkurang hingga tingkat pada tahun 1995 (sekitar 7 persen dari produksi total) dengan asumsi bahwa volatilitas harga terkait perubahan iklim memicu perlindungan dan bahwa kebijakan mitigasi mengendalikan ekspansi lahan pertanian (dikarenakan aktivitas konservasi hutan) dan peningkatan permintaan bioenergi (mencapai 100 EJ [1018 joule] secara global pada 2055).

meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi dan pendapatan. Memakan lebih daging akan menguntungkan untuk konsumen miskin yang membutuhkan protein dan nutrisi mikro.77 Akan tetapi

pada tahun 2050, produksi daging sapi, unggas, babi, dan susu diperkirakan akan dua kali lipat dari tingkat pada tahun 2000 untuk merespons permintaan populasi perkotaan yang lebih besar, lebih kaya, dan lebih banyak.78 Dunia akan menghadapi p e r tu mbu h an ke butu h an u ntu k makanan, serat, dan biofuel dalam iklim yang berubah yang mengurangi panen— dalam waktu yang sama mengonservasi ekosistem yang menyimpan karbon dan menyediakan layanan penting lainnya. Mendapatkan lahan yang sesuai untuk pertanian masih akan sama seperti saat ini pada 2080, 79 karena peningkatan lahan yang sesuai di lintang yang lebih tinggi akan memotong kerugian di lintang yang lebih rendah. Oleh karena itu, produksi pertanian (ton per hektar) akan perlu ditingkatkan. Model bervariasi, tetapi satu studi mengindikasikan bahwa penambahan tahunan sebesar 1,8 persen setahun akan diperlukan hingga tahun 2055—

Peta 3.4 Pertanian intensif di dunia maju telah berkontribusi terhadap perkembangan zona mati

Zona mati

Sumber: Diaz dan Rosenberg 2008. Catatan: Di dunia maju, pertanian intensif telah sering berakibat pada biaya lingkungan yang tinggi, termasuk limpasan kelebihan pupuk yang menyebabkan zona mati di daerah pesisir. Zona mati diartikan sebagai zona yang mengalami hipoksia ekstrem, yaitu daerah yang konsentrasi oksigennya lebih rendah dari 0,5 milimeter oksigen per liter air. Kondisi ini secara normal menyebabkan kematian massal organisme laut, walaupun pada beberapa zona ini, ditemukan adanya organisme yang mampu bertahan hidup pada tingkat oksigen 0,1 milimeter per liter air.

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

hampir dua kali 1 persen per tahun yang akan diperlukan oleh bisnis-sepertibiasanya (Figur 3.5).80 Hal ini berarti bahwa produksi akan menjadi lebih dari dua kali lipat selama lebih 50 tahun. Banyak dari kantong roti dunia, seperti Amerika Utara, sedang mendekati panen maksimumnya untuk sereal,81 jadi bagian signifikan untuk pertumbuhan produksi akan perlu untuk terjadi pada negaranegara berkembang. Hal ini berarti tidak hanya percepatan pertumbuhan produksi tetapi pembalikan perlambatan saat ini: kecepatan pertumbuhan produksi untuk seluruh sereal di negara-negara berkembang akan turun dari 3,9 persen per tahun antara tahun 1961 dan 1990 menjadi 1,4 persen per tahun antara tahun 1990 dan 2007.82

Perubahan iklim akan memerlukan lanskap pertanian yang produktif dan beragam Peningkatan produktivitas tidak boleh mengorbankan tanah, air dan keragaman hayati. Pertanian intensif sering merusak sistem alami. Pertanian dengan produktivitas tinggi, seperti yang dipraktikkan di banyak negara maju, biasanya berbasis pada pertanian yang dikhususkan pada tanaman pangan atau hewan tertentu dan penggunaan intensif dari agrokimia. Pertanian semacam ini dapat merusak kualitas dan kuantitas air. Limpasan pupuk akan menambah jumlah “area kematian” kekurangan oksigen pada daerah pesisir secara eksponensial sejak tahun 1960: mereka sekarang meliputi sekitar 245.000 kilometer persegi, umumnya pada perairan pesisir dunia maju (Peta 3.4).83 Irigrasi intensif terkadang menyebabkan garam untuk terbentuk pada tanah, mengurangi kesuburan dan membatasi produksi pangan. Salinisasi saat ini memengaruhi antara 20 juta dan 30 juta dari 260 juta

hektar lahan teririgrasi di dunia.84 Intensifikasi pertanian yang kurang merusak lingkungan merupakan hal yang penting, khususnya mempertimbangkan p e r m a s a l a h an l i ng ku ng an y ang digabungkan dengan ekstensifikasi pertanian yang lebih lanjut. Tanpa penambahan hasil panen dan ternak per hektar, tekanan terhadap sumber daya lahan akan mempercepat perluasan area penanaman dan penggembalaan berdasarkan ekstensifikasi produksi. Sejak pertengahan abad ke-20, 680 juta hektar, atau 20 persen dari lahan rumput dunia, telah berkurang. 85 Mengubah lahan untuk pertanian telah secara signifikan mengurangi area dari banyak ekosistem (Figur 3.6). Revolusi Hijau mengilustrasikan baik keuntungan besar dari peningkatan produktivitas pertanian dan kekurangannya ketika teknologi tidak didukung oleh kebijakan dan investasi yang tepat untuk melindungi sumber daya alami. Teknologi baru, berpasangan dengan investasi infrastruktur dan irigrasi, mengarahkan penggandaan produksi sereal di Asia antara tahun 1970 dan 1995. Pertumbuhan pertanian dan dikaitkan dengan penurunan harga pangan selama waktu tersebut menyebabkan pendapatan riil per kapita bertambah mendekati dua kali lipat, dan jumlah masyarakat miskin menurun sekitar 60 persen dari populasi dunia hingga 30 persen, bahkan jika populasi bertambah 60 persen. 86 Amerika Latin juga memperoleh pengalaman yang signifikan. Akan tetapi di Afrika, infrastruktur yang buruk, biaya transportasi yang tinggi, investasi yang rendah pada irigrasi, dan kebijakan penetapan harga dan penjualan yang memberatkan petani, semuanya menghambat pengadopsian teknologi-teknologi baru. 87 Selain

0

0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Figur 3.6 Ekosistem telah dikonversi secara luas untuk pertanian Hutan, lahan hutan, dan belukar Mediterania Suhu hutan, stepa, dan lahan hutan Hutan berdaun lebar dan campuran di daerah beriklim sedang Hutan kering berdaun lebar di daerah tropis dan subtropis Padang rumput dan savana yang terbanjiri Padang rumput, savana, dan belukar daerah tropis dan subtropis Hutan konifer daerah tropis dan subtropis Gurun Padang rumput dan belukar Montana Hutan basah berdaun lebar di daerah tropis dan subtropis

Konversi biomassa asli

Hutan konifer di daerah beriklim sedang

Kehilangan pada 1950 Kehilangan antara 1950 dan 1990 Diproyeksikan hilang pada 2050

Hutan Boreal Tundra –10

0

10

20 30 40 50 60 70 80 Daerah potensial yang dikonversi (%)

90

100

Sumber: Millennium Ecosystem Assessment 2005. Catatan: Proyeksi didasarkan pada empat skenario tentang bagaimana dunia akan mendekati layanan ekosistem dan memasukkan asumsi tentang pengelolaan ekosistem, liberalisasi perdagangan, teknologi, dan perawatan barang-barang publik.

seluruh kesuksesan itu, Revolusi Hijau di beberapa bagian Asia telah didampingi oleh penekanan dampak lingkungan dari penggunaan berlebihan pupuk, pestisida, dan air. Subsidi yang tidak masuk akal dan kebijaksanaan penetapan harga dan perdagangan yang didorong oleh pertanian monokultur padi dan gandum serta penggunaan berlebih input berkontribusi terhadap permasalahan lingkungan.88 Iklim Pertanian Membutuhkan Sumber Pendapatan yang Bervariasi, Pilihan Produksi, dan Bahan Genetik. Perubahan iklim akan membuat dunia pertanian menjadi kurang terprediksi. Panen akan lebih sering gagal. Satu-satunya jalan untuk membatasi ketidakpastian panen

adalah dengan menganekaragamkan berbagai tingkatan yang ada (Kotak 3.5). Tipe pertama dari diversifikasi berkaitan dengan sumber pendapatan, termasuk beberapa hal selain pertanian.89 Menyempitnya lahan pertanian dan meningkatnya harga masukan, para petani akan melakukan jalan apa pun. Ditambah pula, kebanyakan petani kecil di Asia dan pekerja tanpa lahan memiliki tipikal yang memperoleh lebih dari setengah penghasilan rumah tangganya dari sumber-sumber nonpertanian.90 Tipe kedua dari diversifikasi melibatkan penambahan tipe produksi p er t anian. Peluang pas ar untuk diversifikasi tanaman berkembang di beberapa lahan yang dibudidayakan secara intensif sebagai akibat dari pasar ekspor yang lebih terbuka dan kebutuhan nasional mengambang pada pesatnya pertumbuhan perekonomian, khususnya di Asia dan Amerika Latin. 91 Pada area ini, para petani mungkin mampu untuk mendiversifikasi peternakan, hortikultura, dan spesialisasi produksi pertanian. 92 Aktivitas ini biasanya memberikan nilai balik tinggi per unit lahan dan padat karya, sehingga sesuai untuk ladang kecil. Tipe ketiga dari diversifikasi melibatkan penambahan variasi genetik, termasuk varietas penanaman individual. Sebagian besar varietas unggul yang ditanam pada lahan pertanian yang sangat produktif disilangkan dengan asumsi bahwa iklim divariasikan dengan tutupan yang stabil; hasil persilangan ditujukan untuk meningkat secara homogen. Dalam iklim yang berubah, bagaimanapun, para petani tidak dapat lagi bergantung pada varietas yang ada yang unggul pada rentang kondisi lingkungan yang sempit. Para petani akan membutuhkan bibit yang mengandung materi genetik yang mampu mengadapi

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

KOTAK 3.5.

0

Diversifikasi produk dan pasar: Alternatif ekonomi dan ekologi untuk para petani di daerah tropis

Wilayah tropis menghadapi tantangan besar: kemiskinan yang melanda populasi di wilayah pedesaan, termasuk penduduk pedalaman; degradasi sumber daya alami; kehilangan keragaman hayati; dan konsekuensi dari perubahan iklim. Volatilitas harga produk tropis pada pasar internasional juga memengaruhi ekonomi lokal. Para petani di seluruh dunia memiliki mekanismenya sendiri untuk bertahan, tetapi upaya untuk meningkatkan mata pencaharian dan mengantisipasi dampak dari perubahan iklim akan membutuhkan institusi yang inovatif dan metode yang kreatif untuk pencapaian pendapatan dan keamanan. Satu strategi yang menunjukkan potensi besar dari pembangunan cerdas-iklim adalah diversifikasi produk pertanian dan kehutanan. Strategi ini memperbolehkan para petani untuk memberi pangan diri mereka sendiri dan menjaga aliran produk untuk dijual atau ditukar pada pasar setempat walaupun terjadi kekeringan, serangan hama atau harga yang rendah pada pasar internasional. Mempertimbangkan ladang kopi kecil di Meksiko. Pada tahun 2001 dan 2002 terjadi penurunan dramatis pada harga pasar internasional kopi yang menekan harga kopi Meksiko hingga berada di bawah biaya produksi. Untuk menyelamatkan para petani, pemerintahan bagian Veracruz menaikkan harga produksi kopi

variasi kondisi iklim. Setiap tahun, beberapa tanaman dapat menghasilkan apa pun iklimnya. Setelah beberapa tahun, rata-rata panen akan lebih tinggi dari bermacam benih dibandingkan dengan benih yang seragam, walaupun panen pada pada tahun yang “normal” mungkin lebih rendah. Percobaan menggunakan praktik standar penanaman mengindikasikan bahwa berdasarkan penambahan konsentrasi CO2 dan suhu yang lebih tinggi (mencerminkan perkiraan dari Pertemuan Internasional untuk Perubahan Iklim pada tahun 2050)

pada daerah yang ditetapkan sebagai “tanda asli dari Veracruz” dan memberikan subsidi kepada petani kopi berkualitas tinggi di area dengan ketinggian lebih dari 600 meter di atas permukaan laut. Oleh karena kebijakaan ini akan menyakiti ribuan produsen yang tinggal di area produksi berkualitas rendah di bawah 600 meter, pemerintah mengundang Veracruzana University untuk menemukan alternatif lain monokultur kopi. Diversifikasi dari lahan kopi berkualitas rendah mendapatkan dukungan pendanaan yang bersumber langsung dari UN Common Fund for Commodity (Pendanaan Umum PBB untuk Komoditas), dengan sponsor dan pengawasan Organisasi Kopi Internasional (International Coffee Organization). Hal ini dimulai dari dua kota dengan grup percontohan sekitar 1.500 petani yang tinggal di tempat terpencil dengan 25–100 rumah tangga. Banyak dari para petani yang memproduksi kopi secara tradisional dalam sistem multitanam, menyediakan peluang untuk menguji masingmasing konfigurasi plot yang berbeda dari kayu alternatif dan spesies herba yang mempunyai nilai ekonomi dan budaya: kayu manis Spanyol dan pohon mahoni Honduras (untuk kayu dan perabotan), pohon karet Panama, cengkeh, jambu (untuk makanan dan phytomedicine—obat alamiah), jatropa (untuk makanan dan biofuel),

bumbu-bumbuan, cokelat, jagung, vanili, cabai, buah markisa, segala macam kopi. Semua pohon, herba, dan produk lokal yang dikenal, kecuali untuk tanaman cengkeh. Terdapat potensi pasar yang cukup besar untuk cengkeh, khususnya yang diimpor. Para petani belajar bagaimana cara menerapkan dan merangkai potensi produksi terbaik dalam sistem diversifikasi inovatif. Perusahaan bekerja sama mengumpulkan produk pertanian yang beragam dengan nilai pasar yang hampir mirip tetapi berbeda tampilan untuk iklim, hama, dan risiko pasar. Hasil awal mengindikasikan bahwa kelompok ini tampak berjalan dengan baik, memperbaiki kehidupan dan menambah ketahanan komunitas. Perusahan akan mampu menjual segala tipe produk, beberapa di antaranya dengan harga yang lebih baik dari sebelum proyeknya dimulai. Pada dua tahun pertama diperkenalkannya, proyek ini sudah memperkenalkan jutaan pohon kayu asli. Laporan setempat yang menyatakan praktik tersebut telah mengurangi erosi dan memperbaiki tanah, menguntungkan ekosistem di sekitarnya untuk mencegah terjadinya banjir di masa depan yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Sumber: Dikontribusikan oleh Arturo Gomez-Pompa.

varietas padi atau gandum terdahulu yang mungkin tumbuh lebih baik dan memiliki keunggulan atas varietas modern yang diperkenalkan pada akhir abad 20.93 Lebih lanjut, varietas liar dari tanaman pangan saat ini mengandung material genetik yang bisa lebih beradaptasi dengan perubahan kondisi. Peningkatan suhu dan tingkat CO2 memiliki efek positif yang lebih besar terhadap beberapa tanaman liarnya daripada tanaman budidaya.94 Materi genetik dari tanaman liar dapat digunakan untuk meningkatkan kultivar tanaman pangan komersial untuk menghasilkan varietas yang lebih

0

Laporan Pembangunan Dunia 2010 Figur 3.7 Simulasi komputer dari penggunaan lahan terintegrasi di Colombia

Sumber: Foto oleh Walter Galindo, dari file Foundación CIPAV (Centro para Investigación en Sistemas Sostenibles de Producción Agropecuaria), Colombia. Foto menunjukkan Finca “La Sirena,” di Cordillera Central, Valle del Cauca. Arango 2003. Catatan: Foto pertama adalah tata ruang sebenarnya. Figur kedua adalah ciptaan komputer dan menunjukkan peroduktivitas lahan yang ditingkatkan dengan menggunakan prinsip ekoagrikultur. Produktivitas yang ditingkatkan akan mengurangi tekanan perumputan pada lereng, melindungi batas air, dan memerangkap karbon melalui aforestasi, dan meningkatkan habitat untuk keragaman hayati di antara lahan.

tangguh.95 L an s k ap y ang p ro d u kt i f d ap at mengintegrasikan keragaman hayati. Saat wilayah yang dilindungi dijadikan landasan konservasi, namun tidak akan pernah cukup untuk melestarikan keragaman hayati dalam menghadapi perubahan iklim (lihat Fokus B pada Keragaman Hayati). Cadangan dunia berlipat ganda menjadi empat kali lipat lebih banyak antara tahun 1970 sampai tahun 2007 untuk melindungi 12 persen daratan Bumi,96 tetapi tetap tidak mencukupi kebutuhan untuk melestarikan keragaman hayati. Untuk mencukupi simpanan spesies benua saat ini, ketika menangkap proporsi luas dari jangkauan geografisnya, Afrika harus melindungi tambahan 10% lahan yang dimilikinya, hampir dua kali perlindungan yang ada saat ini.97 Terbatas secara geografis dan terkadang terisolasi akibat rusaknya habitat, cadangan kurang persiapan untuk mengakomodasi pergeseran jangkauan spesies yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Suatu penelitian pada daerah yang dilindungi di Afrika Selatan, Meksiko dan Eropa Barat memperkirakan antara 6 dan 20 persen spesies akan lenyap pada tahun 2050.98 Lebih lanjut, keberadaan cadangan lahan saat ini terancam karena

adanya tekanan ekonomi di masa depan dan lemahnya regulasi dan penegakan sistem. Pada tahun 1999, Persatuan Internasional untuk Pelestarian Alam (Union for the Conservation of Nature) menetapkan kurang dari seperempat area dilindungi pada 10 negara berkembang yang kurang terkelola dan lebih dari 10 persen kawasan lindung terdegradasi.99 Sekurang-kurangnya 75 persen area hutan lindung yang disurvei di Afrika mengalami kekurangan pendanaan dalam jangka waktu panjang, walaupun penyumbang internasional terlibat pada 94 persen di dalamnya.100 Pendekatan skala lanskap untuk penggunaan lahan dapat mendorong keragaman hayati yang lebih besar di luar area yang dilindungi, yang penting untuk memberikan pergeseran pada ekosistem, penyebaran spesies dan promosi layanan ekosistem. Lahan ekoagrikultur memegang janji.101 Ide untuk meningkatkan produktivitas ladang pertanian, secara simultan dapat melestarikan keragaman hayati dan meningkatkan kondisi lingkungan di sekitarnya. Melalui metode agrikultur, para petani dapat meningkatkan hasil dari pertanian dan mengurangi pembiayaannya, mengurangi polusi agrikultur dan membuat habitat untuk

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

keragaman hayati (Figur 3.7). Kebijaksanaan efektif untuk m e l e st ar i k an ke r ag am an h ay at i memberikan para petani insentif yang kuat untuk meminimalkan konversi area alami untuk lahan pertanian dan melindungi atau bahkan memperluas habitat berkualitas tinggi pada lahan mereka. Pilihan lain termasuk insentif untuk membangun jaringan ekologi dan koridor antara area terlindungi dan habitat lainnya. Studi di Amerika Utara dan Eropa menunjukkan bahwa dataran yang diambil dari produksi pertanian konvensional (saling berhadapan) tidak dengan tegas menambah keanekaragaman hayati.102 Pelaksanaan agrikultur yang mengembangkan keragaman hayati sering kali memiliki banyak keuntungan s ampingan, s ep er t i mengurang i kerentanan terhadap bencana alami, dan menyajikan ketahanan terhadap p er ub a han i k lim. S elama B ad ai Mitch pada tahun 1998, pertanian yang menggunakan pelaksanaan ekoagrikultural sekurangnya menderita 58 persen, 70 persen dan 99 persen kerusakan di Honduras, Nikaragua dan Guatemala, terutama, dibandingkan dengan pertanian yang menggunakan teknik konvensional.103 Di Kosta Rika, vegetasi pemecah angin dan barisan pagar mendorong pendapatan para petani datang dari ladang penggembalaan dan kopi yang juga menambah keragaman burung. 104 Di Zambia menggunakan pohon legum dan tanaman tutupan herba pada lahan yang belum ditanami dapat meningkatkan kesuburan tanah, menekankan gulma, dan mengendalikan erosi, lebih lanjut hampir menjadikan jaring pendapatan petani tahunan meningkat tiga kali lipat.106 Penyerbukan lebah menjadi lebih efektif ketika ladang pertanian lebih dekat pada habitat semi

alami atau alami,107 penemuan penting karena 87 dari 107 penghasil utama tanaman pangan dunia bergantung k e p a d a p e ny e r b u k a n h e w a n . 1 0 8 Sistem pola pertumbuhan kopi dapat melindungi tanaman dari suhu ekstrem dan banjir.109 D i Ko s t a R i k a , N i k a r a g u a dan Kolombia, sistem silvopastoral yang menggabungkan pepohonan dengan ladang pengembalaan telah meningkatkan keberlanjutan dari produksi ternak dan meragamkan dan menambah pendapatan para petani.110 Sistem seperti itu akan berguna sebagai cara beradaptasi terhadap eprubahan ikim, karena pepohonan mempertahankan dedaunannya pada sebagian besar kekeringan, menyediakan pangan ternak dan perlindungan dan menstabilkan produksi susu dan daging. Pepohonan juga meningkatkan kualitas air. Produksi pertanian dan keuntungan baliknya dapat diperoleh bersamaan dengan pelestarian keragaman hayati. Memang, dalam banyak kasus ekosistem yang utuh menghasilkan lebih banyak pendapatan daripada yang dikonversi. Di Madagaskar, mengelola 2,2 juta hektar hutan selama 15 tahun menghabiskan $97 juta, ketika akuntansi manfaat ekonomi yang hilang yang akan terjadi di negara itu telah dikonversi untuk pertanian. Akan tetapi keuntungan dari pengelolaan hutan yang baik (setengah darinya datang dari perlindungan punggungan air dan dan pengurangan erosi tanah) bernilai antara $150 juta dan $180 juta selama periode yang sama.111 Pengalaman pembangunan selama berpuluh-puluh tahun menunjukkan bagaimana sulitnya melaksanakan perlindungan habitat untuk keragaman hayati. Skema-skema baru, bagaimanapun juga, berkembang untuk memberi insentif keuangan yang kuat untuk para pemilik





Laporan Pembangunan Dunia 2010

lahan menghentikan konversi lahan. Hal ini termasuk jalan untuk menghasilkan keuntungan dari pelayanan ekosistem terhadap masyarakat (lihat Fokus B), kenikmatan konservasi (yang membayar petani untuk tidak menggunakan lahan sensitif untuk berproduksi,112 dan hak pembangunan perdagangan.113

Perubahan iklim akan perlu untuk mengadopsi dengan lebih cepat teknologi-teknologi dan pendekatan-pendekatan yang meningkatkan produktivitas, mengatasi perubahan iklim, dan mengurangi emisi Beberapa pilihan perlu diteruskan secara simultan untuk meningkatkan produktivitas. Penelitian dan perluasan bidang pertanian kekurangan dana selama beberapa dekade terakhir. Bantuan dana resmi untuk pertanian diturunkan dari 17 persen pada tahun 1980 hingga 4 persen pada tahun 2007,114 walaupun perkiraan kecepatan pengembalian investasi pada penelitian pertanian dan pengembangannya adalah tinggi (30–59 persen).115 Pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan bidang pertanian (R&D) di negara berpendapatan menengah dan rendah perlahan-lahan telah meningkat sejak tahun 1980, dari $6 miliar menjadi $10 miliar pada tahun 2000 (diukur tahun 2005 penjualan kekuatan dolar), dan investasi swasta yang menghasilkan keuntungan kecil (6 persen) dari sumber daya pertanian pada negaranegara ini. Pendapat dari Integrated Assessment of Agricultural Knowledge, Science, and Technology for Development (IAASTD) m e nu nju k k an b a hw a s u k s e s ny a pembangunan pertanian pada saat terjadi perubahan iklim akan melibatkan pendekatan yang ada saat ini dan baru.117

Pertama, negara-negara tersebut dapat membangun pengetahuan tradisional para petani. Seperti pengetahuan mengenai kesejahteraan dari adaptasi lokasi spesifik dan pilihan manajemen risiko yang dapat diaplikasikan secara lebih luas. Kedua, kebijakan yang mengubah harga relatif dihadapi para petani memiliki potensi besar untuk membantu dunia beradaptasi dengan perubahan iklim (dengan peningkatan produktivitas) dan menguranginya (dengan mengurangi emisi pertanian). Ketiga, praktik pertanian baru atau tidak konvensional dapat meningkatkan produktivitas dan mengurangi emisi karbon. Para petani akan mulai mengadopsi “pelestarian pertanian,” yang meliputi pembajakan ringan (di mana benih ditebar dengan gangguan tanah yang minimum dan tutupan residu pada permukaan tanah sekurang-kurangnya 30 persen), penyimpanan residu tanaman, dan rotasi tanam. Metode pembajakan ini dapat meningkatkan hasil panen,118 mengontrol erosi tanah dan limpasan,119 meningkatkan efisiensi penggunaan air dan nutrisi,120 mengurangi ongkos produksi, dan pada banyak kasus dapat menguraikan karbon. Pada tahun 2008, 100 juta hektar, atau sekitar 6,3 persen dari lahan yang dapat ditanami, digarap dengan pengolahan tanah minimum—tahun 2001 sekitar dua kali lipat lebih banyak jumlahnya.122 Kebanyakan terjadi pada negara-negara berkembang karena teknik ini memerlukan peralatan berat dan belum dimodifikasi untuk kondisi di Afrika dan Asia. 123 Pengolahan tanah minimum juga digunakan untuk mengontrol rumput liar, hama, dan penyakit yang lebih kompleks, memerlukan pengelolaan yang lebih baik.124 Meskipun demikian, pada sistem

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

penanaman beras-gandum di dataran Indo-Gangetic India, para petani menerapkan pengolahan tanah nol (zero tillage) pada sekitar 1,6 juta hektar lahan pada tahun 2005.125 Pada tahun 2007–2008, diperkirakan ada sekitar 20–25 persen gandum dari dua negara bagian India (Haryana dan Punjab) yang diolah dengan pengolahan tanah minimum, berkaitan dengan 1,26 juta hektar.126 Hasil panen bertambah sekitar 5–7 persen dan biaya menurun sebesar $52 per hektar. 127 Sekitar 45 persen dari lahan tanam Brazil adalah lahan pertanian yang menggunakan teknik ini.128 Penggunaan metode pengolahan tanah minimum akan terus berkembang, terutama jika teknik memenuhi syarat untuk penguraian karbon pada tanah dalam memenuhi pasar karbon. Bioteknologi dapat melayani pendekatan transformasi yang ditujukan untuk perdagangan antara tekanan tanah dan air dan produktivitas pertanian, karena hal ini dapat meningkatkan produktivitas tanaman, menambah adaptasi tanaman terhadap tekanan iklim seperti banjir dan panas, memitigasi emisi gas rumah kaca, mengurangi penggunaan pestisida dan herbisida, dan memodifikasi tanaman untuk ketersediaan biofuel yang lebih baik (Kotak 3.6). Hal ini, bagaimanapun, kecil kemungkinannya modifikasi genetik memengaruhi produktivitas air pada jangka pendek.129 Penerapan pertanian cerdasiklim meningkatkan kehidupan seharihari pedesaan ketika memitigasi dan mengadaptasi perubahan iklim. Varietas tanaman baru, menambah rotasi tanaman (khususnya untuk tanaman yang dapat bertahan lama), mengurangi penggunaan lahan tandus, pengolahan tanah konservasi, tanaman penutup, dan biochar (arang bio) dapat secara

keseluruhan menambah penyimpanan karbon (Kotak 3.7). Pengeringan sawah pada sekurang-kurangnya sekali selama masa pertumbuhan dan menerapkan pembuangan jerami ke tanah pada masa panen dapat mengurangi emisi gas metana sebesar 30 persen.130 Emisi gas metana dari peternakan dapat dihentikan dengan menggunakan pakan berkualitas lebih tinggi, pemberian pakan yang tepat, dan memperbaiki praktik penggembalaan.131 Pengelolaan peternakan yang lebih baik dapat menghasilkan sekitar 30 persen potensi gas rumah kaca dari pertanian (1,3 gigaton CO2e per tahun pada 2030 atas 3 miliar hektar secara global).132 Seiring negara yang mengintensifkan produksi pertanian, dampak lingkungan dari praktik penyuburan tanah akan menjadi p enting. 133 Dunia maju berkembang serta banyak lokasi di Asia dan Amerika Latin mungkin akan mengurangi penggunaan pupuk untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan limpasan nutrisi yang dapat merusak ekosistem air. Mengubah u ku r an d an w a ktu p e ng g u n a an pupu k d ap at mengurang i emis i nitrogen oksida dari mikroba tanah. Mengawasi pelepasan nitrogen134 dapat memperbaiki efisiensi (lahan per unit nitrogen), tetapi sejauh ini masih terlalu mahal untuk petani di negara-negara berkembang. 135 Penghambat biologis baru yang dapat mengurangi penguapan nitrogen dapat mencapai tujuan yang sama dengan lebih murah. Mereka sepertinya lebih populer dengan para petani karena tidak melibatkan banyak pekerja dan sedikit perubahan dalam pengelolaannya.136 Jika produsen dan para petani memiliki dorongan untuk menerapkan teknologi pemupukan baru dan menggunakan pupuk secara efisien, maka banyak negara-negara





KOTAK 3.6

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Penanaman bioteknologi dapat membantu para petani beradaptasi terhadap perubahan iklim

Seleksi konvensional dan persilangan tanaman telah menghasilkan varietas modern dan perolehan produktivitas utama. Di masa depan, pengombinasian persilangan tanaman dan seleksi sifat yang diinginkan melalui teknik genetik (modifikasi genetik atau GM) tampak paling berkontribusi untuk menghasilkan tanaman yang lebih baik dalam beradaptasi terhadap hama, kekeringan, dan tekanan lingkungan lainnya akibat adanya perubahan iklim. Sejumlah tanaman dengan sifat yang sudah dimodifikasi secara genetik telah dikomersilkan secara luas 12 tahun terakhir. Pada tahun 2007 diperkirakan 114 juta hektar telah ditanami varietas tanaman transgenik, sebagian besar mempunyai sifat toleransi tahan serangga dan herbisida. Lebih dari 90 persen lahan yang telah ditanami ini hanya di 4 negara (Argentina, Brazil, Kanada, dan Amerika Serikat). Teknologi ini secara signifikan mengurangi polusi lingkungan, menambah produktivitas tanaman, memotong biaya produksi, dan mengurangi emisi nitrogen oksida. Untuk mencatat kesuksesan program persilangan telah dihasilkan varietas tanaman, termasuk menghasilkan varietas tanaman termasuk singkong dan jagung, yang tahan terhadap sejumlah hama dan penyakit dan varietas toleran herbisida dari kedelai, kanola, kapas, dan jagung telah tersedia. Para petani menggunakan tanaman GM yang tahan serangga telah mengurangi penggunaan pestisida yang mereka gunakan dan sejumlah bahan aktif di dalam herbisida yang mereka gunakan.

Gen memengaruhi panen secara langsung dan gen-gen yang berkaitan dengan adaptasi terhadap berbagai tipe tekanan telah diidentifikasi dan sedang dievaluasi di lapangan. Varietas baru dapat memperbaiki cara tanaman pangan berhadapan dengan pasokan air yang tidak bisa diandalkan dan secara potensial memperbaiki bagaimana tanaman mengonversi air. Tanaman hasil persilangan yang dapat bertahan dalam periode lebih panjang terhadap kekeringan akan menjadi lebih penting dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim. Percobaan awal dan uji coba lahan dengan tanaman GM menyakini bahwa pelaksanaan akan mungkin tanpa mencampurtangani lahan selama periode tanpa kekeringan, sebuah permasalahan perdagangan untuk varietas tahan kekeringan yang dikembangkan melalui persilangan konvensional. Jagung tahan kekeringan hampir dikomersialisasikan di Amerika Serikat dan sedang dalam tahap pengembangan di Afrika dan Asia. Walaupun demikian, tanaman GM mengalami kontroversi, dan penerimaan dan keselamatan publik harus diutamakan. Publik peduli mengenai etika dari kesengajaan pengubahan materi genetik sama seperti kepedulian mereka pada risiko potensial keamanan pangan dan lingkungan, dan kepedulian secara etika. Setelah lebih dari 10 tahun pengalaman, tidak ada dokumentasi kasus dari dampak negatif terhadap kesehatan manusia dari tanaman pangan GM, sekalipun penerimaan populernya masih terbatas. Risiko

dapat menjaga pertumbuhan pertanian apalagi jika mereka mengurangi emisi dan pencemaran air. Di Afrika Sub-Sahara, sebaliknya, kesuburan tanah sangat rendah, dan negara tidak bisa menghindari penggunaan pupuk anorganik lebih banyak. Program pengelolaan adaptif terpadu dengan pengujian tempatsp e s i f i k d an p e ng aw a s an d ap at mengurangi risiko akibat penggunaan pupuk yang berlebihan. Akan tetapi, program-program seperti itu masih

lingkungan termasuk kemungkinan pernyerbukan silang GM dengan tanaman liar kerabatnya, menciptakan tumbuhan agresif yang lebih tahan penyakit dengan perkembangan cepat sebagai tipe hama biologis yang didaptasi dari tanaman GM. Bagaimanapun, pembuktian para ahli dan 10 tahun dari penggunaan secara komersial menunjukkan keselamatan, ketika pengutamaan, dapat melindungi perkembangan ketahanan pada hama target dan kerusakan lingkungan dari pembibitan komersial tanaman transgenik, seperti aliran genetik pada tanaman liar. Keragaman tanaman pangan mungkin akan berkurang jika sejumlah kecil kultivar GM mengambilalih kultivar tradisional, tetapi risiko ini juga ada pada varietas hasil silang konvensional. Dampak terhadap keragaman hayati dapat dikurangi dengan pengenalan beberapa varietas tanaman GM, seperti di India, di mana terdapat lebih dari 110 varietas kapas Bt (Bacillus thrungiensis). Walaupun, rekam jejak dari tanaman GM baik, penetapan keselamatan biologi berbasis keilmuan menjadi penting sehingga risiko dan keuntungan dapat dievaluasi dalam basis kasus per kasus, dibandingkan dengan potensi risiko dengan teknologi alternatif dan mengambil perhitungan karakteristik dan konteks agroekologi untuk menggunakannya. Sumber: Benbrook 2001; FAO 2005; Gruere, MehtaBhatt, dan Sengupta 2008; James 2000; James 2007; James 2008; Normile 2006; Phipps dan Park 2002; Rosegrant, Cline, dan Valmonte-Santos 2007; World Bank 2007c.

jarang di sebagian besar negara-negara berkembang karena belum ada investasi publik dalam penelitian, perluasan, dan layanan informasi yang diperlukan untuk pelaksanaannya yang efektif—tema yang berulang pada bab ini. Bagian dari penerimaan kepentingan menambah produktivitas pertanian di dunia berkembang, kebijakan pemupukan termasuk pengukuran untuk membuat pupuk supaya dapat dibeli oleh kaum miskin.137 Hal ini termasuk program yang lebih luas, seperti program Farm

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

KOTAK 3.7.



Biochar (arang bio) dapat memerangkap karbon dan meningkatkan panen pada skala yang lebih luas

Para ilmuwan meneliti beberapa tanah subur yang tidak seperti biasanya di cekungan Amazon menemukan bahwa tanah tersebut berubah karena proses pembentukan arang di masa lampau. Penduduk pedalaman membakar biomassa basah (residu tanaman dan pupuk hewani) pada temperatur rendah yang hampir tanpa oksigen. Hasilnya adalah tipe arang padat pada dengan kandungan karbon yang sangat tinggi. Para ilmuwan telah memproduksi ulang proses ini di beberapa industri modern di beberapa negara. Biochar tampak sangat stabil dalam tanah. Studi dalam kelangsungan teknik dan ekonomi dari teknik tersebut berlanjut, dengan beberapa hasil mengindikasikan bahwa biochar mungkin mengunci karbon ke dalam tanah untuk ratusan bahkan ribuan tahun,

Inputs Promotion di Kenya yang bekerja sama dengan perusahaan setempat dan anak perusahaan dari perusahaan p embibit an inter nasiona l untuk meningkatkan pemasukan pertanian (dengan merumuskan pupuk yang menggunakan mineral yang tersedia secara lokal, menyediakan varietas bibit yang lebih baik, dan mendistribusikan pupuk pada area pedesaan) dan mempromosikan praktik agronomi yang baik (penempatan pupuk yang benar, pengelolaan tanah, serta pengendalian rumput dan hama yang efektif).

Menghasilkan lebih dan melindungi lebih baik pada perikanan dan akuakultur Ekosistem lautan akan harus menghadapi tekanan yang kurang lebih hampir sama besarnya dengan tekanan pada daratan Lautan menyerap sekitar setengah dari emisi antropogenik yang dilepaskan sejak tahun 1800,138 dan lebih dari 80

saat yang lainnya menyakini bahwa pada tanah yang sama keuntungannya jauh lebih kurang. Walaupun demikian, biochar dapat memerangkap karbon yang akan dengan kata lain dilepaskan ke atmosfer melalu pembakaran atau dekomposisi. Jadi, biochar dapat memiliki potensi mitigasi karbon yang sangat besar. Untuk memberikan skala ide, di Amerika Serikat, limbah biomassa dari kehutanan dan pertanian, ditambah biomassa yang dapat dihasilkan oleh lahan saat ini berada pada kondisi mengganggur, akan memberikan material yang cukup untuk Amerika Serikat memerangkap 30 persen emisi bahan bakar fosil menggunakan teknik ini. Biochar juga dapat meningkatkan kesuburan tanah. Biochar terikat pada nutrisi dan sehingga dapat membantu meregenerasi lahan terdegradasi

seperti mengurangi kebutuhan pupuk buatan dan kemudian polusi sungai dan alirannya. Potensinya terdapat di sana. Akan tetapi terdapat dua tantangan: untuk mendemonstrasikan sifat kimia dan untuk mengembangkan mekanisme untuk aplikasi pada skala besar. Penelitian diperlukan pada sejumlah area, termasuk metodologi pengukuran potensi biochar untuk pemerangkapan karbon dalam jangka panjang, kajian risiko lingkungan; perilaku biochar dalam tipe tanah yang berbeda; kelangsungan ekonomi; dan potensi keuntungan bagi negara berkembang.

Sumber: Lehmann 2007a; Lehmann 2007b; Sohi dkk. 2009; Wardle, Nilsson, dan Zackrisson 2008; Wolf 2008.

persen pemanasan global.139 Akibatnya adalah pemanasan, asidifikasi lautan, perubahan pada laju yang belum pernah terjadi dengan dampak pada semua keadaan aquatik (lihat Fokus A pada Ilmu Perubahan Iklim).140 Pengelolaan berbasis ekosistem dapat membantu mengoordinasi respons pada krisis perikanan. Walaupun tanpa perubahan iklim, antara 25 dan 30 persen dari stok ikan laut telah tereksploitasi secara berlebihan, lenyap atau pulih dari pelenyapan—dan kemudian pemanenannya kurang dari potensi maksimumnya. Sekitar 50 persen stok telah dieksploitasi berlebihan dan menghasilkan tangkapan pada atau mendekati batas keberlangsungan maksimum, dengan tidak ada ruang untuk perluasan lebih lanjut. Proporsi dari eksploitasi berlebihan menurun sekitar 40 persen pada pertengahan tahun 1970 hingga 20 persen pada tahun 2007.141 Hal ini memungkinkan untuk mendapatkan nilai lebih dari tangkapan ikan—sebagai

Laporan Pembangunan Dunia 2010



contoh, dengan mengurangi intensitas penangkapan ikan, yang diperkirakan seperempat dari tangkapan ikan di dunia. 142 Hal ini tampaknya potensi maksimal dari perikanan di lautan dunia yang telah tercapai, dan hanya praktik yang berkelanjutan yang dapat menjaga produktivitas dari sektor ini.143 Pengelolaan berbasis ekosistem, yang mempertimbangkan ekosistem secara keseluruhan daripada spesies atau lokasi tetentu dan mengenali manusia sebagai bagian dari elemen dalam sistem, dapat melindungi struktur secara efektif, pemfungsian, dan kunci proses ekosistem pantai dan lautan.144 Kebijakan meliputi pengelolaan pantai, pengelolaan berbasis wilayah, wilayah laut yang dilindungi, batas pada usaha dan jarring perikanan, lisensi, pembuatan zona, dan pembuatan hokum pantai. Mengelola ekosistem laut dengan efektif juga melibatkan pengelolaan aktivitas pada lahan untuk meminimalkan episode eutrofikasi yang menekankan ekosistem lautan, seperti terumbu karang, di banyak bagian dunia.145 Nilai ekonomi dari terumbu karang mungkin berlipat dari pertanian yang menjadi penyebab permasalahan.146 Dunia berkembang telah memiliki Figur 3.8 Permintaan ikan yang berasal dari akuakultur akan meningkat, terutama di Asia dan Afrika Juta ton 35 Produksi akuakultur pada 2003 Permintaan akuakultur pada 2020

30 25

kisah sukses. Program pada Danajon Bank reef di Filipina tengah telah memulai menambah biomassa ikan melebihi tingkat sebelumnya.147 Lagipula, beberapa negara-negara berkembang menerapkan pengelolaan berbasis ekosistem yang lebih efektif daripada kebanyakan negara-negara maju.148 Perubahan iklim akan membentuk tekanan baru—perkecualian menambah harga pangan, menambah permintaan untuk protein ikan, dan kebutuhan untuk melindungi ekosistem lautan—yang dapat mendorong pemerintah untuk menerapkan reformasi advokasi jangka panjang. Hal ini termasuk pengurangan tangkapan pada tingkat berkelanjutan, di mana memenuhi secara berlebihan dari armada perikanan. 149 Jumlah tahunan dari pembangunan kapal pemancingan baru sekurangnya 10 persen dari tingkat di akhir tahun 1980-an, tetapi kapasitas berlebihan tetap menjadi persoalan.150 Pembiayaan global dari tata kelola yang buruk penangkapan ikan laut diperkirakan sekitar $50 miliar setahun.151 Pembagian hak tangkapan dapat memberikan insentif individu dan komunitas untuk p e m an e n an b e r ke s i n ambu ng an . Skema dapat memberikan hak dalam berbagai bentuk untuk akses yang didedikasikan, termasuk penangkapan berbasis komunitas, sama baiknya dengan pemberian kuota pemancingan individu.152

Akuakultur (budidaya perairan) akan membantu mencukupi pertambahan permintaan pangan

20 15 10 5 0

China

Asia dan Pasifik

Sumber: De Silva dan Soto 2009.

Eropa

Amerika Latin dan Karibia

Amerika Utara

Afrika

Ikan dan kerang saat ini memasok sekitar 8 persen dari protein hewani yang dikonsumsi dunia. 153 Dengan pertumbuhan populasi dunia sekitar 78 juta penduduk setahun,154 produksi ikan dan kerang harus tumbuh sekitar

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

2,2 juta metrik ton setiap tahun untuk menjaga konsumsi saat ini sekitar 29 kilogram per orang setiap tahunnya.155 Jika tangkapan stok ikan gagal untuk dipulihkan, hanya budidaya perairan yang mampu memenuhi kebutuhan di masa depan.156 Akuakultur menyumbangkan 46 persen dari pasokan pangan ikan dunia pada tahun 2006, 157 dengan pertumbuhan rata-rata tahunan (7 persen) di luar pertumbuhan populasi selama dekade terakhir. Produktivitas telah bertambah dengan kecenderungan terhadap beberapa spesies, menurunkan harga dan memperluas pasar produk.158 Negara-negara berkembang, sebagian besar berada di wilayah Asia Pasifik, mendominasi produksi. Dari ikan yang dimakan di China, 90 persen datang dari budidaya perairan.159 Kebutuhan akan ikan dari budidaya perairan diproyeksikan akan bertambah (Figur 3.8), tetapi perubahan iklim akan memengaruhi pelaksanaan budidaya perairan di seluruh dunia. Kenaikan lautan, beberapa badai ganas, dan intrusi air laut akan menghancurkan budidaya perairan, yang didasarkan pada spesies dengan toleransi salinitas yang sempit, seperti ikan lele pada Delta Mekong. Suhu air yang lebih tinggi pada zona beriklim sedang mungkin akan memengaruhi jangkauan suhu optimal untuk perkembangbiakan organisme. Ketika suhu naik, penyakit yang memengaruhi budidaya perairan akan terpengaruh baik oleh kenaikan kejadian dan dampak.160 Budidaya perairan diharapkan akan tumbuh dengan kecepatan 4,5 persen per tahun antara tahun 2010 dan 2030.161 Akan tetapi pertumbuhan berkelanjutan untuk sektor ini meliputi dua halangan utama yang akan datang. Pertama adalah ekstensif penggunaan

dari proten ikan dan minyak sebagai pangan ikan, yang tetap menekan penangkapan ikan. 162 Pertumbuhan budidaya perikanan akan membutuhkan spesies yang tidak bergantung pada pangan yang dihasilkan dari pakan ikan; saat ini, 40 persen dari budidaya perairan bergantung pada industri pakan, sebagian besar dari ekosistem lautan dan pantai, yang telah tertekan.163 Akuakultur berbasis pakan tanaman (seperti pakan berbasis biji minyak) sangat menjanjikan, 164 dan beberapa operasi telah melengkapi penggantian pakan ikan dengan pakan berbasis tanaman di dalam menu makanan ikan herbivora dan omnivora—saat ini sekitar 7 persen dari produksi total, tanpa berkompromi pertumbuhan dan lahan.165 Pengembangan spesies herbivora dan omnivora—saat ini berkisar 7 persen dari total produksi—dapat diterima untuk efisiensi sumber daya.166 Sebagai contoh, produksi dari satu kilogram salmon, ikan fin laut atau kerang di dalam sistem budidaya perairan adalah sumber daya intensif yang sangat tinggi, membutuhkan antara 2,5−5 kilogram dari ikan liar sebagai pangan untuk satu kilogram pangan yang diproduksi.167 Kedua, budidaya perairan dapat menyebabkan persoalan lingkungan. Budidaya pantai bertanggung jawab untuk 20 hingga 50 persen dari hilangnya bakau di seluruh dunia;168 kehilangan yang lebih banyak akan membahayakan ketahanan terhadap iklim pada ekosistem dan membuat populasi pantai menjadi lebih rentan terhadap badai tropis. Budidaya perairan juga dapat menyebabkan masuknya limbah ke dalam ekosistem pantai yang di beberapa area berkontribusi terhadap terjadinya eutrofikasi. Teknik pengelolaan limbah cair—seperti sirkulasi air,169 kalibrasi pangan yang lebih baik, dan integrasi dan polikultur pada organisme





Laporan Pembangunan Dunia 2010

pelengkap dapat ditingkatkan bersamaan dengan pengurangan limbah170—dapat memperkecil dampak lingkungan. Jadi, mengutamakan pembangunan budidaya perairan pada tubuh air yang tidak tereksploitasi, seperti sawah, kanal irigrasi, dan kolam musiman. Skema integrasi pertanian-akuakultur mempromosikan daur ulang nutrisi, sehingga limbah dari akuakultur dapat menjadi masukan (pupuk) untuk pertanian dan sebaliknya, dengan demikian optimalisasi penggunaan sumber daya dan pengurangan polusi.171 Sistem ini telah mendiversifikasi pendapatan dan menyediakan protein untuk rumah tangga di banyak bagian Asia, Amerika Latin, dan Afrika SubSahara.172

Membuat perjanjian internasional yang fleksibel Pengelolaan sumber daya alam dalam rangka menghadapi perubahan iklim memerlukan kolaborasi internasional yang lebih baik. Juga memerlukan perdagangan pangan internasional yang lebih tangguh sehingga negaranegara dibekali dengan lebih baik untuk menghadapi kejutan iklim dan potensi pertanian yang berkurang.175

Negara-negara yang berbagi manfaat air akan membutuhkan perjanjian tentang bagaimana mengelolanya Sekitar seperlima dari sumber daya air yang terbarukan di dunia melintasi atau membentuk batas internasional, dan di beberapa wilayah, khususnya di negaranegara berkembang, pembagiannya jauh lebih tinggi. Bagaimanapun, hanya 1 persen dari air tersebut dilindungi oleh perjanjian.173 Selain itu, beberapa perjanjian yang ada untuk aliran internasional mencakup semua negara yang bersentuhan dengan aliran yang

dipermasalahkan. Konvensi PBB untuk Law of the Non-Navigational Uses of International Watercourses, yang diadopsi oleh Sekjen PBB pada 1997, telah memberikan perintah ratifikasi yang mencukupi untuk masuk dalam penekanan.175 Ke r j a s a m a a nt a r a n e g a r a negara berpantai adalah penting untuk menghadapi tantangan air yang disebabkan perubahan iklim. Kerja sama tersebut dapat diperoleh hanya dari kesepakatan inklusif yang membuat seluruh negara-negara berpantai bertanggung jawab untuk pengelolaan bersama dan pembagian aliran dan mendesainnya untuk menghadapi variasi banjir maupun kekeringan. Kesepakatan air umumnya didasarkan pada penetapan kuantitas air untuk setiap bagian; perubahan iklim dapat membuat konsep ini menjadi masalah. Alokasi berdasarkan persentase volume aliran akan menghadapi variabilitas dengan lebih baik. Biarpun lebih baik dengan pendekatan “pembagian keuntungan”, di mana fokusnya tidak pada volume air tetapi pada nilai ekonomi, sosial, politik dan lingkungan yang diperoleh dari penggunaan air.176

Negara-negara akan perlu bekerja sama untuk mengelola perikanan dengan lebih baik Ikan adalah komoditi pangan internasional. Sepertiga dari produksi ikan global diperdagangkan secara internasional, rasio tertinggi untuk komoditi utama.177 Saat pasokan ikan menurun, Eropa, Amerika Utara, dan banyak negara Asia mulai mengimpor ikan dari negara-negara berkembang.178 Hal ini meningkatkan permintaan, dikombinasikan dengan penguasaan berlebihan dari beberapa armada penangkapan ikan (armada Eropa

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

sekitar 40 lebih besar daripada stok ikan yang dapat diakomodasi), memperluas lenyapnya sumber daya kelautan untuk Mediterania Bagian Selatan, Afrika Barat, dan Amerika Selatan. Dan tak terkecuali multimiliar dolar per tahun perdagangan perikanan internasional, negara-negara berkembang menerima relatif sedikit dalam bayaran dari armada asing yang beroperasi di laut mereka. Bahkan di perairan kaya tuna di Pasifik bagian barat, negara kepulauan kecil yang sedang berkembang hanya menerima sekitar 4 persen nilai tuna yang diperoleh.179 Dengan memodifikasi distribusi stok ikan, mengubah jaring pakan, dan mengganggu secara psikologi spesies ikan yang telah tertekan, perubahan iklim hanya akan membuatnya menjadi lebih buruk.180 Armada berhadapan dengan penurunan pasokan yang mungkin lebih jauh menurun di lapangan, dan perjanjian baru akan pembagian sumber daya akan perlu dinegosiasikan. Untuk menfasilitasikan adaptasi dan regulasi hak penangkapan ikan, hal ini penting untuk membangun rezim p engelolaan sumb er daya internasional, baik legal maupun inst itusiona l, dan dias osiasi kan dengan sistem pemantauan. Perjanjian semacam itu mungkin akan difasilitasi oleh penguatan organisasi pengelolaan penangkapan ikan. 181 The Benguela Current’s Large Marine Ecosystem Programme adalah pembangunan yang menjanjikan. Berjalan sepanjang pantai barat Angola, Namibia, dan Afrika Selatan, ekosistem Benguela adalah salah satu yang sangat produktif di dunia, mendukung penampungan keragaman hayati termasuk ikan, burung, dan mamalia laut. Dalam ekosistem terdapat bukti bahwa perubahan iklim telah menggeser jangkauan beberapa spesies komersial kunci yang paling

utama di daerah tropis.182 Pergeseran ini mencakup tekanan saat ini dari pengambilan ikan secara berlebihan, penambangan intan, dan pengambilan minyak dan gas. Angola, Namibia dan Afrika Selatan menetapkan Benguela Current Commission pada tahun 2006, institusi pertama yang dibentuk untuk ekosistem kelautan terbesar. Tiga negara berkomitmen untuk mengintegrasikan pengelolaan perikanan dalam rangka menghadapi perubahan iklim.183

Perdagangan komoditas budidaya pertanian yang lebih andal akan membantu negaranegara menghadapi cuaca ekstrem yang tak terduga Biarpun para petani, pengusaha, pemerintahan, dan pengelola air secara dramatis menambah produktivitas tanah dan air, beberapa bagian dunia tidak akan pernah berkecukupan air untuk selalu menumbuhkan semua pangan mereka. Memutuskan seberapa banyak pangan yang diimpor dan seberapa banyak yang ditumbuhkan secara domestik mempunyai implikasi untuk produktivitas pertanian dan pengelolaan air (Kotak 3.8). Mencari pemenuhan pangan sendiri ketika sumber daya menurun dan potensi pertumbuhan tidak mencukupi akan menyebabkan pembiayaan yang berat pada ekonomi dan lingkungan. Banyak negara-negara yang telah mengimpor sebagian besar pangan mereka—sebagian besar negara-negara Arab telah mengimpor sekurangnya setengah dari kalori makanan yang mereka konsumsi—dan kondisi yang terus memburuk berarti bahwa semua negara perlu untuk bersiap menghadapi kegagalan panen domestik.184 Perubahan iklim akan membuat negara-negara yang tandus menjadi lebih kering,



0

KOTAK 3.8

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Para pengambil kebijakan di Maroko menghadapi penurunan mencolok dalam impor sereal

Maroko, dengan pembatasan air yang parah dan pertumbuhan populasi, mengimpor setengah dari sereal mereka. Walaupun tanpa perubahan iklim, jika mereka berharap menjaga impor sereal tidak lebih dari 50 persen kebutuhan tanpa adanya penambahan penggunaan air, Maroko akan perlu untuk membuat perbaikan teknis untuk mencapai kombinasi dari dua pilihan: baik 2 persen lebih dari keluaran per unit alokasi air untuk mengirigasi sereal atau 1 persen lebih keluaran per unit lahan pada area tadah hujan. Menambah efek kenaikan suhu yang lebih tinggi dan pengurangan hujan membuat tugas menjadi lebih menantang: pelaksanaan teknologi akan perlu lebih cepat 22–23 persen daripada tanpa perubahan iklim (bergantung pada pemilihan instrumen kebijakan). Akan tetapi jika negara membutuhkan lebih banyak perlindungan menghadapi kejutan iklim domestik terhadap pertanian dan menghadapi kejutan harga pasar dan memutuskan untuk menambah keuntungan dari konsumsi yang dihasilkan secara domestik dari 50 menjadi 60 persen, negara

harus meningkatkan efisiensi air setiap tahun sekitar 4 persen di pertanian beririgrasi, atau sekitar 2,2 persen di area tadah hujan, atau kombinasi apa pun di antaranya. Dengan kata lain, ketangguhan merespons perubahan iklim mengharuskan Maroko menerapkan peningkatan teknis lebih cepat antara 100 persen dan 140

persen daripada tanpa adanya perubahan iklim. Pengurangan jaring impor hanya dapat dicapai jika Maroko memiliki efisien perolehan domestik yang lebih tinggi.

Sumber: World Bank, akan terbit a.

Mencapai swasembada sereal tanpa meningkatkan penggunaan air di Maroko Kemajuan teknologi dalam efisiensi irigasi (% perubahan tahunan) 4,5

Tidak ada perubahan iklim—50% sereal diproduksi secara domestik Dengan perubahan iklim—50% sereal diproduksi secara domestik Dengan perubahan iklim—60% sereal diproduksi secara domestik

4,0 3,5 3,0 2,5 2,0 1,5 1,0 0,5 0,0

0,0

0,2

0,4

0,6

0,8

1,0

1,2

1,4

1,6

1,8

2,0

2,2

2,4

Kemajuan teknologi dalam panen lahan tadah hujan (% perubahan tahunan)

menggabungkan permintaan yang meningkat dari pertumbuhan pendapatan dan populasi. Oleh karena itu, sebagian besar masyarakat akan hidup pada daerah yang secara konsisten mengimpor sebagian besar kebutuhan pangan mereka setiap tahunnya. Tambahan, lebih banyak penduduk akan hidup di negara yang telah berpengalaman menghadapi kejutan terhadap pertanaian domestik, karena perubahan iklim menambah kemungkinan dan kedahsyatan episode iklim ekstrem. Beberapa skenario global memproyeksikan 10–40 persen peningkatan pada impor bersih oleh negara-negara berkembang sebagai hasil perubahan iklim.185 Perdagangan sereal diproyeksikan sekitar dua kali lipat volumenya pada tahun 2050, dan perdagangan produksi daging akan meningkat empat kali lipat lebih. 186 Dan sebagian besar peningkatan

ketergantungan pada impor makanan akan datang pada negara-negara berkembang. Ketika kenaikan tajam dari harga pangan pada tahun 2008 diilustrasikan, pasar pangan global menjadi rawan. Kenapa harga melonjak? Pertama, pasar biji-bijian menjadi lebih tipis: hanya 18 persen dari gandum dunia dan 6 persen dari beras dunia yang diekspor. Sisanya dikonsumsi di mana hal ini terus tumbuh.188 Dan hanya beberapa negara yang mengekspor biji-bijian (Peta 3.5). Dalam pasar yang kecil, perubahan kecil dalam suplai dan permintaan dapat membuat perubahan yang besar dalam harga. Kedua, stok pangan global per kapita merupakan yang terendah yang pernah tercatat. Ketiga, ketika pasar biofuel ditambah, beberapa petani mengubah produksi pangan, berkontribusi secara signifikan

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam



Peta 3.5 Perdagangan biji-bijian dunia bergantung pada ekspor di beberapa negara

55,5 56,9

7,9 102,2 4,8 0,1

17,6 0,7

7,6 33,9

52,7 12,2

30,7 4,3 27,3 1,1 7,92 11,0

1,2 19,4

19,7 27,7

Jumlah sereal (juta ton) Diekspor

22,1 1,8

Diimpor

Sumber: FAO 2009c Catatan: Ekspor dan impor tahunan didasarkan pada rata-rata selama empat tahun (2002–2006).

untuk menambah harga pangan dunia. Ke t i ka ne g ara-ne gar a t i d a k mempercayai pasar internasional, mereka merespons kenaikan harga dengan cara yang dapat membuatnya lebih buruk. Pada tahun 2008, banyak negara yang melarang ekspor atau mengendalikan harga untuk berusaha meminimalkan efek harga yang tinggi bagi populasi mereka termasuk Argentina, India, Kazakhstan, Pakistan, Rusia, Ukraina, dan Vietnam. India melarang ekspor beras dan sejenisnya, dan Argentina menaikkan pajak ekspor untuk daging, tepung terigu, kedelai, dan gandum.189 Larangan ekspor atau tarif ekspor tinggi membuat pasar internasional makin mengecil dan menjadi lebih rapuh. Misalnya, pelarangan ekspor pada beras di India memengaruhi konsumen Bangladesh secara langsung dan memengaruhi pendapatan para petani di India untuk berinvestasi pada pertanian, pengendalian jangka panjang untuk pertumbuhan. Sebagai

20,2 13,6

tambahan, stimulasi perlarangan ekspor akan membentuk kartel, meruntuhkan k e p e rc ay a a n p e rd a g a n g a n , d a n mendorong perlindungan. Pengendalian harga domestik akan juga dapat diketahui s eb elu m ny a d e ng an me nd ive rs i sumber daya dari mereka yang paling membutuhkan dan dengan mengurangi insentif untuk petani agar memproduksi pangan lebih banyak.

Negara-negara dapat mengukur untuk perbaikan akses pada pasar Negara-negara dapat melakukan tindakan unilateral untuk meningkatkan akses mereka pada pasar pangan internasional, sebagian merupakan langkah penting untuk negara-negara kecil yang tindakannya tidak akan memengaruhi pasar tetapi meskipun demikian mengimpor sebagian besar kebutuhan pangan mereka. Salah satu cara yang paling sederhana adalah dengan memperbaiki metode



Laporan Pembangunan Dunia 2010

perolehannya. Pengukuran yang rumit untuk permasalahan tender impor pangan, seperti elektronik tender dan pelelangan serta kredit yang canggih dan perlindungan produk, seluruhnya dapat membantu pemerintah mendapatkan perjanjian yang lebih baik. Pilihan lainnya mungkin lebih melonggarkan hukum nasional yang melarang pengadaan multinasional sehingga negara-negara kecil dapat membentuk grup untuk skala ekonomi.190 Pe n g u k u r a n k e t i g a a d a l a h p engelolaan akt if stok. Negaranegara membutuhkan cadangan stok nasional yang tangguh dan instrumen terakhir dalam perlindungan risiko, mengombinasikan pembelian stok cadangan virtual yang dibeli melalui futures and options. Model mengindikasikan bahwa futures and options akan dapat menyelamatkan Mesir antara 5 dan 24 persen dari sekitar $2,7 miliar pembelian gandum di antara bulan November 2007 dan Oktober 2008, ketika harga menjadi tinggi.191 Aksi kolektif global dalam pengelolaan stok juga dapat membantu mencegah peningkatan harga yang ekstrem. Cadangan makanan dalam bentuk fisik dalam jumlah kecil akan memberikan respons yang lebih halus dalam kondisi darurat pangan. Cadangan pangan global yang dikoordinasi secara internasional dapat mengurangi tekanan untuk mencapai swasembada beras. Dan inovasi cadangan virtual dapat mencegah kenaikan tajam harga pasar dan tetap menjaga harga berada dekat dengan tingkat yang disarankan oleh asas-asas pasar tanpa membuat cadangan global yang dikoordinasikan berada dalam risiko.192 Layanan transportasi tahan cuaca juga penting untuk memastikan akses sepanjang tahun pada pasar, khususnya di negara-negara seperti Ethiopia,

dengan variasi curah hujan lokal yang tinggi. Penambahan investasi untuk meningkatkan logistik dalam rantai makanan—jalan, pelabuhan, jembatan timbang, dan gudang penyimpanan— akan membantu memperoleh pangan yang lebih bagi konsumen dengan harga yang lebih rendah. Akan tetapi infrastruktur institusi juga diperlukan. Transparansi, keter tebakan, dan kejujuran dalam kepabeanan dan penggudangan menjadi sama pentingnya dengan fasilitas. Negara-negara pengimpor dapat berinvestasi di beberapa bagian rantai makanan pada negara-negara penghasil. Hal ini juga mungkin terjadi, dan memang kurang berisiko, untuk berfokus pada infrastruktur rantai makanan atau penelitian pertanian dan pembangunan pada negara-negara penghasil.

Peraturan internasional untuk mengatur perdagangan akan menjadi bagian penting sebuah keadaan Agenda Pembangunan Doha oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO’s Doha Development Agenda) mencoba menghilangkan hambatan perdagangan dan meningkatkan akses pasar untuk negara-negara berkembang. Akan tetapi negosiasinya ditangguhkan pada tahun 2008. Salah satu studi menyimpulkan bahwa akan ada potensi kerugian sekurangnya $1,1 triliun pada perdagangan dunia jika pemimpin dunia gagal menghasilkan keputusan dalam Pertemuan Doha.193 Melengkapi kesepakatan ini akan menjadi langkah kunci pertama dalam meningkatkan perdagangan pangan internasional. Pengukuran kunci meliputi penurunan tarif efektif dan mengurangi subsidi pertanian dan perlindungan oleh negaranegara berkembang.194

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

Informasi yang dapat diandalkan merupakan dasar untuk pengelolaan sumber daya alami yang baik Investasi pada layanan-layanan iklim dan cuaca berbayar untuk mereka sendiri berulang kali, sekalipun layanan-layanan ini sangat kurang di dunia berkembang. Secara khusus, rasio keuntungan ekonomi terhadap biaya pelayanan meteorologi nasional berkisar 5−10 berbanding 1,195 dan perkiraan pada 2006 menunjukkan bahwa rasio tersebut akan menjadi 69 berbanding 1 di China.196 Pelayanan iklim dan cuaca dapat memperbaiki dampak dari episode ekstrem hingga beberapa derajat (lihat Bab 2 dan 7). Berdasarkan Strategi Pengurangan Risiko Bencana PBB (United Nations Internasional Strategy for Disaster Reduction), peringatan banjir yang canggih dapat mengurangi bahaya banjir

hingga 35 persen.197 Sebagian besar dunia berkembang, khususnya di Afrika, sangat membutuhkan sistem pengawasan dan peramalan untuk perubahan cuaca dan hidrologi (Peta 3.6). Berdasarkan Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization), Afrika hanya memiliki satu stasiun cuaca per 26.000 kilometer persegi—seperdelapan d a r i r e k o m e n d a s i m i n i mu m . 1 9 8 Penyelamatan data dan pengarsipan juga menjadi penting karena perekaman jangka panjang dari data berkualitas tinggi sangat penting untuk memahami variasi iklim sepenuhnya. Banyak dari kumpulan data iklim dunia bermuatan data digital sejak tahun 1940, tetapi hanya beberapa yang mempunyai arsip digital sebelum tahun 1940.199

Peramalan yang lebih baik akan memperbaiki pengambilan keputusan Di Bangladesh, peramalan curah hujan hanya diperpanjang satu sampai tiga hari; peramalan yang lebih lama akan

Peta 3.6 Negara-negara maju mempunyai lebih banyak titik koleksi data dan data deret waktu pemantauan air yang lebih lama

Cakupan periode (dalam tahun) 0–25 26–50 51–75 76–100 >100

Sumber: Rangakaian data untuk distribusi global dan deret waktu tutupan disediakan oleh Global Runoff Data Center. Catatan: Peta menunjukkan stasiun pelaksana pemantauan yang menyediakan informasi tentang limpasan sungai.





Laporan Pembangunan Dunia 2010

memberikan waktu bagi para petani untuk memodifikasi penanaman, pemanenan, dan aplikasi pemupukan, khususnya area tadah hujan di mana krisis pangan dapat terjadi pada akhir bulan. Terdapat beberapa peningkatan signifikan dalam peramalan cuaca musiman (bagaimana curah hujan dan suhu selama beberapa bulan akan bervariasi dari keadaan normalnya), khususnya di daerah tropis dan di daerah yang dipengaruhi El Niño Southern Oscillation (ENSO).200 Jatuhnya waktu musim hujan monsun di Indonesia dan Filipina dan jumlah hari hujan dalam satu musim di beberapa bagian Afrika, Brazil, India, dan Asia Tenggara dapat diprediksikan dengan akurasi yang lebih baik.201 Peramalan cuaca berbasis ENSO di Amerika Selatan, Asia Selatan dan Afrika memiliki potensi bagus untuk memperbaiki produksi pertanian dan keamanan pangan.202 Sebagai contoh, di Zimbabwe, kelangsungan hidup petani Figur 3.9 Teknik penginderaan jauh digunakan untuk kebun anggur di Worchester (West Cape, Afrika Selatan) untuk menaksir produktivitas air

Liter air per liter anggur

150

300

450

600

Sumber: Water Watch, www.waterwatch.nl (diakses 1 Mei 2009). Catatan: Para petani yang ladangnya berwarna merah menggunakan seperempat lebih banyak air per liter anggur dibandingkan dengan yang berwarna biru. Sebagai tambahan penaksiran air, pemerintah juga dapat menggunakan teknik ini untuk menargetkan aktivitas layanan konseling dan pelaksanaan.

ditingkatkan oleh panen (berkisar 17 persen dalam tahun curah hujan yang bagus hingga 3 persen pada tahun curah hujan yang buruk) ketika mereka menggunakan peramalan cuaca untuk memodifikasi waktu atau varietas tanaman yang ditanam.

Teknologi penginderaan jauh dan pengawasan terbaru menjanjikan harapan besar keberlanjutan Satu alasan yang ditemukan oleh para pengambil kebijakan tentang begitu sulitnya memotong eksploitasi yang berlebihan dari tanah dan air dan keterkaitannya dengan ekosistem adalah tidak ada satu pun pengelola maupun pengguna sumber daya yang memiliki informasi yang akurat dan tepat waktu. Mereka tidak tahu seberapa banyak sumber daya yang tersedia, seberapa banyak yang digunakan, atau bagaimana tindakan mereka akan memengaruhi kuantitas di masa depan. Akan tetapi teknologi penginderaan jauh terbaru mulai mengisi beberapa celah tersebut, menginformasikan keputusan mengenai alokasi air yang lebih efisien dan membantu dengan menjalankan pembatasan air. Salah satu aplikasi penginderaan jauh yang paling menjanjikan adalah mengukur produktivitas air.204 Ketika citra termal dari satelit dikombinasikan dengan data lapangan pada tipe tanaman dan dihubungkan dengan peta dari sistem informasi geografis, para ilmuwan dapat mengukur lahan dalam skala geografi (ladang, cekungan atau negara). Kombinasi itu akan memberikan para pengelola air untuk membuat keputusan yang lebih baik mengenai alokasi air dan menargetkan layanan konsultasi kepada para petani dengan produktivitas air paling rendah. Hal ini

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

juga mengarahkan pentingnya keputusan investasi—katakanlah, antara menambah produktivitas dari pertanian tadah hujan atau irigrasi. Dan dapat membantu para pengelola mengukur hasil investasi sebenarnya pada teknik penghematan irigrasi air, yang sulit dilakukan pada masa lalu (Figur 3.9). Hingga saat ini, mengukur konsumsi air tanah sangat sulit dan mahal untuk di semua negara, dan sangat mudah untuk tidak dilakukan di negara-negara berkembang. Mencatat ratusan hingga ribuan sumur pribadi serta pemasangan dan pembacaan meteran akan menjadi sangat mahal. Akan tetapi, penginderaan jauh terbaru dapat mengukur total evaporasi dan transpirasi dari area geografis. Jika kedudukan permukaan air yang dikerahkan ke suatu area melalui curah hujan dan pengiriman irigrasi investasi diketahui, jaring konsumsi air tanah dapat diperhitungkan.205 Berbagai negara beruji coba dengan menggunakan informasi dari teknologi penginderaan jauh terbaru untuk menentukan batasan air tanah, termasuk para petani Maroko yang telah mempertimbangkan untuk beralih ke irigrasi berundak-undak/ terasering (telah didiskusikan pada awal bab). Pilihan untuk penegakan meliputi pompa yang mati secara otomatis ketika para petani melampaui batas evapotranspirasi dan sistem yang secara simultan mengirimkan pesan pendek ke telepon genggam para petani, memperingatkan mereka tentang berlebihannya mereka mengalokasikan air tanah dan memperingatkan para pengawas untuk mengawasi ladang khusus tersebut.206 Peta digital yang dibuat dari informasi penginderaan jauh akan membantu para pengelola sumber daya di berbagai tingkatan. Menggunakan informasi dari

penginderaan jauh untuk membuat peta digital dari seluruh lahan di Afrika akan sangat berguna untuk pengelolaan lahan yang berklanjutan. Peta tanah saat ini telah berusia 10−30 tahun dan umumnya belum didigitalisasi, membuatnya kurang informatif bagi pengambilan kebijakan untuk erosi dan kesuburan tanah. Konsorsium internasional menggunakan teknologi mutakhir untuk menyiapkan peta global terdigitasi, dimulai dari benua Afrika.207 Citra satelit dan aplikasi terbaru sekarang mampu memberikan para ilmuwan kemampuan untuk mengukur aliran sungai, kelembapan tanah dan simpanan air (danau, waduk, akuifer, salju, dan es) serta meramalkan banjir. Mereka juga membuat jadi mungkin untuk menunjukkan hasil panen, stres tanaman, pengambilan CO2, komposisi dan kekayaan spesies, tutupan lahan dan perubahan tutupan lahan (seperti penghijauan kembali), dan produktivitas utama. Bahkan mereka juga dapat membuat peta penyebaran spesies tanaman invansi individual.208 Skalanya beragam, sama seperti waktu untuk pemutakhiran. Akan tetapi, kemajuan yang cepat memungkinkan para pengelola untuk mengukur dengan akurat dan teratur hingga tidak hanya beberapa tahun lalu saja. Bergantung pada satelit dan kondisi cuaca, data dapat tersedia setiap hari bahkan untuk setiap 15 menit. Penelitian dan pengembangan akan dibutuhkan untuk mendapatkan keuntungan penuh dari teknologiteknologi informasi terbaru. Terdapat kesempatan besar dari penerapan teknologi terbaru dan sistem informasi untuk mengelola masalah sumber daya alam yang terkait dengan perubahan iklim. Investasi pada data satelit untuk pengelolaan sumber daya alam dapat





Laporan Pembangunan Dunia 2010

terlunasi dalam jangka panjang. Akan tetapi potensinya sangat jauh dari yang diperlukan, khususnya di negara-negara termiskin. Studi di Belanda menyimpulkan bahwa investasi tambahan dalam pengamatan satelit untuk pengelolaan kualitas air (eutrofikasi, ledakan alga, turbiditas), mempunyai peluang sebesar 75 persen untuk menghasilkandari keuntungan produksi. 209 Penelitian dan pengembangan dari peralatan dan aplikasinya di negara berkembang memerlukan investasi publik dan swasta.210

Informasi yang lebih terpercaya dapat menguatkan komunitas dan mengubah tata kelola sumber daya alam Pe nge l o l a an s u mb e r d ay a a l am terkadang mengharuskan pemerintah untuk mengatur dan menegakkan hukum, batasan, dan harga. Tekanan politik dan sosioekonomi membuat hal ini menjadi sulit, khususnya di mana institusi formalnya sangat lemah. Akan tetapi ketika pengguna sumber daya alam memiliki informasi yang tepat mengenai dampak dari tindakan mereka, mereka dapat melewati pemerintah dan bekerja bersama untuk mengurangi eksploitasi berlebihan, terkadang menambah pemasukan. Membuat kasus perekonomian lebih kuat untuk reformasi dapat membantu, seperti pada beberapa studi saat ini yang menekankan pembiayaan global tata kelola yang buruk dalam penangkapan ikan di lautan. India menawarkan beberapa contoh dari hasil informasi yang lebih baik dalam produksi pertanian dan perolehan kesehjateraan yang lebih efisien. Pada negara bagian Madhya Pradesh, sebuah subsidi pada Indian Tobacco Company (ITC) membangun sistem yang disebut eChoupals untuk menurunkan biaya

pengadaan dan meningkatkan kualitas kedelai yang diterima dari para petani. eChoupals adalah kios Internet pedesaan yang dijalankan para pengusaha lokal yang memberikan informasi harga kedelai di masa depan kepada para petani dan memungkinkan mereka untuk menjual produknya langung pada ITC, memotong pasar grosir dan makelar (mandis). Melalui eChouplas, ITC mengeluarkan biaya yang lebih sedikit untuk setiap ton produksinya, dan para petani dapat mengetahui dengan cepat harga yang akan mereka terima, mengurangi limbah dan efisiensi. Periode pengembalian untuk pembiayaan modal awal dari pembangunan kios berkisar empat hingga enam tahun.212 Proyek yang disponsori oleh Organisasi Makanan dan Pertanian (Food and Agricultural Organization— FAO) PBB di Andhra Pradesh, India, secara dramatis mengurangi eksploitasi berlebihan dari akuifer. Menggunakan pendekatan rendah teknologi dan rendah biaya memungkinkan komunitas untuk menilai keadaan sumber daya yang mereka miliki. Daripada menggunakan peralatan mahal dan spesialis hidrogeologi, proyek melibatkan para sosiolog dan psikologi untuk menilai cara paling baik untuk memotivasi para penduduk desa agar mengurangi konsumsi air sehari-hari. Hal ini menciptakan “ahli hidrogeologi bertelanjang kaki—barefoot hydrogeologists” untuk mengajari para penduduk setempat mengenai lapisan air tanah yang mempertahankan kelangsungan hidup mereka (Figur 3.10). Para non-spesialis ini, jarang membaca buku, para petani menghasilkan data yang bagus yang terkadang mereka jual pada layanan hidrogeologi pemerintahan. Melalui poyek ini, kesadaran akan dampak dari aksi mereka, regulasi sosial, dan informasi mengenai teknik

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam Figur 3.10 Di Andhra Pradesh, India, petani menciptakan data hidrologi mereka sendiri, menggunakan peralatan dan perlengkapan yang sederhana, untuk mengatur pengambilan dari akuifer

Sumber: Staf bank. Catatan: Dilengkapi dengan informasi, setiap petani merangkai batasan mereka sendiri untuk berapa banyak air yang boleh diambil untuk setiap musim tanam. Bantuan teknis menolong mreka untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari air yang mereka gunakan dengan mengelola tanah dan air lebih baik, mengganti tanaman, dan mengadopsi varietas tanaman yang berbeda.

dan varietas tanaman baru akan mengarahkan para penduduk desa agar setuju mengganti tanaman dan mengadopsi praktik-praktik untuk mengurangi kerugian evapotranspirasi. Dengan hampir 1 juta petani, keseluruhan proyek dikendalikan sendiri, dan tidak ada insentif keuangan sama sekali atau denda untuk yang tidak terlibat. Peran serta desa-desa telah mengurangi pengeluaran, pada saat pengeluaran dari desa sebelah terus bertambah. Untuk memahami skala ini, biaya yang dikenakan rendah—$2.000 setahun untuk masingmasing dari 65 desa.213 Hal ini memiliki potensi besar untuk replikasi, tetapi secara prinsip dalam lapisan batuan akuifer yang telah kosong dan terisi kembali dengan cepat dan tidak memerlukan pemulihan lapisan terbawah tampak pada formasi geologi lain.214 Inisiatif untuk memengaruhi para pengguna dalam mengurangi eksploitasi berlebihan dari sumber daya alam dapat mengurangi ketergantungan pengaturan berlebihan dari badan pemerintahan dan persoalan tata kelola yang berasal dari luar negeri. Inisiatifinisiatif ini juga dapat menjadi alat untuk

pemerintah, bekerja dengan komunitas, untuk mengubah kebiasaan pengguna. Cekungan Hai, sumber air paling langka di China, sangat penting bagi pertanian. Bersamaan dengan dua cekungan tetangganya, menghasilkan setengah dari gandum China. Sumber mata air pada Cekungan Hai telah tercemar, ekosistem lahan basah terancam, dan air tanah dieksploitasi berlebihan. Setiap tahunnya, cekungan menggunakan 25 persen lebih air tanah melebihi yang diterima sebagai presipitasi.215 Pa d a c e ku ng an y ang s am a , pemerintah China telah bekerja dengan 300.000 petani untuk melakukan inovasi dalam pengelolaan mata air. Inisiatif ini berfokus pada pengurangan penggunaan air secara keseluruhan daripada sekadar penambahan produktivitas mata air secara sederhana. Hal ini mengombinasikan investasi pada infrastruktur irigrasi dengan layanan konsultasi untuk membantu mengoptimalkan air tanah. Hal ini membatasi penggunaan air tanah. Juga memperkenalkan pengaturan institusi baru, seperti memindahkan tanggung jawab untuk layanan pengelolaan irigrasi pada kelompok petani dan meningkatkan pemulihan pembiayaan untuk irigrasi air permukaan. Dan menggunakan teknik pengawasan tebaru, dengan mengukur produktivitas air dan konsumsi air tanah pada tingkatan tertentu dengan data satelit, dikombinasikan dengan layanan agronomi yang lebih tradisional. Pengawasan menyajikan informasi terkini untuk para pembuat kebijakan dan para petani sehingga mereka dapat menyesuaikan praktik mereka dan mendeteksi ketidakpatuhan. Hasilnya yang sangat mengagumkan. Pendapatan para petani bertambah saat mengurangi konsumsi air dengan beralih ke tanaman bernilai tinggi. Uang tunai





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Figur 3.11 Lanskap pertanian cerdas iklim yang ideal di masa depan akan memungkinkan petani untuk menggunakan teknologi dan teknik baru untuk memaksimalkan panen dan mengizinkan pengelola tanah untuk melindungi sistem alami, dengan habitat alami yang diintegrasikan menjadi tata ruang pertanian yang produktif Sistem penginderaan jauh - mengukur perpindahan spesies - memantau pengambilan aman air - menyediakan peringatan dini terjadinya banjir, kekeringan, dan tanah longsor - mendeteksi deforestasi (penggundulan hutan)

Rangeland dengan varietas ternak Sistem pemantauan fisis - mengukur ketersediaan air - menyediakan peringatan terjadinya banjir dan bencana alam lainnya Komunitas tradisional regulasi mandiri air tanah dan perumputan sebagai respons terhadap insentif kredit karbon: petani menggunakan teknik konservasi tanah dan air; tanaman pemecah angin alami; mendirikan zona penyangga dan lahan kosong untuk menyediakan habitat bagi keragaman hayati

Ekosistem asli hutan - investor menerima pemasukan berdasarkan pada karbon yang disimpan dalam tanah dan biomassa - komunitas pedalaman menerima pemasukan untuk pemeriksaan bahwa penggundulan hutang dilarang dan keragaman hayati dipelihara - rencana pemeliharaan memungkinkan perpindahan spesies sebagai respons terhadap iklim yang berubah

Hutan komersial

Pengangkutan untuk mengarahkan air badai ke tempat pengisian akuifer

Petani menerima pesan SMS dari sistem penginderaan jauh dengan sinyal tentang kelebihan konsumsi air, tekanan air pada tanaman, dll.

Stasiun penelitian mencari cara baru untuk mengadaptasi tanaman dan teknik pengelolaan pada kondisi iklim baru

Penanaman teh membayar dana konservasi hutan untuk penyerbukan dan layanan preservasi tanah yang disediakan oleh hutan

Pembajakan tanah konservasi dan tumpang sari digunakan untuk menumbuhkan tanaman tadah hujan Biochar dibuat dari residu pemerangkapan karbon dan penyuburan tanah

Layanan konsultasi swasta dan publik Membantu petani mengadopsi pembangunan agronomi baru Pekerja yang terlatih penyimpanyan, proses, dan pengemasan produk untuk kontrak langsung dengan pasar

Pompa mengakses air tanah untuk tahun-tahun kering dan berhenti secara otomatis ketika pengambilan aman terlampaui Rencana cadangan untuk memungkinkan perpindahan spesies sebagai respons terhadap perubahan iklim

Terasiring

Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia

produksi tanaman berlipat tiga, pendapatan ladang bertambah lima kali lipat di berbagai area, dan produksi pertanian per unit konsumsi air bertambah 60−80 persen. Penggunaan air total turun menjadi 17 persen dengan kondisi hilangnya air tanah terkini sekitar 0,02 meter per tahun, dibandingkan dengan 0,41 meter per tahun di luar area proyek. Ringkasnya, teknologi dan peralatan yang ada dapat dikembangkan untuk membantu para petani dan pengelola sumber daya lainnya mengelola air, tanah, lading, dan perikanan. Dalam dunia yang ideal, hak setiap orang untuk dapat mengakses teknologi dan peralatan ini. Akan tetapi, teknologi dan peralatan ini akan lebih efektif dengan kebijakan dan infrastruktur yang tepat. Dunia yang ideal ditampilkan dalam gambar pada Figur 3.11 dan 3.12. Banyak jalan menuju

Pekerja yang terlatih penyimpanyan, proses, dan pengemasan produk untuk kontrak langsung dengan pasar Kredit karbon mendorong petani untuk menanam secara tumpang sari dengan pohon yang menyediakan habitat keragaman hayati Pemantauan air mengukur kelembapan tanah

dunia ideal yang telah membuat frustasi komunitasnya selama beberapa dekade di masa lampau. Akan tetapi, siklus selalu berubah sedemikian sehingga mungkin mempercepat pelaksanaan.

Pemberian harga karbon, pangan, dan energi dapat menjadi batu loncatan Bagian ini menganjurkan beberapa pendekatan baru untuk membantu negara-negara berkembang menghadapi kesulitan dengan tekanan tambahan terhadap perubahan iklim yang akan membutuhkan usaha dalam pengelolaan tanah dan air dengan baik. Hal ini menegaskan berulang kali bahwa teknologi baru dan investasi baru akan menghasilkan hanya dalam konteks kelembagaan yang kuat dan kebijaksanaan yang sensitif—ketika “dasarnya” benar.

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam



Figur 3.12 Tata ruang pertanian cerdas iklim yang ideal di masa depan menggunakan teknologi yang fleksibel sebagai menyangga melawan kejutan iklim pada infrastruktur alami, infrastruktur terbangun, dan mekanisme pasar Waduk/dam - menyediakan energi, irigasi, dan perlindungan dari kekeringan dan banjir - ditata ulang untuk menghadapi curah hujan yang ekstrem dan meminimalisasi dampak kerusakan lingkungan

Kota terbangun jauh dari daerah banjir - sistem energi yang didistribusikan termasuk yang terbarukan - perencanaan transportasi rendah karbon - bangunan menggunakan material yang berdampak rendah pada lingkungan - material jalan raya dan drainase dirancang untuk suhu yang meningkat dan badai yang lebih sering

Membenahi pelabuhan dan fasilitas bea cukai untuk memfasilitasi perdagangan internasional Peternakan ikan

Pabrik pembangkit karbon ditangkap dan disimpan di bawah tanah

Gudang tertanggung untuk stok biji-bijian untuk menyangga kejutan harga di pasar biji-bijian internasional

Pohon hasil rekayasa memerangkap karbon di dalam tanah yang dihijaukan

Pabrik pengolah limbah mengelola air - disuntikkan ke dalam akuifer untuk melindungi serangan intrusi air laut - pemipaan ke daerah lahan basah pesisir untuk mencegah abstraksi yang berlebihan - digunakan untuk irigasi daerah hulu

Lahan basah dicadangkan untuk memerangkap karbon, menyediakan habitat, dan memurnikan air Mangrove dilindungi: - sebagai respons terhadap insentif dari kredit karbon - untuk menyediakan layanan ekosistem, termasuk pemijahan ikan dan perlindungan dari badai

Varietas tanaman modern diadaptasi untuk menghadapi tekanan perubahan iklim Pertanian daerah pesisir dengan irigasi dari akuifer pesisir yang terlindungi dari intrusi air asin

Penyangga pelindung banjir

Pabrik desalinasi - menggunakan energi terbarukan - menyediakan air untuk kota dan pertanian daerah pesisir

Peternakan ikan

Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia.

Walaupun dasarnya tidak benar di beberapa negara termiskin di dunia. Dan membuatnya benar—membangun institusi yang kuat, mengubah rezim subsidi, mengubah cara pengalokasian komoditas yang bernilai—merupakan proses jangka panjang bahkan juka berada dalam keadaan yang terbaik. Untuk mengurai persoalannya, banyak respons yang diajukan oleh bab ini untuk membantu negara-negara memperbaiki pengelolaan daratan dan air dalam menghadapi perubahan iklim yang membutuhkan para petani, banyak di antara mereka adalah yang termiskin di dunia, untuk mengubah praktik mereka. Hal ini juga memerlukan masyarakat yang beroperasi melewati hukum (penebangan liar, penambangan liar) dan orang kaya, masyarakat berpengaruh (termasuk para pengembang perumahan) untuk

menghentikan praktik mereka yang telah memberi mereka keuntungan yang berlebihan. Bab ini mengajukan percepatan tindakan yang terlihat amat lambat dilaksanakan beberapa dekade di masa lalu. Apakah realistis untuk mengharapkan perubahan pada skala yang mencukupi untuk sungguh-sungguh menghalangi tantangan perubahan iklim yang berhadapan dengan kita? Ti g a f a k t o r b a r u mu n g k i n memberikan stimulus untuk perubahan dan pengendalian beberapa penghalang yang telah menghalangi peningkatan di masa lalu. Pertama, perubahan iklim diperkirakan akan meningkatkan harga energi, air, dan tanah dan juga pangan serta komoditi pertanian lainnya. Hal itu akan meningkatkan kelincahan inovasi dan mempercepat proses adopsi praktikpraktik yang meningkatkan produktivitas.

Pengaturan perikanan memastikan penangkapan berada pada level yang berkelanjutan

0

Laporan Pembangunan Dunia 2010 Figur 3.13 Harga sereal global diperkirakan meningkat sebesar 50 hingga 100 persen pada 2050 Peningkatan harga sereal tanpa pemupukan CO2 (persentase perubahan) 400 2020 2050 2080

350 300 250 200 150 100 50 0

A2a

B2a

Skenario Sumber: Parry dkk. 2004. Catatan: Skenario emisi kelompok IPCC SRES A2 menjabarkan dunia di mana populasinya terus bertambah, dan tren pertumbuhan pendapatan per kapita dan perubahan teknologi bervariasi di antara wilayah dan lebih rendah daripada garis batas lainnya. Skenario kelompok B2 menjabarkan dunia di mana populasi terus bertambah pada tingkat di bawah A2, perkembangan ekonominya menengah, dan perubahan teknologinya sedang.

Tentu saja harga yang lebih tinggi juga akan membuatnya lebih menguntungkan dalam mengekploitasi berlebihan sumber daya atau menghabiskan habitat alami. Kedua, harga karbon yang diterapkan untuk karbon pada lanskap, mungkin mendorong para pemilik tanah untuk melestarikan sumber daya alami. Jika kesulitan implementasi dapat menjadi diatasi, ini akan menurunkan risiko para petani untuk mengadopsi praktik baru. Hal ini juga memberikan para pemilik lahan hak insentif untuk melindungi sumber daya alami. Ketiga, jika $258 miliar per tahun dunia pada subsidi pertanian dapat dibagi secara merata untuk memerangkap karbon dan konservasi keragaman hayati, hal ini akan menunjukkan teknik dan pendekatan utama dalam bab ini pada skala yang diperlukan.

Kenaikan harga energi, air, dan pertanian dapat memacu inovasi dan Investasi pada peningkatan produktivitas Kombinasi beberapa faktor akan menaikkan harga pangan untuk beberapa dekade ke depan. Faktor-faktor itu termasuk pertambahan permintaan pangan dari populasi kaya yang berkembang dan bertambah. Termasuk juga penambahan produksi biofuel, yang dapat menyebabkan persaingan untuk lahan pertanian dan air. Lebih lanjut lagi, akan menjadi lebih sulit untuk menumbuhkan pangan karena perubahan iklim. Dan seperti yang ditunjukkan dalam Bab 4, kebijakan perubahan iklim tampaknya akan menaikkan harga energi.217 Harga listrik yang lebih tinggi berarti harga air yang lebih tinggi ketika air dipompa. Dalam kasus tersebut, mekanisme efisiensi alokasi air akan menjadi lebih penting, sebagai usaha untuk mengurangi kebocoran dari penyaluran air dan jaringan distribusi yang dikelola dengan buruk. Harga energi yang lebih tinggi juga menaikkan biaya pemerintah dalam melayani subsidi air. Hal ini dapat menambah insentif untuk reformasi kebutuhan jangka panjang dari kebijakan pengelolaan air dan investasinya.218 Dan karena pupuk merupakan produk berbasis bahan bakar minyak bumi, harga minyak bumi yang lebih tinggi akan mendorong penggunaan yang lebih bijaksana. Harga pangan dapat diperkirakan menjadi lebih tinggi dan lebih rawan pada jangka panjang. Pemodelan dari IAASTD memperkirakan bahwa harga jagung, beras, kedelai, dan gandum akan naik 60−97 persen antara tahun 2000 dan 2050 melalui bisnis-seperti-biasanya, dan harga untuk daging sapi, babi, dan

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

unggas naik sebesar 31−39 persen.219 Simulasi lainnya pada sistem pangan dunia juga menunjukkan jatuhnya harga sereal akibat perubahan iklim menyebabkan kenaikan harga pangan.220 Pada sebagian besar perkiraan, harga sereal diperkirakan akan naik, walaupun para petani telah beradaptasi.221 Tahun 2080, skenario berbeda memproyeksikan bahwa harga pangan dunia akan naik sekitar 7−20 persen dengan pemupukan CO2 dan sekitr 40−350 persen tanpanya (Figur 3.13).222 Masyarakat miskin, yang telah menghabiskan 80 persen uang mereka untuk pangan, kemungkinan akan mengalami benturan keras dengan harga pangan yang tinggi. Harga lebih tinggi yang diasosiasikan dengan risiko perubahan iklim membalikkan kemajuan keamanan pangan di beberapa negara berpendapatan rendah. Walaupun hasil skenario berbeda, hampir seluruhnya setuju bahwa perubahan iklim akan menyebabkan lebih banyak masyarakat berisiko mengalami kelaparan di negaranegara miskin, dengan pertumbuhan terbesar di Asia Selatan dan Afrika.223 Seperti harga energi, harga pangan yang tinggi akan memiliki efek beruntun di dalam penyesuaian potensi daratan dan air yang dipicu oleh perubahan iklim. Investasi pada pertanian, daratan, dan air menjadi lebih menguntungkan untuk para petani seperti pada sektor publik dan swasta. Perusahan pertanian swasta, donor bantuan internasional, bank pembangunan internasional, dan pemerintahan nasional dapat melihat dan bertindak atas kenaikan harga internasional dengan cukup cepat. Akan tetapi pengiriman peningkatan harga pangan internasional kepada para petani adalah tidak sempurna, seperti yang terjadi pada krisis harga pangan tahun 2007−2008. Sebagai contoh, para

petani di sebagain besar Afrika Sub Sahara mengamati bahwa harga pangan lebih tinggi hanya setelah beberapa kelambatan, dan perpindahan pada harga yang lebih tinggi menjadi lebih lambat dan kurang lengkap dibandingkan dengan di sebagian besar wilayah Asia dan Amerika Latin.224 Semakin baik kualitas infrastruktur pedesaan, para petani akan semakin diuntungkan oleh harga internasional yang lebih tinggi. Harga pangan tinggi dapat memicu konversi lahan menjadi pertanian dan peternakan, dengan dampak negatif pada ekosistem. Akan tetapi mereka dapat juga memengaruhi secara signifikan investasi baru dalam penelitian pertanian, pembangunan irigrasi, dan infrastruktur pedesaan untuk intensifikasi produksi. Kenaikan simultan harga energi dan pangan juga akan membuat beberapa keuntungan investasi yang besar lagi, termasuk waduk multiguna yang luas untuk pembangkit tenaga dan irigrasi. Hal ini akan menjadi penting untuk menghubungkan pendapatan dari harga pangan tinggi ke dalam investasi inovasi dan reformasi kebijakan untuk meningkatkan produktivitas pertanian seraya membuat lahan dan penggunaan air lebih berkelanjutan.

Harga internasional yang dibayarkan untuk menghindari emisi dan pemerangkapan karbon dalam pertanian dapat mendorong perlindungan lebih pada sistem alami Berdasarkan Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM) dari Protokol Kyoto, proyek pemerangkapan karbon tanah pertanian di negara-negara berkembang tidak mencukupi untuk menjual kredit karbon kepada investor di negara-negara maju. Jika mereka tetap melakukannya,





Laporan Pembangunan Dunia 2010

insentif untuk para petani dan pengguna lahan lainnya akan berubah secara fundamental. Pasar karbon yang meliputi gas rumah kaca dari pertanian dan praktik pengelolaan lahan dapat menjadi salah satu mekanisme yang paling penting untuk mengendalikan pembangunan yang berkelanjutan di dunia yang terpengaruh oleh perubahan iklim. Potensinya besar: satu sumber diperkirakan 4,6 gigaton CO2 atau lebih per tahun pada 2030, di mana lebih dari setengah potensi hutan (7,8 gigaton CO2 per tahun).225 Pada $100 per ton CO2e, pengurangan potensi emisi dari pertanian sebanding dengan yang berasal dari energi (lihat Gambaran Umum, Kotak 8). Model menunjukkan bahwa pemberian harga karbon pada pertanian dan perubahan tata guna lahan dapat membantu mencegah konversi ekosistem yang lengkap (“lahan tidak terkelola” pada Figur 3.14) untuk memenuhi kenaikan permintaan biofuel. Walaupun mekanisme untuk pelestarian karbon tanah belumlah dikembangkan, potensi untuk pengurangan emisi dari pertanian sangatlah besar. Bahkan di Afrika, di mana setiap dataran kering rendah karbon mencapai 44 persen dari benua, kemungkinan untuk memerangkap karbon pertanian sangat besar. 226 Rerata potensi mitigasi pertanian yang diproyeksikan di semua benua adalah 100 juta hingga 400 juta metrik ton CO 2e per tahun pada tahun 2030.227 Dengan harga yang relatif rendah, $10 metrik ton pada tahun 2030, aliran keuangan akan dapat dibandingkan dengan bantuan pembangunan resmi tahunan untuk Afrika. 228 Studi dari kepasturan Afrika menunjukkan bahwa peningkatan terbaik pada pengelolaan sumber daya alami dapat menghasilkan pemerangkapan karbon sekitar 0,50

metrik ton karbon per tahun. Harga sebesar $10 per metrik ton CO2 akan menambah pendapatan mereka sekitar 14 persen.229 Pemerangkapan karbon dalam pertanian akan menjadi relatif tidak mahal dan respons efisien terhadap perubahan iklim. Pengurangan biaya pada pertanian di tahun 2030 diperkirakan akan menjadi lebih rendah daripada sektor kehutanan ($1,8 per metrik ton dari CO2 ekuivalen dibandingkan dengan $13,5 per metrik ton CO 2 ekuivalen).230 Salah satu alasan untuk hal ini adalah bahwa teknik pertanian yang meningkatkan pemerangkapan karbon juga meningkatkan panen dan pendapatan. Jadi, teknik untuk penyimpanan lebih banyak karbon di dalam tanah telah ada, tetapi teknik tersebut belum diadaptasi. Daftar penyebabnya sangat panjang—pengetahuan yang kurang tentang teknik pengelolaan yang sesuai untuk tanah di daerah tropis dan subtropis, penambahan infrastruktur yang lemah untuk mengirim ketersediaan inovasi, kurangnya hak properti untuk memperoleh investasi dengan pelunasan jangka panjang tetapi pendanaan jangka pendek, kebijaksanaan pajak pupuk yang tidak sesuai, dan infrastruktur transportasi yang sangat kurang. Komunitas dunia dapat menerapkan empat langkah praktis untuk memperluas pasar karbon. Pertama, daripada menerapkan pengawasan emisi secara rinci dan penanganannya pada setiap lahan, masyarakat yang terlibat dalam pasar karbon (lokal dan internasional) perlu menyetujui sebuah sistem keuangan berbasis peramalan yang sederhana yang mengawasi aktivitas para petani dan memperkirakan secara konservatif pemerangkapan karbon yang terkait.231 Hal ini tidak akan menjadi efektif

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam



Figur 3.14 Pajak karbon yang diterapkan pada emisi dari pertanian dan perubahan tata guna lahan akan mendorong perlindungan terhadap sumber daya alami a. Pembagian area lahan global jika pajak karbon diterapkan pada emisi baik dari energi maupun perubahan tata guna lahan Total pembagian (%)

Total pembagian (%)

Daerah perkotaan

100

b. Pembagian area lahan global jika pajak karbon hanya diterapkan untuk energi

Daerah perkotaan

100

Gurun Lahan terabaikan lainnya

Lahan terabaikan lainnya

80 Hutan terabaikan

60

Gurun

80

Hutan terkelola

60

Hutan terabaikan Hutan terkelola Lahan tanam bioenergi

Padang rumput

Padang rumput

40 Padang penggembalaan terabaikan

20

40

Padang penggembalaan

20

Perkebunan

Lahan tanam bioenergi

Lahan

0 1990

2005

2020

2035

2050

2065

2080

2095

Padang penggembalaan terabaikan Padang penggembalaan

Lahan tanam

Perkebunan 0 1990

2005

2020

2035

Tahun

2050

2065

2080

2095

Tahun

Sumber: Wise dkk. 2009. Catatan: Diproyeksikan berdasarkan MiniCAM Global Integrated Assessment Model. Kedua skenario menunjukkan jalur untuk mencapai konsentrasi CO2e 450 bpj pada 2095. Pada Figur 3.14a, harga dikenakan pada emisi karbon dari bahan bakar fosil, industri, dan perubahan tata guna lahan. Pada Figur 3.14b, harga yang sama hanya dikenakan pada emisi dari bahan bakar fosil dan industri. Ketika harga tidak dikenakan pada emisi daratan, penanam tampaknya akan melanggar habitat alami, umumnya sebagai respons terhadap permintaan biofuel.

biaya atau mungkin untuk mengukur pemerangkapan karbon pada semua pemilik paket kecil yang beragam dan terpisah di dunia berkembang. Selain itu, pendekatannya transparan dan akan memperbolehkan para petani untuk mengetahui sebelumnya seperti apa pembayaran dan denda untuk berbagai tindakan. Proses di mana tanah mengambil atau memancarkan karbon adalah hal yang kompleks. Prosesnya beragam dari tempat ke tempat (biarpun dalam satu lahan) dan bergantung pada sifat tanah, iklim, sistem perladangan, dan riwayat tata guna tanah. Lebih lanjut, perubahan tahunan biasanya relatif kecil terhadap stok saat ini. Dan pemerangkapan karbon di dataran tinggi sangat cepat. Akumulasi karbon dalam tanah akan menjadi jenuh setelah 15−30 tahun,

bergantung pada tipe pertanian, dan beberapa pengurangan emisi akan terjadi setelah waktu tersebut.232 Lebih lanjut lagi, pertanian tanpa pembajakan pada tanah liat dapat menghasilkan pelepasan nitrogen oksida—gas rumah kaca yang sangat kuat. Emisi ini akan melebihi keuntungan penyimpanan karbon dalam menerapkan teknik baru selama lima tahun pertama. Oleh karena itu, tanpa pembajakan mungkin tidak menjadi teknik pengurangan emisi gas rumah kaca yang baik untuk beberapa kondisi tanah.233 Akan tetapi, hal ini memungkinkan berdasarkan permodelan dan data yang ada saat ini, untuk memperluas perkiraan pemerangkapan karbon per praktik pertanian untuk zona agroekologi dan iklim. Lebih lanjut, teknik efektif biaya untuk pengukuran karbon tanah pada



Laporan Pembangunan Dunia 2010

lahan (menggunakan laser, radar tembus tanah, dan spektroskopi sinar gamma) sekarang dapat melakukan pengukuran pemerangkapan karbon lebih cepat dan memperbarui estimasi pada skala spasial yang lebih kecil. 234 Dalam pada itu, program-program dapat menggunakan perkiraan konservatif pemerangkapan karbon di semua tipe tanah dan berfokus pada daerah di mana terdapat lebih stok karbon tanah yang lebih pasti dan alirannya (seperti area pertanian yang lebih produktif). Selain itu, tidak ada teknik pemerangkapan karbon (seperti konservasi lahan persemaian) yang menjadi obat mujarab di setiap sistem penanaman dan semua tipe tanah. Model untuk sistem tersebut mungkin adalah Conservation Reserve Program (Administrasi Program Cadangan) yang diadministrasikan oleh U.S. Department of Agriculture pada hampir 14 juta hektar lahan di tahun 1986. 235 Program sukarela ini pada awalnya ditujukan untuk mengurangi erosi tanah, dengan pemilik lahan dan penghasil pertanian memasuki kontrak untuk menghentikan kemungkinan erosi dan penaaman yang sensitif s e c ara ling kungan s er t a p adang penggembalaan dari produksi untuk 10−15 tahun dalam pengembalian pembayaran. Melebihi waktu program tersebut untuk meluaskan tujuannya dengan memasukkan pelestarian habitat satwa liar dan kualitas air, dan pembayarannya berdasarkan Environmental Benefits Index (Indeks Keuntungan Lingkungan) dari paket dan aktivitas spesifik (seperti penyangga kawasan tepi pantai dan sabuk penahan). Keuntungan lingkungan sebenarnya dari setiap paket tidak secara langsung diukur tetapi lebih diperkirakan berdasarkan aktivitas, dan menyerupai sistem berbasis aktivitas yang dapat

diterapkan pada pemerangkapan karbon pertanian.236 Langkah praktis kedua melibatkan pembangunan “agregator”—khususnya organisasi swasta atau non-pemerintahan yang mengurangi biaya transaksi dari aktivitas dengan menggabungkan mereka pada beragam petani ladang kecil, penambang-penambang hutan, dan kepasturan. Tanpa mereka pasar akan cenderung lebih menyukai proyek reforestasi yang besar, karena lahan dari rata-rata invidu para petani ladang sempit pada negara berkembang tidak dapat memerangkap jumlah yang sangat besar. Peningkatan skala secara spasial juga akan mengurangi perhatian yang berkaitan dengan ketidakpastian dan ketidakpermanenan stok karbon. Pengadopsian pendekatan dengan perkiraan, pengumpulan seluruh portofolio proyek-proyek, dan pengaplikasian perkiraan konservatif dapat membuat pemerangkapan karbon tanah ekuivalen sepenuhnya terhadap pengurangan CO2 di sektor lain. Ketiga, biaya di muka untuk penerapan pengelolaan pemerangkapan karbon harus diamanatkan. Pengadopsian praktik baru memang berisiko, terutama bagi para petani miskin.238 Pembiayaan karbon khususnya ditujukan hanya setelah para petani benar-benar mengurangi emisi (seperti pada proyek percontohan di Kenya yang dijelaskan di Kotak 3.9). Akan tetapi, janji untuk pembiayaan karbon masa depan dapat digunakan sebagai pembayaran di muka untuk mengurangi risiko para petani, baik sebagai jaminan pinjaman, atau memiliki investor-investor yang dapat melakukan pembayaran di muka. Chicago Climate Exchange, satu bagian dari pasar sukarela, menunjukkan kemungkinan keuntungan perdagangan pemerangkapan karbon dari aktivitas

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

KOTAK 3.9



Proyek percontohan untuk pembiayaan karbon pertanian di Kenya

Hasil kajian awal dari dua proyek percontohan di barat Kenya mengindikasikan para pemilik lahan pertanian sempit dapat berintegrasi dalam pembiayaan karbon. Salah satunya melibatkan sistem penanaman campuran atas 86.000 hektar, menggunakan pendaftaran asosiasi dari 80.000 petani sebagai pemicu. Proyek kopi kecil lainnya memberikan 7.200 hektar sejauh ini, dan 9.000 anggota petani yang kooperatif melayani sebagai pemicu. Ukuran rerata dari pemegang lahan untuk kedua proyek adalah kecil (sekitar 0,3 hektar). Jumlah pemerangkapan karbon diperkirakan sekitar 516.000 dan 30.000 ton CO2e setiap tahunnya, diharapkan.

terkait lanskap.240 Hal ini memungkinkan para pemicu menerima kredit karbon untuk melanjutkan pelestarian tanah bajakan yang berkelanjutan, penanaman padang rumput, dan pengelolaan lahan peternakan. Untuk perdagangan karbon pertanian, pertukarannya mengharuskan anggotanya menempatkan sekitar 20 persen dari jumlah yang dihasilkan d a l a m b e nt u k c a d a n g a n u nt u k menyakinkan terhadap kemungkinan kondisi sebaliknya di masa depan. Exchange menunjukkan aturan yang sederhana dan teknik pengawasan yang modern dapat menghadapi hambatan teknis. Bagaimanapun juga, beberapa kritik mengklaim bahwa “penambahan” tidak diperoleh sepenuhnya: jaring pengurangan emisi mungkin tidak akan lebih besar daripada yang diperoleh dengan tanpa adanya pasar. Dalam waktu dekat, pasar sukarela menginkubasi metode untuk pertanian dan pemerangkapan pada tingkat lanskap. Akan tetapi, untuk pengukuran ini agar benar-benar luas dalam arah ini, pasarnya akan perlu untuk dihubungkan dengan pasar pemenuhan global masa depan. Skala ekonomi yang dijanjikan

Aktivitas pemerangkapan termasuk pengurangan pembajakan, tanaman penutup, pengelolaan residu, pembibitan, pengomposan, pupuk hijau, aplikasi pemupukan yang lebih tepat sasaran, mengurangi pembakaran biomassa, dan agroforestry. Proyek menggunakan pemantauan berbasis aktivitas. Perkiraan pemerangkapan karbon selama 20 tahun diperoleh dari model yang dikenal dengan nama RothC. World Bank BioCarbon Fund (Pendanaan BioKarbon Bank Dunia) membeli kredit karbon yang telah disetujui oleh pendanaan dan pengembang proyek, VI Agroforestry and Swedish Cooperative Centre dan ECOM Agroindustrial Group. Dari keuntungan total yang diterima komunitas, 80 persen akan

digunakan komunitas dan 20 persen untuk pembangunan proyek dan pengawasan. Dua pembelajaran sedang dikembangkan. Pertama, agregator yang baik sangatlah penting, khususnya salah satu dapat menberikan nasihat dalam praktik pertanian. Kedua, metode pengawasan haruslah sederhana dan dapat diakses serta transparan bagi para petani. Dalam kasus ini, petani dapat dengan mudah merujuk pada tabel untuk menentukan pembayaran yang tepat yang akan diterimanya untuk setiap aktivitas, sistem yang mendorong partisipasi. Sumber: Kaonga dan Coleman 2008; Woelcke dan Tenningkeit 2009.

oleh pemerangkapan tingkat lanskap akan lebih mudah diakses jika hal ini tidak ada pemisahan divisi pemerangkapan pada pertanian dan kehutanan. Oleh karena aktivitas pemerangkapan karbon cenderung m e m i l i k i d a mp a k p o s i t i f p a d a pengelolaan tanah dan air seperti pada hasil panen,241 aspek paling terpenting dari pendanaan karbon yang diterapkan dalam pengelolaan tanah mungkin melayani sebagai “pengungkit” untuk menjalankan penerapan pertanian yang berkelanjutan yang telah memiliki keuntungan lainnya. Dari tahun 1945 hingga 1990, degradasi tanah di Afrika mengurangi produktivitas pertanian dengan estimasi 25 persen.242 Dan sekitar 86 persen dari lahan di Afrika Sub-Sahara mengalami tekanan kelembapan. 243 Mekanisme pembiayaan karbon efektif akan dapat membantu mengurangi frekuensi degradasi lahan. Tanah untuk pemenuhan pasar karbon memegang p ote ns i b e s ar u ntu k me mb antu meraih keseimbangan penting antara produktivitas intensif, melindungi sumber daya alam, dan membantu pembangunan pedesaan secara simultan



Laporan Pembangunan Dunia 2010

di beberapa komunitas termiskin di dunia. Pasar semacam itu belumlah siap. Permasalahan teknis memerlukan verifikasi, skala, dan kerangka waktu untuk dipecahkan. United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) mengajukan fase pendekatan yang dimulai dengan pembangunan kapasitas dan dukungan finansial. Fase pertama akan mendemonstrasikan teknik, pendekatan pengawasan, mekanisme pembiayaan. Pada fase kedua, teknik karbon tanah akan digabungkan dengan pasar karbon yang terkait secara lebih luas.244

Pengalihan subsidi pertanian dapat menjadi mekanisme penting untuk mencapai lahan cerdas-iklim dan pengelolaan air Negara-negara anggota dari Organisation for Economic C ooperation and Development (Organisasi untuk Pembangunan dan Kerja sama Ekonomi) memberikan $258 miliar setiap tahunnya dalam mendukung para petani mereka, yang berjumlah 23 persen dari pendapatan petani.245 Dari dukungan ini, 60 persennya berdasarkan kuantitas komoditi tertentu yang dihasilkan dan pada masukan beragam dengan tanpa pembatasan penggunaan—hanya 2 persen untuk layanan nonkomoditi (seperti pembentukan batas penyangga untuk melindungi jalur air, melindungi jalur hijau atau melindungi hewan-hewan langka). Pentingnya politik untuk perubahan iklim menawarkan kesempatan untuk mengub a h skema subsidi, lebi h memfokuskannya pada mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang juga akan menguntungkan tanah, air, dan sumber daya keragaman hayati domestik seperti pada peningkatan produktivitas ladang. Sebagai tambahan keuntungan langsung, pengalokasian sumber daya pada skala

tersebut akan mendemonstrasikan bagaimana teknik cerdas-iklim dapat diterapkan pada skala besar di dunia berkembang dan menarik kecerdikan pengusaha dan energi untuk menemukan jalan baru dalam memecahkan masalah teknis dan pemantauan yang akan muncul. Un i E rop a tel a h me ng ub a h Common Agricultural Policy (Kebijakan Pertanian Umum) sehingga dukungan pendapatan apa pun untuk petani harus memenuhi kebutuhan mereka akan lingkungan yang baik dan standar pertanian, dan dukungan pembangunan desa apa pun akan diukur sehingga memperbaiki kemampuan persaingan, pengelolaan lingkungan dan lahan, meningkatkan kualitas hidup, dan menambah diversifikasi. Melalui kategori dukungan pembangunan pedesaan, para petani dapat dikompensasi jika mereka memberikan layananan lingkungan jauh melebihi standar yang dimandatkan.246 Reformasi ini menjanjikan insiatif untuk awal loncatan cerdas-iklim dan para petani cerdas-pertanian dan kebijakan sumber daya alami, dan Uni Eropa dapat berfungsi sebagai dasar uji coba untuk mekanisme yang dapat diterapkan dalam pengelolaan lahan dan air pada dunia berkembang Untuk menangani efek dari perubahan iklim pada sumber daya alami dan pengurangan emisi gas rumah kaca secara simultan, masyarakat perlu untuk menghasilkan lebih dari tanah dan air serta melindungi sumber daya mereka dengan lebih baik. Untuk menghasilkan lebih, mereka membutuhkan investasi lebih pada pengelolaan air dan pertanian, k hu s u s ny a p a d a n e g a r a - n e g a r a berkembang. Untuk pertanian berarti investasi pada jalan dan penelitian dan pengembangan sama baiknya dengan

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

penerapan kebijakan dan institusi yang lebih baik. Untuk air, berati penggunaan alat pengambilan keputusan baru dan data yang lebih baik, memperkuat kebijakan dan institusi, dan berinvestasi pada infrastruktur. Penambahan harga yang diperkirakan dari produksi pertanian akan memberikan para petani dan pengguna sumber daya lainnya pendapatan untuk inovasi dan investasi. Akan tetapi penambahan keuntungan akan menambah insentif untuk mengeksploitasi secara berlebihan sumber daya. Perlindungan memerlukan peningkatan yang sama besarnya seperti usaha dalam produksi. S e j u m l a h a l at , t e k n i k d a n pendekatan yang ada dapat membantu para pengguna melindungi sumber daya dengan lebih baik. Akan tetapi para pengguna terkadang tidak memiliki insentif yang tepat untuk menerapkannya. Terdapat pemisahan dalam ruang dan waktu. Apa yang terbaik bagi para petani belum tentu menjadi terbaik untuk seluruh lanskap atau batas air. Apa yang optimal selama periode waktu yang pendek tidak optimal sepanjang dekade. Melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda juga akan melibatkan untuk meminta para petani miskin dan para penambang pedesaan mengambil risiko yang mungkin tidak mereka inginkan. Pemerintahan dan organisasi publik dapat menggunakan tiga tipe

tindakan untuk membuat insentif bagi para pengguna sumber daya agar lebih cerdas iklim. Pertama, mereka dapat menyediakan informasi sehingga masyarakat dapat membuat pilihan yang lebih terinformasi dan dapat menjalankan kesepakatan kerja sama. Hal ini dapat berupa informasi berteknologi tinggi. Kedua, mereka dapat menetapkan harga untuk kepemilikan kembali atau penyimpanan karbon di tanah. Jika dilakukan dengan benar, hal ini akan mengurangi risiko bagi para petani dalam menerapkan praktik baru. Hal ini juga membantu para pengguna sumber daya mempertimbangkan horizon waktu yang lebih panjang dalam keputusan mereka. Ketiga, mereka dapat menglihkan subsidi pertanian, khususnya di negara-negara kaya, sehingga mereka dapat melakukan praktik pembangunan desa cerdas iklim. Subsidi ini dapat diubah untuk menunjukkan bagaimana teknik baru dapat diadopsi dalam skala besar, dan dapat digunakan untuk menciptakan tindakan individu yang lebih sesuai dengan lanskap secara keseluruhan. Terakhir, mereka dapat menarik kecerdikan dan kreativitas yang diperlukan untuk mencapai tindakan keseimbangan yang mulus dengan memberi pangan 9 miliar penduduk dunia, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan melindung basis sumber daya alami.

“Bumi kita menghadapi masalah lingkungan karena perilaku manusia—menebang pepohonan, polusi udara, penggunaan plastik yang sekali pakai dan tidak bisa didaur ulang, bahaya kimia pada pertanian….Penanaman pohon akan mengurangi CO2.” —Netpakaikarn Netwong, Thailand, umur 14





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Catatan 1. Lihat misalnya Lotze-Campen dkk. 2009. 2. IPCC 2007b. 3. OECD 2008. 4. Burke dan Brown 2008; Burke, Brown, dan Christidis 2006. 5. Milly dkk. 2008; Barnett, Adam, dan Lettenmaier 2005. 6. de la Torre, Fajnzylber, dan Nash 2008. 7. World Water Ass essment Programme 2009. 8. Perry dkk., akan diterbitkan. 9. World Water Ass essment Programme 2009. 10. World Bank, akan terbit d. 11. World Bank, akan terbit d. 12. Molden 2007. 13. Milly dkk. 2008; Ritchie 2008; Young dan McColl 2005. 14. Sebagai lembaga pengelola sumber daya air di negara tersebut, pemerintah nasionalnya, bertindak melalui kementerian urusan air, harus memastikan bahwa air dilindungi, digunakan, dikembangkan, dilestarikan, dikelola, dan dikendalikan secara berkelanjutan dan merata, untuk manfaat seluruh masyarakat dan sesuai dengan mandat konstitusionalnya. Salman M. A. Salman, Staf World Bank, komunikasi pribadi, Juli 2009. 15. Dye dan Versfeld 2007. 16. Bates dkk. 2008. 17. Molle dan Berkoff 2007. 18. Molle dan Berkoff 2007; OECD 2009. 19. Olmstead, Hanemann, dan Stavins 2007. 20. Molle dan Berkoff 2007. 21. Asad dkk. 1999. 22. Bosworth dkk. 2002. 23. Lihat Murray Darling Basin Agreement Schedule E, http://www.mdbc. gov.au/about/the_mdbc_agreement.

24. Molle dan Berkoff 2007. 25. Rosegrant dan Binswanger 1994. 26. World Bank 2007b. 27. Bates dkk. 2008; Molden 2007. 28. Young dan McColl 2005. 29. http://www.environment.gov. au/water/mdb/overallocation.html (diakses 7 Mei 2009). 30. Molden 2007. 31. World Bank, akan terbit b. 32. World Bank, akan terbit b. 33. World Bank, akan terbit b. 34. Bhatia dkk. 2008. 35. Strzepek dkk. 2004. 36. World Commission on Dams 2000. Untuk pembahasan mengenai dampak-dampak High Dam di Aswan terhadap kesuburan tanah dan garis pesisir di Delta Sungai Nil, lihat Ritchie 2008. 37. World Water Assessment Programme 2009. 3 8 . D an fo ss Group G l ob a l. http://www.danfoss.com/Solutions/ Reverse+Osmosis/Case+stories.htm (diakses 9 Mei 2009). 39. FAO 2004b. 40. Desalinasi juga memungkinkan bagi pertanian bernilai tinggi di berbagai bagian di dunia, misalnya Spanyol. Gobierno de España 2009. 41. World Water Assessment Programme 2009. 42. Molden 2007. 43. Molden 2007. 44. Molden 2007. 45. Rosegrant, Cai, dan Cline 2002. 46. Misalnya, lihat referensi kepada Indian Financial Express tanggal 1 Desember 2008, yang dikutip dalam Perry dkk., akan diterbitkan. 47. De Fraiture dan Perry 2007; Molden 2007; Ward dan PulidoVelazquez 2008.

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

48. Perry dkk., akan diterbitkan. 49. Moller dkk. 2004; Perry dkk., akan terbit. 50. Perry dkk., akan terbit. 51. www.fieldlook.com (diakses 5 Mei 2009). 52. Perry dkk., akan terbit. 53. World Bank, akan terbit c. 54. Karbondioksida (CO2) adalah input bagi fotosintesis, proses di mana tumbuhan menggunakan cahaya matahari untuk membentuk karbohidrat. Oleh karena itu, konsentrasi CO2 yang lebih tinggi berdampak positif pada banyak tanaman, meningkatkan akumulasi biomassa dan hasil panen akhirnya. Selain itu, konsentrasi CO2 yang lebih tinggi mengurangi bukaan stomata—stomata adalah pori-pori yang memungkinkan tu mbu h an u ntu k b e r n ap a s d an mengeluarkan air—sehingga mengurangi jumlah air yang hilang. Tumbuhan yang dikelompokkan dalam tanaman C3, seperti beras, gandum, kedelai, kacangkacangan, dan juga pohon-pohonan, harus mendapatkan lebih banyak manfaat dari tanaman C4, seperti jagung, millet, dan sorgum. Akan tetapi, eksperimen terkini di lapangan menunjukkan bahwa pengujian-pengujian di laboratorium di masa lampau telah melebih-lebihkan efek positif ini. Sebagai contoh, suatu penelitian menunjukkan bahwa pada konsentrasi CO2 sebesar 550 bpm, hasil panen meningkat sebesar 13 persen untuk gandum, bukan 31 persen; 14 persen untuk kedelai, bukan 32 persen; dan 0 persen, bukan 18 persen, untuk tanaman C4. Cline 2007. Oleh karena alasan inilah, grafik dalam bab ini hanya menunjukkan hasil panen tanpa fertilisasi CO2 saja. 55. Easterling dkk. 2007. 56. EBRD dan FAO 2008. 57. Fay, Block, dan Ebinger 2010. 58. Suatu kekurangan dalam produksi pangan adalah situasi di mana cuaca

menyebabkan potensi produksi tahunan dari tanaman-tanaman terpenting di suatu daerah administratif hanya kurang dari 50 persen dari tingkat produksi rata-rata daerah tersebut selama tahun 1961-1990. Lebih besarnya kemungkinan terjadinya kekurangan produksi ini di lebih dari suatu daerah dalam suatu tahun tertentu mungkin akan mengurangi potensi ekspor dari daerah-daerah lain untuk mengompensasi kekurangan produksi pangan ini, sehingga menimbulkan masalah-masalah dalam hal ketahanan pangan. Alcamo dkk. 2007. 59. Easterling dkk. 2007. 60. Cline 2007. Skenario emisi tingginya adalah skenario SRES A2 IPCC, yang di berbagai model menghasilkan peningkatan temperatur rata-rata sebesar 3,13°C dari 2080 ke 2099 relatif terhadap 1980–99. Meehl dkk. 2007. 61. Lobell dkk. 2008. 62. Schmidhuber dan Tubiello 2007. 63. Didasarkan pada lima model iklim dan skenario emisi tinggi SRES A2. Fischer dkk. 2005. 64. Perhitungan didasarkan pada FAO 2009c. 65. IPCC 2007a. 66. Emisinya berasal dari konversi lahan yang tidak dikelola menjadi lahan pertanian, dan dari erosi tanah. 67. van der Werf dkk. 2008. 68. Steinfeld dkk. 2006. 69. Angka 18 persen ini menggabungkan kontribusi yang diestimasikan dari produksi hewan ternak terhadap emisi di beberapa kategori, seperti penggunaan lahan, alih fungsi lahan, dan kehutanan, untuk mendapatkan kontribusi total dari hewan ternak. Hal ini terdiri dari emisi gas- gas rumah kaca dari hewan ternak akibat alih fungsi lahan (36 persen); pengelolaan kotoran hewan (31



0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

persen); emisi langsung dari hewan (25 persen); produksi pakan (7 persen); serta pemrosesan dan transportasi (1 persen). Steinfeld dkk. 2006. 7 0 . I E A 2 0 0 6 . E st i mas i i n i mengasumsikan bahwa larangan perdagangan yang sekarang terus dijaga. Jika larangan-larangan tersebut berubah, khususnya yang melarang impor biofuel ke AS, akan terjadi pergeseran regional yang besar dalam produksi. 71. Gurgel, Reilly, dan Paltsev 2008. 72. NRC 2007; Tilman, Hill, dan Lehman 2006. 73. Beckett dan Oltjen 1993. 74. Hoekstra dan Chapagain 2007. Pimentel dkk. (2004) memberikan estimasi sebesar 43.000 liter per kilogram daging sapi. 75. Peden, Tadesse, dan Mammo 2004. Dalam sistem ini satu hewan ternak mengonsumsi 25 liter air per hari selama periode dua tahun untuk menghasilkan 125 kilogram berat badannya dan mengonsumsi residu tanaman pangan yang tidak membutuhkan tambahan input air. 76. Williams, Audsley, dan Sandars 2006. Terlebih lagi, beberapa sumber memberikan estimasi emisi yang lebih tinggi terhadap produksi daging—hingga 30 kilogram CO2e per kilogram daging sapi yang diproduksi, misalnya CarlssonKanyama dan Gonzales 2009. 77. Randolph dkk. 2007; Rivera dkk. 2003. 78. Delgado dkk. 1999; Rosegrant dkk. 2001; Rosegrant, Fernandez, dan Sinha 2009; Thornton 2009; World Bank 2008e. 79. Suatu penelitian memproyeksikan bahwa total lahan pertanian yang “baik” dan “prima” yang tersedia akan tetap tidak berubah, masing-masing sebanyak 2,6 miliar dan 2 miliar hektar, di tahun 2080,

dibandingkan rata-rata tahun 1961–1990 (berdasarkan model iklim Hadley Centre HadCM3 dan mengasumsikan skenario emisi yang sangat tinggi, SRES A1F1). Fischer, Shah, dan van Velthuizen 2002; Parry dkk. 2004. 80. Lotze-Campen dkk. 2009. 81. Cassman 1999; Cassman dkk. 2003. 82. Calculated from FAO 2009c. 83. Diaz dan Rosenberg 2008. 84. Schoups dkk. 2005. 85. Delgado dkk. 1999. 86. Hazell 2003. 87. Hazell 2003; Rosegrant dan Hazell 2000. 88. Pingali dan Rosegrant 2001. 89. Reardon dkk. 1998. 90. Rosegrant dan Hazell 2000. 91. Rosegrant dan Hazell 2000. 92. Suatu bentuk produk pertanian khusus disebut sebagai makanan fungsional. Ini adalah produk-produk dalam bentuk makanan atau minuman yang memengaruhi fungsi-fungsi tubuh dan dengan demikian memberikan manfaat bagi kesehatan, kesejahteraan, atau kinerja di atas nilai nutrisi regulernya. Contohnya adalah makanan-makanan antioksidan, seperti guarana dan açaí berry, nasi berwarna keemasan dan ketela yang berdaging oranye yang kaya vitamin A, margarin yang difortifikasi dengan sterol tumbuhan untuk memperbaiki tingkat kolesterol, dan telur dengan asam lemak omega-3 yang lebih banyak untuk menjaga kesehatan jantung. Kotilainen dkk. 2006. 93. Ziska 2008. 94. T. Christopher, “Can Weeds Help Solve the Climate Crisis?” New York Times, 28 Juni 2008. 95. Ziska dan McClung 2008. 96. UNEP-WCMC 2008. Di lautan, bagian dari total daerah yang dilindungi bahkan jauh lebih sedikit. Kira-kira 2,58

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

juta kilometer persegi, atau 0,65 persen dari lautan dunia dan 1,6 persen dari daerah kelautan total di dalam ZEE, adalah daerah kelautan yang dilindungi. Laffoley 2008. 97. Gaston dkk. 2008. 98. Hannah dkk. 2007. 99. Dudley dan Stolton 1999. 100. Struhsaker, Struhsaker, dan Siex 2005. 101. Scherr dan McNeely 2008; McNeely dan Scherr 2003. 102. van Buskirk dan Willi 2004. 103. McNeely dan Scherr 2008. 104. Chan dan Daily 2008. 1 0 5 . Poh on - p oh on k a c ang kacangan mengandung nodul-nodul bakteri simbiotik yang mengikat nitrogen di atmosfer dan dengan demikian meningkatkan jumlah nutrisi di dalam tumbuhan tersebut dan juga di tanah. 106. McNeely dan Scherr 2003. 107. Ricketts dkk. 2008. 108. Klein dkk. 2007. 119. Lin, Perfecto, dan Vandermeer 2008. 110. World Bank 2008a. 111. World Bank 2008a. 112. Dari $6 miliar yang dihabiskan per tahunnya untuk pengelolaan lahan dan penggunaan lahan untuk konservasi, sepertiganya dihabiskan di negara berkembang. Scherr dan McNeely 2008. 113. Suatu sistem penzonaan untuk konservasi yang lazim memungkinkan pembangunan di beberapa daerah dan membatasinya di daerah-daerah konservasi. Hak-hak pembangunan yang dapat diperdagangkan adalah suatu alternatif bagi penzonaan murni, yang memungkinkan dipertukarkannya daerah-daerah dalam rangka mencapai s as aran-s as aran kons er vasi d an memberikan insentif untuk kepatuhan terhadapnya. Sebagian pemilik lahan setuju untuk membatasi pembangunan—

yaitu pembatasan dalam hak-hak kepemilikannya—dengan ganti rugi uang. Sebagai contoh, suatu hukum negara dapat mewajibkan bahwa 20 persen dari setiap lahan swasta dikelola sebagai hutan alami. Para pemilik lahan diizinkan untuk membabat hutannya melebihi batas 20 persen tadi hanya jika mereka membeli haknya dari pemilik lahan lain yang menjaga lebih dari 20 persen lahannya dalam bentuk hutan dan menjual hak-hak pembangunan atas “kelebihan” hutannya ini, yang secara tak terbalikkan menempatkannya dalam status hutan lindung. Chomitz 2004. 114. World Bank 2008c. 115. Alston dkk. 2000; World Bank 2007c. 116. Beintema dan Stads 2008. 117. IAASTD 2009. 118. Blaise, Majumdar, dan Tekale 2005; Govaerts, Sayre, dan Deckers 2005; Kosgei dkk. 2007; Su dkk. 2007. 119. Thierfelder, Amezquita, dan Stahr 2005; Zhang dkk. 2007. 120. Franzluebbers 2002. 121. Govaerts dkk. 2009. 122. Derpsch dan Friedrich 2009. 123. Derpsch 2007; Hobbs, Sayre, dan Gupta 2008. 124. World Bank 2005. 125. Derpsch dan Friedrich 2009; Erenstein dan Laxmi 2008. 126. Erenstein 2009. 127. Erenstein dkk. 2008. 128. de la Torre, Fajnzylber, dan Nash 2008. 129. Passioura 2006. 130. Yan dkk. 2009. 131. Thornton 2009. 132. Smith dkk. 2009. 133. Doraiswamy dkk. 2007; Perez dkk. 2007; Singh 2005. 134. Misalnya penyimpanan briket urea atau supergranula di tempat yang sangat dalam.





Laporan Pembangunan Dunia 2010

135. Singh 2005. 136. Singh 2005. 137. Poulton, Kydd, dan Dorward 2006; Dorward dkk. 2004; Pender dan Mertz 2006. 138. Hofmann dan Schellnhuber 2009; Sabine dkk. 2004. 139. Hansen dkk. 2005. 140. FAO 2009e. 141. FAO 2009e. 142. Delgado dkk. 2003. 143. FAO 2009e. 144. Arkema, Abramson, dan Dewsbury 2006. 145. Smith, Gilmour, dan Heyward 2008. 146. Gordon 2007. 147. Armada, White, dan Christie 2009. 148. Pitcher dkk. 2009. 149. OECD 2008; World Bank 2008d. 150. FAO 2009e. 151. World Bank 2008d. 152. Costello, Gaines, dan Lynham 2008; Hardin 1968; Hilborn 2007a; Hilborn 2007b. 153. FAO 2009c. Ikan dan makanan laut mencakup ikan dan invertebrata air laut dan air tawar. Proten hewani total mencakup yang di atas, ditambah dengan seluruh daging hewan di darat, susu, dan produk-produk hewani lainnya. Datanya adalah untuk 2003. 154. PBB 2009. 155. FAO 2009c (data 2003). 156. FAO 2009e. 157. FAO 2009e. 158. World Bank 2006. 159. De Silva dan Soto 2009. 160. De Silva dan Soto 2009. 161. FAO 2004a. 162. Gyllenhammar dan Hakanson 2005. 163. Deutsch dkk. 2007. 164. Gatlin dkk. 2007.

165. Tacon, Hasan, dan Subasinghe 2006. 166. Tacon, Hasan, dan Subasinghe 2006. 167. Naylor dkk. 2000. 168. Primavera 1997. 169. Tal dkk. 2009. 170. Naylor dkk. 2000. 171. FAO 2001; Lightfoot 1990. 172. Delgado dkk. 2003. 173. FAO 2009b. 174. Misalnya, Cina dan Nepal bukanlah pihak-pihak yang termasuk dalam kesepakatan antara Bangladesh dengan India untuk air di cekungan Gangga dan tidak mendapatkan alokasi apa pun. 175. Salman 2007. 176. Qaddumi 2008. 177. Kurien 2005. 178. FAO 2009e. 179. Duda dan Sherman 2002. 180. FAO 2009d; Sundby dan Nakken 2008. 181. Lodge 2007. 182. BCLMEProgramme 2007. 183. GEF 2009. 184. World Bank 2009. 185. Fischer dkk. 2005. 186. Rosegrant, Fernandez, dan Sinha 2009. 187. Easterling dkk. 2007. 188. FAO 2008. 189. Mitchell 2008. Guncangan iklim telah menciptakan kebijakankebijakan perdagangan restriktif dan juga memperparah kenaikan harga di masa lalu, sebagai contoh, lihat Battisti dan Naylor 2009. 190. World Bank 2009. 191. World Bank 2009. 192. von Braun dkk. 2008. 193. Bouet dan Laborde 2008. 194. Isu-isu lainnya membutuhkan penelaahan kasus per kasus, seperti pengecualian dari potongan tarif untuk

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

produk-produk khusus, sebagaimana yang diupayakan oleh negara-negara berkembang untuk produk-produk yang penting bagi ketahanan pangan, ketahanan penghidupan, dan pembangunan pedesaan. World Bank 2007c. 195. WMO 2000. 196. Xiaofeng 2007. 197. PBB 2004. 198. “Africa’s Weather Stations Need ‘Major Effort,’” Science dan Development Network. www.SciDev.net, 7 November, 2006. 199. WMO 2007. 200. Barnston dkk. 2005; Mason 2008. 201. Moron dkk., akan terbit; Moron, Robertson, dan Boer 2009; Moron, Robertson, dan Ward 2006; Moron, Robertson, dan Ward 2007. 202. Sivakumar dan Hansen 2007. 203. Patt, Suarez, dan Gwata 2005. 204. Bastiaanssen 1998; Menenti 2000. 205. WaterWatch, www.waterwatch. nl (diakses 9 Mei 2009). 206. Bastiaansen, W., WaterWatch, komunikasi pribadi, Mei 2009. 207. http://www.globalsoilmap.net/ (diakses 15 Mei 2009). 208. Bindlish, Crow, dan Jackson 2009; Frappart dkk. 2006; Turner dkk. 2003. 209. Bouma, van der Woerd, dan Kulik 2009. 210. UNESCO 2007. 211. World Bank 2008d. 212. Kumar 2004. 213. World Bank 2007a. 214. World Bank, akan terbit b. 215. World Bank 2008b. 216. World Bank 2008b. 217. Mitchell 2008. 218. Zilberman dkk. 2008. 219. Rosegrant, Fernandez, dan Sinha 2009.

220. Parr y dkk. 1999; Parr y, Rosenzweig, dan Livermore 2005; Rosenzweig dkk. 2001. 221. Rosenzweig dkk. 2001. 222. Parry dkk. 2004. 223. Fischer dkk. 2005; Parry dkk. 1999; Parry dkk. 2004; Parry 2007; Parry, Rosenzweig, dan Livermore 2005; Schmidhuber dan Tubiello 2007. 224. Dawe 2008; Robles dan Torero, akan terbit; Simler 2009. 225. McKinsey & Company 2009. 226. Perez dkk. 2007. 227. Smith dkk. 2009. 228. Aliran dana bantuan pembangunan resmi ke Afrika dari 1996 hingga 2004 adalah sekitar $1,30 miliar per tahun: World Bank 2007c. 229. Perez dkk. 2007. 230. McKinsey & Company 2009. 231. Manfaat dari sekuestrasi (penangkapan) dari aktivitas-aktivitas tersebut akan diperbarui secara rutin berdasarkan pendekatan-pendekatan berbasis model serta pengukuran yang paling canggih. 232. West dan Post 2002. 233. Rochette dkk. 2008. 234. Johnston dkk. 2004. 235. Sullivan dkk. 2004. 236. Dalam Conservation Reserve Program, bagaimanapun juga, para tuan tanah mengajukan penawaran harga atas pembayarannya dan pemerintah menolak atau menerima tawaran tersebut, yang cukup berbeda dibandingkan pasar perdagangan emisi karbon. 237. McKinsey & Company 2009. 238. Tschakert 2004. 239. Alston dkk. 2000. 240. Chicago Climate Exchange, http://www.chicagoclimatex.com/index. jsf (diakses 10 Februari 2009). 241. Lal 2005. 242. UNEP1990. 243. Swift dan Shepherd 2007.





Laporan Pembangunan Dunia 2010

244. FAO 2009a. 245. OECD 2008. 246. http://ec.europa.eu/ agriculture/capreform/infosheets/ crocom_en.pdf (diakses 12 Mei 2009).

Referensi Alcamo, J., N. Dronin, M. Endejan, G. Golubev, dan A. Kirilenko. 2007. “A New Assessmentof Climate Change Impacts on Food Production Shortfalls and Water Availability in Russia.” Global Environmental Change 17 (3–4): 429–44. Alston, J. M., C. Chan-Kang, M. C. Marra, P. G. Pardey, dan T. Wyatt. 2000. A Meta-Analysis of Rates of Return to Agricultural R&D: Ex Pede Herculem? Washington, DC: International Food Policy Research Institute. Arango, H. 2003. Planificación Predial Participativa, Fundación Centro para la Investigación en Sistemas Sostenibles de Producción Agropecuaria. Cali, Colombia: Fundación CIPAV, Ingeniero Agrícola. Arkema, K. K., S. C. Abramson, dan B. M. Dewsbury. 2006. “Marine Ecosystem-Based Management: From Characterization to Implementation.” Ecology and the Environment 4 (10): 525–32. Armada, N., A. T. White, dan P. Christie. 2009. “Managing Fisheries Resources in Danajon Bank, Bohol, Philippines: An Ecosystem-Based Approach.” Coastal Management 307 (3–4): 308–30. Asad, M., L. G. Azevedo, K. E. Kemper, dan L. D. Simpson. 1999. “Management of Water Resources: Bulk Water Pricing in Brazil.” Technical Paper 432, World Bank, Washington, DC. Barnett, T. P., J. C. Adam, dan D. P. Lettenmaier. 2005. “Potential

Impacts of a Warming Climate on Water Availability in Snowdominated Regions.” Nature 438: 303–09. Barnston, A. G., A. Kumar, L. Goddard, dan M. P. Hoerling. 2005. “Improving Seasonal Prediction Practices through Attribution of Climate Variability.” Bulletin of the American Meteorological Society 86 (1): 59–72. Bastiaanssen, W. G. M. 1998. Remote Sensing in Water Resources Management: The State of the Art. Colombo: International Water Management Institute. Bates, B., Z. W. Kundzewicz, S. Wu, dan J. Palutikof. 2008. “Climate Change and Water.” Technical Paper, Intergovernmental Panel on Climate Change, Geneva:. Battisti, D. S., dan R. L. Naylor. 2009. “Historical Warnings of Future Food Insecurity with Unprecedented Seasonal Heat.” Science 323 (5911): 240–44. BCLMEProgramme. 2007. “The Changing State of the Benguela Current Large Marine Ecosystem.” Paper presented at the Expert Workshop on Climate Change and Variability and Impacts Thereof in the BCLMERegion, May 15. Kirstenbosch Research Centre, Cape Town. Beckett, J. L., dan J. W. Oltjen. 1993. “Estimation of the Water Requirement for Beef Production in the United States.” Journal of Animal Science 7 (4): 818–26. Beintema, N. M., dan G.-J. Stads. 2008. “Measuring Agricultural Research Investments: A Revised Global Picture.” Agricultural Science and Technology Indicators Background Note, International Food Policy

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

Research Institute, Washington, DC. Benbrook, C. 2001. “Do GM Crops Mean Less Pesticide Use?” Pesticide Outlook 12 (5): 204–07. Bhatia, R., R. Cestti, M. Scatasta, dan R. P. S. Malik. 2008. Indirect Economic Impacts of Dams: Case Studies from India, Egypt and Brazil. New Delhi: Academic Foundation. Bindlish, R., W. T. Crow, dan T. J. Jackson. 2009. “Role of Passive Microwave Remote Sensing in Improving Flood Forecasts.” IEEE Geoscience and Remote Sensing Letters 6 (1): 112–16. Blaise, D., G. Majumdar, dan K. U. Tekale. 2005. “On-Farm Evaluation of Fertilizer Application and Conservation Tillage on Productivity of Cotton and Pigeonpea Strip Intercropping on Rainfed Vertisols of Central India.” Soil and Tillage Research 84 (1): 108–17. Bosworth, B., G. Cornish, C. Perry, dan F. van Steenbergen. 2002. Water Charging in Irrigated Agriculture: Lessons from the Literature. Wallingford, UK: HRWallingford Ltd. Bouët, A., dan D. Laborde. 2008. “The Cost of a Non-Doha.” Briefing note, International Food Policy Research Institute, Washington, DC. Bouma, J. A., H. J. van der Woerd, dan O. J. Kulik. 2009. “Assessing the Value of Information for Water Quality Management in the North Sea.” Journal of Environmental Management 90 (2): 1280–88. Burke, E. J., dan S. J. Brown. 2008. “Evaluating Uncertainties in the Projection of Future Drought.” Journal of Hydrometeorology 9 (2): 292–99.

Burke, E. J., S. J. Brown, dan N. Christidis. 2006. “Modeling the Recent Evolution of Global Drought and Projections for the 21st Century with the Hadley Centre Climate Model.” Journal of Hydrometeorology 7: 1113–25. Butler, R. A., L. P. Koh, dan J. Ghazoul. Akan terbit. “REDD in the Red: Palm Oil Could Undermine Carbon Payment Schemes.” Conservation Letters. Carlsson-Kanyama, A., dan A. D. Gonzales. 2009. “Potential Contributions of Food Consumption Patterns to Climate Change.” American Journal of Clinical Nutrition 89 (5):1704S– 09S. Cassman, K. G. 1999. “Ecological Intensification of Cereal Production Systems: Yield Potential, Soil Quality, and Precision Agriculture.” Proceedings of the National Academy of Sciences 96 (11): 5952–59. Cassman, K. G., A. Dobermann, D. T. Walters, dan H. Yang. 2003. “Meeting Cereal Demand While Protecting Natural Resources and Improving Environmental Quality.” Annual Review of Environment and Resources 28: 315–58. CEDARE (Center for Environment and Development in the Arab Region and Europe). 2006. Water Conflicts and Conflict Management Mechanisms in the Middle East and North Africa Region. Cairo: CEDARE. Chan, K. M. A., dan G. C. Daily. 2008. “The Payoff of Conservation Investments in Tropical Countryside.” Proceedings of the National Academy of Sciences 105 (49): 19342–47.





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Chomitz, K. M. 2004. “Transferable Development Rights and Forest Protection: An Exploratory Analysis.” International Regional Science Review 27 (3): 348–73. Cline, W. R. 2007. Global Warming and Agriculture: Impact Estimates by Country. Washington, DC: Center for Global Development and Peterson Institute for International Economics. Costello, C., S. D. Gaines, dan J. Lynham. 2008. “Can Catch Shares Prevent Fisheries Collapse?” Science 321 (5896): 1678–81. Dawe, D. 2008. “Have Recent Increases in International Cereal Prices Been Transmitted to Domestic Economies? The Experience in Seven Large Asian Countries.” Agricultural Development Economics Division Working Paper 08-03, Food and Agriculture Organization, Rome. De Fraiture, C., dan C. Perry. 2007. “Why Is Agricultural Water Demand Unresponsive at Low Price Ranges?” Dalam Irrigation Water Pricing: The Gap between Theory and Practice, ed. F. Molle dan J. Berkoff. Oxfordshire, UK: CAB International. de la Torre, A., P. Fajnzylber, dan J. Nash. 2008. Low Carbon, High Growth: Latin American Responses to Climate Change. Washington, DC: World Bank. De Silva, S., dan D. Soto. 2009. “Climate Change and Aquaculture: Potential Impacts, Adaptation and Mitigation.” Technical Paper 530, Food and Agriculture Organization, Rome. Delgado, C. L., M. W. Rosegrant, H. Steinfeld, S. Ehui, dan C. Courbois. 1999. “Livestock to 2020: The

Next Food Revolution.” Food, Agriculture, and Environment Discussion Paper 28, International Food Policy Research Institute, Washington, DC. Delgado, C. L., N. Wada, M. Rosegrant, S. Meijer, dan M. Ahmed. 2003. Outlook for Fish to 2020: Meeting Global Demand. Washington, DC: International Food Policy Research Institute. Derpsch, R. 2007. “No-Tillage and Conservation Agriculture: A Progress Report.” Dalam No-Till Farming Systems, T. Goddard, M. A. Zoebisch, Y. T. Gan, W. Elli, A. Watson, dan S. Sombatpanit (para editor). Bangkok: World Association of Soil and Water Conservation. Derpsch, R., dan T. Friedrich. 2009. “Global Overview of Conservation Agriculture Adoption.” Dalam Lead Papers 4th World Congress on Conservation Agriculture. New Delhi: World Congress on Conservation Agriculture. Deutsch, L., S. Graslund, C. Folke, M. Troell, M. Huitric, N. Kautsky, dan L. Lebel. 2007. “Feeding Aquaculture Growth through Globalization: Exploitation of Marine Ecosystems for Fishmeal.” Global Environmental Change 17 (2): 238–49. Diaz, R. J., dan R. Rosenberg. 2008. “Spreading Dead Zones and Consequences for Marine Ecosystems.” Science 321 (5891): 926–29. Doraiswamy, P., G. McCarty, E. Hunt, R. Yost, M. Doumbia, dan A. Franzluebbers. 2007. “Modeling Soil Carbon Sequestration in Agricultural Lands of Mali.” Agricultural Systems 94 (1): 63–74.

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

Dorward, A., S. Fan, J. Kydd, H. Lofgren, J. Morrison, C. Poulton, N. Rao, L. Smith, H. Tchale, S. Thorat, I. Urey, dan P. Wobst. 2004. “Institutions and Policies for Pro-Poor Agricultural Growth.” Development Policy Review 22 (6): 611–22. Duda, A. M., dan K. Sherman. 2002. “A New Imperative for Improving Management of Large Marine Ecosystems.” Ocean and Coastal Management 45: 797–833. Dudley, N., dan S. Stolton. 1999. Conversion of “Paper Parks” to Effective Management: Developing a Target. Gland, Switzerland: Report to the WWF-World Bank Alliance from the International Union for the Conservation of Nature and WWF, Forest Innovation Project. Dye, P., dan D. Versfeld. 2007. “Managing the Hydrological Impacts of South African Plantation Forests: An Overview.” Forest Ecology and Management 251 (1–2): 121–28. Easterling, W., P. Aggarwal, P. Batima, K. Brander, L. Erda, M. Howden, A. Kirilenko, J. Morton, J.-F. Soussana, J. Schmidhuber, dan F. Tubiello. 2007. “Food, Fibre and Forest Products.” Dalam Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, M. Parry, O. F. Canziani, J. P. Palutikof, P. J. van der Linden, dan C. E. Hanson (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. EBRD (European Bank for Reconstruction and Development) dan FAO (Food and Agriculture Organization). 2008. “Fighting

Food Inflation through Sustainable Investment.” EBRD and FAO, London. Erenstein, O. 2009. “Adoption and Impact of Conservation Agriculture Based Resource Conserving Technologies in South Asia.” Dalam Lead Papers, 4th World Congress on Conservation Agriculture, 4–7 Februari 2009, New Delhi, India. New Delhi: WCCA. Erenstein, O., U. Farooq, R. K. Malik, dan M. Sharif. 2008. “On-Farm Impacts of Zero Tillage Wheat in South Asia’s Rice-Wheat Systems.” Field Crops Research 105 (3): 240–52. Erenstein, O., dan V. Laxmi. 2008. “Zero Tillage Impacts in India’s Rice-Wheat Systems: A Review.” Soil and Tillage Research 100 (1-2): 1–14. FAO (Food and Agriculture Organization). 2001. “Integrated Agriculture-Aquaculture.” Fisheries Technical Paper 407, Rome. ———. 2004a. The State of World Fisheries and Aquaculture 2004. Rome: FAO. ———. 2004b. “Water Desalination For Agricultural Applications.” Land and Water Discussion Paper 5, FAO, Rome. ———-. 2005. Agricultural Biodiversity in FAO. Rome: FAO. ———. 2008. Food Outlook: Global Market Analysis. Rome: FAO. ———. 2009a. “Anchoring Agriculture within a Copenhagen Agreement: A Policy Brief for UNFCCC Parties by FAO.” FAO, Rome. ———. 2009b. “Aquastat.” FAO, Rome. ———. 2009c. “FAOSTAT.” FAO, Rome. ———. 2009d. “Fisheries and Aquaculture in a Changing Climate.” FAO, Rome.





Laporan Pembangunan Dunia 2010

———. 2009e. The State of World Fisheries and Aquaculture 2008. Rome: FAO. Fay, M., R. I. Block, dan J. Ebinger, ed. 2010. Adapting to Climate Change in Europe and Central Asia. Washington, DC: World Bank. Fischer, G., M. Shah, F. Tubiello, dan H. T. Van Velthuizen. 2005. “Socio-economic and Climate Change Impacts on Agriculture: An Integrated Assessment, 1990–2080.” Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences 360: 2067–83. Fischer, G., M. Shah, dan H. van Velthuizen. 2002. “Climate Change and Agricultural Vulnerability.” Paper presented at the World Summit on Sustainable Development, Johannesburg. Franzluebbers, A. J. 2002. “Water Infiltration and Soil Structure Related to Organic Matterand Its Stratification with Depth.” Soil and Tillage Research 66: 197–205. Frappart, F., K. D. Minh, J. L’Hermitte, A. Cazenave, G. Ramillien, T. Le Toan, dan N. Mognard-Campbell. 2006. “Water Volume Change in the Lower Mekong from Satellite Altimetry and Imagery Data.” Geophysical Journal International 167 (2): 570–84. Gaston, K. J., S. F. Jackson, L. CantuSalazar, dan G. Cruz-Pinon. 2008. “The Ecological Performance of Protected Areas.” Annual Review of Ecology, Evolution, and Systematics 39: 93–113. Gatlin, D. M., F. T. Barrows, P. Brown, K. Dabrowski, T. G. Gaylord, R. W. Hardy, E. Herman, G. Hu, A. Krogdahl, R. Nelson, K. Overturf, M. Rust, W. Sealey, D. Skonberg, E. J. Souza, D. Stone, R. Wilson,

dan E. Wurtele. 2007. “Expanding the Utilization of Sustainable Plant Products in Aquafeeds: A Review.” Aquaculture Research 38 (6): 551–79. Gleick, P. 2008. The World’s Water 2008–2009: The Biennial Report on Freshwater Resources. Washington, DC: Island Press. GEF (Global Environment Facility). 2009. From Ridge to Reef: Water, Environment, and Community Security: GEF Action on Transboundary Water Resources. Washington, DC: GEF. Gobierno de España. 2009. La Desalinización en España. Madrid: Ministerio de Medio Ambiente y Medio Rural y Marino. Gordon, I. J. 2007. “Linking Land to Ocean: Feedbacks in the Management of Socio-Ecological Systems in the Great Barrier Reef Catchments.” Hydrobiologia 591 (1): 25–33. Govaerts, B., K. Sayre, dan J. Deckers. 2005. “Stable High Yields With Zero Tillage and Permanent Bed Planting?” Field Crops Research 94: 33–42. Govaerts, B., N. Verhulst, A. Castellanos-Navarrete, K. D. Sayre, J. Dixon, dan L. Dendooven. 2009. “Conservation Agriculture and Soil Carbon Sequestration: Between Myth and Farmer Reality.” Critical Reviews in Plant Sciences 28 (3): 97–122. Groves, D. G., M. Davis, R. Wilkinson, dan R. Lempert. 2008. “Planning for Climate Change in the Inland Empire: Southern California.” Water Resources Impact 10 (4): 14–17. Groves, D. G., dan R. J. Lempert. 2007. “A New Analytic Method for

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

Finding Policy-Relevant Scenarios.” Global Environmental Change 17 (1): 73–85. Groves, D. G., D. Yates, dan C. Tebaldi. 2008. “Developing and Applying Uncertain GlobalClimate Change Projections for Regional Water Management Planning.” Water Resources Research 44 (12): 1–16. Gruere, G. P., P. Mehta-Bhatt, dan D. Sengupta. 2008. “Bt Cotton and Farmer Suicides in India: Reviewing the Evidence.” Discussion Paper 00808, International Food Policy Research Institute, Washington, DC. Gurgel, A. C., J. M. Reilly, dan S. Paltsev. 2008. Potential Land Use Implications of a Global Biofuels Industry. Cambridge, MA: Massachusetts Institute of Technology Joint Program on the Science and Policy of Global Change. Gyllenhammar, A., dan L. Hakanson. 2005. “Environmental Consequence Analyses of Fish Farm Emissions Related to Different Scales and Exemplified by Data from the Baltic: A Review.” Marine Environmental Research 60: 211–43. Hannah, L., G. Midgley, S. Andelman, M. Araujo, G. Hughes, E. MartinezMeyer, R. Pearson, dan P. Williams. 2007. “Protected Areas Needs in a Changing Climate.” Frontiers in Ecology and Evolution 5 (3): 131–38. Hansen, J., L. Nazarenko, R. Ruedy, M. Sato, J. Willis, A. Del Genio, D. Koch, A. Lacis, K. Lo, S. Menon, T. Novakov, J. Perlwitz, G. Russell, G. A. Schmidt, dan N. Tausnev. 2005. “Earth’s Energy Imbalance: Confirmation and Implications.” Science 308 (5727): 1431–35.

Hardin, G. 1968. “The Tragedy of the Commons.” Science 162 (3859): 1243–48. Hazell, P. B. R. 2003. “The Green Revolution: Curse or Blessing?” Dalam Oxford Encyclopedia of Economic History, J. Mokyr (editor). New York: Oxford University Press. Henson, I. E. 2008. “The Carbon Cost of Palm Oil Production in Malaysia.” The Planter 84: 445–64. Hilborn, R. 2007a. “Defining Success in Fisheries and Conflicts in Objectives.” Marine Policy 31 (2): 153–58. ———. 2007b. “Moving to Sustainability by Learning from Successful Fisheries.” Ambio 36 (4): 296–303. Hobbs, P. R., K. Sayre, dan R. Gupta. 2008. “The Role of Conservation Agriculture in Sustainable Agriculture.” Philosophical Transactions of the Royal Society 363 (1491): 543–55. Hoekstra, A. Y., dan A. K. Chapagain. 2007. “Water Footprints of Nations: Water Use by People as a Function of Their Consumption Pattern.” Water Resources Management 21 (1): 35–48. Hofmann, M., dan H.-J. Schellnhuber. 2009. “Oceanic Acidification Affects Marine Carbon Pump and Triggers Extended Marine Oxygen Holes.” Proceedings of the National Academy of Sciences 106 (9): 3017–22. IAASTD (International Assessment of Agricultural Knowledge, Science and Technology for Development). 2009. Summary for Decision Makers of the Global Report. Washington, DC: IAASTD. IEA (International Energy Agency). 2006. World Energy Outlook 2006. Paris: IEA.



0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). 2007a. Climate Change 2007: Synthesis Report. Contribution of Working Groups I, II and II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Geneva: IPPC. ———. 2007b. “Summary for Policymakers.” Dalam Climate Change 2007: Mitigation. Contribution of Working Group III to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, B. Metz, O. R. Davidson, P. R. Bosch, R. Dave, dan L. A. Meyer (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. James, C. 2000. Global Review of Commercialized Transgenic Crops. Ithaca, NY: International Service for the Acquisition of Agri-Biotech Applications. ———. 2007. Global Status of Commercialized Biotech/GM Crops: 2007. Ithaca, NY: International Service for the Acquisition of AgriBiotech Applications. ———. 2008. Global Status of Commercialized Biotech/GM Crops: 2008. Ithaca, NY: International Service for the Acquisition of AgriBiotech Applications. Johnston, C. A., P. Groffman, D. D. Breshears, Z. G. Cardon, W. Currie, W. Emanuel, J. Gaudinski, R. B. Jackson, K. Lajtha, K. Nadelhoffer, D. Nelson, W. MacPost, G. Retallack, dan L. Wielopolski. 2004. “Carbon Cycling in Soil.” Frontiers in Ecology and the Environment 2 (10): 522–28. Kaonga, M. L., dan K. Coleman. 2008. “Modeling Soil Organic Carbon Turnover in Improved Fallows in Eastern Zambia Using the RothC-

26.3 Model.” Forest Ecology and Management 256 (5): 1160–66. Klein, A. M., B. E. Vaissiere, J. H. Cane, I. Steffan-Dewenter, S. A. Cunningham, C. Kremen, dan T. Tscharntke. 2007. “Importance of Pollinators in Changing Landscapes for World Crops.” Proceedings of the Royal Society 274 (1608): 303–13. Koh, L. P., P. Levang, dan J. Ghazoul. Akan terbit. “Designer Landscapes for Sustainable Biofuels.” Trends in Ecology and Evolution. Koh, L. P., dan D. S. Wilcove. 2009. “Is Oil Palm Agriculture Really Destroying Tropical Biodiversity.” Conservation Letters 1 (2): 60–64. Kosgei, J. R., G. P. W. Jewitt, V. M. Kongo, dan S. A. Lorentz. 2007. “The Influence Of Tillage on Field Scale Water Fluxes and Maize Yields in Semi-Arid Environments: A Case Study of Potshini Catchment, South Africa.” Physics and Chemistry of the Earth , Parts A/B/C 32 (15–18): 1117–26. Kotilainen, L., R. Rajalahti, C. Ragasa, dan E. Pehu. 2006. “Health Enhancing Foods: Opportunities for Strengthening the Sector in Developing Countries.” Agriculture and Rural Development Discussion Paper 30, World Bank, Washington, DC. Kumar, R. 2004. “eChoupals: A Study on the Financial Sustainability of Village Internet Centers in Rural Madhya Pradesh.” Information Technologies and International Development 2 (1): 45–73. Kurien, J. 2005. “International Fish Trade and Food Security: Issues and Perspectives.” Paper presented at the 31st Annual Conference of the International Association of Aquatic and Marine Science Libraries, Rome.

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

Laffoley, D. d’A. 2008. “Towards Networks of Marine Protected Areas: The MPA Plan of Action for IUCN’s World Commission on Protected Areas.” International Union for Conservation of Nature, World Commission on Protected Areas, Gland, Switzerland. Lal, R. 2005. “Enhancing Crop Yields in the Developing Countries through Restoration of the Soil Organic Carbon Pool in Agricultural Lands.” Land Degradation and Development 17 (2): 197–209. Lehmann, J. 2007a. “A Handful of Carbon.” Nature 447: 143–44. ———. 2007b. “Bio-Energy in the Black.” Frontiers in Ecology and the Environment 5 (7): 381–87. Lightfoot, C. 1990. “Integration of Aquaculture and Agriculture: A Route Towards Sustainable Farming Systems.” Naga: The ICLARM Quarterly 13 (1): 9–12. Lin, B. B., I. Perfecto, dan J. Vandermeer. 2008. “Synergies between Agricultural Intensification and Climate Change Could Create Surprising Vulnerabilities for Crops.” BioScience 58 (9): 847–54. Lobell, D. B., M. Burke, C. Tebaldi, M. D. Mastrandrea, W. P. Falcon, dan R. L. Naylor. 2008. “Prioritizing Climate Change Adaptation Needs for Food Security in 2030.” Science 319 (5863): 607–10. Lodge, M. W. 2007. “Managing International Fisheries: Improving Fisheries Governance by Strengthening Regional Fisheries Management Organizations.” Chatham House Energy, Environment and Development Programme Briefing Paper EEDPBP07/01, London.

Lotze-Campen, H., A. Popp, J. P. Dietrich, dan M. Krause. 2009. “Competition for Land between Food, Bioenergy and Conservation.” Background note for the WDR2010. Louati, Mohamed El Hedi. “Tunisia’s Experience in Water Resource Mobilization and Management.” Background note for the WDR2010. Mason, S. J. 2008. “‘Flowering Walnuts in the Wood’ and Other Bases for Seasonal Climate Forecasting.” Dalam Seasonal Forecasts, Climatic Change and Human Health: Health and Climate. M. C. Thomson, R. Garcia-Herrera, dan M. Beniston (para editor). Amsterdam: Springer Netherlands. McKinsey & Company. 2009. Pathways to a Low-Carbon Economy: Version 2 of the Global Greenhouse Gas Abatement Cost Curve. Washington, DC: McKinsey & Company. McNeely, J. A., dan S. J. Scherr. 2003. Ecoagriculture: Strategies to Feed the World and Save Biodiversity. Washington, DC: Island Press. Meehl, G. A., T. F. Stocker, W. D. Collins, P. Friedlingstein, A. T. Gaye, J. M. Gregory, A. Kitoh, R. Knutti, J. M. Murphy, A. Noda, S. C. B. Raper, I. G. Watterson, A. J. Weaver, dan Z.-C. Zhao. 2007. “Global Climate Projections.” Dalam Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, S. Solomon, D. Qin, M. Manning, Z. Chen, M. Marquis, K. B. Averyt, M. Tignor, dan H. L. Miller (para editor). Cambridge, UK: Cambridge University Press. Menenti, M. 2000. “Evaporation.” Dalam Remote Sensing in Hydrology





Laporan Pembangunan Dunia 2010

and Water Management, G. A. Schultz dan E. T. Engman (para editor). Berlin: Springer-Verlag. Millennium Ecosystem Assessment. 2005. Ecosystems and Human Well-Being: Biodiversity Synthesis. Washington, DC: World Resources Institute. Milly, P. C. D., J. Betancourt, M. Falkenmark, R. M. Hirsch, Z. W. Kundzewicz, D. P. Lettenmaier, dan R. J. Stouffer. 2008. “Stationarity Is Dead: Whither Water Management?” Science 319 (5863): 573–74. Milly, P. C. D., K. A. Dunne, dan A. V. Vecchia. 2005. “Global Pattern of Trends in Streamflow and Water Availability in a Changing Climate.” Nature 438 (17): 347–50. Mitchell, D. 2008. “A Note on Rising Food Prices.” Policy Research Working Paper 4682, World Bank, Washington, DC. Molden, D. 2007. Water for Food, Water for Life: A Comprehensive Assessment of Water Management in Agriculture. London: Earthscan and International Water Management Institute. Molle, F., dan J. Berkoff. 2007. Irrigation Water Pricing: The Gap between Theory and Practice. Wallingford, UK: CAB International. Moller, M., J. Tanny, Y. Li, dan S. Cohen. 2004. “Measuring and Predicting Evapotranspiration in an Insect-Proof Screenhouse.” Agricultural and Forest Meteorology 127 (12): 35–51. Moron, V., A. Lucero, F. Hilario, B. Lyon, A. W. Robertson, dan D. DeWitt. Akan terbit. “Spatio-Temporal Variability and Predictability of Summer Monsoon Onset over the Philippines.” Climate Dynamics.

Moron, V., A. W. Robertson, dan R. Boer. 2009. “Spatial Coherence and Seasonal Predictability of Monsoon Onset over Indonesia.” Journal of Climate 22 (3): 840–50. Moron, V., A. W. Robertson, dan M. N. Ward. 2006. “Seasonal Predictability and Spatial Coherence of Rainfall Characteristics in the Tropical Setting of Senegal.” Monthly Weather Review 134 (11): 3248–62. ———. 2007. “Spatial Coherence of Tropical Rainfall at Regional Scale.” Journal of Climate 20 (21): 5244–63. Müller, C., A. Bondeau, A. Popp, K. Waha, dan M. Fader. 2009. “Climate Change Impacts on Agricultural Yields.” Background note for the WDR2010. NRC (National Research Council). 2007. Water Implications of Biofuels Production in the United States. Washington, DC: National Academies Press. Naylor, R. L., R. J. Goldburg, J. H. Primavera, N. Kautsky, M. C. M. Beveridge, J. Clay, C. Folke, J. Lubchenco, H. Mooney, dan M. Troell. 2000. “Effects of Aquaculture on World Fish Supplies.” Nature 405 (6790): 1017–24. Normile, D. 2006. “Agricultural Research: Consortium Aims to Supercharge Rice Photosynthesis.” Science 313 (5786): 423. OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). 2008. Agricultural Policies in OECD Countries: At a Glance 2008. Paris: OECD. ———. 2009. Managing Water for All: An OECD Perspective on Pricing and Financing. Paris: OECD. Olmstead, S., W. M. Hanemann, dan R. N. Stavins. 2007. “Water Demand

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

under Alternative Price Structures.” Working Paper 13573, National Bureau of Economic Research, Cambridge, MA. Parry, M. 2007. “The Implications of Climate Change for Crop Yields, Global Food Supply and Risk of Hunger.” SAT e-Journal 4 (1), Open Access e-Journal, International Crops Research Institute for the Semi-Arid Tropics (ICRISAT). http://www.icrisat.org/Journal/ SpecialProject/sp14.pdf. Parry, M., C. Rosenzweig, A. Iglesias, G. Fischer, dan M. Livermore. 1999. “Climate Change and World Food Security: A New Assessment.” Global Environmental Change 9 (S1): S51–S67. Parry, M., C. Rosenzweig, A. Iglesias, M. Livermore, dan G. Fischer. 2004. “Effects of Climate Change on Global Food Production under SRES Emissions and Socio-Economic Scenarios.” Global Environmental Change 14 (1): 53–67. Parry, M., C. Rosenzweig, dan M. Livermore. 2005. “Climate Change, Global Food Supply and Risk of Hunger.” Philosophical Transactions of the Royal Society B 360 (1463): 2125–38. Passioura, J. 2006. “Increasing Crop Productivity When Water Is Scarce: From Breeding to Field Management.” Agricultural Water Management 80 (1-3): 176–96. Patt, A. G., P. Suarez, dan C. Gwata. 2005. “Effects of Seasonal Climate Forecasts and Participatory Workshops among Subsistence Farmers in Zimbabwe.” Proceedings of the National Academy of Sciences 102 (35): 12623–28. Peden, D., G. Tadesse, dan M. Mammo. 2004. “Improving the

Water Productivity of Livestock: An Opportunity for Poverty Reduction.” Paper presented at the Integrated Water and Land Management Research and Capacity Building Priorities for Ethiopia Conference. Addis Ababa. Pender, J., dan O. Mertz. 2006. “Soil Fertility Depletion Sub-Saharan Africa: What Is the Role of Organic Agriculture.” Dalam Global Development or Organic Agriculture: Challenges and Prospects, ed. N. Halberg, H. F. Alroe, M. T. Knudsen, dan E. S. Kristensen. Wallingford, UK: CAB International. Perez, C., C. Roncoli, C. Neely, dan J. Steiner. 2007. “Can Carbon Sequestration Markets Benefit LowIncome Producers in Semi-Arid Africa? Potentials and Challenges.” Agricultural Systems 94 (1): 2–12. Perry, C., P. Steduto, R. G. Allen, dan C. M. Burt. Akan terbit. “Increasing Productivity in Irrigated Agriculture: Agronomic Constraints and Hydrological Realities.” Agricultural Water Management. Phipps, R., dan J. Park. 2002. “Environmental Benefits of Genetically Modified Crops: Global and European Perspectives on Their Ability to Reduce Pesticide Use.” Journal of Animal and Feed Science 11: 1–18. Pimentel, D., B. Berger, D. Filiberto, M. Newton, B. Wolfe, E. Karabinakis, S. Clark, E. Poon, E. Abbett, dan S. Nandagopal. 2004. “Water Resources: Agricultural and Environmental Issues.” BioScience 54 (10): 909–18. Pingali, P. L., dan M. W. Rosegrant. 2001. “Intensive Food Systems





Laporan Pembangunan Dunia 2010

in Asia: Can the Degradation Problems Be Reversed?” Dalam Tradeoffs or Synergies? Agricultural Intensification, Economic Development and the Environment, ed. D. R. Lee dan C. B. Barrett. Wallingford, UK: CAB International. Pitcher, T., D. Kalikoski, K. Short, D. Varkey, dan G. Pramod. 2009. “An Evaluation of Progress in Implementing Ecosystem-Based Management of Fisheries in 33 Countries.” Marine Policy 33 (2): 223–32. Poulton, C., J. Kydd, dan A. Dorward. 2006. “Increasing Fertilizer Use in Africa: What Have We Learned?” Discussion Paper 25, World Bank, Washington, DC. Primavera, J. H. 1997. “Socio-economic Impacts of Shrimp Culture.” Aquaculture Research 28: 815–27. Qaddumi, H. 2008. “Practical Approaches to Transboundary Water Benefit Sharing.” Working Paper 292, Overseas Development Institute, London. Randolph, T. F., E. Schelling, D. Grace, C. F. Nicholson, J. L. Leroy, D. C. Cole, M. W. Demment, A. Omore, J. Zinsstag, dan M. Ruel. 2007. “Invited Review: Role of Livestock in Human Nutrition and Health for Poverty Reduction in Developing Countries.” Journal of Animal Science 85 (11): 2788–2800. Reardon, T., K. Stamoulis, M. E. Cruz, A. Balisacan, J. Berdugue, dan K. Savadogo. 1998. “Diversification of Household Incomes into Nonfarm Sources: Patterns, Determinants and Effects.” Paper presented at the IFPRI/World Bank Conference on Strategies for Stimulating Growth of the Rural Nonfarm Economy

in Developing Countries, Airlie House, Virginia. Ricketts, T. H., J. Regetz, I. SteffanDewenter, S. A. Cunningham, C. Kremen, A. Bogdanski, B. Gemmill-Herren, S. S. Greenleaf, A. M. Klein, M. M. Mayfield, L. A. Morandin, A. Ochieng, dan B. F. Viana. 2008. “Landscape Effects on Crop Pollination Services: Are There General Patterns?” Ecology Letters 11(5):499–515. Ritchie, J. E. 2008. “Land-Ocean Interactions: Human, Freshwater, Coastal and Ocean Interactions under Changing Environments.” Paper presented at the Hydrology Expert Facility Workshop: Hydrologic Analysis to Inform Bank Policies and Projects: Bridging the Gap, November 24, Washington, DC. Rivera, J. A., C. Hotz, T. GonzalezCossio, L. Neufeld, dan A. Garcia-Guerra. 2003. “The Effect of Micronutrient Deficiencies on Child Growth: A Review of Results from Community-Based Supplementation Trials.” Journal of Nutrition 133 (11): 4010S–20S. Robles, M., dan M. Torero. Akan terbit. “Understanding the Impact of High Food Prices in Latin America.” Economia. Rochette, P., D. A. Angers, M. H. Chantigny, dan N. Bertrand. 2008. “Nitrous Oxide Emissions Respond Differently to No-Till in a Loam and a Heavy Clay Soil.” Soil Science Society of America Journal 72: 1363–69. Rosegrant, M. W., dan H. Binswanger. 1994. “Markets in Tradable Water Rights: Potential for Efficiency Gains in Developing Country Water Resource Allocation.” World Development 22 (11): 1613–25.

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

Rosegrant, M. W., X. Cai, dan S. Cline. 2002. World Water and Food to 2025: Dealing with Scarcity. Washington, DC: International Food Policy Research Institute. Rosegrant, M. W., S. A. Cline, dan R. A. Valmonte-Santos. 2007. “Global Water and Food Security: Emerging Issues.” Dalam Proceedings of the International Conference on Water for Irrigated Agriculture and the Environment: Finding a Flow for All, ed. A. G. Brown. Canberra: ATSECrawford Fund. Rosegrant, M. W., M. Fernandez, dan A. Sinha. 2009. “Looking into the Future for Agriculture and KST.” Dalam IAASTD Global Report, B. McIntyre, H. R. Herren, J. Wakhungu, dan R. T. Watson (para editor). Washington, DC: Island Press. Rosegrant, M. W., dan P. B. R. Hazell. 2000. Transforming the Rural Asian Economy: TheUnfinished Revolution. New York: Oxford University Press. Rosegrant, M. W., M. Paisner, S. Meijer, dan J. Witcover. 2001. Global Food Projections to 2020: Emerging Trends and Alternative Futures. Washington, DC: International Food Policy Research Institute. Rosenzweig, C., A. Iglesias, X. Yang, P. R. Epstein, dan E. Chivian. 2001. “Climate Change and Extreme Weather Events: Implications for Food Production, Plant Diseases and Pests.” Global Change and Human Health 2 (2): 90–104. Sabine, C. L., R. A. Feely, N. Gruber, R. M. Key, K. Lee, J. L. Bullister, R. Wanninkhof, C. S. Wong, D. W. R. Wallace, B. Tilbrook, F. J. Millero, T.-H. Peng, A. Kozyr, T. Ono, dan A. F. Rios. 2004. “The Oceanic Sink

for Anthropogenic CO2.” Science 305: 367–71. Salman, S. M. A. 2007. “The United Nations Watercourses Convention Ten Years Later: Why Has Its Entry into Force Proven Difficult?” Water International 32 (1): 1–15. Scherr, S. J., dan J. A. McNeely. 2008. “Biodiversity Conservation and Agricultural Sustainability: Towards a New Paradigm of Ecoagriculture Landscapes.” Philosophical Transactions of the Royal Society B 363: 477–94. Schmidhuber, J., dan F. N. Tubiello. 2007. “Global Food Security under Climate Change.” Proceedings of the National Academy of Sciences 104 (50): 19703–08. Schoups, G., J. W. Hopmans, C. A. Young, J. A. Vrugt, W. W. Wallender, K. K. Tanji, dan S. Panday. 2005. “Sustainability of Irrigated Agriculture in the San Joaquin Valley, California.” Proceedings of the National Academy of Sciences 102 (43): 15352–56. Shiklomanov, I. A. 1999. World Water Resources: An Appraisal for the 21st Century. Paris: UNESCO International Hydrological Programme. Shiklomanov, I. A., dan J. C. Rodda. 2003. World Water Resources at the Beginning of the 21st Century. Cambridge, UK: Cambridge University Press. Simler, K. R. 2009. “The Impact of Higher Food Prices on Poverty in Uganda.” World Bank, Washington, DC. Singh, U. 2005. “Integrated Nitrogen Fertilization for Intensive and Sustainable Agriculture.” Journal of Crop Improvement 15 (2): 259–88.





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Sivakumar, M. V. K., dan J. Hansen, ed. 2007. Climate Prediction and Agriculture: Advances and Challenges. New York: Springer. Smith, L. D., J. P. Gilmour, dan A. J. Heyward. 2008. “Resilience of Coral Communities on an Isolated System of Reefs Following Catastrophic Mass-bleaching.” Coral Reefs 27 (1): 197–205. Smith, P., D. Martino, Z. Cai, D. Gwary, H. H. Janzen, P. Kumar, B. McCarl, S. Ogle, F. O’Mara, C. Rice, R. J. Scholes, O. Sirotenko, M. Howden, T. McAllister, G. Pan, V. Romanenkov, U. Schneider, S. Towprayoon, M. Wattenbach, dan J. U. Smith. 2009. “Greenhouse Gas Mitigation in Agriculture.” Philosophical Transactions of the Royal Society B 363: 789–813. Sohi, S., E. Lopez-Capel, E. Krull, dan R. Bol. 2009. Biochar, Climate Change, and Soil: A Review to Guide Future Research. Australia: CSIRO Land and Water Science Report 05/09. Steinfeld, H., P. Gerber, T. Wassenaar, V. Castel, M. Rosales, dan C. De Haan. 2006. Livestock’s Long Shadow: Environmental Issues and Options. Rome: Food and Agriculture Organization. Struhsaker, T. T., P. J. Struhsaker, dan K. S. Siex. 2005. “Conserving Africa’s Rain Forests: Problems in Protected Areas and Possible Solutions.” Biological Conservation 123 (1): 45–54. Strzepek, K., G. Yohe, R. S. J. Tol, dan M. W. Rosegrant. 2004. “Determining the Insurance Value of the High Aswan Dam for the Egyptian Economy.” International Food Policy Research Institute, Washington, DC.

Su, Z., J. Zhang, W. Wu, D. Cai, J. Lv, G. Jiang, J. Huang, J. Gao, R. Hartmann, dan D. Gabriels. 2007. “Effects of Conservation Tillage Practices on Winter Wheat WaterUse Efficiency and Crop Yield on The Loess Plateau, China.” Agricultural Water Management 87 (3): 307–14. Sullivan, P., D. Hellerstein, L. Hansen, R. Johansson, S. Koenig, R. Lubowski, W. McBride, D. McGranahan, M. Roberts, S. Vogel, dan S. Bucholtz. 2004. The Conservation Reserve Program: Economic Implications for Rural America. Washington, DC: United States Department of Agriculture. Sundby, S., dan O. Nakken. 2008. “Spatial Shifts in Spawning Habitats of Arcto-Norwegian Cod Related to Multidecadal Climate Oscillations and Climate Change.” ICES Journal of Marine Sciences 65 (6): 953–62. Swift, M. J., dan K. D. Shepherd, ed. 2007. Saving Africa’s Soils: Science and Technology for Improved Soil Management in Africa. Nairobi: World Agroforestry Centre. Tacon, A. G. J., M. R. Hasan, dan R. P. Subasinghe. 2006. “Use of Fishery Resources as Feed Inputs for Aquaculture Development: Trends and Policy.” FAO Fisheries Circular 1018, Rome. Tal, Y., H. Schreier, K. R. Sowers, J. D. Stubblefield, A. R. Place, dan Y. Zohar. 2009. “Environmentally Sustainable Land-Based Marine Aquaculture.” Aquaculture 286 (1–2): 28–35. Thierfelder, C., E. Amezquita, dan K. Stahr. 2005. “Effects of Intensifying Organic Manuring and Tillage Practices on Penetration Resistance

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

and Infiltration Rate.” Soil and Tillage Research 82 (2): 211–26. Thornton, P. 2009. “The Inter-Linkage between Rapid Growth in Livestock Production, Climate Change, and the Impacts on Water Resources, Land Use, and Reforestation.” Background paper for the WDR2010. Tilman, D., J. Hill, dan C. Lehman. 2006. “Carbon-Negative Biofuels from Low-Input High-Diversity Grassland Biomass.” Science 314: 1598–1600. Tschakert, P. 2004. “The Costs of Soil Carbon Sequestration: An Economic Analysis for Small-Scale Farming Systems in Senegal.” Agricultural Systems 81: 227–53. Turner, W., S. Spector, N. Gardiner, M. Fladeland, E. Sterling, dan M. Steininger. 2003. “Remote Sensing for Biodiversity Science and Conservation.” Trends in Ecology and Evolution 18 (6): 306–14. UNEP (United Nations Environment Programme). 1990. Global Assessment of Soil Degradation. New York: UNEP. UNEP-WCMC (World Conservation Monitoring Centre). 2008. State of the World’s Protected Areas 2007: An Annual Review of Global Conservation Progress. Cambridge, UK: UNEP-WCMC. UNESCO. 2007. “A Global Perspective On Research And Development.” Institute for Statistics Fact Sheet 5, UNESCO, Montreal. United Nations. 2004. Guidelines for Reducing Flood Losses. Geneva: United Nations Department of Economic and Social Affairs, United Nations International Strategy for Disaster Reduction, and the National Oceanic and Atmosphere Administration.

———. 2009. World Population Prospects: The 2008 Revision. New York: UN Department of Economic and Social Affairs. Van Buskirk, J., dan Y. Willi. 2004. “Enhancement of Farmland Biodiversity within Set-Aside Land.” Conservation Biology 18 (4): 987–94. van der Werf, G. R., J. Dempewolf, S. N. Trigg, J. T. Randerson, P. S. Kasibhatla, L. Giglio, D. Murdiyarso, W. Peters, D. C. Morton, G. J. Collatz, A. J. Dolman, dan R. S. DeFries. 2008. “Climate Regulation of Fire Emissions and Deforestation in Equatorial Asia.” Proceedingsof the National Academy of Sciences 105 (51): 20350–55. Vassolo, S., dan P. Döll. 2005. “Global-Scale Gridded Estimates of Thermoelectric Power and Manufacturing Water Use.” Water Resources Research 41: W04010– doi:10.1029/2004WR003360. Venter, O., E. Meijaard, H. Possingham, R. Dennis, D. Sheil, S. Wich, L. Hovani, dan K. Wilson. 2009. “Carbon Payments as a Safeguard for Threatened Tropical Mammals.” Conservation Letters 2: 123–29. von Braun, J., A. Ahmed, K. AsensoOkyere, S. Fan, A. Gulati, J. Hoddinott, R. Pandya-Lorch, M. W. Rosegrant, M. Ruel, M. Torero, T. van Rheenen, dan K. von Grebmer. 2008. “High Food Prices: The What, Who, and How of Proposed Policy Actions.” Policy brief, International Food Policy Research Institute, Washington, DC. Ward, F. A., dan M. Pulido-Velazquez. 2008. “Water Conservation in Irrigation Can Increase Water Use.” Proceedings of the National Academy of Sciences 105 (47):18215–20.





Laporan Pembangunan Dunia 2010

Wardle, D. A., M-C. Nilsson, dan O. Zackrisson. 2008. “Fire-derived Charcoal Causes Loss of Forest Humus.” Science 320 (5876): 629–29. West, P. O., dan W. M. Post. 2002. “Soil Organic Carbon Sequestration Rates by Tillage and Crop Rotation: A Global Data Analysis.” Soil Science Society of America Journal 66: 1930–46. Williams, A. G., E. Audsley, dan D. L. Sandars. 2006. Determining the Environmental Burdens and Resource Use in the Production of Agricultural and Horticultural Commodities. London: Department for Environmental Food and Rural Affairs. Wise, M. A., K. V. Calvin, A. M. Thomson, L. E. Clarke, B. BondLamberty, R. D. Sands, S. J. Smith, A. C. Janetos, dan J. A. Edmonds. 2009. “Implications of Limiting CO2 Concentrations for Land Use and Energy.” Science 324 (5931): 1183–86. Woelcke, J., dan T. Tennigkeit. 2009. “Harvesting Agricultural Carbon in Kenya.” Rural 21 43 (1): 26–27. Wolf, D. 2008. “Biochar as a Soil Amendment: A Review of the Environmental Implications.” Swansea University School of the Environment and Society, http:// www.orgprints.org/13268/01/ Biochar_as_a_soil_amendment_-_a_ review.pdf (accessed July 15, 2009). World Bank. 2005. Agriculture Investment Sourcebook. Washington, DC: World Bank. ———. 2006. Aquaculture: Changing the Face of the Waters: Meeting the Promise and Challenge of Sustainable Aquaculture. Washington, DC: World Bank.

———. 2007a. “India Groundwater AAA Mid-term Review” (internal document), World Bank, Washington, DC. ———. 2007b. Making the Most of Scarcity: Accountability for Better Water Management Results in the Middle East and North Africa. Washington, DC: World Bank. ———. 2007c. World Development Report 2008. Agriculture for Development. Washington, DC: World Bank. ———. 2008a. Biodiversity, Climate Change and Adaptation: NatureBased Solutions from the World Bank Portfolio. Washington, DC: World Bank. ———. 2008b. China Water AAA: Addressing Water Scarcity. Washington, DC: World Bank. ———. 2008c. Framework Document for a Global Food Crisis Response Program. Washington, DC: World Bank. ———. 2008d. The Sunken Billions. The Economic Justification for Fisheries Reform. Washington, DC: World Bank and FAO. ———. 2008e. World Development Report 2009. Reshaping Economic Geography. Washington, DC: World Bank. ———. 2009. Improving Food Security in Arab Countries. Washington, DC: World Bank. ———. Akan terbit a. Agriculture and Climate Change in Morocco. Washington, DC: World Bank. ———. Akan terbit b. Deep Wells and Prudence: Towards Pragmatic Action for Addressing Groundwater Overexploitation in India. Washington, DC: World Bank. ———. Akan terbit c. Projet de Modernisation de l’Agriculture

Mengelola Lahan dan Air untuk Memberi Pangan Sembilan Miliar Penduduk dan Melindungi Sistem Alam

Irriguee Dans le Bassin de l’Oum Er Rbia. Mission d’Évaluation Aide Memoire. Washington, DC: World Bank. ———. Akan terbit d. Water and Climate Change: Understanding the Risks and Making Climate-Smart Investment Decisions. Washington, DC: World Bank. World Commission on Dams. 2000. Dams and Development: A New Framework for Decision Making. London and Sterling, VA: Earthscan. WMO (World Meteorological Organization). 2000. “Fifth WMO Longterm Plan2000-2009: Summary for Decision Makers.” Geneva: WMO. ———. 2007. Climate Information for Adaptation and Development Needs. Geneva: WMO. World Water Assessment Programme. 2009. The United Nations World Water Development Report 3: Water in a Changing World. Paris and London: UNESCO and Earthscan. Xiaofeng, X. 2007. Report on Surveying and Evaluating Benefits of China’s Meteorological Service. Beijing: China Meteorological Administration. Yan, X., H. Akiyama, K. Yagi, dan H. Akimoto. 2009. “Global Estimations of the Inventory and Mitigation Potential of Methane Emissions from Rice Cultivation Conducted Using the 2006 Intergovernmental Panel on

Climate Change Guidelines.” Global Biogeochemical Cycles 23: 1–15. Young, M., dan J. McColl. 2005. “Defining Tradable Water Entitlements and Allocations: A Robust System.” Canadian Water Resources Journal 30 (1): 65–72. ———. Akan terbit. “A Robust Framework for the Allocation of Water in an Ever Changing World.” Dalam H. Bjornlund, ed., Incentives and Instruments for Sustainable Irrigation. Southampton: WIT Press. Zhang, G. S., K. Y. Chan, A. Oates, D. P. Heenan, dan G. B. Huang. 2007. “Relationship between Soil Structure and Runoff/Soil Loss After 24 Years of Conservation Tillage.” Soil and Tillage Research 92: 122–28. Zilberman, D., T. Sproul, D. Rajagopal, S. Sexton, dan P. Hellegers. 2008. “Rising Energy Prices and the Economics of Water in Agriculture.” Water Policy 10: 11–21. Ziska, L. H. 2008. “Three-year Field Evaluation of Early and Late 20th Century Spring Wheat Cultivars to Projected Increases in Atmospheric Carbon Dioxide.” Field Crop Research 108 (1): 54–59. Ziska, L. H., dan A. McClung. 2008. “Differential Response of Cultivated and Weedy (Red) Rice to Recent and Projected Increases in Atmospheric Carbon Dioxide.” Agronomy Journal 100 (5): 1259–63.



0

Laporan Pembangunan Dunia 2010

BAB

4

Menyokong Pembangunan tanpa Membahayakan Iklim

D

engan perekonomian global diperkirakan akan meningkat empat kali lipat hingga pertengahan abad ini, emisi karbon dioksida (CO 2) yang terkait dengan energi, berdasarkan tren saat ini, akan naik lebih dari dua kali lipat, menempatkan dunia menuju pada lintasan berpotensi malapetaka yang akan meningkatkan suhu menjadi lebih panas dari 5ºC daripada masa praindustri. Lintasan tersebut bukannya tidak dapat dihindari. Dengan tindakan global yang mengadopsi kebijakan yang tepat dan teknologi rendah karbon, terdapat cara untuk berpindah ke jalur yang lebih berkelanjutan yang membatasi pemanasan hingga maksimal 2ºC. Dalam prosesnya, terdapat kesempatan untuk menciptakan keuntungan yang besar bagi pembangunan ekonomi dan sosial melalui penghematan energi, kesehatan Pesan Kunci Penyelesaian masalah perubahan iklim membutuhkan tindakan segera di semua negara dan transformasi fundamental dalam sistem energi—perbaikan signifikan pada efisiensi energi, perubahan dramatis menjadi energi terbarukan dan kemungkinan tenaga nuklir, dan penggunaan teknologi untuk menangkap dan menyimpan emisi karbon secara luas. Negara maju harus memimpin dan memotong secara drastis emisinya sendiri sebanyak 80 persen pada 2050, membawa teknologi baru ke pasar, dan membantu membiayai perubahan di negara-negara berkembang menuju jalur energi bersih. Akan tetapi juga pada ketertarikan negara-negara berkembang untuk melakukan aksi untuk menghindari keadaan terjebak dalam infrastruktur padat karbon. Banyak perubahan—seperti menghilangkan sinyal harga yang berdistorsi dan meningkatkan efisiensi energi—mempunyai dampak yang baik untuk pembangunan dan lingkungan.

masyarakat yang lebih baik, jaminan kesehatan yang ditingkatkan, dan pembuatan lapangan kerja. Jalur energi yang berkelanjutan tersebut membutuhkan tindakan yang segera oleh semua negara agar menjadi lebih efisien dari segi energi dan mencapai intensitas karbon yang jauh lebih rendah. Jalur tersebut membutuhkan perubahan dramatis dalam energi campuran dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan dan, kemungkinan, nuklir, dan penggunaan penangkapan dan penyimpanan karbon secara luas (carbon capture and storage—CCS). Jalur tersebut juga membutuhkan kemajuan yang pesat dalam pengurangan biaya dan difusi teknologi dari energi terbarukan, upaya perlindungan dari limbah dan senjata nuklir, dan terobosan dalam teknologi dari baterai hingga penangkapan dan penyimpanan karbon. Hal ini membutuhkan perubahan fundamental dalam perkembangan ekonomi dan gaya hidup. Jika satu saja dari kebutuhankebutuhan ini tidak dipenuhi, maka menjaga peningkatan suhu mendekati 2ºC di atas tingkat praindustri akan menjadi mustahil. Dalam rangka menjaga batas pemanasan 2ºC, emisi global akan memiliki puncak tidak lebih dari 2020 dan kemudian turun sebesar 50–80 persen





Laporan Pembangunan Dunia 2010

dari tingkat yang sekarang pada 2050, dengan penurunan lebih lanjut hingga 2100 dan seterusnya. Menunda tindakan selama 10 tahun akan membuat mustahil pencapaian tujuan ini. Akibat inersia dalam pasokan modal energi, investasi selama beberapa dekade mendatang akan sangat menentukan emisi hingga 2050 dan seterusnya. Penundaan akan mengikat dunia dalam infrastruktur padat karbon, yang kemudian akan membutuhkan pembalikan (retrofit) yang mahal dan pembuangan secara prematur dari modal yang sudah ada. Pemerintah seharusnya tidak menggunakan krisis keuangan saat ini sebagai alasan untuk menunda tindakan perubahan iklim. Krisis iklim masa depan akan lebih jauh memberikan dampak pada dunia perekonomian. L e sunya ekonomi kemung k inan akan menunda pertumbuhan bisnisseperti-biasanya dalam emisi untuk beberapa tahun, namun tidak mungkin mengubahnya secara fundamental dalam jangka panjang. Sebaliknya, kelesuan perekonomian dapat menawarkan kesempatan pada pemerintah untuk menye dia kan invest asi st imu lus bagi energi yang efisien dan bersih untuk memenuhi dua tujuan, yaitu merevitalisasi pertumbuhan ekonomi dan memitigasi perubahan iklim (Kotak 4.1). Pe me r i nt a h s ek ar ang d ap at mengadopsi kebijakan domestik cerdas-iklim untuk menyebarkan teknologi rendah karbon yang telah ada, sementara perjanjian iklim global sedang dinegosiasikan. Efisiensi energi adalah sumber pengurangan emisi terbesar dan paling sedikit biayanya, didukung sepenuhnya oleh keuntungan perkembangan dan penghematan energi masa depan. Potensinya sangat besar baik pada sisi pasokan energi (seperti dalam

pembakaran batu bara, minyak, gas, serta produksi dan transmisi listrik) maupun pada sisi permintaan (penggunaan energi di rumah, peralatan, kendaraan, dan pabrik). Namun, fakta bahwa terdapat begitu banyak potensi efisiensi yang belum terlaksana menyatakan bahwa itu semua tidak mudah untuk direalisasikan. Mencapai penghematan energi yang signifikan kemungkinan membutuhkan peningkatan harga dan penghilangan subsidi bahan bakar fosil begitu juga dengan strategi untuk menaklukkan berbagai kegagalan pasar dan hambatan pasar dengan peraturan, insentif keuangan, reformasi institusional, dan mekanisme pendanaan yang efektif. Sumber pengurangan emisi terbesar kedua adalah dari penggunaan bahan bakar dengan emisi sedikit hingga nol untuk pembangkit listrik—terutama energi terbarukan. Sebagian besar dari teknologi ini sekarang telah tersedia secara komersial, dengan keuntungannya digunakan untuk pembangunan, dan dapat disebarkan secara lebih luas di bawah kerangka kerja kebijakan yang tepat. Untuk menyesuaikan skalanya dibutuhkan penetapan harga pada karbon dan penyediaan insentif keuangan untuk menyebarkan teknologi rendah karbon. Dan meningkatkan skalanya akan membantu untuk mengurangi harganya dan membuatnya lebih bersaing. Namun, solusi sama-sama untung ini (win-win solution), baik bagi pembangunan dan perubahan iklim, tidaklah cukup untuk tetap berada pada lintasan 2ºC. Teknologi maju yang belum terbukti, seperti penangkapan dan penyimpanan karbon, dibutuhkan pada skala besar dan dengan segera. Hal tersebut akan membutuhkan peningkatan besar-besaran dalam hal penelitian, pengembangan, serta demonstrasi dan transfer dan pembagian teknologi untuk

Menyokong Pembangunan tanpa Membahayakan Iklim

mempercepat penyebaran ketersediaan dan penggunaan. Seluruh perekonomian, mekanisme berbasis pasar, seperti sistem pembatasan dan perdagangan karbon (lihat Bab 6), adalah penting untuk menggalakkan investasi dan inovasi yang kuat dari sektor swasta untuk mencapai pemotongan emisi dengan biaya terendah. Di dalam pemerintah, dibutuhkan pendekatan yang terkoordinasi dan terintegrasi untuk memastikan kebijakan yang sesuai untuk mencapai ekonomi rendah karbon sambil meminimalkan konflik dan risiko gangguan sosial dan ekonomi. Negara-negara maju harus menjadi pemimpin dalam berkomitmen untuk memotong emisi, menetapkan harga pada karbon, dan mengembangkan teknologi-teknologi maju. Ini adalah cara yang paling pasti untuk memicu stimulus investasi dalam teknologi yang dibutuhkan dan memastikan ketersediaannya dengan harga yang bersaing. Namun, jika negara-negara berkembang tidak ikut memulai t r a n s f o r m a s i s i s t e m e n e r g i ny a ketika sistem tersebut terus tumbuh, menstabilkan iklim pada 2ºC tidak akan tercapai. Transformasi tersebut m e m but u h k a n t r a n s f e r s u m b e r pendanaan yang substansial dan teknologi rendah karbon dari negara maju ke negara berkembang. Ja l u r m i t i g a s i e n e r g i , d a n pencampuran kebijakan dan teknologi yang diperlukan untuk meraihnya, akan berbeda di negara berpendapatan tinggi, menengah, dan rendah, bergantung pada struktur perekonomian, ketersediaan s u mb e r d ay a , s e r t a k ap a bi l it a s institusional dan teknisnya. Lusinan negara berpendapatan tinggi dan menengah menyumbangkan dua pertiga emisi energi global, dan pengurangan emisi mereka sangatlah penting untuk

KOTAK 4.1



Krisis finansial menawarkan peluang untuk efisiensi dan energi bersih

Krisis finansial membawa tantangan dan peluang untuk energi bersih. Penurunan tajam harga bahan bakar fosil membanggakan konservasi energi dan membuat energi terbarukan kurang bersaing. Lingkungan makroekonomi yang lemah dan kredit ketat akan menyebablkan rendahnya tingkat permintaan dan menurunnya investasi, dan energi terbarukan terpukul dikarenakan modal intensif alamnya (energi terbarukan adalah karakteristik dari biaya modal pertama tertinggi tetapi pengoperasian dan bahan bakar bernilai rendah). Hingga akhir seperempat tahun 2008, investasi energi bersih jatuh hingga lebih dari separuh dari nilai puncak di akhir tahun 2007.a Sehingga krisis finansial seharusnya tidak dijadikan alasan untuk menunda

tindakan perubahan iklim, untuk hal ini menawarkan peluang mengesampingkan ekonomi rendah karbon (lihat Bab 1). Pertama, investasi stimulus di dalam efisiensi energi, energi terbarukan, dan transportasi massal dan menciptakan pekerjaan serta membangun kapasitas produktivitas ekonomi.b Kedua, jatuhnya nilai energi memberikan peluang unik didalam mengimplementasikan program untuk menghilangkan subsidi bahan bakar fosil di dalam ekonomi yang berkembang dan mengadopsi pajak bahan bakar di dalam ekonomi tingkat lanjut sebagai jalan sosial dan politik yang dapat diterima. Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia berdasarkan: a. World Economic Forum 2009. b. Bowen dkk. 2009.

menstabilkan iklim. Bab ini menganalisis jalur mitigasi dan tantangan yang dihadapi oleh beberapa negara tersebut. Bab ini juga memperlihatkan portofolio instrumen kebijakan dan teknologi energi bersih untuk mengikuti lintasan 2ºC.

Menyeimbangkan beragam tujuan yang bersaing Kebijakan energi harus menyeimbangkan empat tujuan yang saling bersaing— melanjutkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan akses energi bagi dunia miskin, meningkatkan ketahanan energi, dan memperbaiki lingkungan lokal dan global—tujuan-tujuan ini sangatlah berat. Pembakaran bahan bakar fosil memproduksi sekitar 70 persen emisi gas rumah kaca1 dan merupakan sumber utama polusi udara lokal, berbahaya bagi kesehatan publik. Terdapat banyak pilihan yang saling menguntungkan yang dapat memitigasi perubahan iklim dan mengurangi polusi udara lokal melalui pengurangan pembakaran bahan bakar fosil (Kotak 4.2). Pilihan



Laporan Pembangunan Dunia 2010

lain adalah perdagangan yang harus dipertimbangkan. Sebagai contoh, sulfur sering kali dihasilkan ketika membakar batu bara, dan merusak kesehatan manusia serta menyebabkan hujan asam; tetapi juga memiliki efek pendinginan lokal yang mengurangi pemanasan global. Ne g ar a - n e g ar a b e r ke mb ang me me rlu k an e ne rg i y ang d ap at diandalkan dan terjangkau untuk meningkatkan dan memperluas jasa bagi 1,6 miliar penduduk yang belum menikmati listrik, dan 2,6 miliar penduduk tanpa bahan bakar yang bersih untuk memasak. Meningkatkan akses ke jasa listrik dan bahan bakar untuk memasak yang bersih di banyak negara berkembang berpendapatan rendah, terutama di Asia Selatan dan Afrika Sub-Sahara, akan menambah kurang dari 2 persen emisi CO2 global.2 Mengganti penggunaan bahan bakar biomassa tradisional untuk memasak dan memanaskan dengan pasokan energi modern juga dapat mengurangi emisi karbon hitam—kontributor utama pemanasan global 3 —meningkatkan kesehatan kaum perempuan dan anak-anak yang jika tidak demikian akan terpapar polusi udara dalam ruangan yang tinggi akibat biomassa tradisional, dan mengurangi deforestasi dan degradasi lahan (lihat Bab 7, Kotak 7.10).4 Penyaluran energi juga menghadapi tantangan adaptasi. Peningkatan suhu seperti halnya menambah kebutuhan akan pendinginan dan mengurangi permintaan pemanasan. 5 Kebutuhan tertinggi untuk sistem elektrik penyedia pendinginan, sama halnya dengan gelombang panas di Eropa pada tahun 2007. Iklim ekstrem diperhitungkan sekitar 13 persen dari variasi produktivitas

energi pada negara berkembang pada tahun 2005.6 Ketidaktangguhan atau perubahan pola presipitasi akan memengaruhi daya tahan pembangkit listrik tenaga air. Kekeringan dan gelombang panas akan memengaruhi ketersediaan dan suhu dari panas sumber mata air dan produksi energi nuklir,7 karena tanaman memerlukan pendinginan—seperti contoh kasus dari tegangan listrik di Prancis selama gelombang panas tahun 2007. Tantangannya adalah untuk menyediakan layanan-layanan energi untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan tanpa merusak iklim. Negara-negara berpendapatan rendah sekarang menyumbangkan hanya 3 persen dari permintaan energi dan emisi terkait energi. Walaupun permintaan energi mereka akan naik dengan meningkatnya pendapatan, emisi mereka diproyeksikan tetap hanya sebagian kecil dari emisi global pada 2050. Namun, negara-negara berpendapatan menengah, sebagian besar dengan ekonomi yang semakin berkembang dan banyak industri berat, menghadapi kebutuhan energi yang besar. Dan negara-negara maju memerlukan sejumlah besar energi untuk menjaga gaya hidup mereka tetap seperti sekarang. Pilihan-pilihan energi rendah karbon secara substansial dapat meningkatkan ketahanan energi dengan mengurangi pemaparan terhadap gangguan dalam pasokan energi.8 Efisiensi energi dapat mengurangi permintaan energi, energi terbarukan mendiversifikasi campuran energi dan mengurangi paparan kejutan harga bahan bakar minyak.9 Namun, batu bara sebagai bahan bakar fosil paling intensif karbon, melimpah banyaknya di dekat banyak daerah pertumbuhan tinggi dan

Menyokong Pembangunan tanpa Membahayakan Iklim

KOTAK 4.2



Energi efisien dan bersih yang baik bagi pembangunan

Menghargai keuntungan sampingan efisiensi energi dan energi bersih bagi pembangunan— penghematan energi yang lebih banyak, polusi udara yang lebih sedikit, ketahanan energi yang lebih besar, lebih banyak pekerja di industri lokal, persaingan yang lebih baik dari produktivitas yang lebih tinggi—dapat membenarkan sebagian biaya mitigasi dan meningkatkan kebijakan hijau. Penghematan energi dapat membayar sebagian besar kebutuhan mitigasi.a Tindakan tersebut memerlukan konsentrasi CO2e sebesar 450 bpj yang diasosiasikan dengan menjaga pemanasan sebesar 2ºC dapat mengurangi polusi udara lokal (sulfur dioksida dan nitrogen oksida) sebesar 20–35 persen dibandingkan dengan bisnis-

seperti-biasanya pada 2030.b Pada 2006 industri energi terbarukan menciptakan 2,3 juta lapangan kerja di seluruh dunia (secara langsung maupun tidak), dan efisiensi energi menambahkan 8 juta lapangan kerja di Amerika Serikat.c Program efisiensi energi dan inovasi teknologi di California selama 35 tahun ini telah meningkatkan produksi kotornya.d Banyak negara, maju dan berkembang, sedang mengatur sasaran dan kebijakannya bagi teknologi energi bersih (lihat tabel). Sebagian besar dari inisiatif ini didorong oleh keuntungan perkembangan domestik, namun juga dapat mengurangi emisi CO2 secara substansial. Sasaran pemerintah China untuk mengurangi 20

persen intensitas energi dari 2005 hingga 2010 akan mengurangi emisi CO2 sebesar 1,5 miliar ton pada 2010, pengurangan emisi paling agresif di dunia, lima kali lipat lebih tinggi dari pengurangan 300 juta ton di bawah komitmen EU Kyoto dan delapan kali lipat lebih banyak dari pengurangan 175 juta ton di bawah sasaran pengurangan emisi California.e

Sumber: a. IEA 2008b; McKinsey & Company 2009a. b. IEA 2008c. c. EESI 2008; d. Roland-Holst 2008. e. Lin 2007.

Banyak negara yang memiliki rencana atau proposal nasional bagi energi dan perubahan iklim Negara

Energi dan perubahan iklim

Energi terbarukan

Efisiensi energi

Transportasi

Uni Eropa

20 persen pengurangan emisi dari 1990 hingga 2020 (30 persen jika negara lain berkomitmen pada pengurangan substansial); 80 persen pengurangan dari 1990 hingga 2050

20 persen bauran energi primer pada 2020

20 persen penghematan energi dari kasus referensi pada 2020

10 persen bahan bakar transportasi dari biofuel pada 2020

Amerika Serikat

Pengurangan emisi ke tingkat 1990 pada 2020; 80 persen pengurangan dari 1990 hingga 2050

25 persen listrik pada 2025

Kanada

20 persen pengurangan dari 2006 hingga 2020

Australia

15 persen pengurangan dari 2000 hingga 2020

China

National Climate Change Plan dan White Paper for Policies and Actions for Climate Change, sekelompok pemimpin konservasi energi dan pengurangan emisi dibentuk, diketuai oleh perdana menteri

15 persen energi primer pada 2020

20 persen pengurangan intensitas energi dari 2005 hingga 2010

Standar ekonomi bahan bakar 35 mil per galon telah tercapai; berencana menjadi pemimpin dunia dalam kendaraan listrik; dan konstruksi massal kereta bawah tanah sedang dilakukan

India

National Action Plan on Climate Change: emisi per kapita tidak melebihi negara maju, dewan pertimbangan untuk perubahan iklim dibentuk, diketuai oleh perdana menteri

23 gigawatt kapasitas terbarukan pada 2012

10 gigawatt penghematan energi pada 2012

Kebijakan transportasi kota: meningkatkan investasi dalam transportasi publik

Afrika Selatan

Skenario mitigasi jangka panjang: puncak emisi pada 2020 hingga 2025: tidak berubah selama satu dekade, dan kemudian turun selamanya

4 persen campuran listrik pada 2013

12 persen peningkatan efisiensi energi pada 2015

Berencana menjadi pemimpin dunia dalam kendaraan listrik; dan memperluas transit bus kilat

Meksiko

50 persen pengurangan emisi dari 2002 hingga 2050; strategi nasional perubahan iklim: komisi intersekretariat perubahan iklim untuk koordinasi

8 persen campuran listrik pada 2012

Standar efisiensi, pembangkitan sampingan

Peningkatan investasi dalam transportasi publik

Brazil

Rencana nasional perubahan iklim: mengurangi deforestasi sebesar 70 persen pada 2018

10 persen campuran listrik pada 2030

103 terawatt jam penghematan energi pada 2030

Pemimpin dunia dalam produksi etanol

Meningkatkan standar ekonomi bahan bakar menjadi 35 mil per galon pada 2016

Sumber: Pemerintah China 2008; Pemerintah India 2008; Pemerintah Meksiko 2008; Brazil Interministerial Committee on Climate Change 2008; Pew Center 2008a; Pew Center 2008b; Project Catalyst 2009. Catatan: Beberapa tujuan di atas menyajikan komitmen formal, sedangkan yang lainnya masih merupakan diskusi.



Laporan Pembangunan Dunia 2010

menyediakan biaya yang rendah dan jaminan pasokan energi. Perubahan harga minyak baru-baru ini dan ketidakpastian mengenai pasokan gas menimbulkan naiknya ketertarikan dalam pembangkit listrik tenaga batu bara baru di banyak negara (berkembang maupun maju). Pengurangan ketergantungan terhadap impor minyak dan gas dengan beralih ke produksi batu-bara-menjadi-cair dan batu-baramenjadi-gas akan meningkatkan emisi CO2 secara substansial. Konsumsi batu bara global telah tumbuh lebih cepat daripada bahan bakar lainnya sejak 2000, sehingga menimbulkan dilema pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, dan perubahan iklim. Dihadapkan dengan tantangantantangan dan tujuan-tujuan yang bersaing ini, pasar sendiri tidak akan sanggup untuk menghasilkan energi yang efisien dan bersih dalam waktu dan skala yang dibutuhkan untuk mencegah perubahan iklim yang berbahaya. Polusi perlu diberi harga. Mencapai kemajuan yang dibutuhkan dalam efisiensi energi membutuhkan insentif, peraturan, dan reformasi institusional. Dan risiko dan skala investasi dalam teknologi yang belum terbukti memerlukan dukungan publik yang substansial.

Menghentikan kebiasaan tinggi karbon Emisi karbon dari energi ditentukan oleh konsumsi energi total dan intensitas karbon (didefinisikan dengan satuan CO 2 yang diproduksi oleh satu unit energi yang dikonsumsi). Konsumsi energi meningkat seiring meningkatnya pendapatan dan populasi tetapi dengan variasi yang berbeda-beda ukuran bergantung pada struktur ekonomi (manufaktur dan pertambangan lebih energi intensif daripada pertanian dan

jasa), iklim (di mana memengaruhi kebutuhan pemanasan dan pendingan), dan kebijakan (negara dengan harga energi dan peraturan yang lebih tinggi lebih efisien energi). Serupa, intensitas karbon dari variasi energi bergantung pada sumber daya energi domestik (biarpun negara kaya akan potensi batu bara dan hidro) dan kebijakan. Jadi, pemicu kebijakan untuk jalur pertumbuhan rendah karbon mencakup p e n g u r a n g a n i nt e n s i t a s e n e r g i (didefinisikan sebagai energi yang dikonsumsi per dollar produk domestik bruto, atau PDB) dengan meningkatkan efisiensi energi dan beralih ke gaya hidup konsumsi rendah energi—dan mengurangi intensitas karbon dengan beralih ke bahan bakar rendah karbon, misalnya energi terbarukan. Berlipatnya konsumsi energi sejak 1970 digabungkan dengan intensitas karbon yang hampir konstan telah menghasilkan penggandaan emisi sejak 1970 (Figur 4.1). Intensitas energi memang meningkat tetapi terlalu kecil untuk mengimbangi peningkatan permintaan energi yang bersesuaian dengan peningkatan tiga kali lipat pendapatan dunia. Dan intensitas karbon relatif konstan karena pencapaian dalam memproduksi energi yang lebih bersih telah tergantikan oleh peningkatan besarbesaran dalam penggunaan bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil mendominasi suplai energi global, diperhitungkan lebih dari 80 persen dari campuran energi utama (Figur 4.2).10 Negara-negara maju bertanggung jawab untuk sekitar dua pertiga dari energi kumulatif CO2 saat ini yang berada di atmosfer.11 Mereka juga mengonsumsi energi per kapita lima kali lebih banyak, secara rata-rata, daripada negara-negara berkembang. Namun, negara-negara berkembang telah menyumbang 52

Menyokong Pembangunan tanpa Membahayakan Iklim

persen emisi terkait energi tahunan, dan konsumsi energinya meningkat dengan cepat—90 persen dari peningkatan yang diproyeksikan pada konsumsi energi global, penggunaan batu bara, dan emisi CO2 yang terkait dengan penggunaan energi selama 20 tahun berikutnya akan terjadi di negara-negara berkembang. Proyeksi menggambarkan bahwa karena pembagian populasi global yang besar adalah di negara-negara berkembang, mereka akan menggunakan 70 persen lebih energi total tahunan dibandingkan dengan di negara maju pada 2030, walaupun penggunaan energi per kapitanya tetap rendah (Figur 4.3). Secara global, pembangkit listrik adalah sumber tunggal emisi CO2 yang terbesar (26 persen), diikuti oleh industri (19 persen), transportasi (13 persen), dan bangunan-bangunan (8 persen),13 dengan perubahan tata guna lahan, pertanian, dan limbah mencakup sisanya (Figur 4.4). Namun, pembagian ini bervariasi, bergantung pada kelompok pendapatan. Emisi di negara maju didominasi oleh pembangkit listrik dan transportasi, sedangkan di negara-negara berpendapatan rendah, perubahan tata guna lahan dan pertanian menjadi sumber emisi utamanya. Di negaranegara berpendapatan menengah, perubahan tata guna lahan masih merupakan kontributor signifikan (Brazil dan Indonesia menyumbang setengah dari emisi perubahan tata guna lahan global). Pembangkit listrik kemungkinan besar akan tetap menjadi sumber emisi yang terbesar, namun emisinya diperkirakan akan naik lebih cepat pada transportasi dan industri. Sebagai pusat utama produksi dan konsentrasi penduduk, kota-kota dunia sekarang mengonsumsi lebih dari dua pertiga energi global dan memproduksi lebih dari 70 persen



Figur 4.1 Sejarah di balik penggandaan emisi: perbaikan dalam intensitas energi dan karbon tidak cukup untuk mengimbangi peningkatan permintaan energi yang disebabkan oleh peningkatan pendapatan Indeks 1970 = 1 3,0 2,8 2,6 Pendapatan (PDP, PPP) 2,4 2,2 Energi (suplai energi 2,0 3,0 primer) 1,8 2,8 1,6 2,6 Emisi CO2 1,4 2,4 Intensitas karbon 1,2 2,2 (CO2/energi) 1,0 2,0 0,8 1,8 Intensitas energi (energi/ 0,6 1,6 PDB, PPP) 0,4 1,4 1970 1975 1980 1985 1990 1995 2000 1,2 Tahun 1,0 0,8 IPCC 2007. Sumber: Catatan: 0,6 PDB dinilai menggunakan dollar paritas daya beli (purchasing power parity—PPP). 0,4 1970 1975 1980 1985 1990 1995 2000

emisi CO2. Selama 20 tahun mendatang akan terlihat pertumbuhan kota yang tak pernah terjadi sebelumnya—dari 3 miliar menjadi 5 miliar penduduk, sebagian besar di dunia berkembang.14 Dari sekarang hingga 2050, pasokan bangunan kemungkinan besar akan berlipat ganda, 15 dengan sebagian besar konstruksi baru di negara-negara berkembang. Jika kota-kota tumbuh melalui pemekaran alih-alih menjadi semakin padat, permintaan perjalanan

500 4.2 Campuran energi primer 1850–2006. Dari 1850 hingga 1950, konsumsi energi tumbuh Figur 450 sebesar 1,5 persen per tahun, terutama disebabkan oleh batu bara. Dari 1950–2006, tumbuh 400 sebesar 2,7 persen per tahun, terutama disebabkan oleh minyak dan gas alam. 350 Exajoule 300 500 250 450 200 400 150 350 100 300 50 2500 2001850

Nuklir Tenaga air dan energi terbarukan lainnya Gas Minyak Batu bara Biomassa 1875 1900

1925

1950

1975

2000

2006

1950

1975

2000

2006

150 100 50 0 1850

1875

1900

1925

Tahun Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia, berdasarkan data dari Grübler 2008 (data untuk 1850–2000) dan IEA 2008c (data pada 2006). Catatan: Untuk memastikan konsistensi dari dua rangkaian data, metode substitusi ekuivalen digunakan untuk mengubah tenaga air menjadi energi primer ekuivalen—dengan asumsi jumlah energi untuk menciptakan listrik dengan jumlah yang sama pada pabrik-pabrik konvensional bertenaga panas dengan rata-rata efisiensi sebesar 38,6 persen.



Laporan Pembangunan Dunia 2010 Figur 4.3 Selain konsumsi energi dan emisi per kapita yang rendah, negara-negara berkembang akan sangat mendominasi pertumbuhan di masa depan dalam konsumsi energi total dan emisi CO2 a. Konsumsi energi per kapita Toe/orang 7 6 5 4 3 2 1 0

1980

2006

2030

Tahun b. Konsumsi energi total Toe/orang 12.000 10.000 8.000 6.000 4.000 2.000 0

1980

2006

2030

Tahun Negara-negara OECD Negara-negara non-OECD Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia, berdasarkan data dari IEA 2008c. Catatan: Toe = ton minyak ekuivalen

akan naik dengan cara-cara yang tidak mudah dilayani oleh transportasi publik. Laju kepemilikan mobil meningkat pesat seiring naiknya pendapatan. Pada tren saat ini 2,3 miliar kendaraan akan bertambah antara tahun 2005 dan 2050, lebih dari 80 persen berada di negara berkembang. 16 Akan tetapi jika kebijakan tepat pada tempatnya, laju kepemilikan yang meningkat tidak perlu berubah menjadi peningkatan serupa dalam penggunaan mobil (Figur 4.5).17 Oleh karena penggunaan mobil mendorong permintaan energi dan emisi dalam transportasi, kebijakan harga (seperti menetapkan tarif pada jalan dan tarif parkir yang tinggi), infrastruktur transportasi publik, dan bentuk kota dapat menimbulkan perbedaan yang besar.

Ne g ar a - n e g ar a b e r ke mb ang dapat belajar dari Eropa dan Asia yang maju, dan memisahkan kepemilikan mobil dari penggunaan mobil. Eropa dan Jepang memiliki angka kilometer tempuh kendaraan yang lebih rendah 30–60 persen dibandingkan dengan Amerika Serikat, dengan pendapatan dan kepemilikan mobil yang sebanding. Hong Kong memiliki kepemilikan mobil yang hanya sepertiga dari angka di New York, kota di AS dengan rasio mobil per kapita yang terendah.18 Bagaimana caranya? Melalui kombinasi kepadatan kota yang tinggi, pajak bahan bakar yang tinggi dan kebijakan penetapan harga pada jalan, dan infrastruktur transportasi publik yang memadai. Dengan cara yang serupa, Eropa menetapkan tarif empat kali lipat rute transportasi publik per 1.000 orang dibandingkan di Amerika Serikat.19 Akan tetapi, di banyak negara berkembang, transportasi publik tidak selalu memenuhi pertumbuhan kota, sehingga pergerakan mobil pribadi menyebabkan permasalahan kronis dan menambah permasalahan yang telah ada sebelumnya. Infrastruktur transportasi memengaruhi pola perumahan, dengan tingginya volume jalan raya yang memfasilitasi perumahan berkepadatan rendah dan bentuk kota yang sulit dilayani oleh sistem transit massal. Perumahan berkepadatan rendah juga mempersulit penerapan pemanasan distrik yang efisien energi bagi bangunanbangunan.20

Kemana arah yang perlu dituju oleh dunia: Transformasi untuk energi masa depan yang berkelanjutan Unt u k m e n c ap a i k e s e j a ht e r a a n dan pertumbuhan yang setara dan

Menyokong Pembangunan tanpa Membahayakan Iklim



Figur 4.4 Gas rumah kaca berdasarkan sektor: dunia dan negara-negara berpendapatan tinggi, menengah, dan rendah a. Dunia Sampah dan limbah cair 3% Pembangkit tenaga 26%

Perubahan tata guna lahan dan hutan 17%

Pertanian 14% Transportasi 13% Industri 19%

Perumahan dan bangunan komersial 8% b. Negara-negara berpendapatan tinggi

Lainnya 18%

Pembangkit tenaga 36%

c. Negara-negara berpendapatan menengah Lainnya 14%

Pertanian 8% Industri 15%

d. Negara-negara berpendapatan rendah Perubahan tata guna lahan dan hutan 23%

Pembangkit tenaga 26% Pertanian 14%

Transportasi 23% Transportasi 7%

Pembangkit tenaga 5% Transportasi 4% Industri 7% Pertanian 20%

Lainnya 14% Perubahan tata guna lahan dan hutan 50%

Industri 16%

Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia, berdasarkan data dari Barker dkk. 2007 (Figur 4a) dan WRI (Figur 4b, c, dan d). Catatan: Pembagian emisi global berdasarkan sektor pada Figur 4.4a adalah untuk tahun 2004. Pembagaian emisi berdasarkan sektor pada negara-negara berpendapatan tinggi, menegah, dan rendah pada Figur 4.4b, c, dan d didasarkan pada emisi dari sektor energi dan pertanian pada tahun 2005 dan dari perubahan tata guna lahan dan hutan pada 2000. Ukuran masing-masing grafik menggambarkan kontribusi emisi gas rumah kaca, termasuk emisi dari perubahan tata guna lahan, dari negara-negara berpendapatan tinggi, menengah, dan rendah; pembagian masing-masing adalah 35, 58, dan 7 persen. Hanya menekankan pada emisi CO2 yang berasal dari energi, pembagian masing-masing adalah 49, 49, dan 2 persen. Pada Figur 4.4a, emisi dari konsumsi listrik pada bangunan-bangunan dimasukkan bersama dengan sektor pembangkit tenaga. Figur 4.4b tidak memasukkan emisi dari perubahan tata guna lahan dan hutan, karena dapat diabaikan untuk negara-negara berpendapatan tinggi.

berkelanjutan, negara-negara berpendapatan tinggi harus mengurangi emisi mereka secara signifikan—dan emisi per kapita mereka (panah biru pada Figur 4.6). Hal ini juga bergantung pada negara-negara berkembang, yang harus menghindari jalur intensif karbon yang ditempuh oleh Australia atau Amerika Serikat, atau mengikuti jalur pertumbuhan rendah karbon. Jadi, pencapaian tersebut membutuhkan perubahan fundamental dalam gaya hidup bagi negara-negara maju, dan perubahan

menuju model perkembangan yang baru bagi negara-negara berkembang. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini dibutuhkan penyesuaian antara apa yang tepat untuk mencegah perubahan iklim yang berbahaya dengan apa yang secara teknis mungkin untuk dicapai dengan pendanaan yang dapat diterima. Membatasi pemanasan tidak lebih dari 2ºC di atas suhu praindustri berarti bahwa emisi global harus memuncak pada tidak lebih dari 2020, kemudian turun sebesar 50–80 persen dari tingkat saat

0

Laporan Pembangunan Dunia 2010 Figur 4.5 Kepemilikan mobil meningkat seiring dengan meningkatnya pendapatan, tetapi penetapan harga, transportasi publik, perencanaan perkotaan, dan kepadatan kota dapat memengaruhi penggunaan mobil a. Kepemilikan mobil dan pendapatan, 2000 Penumpang mobil/1.000 orang 600 600 500

Jerman Perancis Inggris

500 400 400 300

Denmark

300 200

Federasi Rusia

200 100 100 0 0

Amerika Serikat Jepang

Brazil India

Ethiopia 4,5 4,5

Afrika Selatan

China 7,5

Singapura Hong Kong, China

Meksiko

5,5

6,5

5,5

Log PDB per kapita 6,5 7,5(PPP 2000 $ internasional) 8,5

8,5

9,5

10,5

9,5

10,5

b. Penggunaan mobil dan pendapatan, 1970–2005 16 kendaraan/kapita (ribuan) km 16 14 14 12 12 10 108 68 46

Amerika Serikat (mobil dan truk sedang) Jerman Perancis Jepang

42 2 0 0

10

15

20

25

30

35

40

10

15

20

25

30

35

40

PDB per kapita (2000 $, ribuan) Sumber: Schipper 2000; World Bank 2009c. Catatan: Pada Figur 4.5b, data diperoleh dari Jerman Barat selama 1992 dan untuk Jerman bersatu sejak 1993 seterusnya. Perhatikan tingkat kemiripan kepemilikan mobil di antara Amerika Serikat, Jepang, Perancis, dan Jerman (panel a) tetapi banyak perbedaan pada jarak perjalanan (panel b).

ini pada 2050, dengan bahkan mungkin dibutuhkan emisi negatif menuju 2100.21 Ini merupakan tugas yang ambisius: hanya sekitar setengah dari model energi yang ditinjau yang bersepakat bahwa tugas tersebut memungkinkan untuk dilakukan (Figur 4.7) dan walaupun begitu, hanya jika semua negara mulai melakukannya dengan segera. Secara lebih spesifik, agar tetap pada pemanasan 2ºC, konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer harus stabil pada tidak lebih dari 450 bagian per sejuta

(bpj) CO2 ekuivalen.22 Konsentrasi gas rumah kaca saat ini mencapai 387 bpj CO2e dan naik sekitar 2 bpj tiap tahun.23 Maka, hanya ada sedikit ruang bagi emisi untuk bergerak tumbuh jika pemanasan stabil di sekitar 2ºC. Sebagian besar model mengasumsikan bahwa untuk mencapai 450 bpj CO2e perlu melampaui konsentrasi tersebut untuk beberapa dekade dan kemudian kembali pada 450 bpj CO2e pada akhir abad (Tabel 4.1). Pengurangan yang lebih cepat dari emisi gas rumah kaca yang berumur

Menyokong Pembangunan tanpa Membahayakan Iklim



Figur 4.6 Kemana arah yang perlu dituju oleh dunia: Emisi CO2 per kapita yang berkaitan dengan energi Emisi CO2 per kapita (metrik ton) 25 25

Amerika Serikat

20 20

Australia 15 15

Federasi Rusia

Irlandia Inggris

Republik Korea

10 10

Malaysia

Jepang

5

0 0

Perancis

Yunani

5

China

Meksiko Brazil

India 0

5.000

10.000

0

5.000

10.000

15.000

20.000

25.000

30.000

35.000

40.000

45.000

PDB per kapita20.000 (PPP, $ internasional konstan) 35.000 15.000 25.000 2005 30.000

40.000

45.000

Sumber: Diadaptasi dari dari NRC 2008, berdasarkan data dari World Bank 2008e. Catatan: Emisi dan PDB per kapita dari 1980 hingga 2005.

Figur 4.7 Hanya setengah dari model energi menyatakan mungkin untuk mencapai reduksi emisi untuk perlu selalu berada di dekat 450 bpj CO2e (2ºC) Perubahan emisi CO2 pada 2050 relatif terhadap 2000 (%) 140 120 140 100 120 80 100 60 80 40 60 20 400 20 –20 0 –40 –20 –60 –40 –80 –60 –100 –80 –120 –100 –120

650 bpj CO2e (4–5°C)

550 bpj CO2e (3°C)

450 bpj CO2e (2°C)

Emisi pada tahun 2000

Emisi nol Penuh

Tunda

Tidak dilampaui

Penuh

Tunda

Tidak dilampaui

Penuh

ETSAP-TIAM FUND ETSAP-TIAM GTEM FUND IMAGE GTEM IMAGE-BECS IMAGE MERGE Optimistic IMAGE-BECS MERGE Pessimistic MERGE Optimistic MESSAGE MERGE Pessimistic MESSAGE-NOBECS MESSAGE MiniCAM-Base MESSAGE-NOBECS MiniCAM-Lo Tech MiniCAM-Base POLES MiniCAM-Lo Tech SGM POLES WITCH SGM WITCH

Tunda Dilampaui

Sumber: Clarke dkk., akan terbit. Catatan: Masing-masing titik merepresentasikan pengurangan emisi yang diasosiasikan oleh model tertentu dengan target konsentrasi—450, 550, 650 bagian per sejuta (bpj) CO2 ekuivalen (CO2e)—pada 2050. Jumlah titik pada tiap-tiap kolom menunjukkan seberapa banyak dari 14 model dan varian model mampu menemukan jalur yang dapat mengarah pada hasil konsentrasi yang diberikan. “Sangat berlebihan” menjelaskan jalur mitigasi yang mengizinkan konsentrasi melebihi target sebelum kembali ke target semula pada 2100, sementara “Tidak dilampaui” mengimplikasikan konsentrasi tidak berlebihan sepanjang waktu. “Penuh” mengacu pada partisipasi penuh semua negara, jadi pengurangan emisi tersebut dicapai kapanpun dan di manapun bila biayanya efektif. “Tunda” berarti negara-negara berpendapatan tinggi mulai mengurangi pada 2012, Brazil, China, India, dan Federasi Rusia mulai mengurangi pada 2030, dan sisanya pada 2050.

pendek, seperti metana dan karbon hitam, dapat mengurangi kelebihan namun tidak dapat menghindarinya.24

Sebagai tambahan, beberapa jalur 450 bpj CO2e bergantung pada penangkapan dan penyimpanan karbon berdasarkan

Laporan Pembangunan Dunia 2010



Tabel 4.1 Apa yang harus dilakukan untuk mencapai konsentrasi CO2e 450 bpj yang diperlukan untuk menjaga pemanasan sedekat mungkin dengan 2ºC—skenario ilustratif

Partisipasi segera

Tidak dilampaui 1. 2. 3. 4. 5.

Partisipasi segera oleh semua negara 70% pengurangan emisi yang dramatis pada 2020 Transformasi energi yang substansial pada 2020, termasuk konstruksi 500 reaktor nuklir baru, dan penangkapan 20 miliar ton CO2 Harga karbon sebesar $100/tCO2 secara global pada 2020 Pajak pada emisi tata guna lahan dimulai pada 2020

Dilampaui 1. 2. 3. 4. 5.

Penundaan partisipasi

1. 2. 3. 4.

Partisipasi segera oleh semua negara Konstruksi 126 reaktor nuklir baru dan penangkapan sekitar 1 miliar ton CO2 pada 2020 Emisi negatif global pada akhir abad, dan akhirnya memerlukan penyebaran meluar CCS berbasis biomassa Harga karbon naik sampa $775/tCO2 pada 2095 Kemungkinan tanpa pajak pada emisi tata guna lahan, tetapi akan menghasilkan peningkatan tiga kali lipat pada pajak karbon dan peningkatan substansial pada biaya untuk mencapai target Pengurangan emisi secara dramatis untuk non-Annex 1 (negara-negara berkembang) pada saat mereka berpartisipasi Emisi negatif pada negara-negara Annex 1 (berpendapatan tinggi) pada 2050 dan emisi negatif global pada akhir abad, dan kemudian memerlukan penyebaran meluar CCS berbasis biomassa Harga karbon mulai $50/tCO2, dan meningkat hingga $2.000/tCO2 Menghasilkan kebocoran karbon yang signifikan, karena produksi pangan diserahkan pada wilayah yang tidak berpartisipasi menyebabkan peningkatan substansial pada perubahan emisi tata guna lahan pada wilayah tersebut

Sumber: Clarke dkk. akan terbit. Catatan: Menjaga emisi pada tingkat CO2e 450 bpj atau kurang sepanjang waktu merupakan hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Jika konsentrasi CO2e yang diizinkan melebihi 450 bpj sebelum 2100, tetap menjaga pemanasan sedekat mungkin dengan 2ºC masih mempunyai potensi tantangan yang sangat besar, seperti yang tampak pada kolom kanan. Negara-negara Annex I adalah OECD dan transisi ekonomi berkomitmen untuk mengurangi emisi berdasarkan Protokol Kyoto. Negara-negara non-Annex I tidak membuat komitmen apa pun untuk mengurangi emisi.

biomassa 25 untuk emisi negatif. 26 Namun, melihat persaingan lahan dan air untuk produksi dan serapan hutan (Bab 3), pasokan biomassa yang berkelanjutan akan menjadi masalah.27 Membatasi pemanasan hingga 2ºC akan membutuhkan perubahan paling mendasar dalam campuran energi global (Kotak 4.3 dan Kotak 4.4; lihat catatan kaki 28 untuk model detailnya).28 Biaya mitigasi untuk mencapai 450 bpj CO2e diperkirakan sebesar 0,3−0,9 persen dari PDB global pada 2030. Hal ini mengasumsikan bahwa semua tindakan mitigasi terjadi di manapun dan kapanpun hal tersebut paling murah untuk dilakukan (Figur 4.8).29 Perkiraan ini dibandingkan dengan total pengeluaran pada sektor energi sebesar 0,75 persen PDB saat ini. Selain itu, biaya kelambatan—dari kerusakan yang disebabkan oleh pemanasan yang lebih besar—mungkin melampaui dengan baik biaya mitigasi ini (lihat Bab 1 untuk penjelasan dari analisis biayakeuntungan kebijakan iklim).

Mencapai 450 bpj CO2e memerlukan adopsi teknologi dengan keuntungan nilai sekitar $35 hingga $100 CO2 pada tahun 2030., untuk investasi mitigasi tahunan global sekitar $425 miliar hingga $1 triliun pada tahun 2030 (Tabel 4.2).30 Penghematan energi masa depan akhirnya akan menggantikan bagian substansial dari uang muka investasi. 31 Namun, banyak dari investasi ini diperlukan selama 10 tahun mendatang di negaranegara berkembang yang terbatasi secara keuangan. Dan memindahkan hambatan untuk reformasi serta mengarahkan modal bagi investasi rendah karbon di mana dan kapan dibutuhkan akan menjadi tantangan tersendiri. Pilihan yang tidak terlalu menantang adalah dengan membidik konsentrasi yang lebih tinggi—sebagai contoh, 550 bpj CO 2e. Konsentrasi ini digabungkan dengan 50 persen kesempatan pemanasan melebihi 3ºC, dan risiko kerusakan yang lebih tinggi dari dampak perubahan iklim, tetapi hal itu memungkinkan sedikit waktu

Menyokong Pembangunan tanpa Membahayakan Iklim

bagi emisi untuk memuncak (2030). Emisi akan perlu turun hingga tingkat seperti sekarang pada 2050, dan terus turun secara substansial setelahnya. Biaya mitigasi 550 bpj CO 2e adalah lebih rendah, pada 0,2−0,7 persen dari PDB global pada 2030 (Figur 4.8a), dan membutuhkan adopsi teknologi dengan biaya marginal hingga $25 hingga 75 per ton CO2 pada 2030 (Figur 4.8b), untuk investasi tahunan rata-rata sebesar $220 miliar tiap tahun selama 20 tahun mendatang.32 Dan mencapai tujuan yang lebih rendah ini masih tetap membutuhkan pencapaian reformasi kebijakan yang terjauh.

Tindakan—segera dan global Menunda tindakan selama 10 tahun akan membuat upaya untuk mencapai kestabilan pada 450 bpj CO2e mustahil.33 Terdapat sedikit fleksibilitas pada waktu memuncaknya. Untuk mencapai 450 bpj CO2e, emisi CO2 yang berkaitan dengan energi global harus naik pada 28−32 gigaton pada 2020 dari 26 gigaton pada 2005, dan kemudian turun menjadi 12−15 gigaton pada 2050. 34 Hal ini membutuhkan pemotongan emisi 2−3 persen tiap tahun mulai 2020 hingga seterusnya. Jika emisi naik selama 10 tahun mendatang, laju pengurangan emisi yang dibutuhkan akan naik hingga 4−5 persen per tahun. Sebaliknya, emisi naik 3 persen tiap tahun dari 2000 hingga 2006, sehingga sebagian besar negara sedang menuju jalur tinggi karbon, dengan emisi CO2 global mendahului skenario kasus terburuk yang diproyeksikan oleh International Panel on Climate Change (IPCC). Tambahan baru pembangkit listrik, bangunan, dan jalan dan rel selama dekade mendatang akan mengunci teknologi dan sangat menentukan emisi hingga 2050 dan seterusnya. Mengapa? Oleh

karena pasokan modal energi memiliki usia yang panjang— memakan puluhan tahun untuk membalikkan pembangkit listrik, ratusan tahun untuk infrastruktur perkotaan.36 Menunda tindakan akan secara substansial meningkatkan biaya mitigasi masa depan, secara efektif mengunci dunia dalam infrastruktur intensif karbon selama puluhan tahun mendatang. Bahkan teknologi energi bersih rendah biaya yang telah ada akan memakan puluhan tahun untuk sepenuhnya memasuki sektor energi. Dan dengan lamanya waktu tunggu bagi perkembangan teknologi baru, menyebarkan teknologi maju pada skala besar mulai 2030 membutuhkan tindakan agresif mulai hari ini. Selain itu, menunda tindakan akan menimbulkan biaya retrofit yang mahal dan pensiun dini dari sistem energinya. Membangun infrastruktur dengan standar saat ini dan kemudian melakukan retrofit atas kapasitas yang telah ada, baik pembangkit listrik maupun bangunan, jauh lebih memakan biaya daripada membangun infrastruktur rendah karbon dan efisien baru dari awal. Hal yang sama juga berlaku untuk pemensiunan dini modal energi yang tidak efisien. Penghematan energi sering kali membuat uang muka investasi pada modal baru lebih tinggi, namun berkemungkinan kecil untuk menutupi penggantian pasokan modal dini. Bahkan harga CO2 yang tinggi tidak cukup untuk mengubah gambaran ini.37 Untuk menghindari penguncian semacam ini, skala dan laju urbanisasi yang melambangkan kesempatan yang tak tersaingi, terutama bagi negaranegara berkembang, harus membuat keputusan besar sekarang mengenai membangun kota rendah karbon dengan rancangan perkotaan yang ringkas, transportasi publik yang baik,



Laporan Pembangunan Dunia 2010



Figur 4.8 Perkiraan biaya mitigasi global dan harga karbon untuk tingkat CO2e 450 dan 550 bpj (2ºC–3ºC) pada 2030 dari lima model a. Biaya mitigasi global % PDB 1,0 0,9 0,8 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0,0

0,90 0,78

0,77

0,58

0,70 0,56

0,33 0,18

Model energi-iklim b. Harga karbon

$/tCO2 120 100

100

92

80

86

71

60

50

40 20

24

38

34

0

49

Model energi-iklim 550 bagian per sejuta

450 bagian per sejuta

Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia, berdasarkan data dari Knopf dkk., akan terbit; Rao dkk. 2008; Calvin dkk., akan terbit. Catatan: Grafik ini membandingkan biaya mitigasi dengan harga karbon dari lima model energi-iklim global—MiniCAM, IMAGE, MESSAGE, POLES, dan REMIND (lihat catatan kaki 28 untuk asumsi model dan metodologi). MiniCAM, POLES, IMAGE, dan MESSAGE melaporkan biaya pengurangan untuk transformasi sistem energi relatif terhadap garis dasar sebagai persen PDB pada 2030, di mana PDB-nya bersifat eksogen. a. Biaya mitigasi dari REMIND ditunjukkan sebagai biaya makroekonomi yang ditunjukkan dalam kerugian PDB pada 2030 relatif terhadap garis dasar, di mana PDB-nya bersifat endogen.

Tabel 4.2 Investasi perlu untuk membatasi pemanasan pada 2ºC (450 bpj CO2e) pada 2030 (konstan 2005$ miliar) Wilayah

IEA

McKinsey

MESSAGE

REMIND

Global

846

1013

571

434

Negara-negara berkembang

565

563

264

384

Amerika Utara

175

112

Uni Eropa

129

92

China

263

49

India

75

43

Sumber: IEA 2008b; Knopf dkk., akan terbit dan data tambahan yang disediakan oleh B. Knopf; Riahi, Grübler, dan Nakićenović 2007; IIASA 2009 dan data tambahan yang disediakan oleh V. Krey; McKinsey & Company 2009a dengan data laporan lebih lanjut disediakan oleh McKinsey (J. Dinkel).

bangunan yang efisien, dan kendaraan yang bersih. Ko n s e k u e n s i a l a m i a h y a n g menj anji kan dar i inersia da lam infrastruktur energi adalah bahwa dengan

memperkenalkan teknologi rendah karbon yang efisien pada infrastruktur baru, di saat berbiaya rendah, akan menawarkan kes emp at an untu k mengunci jalur rendah karbon. Negaranegara berkembang akan memasang setidaknya setengah dari pasokan modal energi berusia panjangnya antara saat ini hingga 2020.38 Sebagai contoh, setengah dari bangunan di China pada 2015 akan selesai dibangun antara 2000 dan 2015.39 Terdapat lebih sedikit kesempatan di negara-negara maju, di mana bangunan perumahan cenderung memiliki masa pensiun yang lama—60 persen dari persediaan bangunan perumahan Prancis yang diperkirakan pada 2050 telah selesai dibangun. Ini membatasi potensi pengurangan permintaan pemanasan dan pendinginan, yang membutuhkan retrofit dan penggantian kulit bangunan. Namun, terdapat kesempatan yang melimpah selama satu dekade ke depan di negara maju dan berkembang untuk membangun pembangkit listrik baru dengan teknologi energi bersih, terpusat atau terdistribusi, dan menghindari penguncian lebih lanjut terhadap bahan bakar karbon intensif. Oleh karena alasan-alasan yang diuraikan dalam Bali Action Plan, yang membentuk negosiasi saat ini di bawah United Nations Framework Convention on Climate Change, negara-negara maju harus memimpin dalam pemotongan emisi (lihat Bab 5). Namun, negaranegara maju saja tidak dapat membuat dunia menuju ke arah jalur 2ºC, bahkan jika mereka dapat mengurangi emisinya sendiri menjadi nol (Figur 4.9). Pada 2050, 8 dari 9 miliar penduduk dunia akan tinggal di negara-negara berkembang saat ini, memproduksi 70 persen emisi global yang diproyeksikan.40 Walau demikian, negara-negara maju dapat menyediakan bantuan keuangan

Menyokong Pembangunan tanpa Membahayakan Iklim

KOTAK 4.3

450 bpj CO2e (pemanasan 2ºC) dunia memerlukan perubahan fundamental dalam sistem energi global

Untuk Laporan ini, tim menganalisis lima model energi iklim global yang berbeda dalam metodologi, asumsi mengenai landasan, status teknologi, tingkat pembelajaran, biaya, dan inklusi gas rumah kaca (penambahan CO2). Perolehan jalur 450 bpj CO2e bergantung pada karakteristik landasan. Beberapa model terintegrasi tidak dapat mencapai jalur 450 bpj dari intensifikasi bahan bakar fosil dan landasan pertumbuhan energi tinggi. Beberapa model dapat mencapai 450 bpj CO2e pada biaya menengah, tetapi masingmasing mengikuti jalur emisi yang berbeda dan strategi mitigasi energi.a Jalur emisi yang berbeda menunjukkan perdagangan antara pengurangan reduksi emisi jangka pendek hingga menengah (2005−2050) dan jangka panjang (2050−2100). Pengurangan emisi rata-rata sebelum 2050 membutuhkan pemotongan emisi secara dramatis untuk jangka panjang melalui penyebarluasan penggunaan penangkapan dan penyimpanan karbon berbasis biomassa.b Perbedaan dalam model metodologi dan asumsi juga menghasilkan berbagai macam kebutuhan investasi jangka pendek (2030), seperti ditunjukkan pada Tabel 4.2. Model juga bervariasi dalam campuran energi dari sekarang hingga 2050 (lihat gambar pada halaman muka), walaupun pemecahan tepat tidak beragam. Implikasi kebijakannya adalah bahwa mencampurkan pilihan teknologi yang beragam di

masing-masing negara dan sepanjang waktu yang dibutuhkan—strategi biaya rendah semuanya bergantung pada portofolio teknologi energi.

Campuran energi global untuk 450 ppm CO2e Jalur 450 bpj CO2e membutuhkan revolusi energi global—pengurangan besar-besaran dalam permintaan energi total dan perubahan besar dalam bauran energi. Untuk mencapainya, model iklim energi global mensyaratkan upayaupaya efisiensi energi yang agresif untuk secara dramatis mengurangi permintaan energi dari sekitar 900 exajoule hingga 2050 di bawah skenario “bisnis-seperti-biasanya” menjadi 650−750 exajoule—pemotongan sebesar 17−28 persen. Sebagian besar model memproyeksikan bahwa bahan bakar fosil harus turun dari 80 persen pasokan energi pada saat ini menjadi sekitar 50−60 persen pada 2050. Bahan bakar fosil masa depan (terutama batu bara dan gas) dalam dunia yang terbatasi karbon bergantung pada penggunaan menyeluruh dari penangkapan dan penyimpanan karbon— carbon capture and storage, CCS—yang harus terpasang di 80−90 persen pembangkit listrik tenaga batu bara pada 2050, dengan asumsi bahwa teknologi tersebut akan memungkinkan secara teknis maupun ekonomi untuk aplikasi

Campuran energi untuk mencapai 450 ppm CO2e dapat bervariasi, tetapi kita harus menggunakan semua pilihan Campuran energi saat ini Global

Campuran energi pada 2050 Global

Tipe energi

Amerika Serikat

Uni Eropa

China

India

% total

Batu bara tanpa CCS

26

1–2

0–1

0–2

3–5

2–3

Batu bara dengan CCS

0

1–13

1–12

2–9

0–25

3–26

Minyak

34

16–21

20–26

11–23

18–20

18–19

Gas tanpa CCS

21

19–21

20–21

20–22

9–13

5–9

Gas dengan CCS

0

8–16

6–21

7–31

1–29

3–8

Nuklir Biomassa tanpa CCS

6

8

8–10

10–11

8–12

9–11

10

12–21

10–18

10–11

9–14

16–30

Biomassa dengan CCS

0

2–8

1–7

3–9

1–12

2–12

Non-biomassa terbarukan

3

8–14

7–12

7–12

10–13

5–19

665–775

87–121

87–121

130–139

66–68

Total (exajoul per tahun)



493

Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia, berdasarkan data Riahi, Grubler, dan Nakicenovic 2007; IIASA 2009; Calvin dkk., akan terbit; IEA 2008b.

Pemotongan emisi terkait energi pada pertengahan 2050 memerlukan dekarbonisasi mendalam pada sektor pembangkit tenaga % karbon terestimasi yang harus dihilangkan oleh sektor, 2005–2050 Sektor

IEA

MiniCAM

Pembangkit tenaga

–71

–87

Bangunan

–41

–50

Transportasi

–30

+47

Industri

–21

–71

Total

–50

–50

Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia berdasarkan data dari IEA 2008b; Calvin dkk., akan terbit.

skala besar pada satu hingga dua dekade mendatang (tabel di bawah).c Pengurangan signifikan dalam bahan bakar fosil ini harus dikompensasikan oleh energi terbarukan dan nuklir. Peningkatan terbesar akan ada pada energi terbarukan, yang akan melompat dari 13 persen sekarang (sebagian besar bahan bakar biomassa tradisional dan tenaga air) menjadi sekitar 30−40 persen pada 2050, didominasi oleh biomassa modern yang disertai atau tanpadan penangkapan dan penyimpanan karbon, dengan sisanya dari energi surya, angin, air, dan panas bumi (lihat gambar). Nuklir juga akan memerlukan peningkatan—dari 5 persen hari ini menjadi sekitar 10−25 persen pada 2050.d Besaran usaha yang dibutuhkan menjadi sangat substansial: berkisar hingga tambahan 17.000 turbin angin (masing-masing memproduksi 4 megawatt), 215 juta meter persegi panel sel fotovoltaik, 80 konsentrasi pembangkit listrik tenaga matahari (masing-masing menghasilkan 250 megawatt) dan 32 pembangkit tenaga nuklir (masing-masing menghasilkan 1.000 megawatt) per tahunnya melebihi 40 tahun berikutnya dibandingkan dengan acuannya.e Sektor energi akan membutuhkan virtualisasi pengarbonan ulang, diikuti oleh sektor industri dan bangunan (tabel di atas). Sumber: a. Knopf dkk., akan terbit; Rao dkk. 2008. b. Riahi, Grübler, dan Nakićenović 2007; IIASA 2009. c. IEA 2008b; Calvin dkk., akan terbit; Riahi, Grubler, dan Nakicenovic 2007; IIASA 2009; van Vuuren dkk., akan terbit; Weyant dkk. 2009. d. IEA 2008b, Calvin dkk., akan terbit; Riahi, Grubler, dan Nakicenovic 2007; IIASA 2009; van Vuuren dkk., akan terbit. e. IEA 2008b. (Bersambung)

Laporan Pembangunan Dunia 2010



Lanjutan

KOTAK 4.3

450 bpj memerlukan perubahan fundamental pada campuran energi primer global Exajoule

Exajoule 1.400

1.400 1.200 1.000

MESSAGE Acuan B2

1.000

800

800

600

600

400

400

200

200

0 2000

2020

Exajoule 1.400 1.200 1.000

2040

Tahun

2060

2080

0 2000

2100

1.000

600

600

400

400

200

200

1.400 1.200 1.000

2040

2060

2080

0

2100

Tahun

1.200 1.000 800

600

600

400

400

200

200

1.400 1.200 1.000

2040

2060

2080

2020

2040

2060

2080

2100

2040

2060

2080

2100

2060

2080

2100

Tahun

2020

Tahun

Exajoule 1.400

IMAGE Acuan

1.200 1.000

800

800

600

600

400

400

200

200

0 2000

2100

REMIND B2 450 bpj CO2

0 2000

2100

Tahun

Exajoule

2080

Exajoule

800

2020

2000

1.400

REMIND Acuan

0 2000

2060

Tahun

MiniCAM 450 bpj CO2

1.200

800

Exajoule

2040

1.400

800

2020

2020

Exajoule

MiniCAM Acuan

0 2000

MESSAGE B2 450 bpj CO2

1.200

2020

Nuklir

2040

Tahun

Biomassa

2060

2080

0 2000

2100

Non-biomassa terbarukan

IMAGE 450 bpj CO2

Gas

Minyak Batu bara

2020

2040

Tahun

dengan penangkapan dan penyimpanan karbon

Menyokong Pembangunan tanpa Membahayakan Iklim

KOTAK 4.4



Campuran energi regional untuk 450 bpj CO2e (untuk membatasi pemanasan hingga 2ºC)

Penting bagi para pembuat kebijakan nasional untuk memahami penerapan jalur 450 bpj CO2e bagi sistem energi mereka. Sebagian besar model penilaian terintegrasi mengikuti pendekatan “biaya terendah”, di mana pengurangan emisi terjadi di manapun dan kapanpun pengurangan tersebut termurah untuk dilakukan di semua sektor dan di semua negara.a Namun, di mana peraturan mitigasi dilakukan tidaklah sama dengan siapa yang menanggung biayanya (Bab 6). Tujuan bab ini bukanlah untuk mendorong pendekatan tertentu yang manapun untuk membagi beban alokasi pengurangan emisi di antara negara-negara; hal itu merupakan masalah negosiasi. Amerika Serikat, Uni Eropa, dan China sekarang menyumbangkan hampir 60 persen emisi total dunia. India sekarang menyumbangkan hanya 4 persen emisi global, meskipun mewakili 18 persen populasi dunia, namun bagiannya tersebut diproyeksikan meningkat hingga 12 persen pada 2050 dalam tidak adanya kebijakan mitigasi. Jadi, kontribusi negara-negara ini kepada emisi global akan penting bagi penstabilan iklim. Amerika Serikat dan Uni Eropa Efisiensi energi dapat mengurangi permintaan energi total di negara-negara maju sebesar 20 persen pada 2050 relatif menurut bisnisseperti-biasanya. Dunia membutuhkan penurunan tahunan dalam intensitas energi sebesar 1,5-2 persen tiap tahun selama empat dekade ke depan, melanjutkan tren dua dekade ke belakang saat ini. Untuk mencapai 450 bpj CO2e Amerika Serikat dan Uni Eropa akan perlu secara signifikan memotong konsumsi minyaknya pada 2050, suatu tantangan yang substansial karena mereka sekarang mengonsumsi hampir setengah produksi minyak global. Mereka juga perlu secara dramatis mengurangi penggunaan batu bara dan secara luas menyebarkan penangkapan dan penyimpanan karbon—tugas yang berat bagi Amerika Serikat, produsen dan konsumen batu bara terbesar kedua di dunia. Amerika Serikat dan Uni Eropa memiliki sumber-sumber daya untuk merealisasikan peraturan-peraturan tersebut. Keduanya memiliki sumber energi terbarukan yang melimpah.

Beberapa model memperoyeksikan bahwa penangkapan dan penyimpanan karbon harus dipasang di 80-90 persen pembangkit listrik tenaga batu bara dan gas dan di 40 persen pembangkit listrik tenaga biomassa di Amerika Serikat pada 2050 (lihat tabel bawah pada Kotak 4.3). Hal ini berpotensi untuk dilakukan dengan kapasitas penyimpanan CO2 yang diberikan. Namun, menggandakan bagian gas alam di bauran energi primer Eropa dari 24 persen sekarang menjadi 50 persen pada 2050, dengan asumsi skenario 450 bpj CO2e, kemungkinan dapat menimbulkan risiko ketahanan energi, terutama dengan gangguan pasokan gas saat ini untuk ke Eropa. Skenario 450 bpj CO2e membutuhkan investasi tahunan tambahan sebesar $110 hingga 175 miliar untuk Amerika Serikat (0,8-1 persen PDB) dan $90 hingga 150 miliar untuk Uni Eropa (0,6-0,9 persen PDB) pada 2030 (lihat tabel Kotak 4.2). China Mengurangi emisi secara signifikan di bawah tingkat saat ini merupakan tujuan yang sulit bagi China, produsen dan konsumen batu bara terbesar di dunia. China, bergantung pada batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi komersialnya (dibandingkan dengan 24 persen di Amerika Serikat dan 16 persen di Eropa). Untuk memenuhi 450 bpj CO2e, permintaan energi primer total harus turun sekitar 20-30 persen di bawah tingkat bisnis-seperti-biasanya pada 2050. Intensitas energinya harus turun sebesar 3,1 persen tiap tahun selama empat dekade mendatang. Ternyata, PDB China naik empat kali lipat dari 1980-2000 sedangkan konsumsi energinya hanya meningkat dua kali lipat. Namun, setelah 2000, tren tersebut berbalik, meskipun intensitas energi terus turun di subsektor industri. Alasan utamanya: peningkatan tajam dalam bagian industri berat, didorong oleh permintaan yang kuat dari produksi domestik dan ekspor. China memproduksi 35 persen baja, 50 persen semen, dan 28 persen aluminium. Tahap perkembangan ini, ketika industri energi intensif mendominasi ekonomi, menimbulkan tantangan yang lebih berat untuk memisahkan emisi dari pembangunan.

China juga secara dramatis meningkatkan efisiensi pembangkit listrik tenaga batu baranya sebesar 15 persen selama satu dekade ke belakang menjadi rata-rata sebesar 34 persen. Sebuah kebijakan yang memerlukan penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara skala kecil dan menyubstitusi pembangkit yang berskala besar selama dua tahun terakhir untuk mengurangi CO2 sebesar 60 juta ton. Sebagian besar pembangkit listrik tenaga batu bara baru dilengkapi dengan teknologi superkritis sangat canggih dan ultra-superkritis.c Selain perkembangan ini, China masih harus mengurangi pembagian batu bara pada campuran energi utama secara dramatis untuk mencapai 450 bpj CO2e (lihat tabel Kotak 4.3). Energi terbarukan dapat memenuhi lebih dari 40 persen permintaan energi toatal pada 2050. Beberapa skenario mempunyai program nuklir yang sangat ambisius, di mana China akan membangun pembangkit tenaga nuklir tiga kali lebih cepat dibandingkan yang pernah dilakukan oleh Perancis, dan kapasitas nuklirnya akan mencapai tujuh kali lipat kapasitas nuklir Perancis saat ini pada 2050. Dengan cadangan gas China saat ini, peningkatan dramatis yang diproyeksikan pada gas dari cadangan saat ini 2,5 hingga 40 persen dalam bauran energi primer pada 2050, seperti diasumsikan oleh beberapa model, akan menimbulkan masalah. Dengan cadangan domestik yang besar, batu bara kemungkinan akan tetap menjadi sumber energi yang penting bagi China selama berdekade-dekade. Penangkapan dan penyimpanan karbon merupakan hal penting bagi pertumbuhan ekonomi China dalam dunia yang padat karbon. Beberapa skenario 450 bpj CO2e memproyeksikan bahwa penangkapan dan penyimpanan karbon harus terpasang di 85-95 persen pembangkit listrik tenaga batu bara di China pada 2050—lebih besar dari perkiraan ketersediaan ekonomi saat ini mengenai kapasitas penyimpanan CO2 sebesar 3 gigaton tiap tahun dalam 100 kilometer dari sumber emisi. Namun, penilaian situs lebih lanjut, terobosan teknologi, dan penetapan harga karbon masa mendatang dapat mengubah semua ini. Skenario 450 bpj CO2e membutuhkan investasi tahunan tambahan bagi China sebesar $30 miliar sampai $260 miliar (0,5-2,6 persen PDB) pada 2030. (Bersambung)



KOTAK 4.4

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Lanjutan

India dan Negara Berkembang Lainnya India menghadapi tantangan besar untuk mengubah jalur emisinya secara substansial dengan sumber dayanya yang terbatas berpotensi sebagai energi alternatif dan situssitus penyimpanan karbon. Seperti China, India sangat bergantung pada batu bara (53 persen dari permintaan energi komersialnya). Mencapai 450 bpj CO2e akan memerlukan revolusi energi yang serius di India. Permintaan energi primer total harus turun dari tingkat bisnis-sepertibiasanya sebesar sekitar 15–20 persen pada 2050 dan intensitas energi harus turun 2,5 persen tiap tahunnya dari sekarang hingga 2050, menggandakan upaya satu dekade ke belakang. Namun, terdapat potensi besar untuk memperbaiki efisiensi energi dan mengurangi 29 persen transmisi teknis dan kehilangan distribusi, bandingkan dengan rata-rata dunia sebesar 9 persen. Dan sementara efisiensi pembangkit listrik tenaga batu bara di India telah meningkat tahun-tahun belakangan ini, rata-ratanya masih rendah yaitu sebesar 29 persen, dan hampir semua pembangkit listrik tenaga batu bara berada dalam keadaan subkritis. Seperti di China, bagian batu bara di campuran energi primer India harus secara dramatis dikurangi untuk mencapai 450 bpj CO2e. Potensi tenaga air (150 gigawatt) dan tenaga angin pantai (65 gigawatt) sangatlah besar secara mutlak namun kecil jika dihubungkan dengan kebutuhan energi masa depan (12 persen dalam campuran pembangkit listrik pada 2050 dalam skenario 450 bpj CO2e). Terdapat beberapa kemungkinan yang tak terpakai untuk mengimpor gas alam dan tenaga air dari negara tetangga, namun tetap ada kesulitan dalam menciptakan

perjanjian perdagangan energi yang melewati batas negara. Bagi tenaga surya yang memainkan perannya yang besar, biaya harus turun dengan signifikan. Beberapa model menyatakan bahwa India harus bergantung pada biomassa untuk memasok 30 persen energi primernya pada 2050 di bawah skenario 450 bpj CO2e. Namun, ini mungkin melebihi potensi biomassa berkelanjutan India karena produksi biomassa bersaing dengan pertanian dan hutan untuk lahan dan air. India memiliki ketersediaan situs penyimpanan karbon yang terbatas secara ekonomi, dengan kapasitas penyimpanan total kurang dari 5 gigaton CO2, hanya cukup untuk menyimpan karbon selama tiga tahun jika 90 persen pembangkit listrik tenaga batu baranya dilengkapi dengan penangkapan dan penyimpanan karbon pada 2050, seperti diproyeksikan beberapa skenario 450 bpj CO2e. Penilaian situs lebih lanjut dan terobosan teknologi dapat mengubah semua ini. Skenario 450 bpj CO2e membutuhkan investasi tahunan tambahan sebesar $40 hingga $75 miliar bagi India (1,2-2,2 persen dari PDB) pada 2030. Afrika Sub-Sahara (tidak termasuk Afrika Selatan) saat ini menyumbangkan 1,5 persen emisi CO2 tahunan global yang berhubungan dengan energi, diproyeksikan akan tumbuh hingga hanya sebesar 2-3 persen pada 2050. Menyediakan jasa energi modern dasar bagi yang miskin harus menjadi prioritas utama, hanya meningkatkan sedikit emisi gas rumah kaca global. Namun, revolusi energi bersih global adalah relevan terhadap negara-negara berpendapatan rendah, yang kemungkinan dapat mempercepat ke generasi teknologi selanjutnya. Energi bersih dapat memainkan peran yang besar

dan transfer teknologi rendah karbon bagi negara-negara berkembang, sambil mengejar teknologi maju rendah karbon dan menunjukkan bahwa pertumbuhan rendah karbon adalah memungkinkan.

Bertindak pada semua garis depan teknis dan kebijakan Apa yang dibutuhkan untuk secara

dalam meningkatkan akses energi, dan mengejar efisiensi energi merupakan solusi jangka pendek biaya efektif untuk kebutuhan listrik yang besar. Menurut model energi iklim, di bawah skenario 450 bpj CO2e, sebagian besar negara berkembang akan perlu meningkatkan produksi energi terbarukannya. Afrika, Amerika Latin, dan Asia dapat berkontribusi dengan berpindah ke biomassa modern. Dan Amerika Latin dan Afrika memiliki tenaga air substansial yang tak terpakai, walaupun jumlahnya dapat dipengaruhi oleh hidrologi yang kurang dapat diandalkan yang disebabkan oleh perubahan iklim. Mereka juga akan membutuhkan peningkatan besar dalam gas alam. Sumber: Calvin dkk., akan terbit; Chikkatur 2008; Dahowski dkk. 2009; de la Torre, Fajnzylber, dan Nash 2008; Dooley dkk. 2006; German Advisory Council on Global Change 2008; Government of india Planning Commission 2006; Holloway dkk. 2008; IEA 2008b; IEA 2008c; IIASA 2009; Lin dkk. 2006; McKinsey & Company 2009a; Riahi, Grubler, dan Nakicenovic 2007; Wang dan Watson 2009; Weber dkk. 2008; World Bank 2008c; Zhang 2008. a. Hal ini didasarkan pada pasar karbon global yang terintegrasi dan tidak mempertimbangkan pembagian beban eksplisit apa pun antarnegara. Nyatanya, tidak demikian. Pembagian beban dijelaskan pada Bab 1, dan implikasi penundaan partisipasi oleh negara-negara non-Annex I dijelaskan pada Bab 6. Kami juga meninjau model-model dari negara-negara berkembang (China dan India), tetapi tidak ada informasi publik yang tersedia untuk skenario 450 bpj CO2e. b. Lin dkk. 2006. Produksi ekspor menyumbang sekitar sepertiga emisi China pada 2005 (Weber dkk. 2008). c. Pembangkit superkritis dan ultrasuperkritis menggunakan suhu panas dan tekanan yang lebih tinggi untuk mencapai efisiensi yang lebih tinggi masing-masing sebesar 38-40 persen dan 40–42 persen, dibandingkan dengan pembangkit tenaga subkritis yang besar dengan rata-rata efisiensi sebesar 35-38 persen.

fundamental mengubah sistem energi yang dapat memperkecil jurang antara ke mana dunia akan mengarah dan ke mana dunia seharusnya mengarah? Jawaban terletak pada sebuah portofolio mengenai teknologi energi bersih dan efisien untuk mengurangi intensitas energi dan berpindah ke bahan bakar rendah karbon. Pada tren saat ini, emisi

Menyokong Pembangunan tanpa Membahayakan Iklim

CO2 yang berhubungan dengan energi global akan naik dari 26 gigaton pada 2005 hingga 43–62 pada 2050.41 Namun, jalur 450 bpj CO2e mengharuskan bahwa emisi dikurangi hingga 12–15 gigaton, sebuah perbedaan mitigasi sebesar 28–48 gigaton pada 2050 (Figur 4.10). Modelmodel bergantung pada empat teknologi untuk menutup jurang tersebut—efisiensi energi (bobot terbesar), diikuti oleh energi terbarukan, penangkapan dan penyimpanan karbon serta nuklir.42 Sebuah portofolio dari teknologiteknologi ini dapat mencapai pemotongan emisi yang dalam yang dibutuhkan oleh jalur 450 bpj CO2e pada biaya terendah, karena masing-masing memiliki batasan fisik dan ekonomi yang bervariasi, tergantung negaranya. Efisiensi energi menghadapi batasan dan kegagalan pasar. Tenaga angin, air, dan panas bumi terbatas hanya di situs-situs tertentu; biomassa terbatasi oleh persaingan dari lahan dan air untuk makanan dan hutan (lihat Bab 3); tenaga surya masih mahal (Kotak 4.5). Tenaga nuklir menimbulkan kekhawatiran mengenai masalah senjata, manajemen limbah, dan keamanan reaktor. Penangkapan dan penyimpanan karbon belum secara komersial terbukti untuk pembangkit listrik, memiliki biaya yang tinggi, dan mungkin terbatasi oleh posisinya yang dekat dengan situs penyimpanan di beberapa negara. Analisis sensitivitas kerja sama pada beragam teknologi menyatakan bahwa 450 bpj CO 2 e tidak dapat tercapai tanpa penyebaran skala besar efisiensi energi, energi terbarukan, dan penangkapan dan penyimpanan karbon, 43 dan mengurangi peranan nuklir yang akan menambah subtansial dari tangkapan dan penyimpanan karbon serta terbarukan.44 Ketidakpastian utama termasuk ketersediaan penangkapan dan penyimpanan karbon dan perkembangan



Figur 4.9 Aksi global merupakan hal yang penting untuk membatasi pemanasan pada 2ºC (450 bpj) atau 3ºC (550 bpj). Negara-negara maju saja tidak dapat membuat dunia menuju jalur 2ºC atau 3ºC, bahkan jika mereka dapat mengurangi emisinya menjadi nol pada 2050 Emisi CO2 tahunan pada 2050 (Gt/tahun) 70 60

OECD

50 40 30 20

Non-OECD Dunia

10 0

Dunia Skenario yang disarankan

Skenario kebijakan 550 bpj

Skenario kebijakan 450 bpj

Sumber: Diadaptasi dari IEA 2008b; Calvin dkk., akan terbit. Catatan: Jika emisi terkait energi dari negara-negara maju (oranye) berkurang sampai nol, emisi dari negara-negara berkembang (hijau) dalam pola bisnis-seperti-biasanya masih akan melebihi tingkat emisi global yang dibutuhkan untuk mencapai skenario 550 bpj CO2e dan 450 bpj CO2e (biru) pada 2050.

Tabel 4.3

Keadaan negara yang berbeda-beda memerlukan pendekatan yang disesuaikan

Negara-negara

Kebijakan dan teknologi rendah karbon

Negara-negara berpendapatan rendah

Memperluas akses energi melalui pilihan jaringan dan non-jaringan Menyebarkan efisiensi energi dan energi terbarukan kapanpun saat biayanya rendah Menghilangkan subsidi bahan bakar fosil Mengadopsi penetapan harga dengan biaya pemulihan Melompat pada generasi terdistribusi, di mana jaringan infrastruktur tidak tersedia

Negara-negara berpendapatan menengah

Meningkatkan efisiensi energi dan energi terbarukan Mengintegrasikan pendekatan kota dan transportasi pada penggunaan rendah karbon Menghilangkan subsidi bahan bakar fosil Mengadopsi penetapan harga dengan biaya pemulihan termasuk eksternalitas local Memimpin penelitian, pengembangan, dan demonstrasi pada teknologi baru

Negara-negara Menjalankan pemotongan emisi yang dalam di negara sendiri berpendapatan tinggi Mengenakan harga pada karbon: batas dan perdagangan atau pajak karbon Menghilangkan subsidi bahan bakar fosil Meningkatkan penelitian, pengembangan, dan demonstrasi pada teknologi baru Mengubah gaya hidup konsumsi energi tinggi Menyediakan pendanaan dan teknologi rendah karbon untuk negara-negara berkembang Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia.

biofuel generasi kedua. Dengan teknologi yang dipakai saat ini, terdapat ruang yang terbatas bagi fleksibilitas dalam portofolio teknologi. Namun, menurut sejarah, terobosan inovasi dan teknologi telah mengurangi biaya untuk mengatasi batasan teknis yang berat, dengan tindakan yang

0

KOTAK 4.5

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Teknologi energi terbarukan memiliki potensi yang besar tetapi menghadapi berbagai batasan

Biomassa Biomassa modern sebagai bahan bakar tenaga listrik, panas, dan transportasi memiliki potensi mitigasi yang tinggi dibandingkan semua sumber terbarukan.a Biomassa tersebut berasal dari residu pertanian dan hutan, juga tanaman energi. Untuk residu biomassa, pasokan bahan bakar yang dapat diandalkan dalam jangka panjang yang diantarkan ke pabrik pada harga yang masuk akal merupakan tantangan terbesar; masalah utamanya adalah batasan logistik dan biaya pengumpulan bahan bakar. Tanaman energi, jika tidak dikelola dengan tepat, bersaing dengan produksi makanan dan mungkin akan memiliki dampak yang tidak diinginkan pada harga makanan (lihat Bab 3). Produksi biomassa juga sensitif terhadap dampak fisik perubahan iklim. Proyeksi peraturan masa depan tentang biomassa mungkin berlebihan, memberikan batasan pada suplai biomassa yang berkelanjutan, kecuali ada terobosan teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas. Model iklim energi memproyeksikan bahwa penggunaan biomassa dapat meningkat hampir empat kali lipat menjadi sekitar 150–200 exajoule, hampir seperempat dari energi primer dunia pada 2050.b Walaupun demikian, potensi maksimal teknik berkelanjutan dari sumber daya biomassa (baik residu maupun tanaman energi) tanpa mengganggu tanaman pangan dan sumber daya hutan yang berkisar antara 80–170 exajoule per tahun pada 2050,c dan hanya sebagian yang mungkin terjadi secara nyata dan ekonomi Sebagai tambahan, beberapa model iklim bergantung pada penangkapan dan penyimpanan karbon berdasarkan biomassa, teknologi yang belum terbukti, untuk mencapai emisi negatif, dan “membeli” waktu selama setengah pertama abad ini.d Beberapa biofuel cair seperti etanol berbasis jagung, umumnya untuk transportasi, kemungkinan akan memperparah dan bukan mengurangi emisi karbon pada siklus hidup. Biofuel generasi kedua, berdasarkan pada pasokan ligno-cellulosic—seperti jerami, bagasse, rumput vegetatif, dan kayu—memiliki potensi penghasilan tinggi dan produksi berkelanjutan yang mengeluarkan sedikit gas rumah kaca, namun masih berada dalam tahap penelitian dan pengembangan.

Tenaga surya Tenaga surya, sumber energi paling melimpah di Bumi, merupakan industri energi yang paling cepat berkembang. Tenaga surya memiliki dua teknologi utama—sistem tenaga surya fotovoltaik (sel surya) dan pemusatan tenaga surya. Sistem tenaga surya fotovoltaik secara langsung mengubah tenaga surya menjadi listrik. Pemusatan tenaga surya menggunakan cermin untuk memfokuskan cahaya matahari pada cairan transfer yang menghasilkan uap untuk mendorong turbin konvensional. Pemusatan tenaga surya jauh lebih murah, dan menawarkan potensi terbesar untuk memproduksi tenaga listrik dasar berskala besar yang dapat menggantikan pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Namun, ekspansinya dibatasi oleh lokasi geografis, infrastruktur transmisi, dan kebutuhan pendanaan yang besar. Fotovolataik lebih tidak sensitif terhadap lokasi, lebih cepat dibangun, dan sesuai untuk pembangkitan terdistribusi, sistem bangunan yang terintegrasi, dan penerapan di luar jaringan listrik. Pemanas air tenaga surya dapat secara substansial mengurangi penggunaan gas atau listrik untuk memanaskan air di dalam bangunan. China, yang mendominasi pasar global, memproduksi lebih dari 60 persen kapasitas global. Pemusatan tenaga surya akan dapat bersaing dari segi biaya dengan batu bara pada harga $60 hingga 90 per ton CO2.e Diproyeksikan bahwa pemusatan tenaga surya akan bersaing biaya dengan batu bara dalam kurang dari 10 tahun, dan kapasitas global yang telah terpasang dapat naik hingga 45–50 gigawatt pada 2020.f Serupa dengan hal itu, fotovoltaik memiliki laju pembelajaran sebesar 15–20 persen, seiring dengan menurunnya biaya untuk setiap penggandaan kapasitas yang dibangun.g Oleh karena kapasitas globalnya masih kecil, potensi pengurangan biaya melalui pembelajarannya substansial. Angin, air, dan panas bumi Semuanya terbatasi oleh sumber daya dan situs yang sesuai. Angin tumbuh pada laju 25 persen tiap tahun selama lima tahun terakhir, dengan kapasitas yang terpasang sebesar 120 gigawatt pada 2008. Di Eropa lebih banyak pembangkit listrik bertenaga angin yang dibangun, daripada

teknologi pembangkit listrik lainnya pada tahun 2008. Namun, perubahan iklim dapat memengaruhi sumber angin—kecepatan angin yang lebih tinggi namun pola angin yang lebih bervariasi.h Tenaga air merupakan pemimpin dalam sumber listrik terbarukan di seluruh dunia, menyumbang sebanyak 16 persen dari tenaga listrik global. Potensinya terbatasi oleh ketersediaan situs yang sesuai (dengan potensi eksploitasi global yang ekonomis sebanyak 6 juta gigawatt-jam tiap tahunnya),i kebutuhan modal yang besar, waktu tunggu yang lama untuk dikembangkan, kekhawatiran mengenai dampak sosial dan lingkungan, dan variabilitas iklim (terutama air). Lebih dari 90 persen dari potensi yang memungkinkan secara ekonomis namun tidak tereksploitasi berada di negara berkembang, terutama Afrika Sub-Sahara, Asia Selatan dan Timur, serta Amerika Latin.j Afrika mengeksploitasi hanya 8 persen dari potensi tenaga airnya. Bagi banyak negara di Afrika dan Asia Selatan, perdagangan tenaga air regional dapat menyediakan pasokan energi dengan biaya paling sedikit dengan nol emisi karbon. Namun, kurangnya kemauan dan kepercayaan politik dan kekhawatiran mengenai ketahanan energi membatasinya. Dan variabilitas iklim yang lebih besar akan memengaruhi air. Kekeringan atau pencairan gletser akan membuat pasokan tenaga air tidak dapat diandalkan di beberapa negara. Setelah stagnan selama dua dekade, tenaga air sekarang sedang berkembang, terutama di Asia. Namun, krisis keuangan saat ini membuatnya lebih sulit untuk meningkatkan pendanaan untuk memenuhi kebutuhan modal yang besar. Panas bumi dapat menyediakan tenaga listrik, pemanasan, dan pendinginan. Panas bumi melayani 26 persen kebutuhan listrik dan permintaan pemanasan di Islandia untuk 87 persen bangunan. Namun dibutuhkan komitmen pendanaan yang besar untuk melakukan investigasi geologis di awal, dan pengeboran sumur-sumur panas bumi adalah mahal. Jaringan dan ukuran yang cerdas Dengan komunikasi digital dua arah antara pembangkit listrik dengan pengguna, jaringan (Bersambung)

Menyokong Pembangunan tanpa Membahayakan Iklim

KOTAK 4.5



Lanjutan

listrik cerdas dapat menyeimbangkan pasokan dan permintaan dalam waktu nyata, puncak permintaan yang mulus, dan membuat konsumen berpartisipasi aktif dalam produksi dan konsumsi listrik. Ketika bagian pembangkitan dari sumber terbarukan variabel seperti angin dan tenaga surya meningkat, jaringan listrik cerdas dapat mengatasi fluktuasi listrik dengan lebih baik.k Jaringan listrik cerdas juga memungkinkan kendaraan listrik

efektif dan kebijakan yang tepat waktu yang ada—kunci untuk menghadapi dunia saat ini. Contoh hujan asam dan penipisan ozon merupakan dua dari sekian banyak yang menunjukkan bahwa perkiraan biaya perlindungan lingkungan berdasarkan lingkupan teknologi sebelum peraturan diperketat secara dramatis.45 Kebijakan pembangunan cerdas iklim, perlu disesuaikan dengan kemajuan masing-masing teknologi dan konteks nasional serta dapat mempercepat pembangunan dan penyebaran teknologi-teknologi ini (Figur 4.11 dan Tabel 4.4). Efisiensi energi. Dalam jangka pendek sumber pengurangan emisi terbesar dan termurah adalah peningkatan efisiensi energi dalam penyediaan dan permintaan listrik, industri, bangunan, dan transportasi. Teknologi yang dibangun menawarkan pengurangan jangaka pendek emisi gas rumah kaca dengan menangkap emisi metana46 dari tambang batu bara, limbah padat publik, dan pembakaran gas serta mengurangi emisi karbon hitam dari biofuelmassa tradisional. Teknologi tersebut juga dapat meningkatkan keamanan tambang batu bara dan meningkatkan kesehatan publik dengan mengurangi polusi udara. 47 Banyak peraturan efisiensi

untuk menyimpan tenaga listrik ketika dibutuhkan atau menjualnya kembali kepada jaringan listrik. Alat ukur cerdas dapat berkomunikasi dengan konsumen, yang kemudian dapat mengurangi biaya dengan mengubah peralatan atau waktu penggunaan. Sumber: a. IEA 2008b. b. IEA 2008b; Riahi, Grübler, dan Nakićenović 2007;

IIASA 2009; Knopf dkk., akan terbit. c. German Advisory Council on Global Change 2008; Rokityanskiy dkk. 2006; Wise dkk. 2009. d. Riahi, Grübler, dan Nakićenović 2007; IIASA 2009. e. IEA 2008b; Yates, Heller, dan Yeung 2009. f. Yates, Heller, dan Yeung 2009. g. Neij 2007. h. Pryor, Barthelmie, dan Kjellstrom 2005. i. IEA 2008b. j. World Bank 2008b. k. Worldwatch Institute 2009.

energi yang secara keuangan menarik bagi investor, namun tidak sepenuhnya disadari. Agar penghematan rendah biaya ini terealisasikan dibutuhkan peraturan seperti standar efisiensi dan kode-kode—dikombinasikan dengan insentif pendanaan, reformasi institusional, mekanisme pendanaan, dan pendidikan konsumen—untuk memperbaiki kegagalan dan hambatan pasar. Mengadakan teknologi suplai sampingan rendah karbon. Dalam jangka pendek hingga menengah, bahan bakar rendah atau emisi nol bagi sektor listrik— energi terbarukan dan nuklir—tersedia secara komersial dan dapat disebarkan dengan lebih luas saat ini di bawah kerangka kerja kebijakan dan peraturan yang tepat. Jaringan yang kuat dan cerdas dapat meningkatkan kenadalan jaringan listrik dan meminimalisasi efek samping ketergantungan pada variabel energi terbarukan dan pembangkitan terdistribusi (lihat Kotak 4.5). Peralihan bahan bakar dari batu bara menjadi gas alam juga memiliki potensi mitigasi yang bagus, namun meningkatkan risiko ketahanan energi bagi negaranegara pengimpor gas. Sebagian besar teknologi energi terbarukan telah tersedia secara ekonomi namun belum secara pendanaan, jadi suatu bentuk subsidi



Laporan Pembangunan Dunia 2010 Figur 4.10 Jurang emisi antara di mana dunia sekarang berada dan ke mana harus menuju sangatlah besar, tetapi sebuah portofolio teknologi bersih energi dapat membantu dunia tetap berada pada 450 bpj CO2e (2ºC) a. Emisi CO2 dari sektor energi: analisis mendesak untuk IEA Blue Scenario (450 bpj CO2e) Emisi tahunan (Gt CO2)

Pengadaan teknologi-teknologi dengan kebijakan-kebijakan domestik yang agresif

70 60

Kita menuju pada 6ºC: landasan emisi tahunan = 62 Gt

Efisiensi permintaan sampingan energi Pergantian bahan bakar Nuklir Non-biomassa terbarukan Biomassa Penangkapan dan penyimpanan karbon fosil Kendaraan listrik dan berbahan bakar sel

50 40 30 20 10

Kita ingin menuju 2ºC: emisi 450 bpj = 14 Gt

0 2000

2020

2035

2050

Tahun

Teknologi dan inovasi yang dikembangkan dengan kebijakan-kebijakan iklim internasional dan R&D (penelitian dan pengembangan)

b. Emisi CO2 dari sektor energi: analisis mendesak untuk MESSAGE B2 (450 bpj CO2e) Emisi tahunan (Gt CO2) 70 60 50

Efisiensi permintaan sampingan energi Pergantian bahan bakar Nuklir Non-biomassa terbarukan Biomassa Penangkapan dan penyimpanan karbon fosil

40 30 20 10 0 2000

2020

2035

2050

Tahun Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia, berdasarkan data Riahi, Grübler, dan Nakićenović 2007; IIASA 2009; IEA 2008b. Catatan: Pergantian bahan bakar merupakan peralihan dari batu bara ke gas. Non-biomassa terbarukan termasuk surya, angin, tenaga air, dan panas bumi. Penangkapan dan penyimpanan karbon fosil merupakan bahan bakar fosil dengan penangkapan dan penyimpanan. Sementara potensi mitigasi sebenarnya dari masing-masing desakan mungkin bervariasi berdasarkan masing-masing model bergantung pada landasan, kesimpulan keseluruhan masih tetap sama.

(untuk menginternalisasi eksternalitas) diperlukan untuk membuatnya mampu bersaing secara biaya dengan bahan bakar fosil. Mengadopsi teknologiteknologi ini pada skala yang lebih besar mengharuskan bahwa harga bahan bakar fosil melambangkan biaya penuh produksi dan eksternalitas, dengan insentif pendanaan untuk mengadopsi teknologi rendah karbon.

Teknologi maju. Ketika teknologi yang memungkinkan secara finansial dapat menyediakan pembagian yang substansial dari beragam kebutuhan dalam jangaka waktu pendek hingga menengah,48 membatasi pemanasan pada 2ºC memerlukan pengembangan dan penyebaran teknologi yang telah maju (penangkapan dan penyimpanan karbon dalam pembangkit listrik dan energi,

Menyokong Pembangunan tanpa Membahayakan Iklim



Figur 4.11 Tujuannya adalah untuk menekan teknologi rendah karbon dari konsep yang belum terbukti menjadi penyebaran yang meluas dan menuju pengurangan emisi yang lebih besar Potensi pengurangan emisi CO2 (Gt/tahun) 8 7

Efisiensi energi transportasi

6 5 4

Efisiensi energi bangunan

Pembangkit listrik dengan CCS Industri dengan CCS Efisiensi energi industri

3 2 1

Generasi kedua biofuel Kendaraan berbahan bakar sel Tenaga surya terkonsentrasi

0

Konsep ilmiah yang belum teruji

Nuklir Kendaraan listrik dan bersteker

Fotovoltaik surya Siklus kombinasi gasifikasi yang terintegrasi

Memungkinkan secara teknis

Peralihan bahan bakar batu bara ke gas

Angin

Panas bumi

Tersedia secara komersial

Memungkinkan secara finansial

Tenaga air

Penyebaran meluas

Tahap perkembangan Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia, berdasarkan data dari World Bank 2008a dan IEA 2008a (potensi mitigasi dari IEA Blue Scenario pada 2050). Catatan: Lihat Tabel 4.4 untuk penjelasan rinci tahapan perkembangan teknologi. Kelompok teknologi yang diadakan dapat berkembang maju melalui tahapan yang berbeda pada satu waktu tetapi di pengaturan negara yang berbeda dan pada skala yang berbeda. Angin, misalnya, sudah bersaing dalam biaya dengan pembangkit listrik tenaga gas di sebagian besar Amerika Serikat (Wiser dan Bollinger 2008). Namun di China dan India, angin mungkin lebih memungkinkan secara ekonomi tetapi tidak secara finansial dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga baru bara. Jadi untuk energi bersih, teknologi-teknologi tersebut perlu diadopsi di lebih banyak tempat dan pada skala yang lebih besar, harus bergerak dari bagian atas ke bagian bawah pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4 Instrumen kebijakan yang disesuaikan dengan kemajuan teknologi

Memungkinkan secara teknis

Tersedia secara komersial dan memungkinkan secara ekonomi

Memungkinkan secara finansial

Tersebar luas Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia.

Penjelasan/definisi Dasar ilmiahnya dibuktikan dan diuji di laboratorium dan/atau pada skala terbatas. Namun beberapa hambatan teknis dan biaya tetap ada.

Teknologi tersedia dari perusahaan komersial. Biaya yang diproyeksikan dipahami dengan baik. Teknologinya memungkinkan secara ekonomi, dibenarkan oleh keuntungan pembangunan negara. Namun, teknologi belum dapat bersaing dengan bahan bakar fosil tanpa subsidi dan/atau internalisasi eksternalitas lokal Teknologinya memungkinkan secara finansial untuk menarik investor—biayanya bersaing dengan bahan bakar fosil, atau mempunyai pengembalian dana yang tinggi dan periode pembayaran kembali yang pendek untuk pilihan permintaan. Teknologi diadopsi secara luas melalui operasi pasar.

Masalah yang harus diatasi untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya Pembangunan dan demonstrasi untuk membuktikan kemungkinan operasi pada skala tertentu dan meminimalkan biaya. Menginternalisasi eksternalitas global.

Penetapan tingkat bidang bermain antara energi bersih dengan bahan bakar fosil.

Kegagalan dan batasan pasar menghalangi percepatan adopsi melalui pasar.

Dukungan kebijakan Kebijakan perkembangan teknologi: Penelitian dan pengembangan publik dan swasta yang substansial, dan demonstrasi skala besar. Menginternalisasi eksternalisasi global melalui pajak karbon atau pembatasan dan perdagangan karbon. Kebijakan domestik untuk menyediakan tingkat bidang bermain: Menghilangkan subsidi bahan bakar fosil dan menginternalisasi eksternalitas lokal. Menyediakan insentif pendanaan bagi teknologi energi bersih.

Peraturan, dengan insentif pendanaan untuk menghilangkan kegagalan dan hambatan pasar. Dukungan bagi mekanisme pengantaran dan program pendanaan untuk memperluas adopsi. Pendidikan konsumen.



KOTAK 4.6

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Teknologi Maju

Penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage, CCS) dapat mengurangi emisi dari bahan bakar fosil hingga 85–95 persen, dan penting bagi keberlanjutan peran bahan bakar fosil dalam dunia yang dibatasi oleh karbon. Hal tersebut melibatkan tiga langkah utama: • Penangkapan CO2 dari sumber-sumber stasioner yang besar, seperti pembangkit listrik atau proses industri lainnya, sebelum atau setelah pembakaran. • Transportasi menuju situs penyimpanan dengan jalur pipa. • Penyimpanan melalui injeksi CO2 ke dalam situs-situs geologis, termasuk ladang yang telah kehilangan minyak dan gas untuk meningkatkan pemulihan minyak dan gas, ladang batu bara untuk meningkatkan pemulihan metana ladang batu bara, pembentukan garam di laut dalam, dan di laut. Saat ini, biaya CCS sangat bersaing dengan batu bara konvensional hanya pada harga $50 hingga $90 per ton CO2.a Masih pada tahap penelitian dan pengembangan, CCS sama sekali belum matang. Jumlah situs geologis yang tersedia secara ekonomis yang dekat dengan sumber emisi karbon amat bervariasi dari negara ke negara. Kesempatan awal untuk menurunkan biaya-biaya terdapat pada ladang minyak yang kosong dan pemulihan minyak yang ditingkatkan,

tetapi penyimpanan di akuifer asin yang dalam juga akan dibutuhkan untuk pemotongan emisi yang cukup besar. Hal ini juga secara signifikan mengurangi efisiensi pembangkit listrik dan berpotensi bocor. Prioritas jangka pendeknya haruslah memicu proyek demonstrasi skala besar untuk mengurangi biaya dan meningkatkan keandalan. Empat proyek komersial skala besar untuk demonstrasi penangkapan dan penyimpanan karbon sedang beroperasi di seluruh dunia—Sleipner (Norwegia), Weyburn (Kanada-Amerika Serikat), Salah (Algeria), dan Snohvit (Norwegia)—sebagian besar dari gas atau gasifikasi batu bara. Bersama-sama, proyek ini menangkap 4 juta ton CO2 setiap tahunnya. Jalur 450 bpj CO2e membutuhkan 30 pembangkit listrik demonstrasi skala besar pada 2020.b Menangkap CO2 dari pembangkit listrik berefisiensi rendah tidaklah memungkinkan secara ekonomis, sehingga pembangkit listrik yang baru harus dibangun dengan teknologi berefisiensi tinggi untuk dapat diretrofitkan dengan CCS nantinya. Kerangka kerja legal dan peraturan harus dibangun untuk injeksi CO2 dan untuk mengatasi keandalan jangka panjang. Uni Eropa telah mengadopsi penyimpanan geologis CO2 secara langsung, dan Amerika Serikat telah mengajukan peraturan CCS. Penilaian terinci mengenai potensi situs penyimpanan karbon juga diperlukan, terutama di negara-

biofuel generasi kedua, dan kendaraan listrik) pada skala dan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya (lihat Kotak 4.6). Kebijakan memberi harga yang tepat pada karbon adalah hal yang penting, begitu juga dengan upaya internasional untuk mentransfer teknologi rendah karbon ke negaranegara berkembang. Dengan waktu tunggu yang lama bagi perkembangan teknologi dan waktu pemuncakan yang lebih cepat untuk mencapai 2ºC, pemerintah perlu meningkatkan upaya penelitian, pengembangan, dan demonstrasi saat ini juga untuk mempercepat inovasi dan penyebaran

negara berkembang. Tanpa upaya internasional yang besar, memecahkan keseluruhan rantai masalah teknis, legal, institusional, pendanaan, dan lingkungan dapat memerlukan waktu satu dekade atau lebih sebelum penerapannya diskalakan. Plug-in hibrida menawarkan potensi pilihan jangka pendek sebagai cara transisi menuju kendaraan yang sepenuhnya digerakkan oleh listrik. Kendaraan jenis hibrida ini menggabungkan baterai dengan mesin pembakaran internal yang lebih kecil, yang memungkinkan perjalanan sebagian dengan listrik yang disediakan oleh jaringan listrik melalui pengisian ulang saat malam hari. Ketika berjalan dengan listrik dari energi terbarukan, hibrida tersebut mengeluarkan CO2 lebih kecil 65 persen dibandingkan dengan mobil berbahan bakar bensin.b Namun, hibrida meningkatkan konsumsi listrik, dan pengurangan emisi nettonya bergantung pada sumber listrik. Perbaikan yang signifikan dan pengurangan biaya dalam teknologi penyimpanan energi sangatlah diperlukan. Kendaraan listrik sepenuhnya berjalan dengan tenaga baterai, namun memerlukan kapasitas baterai yang lebih besar daripada plug-in hibrida dan jauh lebih mahal. Sumber: a. IEA 2008b. b. IEA 2008b. c. IEA 2008b. d. NRDC 2007.

teknologi-teknologi maju. Negara-negara maju akan perlu memimpin dalam merealisasikan teknologi-teknologi ini. Diperlukan suatu pendekatan sistem yang terintegrasi untuk memastikan kebijakan yang sesuai bagi pengurangan emisi sektor dan ekonomi. Mekanisme berdasarkan pasar, seperti pembatasan dan perdagangan karbon atau pajak karbon (Bab 6), memungkinkan sektor swasta untuk berinvestasi dalam teknologi rendah karbon berbiaya terendah untuk mencapai pemotongan emisi yang cukup besar. Pendekatan kota dan transportasi yang terintegrasi menggabungkan

Menyokong Pembangunan tanpa Membahayakan Iklim

perencanaan kota, transportasi publik, bangunan energi efisien, pembangkitan sumber terbarukan yang terdistribusi, dan kendaraan bersih (Kotak 4.7). Pengalaman pionir Amerika Latin dengan rapid bus transits—jalur khusus bus, tarif bus prabayar, dan koneksi antarmoda yang efisien— merupakan contoh transformasi kota di perbatasan. 49 Pergeseran moda menjadi transit massal memiliki keuntungan sampingan perkembangan yang besar dari penghematan waktu di jalan, berkurangnya kemacetan, dan kesehatan publik yang lebih baik karena berkurangnya polusi udara lokal. Mengubah perilaku dan gaya hidup untuk mencapai masyarakat rendah karbon akan memerlukan upaya pendidikan yang teratur selama bertahun-tahun. Namun, dengan mengurangi perjalanan, pemanasan, pendinginan, dan penggunaan peralatan, dan beralih ke transit massal, perubahan gaya hidup dapat mengurangi emisi CO2 tahunan sebesar 3,5–5,0 gigaton pada 2030—8 persen dari yang dibutuhkan (lihat Bab 8).50 Pemerintah tidak perlu menunggu suatu perjanjian global—pemerintah dapat mengadopsi kebijakan energi efisien dan bersih domestik sekarang juga, yang dibenarkan oleh keuntungan sampingan perkembangan dan pendanaan. Seperti sama-sama menguntungkan secara domestik mengukur dapat dilaksanakan sepanjang jalan dekat dengan perbedaan mitigasi, 51 tetapi harus ditambahkan dengan perjanjian iklim internasional untuk menjembatani jurang yang ada.

Merealisasikan penghematan dari efisiensi energi Secara global, tambahan satu dollar yang diinvestasikan dalam efisiensi energi

dapat menghindari lebih dari dua dollar dalam investasi pada sisi pasokan, dan imbal hasilnya lebih besar lagi di negaranegara berkembang.52 Jadi efisiensi energi (negawatt) dapat dianggap seimbang dengan ukuran-ukuran tradisional pada sisi pasokan (megawatt) dalam perencanaan sumber daya energi. Efisiensi energi mengurangi tagihan energi bagi konsumen, meningkatkan tingkat persaingan industri, dan menciptakan lapangan kerja. Efisiensi energi penting bagi jalur 2ºC, karena memberikan tambahan waktu dengan menunda kebutuhan untuk membangun kapasitas tambahan sementara teknologi maju energi bersih sedang dikembangkan dan dipasarkan. Bangunan mengonsumsi hampir 40 persen energi (final) dunia,53 sekitar setengahnya untuk pemanasan ruang dan air panas, dan sisanya untuk peralatan listrik, termasuk lampu, AC, dan kulkas.54 Kesempatan untuk meningkatkan efisiensi energi terletak pada tutupan bangunan (atap, dinding, jendela, pintu, dan penyekat), pada pemanasan ruang dan air, dan pada peralatan. Bangunan menimbulkan salah satu pilihan mitigasi yang paling efektif dari segi biaya, dengan lebih dari 90 persen potensi mitigasinya dicapai dengan harga CO2 kurang dari $20 untuk satu tonnya.55 Studi menemukan bahwa teknologi efisiensi energi yang ada saat ini dapat efektif secara biaya, menghemat 30 hingga 40 persen penggunaan energi di bangunan baru, ketika dievaluasi berdasarkan siklus hidupnya. Sementara kebanyakan penelitian ini didasarkan atas pengalaman negaranegara maju, potensi penghematan energi di negara-negara berkembang dapat lebih besar karena garis acuannya yang rendah. Sebagai contoh, teknologi pemanasan ruang yang saat ini digunakan



Laporan Pembangunan Dunia 2010



Peran kebijakan kota dalam mencapai keuntungan sampingan mitigasi dan pembangunan

KOTAK 4.7

Urbanisasi sering disebut sebagai pendorong utama pertumbuhan emisi global a namun sebaiknya dipahami sebagai pendorong utama pembangunan.b Oleh karena itu, urbanisasi menjadi bagian penting dari pembuatan kebijakan iklim dan pembangunan. Sebagian besar emisi terjadi di kota karena di situlah sebagian besar produksi dan konsumsi terjadi. Dan konsentrasi tinggi populasi dan aktivitas ekonomi di kota sebenarnya dapat meningkatkan efisiensi— jika kebijakan-kebijakan yang tepat tersedia. Sejumlah faktor mengemukakan perlunya agenda iklim kota. Pertama, kota yang lebih padat juga lebih efisien energi dan emisi (misalnya, pada sektor transportasi; lihat figur di bawah), dan kebijakan lokal sangatlah penting untuk mendorong pemadatan.c Kedua, pengaruh yang kuat dan memaksa dari infrastruktur pada keputusan pengutipan perumahan dan komersial jangka panjang mengurangi responsivitas emisi terhadap sinyal harga. Oleh karena itu, peraturan pelengkap dan perencanaan tata guna lahan diperlukan. Ketiga, ketergantungan antarsistem yang menata bentuk kota—jalan dan jalur transit publik; air, limbah cair, dan jasa

listrik; dan bangunan perumahan, komersial, dan industri—dan tidak mudah diubah ketika pola awal telah terbentuk, meningkatkan urgensi perancangan kota rendah emisi di negara dengan pertumbuhan kota yang cepat. Seperti yang dijelaskan pada Bab 8, kota-kota telah menjadi sumber momentum politik dan akan memajukan tindakan mitigasi pada tahap internasional bahkan ketika kota tersebut mengejar inisiatifnya sendiri di rumah. Berlawanan dengan asumsi awal yang umum bahwa pengambilan keputusan lokal berfokus pada permasalahan local, lebih dari 900 kota di AS telah menandatangani untuk memenuhi atau melebihi sasaran Protokol Kyoto untuk mengurangi emisi gas rumah kaca,d sedangkan C40 Cities Climate Leadership Group yang bertujuan untuk mempromosikan tindakan melawan perubahan iklim menyertakan kota-kota besar di semua benua.e Kota memiliki kemampuan unik untuk merespons masalah global seperti perubahan iklim pada tingkat lokal yang nyata. Banyak kota telah mengeluarkan peraturan yang menentang penggunaan kantong plastik, mangkuk sekali pakai, atau air dalam botol. Inisiatif-inisiatif ini

mungkin penting bagi pemberitahuan sosial, tetapi dampak lingkungannya sejauh ini hanyalah minimal. Upaya yang lebih dalam dan berdampak lebih hebat—seperti pengurangan kepadatan, insentif bangunan hijau, dukungan bagi rancangan kota yang membutuhkan ketergantungan kendaraan yang lebih sedikit, dan melaksanakan pemberian harga pada pajak lahan dan hak pembangunan—akan membutuhkan momentum budaya yang lebih komprehensif untuk mengatasi preferensi gaya hidup karbon yang sudah begitu mendarah daging (atau aspirasional). Untungnya, sebagian besar peraturan yang dibutuhkan untuk mitigasi memiliki keuntungan bagi adaptasi terhadap perubahan iklim, yang akan mengurangi perdagangan. Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia. a. Dodman 2009. b. World Bank 2008f. c. World Bank 2009b. d. U.S. Conference of Mayors Climate Change Protection Agreement. e. Lihat http://www.c40cities.org/. Sebagai tambahan, United Cities and Local Governments dan International Council for Local Environmental Initiatives telah bergabung dalam resolusi yang meminta suara lebih banyak untuk kota-kota dalam proses negosiasi UNFCCC.

Emisi dari transportasi sangat lebih rendah pada kota-kota yang padat Emisi individual dari trasportasi (kg per kapita) 700 600 Marseilles

500

Atlanta 400

Johannesburg

300

Kuala Lumpur Frankfurt

200 Harare Los Angeles

100 0

Paris Cape Town Curitiba Berlin Tokyo

0

50

Mexico City Cairo São Paulo Singapore Santiago 100

Delhi

Shanghai Bogotá

Seoul

150 200 Kepadatan (orang per hektar)

Mumbai 250

300

Sumber: World Bank 2009b. Catatan: Figur tersebut tidak cocok untuk pendapatan karena regresi dari transportasi terhadap kepadatan dan pendapatan mengungkapkan bahwa kepadatan, bukan pendapatan, yang merupakan faktor utama. Data adalah untuk tahun 1995.

350

Menyokong Pembangunan tanpa Membahayakan Iklim

di bangunan China mengonsumsi 50 hingga 100 persen energi lebih banyak dibandingkan dengan di Eropa Barat. Membuat bangunan lebih energi efisien di China meambahkan 10 persen biaya konstruksi namun menghemat lebih dari 50 persen biaya energi.57 Inovasi teknologi seperti bahan bangunan yang canggih dapat meningkatkan lebih jauh potensi penghematan energi (Bab 7). Rancangan bangunan beremisi nol yang terintegrasi, menggabungkan peraturan efisiensi energi dengan tenaga listrik di lokasi dan panas dari matahari dan biomassa, secara teknis dan ekonomis telah memungkinkan—dan biayanya terus menurun.58 Industri manufaktur bertanggung jawab terhadap sepertiga dari penggunaan energi global, dan potensi penghematan energi dalam industri sangatlah besar di negara-negara berkembang. Kesempatan-kesempatan utama yang ada termasuk meningkatkan efisiensi dari perlengkapan energi intensif, seperti motor dan pemanas, dan dari industri intensif energi, seperti besi, baja, semen, bahan kimia, dan petrokimia. Salah satu peraturan yang paling efektif dari segi biaya adalah penggabungan panas dan tenaga listrik. Pengadaan teknologi dan penerapan terbaik dapat mengurangi konsumsi energi pada sektor industri sebesar 20–25 persen, membantu mengurangi jejak karbon tanpa mengormankan pertumbuhan.59 Di Meksiko, pembangkitan listrik sumber ganda di kilang-kilang Pemex, perusahaan minyak besar milik negara, dapat menyediakan lebih dari 6 persen kapasitas pembangkit listrik terpasang dari seluruh negara pada biaya mitigasi negatif (berarti bahwa penjualan listrik terbuang dan panas sebelumnya akan menghasilkan pendapatan yang cukup

dari hanya menutup kerugian investasi yang diperlukan).60 Memperbaiki efisiensi bahan bakar kendaraan, misalnya dengan berpindah pada mobil hibrida, merupakan hal yang paling efektif secara biaya yang berarti memotong emisi pada sektor transportasi dalam jangka waktu dekat hingga menengah. Memperbaiki sistem perkeretaapian (misalnya dengan menurunkan skala mesin pembakaran internal yang konvnesional) dan membuat rancangan lain, seperti mengurangi berat kendaraan, mengoptimalisasi transmisi, dan sistem jalan-berhenti dengan pengereman regeneratif diharapkan memiliki potensi penghematan bahan bakar yang tinggi. Selain itu, perencanaan kota yang cerdas—lebih padat, secara spasial lebih kompak, dan rancangan kota dengan campuran penggunaan yang memungkinkan pertumbuhan di dekat pusat kota dan koridor transit untuk mencegah pemekaran kota—dapat juga secara substansial mengurangi permintaan energi dan emisi CO2. Hal tersebut mengurangi jarak tempuh kilometer kendaraan, pemanasan ruang akibat sistem energi distrik dan sistem energi terintegrasi untuk pemanasan.61 Di Meksiko, contohnya, pembangunan daerah perkotaan yang padat diharapkan dapat mengurangi emisi sebesar 117 juta ton CO2e dari 2009 hingga 2030, dengan keuntungan tambahan dari sisi sosial dan lingkungan.62

Batasan dan kegagalan pasar dan non-pasar Banyak potensi yang belum dimanfaatkan untuk efisiensi energi menunjukkan bahwa penghematan energi berbiaya rendah tidaklah mudah. Beberapa upaya efisiensi energi terfragmentasi





KOTAK 4.8

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Efisiensi energi menghadapi banyak batasan dan kegagalan pasar

• Energi berharga rendah atau terlalu murah. Harga energi yang rendah menimbulkan sedikit insentif untuk melakukan penghematan energi. • Kegagalan peraturan. Konsumen tenaga panas yang tidak diukur pemakaiannya tidak memiliki insentif untuk mengatur suhu, dan pengaturan tarif listrik dapat memberikan imbalan terhadap inefisiensi. • Kurangnya pendukung secara institusional dan lemahnya kapasitas institusional. Upaya-upaya efisiensi energi masih terfragmentasi. Tanpa pendukung secara institusional untuk mengoordinasikan dan mempromosikan efisiensi energi, hal tersebut tidak akan menjadi prioritas siapa pun. Selain itu, terdapat sedikit penyedia layanan efisiensi energi, yang kapasitasnya tidak dibangun dalam satu malam. • Ketiadaan insentif atau insentif yang salah tempat. Perusahaan listrik mendapatkan lebih banyak keuntungan dengan menghasilkan dan menjual lebih

banyak listrik daripada menghemat energi. Bagi sebagian besar konsumen, biaya energi tergolong kecil relatif terhadap pengeluaran lainnya. Oleh karena penyewa yang membayar listrik, pemilik bangunan hanya mengeluarkan sedikit insentif atau tidak sama sekali untuk peralatan atau penyekat yang efisien. • Minat konsumen. Keputusan konsumen untuk membeli kendaraan biasanya berdasarkan ukuran, kecepatan, dan penampilan daripada efisiensi. • Biaya uang muka yang lebih tinggi. Sebagian besar produk efisien memiliki biaya uang muka yang lebih tinggi. Konsumen individu biasanya meminta pembayaran kembali yang sangat pendek dan tidak ingin membayar biaya uang muka yang lebih tinggi. Preferensi sampingannya, konsumen berpendapatan rendah kemungkinan tidak mampu membeli produk yang efisien. • Mendanai batasan dan biaya transaksi yang tinggi. Banyak proyek efisiensi energi

skala rendah, yang melibatkan banyak pemangku kepentingan dan puluhan juta pengambil keputusan individual, secara fundamental lebih rumit daripada pilihan-pilihan pada sisi pasokan yang berskala besar. Investasi efisiensi energi memerlukan uang muka untuk melawan penghematan masa depan yang kurang nyata, menjadikan risiko investasi tersebut dibandingkan dengan perjanjian pasokan energi berdasarkan aset. Banyak kegagalan dan batasan pasar, seperti pada batasan non-pasar, yang ada dan untuk menghalanginya memerlukan kebijakan-kebijakan dan intervensi yang menimbulkan biaya tambahan (Kotak 4.8). Masalah lainnya adalah efek pantulan balik: mendapatkan peralatan yang efisien menurunkan tagihan energi, sehingga konsumen cenderung meningkatkan konsumsi energi, menghilangkan sebagian dari

yang kesulitan dalam mendapatkan dana. Institusi pendanaan biasanya tidak terbiasa atau tidak tertarik dengan efisiensi energi, karena ukuran perjanjian yang kecil, biaya transaksi yang tinggi, dan risiko yang tinggi. Sebagian besar perusahaan jasa energi kekurangan modal untuk dijaminkan. • Produk tidak tersedia. Beberapa peralatan efisien tersedia di negara berpendapatan tinggi dan menengah tetapi tidak di negara berpendapatan rendah, di mana tarif impor yang tinggi mengurangi keterjangkauan harganya. • Kewaspadaan dan informasi yang terbatas. Konsumen memiliki informasi yang terbatas mengenai biaya efisiensi energi, keuntungan, dan teknologi. Perusahaan-perusahaan tidak ingin membayar audit energi yang memberitahukan mereka mengenai seberapa banyak penghematannya.

Sumber: Tim Laporan Pembangunan Dunia.

pengurangan energi. Pantulan baliknya adalah kecil hingga sedang, dengan efek jangka panjang sebesar 10–30 persen dari transportasi pribadi, pemanasan ruang, dan pendinginan,63 dan hal-hal tersebut dapat dimitigasi dengan sinyal-sinyal.

Harga seharusnya mencerminkan biaya yang sebenarnya Sebagian besar negara menyalurkan subsidi publik, secara implisit dan eksplisit, pada bahan bakar fosil, mengaburkan keputusan investasi bagi energi bersih. Subsidi energi di 20 negara berkembang teratas diperkirakan sekitar $310 miliar tiap tahun, atau sekitar 0,7 persen dari PDB dunia pada 2007. 64 Bagian terbesar dari subsidi secara tak langsung menurunkan harga bahan bakar fosil, menimbulkan disinsentif bagi penghematan energi dan membuat

Menyokong Pembangunan tanpa Membahayakan Iklim

energi bersih lebih tidak menarik dari sudut pandang pendanaan.65 Menghilangkan subsidi bahan bakar fosil akan mengurangi penggunaan energi, mendorong pasokan energi bersih, dan menurunkan emisi CO 2. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa harga energi yang lebih tinggi mendorong turunnya permintaan secara substansial. 66 Jika Eropa mengikuti kebijakan AS mengenai pajak bahan bakar yang rendah, konsumsi bahan bakar Eropa akan menjadi dua kali lipat lebih banyak.67 Menghilangkan subsidi bahan bakar fosil di tenaga listrik dan industri dapat mengurangi emisi CO2 global sebesar 6 persen tiap tahun dan menambahkannya pada PDB global.68 Namun, menghilangkan subsidisubsidi tersebut bukanlah hal yang mudah—dibutuhkan kemauan politik yang tinggi. Subsidi bahan bakar sering kali dibuat sebagai pelindung masyarakat miskin, walaupun sebagian besar dari subsidi tersebut dinikmati oleh konsumen yang lebih mampu. Seperti dibahas di Bab 1 dan 2, perlindungan sosial yang efektif ditujukan pada kelompok pendapatan rendah, sesuai dengan penghilangan subsidi bahan bakar secara bertahap, dapat membuat reformasi memungkinkan secara politik dan dapat diterima secara sosial. Juga merupakan hal yang penting untuk meningkatkan transparansi sektor energi dengan mengharuskan perusahaan jasa membagi informasi-informasi utama, sehingga pemerintah dan pemegang saham lainnya dapat membuat keputusan dan menilai dengan informasi yang lebih baik mengenai penghilangan subsidi. Harga energi haruslah mencerminkan biaya produksi dan melibatkan eksternalitas lingkungan lokal dan global. Polusi udara kota dari pembakaran bahan bakar fosil

meningkatkan risiko kesehatan dan menyebabkan kematian dini. Penyakit p er napas an akibat p olusi udara merupakan penyebab utama kematian di negara-negara berpendapatan rendah dan beban penyakit yang utama di dunia.69 Pengurangan gas rumah kaca 15 persen di bawah seperti biasa pada 2020 di China akan mengakibatkan jumlah kematian dini dari polusi yang dikeluarkan pembangkitan listrik dan penggunaan energi rumah tangga menjadi berkurang 125.000-185.000 kasus. Menetapkan harga terhadap polusi udara dapat sangat efektif dalam mengurangi biaya yang berhubungan dengan kesehatan. Menetapkan harga pada karbon, melalui pajak karbon atau pembatasan dan perdagangan (lihat Bab 6), sangatlah fundamental untuk meningkatkan skala dari teknologi-teknologi energi bersih yang canggih, dengan membuatnya lebih mampu bersaing dengan bahan bakar fosil.71 Hal tersebut menimbulkan insentif dan mengurangi risiko bagi investasi dan inovasi swasta untuk teknologi energi efisien dan bersih pada skala besar (lihat Bab 7).72 Negaranegara maju harus memimpin dalam pemberian harga pada karbon. Perhatian hukumnya adalah melindungi kaum miskin dari tekanan harga energi yang tinggi dan mengompensasi industri yang merugi, khususnya di negara-negara berkembang. Jaring pengaman sosial dan dukungan pendapatan nondistorsi, kemungkinan dari pendapatan karbon atau izin lelang, dapat menolong (lihat Bab 1 dan 2)

Kebijakan harga saja tidaklah cukup; kebijakan efisiensi energi juga sangat penting Kebijakan harga karb on s endiri tidaklah akan cukup untuk memastikan



0

KOTAK 4.9

Laporan Pembangunan Dunia 2010

Penguangan karbon saja tidaklah cukup

Penetapan harga pada karbon saja tidak menjamin penyebaran berskala luas energy efisien dan bersih, karena tidak akan sepenuhnya mengatasi kegagalan dan batasan pasar terhadap inovasi dan difusi teknologi rendah karbon.a Pertama, harga hanya menangani satu dari banyak kegagalan dan batasan pasar. Batasan lainnya, seperti kurangnya kapasitas dan pendanaan institusional, menahan bantuan dan pendanaan dari jasa penghematan energi. Kedua, sementara elastisitas harga dari permintaan energi adalah tinggi pada jangka panjang, secara umum hal ini malah inelastis pada jangka pendek, karena masyarakat hanya memiliki sedikit pilihan untuk mengurangi kebutuhan transportasi mereka dan penggunaan energi untuk rumah tangga sebagai respons terhadap perubahan harga bahan bakar. Harga bahan bakar kendaraan bermotor memiliki sejarah elastisitas jangka pendek berkisar dari –0,2 hingga –0,4,b dengan respons yang lebih rendah sebesar –0,03 hingga –0,08 di

tahun-tahun belakangan ini,c namun memiliki elastisitas jangka panjang berkisar antara –0,6 dan –1,1. Ketiga, elastisitas harga yang rendah dari banyak peraturan efisiensi energi kemungkinan juga akibat dari biaya kesempatan yang tinggi di negara-negara berkembang yang tumbuh dengan cepat seperti China. Pengembalian sebesar 20 persen bagi peraturan efisiensi sudah cukup menarik, namun investor kemungkinan tidak berinvestasi dalam efisiensi jika investasi lain dengan risiko yang ekuivalen memiliki pengembalian yang lebih besar. Jadi, kebijakan pemberian harga yang kuat sangatlah penting, tetapi ti